Tuesday, August 14, 2012

30hari30film: 8 1/2 (1963)

26 Ramadhan 1433



8 1/2 adalah film yang digarap oleh sutradara legendaris asal Italia, Federico Fellini. 8 1/2 juga menunjukkan suatu perubahan gaya penyutradaraan Fellini dari yang tadinya penganut neo-realis menjadi agak surealistik. 8 1/2 tidak lain adalah semacam renungan tentang karir sutradara Fellini sendiri. Angka 8 1/2 adalah jumlah total film yang sudah ia garap (cara penghitungannya seperti ini: enam film berdurasi panjang, dan tiga film berdurasi pendek. Yang berdurasi pendek ia hitung sebagai setengah). Film 8 1/2 juga menginspirasi banyak film yang mengambil gaya tutur surealistik dan mencoba memvisualisasikan alam bawah sadar seperti film-film Hollywood yang cukup baru semisal Synecdoche (2008) dan Nine (2009). Khusus film Nine, bahkan ia menjadi semacam remake film 8 1/2 dengan gaya yang lebih musikal dan spektakuler.

8 1/2 berpusat pada sutradara kenamaan bernama Guido Anselmi (Marcello Maestroianni) yang tengah disorot karena sedang dalam proses pembuatan film yang cukup heboh bertemakan science-fiction. Namun Guido tidak bahagia. Ia sesungguhnya tidak mempunyai cukup inspirasi untuk menggarap film ini. Akhirnya, dalam rangka mencari inspirasi, Guido menggali masa kecilnya. Tidak hanya itu, ia juga berkonsultasi dengan pendeta. Yang paling menarik tapi juga sekaligus menjadi problem bagi inspirasinya, adalah kenyataan bahwa Guido mencari ide dari wanita-wanita cantik. Wanita-wanita cantik memberi dilema karena kadang Guido tak sanggup memisahkan antara hasrat dan profesionalisme - Selain dari dilema karena Guido punya istri setia bernama Luisa (Anouk Aimée). Waktu menuju shooting hari pertama semakin dekat, namun Guido semakin tidak punya arah mau dibawa kemana film ini.

Cerita yang sederhana? Mungkin iya. Namun yang digali Fellini bukanlah kompleksitas skenario, melainkan bagaimana ia hendak mengangkat keresahan sang sutradara dalam bentuk visual. Maka itu, film 8 1/2, jika tidak memandangnya dalam kacamata sureal, akan sangat aneh dan barangkali sulit dipahami. Jika film semacam ini diciptakan dalam gambar berwarna, tentu saja tidak terlalu sulit untuk membuat distingsi antara mimpi dan realita. Namun Fellini -yang membuat kita mesti sepakat bahwa dia adalah seorang sutradara jempolan- memberi kesan surealistik itu dalam teknologi gambar yang masih hitam putih. Membuat ia mesti sangat piawai memainkan komposisi mulai dari musik (yang digarap dengan sangat apik oleh Nino Rota) hingga teknik montage yang menawan -simak bagaimana Guido melemparkan ingatannya pada masa kecil ketika ia bermain bersama teman-temannya, menyaksikan tarian dari pelacur bernama Saraghina-. Film ini brilian, berteknik tinggi, dan penting.

Rekomendasi: Bintang Lima

Previous Post
Next Post

1 comment: