Tuesday, November 27, 2012

Awal Uzhara

Awal Uzhara
Baru saja, pagi tadi, saya bertemu seorang tua bernama Pak Awal Uzhara. Ia adalah dosen di Jurusan Sastra Rusia yang menghabiskan lebih dari separuh hidupnya di Rusia untuk salah satunya kuliah di bidang perfilman dokumenter. Usianya saya kira 75 tahun, tapi ternyata ia lebih tua lagi. Hal itu terungkap dari cerita yang ia paparkan sendiri, "Waktu saya bekerja di Radio Moskow tahun 1995, usia saya enam puluh tahun.." Artinya, jika dihitung, maka usia beliau sekarang 82 tahun!

Tentu saja kita tidak sedang membahas usia seseorang. Apa yang membuat saya sedemikian tertarik adalah tentang bagaimana pose Pak Awal ketika saya temui di perpustakaan Fakultas Ilmu Budaya UNPAD. Ia sedang membaca, tenang sekali, di bawah sorot lampu baca. Tangannya meraba-raba kertas untuk membantu dirinya memerhatikan detail baris demi baris. Sesekali beliau memberikan sedikit coretan di atasnya entah berisi catatan apa. Apa yang dilakukan Pak Awal secara persis saya tidak paham, tapi yang pasti ia sedang mempelajari sesuatu secara serius. Di usianya yang senja, pemandangan ini, bagi saya, sungguh mengesankan.

Setelah lama memerhatikan, saya pun menyapa beliau. Dia tanya, kemarin kemana saja, kok tidak kelihatan? Saya jawab sedang tidak enak badan -jawaban yang kemudian saya sadari sebagai memalukan karena datang dari mulut anak muda yang harusnya jauh lebih sehat-. Langsung saja saya berikan naskah calon buku yang hendak ia bubuhkan kata pengantar sambil sekali lagi berkata maaf karena berkali-kali janji untuk jumpa tak kunjung ditepati. 

Seperti pertemuan-pertemuan sebelumnya, tatap muka dengan beliau tak pernah sebentar. Seketika saya duduk di hadapannya, Pak Awal langsung bercerita pengalamannya puluhan tahun di Rusia. Terus menerus ia menyisipkan keprihatinan tentang bagaimana kisah-kisah mengenai negara tersebut seringkali disiarkan via CNN sehingga objektivitasnya patut diragukan. "Rusia sekarang sudah tidak komunis. Partai Komunis disana hanya peringkat dua di parlemen, itupun persentasenya kecil sekali. Jadi anggapan Rusia sama dengan komunis sudah tidak relevan," ujarnya. 

Kemudian dengan suaranya yang kecil (namun bukan berarti lemah), ia berkisah tentang seorang pujangga bernama Sergei  Alexandrovich Yesenin yang puisinya indah-indah namun sebetulnya mengritik pemerintah. Yesenin dianggap mati gantung diri, namun belakangan ternyata ada dugaan ia dibunuh oleh KGB. Pak Awal juga lompat ke cerita tentang bagaimana mayat seorang Lenin diawetkan dengan biaya besar. Sudah sempat tercetus usul untuk menguburkannya saja, tapi ditentang oleh banyak kalangan. 

Tak terasa satu jam berlalu. Kisah mengenai pengalamannya berpuluh tahun di Rusia tak semua mampu saya serap -selain disebabkan oleh gaya tuturnya yang melompat-lompat, secara fisik pun saya sedang mengantuk karena baru saja selesai mengajar kelas jam tujuh pagi-. Namun sorot mata beliau ketika bercerita tak mungkin saya lupa. Ia sangat bergairah seperti seorang anak yang baru saja bisa membaca. Tidak ada sedikitpun tersirat ia berbicara sebagai seorang guru pada muridnya. Pak Awal bercerita seperti pada dirinya sendiri. Seperti ia sedang mengenang masa mudanya yang baru saja berlalu kemarin pagi. 

Dalam ngiang cerita Pak Awal, terlintas ucapan bapak saya dalam kepala, "Pada akhirnya manusia hanya terbagi dua. Mereka yang mau belajar terus menerus dan selalu bergairah karena setiap harinya ia memulai sesuatu dari titik nol; dan mereka yang merasa cukup dan bosan karena ternyata dunia yang ia diami begitu-begitu saja."  

Continue reading

Monday, November 5, 2012

Jiwa yang Sangat Dalam

Jiwa yang Sangat Dalam

"...Janganlah hanya memetiki dedaunan,
Atau menyibukkan diri dengan rerantingan."

Novel Musashi karya Eiji Yoshikawa, yang sedari saya kecil menghiasi rak buku di rumah, tak pernah sekalipun saya sentuh. Sampai akhirnya, beberapa bulan silam, saya mendengar Heru Hikayat, seorang kawan yang kurator, menyinggung nama Musashi dalam suatu diskusi. Saya bilang dalam diri, "Hey, rasanya novel itu menghiasi ingatan masa kecil saya. Apa tidak sebaiknya saya baca agar setidaknya ibu bangga karena novel kesayangannya dibaca sang anak?" Singkat cerita, ibu mengatakan bahwa novel itu sudah hilang entah kemana. Saya akhirnya membeli di sebuah mal di Jakarta. Novel terkenal ini masih bertebaran dan mudah ditemukan.

Dua bulan lebih saya baru sanggup menyelesaikannya. Penyebabnya dua hal: Saya memang bukan pembaca novel tebal. Ini adalah tahap dimana saya merasa perlu belajar membaca novel yang ketebalannya seperti KBBI. Sehingga, saya belum terbiasa mengatur tempo dan intensitas membaca. Kedua, tentunya alasan kesibukan. Alasan yang kemudian saya malu dibuatnya karena betapa novel Musashi mengajarkan bahwa derajat kesenggangan lebih tinggi dari kesibukan.

Ceritanya sesungguhnya sederhana. Ini adalah kisah tentang Miyamoto Musashi yang bertekad menjalani Jalan Pedang. Tujuan hidupnya adalah menjadi manusia sejati lewat latihan, disiplin, dan tempaan. Musashi bertindak soliter, ia adalah seorang ronin yang tidak dipekerjakan oleh siapa-siapa. Ia kemudian menemukan bahwa menjadi samurai hebat tidak bisa hanya dengan mempelajari ilmu pedang. Menjadi samurai sejati adalah juga soal memiliki jiwa yang lengkap dan utuh penuh. Musashi mempelajari seni melukis, mengukir patung, bertani, hingga minum teh. Ia ada pada kedalaman jiwa yang paripurna ketika melawan musuh sejatinya, Sasaki Kojiro.

Novel ini mengajarkan saya begitu banyak. Saya melihat dunia dengan cara yang sama sekali lain dengan sebelumnya. Dulu saya menganggap ada dikotomi serius antara profesionalisme dan hobi. Harus ada satu yang kita jadikan serius ditekuni, lainnya adalah sebagai hiburan yang sifatnya sekunder. Hal semacam ini tentu tidak keliru dan berkembang secara umum di masyarakat. Namun Musashi mengajarkan tentang betapa tidak ada beda, bahwa mempelajari apapun, ujungnya harus satu: Mencapai keluhuran jiwa. Ada dialog menarik antara Otsu dengan Yagyu Sekishusai:

Tanya Otsu, "Bapak tentunya pernah belajar keras merangkai bunga." Kata Sekishusai, "Sama sekali tidak. Aku bukan bangsawan Kyoto, dan tak pernah aku belajar merangkai bunga atau upacara minum teh dengan pimpinan seorang guru." "Tapi kelihatannya Bapak pernah belajar." "Cara yang kugunakan untuk bunga sama dengan cara untuk pedang."

Saya berteriak, merasa bodoh, "Oh, selama ini saya berlagak profesional! Menekuni satu bidang agar dipandang ahli! Padahal tujuan hidup ini adalah menjadi manusia sejati!" Saya pun merenung dalam-dalam, melihat bahwa tidak ada beda sama sekali apa-apa yang saya sukai selama ini: musik, filsafat, sepakbola, film, dsb. Asalkan dijalani dengan tekun, disiplin, dan selalu merasa berkekurangan dalam mencapai kesempurnaan, maka disitulah jiwa mendapatkan satu pemurnian. Memisahkan dirinya dari keterbenaman fana dalam "Memetiki dedaunan atau menyibukkan diri dengan rerantingan."

Terlalu jauh bagi saya untuk menjalani disiplin seorang ronin macam Musashi. Tak sanggup saya berjalan kaki melintasi perbatasan Kota Bandung sekalipun, menunggu cinta seorang wanita tanpa melibatkan telepon genggam, mengetuk pintu rumah siapa saja jika butuh makanan atau tempat berteduh, ataupun menantang siapapun yang dianggap terkuat menurut anggapan masyarakat.

Yang bisa saya terapkan dari seorang Musashi adalah ini: Ada satu jalan lurus yang sama antara manusia dan alam semesta. Tidak mudah mengungkapkan hal semacam ini dengan kata-kata. Tapi jika jiwa ini terus menerus diasah dengan disiplin dan rasa haus akan kebijaksanaan, maka jalan lurus itu semakin lama akan terbentang. Gaya dua pedang tidak ada beda dengan satu pedang. Pedang kayu tak akan beda dengan pedang tajam yang panjang. Mengajar di kelas dengan mengandalkan endapan pengalaman tak akan beda dengan mengajarnya orang yang membaca seribu buku. Menjalani kehidupan tak akan beda dengan menyaksikan sepakbola di layar kaca. Mengurusi pernikahan tak akan beda dengan menggarami masakan.
 
Continue reading