Rabu, 15 Agustus 2012

Untuk Sahabatku, Para Asketik!


Saya bertemu Bilawa Ade Respati pertama kali di Jalan Teri. Itu adalah tempat dimana kami sama-sama belajar gitar pada sang guru, Ridwan B. Tjiptahardja. Saya terkagum dengan permainan gitarnya, ia memainkan lagu karya J.K. Mertz berjudul Elegie. Lebih hebat lagi, orang yang kelak saya panggil Bil itu, saat itu masih berstatus anak SMA. Sedangkan Diecky? Ya, Diecky saya temui di dekat aula RS Santo Borromeus. Waktu itu ia tengah membangun komunitas bernama Classical Guitar Community (CGC) yang kebetulan tampil di seminar yang mengundang Dieter Mack (musikolog  asal Jerman) untuk membahas tentang periodisasi musik klasik (kalau tidak salah).

Bilawa adalah orang yang mula-mula akrab dengan saya. Ia ternyata merupakan pribadi yang hangat tapi juga sekaligus mendalam. Caranya berpikir begitu aneh untuk anak seumurnya. Bilawa adalah seperti orang yang menanggung beban dunia -gerak-geriknya begitu penuh pemikiran dan segala ucapannya selalu menimbulkan kerut kening-. Hal tersebut membuat kawan saya, Pirhot, menjulukinya sebagai The Chosen One, mengacu pada julukan bagi Anakin Skywalker di film Star Wars. Kami banyak bekerjasama terutama dalam membangun komunitas KlabKlassik. Saya ingat dengan jernih sekali, bahwa kami bertiga (bersama dengan Pirhot), mengelem pin di tengah malam. Untuk apa gerangan? Sebagai bagian dari persiapan konser perdana KlabKlassik bertajuk Classicares: Classical Concert for Charity.

Diecky kehadirannya adalah bagai pencuri di tengah malam. Ia jarang berbicara dan juga sedikit sekali berekspresi tentang sesuatu. Namun kehadirannya diam-diam mengambil barang berharga. Yang ia curi adalah perhatian segenap awak KlabKlassik. Kehadiran Diecky menjadikan KlabKlassik yang tadinya berpusat pada permainan teknis musik belaka, menjadi punya landasan filosofis. Diecky mengajak kita semua berpikir, merenungkan, dan menyatakan sikap tentang apa yang dimaui dalam komunitas ini. Jangan sampai KlabKlassik menjadi bagian dari hingar bingar saja, yang nantinya lenyap ditelan kerumunan yang lain.

Tapi saya tertipu jika apa yang dinilai kemudian adalah semata-mata bagaimana KlabKlassik hari ini menjadi baik sejak keberadaan mereka. Apa yang membuat saya begitu terpesona oleh keduanya adalah kenyataan bahwa baik Bilawa dan Diecky, keduanya adalah menjadi sahabat sekaligus saudara dalam posisinya di luar komunitas. Keduanya bagai pupuk yang menumbuhkembangkan jiwa sehingga saya merasa lebih kuat dan dewasa setiap harinya. Keduanya juga adalah cermin, yang membuat persahabatan bukan menjadi hanya sekedar tentang saling puji memuji semata. Disebut cermin karena: Diantara kami ada caci maki dan hujatan. Namun yang demikian bukan berujung pada dendam, melainkan sebaliknya, kembali pada keadaan saling mengasihi dan menyayangi.

Keduanya sekarang akan pergi. Bilawa, kemana dia? Ia pergi ke Jerman menempuh studi. Ia belum mau melepaskan beban kehidupan dari pundaknya, dan masih suka membawanya kemana-mana. Bilawa, boleh saya bilang, adalah seorang asketik sejati. Bilawa hanya belajar bagaimana dari tadinya menderita menjadi bahagia, meskipun yang ia panggul tetaplah objek berat yang sama. Ia pergi tiga tahun lamanya dan mengisyaratkan waktu kembali yang lebih lama dari itu karena ia juga tertarik untuk melanglangbuana pasca studi. Diecky akan menikah (selamat ya!) bulan September ini dan kemudian melanjutkan rumahtangganya di Pontianak dengan karir sebagai dosen. Ia pun sepertinya belum akan menghilangkan statusnya sebagai pencuri di malam hari. Keahliannya yang cantik ini saya ramalkan akan membuat seantero Kalimantan menoleh kepadanya dalam waktu singkat.

Selamat menempuh jalan asketik sahabat-sahabatku yang paling menawan. Ingat kata Gibran, bahwa sahabat adalah seperti gunung: Indah dipandang dari kejauhan.
Previous Post
Next Post

0 komentar: