Monday, November 5, 2012

Jiwa yang Sangat Dalam


"...Janganlah hanya memetiki dedaunan,
Atau menyibukkan diri dengan rerantingan."

Novel Musashi karya Eiji Yoshikawa, yang sedari saya kecil menghiasi rak buku di rumah, tak pernah sekalipun saya sentuh. Sampai akhirnya, beberapa bulan silam, saya mendengar Heru Hikayat, seorang kawan yang kurator, menyinggung nama Musashi dalam suatu diskusi. Saya bilang dalam diri, "Hey, rasanya novel itu menghiasi ingatan masa kecil saya. Apa tidak sebaiknya saya baca agar setidaknya ibu bangga karena novel kesayangannya dibaca sang anak?" Singkat cerita, ibu mengatakan bahwa novel itu sudah hilang entah kemana. Saya akhirnya membeli di sebuah mal di Jakarta. Novel terkenal ini masih bertebaran dan mudah ditemukan.

Dua bulan lebih saya baru sanggup menyelesaikannya. Penyebabnya dua hal: Saya memang bukan pembaca novel tebal. Ini adalah tahap dimana saya merasa perlu belajar membaca novel yang ketebalannya seperti KBBI. Sehingga, saya belum terbiasa mengatur tempo dan intensitas membaca. Kedua, tentunya alasan kesibukan. Alasan yang kemudian saya malu dibuatnya karena betapa novel Musashi mengajarkan bahwa derajat kesenggangan lebih tinggi dari kesibukan.

Ceritanya sesungguhnya sederhana. Ini adalah kisah tentang Miyamoto Musashi yang bertekad menjalani Jalan Pedang. Tujuan hidupnya adalah menjadi manusia sejati lewat latihan, disiplin, dan tempaan. Musashi bertindak soliter, ia adalah seorang ronin yang tidak dipekerjakan oleh siapa-siapa. Ia kemudian menemukan bahwa menjadi samurai hebat tidak bisa hanya dengan mempelajari ilmu pedang. Menjadi samurai sejati adalah juga soal memiliki jiwa yang lengkap dan utuh penuh. Musashi mempelajari seni melukis, mengukir patung, bertani, hingga minum teh. Ia ada pada kedalaman jiwa yang paripurna ketika melawan musuh sejatinya, Sasaki Kojiro.

Novel ini mengajarkan saya begitu banyak. Saya melihat dunia dengan cara yang sama sekali lain dengan sebelumnya. Dulu saya menganggap ada dikotomi serius antara profesionalisme dan hobi. Harus ada satu yang kita jadikan serius ditekuni, lainnya adalah sebagai hiburan yang sifatnya sekunder. Hal semacam ini tentu tidak keliru dan berkembang secara umum di masyarakat. Namun Musashi mengajarkan tentang betapa tidak ada beda, bahwa mempelajari apapun, ujungnya harus satu: Mencapai keluhuran jiwa. Ada dialog menarik antara Otsu dengan Yagyu Sekishusai:

Tanya Otsu, "Bapak tentunya pernah belajar keras merangkai bunga." Kata Sekishusai, "Sama sekali tidak. Aku bukan bangsawan Kyoto, dan tak pernah aku belajar merangkai bunga atau upacara minum teh dengan pimpinan seorang guru." "Tapi kelihatannya Bapak pernah belajar." "Cara yang kugunakan untuk bunga sama dengan cara untuk pedang."

Saya berteriak, merasa bodoh, "Oh, selama ini saya berlagak profesional! Menekuni satu bidang agar dipandang ahli! Padahal tujuan hidup ini adalah menjadi manusia sejati!" Saya pun merenung dalam-dalam, melihat bahwa tidak ada beda sama sekali apa-apa yang saya sukai selama ini: musik, filsafat, sepakbola, film, dsb. Asalkan dijalani dengan tekun, disiplin, dan selalu merasa berkekurangan dalam mencapai kesempurnaan, maka disitulah jiwa mendapatkan satu pemurnian. Memisahkan dirinya dari keterbenaman fana dalam "Memetiki dedaunan atau menyibukkan diri dengan rerantingan."

Terlalu jauh bagi saya untuk menjalani disiplin seorang ronin macam Musashi. Tak sanggup saya berjalan kaki melintasi perbatasan Kota Bandung sekalipun, menunggu cinta seorang wanita tanpa melibatkan telepon genggam, mengetuk pintu rumah siapa saja jika butuh makanan atau tempat berteduh, ataupun menantang siapapun yang dianggap terkuat menurut anggapan masyarakat.

Yang bisa saya terapkan dari seorang Musashi adalah ini: Ada satu jalan lurus yang sama antara manusia dan alam semesta. Tidak mudah mengungkapkan hal semacam ini dengan kata-kata. Tapi jika jiwa ini terus menerus diasah dengan disiplin dan rasa haus akan kebijaksanaan, maka jalan lurus itu semakin lama akan terbentang. Gaya dua pedang tidak ada beda dengan satu pedang. Pedang kayu tak akan beda dengan pedang tajam yang panjang. Mengajar di kelas dengan mengandalkan endapan pengalaman tak akan beda dengan mengajarnya orang yang membaca seribu buku. Menjalani kehidupan tak akan beda dengan menyaksikan sepakbola di layar kaca. Mengurusi pernikahan tak akan beda dengan menggarami masakan.
 
Previous Post
Next Post

0 comments: