Saturday, October 27, 2012

Kritik terhadap Etika Teleologis

Kritik terhadap Etika Teleologis
"Gue sih apa-apa bebas aja, yang penting idup gue gak ngerugiin orang lain."


Kita sering mendengarkan prinsip semacam ini dari teman-teman kita, atau bahkan etika ini jadi pedoman kita sendiri. Etika teleologis adalah etika bertujuan. Sering disebut juga sebagai etika konsekuensilisme. Bunyi kredonya kira-kira: "Segala sesuatu adalah baik selama berakibat baik." Lawan dari etika konsekuensilisme adalah etika deontologis, yang berbunyi: "Segala sesuatu baik karena dirinya sendiri baik, terlepas dari apapun konsekuensinya." Dalam etika teleologis, hal-hal seperti berbohong, membunuh, mencuri, adalah baik selama ditujukan untuk konsekuensi yang baik. Agama cenderung deontologis karena keputusan untuk dilarang berbohong, membunuh, ataupun mencuri adalah seolah final apapun alasan melakukannya. 

Namun etika teleologis yang seolah menandakan prinsip dari manusia rasional, saya sadari punya kelemahan ketika hari Rabu lalu mendapati jalanan macet. Oleh sebab apa? Ada kampus bernama Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) sedang melantik para praja (semacam calon mahasiswa). Kemacetan tersebut berlangsung luar biasa dan membuat perjalanan pulang yang normalnya satu jam menjadi empat jam. Rata-rata orang yang menggunakan kendaraan memaki kegiatan tersebut. Bahkan di salah satu radio muncul juga cacian, "Belum juga jadi pejabat, sudah merugikan rakyat."

Bagaimana hal semacam itu dapat menjadi kritik terhadap etika teleologis? Pertama, kita bisa asumsikan bahwa kegiatan pelantikan itu tentu saja merupakan suatu bentuk aktivitas yang didasari oleh prinsip konsekuensi. Maksudnya, kegiatan itu sendiri punya dasar deontologi (baik pada dirinya sendiri), tapi juga punya nilai konsekuensi yang baik, misalnya: Membuat para praja merasa bangga dan kemudian bisa lebih bertanggungjawab dalam meniti karir menjadi abdi negara. Namun disinilah letak kritiknya: Konsekuensi tidak bisa dikendalikan. Apa yang kita bayangkan perbuatan A menghasilkan konsekuensi B, kita tidak memperhitungkan bahwa secara domino akan ada konsekuensi C, D, E dan seterusnya.

Pemain sepakbola berupaya bermain sebaik-baiknya. Ia sudah memperhitungkan konsekuensi bahwa permainan yang baik akan mendatangkan misalnya: reputasi pribadi yang baik, reputasi klub yang baik, kemenangan tim, gaji pribadi naik, peningkatan hak siar televisi, hingga mungkin yang sekecil-kecilnya seperti keluarga yang bangga akan prestasinya. Namun ada konsekuensi yang barangkali tidak terjangkau oleh si pemain, seperti: Berapa banyak orang yang sengsara karena nasibnya dipertaruhkan oleh perjudian di pertandingan yang melibatkan si pemain? Berapa orang yang kehilangan harapan hidup karena timnya kalah oleh sebab gawangnya dijebol oleh si pemain?

Hal-hal seperti ini sudah diistilahkan dengan The Butterfly Effect, "kepak sayap kupu-kupu di suatu tempat, bisa menyebabkan kejadian di tempat lainnya." Adapun Jean-Paul Sartre pernah bersabda, "Apa yang kamu putuskan akan menjadi keputusan yang berpengaruh bagi seluruh umat manusia." Artinya, prinsip seperti, "Terserah gue, yang penting gak ngerugiin orang lain," sebenarnya merupakan pernyataan yang prematur karena konsekuensi rugi-tidak rugi sesungguhnya sangat luas dan di luar kendali kita. Suka tidak suka, saya merasa bahwa Islam punya penawarnya. Katanya, "Dalam perbuatan apapun, yang penting adalah niatnya."

Continue reading

Tuesday, October 16, 2012

Untuk Andika Budiman: The Medium is The Message

Malam itu, orangtua tiba-tiba berkata sesuatu tentang kartupos. Katanya, "Ada kartupos untuk kamu dan Dega." 

Istri saya mendapatkan kartupos dari kawannya, orang Prancis, yang sedang berlibur di Turki. Sedangkan saya sendiri? Ada kartupos, tapi bukan dari seseorang nun jauh disana. Yang mengirimkannya adalah orang Bandung juga. Namun yang demikian justru membuatnya tambah spesial. Hari ini ada banyak cara untuk menyampaikan pesan baik lewat SMS, Facebook, Twitter, E-mail ataupun telepon. Tapi orang yang secara geografis sangat dekat untuk kemudian "mempersulit diri" dengan berkomunikasi via sesuatu yang sudah "tidak musim" dan perlu perjuangan menulis dengan tangan, adalah hal yang mengharukan.


Isinya sendiri -seperti yang semoga terbaca dari gambar di atas- adalah semacam apresiasi dari konser musik klasik yang diselenggarakan tanggal 6 Oktober kemarin di Auditorium IFI-Bandung. Selain sedikit mengomentari performance, tulisan di atas juga bercerita tentang kesan si penulis terhadap Ibu Lusi. Siapakah Ibu Lusi? Beliau adalah orang yang bekerja di IFI selama sepuluh tahun, yang kebetulan konser kemarin bertepatan dengan hari pensiunnya. Konser tersebut, yang salah satu pengisi acaranya adalah anak tunggalnya, menjadi momen sangat spesial bagi Ibu Lusi. Karena selain berbarengan dengan hari pensiun, hari itu juga adalah ulangtahunnya. Kata si penulis, "Kesan saya pada beliau: Orangnya tidak suka basa-basi, efisien, dan sedikit mengintimidasi."


Penulis, adalah seorang kawan, namanya Andika Budiman. Ia rajin bergerak, namun dalam diam. Saya menjulukinya apresiator jempolan karena tidak pernah secara vulgar mendatangi penampil dalam konser untuk bicara secara blak-blakan. Namun jika ditanya pada situasi yang lebih pribadi, ia akan sanggup mengomentari konser tersebut dengan jernih sekaligus tajam. Seringkali memang ada apresiator yang gatal untuk berkomentar tanpa diminta, agar mungkin ia kelihatan pintar karena sudah melontarkan kritik.

Apa yang ditulis oleh Andika, mengharukan bukan hanya disebabkan oleh apresiasinya. Namun media yang dipilihnya untuk menyampaikan pesan. Rasanya sudah lumrah, atas nama kepraktisan, orang berkirim pesan dengan apa saja yang ada di hadapannya: Kebetulan sedang main Twitter, inget si anu, kirimlah pesan lewat Twitter;  sedang main Facebook, ingin colek si anu, menyoleklah ia via wall. Namun ketika segala macam media canggih tersebut bertebaran di hadapannya, Andika memilih untuk menjauhi semua itu dan bersusah payah menulis tangan yang mungkin secara umum menjadi kegiatan nomor dua setelah mengetik. Inilah yang disebut Marshall McLuhan sebagai "the medium is the message". Konten di dalam kartu pos itu sendiri bisa dituliskan via media apapun dengan isi yang tidak berbeda sama sekali. Namun Andika memilih medium kartu pos, dan pilihannya tersebut bagi saya menjadi terasa emosional. Mustahil bagi saya untuk mengabaikan pilihan medium semacam ini ketika yang penting dari pengiriman pesan hari ini adalah soal kecepatan alih-alih sentimentalitasnya.

Terima kasih, Andika! 
Atas apresiasi, tulisan, dan kartuposnya yang begitu berarti!

Continue reading

Sunday, October 7, 2012

Epistemologi Kemasan

Epistemologi Kemasan
Waktu saya SMP, guru agama namanya Pak Endin (almarhum) bercerita di kelas tentang memakan daging yang hukumnya haram jika ia tidak disembelih atas nama Allah. Lantas, bagaimana kita tahu daging itu disembelih atas nama Allah atau tidak, jika daging yang kita beli semua sudah hasil dapat di supermarket? Jawaban Pak Endin mungkin menggelikan. Katanya, "Kita bisa mengira-ngira saja. Misalnya, kalau dilihat di kemasan dagingnya tertulis diproduksi di Bali, kemungkinan besar dia haram karena disana lebih banyak non-muslim." Tulisan ini bukan hendak memojokkan beliau yang saya hormati, justru saya mau membahas bagaimana Pak Endin menyadarkan kita tentang batas-batas pengetahuan atau bahasa kerennya: epistemologi.

Gambar diambil dari sini.

Epistemologi berkutat pada pertanyaan: Apa yang bisa kita ketahui? Sejauh mana batas pengetahuan kita? Dalam filsafat, epistemologi dibahas sebagai fondasi terpenting bagi filsafat ilmu. Misal: Rene Descartes mengatakan bahwa pengetahuan kita yang sejati adalah akal budi. Berkebalikan dengan David Hume yang lebih setuju bahwa kebenaran adalah semata-mata indrawi. Immanuel Kant menengahinya bahwa memang iya segala pengetahuan kita berasal dari pengindraan, namun hasil dari pengindraan itu sendiri dimasukkan pada kategori-kategori pemahaman yang secara apriori sudah ada di kepala kita dari awal. Seperti misalnya: Segala yang kita lihat pasti langsung kontekstual dengan ruang dan waktu.

Nah, sekarang kita kembali ke judulnya, Epistemologi Kemasan. Pertanyaan besarnya: Apakah kita bisa punya pengetahuan melampaui kemasan suatu produk? Apakah jika dalam kemasan chicken nugget tertera label halal, apakah kita bisa mempercayainya meski dengan mengerahkan seluruh akal budi kita sesuai anjuran Descartes? Atau, apa yang kita tahu adalah apa yang kita lihat sesuai yang Hume katakan? Ini tidak hanya berlaku bagi kemasan yang termuat di dalamnya label halal-haram. Sabun antiseptik misalnya, apakah kita bisa percaya bahwa memang ia menyehatkan? Apakah Pizza Hut Delivery yang begitu cepat menyambangi konsumennya, kita bisa percaya higienitasnya, hanya karena misalnya, bungkusnya begitu keren? Pastinya lebih keren daripada kemasan yang murah meriah dari tukang nasi goreng atau sate.

Saya tidak sedang meragukan higienitas atau kesehatan berbagai macam produk yang terbentang di pasaran. Tapi bayangkan epistemologi kita, jangan-jangan batas pengetahuan kita hanya sampai pada kemasan mana yang lebih keren, lebih mencolok, mempunyai label halal, menuturkan detail produk secara lebih "akademis" dibanding tukang soto ayam yang mungkin hanya bisa melakukan eksplanasi berdasarkan intuisi. Atau jangan-jangan masyarakat hari ini, yang mengaku rasional, ketika memilih produk saja harus "beriman" pada kemasan, tidakkah itu menjadi semacam kembali ke jaman mitos?
 
Continue reading