Saturday, August 25, 2012

Panoptikon

Panoptikon adalah konsep arsitektur yang digagas oleh Jeremy Bentham di akhir abad ke-18. Terdiri dari dua kata yaitu pan yang berarti semua dan optikon yang artinya mengamati, panoptikon bisa dipahami sebagai: "desain gedung yang memungkinkan satu pihak bisa mengawasi seisi gedung tanpa yang diawasinya merasa terawasi."

Konsep panoptikon ini terutama diterapkan dalam penjara. Contoh terbaiknya ada pada bangunan penjara Presidio Modelo di Kuba. Seperti ini dia gambarnya:

Gambar diambil dari sini. Lisensi milik Friman.

Menara di tengah ini adalah kunci konsep pengawasan yang ditawarkan Bentham. Menara tersebut berputar dan di dalamnya ada sipir yang mengamati dengan seksama sel-sel di sekelilingnya. Michel Foucault melihat bahwa terlepas dari ternyata tidak ada sipir di balik menara tersebut, struktur kesadaran para napi akan menganggap dirinya selalu berada dalam pengawasan. Foucault kemudian mengabstraksi konsep panoktikon ini dalam kritiknya terhadap apa yang ia sebut sebagai "metode disiplin modernitas". 

Apa yang dipikirkan oleh Foucault ini baru saya pahami kala berjalan-jalan di salah satu mal di Jakarta. Setelah keluar dari tempat mainan bersama sepupu, saya melihat televisi layar datar yang bertuliskan: "smile, you're always on tv."


Meski tidak mengacu pada panoptikon sebagai sebuah konsep arsitektur, namun cara kerjanya persis. Dengan ramah, si televisi berbicara seperti menara di Presidio Modelo. Ia hendak menunjukkan bahwa meski mungkin saja tidak ada korelasi serius antara ucapan di atas dengan tingkat keamanan yang sesungguhnya, namun kalimat tersebut menunjukkan bahwa kita mesti mengafirmasi diri bahwa kita ada pada posisi diobjekkan, dikuasai, dan tidak punya daya upaya untuk melarikan diri.

Yang hendak disoroti tentu saja bukan metode pengamanan yang bisa jadi efektif untuk menjauhkan pasar dari serbuan pengutil. Yang mau dibicarakan adalah kenyataan bahwa tanpa harus mendekam di balik sel, kita bisa ikut merasakan bagaimana dikuntit oleh kekuasaan. Sang kuasa ini tak sanggup menguasai dirinya dari melihat apa yang perlu dilihat saja. Meski ia ditujukan pada mulanya untuk mengamankan mal, namun sesungguhnya kuasa tersebut menjadi semacam eye of god yang menciptakan suatu penjara psikologis dalam kesadaran kita.

Perasaan ngeri ini mengingatkan saya pada film The Truman Show karya sutradara David Weir tahun 1998. Truman Burbank yang diperankan Jim Carrey, berada pada situasi serupa sejak ia lahir: Berada dalam setting acara televisi bernama The Truman Show yang menjadi tontonan seluruh dunia. Celakanya, selama 30 tahun, ia merasa bahwa apa yang ia jalani adalah kehidupan yang sejati -bukan artifisial ciptaan sang sutradara, Christof. Film ini dampaknya cukup besar sehingga timbul suatu penyakit psikologis bernama Truman Show Delusion. Para pengidapnya merasa hidupnya diawasi terus menerus dan ditonton oleh orang di seluruh dunia. Mereka tidak percaya bahwa hidupnya adalah kenyataan, jangan-jangan seisi manusia hanyalah aktor belaka.

Kita tidak akan jauh-jauh mengaitkan The Truman Show dengan sebaris kalimat di mal tadi. Namun ada benang merah yang bisa kita tarik: Bahwa antara Truman Burbank dan para pengunjung mal, keduanya sama-sama tidak punya kuasa untuk melihat apa yang terjadi di balik kamera. Bisa memang diawasi, bisa tidak sama sekali, atau malah menjadi objek voyeur yang menyenangkan.
Continue reading

Friday, August 24, 2012

Sang Alkemis Tidak Sama Dengan Law of Attraction


Santiago adalah tokoh sentral dalam Sang Alkemis, sebuah novel yang ditulis oleh Paulo Coelho dalam bahasa Portugis dan diterbitkan tahun 1988 dengan judul O Alquimista. Apa yang anak gembala tersebut lakukan? Santiago mengikuti mimpi-mimpinya tentang harta karun di Piramida-Piramida. Awalnya ia ragu apakah ia harus tetap tinggal bersama domba-domba yang sudah ia akrabi hampir sepanjang hidupnya, atau pergi menuju mimpinya, yang mana membuat ia, mau tidak mau, mesti bertualang ke Mesir dan tentu saja meninggalkan kehidupan sehari-harinya yang nyaman. 

Santiago, dengan dorongan keyakinan dari seorang raja misterius bernama Melkisedek, akhirnya memutuskan untuk pergi demi tersingkap apa yang jadi kepenasaranannya selama ini. Ia meninggalkan domba-domba dan menyerahkan diri pada tantangan-tantangan yang tidak terduga: Mulai dari membantu pedagang kristal, berhadapan dengan padang pasir, berlabuh di oase -tempat ia kemudian menemukan cintanya, Fatima-, hingga akhirnya bertemu dengan sang alkemis yang bijaksana -yang punya peran dalam bagaimana akhirnya Santiago menemukan 'harta karun yang sesungguhnya'-. Modal keberanian bagi Santiago adalah sebaris kalimat yang berdengung cukup sering: "Saat engkau menginginkan sesuatu, seluruh jagat raya bersatu padu untuk membantumu meraihnya."

Kalimat terakhir tersebut meski menjadi tagline yang paling sering keluar dalam Sang Alkemis, namun pesan yang dikandung secara keseluruhan agaknya tidak sesimpel itu. Sekilas, kalimat tersebut agak mirip dengan law of attraction yang diceritakan dalam buku motivasi best-seller berjudul The Secret. Law of attraction berintisari kurang lebih mirip: Jika kita berpikir tentang sesuatu, maka hal tersebut akan sesuai dengan apa yang kita pikirkan. Namun bebauan self-help ini bisa terhapuskan jika kita sungguh-sungguh menghayati kandungan Sang Alkemis secara lebih holistik.

Paulo Coelho hendak mengajarkan pada kita tentang bagaimana menghayati diri sebagai alam semesta mikro yang bersemayam. Sesuai apa yang disebut oleh Aristoteles, "Kita bisa memahami yang general dari hal-hal yang partikular." Coelho menyebutnya sebagai Jiwa Dunia, semacam kesadaran purba yang agaknya sudah tereduksi oleh antroposentrisme yang berpusat pada "aku berpikir" ala Cartesian. Lewat perjalanan Santiago di padang pasir, novel Sang Alkemis hendak berkata bahwa aku dan angin, aku dan pasir, aku dan matahari sesungguhnya tiada beda, seperti halnya pelbagai logam sebelum ia berevolusi puncak menjadi emas.

Berat? Dalam lapisan tertentu, memang iya. Sang Alkemis seperti pengejawantahan dari pemikiran mutakhir filsuf Heidegger yang bicara tentang "benda yang menampakkan dirinya yang asali pada kita." Namun pernyataan Heidegger tidak datang dari ruang hampa, ia justru ditopang oleh Filsafat Timur yang sudah sejak lama merenungkan hal-hal seperti ini. Jadi kalau kita bilang Sang Alkemis penuh dengan bebauan pemikiran Timur, sama sekali tidak ada salahnya.  

Mereka yang gagal memahami Sang Alkemis, kemungkinan bisa terjerembab pada persepsi bahwa buku ini adalah buku motivasi agar kita bersungguh-sungguh dalam mencapai sesuatu. Prinsip semacam itu terlalu klise untuk dituliskan dalam karya sastra sebaik literatur Coelho ini. Akan terlalu banyak pesan penting yang dilewatkan jika kita buru-buru menangkap bahwa buku ini adalah buku self-help.

Continue reading

Friday, August 17, 2012

30hari30film: Battleship Potemkin (1925)

30hari30film: Battleship Potemkin (1925)
30 Ramadhan 1433 H


Battleship Potemkin adalah film bisu yang disutradarai oleh Sergei Eisenstein. Sutradara asal Uni Soviet itu membuat Battleship Potemkin, selain memang dalam rangka propaganda revolusi, tapi juga untuk memperlihatkan bagaimana teknik montage atau editing, dapat memberikan suatu respon emosional bagi penontonnya. Banyak adegan dari karya berdurasi sekitar tujuh puluh menit ini diadopsi oleh beberapa film ternama seperti The Untouchables (disutradarai Brian de Palma) dan Brazil (Terry Gilliam).

Battleship Potemkin berkisah tentang pemberontakan para awak kapal perang Potemkin yang dipicu oleh ketidakpuasan terhadap makanan di kapal yang sudah busuk. Warga Odessa yang simpati terhadap pemberontakan ini, kemudian dibantai oleh tentara Tsar di adegan "tangga Odessa" yang fenomenal. Cerita ini dibagi dalam lima bagian: Men and Maggots, Drama on The Deck, A Dead Man Calls for Justice, The Odessa Staircase, dan  The Rendezvous with The Squadron.

Battleship Potemkin menunjukkan suatu kekuatan orisinil yang bisa diproduksi oleh film: Bahwa kekuatannya bukan dari musik, bukan dari aktor, dan bukan dari skenario (karena tiga hal ini adalah sumbangsih dari seni non-film), melainkan dari teknik editing serta pengadegan yang sering diistilahkan dengan mise en scene. Para sutradara mesti terlebih dahulu melampaui dua teknik terakhir ini sebelum mereka memberi sentuhan tambahan yang diperolehnya dari "sumber eksternal". Selain itu, secara jujur Battleship Potemkin juga diakui sebagai suatu bentuk propaganda. Hal yang agaknya mengukuhkan pendapat mereka yang percaya bahwa seni haruslah punya fungsi persuasi -jika kata propaganda terlalu keras-. Art for art's sake dianggap kredo yang terlalu idealis dan tidak punya guna apa-apa bagi masyarakat. Battleship Potemkin adalah film yang terlampau penting untuk dilewatkan. Ini adalah harta tak ternilai dalam sejarah sinema.

Rekomendasi: Bintang Lima
Continue reading

30hari30film: Stand By Me (1986)

30hari30film: Stand By Me (1986)
29 Ramadhan 1433 H

Stand By Me adalah film garapan Rob Reiner yang mengadaptasi novella dari penulis kenamaan Stephen King berjudul The Body. Meski King akrab dengan cerita thriller, namun The Body ini -mirip dengan ceritanya yang diangkat menjadi film terkenal yang diperankan Morgan Freeman, The Shawshank Redemption - bertemakan drama. King mengaku bahwa diantara sekian banyak upaya pengadaptasian novelnya, Stand By Me ini adalah termasuk yang berhasil. Salah satu contoh upaya adaptasi yang dilakukan sutradara sekelas Stanley Kubrick sekalipun, oleh King disebut gagal ketika mengangkat The Shining ke layar lebar.

Stand By Me dianggap sukses oleh sebab akting brilian dari empat orang anak berusia sekitar dua belas tahun. Mereka adalah Wil Wheaton, River Phoenix, Jerry O'Connell, dan Corey Feldman yang bermain sebagai Gordie Lachance, Chris Chambers, Vern Tessio, dan Terry Duchamp. Keempatnya bertualang mencari jenazah dari anak bernama Ray Brower yang hilang dan menjadi pemberitaan luas di kota mereka, Castle Rock. Namun perjalanan mereka tidak nyaman. Selain oleh sebab dilakukan dengan berjalan kaki menyusuri rel kereta api dengan jarak cukup jauh, ada sekelompok remaja yang juga mencari keberadaan mayat Ray juga. Jumlah mereka lebih banyak dan mereka menggunakan mobil. Atas motif apa kedua kelompok ini mencari mayat Ray? Sederhana saja: Ingin dianggap sebagai pahlawan instan di Castle Rock.

Stand By Me kekuatannya sungguh terletak pada akting keempat anak itu yang pasti membuat tercengang-cengang. Ekspresinya begitu kuat dan mampu menonjolkan suatu karakteristik yang khas: Gordie yang pendiam namun menyimpan banyak kekuatan, Chris yang pemberani dan setia kawan, Vern yang lamban dan penakut, serta Terry yang tengil dan selalu mengagumi ayahnya sendiri sebagai pejuang Sekutu dalam pendaratan Normandia kala Perang Dunia kedua. Tidak salah jika para aktor cilik ini kemudian begitu laku bak kacang goreng setelah penampilan brilian mereka di Stand By Me. Meski demikian, tidak serta merta film ini digolongkan sebagai film bagi anak-anak. Stand By Me menyuguhkan cukup banyak percakapan filosofis, seperti antara Gordon dan Chris berikut ini:

Gordie: Do you think I'm weird? 
Chris: Definitely. 
Gordie: No man, seriously. Am I weird? 
Chris: Yeah, but so what? Everybody's weird.

Rekomendasi: Bintang Empat
Continue reading

30hari30film: Le Petit Nicolas (2009)

28 Ramadhan 1433 H


Jika mengenal tokoh anak-anak seperti Astérix ataupun Lucky Luke, maka ketahuilah bahwa Nicolas ini adalah juga tokoh yang diciptakan oleh René Goscinny. Diluncurkan pertama kali tahun 1959 dalam bentuk buku serial untuk anak, Nicolas langsung populer di kalangan anak-anak Prancis masa itu. Meski sudah dibuat buku dalam versi Inggris dari sejak tahun 1962, namun kisah mengenai Nicolas ini baru diangkat ke layar lebar maupun layar televisi pada tahun 2009. 

Le Petit Nicolas, yang disutradarai oleh Laurent Tirard, berkisah tentang anak bernama Nicolas (Maxime Godart) diantara dua dunia yang mendominasi kehidupannya: keluarga dan sekolah. Di keluarga, dia adalah anak satu-satunya dari ayah yang ambisius di dunia kerja (Kad Merad) dan ibu yang sedemikian menghayati perannya di rumah (Valérie Lemercier). Sedangkan di sekolah, Nicolas punya teman-teman kelas yang dinamis seperti Geoffroy si anak orang kaya, Alceste yang gendut dan selalu makan, Clotaire yang selalu dihukum karena malas dan kurang pandai, Eudes yang nakal, dan Rufus si anak polisi. 

Dunia sekolah dan dunia keluarga ini menjadi terkoneksikan oleh sebab suatu percakapan antara orangtua Nicolas yang tanpa sengaja terdengar si anak. Percakapan tersebut disalahartikan oleh Nicolas sebagai bentuk kehadiran calon adik yang akan mengancam keberadaan dirinya. Teman-teman sekelas Nicolas pun menunjukkan kesetiakawanannya dengan membantu agar Nicolas tetap eksis di tengah keluarganya -tentunya dengan cara-cara yang menggelikan-.

Film Le Petit Nicolas adalah film yang amat menyegarkan. Tingkah laku Nicolas dan kawan-kawannya begitu lugu dan mengundang tawa. Namun tidak hanya sisi itu saja yang bisa dilihat dari film Le Petit Nicolas, melainkan kenyataan bahwa dunia orang dewasa begitu rumit dan terlalu mengada-ada. Le Petit Nicolas ini punya kemiripan dengan buku karya Antoine de Saint-Exupéry berjudul Le Petit Prince. Keduanya punya kesamaan, yaitu tentang bagaimana mengajak apresiator untuk merenungkan dunia keseharian orang dewasa dari sudut pandang anak kecil yang seringkali tidak melihat kehidupan sebagai sesuatu yang harus dikotak-kotakkan atau dikuasai. Anak kecil selalu punya keajaibannya sendiri, atau jika mengacu kata Picasso, "Every child is an artist. The problem is how to remain an artist once we grow up."

Rekomendasi: Bintang Empat

Continue reading

Thursday, August 16, 2012

30hari30film: Frenzy (1972)

30hari30film: Frenzy (1972)
27 Ramadhan 1433 H


Frenzy adalah film thriller yang digarap oleh spesialisnya: Alfred Hitchcock. Diadaptasi dari novel berjudul Goodbye Piccadilly, Farewell Leicester Square karya Arthur La Bern, Frenzy berkisah tentang pembunuh berantai berjuluk necktie murderer. Label tersebut disematkan karena korban kerapkali mati dalam keadaan telanjang dan hanya mengenakan dasi di lehernya. Sebelumnya, korban yang selalu wanita muda tersebut, diperkosa terlebih dahulu sebelum kemudian dicekik dengan dasi. 

Pembukaan film ini langsung menjanjikan. Korban wanita telanjang dengan dasi di lehernya, mengapung di tengah sungai yang sedang dikerumuni publik. Publik Kota London menjadi heboh dan mewaspadai berkeliarannya seorang pembunuh berantai diantara mereka. Lain cerita, ada kisah tentang Richard Blaney (Jon Finch), mantan pramusaji bar yang sedang dirundung malang. Ia dipecat oleh bosnya oleh sebab tuduhan sering mengambil minuman sendiri dari bar tanpa pernah membayar. Dalam keadaan terkatung-katung tanpa pekerjaan dan juga tanpa tempat tinggal, Blaney tiba-tiba dituduh polisi maupun media sebagai necktie murderer yang menghebohkan itu. Sisanya bisa ditebak: Bagaimana Hitchcock mempermainkan perasaan penonton tentang apakah Blaney pada akhirnya terbukti bersalah atau tidak.

Frenzy menyuguhkan beberapa kali adegan yang amat tipikal dari Hitchcock. Misalnya, ketika terjadi pembunuhan, alih-alih disorot kejadiannya, Hitchcock malah menjauhkan kameranya dari lokasi. Meski tidak ditampakkan, hal tersebut tetap menimbulkan asosiasi bahwa pembunuhan sedang terjadi. Jika dibandingkan karya agung sang sutradara semisal Psycho ataupun Vertigo, Frenzy terhitung mengecewakan. Puncak dari film ini tidak menunjukkan kekhasan Hitchcock yang biasanya melakukan kejutan alias twist ending. Percayalah, satu menit akhir dari film ini akan membuat kecewa pada keseluruhan ceritanya.

Rekomendasi: Bintang Dua

Continue reading

Wednesday, August 15, 2012

Untuk Sahabatku, Para Asketik!


Saya bertemu Bilawa Ade Respati pertama kali di Jalan Teri. Itu adalah tempat dimana kami sama-sama belajar gitar pada sang guru, Ridwan B. Tjiptahardja. Saya terkagum dengan permainan gitarnya, ia memainkan lagu karya J.K. Mertz berjudul Elegie. Lebih hebat lagi, orang yang kelak saya panggil Bil itu, saat itu masih berstatus anak SMA. Sedangkan Diecky? Ya, Diecky saya temui di dekat aula RS Santo Borromeus. Waktu itu ia tengah membangun komunitas bernama Classical Guitar Community (CGC) yang kebetulan tampil di seminar yang mengundang Dieter Mack (musikolog  asal Jerman) untuk membahas tentang periodisasi musik klasik (kalau tidak salah).

Bilawa adalah orang yang mula-mula akrab dengan saya. Ia ternyata merupakan pribadi yang hangat tapi juga sekaligus mendalam. Caranya berpikir begitu aneh untuk anak seumurnya. Bilawa adalah seperti orang yang menanggung beban dunia -gerak-geriknya begitu penuh pemikiran dan segala ucapannya selalu menimbulkan kerut kening-. Hal tersebut membuat kawan saya, Pirhot, menjulukinya sebagai The Chosen One, mengacu pada julukan bagi Anakin Skywalker di film Star Wars. Kami banyak bekerjasama terutama dalam membangun komunitas KlabKlassik. Saya ingat dengan jernih sekali, bahwa kami bertiga (bersama dengan Pirhot), mengelem pin di tengah malam. Untuk apa gerangan? Sebagai bagian dari persiapan konser perdana KlabKlassik bertajuk Classicares: Classical Concert for Charity.

Diecky kehadirannya adalah bagai pencuri di tengah malam. Ia jarang berbicara dan juga sedikit sekali berekspresi tentang sesuatu. Namun kehadirannya diam-diam mengambil barang berharga. Yang ia curi adalah perhatian segenap awak KlabKlassik. Kehadiran Diecky menjadikan KlabKlassik yang tadinya berpusat pada permainan teknis musik belaka, menjadi punya landasan filosofis. Diecky mengajak kita semua berpikir, merenungkan, dan menyatakan sikap tentang apa yang dimaui dalam komunitas ini. Jangan sampai KlabKlassik menjadi bagian dari hingar bingar saja, yang nantinya lenyap ditelan kerumunan yang lain.

Tapi saya tertipu jika apa yang dinilai kemudian adalah semata-mata bagaimana KlabKlassik hari ini menjadi baik sejak keberadaan mereka. Apa yang membuat saya begitu terpesona oleh keduanya adalah kenyataan bahwa baik Bilawa dan Diecky, keduanya adalah menjadi sahabat sekaligus saudara dalam posisinya di luar komunitas. Keduanya bagai pupuk yang menumbuhkembangkan jiwa sehingga saya merasa lebih kuat dan dewasa setiap harinya. Keduanya juga adalah cermin, yang membuat persahabatan bukan menjadi hanya sekedar tentang saling puji memuji semata. Disebut cermin karena: Diantara kami ada caci maki dan hujatan. Namun yang demikian bukan berujung pada dendam, melainkan sebaliknya, kembali pada keadaan saling mengasihi dan menyayangi.

Keduanya sekarang akan pergi. Bilawa, kemana dia? Ia pergi ke Jerman menempuh studi. Ia belum mau melepaskan beban kehidupan dari pundaknya, dan masih suka membawanya kemana-mana. Bilawa, boleh saya bilang, adalah seorang asketik sejati. Bilawa hanya belajar bagaimana dari tadinya menderita menjadi bahagia, meskipun yang ia panggul tetaplah objek berat yang sama. Ia pergi tiga tahun lamanya dan mengisyaratkan waktu kembali yang lebih lama dari itu karena ia juga tertarik untuk melanglangbuana pasca studi. Diecky akan menikah (selamat ya!) bulan September ini dan kemudian melanjutkan rumahtangganya di Pontianak dengan karir sebagai dosen. Ia pun sepertinya belum akan menghilangkan statusnya sebagai pencuri di malam hari. Keahliannya yang cantik ini saya ramalkan akan membuat seantero Kalimantan menoleh kepadanya dalam waktu singkat.

Selamat menempuh jalan asketik sahabat-sahabatku yang paling menawan. Ingat kata Gibran, bahwa sahabat adalah seperti gunung: Indah dipandang dari kejauhan.
Continue reading

Tuesday, August 14, 2012

30hari30film: 8 1/2 (1963)

30hari30film: 8 1/2 (1963)
26 Ramadhan 1433



8 1/2 adalah film yang digarap oleh sutradara legendaris asal Italia, Federico Fellini. 8 1/2 juga menunjukkan suatu perubahan gaya penyutradaraan Fellini dari yang tadinya penganut neo-realis menjadi agak surealistik. 8 1/2 tidak lain adalah semacam renungan tentang karir sutradara Fellini sendiri. Angka 8 1/2 adalah jumlah total film yang sudah ia garap (cara penghitungannya seperti ini: enam film berdurasi panjang, dan tiga film berdurasi pendek. Yang berdurasi pendek ia hitung sebagai setengah). Film 8 1/2 juga menginspirasi banyak film yang mengambil gaya tutur surealistik dan mencoba memvisualisasikan alam bawah sadar seperti film-film Hollywood yang cukup baru semisal Synecdoche (2008) dan Nine (2009). Khusus film Nine, bahkan ia menjadi semacam remake film 8 1/2 dengan gaya yang lebih musikal dan spektakuler.

8 1/2 berpusat pada sutradara kenamaan bernama Guido Anselmi (Marcello Maestroianni) yang tengah disorot karena sedang dalam proses pembuatan film yang cukup heboh bertemakan science-fiction. Namun Guido tidak bahagia. Ia sesungguhnya tidak mempunyai cukup inspirasi untuk menggarap film ini. Akhirnya, dalam rangka mencari inspirasi, Guido menggali masa kecilnya. Tidak hanya itu, ia juga berkonsultasi dengan pendeta. Yang paling menarik tapi juga sekaligus menjadi problem bagi inspirasinya, adalah kenyataan bahwa Guido mencari ide dari wanita-wanita cantik. Wanita-wanita cantik memberi dilema karena kadang Guido tak sanggup memisahkan antara hasrat dan profesionalisme - Selain dari dilema karena Guido punya istri setia bernama Luisa (Anouk Aimée). Waktu menuju shooting hari pertama semakin dekat, namun Guido semakin tidak punya arah mau dibawa kemana film ini.

Cerita yang sederhana? Mungkin iya. Namun yang digali Fellini bukanlah kompleksitas skenario, melainkan bagaimana ia hendak mengangkat keresahan sang sutradara dalam bentuk visual. Maka itu, film 8 1/2, jika tidak memandangnya dalam kacamata sureal, akan sangat aneh dan barangkali sulit dipahami. Jika film semacam ini diciptakan dalam gambar berwarna, tentu saja tidak terlalu sulit untuk membuat distingsi antara mimpi dan realita. Namun Fellini -yang membuat kita mesti sepakat bahwa dia adalah seorang sutradara jempolan- memberi kesan surealistik itu dalam teknologi gambar yang masih hitam putih. Membuat ia mesti sangat piawai memainkan komposisi mulai dari musik (yang digarap dengan sangat apik oleh Nino Rota) hingga teknik montage yang menawan -simak bagaimana Guido melemparkan ingatannya pada masa kecil ketika ia bermain bersama teman-temannya, menyaksikan tarian dari pelacur bernama Saraghina-. Film ini brilian, berteknik tinggi, dan penting.

Rekomendasi: Bintang Lima

Continue reading

30hari30film: Amorres Perros (2000)

30hari30film: Amorres Perros (2000)

25 Ramadhan 1433 H


Amorres Perros adalah film garapan sutradara Meksiko, Alejandro Gonzales Inarritu yang sering disebut sebagai bagian pertama dari triloginya yang dinamai death trilogy. Film kedua dan ketiganya yaitu 21 Grams dan Babel, punya benang merah yang bisa ditarik bersamaan dengan Amorres Perros, yaitu: Bertemakan kematian serta cara bertutur yang mula-mula terpisah namun lama kelamaan terlihat ada kesatuan diantara pecahan-pecahan tersebut –maka itu karya Amorres Perros ini sering dijuluki sebagai “Mexican Pulp Fiction”, mengacu pada film Quentin Tarantino berjudul Pulp Fiction yang juga berisi pecahan-pecahan peristiwa yang nantinya dirajut-.

Namun bukan hanya cara bertuturnya saja yang membuat film ini menjadi menawan. Melainkan juga bagaimana cara Inarritu mengangkat adegan-adegan keseharian yang begitu dekat, disertai pengambilan gambar yang realistik –sehingga film ini juga dijuluki beraliran Mexican neo-realist, didukung pula oleh aktor-aktornya yang banyak diantaranya non-profesional-. Walhasil, meski Amores Perros awalnya menciptakan kebingungan karena pecahan-pecahan adegan yang tidak berkesinambungan, namun film ini luar biasa menyentuh dan agaknya penonton sulit sekali untuk tidak terharu.

Amorres Perros dibagi dalam tiga babak. Bagian pertama adalah Octavio y Susana, kisah tentang bersaudara Octavio (Gael Garcia Bernal) yang begitu mencintai wanita (Vanessa Bauche) bernama Susana yang tidak lain adalah istri dari kakaknya sendiri. Bagian kedua adalah Daniel y Valeria yang berkisah tentang perselingkuhan antara pengusaha bernama Daniel (Alvaro Guerrero) dengan supermodel bernama Valeria (Goya Toledo). Bagian ketiga berjudul El Chivo y Maru yang berkisah tentang pembunuh bayaran berjuluk El Chivo (Emilio Echevarria) yang pernah dipenjara 20 tahun lamanya sehingga mesti berbohong pada sang putri bahwa ia sudah meninggal dunia. Ketiga cerita ini punya kesamaan, yaitu sama-sama melibatkan anjing diantara para tokohnya. Konon ini merupakan suatu sindiran: Ketika manusia seringkali tak punya pijakan pada siapa ia harus setia, anjing mengajarkan tentang kesetiaan tertinggi.

Rekomendasi: Bintang Lima
Continue reading

Sunday, August 12, 2012

30hari30film: The Fighter (2010)

30hari30film: The Fighter (2010)

24 Ramadhan 1433 H



Christian Bale dalam film ini tampil memukau. Ia diganjar Oscar untuk Aktor Pendukung Terbaik, dimana ia berperan sebagai eks petinju Dick “Dicky” Eklund. Dalam The Fighter, diceritakan Dicky membantu adiknya, Micky Ward (Mark Wahlberg), untuk memperbaiki karir bertinjunya dari yang tadinya hanya “batu loncatan” bagi petinju lain, menjadi seorang juara. Namun masalah terbesarnya adalah Dicky bukanlah pelatih biasa. Meski ia adalah eks petinju yang pernah memukul jatuh petinju legendaris Sugar Ray Leonard, namun karirnya habis setelah itu. Dicky berubah menjadi pecandu narkoba yang membuat karir adiknya sendiri menjadi dalam posisi sulit.

The Fighter yang disutradarai oleh David O’Russell ini bisa digolongkan sebagai film tentang olahraga tinju yang cukup menghibur setelah Raging Bull dan Rocky –yang diakui Wahlberg, dua film tersebut adalah favoritnya-. Film yang mengangkat tema kombinasi antara genre olahraga dan drama ini memperlihatkan suatu kekuatan akting Mark Wahlberg dan Christian Bale yang terasa sekali chemistry hubungan adik dan kakak. Terutama tokoh Dicky, meski kontroversial, namun dihayati dengan sangat brilian oleh Bale sehingga ia menjadi dibenci sekaligus dicintai.

Kisah tentang bersaudara Dick Eklund dan Micky Ward ini terinspirasi dari kisah nyata. Dalam karir Dicky, memang kebanggaan terbesarnya adalah memukul KO Sugar Ray Leonard, membuat ia dijuluki sebagai Pride of Lowell (Lowell adalah kota tempat tinggalnya). Kisah Dicky ini mirip dengan Leon Spinks yang menjatuhkan Muhammad Ali dan setelah itu terjerat kasus narkoba karena konon tak sanggup mengendalikan euforia kemenangannya. Namun tak hanya kebanggaan Dicky itu saja yang dieksploitasi The Fighter, melainkan juga bagaimana latar belakang keluarga miskin menjadikan bertinju sebagai salah satu mata pencaharian. Hal ini terlihat pada saat menjelang hari bertanding Micky, ia mendapati bahwa lawan yang seharusnya bertanding melawan dia, mengalami sakit. Akhirnya, Micky harus menghadapi lawan lain yang jauh lebih berat daripadanya. Mengapa ia mau menghadapi? Karena kata sang promotor, “Jika kamu tak bertanding, diantara kalian tidak ada yang dapat bayaran.”

