Saturday, August 11, 2012

30hari30film: Dune (1984)

23 Ramadhan 1433 H


Dune adalah film garapan David Lynch yang merupakan kerjasama pertamanya dengan aktor Kyle MacLachlan. MacLachlan ini kelak akan tampil di sejumlah film Lynch termasuk serial Twin Peaks. Dune diambil dari novel dengan judul yang sama karangan Frank Herbert. Meski gagal di pasaran, film Dune termasuk dalam kategori cult yang digemari karena estetikanya yang agak surealistik. Tak lama setelah kemunculan filmnya, Dune muncul dalam format video game yang cukup populer.

Dune mengambil latar waktu masa depan. Berkisah tentang perebutan kekayaan alam bernama spice melange yang bisa membuat orang yang mengonsumsinya bisa mengalami perjalanan astral, panjang umur, dan punya perluasan kesadaran. Sumber dari spice melange itu adalah planet bernama Arrakis yang dikuasai oleh Kaisar Shaddam Corrino IV (Paul Ferrer). Rempah-rempah yang berada di planet Arrakis terancam diperebutkan oleh dua kubu yaitu Kubu Atreides dan Kubu Harkonnen. Harkonnen –yang dipimpin oleh Baron Vladimir Harkonnen (Kenneth McMillan)- secara militer lebih kuat, namun Atreides punya putra mahkota yang punya visi kenabian bernama Paul Atreides (Kyle MacLachlan). Paul dinantikan oleh orang-orang Fremen yang menghuni planet Arrakis. Konon, Paul inilah yang kelak akan menyelamatkan para Fremen dari gejolak konflik di planetnya.

Proses penggarapan film ini diakui Lynch kurang menggembirakan. Bahkan ia sendiri mengaku kurang puas dengan hasilnya. Dalam versi film Dune tertentu, ia menghilangkan nama dirinya sebagai sutradara dan menggantinya dengan Alan Smithee –nama yang biasa dipakai bagi sutradara yang kecewa karena proses kreatifnya banyak diintervensi-. Walhasil, Dune memang lebih terasa seperti B-movie ketimbang film epik luar angkasa lainnya seperti Star Wars (Sebetulnya, Lynch sendiri nyaris ditawari untuk menyutradarai Star Wars VI: Return of Jedi).

Namun film ini bisa dinikmati barangkali jika pertama, terbiasa dengan film-film cult. Kedua, memahami estetika Lynch yang memang surealistik dan kadang absurd, misalnya: Sumber kekuatan tembakan para Fremen yang akan maksimal jika meneriakkan kata, “Mu’adib!” Jika tidak memenuhi dua syarat di atas, mungkin kita akan cukup sulit mengapresiasi Dune. Film ini kurang seru untuk genre action, kurang canggih untuk genre science fiction, kurang dramatis untuk genre drama, dan kurang rumit dari segi skenario (terlalu mudah ditebak). Akting para pemainnya pun biasa-biasa saja. Film ini bagi sutradara sekelas David Lynch -yang sudah melahirkan film sureal jempolan semacam Eraserhead, Elephant Man, Blue Velvet, ataupun The Lost Highway- boleh dibilang suatu kegagalan.  

Rekomendasi : Bintang Dua Setengah
Previous Post
Next Post

0 comments: