Minggu, 30 September 2012

Warisan Berharga dari Diecky

Diecky Kurniawan Indrapraja, sahabat yang dalam hitungan hari akan pergi ke Pontianak, mewariskan sesuatu untuk Bandung yang sudah ia tinggali lebih dari sepuluh tahun lamanya. Berkunjung ke kontrakannya di Antapani, saya menemukan sembilan puluh persen barang-barangnya sudah masuk dus. "Besok pagi, Satriyo akan membawanya dengan mobil pick-up untuk dibawa ke tempat pengiriman," katanya merujuk pada Satriyo Utomo, murid sekaligus sahabatnya. 

Apa yang dia wariskan? Sesungguhnya dalam sepuluh tahun kehadirannya di Bandung, sudah banyak. Diecky mengajar, berkomunitas, berkarya, manggung, berkompetisi, menjadi pembicara dalam seminar, menjadi panitia dalam konser-konser, dan kesemuanya dilakukan dengan semangat -meminjam istilah Goenawan Mohamad- "mengikhtiarkan kebenaran". Meski demikian, Diecky tetap ingin meninggalkan satu warisan (lagi) bagi kota yang ia cintai. Inilah dia: 27 keping CD progressive rock mulai dari Genesis, Emerson, Lake & Palmer, Mahavishnu Orchestra hingga Frank Zappa.

Apakah dia menitip suatu pesan berkenaan dengan warisan ini? Sependengaran saya, tidak. Namun boleh saya maknai seperti ini: Diecky mau kita semua mengambil manfaat dari musik-musik bagus yang belakangan semakin sulit diapresiasi oleh sebab badai industri. Ia mau agar kita-kita tidak terjebak pada musik-musik yang mengandalkan kemasan bombastis tapi secara nawaitu menghamba pada uang dan pasar. Diecky juga diam-diam menitipkan doa: Semoga kita termasuk orang yang selamat telinganya.

Selamat jalan, sahabat, semoga amalmu berlipat!
.








Continue reading

Jumat, 28 September 2012

Kegalauan Posmodernisme

Tulisan ini adalah olahan hasil diskusi di forum Indonesian Atheists (IA) 

12 September - 22 September 2012

Catatan: Kata-kata bisa jadi tidak mirip dengan yang tertulis di komentar sebenarnya. Tapi hanya diubah untuk kepentingan estetika penulisan. Semoga tidak berubah esensinya.

Fuck postmodern art!

Seni yang diwacanakan oleh posmodernisme memang "menyebalkan" dan meresahkan sebagaimana diskursus yang dihasilkan oleh posmodernisme itu sendiri. Kita bisa menunjuk mula-mula seni mengalami perubahan acuan adalah sejak Marcel Duchamp membuat karya agungnya yang berjudul Fountain. Karya itu adalah kloset sebagaimana adanya dan disimpan begitu saja di galeri (ditandatangani tentu saja). Meski awalnya ditolak sebagai karya seni, namun pada akhirnya terbuka juga wacana: Apakah keindahan itu ada pada dirinya sendiri, atau dikonstruksi? Apakah keindahan itu ada pada karyanya, atau dalam kepala kita? Pada titik ini, kerangka seni juga bergeser dari sekadar urusan teknis, ke juga urusan konseptual. Misalnya, John Cage menghasilkan karya 4'33'' yang hanya diam di depan piano tanpa memainkannya senot pun.. Ini jelas tidak punya nilai secara teknis: "Saya bisa, siapapun bisa!"

Bagaimana dengan seni masa kini yang estetikanya tidak ada di tataran keindahan yang sifatnya menyenangkan? Yang indah ternyata bisa jadi yang membuat mual dan jijik!

Salah satu ekses "negatif" dari posmodernisme adalah runtuhnya narasi besar. Masyarakat modern percaya bahwa ada Kebenaran yang sifatnya mutlak (dengan K besar). Hal yang demikian tentunya berlaku bagi Keindahan. Para filsuf mulai dari Plato, Aristoteles, dan Kant mencoba menyusun filsafatnya tentang apa yang bisa disebut indah. Misalnya, Aristoteles mengatakan bahwa yang indah haruslah simetris. Kant mengatakan bahwa yang indah mestilah lepas dari nilai guna praktisnya. Namun jika seni bertujuan menggugah perasaan manusia, dan juga pada titik tertentu adalah upaya untuk mendekatkan manusia pada kemanusiaannya, maka terlalu simplistik jika kemanusiaan diwakili oleh perasaan "menyenangkan".

Bagaimana "mengukur" bahwa seni yang memuakkan bisa menjadi satu keindahan?
Waiting for Godot karya Samuel Beckett bisa menjadi contoh. Ia tidak menyuguhkan satu kenikmatan dalam menontonnya karena alurnya yang membosankan dan berputar-putar. Meski menjengkelkan, tapi dalam tingkat refleksi tertentu, itu mencerminkan situasi dunia modern yang absurd, mekanistis, dan berputar-putar. Waiting for Godot tidak hendak mengajak apresiatornya untuk "kabur dari kenyataan", melainkan menerima semangat jaman hari ini dengan lapang dada. Artinya, keindahan adalah kembali lagi pada hakikat seni yang paling purba: kejujuran perasaan.

Posmodernisme terlihat seperti seni yang berbasiskan filsafat yang mendalam. Tapi filsafatnya itu sendiri seperti menu canggih tanda ada makanannya. Seperti pemikiran yang luhur padahal dangkal!

Posmodernisme, jika ditarik secara linear ke alur sejarah filsafat Barat, maka ia adalah anak kandung idealisme. Idealisme, digadang Hegel sebagai filsafat yang membasiskan diri pada sejarah sebagai pijakan umat manusia. Manusia, dalam hal ini, adalah instrumen yang membuat sejarah "menemukan jati dirinya" lewat dialektika tesis - antitesis - sintesis. Meski menjadi filsafat yang cukup penting untuk mengukuhkan nasionalisme Romantik Eropa, ia juga mendapat banyak pertentangan dari Marx dan Kierkegaard misalnya. Kritik terbesarnya tentu saja: Jika manusia hanya jadi alat sejarah, lantas dimana otentisitas manusia? Lantas dimana kehendak bebas manusia? Marx mengatakan, "Sejarah bisa diubah!", Kierkegaard mengatakan, "Kebenaran itu ada pada diri manusia itu sendiri!"

Ketika posmodernisme diakui sebagai anak kandung idealisme, maka sesungguhnya peta pemikiran Barat sedang berulang kembali. Ketika modernisme percaya kehendak bebas (e.g. eksistensialisme), posmodernisme menghantamnya kembali dengan mengatakan bahwa kehendak bebas itu tidak ada. Ketika modernisme percaya subjek sebagai aku yang berpikir (e.g. rasionalisme), posmodernisme menyerangnya dengan mengatakan subjek telah mati. Bahwa "aku" adalah hasil konstruksi, "berpikir" juga adalah hasil konstruksi.

Jadi, kritik yang ditujukan pada posmodernisme seharusnya sesuai juga dengan kritik terhadap idealisme yang terlalu mengawang-awang padahal dangkal. Meskipun tentu saja kita bisa perdebatkan tentang bagaimana "dangkal" itu dipahami.

Bagaimana jika Liky Ardianto memukuli kaleng bekas di panggung? Bandingkan jika yang melakukannya Frank Zappa, apakah berbeda apresiasinya? 

Salah satu pemikiran posmodernisme yang dicetuskan oleh kaum pos-strukturalis adalah mencurigai adanya kekuasaan dibalik struktur segala sesuatu. Mengapa Liky tidak disebut seni, sedangkan Zappa iya, padahal mereka melakukan hal yang identik? Jawaban pos-strukturalis: Karena ada kuasa yang menentukan siapa yang menyajikan seni dan siapa yang bukan. Ini juga yang bisa dibaca mengapa sekarang kantor kurator yang tadinya berada di belakang museum atau galeri, sekarang menjadi paling depan. Karena kurator ini menjadi kuasa yang menentukan mana yang seni dan bukan.

Oke, jika posmodernisme adalah soal kuasa, matinya subjek, dan tiadanya kehendak bebas. Lantas bagaimana posisinya atas eksistensialisme yang pahamnya persis kebalikannya: manusia berkuasa atas dirinya sendiri, subjek adalah pusat segala sesuatu, dan kehendak bebas adalah niscaya?

Posmodernisme memang juga mengritik filsafat eksistensialisme. Apa itu eksistensialisme? Ini adalah buah pemikiran pasca PD di Eropa, yang prinsip dasarnya: Eksistensi mendahului esensi. Eksistensi disini berarti meneguhkan keberadaan manusia sebagai subjek yang khas dan otentik. Sebelum eksistensialisme, peta filsafat Barat berkubang pada idealisme Jerman di bawah komando Hegel. Hegel mempercayai bahwa manusia adalah bagian dari sejarah. Sejarah bergerak bersama "roh absolut". Kalau saya menerjemahkan ke dalam bahasa sains (berhubung di IA banyak orang sains), istilah Hegel ini menjadi: "Kehidupan manusia itu deterministik, ditentukan oleh kuasa di luarnya." Hegel tidak bicara Tuhan, tapi ia menyebutnya sebagai roh absolut.

Oke, mari tinggalkan Hegel, dan kembali ke eksistensialisme. Tokoh terkenalnya, misalnya Sartre, mengatakan: "Man are condemned to be free" / "Manusia terkutuk untuk bebas". Bahwa kebebasan manusia di dunia adalah sebuah keniscayaan, dan keharusan dia agar hidupnya menjadi otentik. Manusia adalah pemberi makna bagi kehidupan. Manusia muncul duluan tanpa tedeng aling-aling dan menyematkan esensi bagi segala sesuatu. Inilah yang dimaksud eksistensi mendahului esensi.

Nah, posmodernisme hadir untuk menghantam free will eksistensialisme. Posmodernisme agak berbau idealisme Hegel yang melihat bahwa kebebasan manusia itu ilusi. Sesungguhnya kebebasan itu tidak ada, yang ada cuma konstruksi. Kita ada di bawah pengaruh "determinisme kekuasaan" yang sebenarnya mengepung kita. Misalnya, Foucault dengan cermat melacak bahwa sejarah adalah selalu sejarah para pemenang; sejarah para penguasa (Yang hebatnya, ucapan Foucault sudah pernah disebutkan oleh Ibnu Khaldun ratusan tahun sebelumnya!). Artinya, sejarah tidak pernah menuliskan dirinya sendiri. Ia ditulis oleh tangan-tangan yang kuasa. Hal serupa juga terjadi pada kegilaan, seksualitas, hingga ilmu pengetahuan. Kata Foucault, tidak ada yang bebas nilai. Kekuasaan selalu ikut camput dalam segenap klaim-klaim kepastian. Maka itulah, meski Nietzsche bukan termasuk ke dalam filsuf posmodernisme, tapi ia berperan besar dalam menciptakan kredo: "Kebenaran itu tidak lain adalah kekuasaan."

Dari uraian panjang lebar di atas, jika saya rangkum dalam kalimat yang lebih simpel: Salah satu ke-rese-an posmodernisme adalah karena ia tidak percaya kebebasan manusia. Kehendak bebas manusia itu dibentuk oleh kuasa. Maka itu manusia sebenarnya tidak bebas.

Setelah seni dan filsafat itu sendiri, wilayah apa yang juga disusupi posmodernisme?

Sains juga mendapat kritik akibat positivisme yang dirintis oleh Bacon. , Pertentangan mula-mula datang dari kaum konstruktivis yang landasan filosofisnya ada pada pernyataan protagoras: "Manusia adalah ukuran dari segala sesuatu. Giambattista Vico kemudian mengembangkan cara pandang Protagoras ini menjadi bangunan metodologi yang dinamakan konstruktivisme. Konstruktivisme ini ada termasuk di dalamnya hermeneutika dan fenomenologi. Semuanya menegakkan kredo bahwa objektivitas adalah ilusi, apa yang terjadi di dunia luar sana kita tidak pernah ketahui tanpa dicampuri oleh persepsi kita.

Nietzsche menambah njlimet urusan ini dengan mengatakan, "Ketika saintis menemukan sesuatu, ia melibatkan perasaannya seperti ambisi, nafsu, emosi, dsb. Hal-hal yang sesungguhnya bertentangan dengan semangat sains itu sendiri yang 'objektif' dan 'bebas nilai'". Kuhn juga menambah pusing dengan mengatakan bahwa dalam sains ada kubu-kubu yang saling menumbangkan dan membentuk paradigmanya sendiri. Saling tumbang menumbangkan itu ia sebut sebagai revolutionary science. Ketika mapan, namanya menjadi normal science. Tapi normal science itu kelak akan ditumbangkan kembali oleh revolutionary science ad infinitum. Kuhn kemudian memetakan paradigma dalam sains menjadi beberapa, diantaranya yang sudah cukup ajeg adalah positivisme (pendekarnya mulai dari Bacon, Galileo, Newton, Comte dst), post-positivisme (karl popper), konstruktivisme (Vico, Husserl dst) dan critical theory (mazhab frankfurt). Keempatnya tak bisa didamaikan karena punya pendekatan sendiri-sendiri thd dunia.

Terakhir, Foucault dengan rese melacak sejarah ilmu dengan nama "arkeologi pengetahuan". Bahwa apa yang kita sebut sebagai kebenaran, adalah jalinan halus kekuasaan. Kita mesti senantiasa curiga bahwa kebenaran tidak bersifat universal dan objektif, tapi parsial dan subjektif, tergantung siapa yang berkuasa. Nah, disinilah lagi-lagi posmodernisme membuat gara-gara. Ini belum termasuk Paul Feyerabend yang melakukan anarki epistemologis.

Bisa dikatakan, saat bicara tentang sains, para pendekar posmodernisme sampai pada ketidakjelasannya. Saat melintas melalui Thomas Kuhn, mereka menandaskan seakan Kuhn menciptakan kepusingan. Kukira tak ada saintis yang pusing akibat wawasan Kuhn. Mungkin filsafat Kuhn tampak canggih, tapi bukan saja filsafatnya kemungkinan besar keliru (sains lebih berupa akumulasi daripada revolusi), sains juga tidak mendapat manfaat apa pun dari filsafat Kuhn. Tentu saja Nietzsche menyukai hasrat dan ambisi, tapi obyektifitas tetap berpaku pada kesederhanaan: alamlah yang menjadi juri. Subyektifitas yang merembes dalam gagasan sains akan tunduk pada obyektifitas yang penuh rendah hati tersebut. Ada juga pernah kudengar para pendekar posmodernisme mengatakan bahwa sains hanya mitos-mitos di jaman modern. Kita tahu yang mengatakan itu di samping tidak paham sains dia juga tidak paham mitos. Mitos kalau kita baca strukturalisme adalah upaya menyelesaikan tegangan (tension) psikologis, tapi sains tidak seperti itu. Sains menyelesaikan persoalan nyata. Jadi, mari kita masukkan posmo ke dalam api pembakaran.

Feyerabend berkata bahwa dulu mitos adalah sains pada masanya. Artinya, orang menciptakan mitos karena berupaya menjelaskan secara rasional sebab musabab apa yang terjadi pada alam. Kita tentu tidak bisa membandingkan mitos tersebut dgn metode saintifik ala Bacon. Tapi atas upaya tersebut, kita bisa melihatnya sebagai sains dalam konteks masa itu. Sains sebagai mitos? Sebagaimana posmodernisme yang tidak dianggap bermanfaat bagi saintis, mungkin sains juga tidak bermanfaat bagi agamawan. Sains bisa berbicara tentang awal mula alam semesta, tapi agamawan tidak akan goyah, "Dimulai dengan big bang dan kun fayakun. Apa bedanya?" 

Saat alam menjadi juri, sains menunjukkan bahwa klaim-klaim tidak valid dalam akupunktur dan yoga bisa dibersihkan. Itulah yang membedakan sains dengan mitos. Big bang adalah peristiwa yang didukung data yang kukuh, tidak seperti mitos kun fayakun. Upaya posmodernisme yang menyamakan sains dengan mitos bukan hanya salah (tidak benar) tapi juga berbahaya (tidak bermoral) karena orang sakit akan makin berisiko saat menuruti mitos yang sudah jelas tidak terbukti kevalidannya.

Kun fayakun, creatio ex nihilo, itu penciptaan semesta berdasarkan perspektif 'Tuhan' (jika memang ada/percaya). Manusia bukan Tuhan karena itu jika memakai pendekatan creatio ex nihilo untuk menjembatani fenomena alam tentu saja tidak berkembang (fenomena a x keajaiban = fenomena b). Hukum materi kita itu from nothing comes nothing, sesuatu itu 'ada' karena ada keberadaan yang sebelumnya. Dalam ranah kemanusiaan, sesuatu itu harus bisa dikaji secara materi, untuk bisa diidentifikasi, dikembangkan dan dimanfaatkan. Big bang itu belum tentu satu big bang, Bisa jadi big bang merupakan kelanjutan dari big bang yang lain. Big bang benar karena data saat ini bilang itu benar. Bisa jadi di masa depan ketika kemampuan manusia lebih maju, kalau tidak ada kejadian yang me-reset semua pencapaian teknologi dan kesadaran manusia, bisa jadi big bang yang masyarakat percayai sebagai titik inisiasi semesta adalah mitos.


Ketika ilmuwan menghasilkan sesuatu yang nyata bagi peradaban, dengan hitung-hitungan dan segala eksperimen dan observasinya. Sedangkan guru-guru filsafat hanya menghasilkan buku pepesan kosong, dan hidup dari buku. Inikah posmodernisme?

Menurut Tayo Sandono, "Agama punya aturan, sains pun punya aturan, tetapi filsafat tidak punya aturan yang mengikatnya. Maka hanya filsafat yang bisa mengkritik sains dan agama." Selain itu, perlu diakui filsafat memang berbicara tentang pepesan kosong. Tapi ketika pepesan kosong itu dibicarakan, berarti dia ada. Seperti orang bicara, "ayo kita bicarakan yang tidak ada".

Filsafat bermain di tataran kesadaran. Saya akan beri contoh dua "guru filsafat modern" yang paling "pepesan kosong", yaitu Karl Marx dan Sigmund Freud. Marx dengan canggih mengkhayal bahwa sejarah adalah sejarah perjuangan kelas. Ada kaum borjuis dan proletar. Ketimpangan ini akan selalu terjadi jika proletar membiarkan borjuis merajalela. Harus dilakukan satu revolusi proletariat untuk menggulingkan pemilik modal. Akhirnya kepemilikan menjadi milik bersama di bawah distribusi dari sang pemimpin yang dinamakan diktator proletariat. Pepesan kosong? ya jelas. Tapi Marx memberi satu kesadaran terhadap dunia, bahwa kaum buruh bisa melawan. Ia juga memberi satu solusi apa yang terjadi setelah pemerintah kapital digulingkan. Apakah keberadaan Uni Soviet, Korut, dan Kuba adalah sebuah revolusi saintifik? Bisa iya, tapi itu dipicu dari "katalis kesadaran" Marx. 

Freud dia bicara soal jiwa. Tadinya psikologi dikuasai oleh behaviorisme yang dijuluki "ilmu jiwa yang tanpa jiwa". Behaviorisme percaya bahwa manusia tidak lebih dari sekedar respons terhadap lingkungannya. Jadi kalau kita dibiasakan disiplin bangun pagi jam 6, maka kita bisa dibentuk seperti itu. Freud mengkhawatirkan bahwa dalam diri setiap manusia yang mendapat satu paksaan lingkungan, ada jiwa yang diam-diam bersembunyi seperti gunung es. Freud kemudian menelaah jiwa itu seolah-olah ilmiah, dengan nama psikoanalisis. Hal yang masih menjadi perdebatan tentang keabsahannya sebagai sains. Namun apakah psikoanalisis menyumbangkan sesuatu? Iya, misalnya aliran surealisme dalam lukisan. Atau bagaimana iklan-iklan televisi tidak lagi menarik minat pemirsa secara verbal, tapi dengan diam-diam menelusup ke dalam jiwa. 

Menyinggung soal agama. Berarti orang-orang jepang yang mayoritas neither atheist nor specifically engaged in one religion, tapi punya relaxed approach di hal itu seperti menjalankan ritual buddha (upacara kematian), shinto (upacara kelahiran), dan kristen (pernikahan dan saat natal) sekaligus; itu bisa kategorikan posmodernisme?

Mereka yang menjalankan, bukan posmodernis tentu saja. Tapi kita bisa membaca hal tersebut sebagai fenomena posmodernisme. Ini salah satu kredo posmodernisme: ateisme itu produk modernis yang usang. Ateisme memang sempat trendi sebagai identitas perlawanan terhadap represi gereja di abad pertengahan. Tapi ateisme modern yang digadang-gadang oleh orang-orang seperti Feuerbach, Marx, Freud, Sartre dan Nietzsche, sebenarnya tidak lebih dari sekedar trend intelektual. Pada titik tertentu, kita juga harus menerima bahwa dunia ini mengandung "spiritualitas" tertentu. Posmodernisme tidak menunjuk spiritualitas agama-agama besar tertentu, ia mengajak merenungkan bahwa rasionalitas itu tidak melulu bisa mendekati persoalan.  

Oke, tadi sempat disinggung Feyerabend. Bisa dijelaskan?

Saya akan membaginya ke dalam beberapa poin:
1. Anti metode/against method. Feyerabend mengkritik (mendekonstruksi) metode saintifik yg dibuat oleh kaum positivis. Sains yang oleh para saintis dianggap harus punya satu metoda baku dan universal, resistan pada kritik, dan berlaku sepanjang zaman, baginya, bukan hanya superfisial, tapi jg tidak realistis, gagasan seperti itu justru merusak dan menghambat laju ilmu pengetahuan itu sendiri. Ia mengabaikan kompleksitas historis yg memungkinkan perubahan, bahwa sejarah ilmu pengetahuan juga sejatinya melulu dipenuhi pertentangan teori, Feyerabend menolak anggapan saintisme berada diatas segala aspek budaya yg malah menyebabkan sains modern menghalangi kebebasan saintis itu sendiri, karena terkekang oleh metoda, dalam bukunya Against Method, dijelaskan bahwa para saintispun tidak bisa melepaskan diri dari historisitas hukum-hukum, teknis-teknis matematis, dan apa yg disebutnya 'prasangka-prasangka epistemologis'. Metoda seolah menjadi 'metanarasi' baru, sebuah ide final yg legitimatif menentukan 'apa yang benar', kebenaran (objektif), jika memang ada, seolah menjadi bermakna 'apa yg sesuai metode', namun dengan sewenang-wenang menafikan metode-metode yang liyan.
 
Sedikit mengutip Lyotard, sains sebagai suatu wacana, mengklaim dirinya sebagai satu-satunya yg sahih dan valid, melegitimasi dirinya sendiri, namun klaim tersebut menjadi absurd karena ternyata aturan mainnya (metode) inheren ditentukan oleh konsensus para ahli,oleh para saintis yg keren2 karena berbicara dengan bahasa teknis njelimet yg hanya dimengerti lingkungan sains itu sendiri. Sejatinya sains hanyalah salah satu permainan bahasa, diantara banyak permainan lainnya. Modus legitimasi ini, di bawah satu idealisme tentang kebenaran tunggal (homologi), selayaknya digantikan dengan paralogi, bahwa metanarasi seharusnya 'dihancurkan' karena sejatinya ada banyak aneka 'kebenaran' berupa narasi-narasi kecil yg plural. 

2. Anti sains. Anti sains disini jangan diartikan lateral sebagai anti pada ilmu pengetahuan. Anti disini berarti penolakan pada 'kekuasaan ilmu pengetahuan', 'kesewenang-wenangan epistemologis' dalam menentukan mana yang benar, mana yang sampah, 'idealisme' dalam ilmu pengetahuan ini, yg dengan radikal ditentang feyerabend. Menurutnya dalam sains pun terkadang (baca:seringnya) memiliki muatan kepetingan tertentu, sehingga 'idealisme' ini haruslah diperlakukan layaknya cerita-cerita dongeng., harus dipahami sebagai upaya koreksi pada praktik ilmiah yg seringkali justru mengaburkan esensi ilmu sebagai 'kebebasan befikir', sains menjadi pemikiran tunggal-mutlak yg secara universal harus diamini kebenarannya, menguasai kebenaran bagi dirinya sendiri, kebenaran diklaim sebagai hak milik mereka yg mengerti matematika, algoritma dan geometri, menampik kebenaran yg liyan dengan cap-cap "tidak ilmiah", "tidak matematis", "tidak sesuai metode saintifik", "pesudosains", mengklaim satu-satunya yang benar dengan dalil objektifitas, namun sesungguhnya tidak lepas dari subjektivitas-subjektivitas itu sendiri, dari idealisme, dari kepentingan, dari propaganda para saintis dan institusi. Karena itu sejatinya tidak wajar memistifikasi sains sebagai satu-satunya kebenaran tunggal yg sahih, karena sains sendiri justru tidak pernah bebas nilai, tidak lepas dari ideologi, kekuasaan, dan kepentingan subyektif inidividu, dalam tataran epistemologis, saintis sebagai pemegang 'hak waris' penentu kebenaran tidak pernah lepas praanggapan, asumsi, presuposisi, dan hukum-hukum yang mendogma.
 
Bagi Feyerabend, mistifikasi sains ini, idealisasi ilmu, sejatinya justru membikin sains mengalami stagnansi. ketika sains sudah menjadi ide final yang fondasi epistemologisnya resistan pada kritik, apalah bedanya dengan kisah-kisah agung lainnya, dengan mitos-mitos lain yg katanya tidak ilmiah itu ?
 
Sedikit soal "anything goes", anarki epistemologis, senada dengan dekonstruksi Derrida, menurutku adalah proses reflektif kritis untuk mempertanyakan segala, termasuk fondasi dari kebenaran, semangatnya adalah anti-kemapanan, anti stabilitias sebagaimana yg telah diwartakan Nietzsche sang nabi peragu, bahwa sesungguhnya tidak ada kebenaran, melainkan interpretasi, bahwa ide final tanpa otokritik, merupakan pembunuhan kebenaran oleh definitif akal. dekonstruksi. Hal demikian merupakan rangkuman semangat posmodernisme, pada esensinya adalah proses destabilisasi dan delegitimasi klaim kebenaran oleh satu ide final-tunggal-universal. 

Kalau di sastra apakah puisi-puisi Mbeling karya Remy Sylado itu posmo? Seperti: 
Teks Atas Descartes
Orang Perancis
berpikir
maka mereka ada
Orang Indonesia
tidak berpikir
namun terus ada.

atau
 
Progres Cinta Kasih
Papa + Mama = Anak.
 

Puisi-puisi Remy itu kelihatan spt kritik terhadap modernitas pemikiran Barat. Yang pertama tentu saja kritik terhadap Descartes (Remy membubuhkan sedikit filsafat Heidegger yang menyebut manusia sebagai "dasein" [ada di sana, sudah ada begitu saja tanpa harus dipikirkan]_. Yang kedua itu kritik terhadap Hegel yang melihat kemajuan sebagai dialektika antara tesis + antitesis = sintesis. Ini menurut saya yang cutting edge, sastrawan Prancis, Guillaume Apollinaire. Karena wilayah-wilayah kesenian diterabas. Kalau masih menggunakan teks, walaupun isinya unik, tetep aja masih menggunakan kacamata puisi yang ketat.  


Saya coba mulai angkat satu topik kecil yg di atas disebutkan, soal pengobatan. Saya kira label "timur" dan "barat" adalah nonsense kalau kita bicara soal pengobatan. Kalau sembuh dan sakit, efektif atau tidak efektif adalah sesuatu yg relatif, maka "mati" dan "hidup" juga sesuatu yg relatif. Dari satu topik ini terlihat masalah yg ada dan kenapa, dalam banyak bidang diluar seni, bidang-bidang yang terkait dgn alam dan tubuh manusia, kita butuh empiris, kita butuh pemisahan bias-bias pribadi dari klaim yg dibuat, dari model yang kita buat dan kita tes, dari efektif tidaknya pengobatan dimana ini berpengaruh pd hidup matinya seseorang.

Sebagaimana halnya dalam pengobatan modern pun ada malpraktek, dalam pengobatan tradisional pun pasti ada oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab. Yang harus kita lawan adalah penyimpangannya, bukan memukul rata tradisi serta metodenya sebagai biang kematian. 

Apa di sini yg dimaksud kebijaksanaan pengobatan timur? Di sini tentu saya tidak bicara penyakit "masuk angin" atau penyakit-penyakit remeh yg mungkin minum teh hangat juga sudah baikan, tetapi penyakit serius seperti infeksi organ tertentu (misal ginjal). Ngomong-ngomong soal "modern" juga kita tidak bicara modern vs kuno (lebih kuno tidak berarti efektif, lebih modern juga belum tentu), yang saya maksud dgn modern di sini adalah pengobatan dgn dasar sains: infeksi bakteri ditangani dgn antibiotik. Supaya menghindari kesalahpahaman saya gunakan selanjutnya "pengobatan berdasar sains". Di sini juga kita tidak bicara soal penyimpangan, tidak bicara oknum, malpraktek tidak mewakili pengobatan berdasar sains, kita bicara pada kasus dimana mereka-mereka lakukan pengobatan sebagaimana mestinya, kita bicara efektifitas metode pengobatannya sendiri. Tanpa observasi yg solid, infeksi ginjal akan dibilang ketidakseimbangan chi, ditangani dgn pengobatan ala timur atau entah ala apa, kemudian akan mati dalam waktu 1 - 2 minggu. Sakit jantung lebih parah lagi, dalam hitungan menit sel-sel otak akan mati. Apakah ada peran dari "kebijaksanaan" pengobatan timur di sini? 

Perlu diketahui bahwa posmodernisme tidak hendak mempertarungkan pengobatan mana yang lebih efektif. Posmodernisme mengubah pandangan tentang klaim kebenaran tunggal, menjadi "kebenaran kontekstual". Bahwa yang disebut sebagai kebenaran, jangan-jangan adalah klaim kekuasaan tertentu saja. Kita bisa melacak juga sejarah penyakit-penyakit: Apakah penyakit jaman dahulu sudah sekompleks hari ini? Jangan-jangan "kesederhanaan" pengobatan timur adalah sesuai dengan situasi dan kondisi timur pada masanya. Kita tidak pernah, misalnya, mendengar ada wabah pes di Cina sebagaimana melanda Eropa di Abad Pertengahan. Ada kompleksitas yang mendasari bagaimana suatu penyakit bisa hadir dalam masyarakat. Posmodernisme mau memotret kompleksitas itu sebagaimana adanya. Karena kompleks, maka satu cara pandang saja tidak cukup dalam memahami sesuatu. Modernitas seringkali mencoba paham segala sesuatu secara otoritatif. Ketika tidak mampu dipahami, sesuatu itu dicap sebagai the others. Padahal the others itu hanya bisa dipahami jika kita menjadi mereka.

Bagaimana tentang Gangnam Style? Apakah itu fenomena posmodernisme?

Seni modern melihat seni produksi massal kadang-kadang sebagai kitsch, atau: Seolah-olah seni padahal bukan. Posmodernisme melihat kitsch juga dalam kacamata kontekstual. Misalnya, kain ulos tidak dibuat atas nama suatu individualitas tertentu. Kita tidak akan menemukan tanda tangan si pembuat kain dalam ulos. Tapi apakah yang demikian bisa kita sebut kitsch? Apakah yang demikian bukan seni? Posmodernisme memperdebatkan hal tersebut, dengan misalnya: Jangan-jangan yang demikian adalah seni yang sejati. Kenapa? Karena ia punya fungsi yang langsung bersentuhan dengan masyarakat dan dia anonim serta rendah hati.



Peserta diskusi: Ping Setiadi Yap, Amelia Guo, Theodore Mantovani, Karl Karnadi, Lea Angelina, Adventino Satrio, Mhd Sulhan, Ribraharnus Pracurtiar, Liem Freddy, Joko Supriyadi, Risang Gita Prahoro, Liky Ardianto, Rude Fontaine, Rachmat Septiana Haryadi, Kharisma Prima, Studens Philosophiae, Sebastian A. Nugroho, Garry Alexander, Nybras Kobral, Poes Koes, Andra Widjaja, Kepala Kubus, Hakmer Siregar, Marvel Dernabeli Anggen.
Continue reading

Senin, 24 September 2012

Akhirnya Tercapai Juga ...

Akhirnya Tercapai Juga ...
Sewaktu kecil, saya pernah membaca tentang Rene Descartes. Dengan pemahaman seadanya -waktu itu masih kelas 3 atau 4 SD- saya mengingat-ngingat jargon sang filsuf: Aku berpikir maka aku ada. Waktu itu saya coba merumuskan sendiri apa artinya kalimat aneh tersebut. Bapak mencoba menjelaskan tapi saya tidak kunjung paham. Meski demikian, ketertarikan akan Descartes adalah awal mula saya haus akan ilmu pengetahuan. Sejak itu saya membaca tumpukan ensiklopedia dan mengoleksi buku biografi para penemu seperti Albert Einstein, Thomas Alva Edison, Alexander Graham Bell, Wright bersaudara hingga Margaret Mead.

Selalu ada anggapan umum bahwa "Belajar sesuatu itu ada waktunya". Ketika kawan-kawan sebaya mengoleksi lagu Bondan Prakoso dan Enno Lerian, saya dicekoki jazz, The Beatles, dan Michael Franks. Ketika kelas 4 SD -di waktu bebas setelah ujian- teman-teman rata-rata membawa Lego atau mobil-mobilan, saya membawa mikroskop. Semuanya hanya menunjukkan bahwa saya telah menyukai sesuatu yang "tidak pada waktunya". Di mata orang dewasa, saya hanyalah anak yang patut dikasihani karena tidak mengalami satu masa kecil yang penuh kewajaran.

Memang anggapan "belajar sesuatu itu ada waktunya" ada betulnya. Artinya, perangkat pemahaman kita akan berkembang seiring pertumbuhan fisik. Ketika perangkat pemahaman itu semakin lama semakin berkembang, kita akan sanggup memahami sesuatu yang makin kompleks. Namun di sisi lain, saya pun merasa bahwa kalaupun istilahnya bukan belajar, namun ada yang terserap pelan-pelan ke dalam tubuh. Hal yang demikian pun saya tidak merasa tepat menggolongkannya pada memori. Yang diyakini: Tubuh kita, seluruh tubuh kita mencerap dan menyimpan apa-apa yang pernah jadi asupan keseharian. Pada titik ini, apa yang saya cerap sejak kecil tidak terbuang begitu saja seperti buang gas. Kesemuanya mengkristal, membatin, mengendap dan "bersiap untuk dipanggil kapanpun mereka siap".

Akhirnya tercapai juga ... satu cita-cita yang saya incar sejak kecil dulu sebagai bentuk eksternalisasi apa yang sudah dicerap. Cita-cita itu hadir melalui kesempatan yang diberikan oleh Kang Zainal Abidin di kelas pengantar filsafat. Di Fakultas Psikologi tersebut, saya diberi kepercayaan untuk mengajar delapan puluh mahasiswa selama kurang lebih satu jam lima puluh menit. Saya berbagi materi tentang para filsuf alam, Sokrates, Plato, dan Aristoteles dengan gaya yang pernah saya impikan dulu: Memegang mikrofon, mengacungkan telunjuk sesekali, dan dengan sepenuh hati "mengikhtiarkan kebenaran". Pada titik ini, tubuh yang sudah pernah diisi oleh pelbagai pengalaman masa kecil menggeliat dan mengeluarkan sari-sari pengetahuan dengan sangat indah. 

Kamis ini adalah masa yang berharga. Kenapa? Karena saya mengajar materi yang pernah saya kenali sekitar lima belas tahun lalu: Tentang Descartes dan Cogito ergo sum-nya yang fenomenal. Kegembiraan ini bukan hanya sebatas cita-cita yang akhirnya tercapai. Tapi di dalamnya juga terselip doa: Ya Tuhanku, semoga aku termasuk ke dalam orang-orang yang selalu bergairah; menghadapi segala sesuatu seolah-olah untuk pertama kalinya. Melihat daun seolah-olah untuk pertama kali aku melihat daun. Mencium istri seolah-olah untuk pertama kali aku menjalankan ciuman pertama di kala remaja. Karena dunia ini sesungguhnya selalu baru. Setiap saatnya.

Continue reading

Minggu, 16 September 2012

Dilema Oedipus

Dilema Oedipus
Tulisan ini tiba-tiba diangkat karena saya tiba-tiba ingat pemain sepakbola bernama Jordi Cruyff. Dia adalah anak kandung dari legenda hidup sepakbola Belanda, Johan Cruyff. Pertanyaannya: Dimana sekarang Jordi? Bagaimana nasibnya?

Pertanyaan ini saya ajukan juga pada Maradona, Franz Beckenbauer, Lothar Matthaus, Gerd Muller, dan pesepakbola legendaris lainnya: Anakmu mana? Apakah mereka tidak cukup kuat menanggung nama besar bapaknya? Ini tidak terjadi di dunia sepakbola saja. Agaknya inilah salah satu mengapa berbagai mitologi seperti Zeus, Oedipus dan Sangkuriang, berbicara soal "pembunuhan bapak sendiri". Bukan semata-mata mereka berebut ibu, tapi memang bagi seorang anak laki-laki, bapak yang kuat haruslah ditaklukkan agar hidup sang anak menjadi benderang.

Bob Marley punya anak yang juga bergerak di bidang musik, namanya Ziggie Marley. Namun dengan segala hormat bagi para rastafarian, saya merespon begini ketika membaca nama Ziggie Marley, "Your father is a god, but who the hell are you?" Clint Eastwood punya anak yang cukup terkenal, namanya Nathan Eastwood. Tapi ia tidak main film, Nathan bermain musik jazz. Juga jika Wikipedia bisa menjadi acuan seseorang terkenal atau tidak, Nathan tidak tercantum di dalamnya! John Lennon adalah dewa. Maka itu Julian Lennon, sang anak, tidak sanggup menandingi kebesaran nama sang ayah meskipun sama-sama di jalur musik.

Kita bisa mengajukan tuduhan-tuduhan mengapa jarang sekali anak laki-laki bisa menaklukkan bapak yang kuat. Bisa jadi sang anak sudah dininabobokan oleh jerih payah sang ayah sehingga ia tenggelam dalam kekayaan dan kemahsyuran. Berbeda dengan misalnya sang ayah yang dahulunya berjuang melalui proses yang panjang hingga nama besar itu dianggap sebagai sebuah konsekuensi logis. Kalau tidak kita tuding Soeharto dan anak-anaknya, kita bisa juga rujuk ke film Godfather dimana anak-anak Don Vito Corleone tidak ada yang sanggup menandingi kepemimpinan sang bapak. Michael boleh saja punya karisma, tapi ia dingin dan kejam. Di buku Musashi, perguruan Yoshioka yang sebelumnya dipimpin oleh Yoshioka Kempo yang karismatik, ternyata punya dua anak yang sama sekali tak punya kapasitas untuk meneruskan perguruan. Densichiro dan Seijuro, kedua anaknya, tak hanya tak sehebat bapaknya dalam bermain pedang, tapi juga tak mempunyai kebijaksanaan seperti Kempo.

Tapi sebaliknya, kita mengetahui bahwa orang-orang hebat dengan nama besar tersebut, rata-rata punya bapak yang "biasa-biasa". John Lennon punya bapak, namanya Alfred Lennon. Alfred tidak akan disebut-sebut jika memang dia bukan bapak dari John. Dalam arti kata lain, kita semua tentu saja pada titik tertentu selalu ingin jadi yang terbaik, terhebat, dan dikenang sepanjang masa. Namun hati-hati ketika keinginan-keinginan semacam itu tercapai, bisa jadi anak laki-lakimu menjadi tertutup peluang untuk melampaui jejak sang bapak. Sebaliknya, jika kamu gagal untuk jadi segalanya, itu berarti membuka peluang anakmu untuk jadi mahsyur suatu hari nanti. Bukankah hidup ini sudah solid, sudah sedemikian adanya?

Continue reading

Sabtu, 08 September 2012

Babel (2006): Apa yang Membuat Kita Berbeda?

Babel (2006): Apa yang Membuat Kita Berbeda?
Ditulis sebagai Suplemen untuk Pemutaran Film Babel di Layarkita
10 September 2012


Itulah sebabnya sampai sekarang nama kota itu disebut Babel, karena di situlah dikacaubalaukan Tuhan bahasa seluruh bumi dan dari situlah mereka diserakkan Tuhan ke seluruh bumi.” – Kitab Kejadian 11 : 9 

Babel, selain yang disebut dalam Perjanjian Lama tersebut, adalah juga judul film yang disutradarai oleh Alejandro González Iñárritu. Sutradara asal Meksiko itu tidak asal comot istilah dari Alkitab. Film Babel yang dirilis tahun 2006 itu memang bercerita tentang orang-orang “yang berserakan” di Jepang, Maroko, Amerika Serikat, dan Meksiko yang tertimpa “kutukan Tuhan” bernama bahasa. Sebelum mengupas aspek filosofis dari Babel, ada baiknya untuk sedikit menengok aspek historis dari film tersebut. Pertama-tama dengan mengenal sejenak sang sutradara –yang memang terkenal punya karakter kuat dalam sinematografi-. Kedua adalah dengan mengetahui bahwa Babel merupakan bagian ketiga dari trilogi yang disebut dengan The Death Trilogy. Dua film sebelumnya berjudul Amores Perros (2000) dan 21 Grams (2003). 

Alejandro González Iñárritu dan The Death Trilogy 

"This is nothing new, what I do - Rashomon, sixty years ago, played with structure and time... My father is a great story teller, he starts in the middle and goes back and forth, and that's an entertaining way to tell a story. My aunt tells a linear story, I want to fall asleep, waiting for the end, which I already know... I normally construct my thoughts like that - I jump around a lot." -Alejandro González Iñárritu 

Jika menyaksikan dua film sebelum Babel, maka dapat dengan mudah dinilai bahwa Iñárritu adalah sutradara berkarakter. Duetnya dengan penulis skenario Guilermo Arriaga menciptakan satu gaya multi-naratif yang khas dan dapat ditemui baik di film Amores Perros, 21 Grams dan Babel. Iñárritu amat pandai menampilkan kepingan-kepingan peristiwa yang awalnya membuat penonton mengerutkan kening –terutama bagi mereka yang terbiasa gaya bertutur linear-, namun lama kelamaan dapat ditemukan benang merah dari seluruh potongan tersebut. 

Merujuk pada pernyataan sang sutradara di atas, ia sendiri tidak merasa bahwa gayanya ini adalah sesuatu yang baru. Iñárritu menunjuk film Rashomon karya Akira Kurosawa sebagai inspirasi terbesarnya dalam menciptakan gaya multi-narasi. Tak lama sebelum Iñárritu pun ada sutradara seperti Quentin Tarantino yang rajin bercerita secara lompat-lompat seperti dalam filmnya Reservoir Dogs dan tentu saja Pulp Fiction. Artinya, meski multi-narasi menjadi ciri khas dalam tiga film pertama yang digarap oleh Iñárritu, namun ada hal lain yang lebih bisa membuat ia terlihat mempunyai kekuatan. 

Iñárritu kerapkali mengangkat problem manusia yang mendasar seperti kematian, kecemasan, kehilangan, pengkhianatan, kesepian, dsb. Isu-isu yang diangkat dalam filmnya membuat ia tidak jarang dijuluki sebagai sutradara neo-realis. Hal ini tidak terlalu berlebihan mengingat gaya sinematografinya yang agak dokumenteristik –boleh kita sebut cinema verite?-, penggunaan aktor non-profesional (terutama di film Amores Perros dan beberapa di Babel) serta menampilkan keseharian sebagaimana adanya tanpa bumbu fantasi yang mengawang-awang. Itulah barangkali kekuatan utama gaya penyutradaraan Iñárritu yang secara filosofi bisa disebut eksistensialistik. Ia menampilkan manusia dalam otentisitasnya -dalam situasi paling manusiawi- 

Selain itu, ada kesamaan penting antara Babel dengan dua film sebelumnya, yakni –itu tadi- kesan kuat tentang kemanusiaan. Meski demikian, Iñárritu memberi distingsi tema bagi masing-masing film. Misalnya, Amorres Perros berpusat pada kecelakaan di jalan raya yang kemudian masing-masing tokoh dalam kecelakaan tersebut dikisahkan baik dengan alur maju maupun alur mundur. Diantara tokoh-tokoh tersebut juga ada kesamaan: Sama-sama mempunyai anjing, sama-sama mempunyai kisah pengkhianatan. Apakah Iñárritu hendak membandingkan sifat anjing yang setia, dengan sifat manusia yang rentan terhadap sifat khianat? Bisa saja.  

21 Grams juga sama, ia berpusat pada kecelakaan di jalan raya. Bedanya, jika Amorres Perros antara mobil dengan mobil, 21 Grams adalah mobil dengan pejalan kaki. 21 Grams kemudian melacak secara eksistensial riwayat sang penabrak dan yang ditabrak. Pada akhirnya penonton diajak untuk merenungkan bahwa kehidupan tidak serta merta hitam putih. Bahwa sang penabrak bukan berarti ia jahat sepenuhnya. Ada kenyataan baik setelah itu: Hati korban tabrakan bisa dipakai untuk menyelamatkan nyawa orang lain (ditransplantasi) dan sang penabrak mengalami satu lompatan kesadaran spiritual yang luar biasa. 

Dua film tersebut menciptakan satu kesan bahwa dalam jarak eksistensial tertentu, sesungguhnya manusia itu unik, bukan lagi soal baik dan jahat. Lewat musik yang digarap oleh Gustavo Santaolalla yang rajin bermain minimalis dengan petikan gitar sederhana, membawa kita pada kesan muram dan sepi. Eksistensi manusia menjadi terasa menyedihkan dan jauh dari hingar bingar: “We are also what we have lost,” merujuk kalimat penutup dalam film Amores Perros. 

Membentangkan Makna-Makna yang Mungkin 

"Kids sometimes pay the price for all the stupid things that adults do... the border lines within us, which have been taught to us by our governments, our fathers, our religions, our schools, our races, thinking we are superior, inferior, or better - all the stereotypes, all our ideologies, are ruining the world, and within us, they are limiting our ability to interact." - Alejandro González Iñárritu 

Tidak seperti Stanley Kubrick atau David Lynch yang kerap bungkam pada makna apa yang ingin dihadirkan pada filmnya, Iñárritu lebih membuka mulut dan “menyuapi” penontonnya. Meski demikian, kemungkinan untuk membongkar makna lain selalu ada, meski ucapan sang sutradara tersebut tentu saja tidak boleh dibuang sebagai pijakan. 

1. Confusion of Tongues 

Babel bukanlah film yang memerlukan pemahaman filosofis tertentu untuk mengungkapkan maknanya. Beda dengan film semisal 2001: A Space Odyssey-nya Stanley Kubrick atau Seventh Seal-nya Ingmar Bergmann yang jika tanpa amunisi tertentu, akan sulit sekali untuk menemukan faedah. Ada hal-hal yang cukup jelas dalam Babel, misalnya: 

• Film ini bercerita tentang kecerobohan seorang anak yang mencoba-coba senjata dan akhirnya malah berbuntut panjang.
• Bagi mereka yang tahu asal kata Babel, maka tidak susah untuk menyocokan kisahnya dengan apa yang ada di Alkitab. Diperoleh kesimpulan: Film Babel adalah soal keruwetan bahasa, soal confusion of tongues. 

Kedua pemahaman tersebut jelas tidak terbantahkan. Namun boleh juga jika interpretasi mengenai Babel dikembangkan sehingga mungkin saja menemukan makna-makna yang juga produktif. Pertama, mari mengulas istilah Babel dalam Alkitab secara lebih lengkap: 

(1) Adapun seluruh bumi, satu bahasanya dan satu logatnya. 
(4) Juga kata mereka: "Marilah kita dirikan bagi kita sebuah kota dengan sebuah menara yang puncaknya sampai ke langit, dan marilah kita cari nama, supaya kita jangan terserak ke seluruh bumi." 
(5) Lalu turunlah Tuhan untuk melihat kota dan menara yang didirikan oleh anak-anak manusia itu, (6) dan Ia berfirman: "Mereka ini satu bangsa dengan satu bahasa untuk semuanya. Ini barulah permulaan usaha mereka; mulai dari sekarang apapun juga yang mereka rencanakan, tidak ada yang tidak akan dapat terlaksana. 
(7) Baiklah Kita turun dan mengacaubalaukan di sana bahasa mereka, sehingga mereka tidak mengerti lagi bahasa masing-masing. 
(8) Demikianlah mereka diserakkan Tuhan dari situ ke seluruh bumi, dan mereka berhenti mendirikan kota itu. 
(9) Itulah sebabnya sampai sekarang nama kota itu disebut Babel, karena di situlah dikacaubalaukan Tuhan bahasa seluruh bumi dan dari situlah mereka diserakkan Tuhan ke seluruh bumi. 

Film Babel sebagai confusion of tongues amatlah cocok. Dikaitkan dengan Alkitab, seolah-olah memang umat manusia terkutuk untuk dipisahkan oleh bahasa, sehingga mereka terpaksa menjadi terfragmentasi satu sama lain. Ini contoh kecil adegan-adegan dalam film yang menunjukkan kefrustasian oleh sebab perbedaan bahasa: 

• Adegan di Maroko ketika Susan Jones dirawat di Tazarine. Sang penerjemah mengatakan hal yang berbeda dari yang seharusnya. Kata dokter, lukanya parah dan harus dijahit. Kalau tidak, pasien akan berdarah hingga mati. Kata penerjemah, “Ia akan baik-baik saja.” Hal tersebut membuat frustasi Richard Jones. 
 • Chieko menjadi anak yang teralienasi karena statusnya sebagai penyandang bisu-tuli. Meski menguasai bahasa isyarat, namun ia tetap dijauhi oleh lingkungan karena dianggap punya cara bicara yang berbeda. 

2. “Adapun seluruh bumi, satu bahasanya dan satu logatnya” 

Agaknya melihat Babel sebagai semata-mata soal confusion of tongues bukannya tidak tepat, hanya lebih menarik jika dilengkapi kenyataan bahwa sesungguhnya ada bahasa yang “tanpa bahasa”. Atau bahasa yang boleh kita sebut universal. Artinya begini, bahasa tentu saja fenomena universal –dalam peradaban mana pun selalu terkandung bahasa-. Namun juga ada bahasa yang bisa menghubungkan bahasa-bahasa yang berserakan itu. Mari melihat beberapa contoh adegan: 

• Susan dan Richard kehilangan satu anaknya; Amelia kehilangan Santiago dan hak asuhnya pada Mike dan Debbie; Abdullah kehilangan kehidupannya yang normal dan sederhana. Yasujiro kehilangan istrinya. 
• Yussef berhasrat pada kakaknya; Amelia berhasrat pada mantan suaminya; Susan dan Richard menunjukkan hasrat ketika sadar bahwa keduanya melakukan kesalahan di masa lalunya; Chieko melihat hasrat dimana-mana, namun ia tak sanggup menjangkaunya. 
• Ada cinta diantara Susan dan Richard; Yussef dan Ahmed; Amelia dan mantan suaminya; Yasujiro pada sang anak, Chieko. 

Universalitas semacam ini mengingatkan pada film drama keluarga Love Actually. Pesan moral film itu adalah: Cinta itu dimana-mana. Iñárritu menambahkan dengan lebih kompleks: tidak hanya cinta, tapi momen-momen eksistensial seperti kehilangan dan hasrat juga ada dimana-mana. Manusia dalam kehadirannya di dunia sudah mengandung sejumlah kesamaan. Hal-hal seperti inilah yang agaknya membuat manusia tetap sanggup memahami manusia lain meski tak belajar bahasa mereka. 

 Ada bagian menarik ketika Chieko berada di diskotik dalam pengaruh obat. Iñárritu menyorot dari sudut pandang si gadis dan mendapati dunia yang sunyi sepi. Ini adalah semacam gambaran dunia tanpa bahasa. Meski ketiadaan bahasa memisahkan ia dari dunia, namun ia tetap sanggup merasakan hasrat ketika berjumpa kawan-kawan prianya. Chieko juga bisa merasakan kesedihan yang mendalam ketika seorang detektif menolak untuk bersetubuh dengannya. Jangan-jangan apa yang tertulis dalam Alkitab tentang kondisi purba manusia yang “satu bahasanya dan satu logatnya” adalah bahasa-bahasa eksistensial seperti ini. 

3. Batas-Batas Negara 

Sekarang, mari membahas apa yang sudah diucap oleh Iñárritu: 
Konsekuensi logis dari perbedaan bahasa adalah identitas. Identitas kemudian menopang munculnya bangsa. Setelah menjadi bangsa, kemudian manusia itu sendiri menentukan batas-batas wilayah yang disebut negara. Negara menjadi konsepsi yang kemudian diagung-agungkan terutama sejak era Romantik di Eropa. Ia dibela, dipertahankan, dan digaungkan lewat konsep patriotisme agar seolah mempunyai martabat. 

Mari berandai-andai sedikit. Jika yang ditembak Yussef bukan turis asal AS, akankah masalah menjadi sedemikian rumit? Akankah permasalahan menjadi seglobal urusan teroris versus Barat? Lalu simak bagaimana negara menjadi urusan paling ruwet ketika untuk menyelamatkan seorang Sarah Jones yang terluka, harus ada “kejelasan-kejelasan semu” seperti yang terkandung dalam perdebatan antara Richard Jones dan seorang Polisi di Maroko. Polisi itu tetap berpegang teguh bahwa mereka tidak punya ambulans dan biarkan kedutaan AS yang mengurus Sarah. Richard berkata keras, “This is your fucked up country!” seolah menekankan bahwa ini adalah tanggungjawabmu karena terjadi di negaramu. Lempar melempar tanggungjawab ini hanya mungkin disebabkan oleh keberadaan konsep negara. 

Yang paling jelas adalah bagaimana Amelia dideportasi karena dianggap tidak memiliki ijin membawa Mike dan Debbie melintasi perbatasan. Argumen Amelia tentang, “Anak ini sudah saya asuh sejak mereka bayi. Saya memberinya makan setiap hari,” mentah seketika. Argumen cinta dikalahkan oleh legalitas negara. Sebelumnya, Amelia yang menghadiri pernikahan anaknya, bersenang-senang seperti biasa secara manusiawi. Menuruti keinginan-keinginan eksistensialnya untuk mencari bahagia, bercumbu memuaskan hasrat, tampil baik secara sosial dengan baju masa lalunya, ternyata menjadi sama sekali tidak berharga di hadapan negara. 

4. "Kids sometimes pay the price for all the stupid things that adults do...”

Salah satu karakteristik trilogi kematian Iñárritu adalah keberadaan anak-anak. Di ketiga film tersebut, selalu ada anak yang disandingkan dengan kegiatan-kegiatan orang dewasa. Efeknya, penonton merasakan satu kesan bahwa memang orang dewasa menciptakan satu kerumitan tersendiri pada dunia. Di Amores Perros, Octavio mengajak pergi Susanna yang telah mempunyai bayi. Susanna bukan wanita lajang. Ia sudah bersuami dan suami tersebut adalah kakak dari Octavio sendiri. Di 21 Grams, Jack Jordan mempunyai dua anak yang berumur kurang lebih sama dengan dua anak yang ia tabrak hingga tewas seketika. 

Babel juga sama, ada tokoh Yussef dan Ahmed, serta Mike dan Debbie. Kita bisa menuduh dengan mudah bahwa Yussef adalah biang keladi seluruh rangkaian peristiwa. Namun merunut ke belakang, ia adalah buah dari permainan orang dewasa yang memperdagangkan senjata. Juga barangkali tak pernah tersirat dalam benaknya, bahwa keisengannya menembak menimbulkan satu problem lintas negara yang sedemikian rumit. Membuat polisi harus turun tangan dan melibatkan mereka dalam baku tembak serius. Mike dan Debbie pun mengalami hal yang sama. Mereka bergembira di pesta pernikahan dan tertidur pulas di jok belakang. Namun mereka tak pernah paham mengapa pada akhirnya nasib mereka berada di tengah gurun dengan Amelia yang nyaris pingsan mencarikan bantuan. 

Yussef dan Ahmed; Mike dan Debbie, keduanya dipisahkan oleh kenyataan bahwa nasib mereka terpisah oleh situasi negara yang mereka tinggali. Yussef dan Ahmed berada di negara yang boleh kita bilang –dalam kacamata simpel globalisasi- sebagai negara dunia ketiga. Mereka mudah sekali dikenai tuduhan-tuduhan teroris untuk hal-hal yang agaknya bukan sebuah aktivitas teror. Mike dan Debbie, dari Amerika Serikat, oleh sebab negaranya yang adikuasa, mereka diberi perlindungan “yang nyaman” dari Amelia yang melanggar ijin kerja. Namun ada satu hal yang pasti: Baik Yussef, Ahmed, Mike, dan Debbie tak pernah paham mengapa dunia orang dewasa sedemikian berbelit-belit!

Merenungkan Babel

Disamping beberapa bentangan makna di atas, Iñárritu juga sekali lagi ingin menunjukkan satu tampilan eksistensi dunia manusia yang khas. Ia seolah mau menjadi perpanjangan filsafat Sartre yang mengatakan, “Keputusan apapun yang kamu ambil, adalah keputusan yang berlaku bagi seluruh manusia.” Kita tidak pernah tahu bahwa keputusan Yasujiro memberikan senapan pada Hassan Ibrahim menyebabkan Ahmed terbunuh, menyebabkan Amelia kehilangan ijin untuk ke pesta pernikahan anaknya –membuat ia harus membawa Mike dan Debbie untuk kemudian dideportasi- 

Pada jarak pandang yang lebih luas, kita bahkan tidak bisa memutuskan bahwa manusia dalam kekhasan eksistensialnya, bisa digolongkan dengan mudah ke dalam baik-jahat, berpendidikan-tidak berpendidikan, bermoral-tidak bermoral, warga negara maju-warga negara berkembang, atau golongan atas-golongan bawah. Babel memang pada mulanya menunjukkan fenomena dunia yang parsial: Melihat kehidupan demi kehidupan yang seolah tidak punya kesamaan. Namun pada akhirnya ada benang merah cukup jelas yang menunjukkan penyebab keberpisahan fenomen-fenomen itu. Kita bisa sebut ia bahasa, ras, ideologi, ataupun batas-batas negara. 

Mengapa itu terjadi? Jika merujuk pada kitab suci, ini sudah semacam “kutukan Tuhan” agar manusia tidak arogan untuk menciptakan menara yang bermaksud mencapai-Nya. Jika merujuk pada argumen lainnya, kesemuanya ini tak ada sangkut pautnya dengan Tuhan. Keseluruhan perbedaan ini adalah ciptaan manusia itu sendiri -Manusia dewasa dengan rasionalitasnya yang membenamkan bahasa universal ke penjara yang betul-betul asing-. 
Continue reading