Rekomendasi: Bintang Empat
Continue reading

Saturday, August 11, 2012

30hari30film: Dune (1984)

30hari30film: Dune (1984)
23 Ramadhan 1433 H


Dune adalah film garapan David Lynch yang merupakan kerjasama pertamanya dengan aktor Kyle MacLachlan. MacLachlan ini kelak akan tampil di sejumlah film Lynch termasuk serial Twin Peaks. Dune diambil dari novel dengan judul yang sama karangan Frank Herbert. Meski gagal di pasaran, film Dune termasuk dalam kategori cult yang digemari karena estetikanya yang agak surealistik. Tak lama setelah kemunculan filmnya, Dune muncul dalam format video game yang cukup populer.

Dune mengambil latar waktu masa depan. Berkisah tentang perebutan kekayaan alam bernama spice melange yang bisa membuat orang yang mengonsumsinya bisa mengalami perjalanan astral, panjang umur, dan punya perluasan kesadaran. Sumber dari spice melange itu adalah planet bernama Arrakis yang dikuasai oleh Kaisar Shaddam Corrino IV (Paul Ferrer). Rempah-rempah yang berada di planet Arrakis terancam diperebutkan oleh dua kubu yaitu Kubu Atreides dan Kubu Harkonnen. Harkonnen –yang dipimpin oleh Baron Vladimir Harkonnen (Kenneth McMillan)- secara militer lebih kuat, namun Atreides punya putra mahkota yang punya visi kenabian bernama Paul Atreides (Kyle MacLachlan). Paul dinantikan oleh orang-orang Fremen yang menghuni planet Arrakis. Konon, Paul inilah yang kelak akan menyelamatkan para Fremen dari gejolak konflik di planetnya.

Proses penggarapan film ini diakui Lynch kurang menggembirakan. Bahkan ia sendiri mengaku kurang puas dengan hasilnya. Dalam versi film Dune tertentu, ia menghilangkan nama dirinya sebagai sutradara dan menggantinya dengan Alan Smithee –nama yang biasa dipakai bagi sutradara yang kecewa karena proses kreatifnya banyak diintervensi-. Walhasil, Dune memang lebih terasa seperti B-movie ketimbang film epik luar angkasa lainnya seperti Star Wars (Sebetulnya, Lynch sendiri nyaris ditawari untuk menyutradarai Star Wars VI: Return of Jedi).

Namun film ini bisa dinikmati barangkali jika pertama, terbiasa dengan film-film cult. Kedua, memahami estetika Lynch yang memang surealistik dan kadang absurd, misalnya: Sumber kekuatan tembakan para Fremen yang akan maksimal jika meneriakkan kata, “Mu’adib!” Jika tidak memenuhi dua syarat di atas, mungkin kita akan cukup sulit mengapresiasi Dune. Film ini kurang seru untuk genre action, kurang canggih untuk genre science fiction, kurang dramatis untuk genre drama, dan kurang rumit dari segi skenario (terlalu mudah ditebak). Akting para pemainnya pun biasa-biasa saja. Film ini bagi sutradara sekelas David Lynch -yang sudah melahirkan film sureal jempolan semacam Eraserhead, Elephant Man, Blue Velvet, ataupun The Lost Highway- boleh dibilang suatu kegagalan.  

Rekomendasi : Bintang Dua Setengah
Continue reading

Friday, August 10, 2012

30hari30film: The Hidden Fortress (1958)

30hari30film: The Hidden Fortress (1958)

22 Ramadhan 1433 H


The Hidden Fortress –atau dalam versi Jepang disebut dengan Kakushi Toride no San Akunin- adalah film yang digarap oleh sutradara legendaris Jepang, Akira Kurosawa. The Hidden Fortress dibuat empat tahun setelah Kurosawa membuat salah satu filmnya yang terkenal, Seven Samurai. Film ini diakui George Lucas sebagai inspirasi terbesarnya dalam melahirkan salah satu film paling epik dalam sejarah Hollywood: Star Wars.

Pembukaan film berdurasi 139 menit ini mengingatkan pada bagian awal Star Wars IV: A New Hope yakni dua robot bernama C-3PO dan R2-D2 yang sedang berbincang sambil berjalan di tengah gurun. Di The Hidden Fortress, yang tengah bercakap-cakap adalah dua petani bernama Tahei (Minoru Chiaki) dan Matasichi (Kamatari Fujiwara). Kedua petani yang sering tidak akur ini, menemukan emas secara tidak sengaja di dekat sungai. Penemuan emas itu diketahui oleh seorang samurai ternama, Rokurota Makabe (Toshiro Mofune) yang juga merupakan pengawal dari Putri Yuki (Misa Uehara) dari keluarga Akizuki.

Emas tersebut sangat penting bagi keluarga Akizuki dan harus diantarkan ke istana mereka segera. Rokurota tidak membiarkan dua petani tersebut pergi, ia mengajak Tahei dan Matasichi agar keduanya tidak membocorkan rahasia penting ini ke orang luar. Petualangan mengantar emas ke istana inilah yang sangat menarik sekaligus mendebarkan. Pergulatan seru antara keberanian Rokurota dengan kebodohan kedua petani yang sering tergoda untuk kabur dan membawa emas.

Film ini menyuguhkan banyak adegan seru yang ditopang sinematografi luar biasa. Contohnya adalah ketika Rokurota mengejar tentara musuh dengan kuda. Untuk ukuran teknologi tahun 1950-an, Kurosawa berhasil menyuguhkan suatu teknik pengambilan gambar sekaligus montage yang dahsyat –membuat penonton merasa berada di atas laju derap kuda yang mengikuti aksi Rokurota-. The Hidden Fortress juga penuh kandungan filosofis, misalnya ketika Putri Yuki menyanyikan kembali lagu yang ia dengarkan pada Festival Api. Lirik lagu tersebut menggetarkan, mengandung pesan kehidupan yang mendalam. Selain itu, music scoring yang digarap oleh Masaru Sato pun begitu berhasil menopang adegan sehingga kokoh dan berkesan. Meski pada mulanya didominasi terlalu banyak dialog, namun film ini bisa dibilang sempurna. Film The Hidden Fortress adalah seperti harta karun keluarga Akizuki: Bernilai tinggi –harus ditemukan dan apresiasi bagi siapapun pecinta film berkualitas-.

Rekomendasi: Bintang Lima
Continue reading

30hari30film: Persona (1966)

30hari30film: Persona (1966)

21 Ramadhan 1433 H

 
Persona adalah film bergaya film-noir dari sutradara legendaris asal Swedia, Ingmar Bergman. Bergman cukup terkenal dengan karya-karya filmnya yang absurd, filosofis, dan secara spesifik sering menyinggung tentang silence of God. Untuk memahami film-film Bergman, penonton agaknya tidak bisa menontonnya hanya mengandalkan pengindraan semata. Mesti ada sedikit suplemen, wawasan, atau kebiasaan berpikir filosofis agar terlacak pesan apa yang dimaui sang sutradara. Hal tersebut tentu saja berlaku juga untuk film Persona.

Persona, film berdurasi 85 menit ini berpusat pada dua orang saja. Pertama, adalah perawat bernama Alma (Bibi Anderson) dan pasiennya, Elisabet Vogler (Liv Ullman), seorang artis. Vogler sehat secara fisik dan mental, namun hal yang menyebabkan dia dirawat adalah satu: ia tak pernah bicara sepatah pun. Sebaliknya, suster Alma begitu ekstrovert. Selalu berbicara, bercerita, dan mengisahkan apa saja pada sang pasien. Vogler tak pernah menanggapi, namun ia merespon dengan senyum dan terkadang sentuhan.

Persona, yang merupakan film favorit penulis Susan Sontag, merupakan film dengan latar minimalis: Selain keberadaan musik yang hanya muncul sesekali, total pemeran dalam film tersebut hanya lima orang, dengan penampil yang lain, -selain suster Alma dan Elisabet Vogler- cuma muncul kurang dari semenit. Tidak hanya percakapannya yang mengandung pesan kuat, melainkan juga pengambilan gambarnya yang berulang kali menyejajarkan dan menyimetriskan wajah suster Alma dan Elisabet Vogler. Apa artinya? Jangan-jangan, -interpretasi yang paling sederhana- keduanya adalah orang yang sama, namun dengan dua kepribadian yang berbeda.

Namun seperti biasanya film-film Bergman, kita tidak akan mendapati jawaban semacam ini seperti halnya menyaksikan film Fight Club dari David Fincher. Meskipun sama-sama membicarakan alter-ego, namun Persona lebih menyisakan misteri dan mengundang banyak diskusi. Misalnya, bagaimana menjelaskan adegan pembuka film yang isinya merupakan montase dari mulai tangan yang dipaku hingga penis yang sedang ereksi! Harus diakui, meski film ini susah dicerna, namun kita bisa tetap merasakan sensasi kegelapannya.

Rekomendasi: Bintang Lima  
Continue reading

Wednesday, August 8, 2012

30hari30film: The Next Three Days (2010)

30hari30film: The Next Three Days (2010)

20 Ramadhan 1433


The Next Three Days adalah film garapan Paul Haggis yang merupakan remake dari film Prancis tahun 2008, Pour Elle. Film berdurasi 153 menit ini berkisah tentang pengorbanan seorang pria bernama John Brennan (Russell Crowe) yang berupaya membebaskan istrinya, Lara Brennan (Elizabeth Banks) dari penjara di Kota Pittsburgh.

Tidak pernah terbayangkan sebelumnya bagi John Brennan, bahwa dia harus berurusan dengan sisi gelap dunia. Ia yang bekerja sebagai guru di pelajaran sastra, mesti berhadapan dengan urusan paspor gelap, pembuatan kunci palsu, manipulasi data kesehatan, penodongan, hingga pembunuhan, demi membebaskan sang istri dari penjara. Apa yang dilakukan oleh John adalah sebuah kefrustasian setelah jalur legal yang ia tempuh tidak sanggup untuk meringankan hukuman Lara yang dikenai pasal pembunuhan dan divonis hukuman seumur hidup. John, dalam tiga tahun, mempelajari dengan seksama seluk beluk penjara Kota Pittsburgh dan berupaya menanggalkan segala reputasi bersihnya sebagai seorang guru, untuk kemudian membebaskan seorang narapidana –yang berisiko membuat John jadi seorang narapidana juga-.

The Next Three Days cukup memberikan ketegangan yang konsisten sepanjang film. Membuatnya cukup pantas untuk dikategorikan sebagai thriller. Bahkan hingga menjelang akhir film pun, penonton masih sulit menebak bagaimana akhir ceritanya. Tak hanya tentang bagaimana taktik John dalam menembus barikade pertahanan penjara yang menyekap sang istri, film ini juga menarik karena melihat bagaimana kontradiksi perasaan John sebagai orang yang berpendidikan dan tak akrab dalam melakukan kejahatan, tapi harus dilakukan atas dasar kecintaan pada sang istri dan juga anak semata wayangnya, George Brennan (Brian Denehy). Film ini bagus, menghibur, tapi tidak terlalu istimewa.

Rekomendasi: Bintang Tiga
Continue reading

Tuesday, August 7, 2012

30hari30film: Vanishing Point (1971)

30hari30film: Vanishing Point (1971)
19 Ramadhan 1433 H


Vanishing Point adalah film garapan Richard Sarafian yang berkisah tentang perjalanan seorang pengendara bernama Kowalski (Berry Newman). Kowalski adalah veteran perang Vietnam, eks pembalap, yang mengemudikan mobil Dodge Challenger secara kencang di sepanjang jalan wilayah Amerika bagian barat daya seputar Nevada. Vanishing Point dikatakan sebagai film yang menjadi favorit Steven Spielberg. Film ini juga menjadi inspirasi bagi Quentin Tarantino dalam filmnya, Death Proof.

Pertanyaan kemana Kowalski akan pergi mengendarai mobilnya adalah pertanyaan yang paling menarik. Karena kepergian Kowalski adalah tak bertujuan. Satu-satunya yang mungkin bisa dijadikan acuan tujuan Kowalski pergi adalah mengantarkan mobil Dodge Challenger ini ke San Francisco. Namun kenyataannya, ia hanya memacu kencang mobilnya berputar-putar, menembus gurun, dan mendapati dirinya berpetualang melawan polisi, pembalap lain, dan penodong homoseksual. Semangat kebebasan Kowalski ini mendapat dukungan spiritual yang aneh dari seorang penyiar radio bernama Super Soul (Cleavon Little). Super Soul, melalui siaran radio, kerapkali berbicara secara pribadi pada sang pengendara, mengatakan bahaya apa yang mengancamnya di depan. 

Vanishing Point adalah film yang mengambil semangat kaum hippies yang cinta kebebasan dan menolak nilai-nilai Amerika yang konvensional. Kowalski adalah representasi menarik dari seorang hippies (meski secara penampilan, Kowalski sama sekali tidak mengindentifikasikan hal tersebut), ia bebas, tak bertujuan, dan mengelabui kekuasaan dengan cara-cara yang heroik -yang kata salah seorang tokoh dalam film tersebut yang tidak disebutkan namanya (diperankan oleh Dean Jagger), "The best way to get away is to root right where you are."- Film ini, jika nanti menyaksikan ending-nya, maka akan terasa sekali bahwa ini "bukan film biasa" dan ternyata mengandung pesan eksistensialisme cukup kuat (macam Taxi Driver-nya Martin Scorsese). Sangat direkomendasikan bagi mereka yang suka film-film cult yang absurd namun dibaliknya punya pesan mendalam -kadang bukan disebabkan perasaan menggugahnya, tapi justru oleh sebab rasa heran dan sedikit eneg-.

Rekomendasi: Bintang Empat Setengah
Continue reading

Monday, August 6, 2012

30hari30film: Moulin Rouge! (2001)

30hari30film: Moulin Rouge! (2001)

18 Ramadhan 1433 H


Moulin Rouge! adalah film garapan Baz Luhrmann yang mengambil latar tahun 1899 dimana Prancis tengah mengalami suatu era yang bernama La Belle Epoque. La Belle Epoque, atau sering disebut juga Age of Beauty, adalah periode ketika Prancis berada pada kejayaan khususnya di bidang seni. Di musik, mereka melahirkan Claude Debussy dan Eric Satie. Di seni rupa, ada Henry Matisse, Edgar Degas, dan Henry de Toulouse-Lautrec. Selain menjadi kiblat seni, kota Paris pun menjadi perhatian di bidang hiburan malam. Orang-orang kaya berbondong-bondong menyaksikan suatu pertunjukkan kabaret yang bernama Moulin Rouge.

Film Moulin Rouge! berpusat pada seorang penulis bernama Christian (Ewan McGregor). Dalam keheningan kota Paris, ia menengok kembali ke masa lalunya, ketika berjumpa wanita penghibur bernama Satine (Nicole Kidman). Perjumpaan itu terjadi ketika Christian menyambangi Moulin Rouge yang merupakan pertunjukkan kabaret yang mahsyur di masa itu. Namun cinta Christian bukanlah tanpa hambatan. Sebagai wanita penghibur, Satine sudah “dibeli” oleh seorang bangsawan yang dijuluki “The Duke of Monroth”. Disinilah dilema terjadi –dilema percintaan yang sepertinya sudah umum-, ketika Christian yang berasal dari kalangan biasa-biasa, mesti memperebutkan cinta Satine dengan seorang yang kaya dan berkuasa.

Film Moulin Rouge! tentu saja bukan hendak mengangkat jalan ceritanya yang sederhana. Film tersebut adalah drama musikal yang cukup spektakuler dan kontemporer. Kontemporer karena musik yang disajikan tidak hendak mengambil orisinalitas era La Belle Epoque. Penata musik Craig Armstrong dan Marius de Vries mengolasekan musik secara bebas mulai dari Smells Like a Teen Spirit-nya Nirvana, Roxanne-nya The Police, hingga All You Need is Love-nya The Beatles. Moulin Rouge! juga punya sinematografi yang unik dan menghibur. Membuat film berdurasi 127 menit itu tak aneh jika dianugerahi dua Oscar untuk Best Art Direction dan Best Costume Design.

Namun film ini bukan jalan masuk yang tepat untuk memahami semangat Prancis di jaman itu: Mulai dari La Belle Epoque, children of revolution, hingga semangat Bohemian (Meski konsep-konsep tersebut beberapa kali didengungkan dalam film). Pertama, karena film ini jelas bukan film sejarah. Kedua, semangat yang diangkat dalam Moulin Rouge! sudah menjadi spirit histeria ala Hollywood.

Rekomendasi: Bintang Empat
Continue reading

Sunday, August 5, 2012

30hari30film: Monty Python and The Holy Grail (1974)

30hari30film: Monty Python and The Holy Grail (1974)
17 Ramadhan 1433 H


Monty Python adalah kelompok komedi yang dikenal pada mulanya tampil dalam bentuk sketch comedy. Sketch comedy adalah penampilan pendek sekitar satu hingga sepuluh menit yang disiarkan biasanya di televisi. Kelompok yang digawangi oleh Graham Chapman, Terry Gilliam, John Cleese, Eric Idle, Michael Palin, dan Terry Jones ini, popularitasnya di dunia hiburan sering disamakan dengan kelompok musik The Beatles. Film Monty Python and The Holy Grail adalah penampilan perdana kelompok yang berdiri tahun 1969 tersebut di layar lebar, setelah sebelumnya hanya tampil dalam format sketch comedy dan miniseri bernama Flying Circus.

Monty Python and The Holy Grail mengambil latar abad pertengahan. Ceritanya adalah tentang perjalanan Raja Arthur yang mencari ksatria untuk direkrut. Ia kemudian mendapatkan empat ksatria lainnya yaitu Sir Bedevere the Wise, Sir Lancelot the Brave, Sir Robin the Not-Quite-So-Brave-As-Sir-Lancelot dan Sir Galahad the Pur. Di tengah jalan, mereka mendapatkan titah dari Tuhan untuk mencari cawan suci (holy grail). Perjalanan mencari cawan suci itu memberikan banyak "celah komedi" yang dieksploitasi dengan baik oleh sang sutradara merangkap pemain, Terry Gilliam.

Monty Python and The Holy Grail rasanya bukan film komedi biasa. Ia memasukkan unsur animasi dan cut-scene yang kreatif. Lawakan yang dilontarkannya pun terdengar cerdas dan tidak banyak unsur slapstick -ini tidak aneh mengingat para anggotanya adalah lulusan Oxford dan Cambridge, kecuali Terry Gilliam yang orang Amerika-. Pada jamannya, garapan kelompok Monty Python ini cukup avant-garde, sehingga tak jarang mereka disebut juga sebagai pengusung genre komedi sureal. Bagi yang ingin menikmati komedi tidak hanya sebagai sarana tertawa, tapi juga terkandung di dalamnya unsur kecerdasan dan kreativitas, maka kelompok legendaris ini wajib untuk diapresiasi.

Rekomendasi: Bintang Empat

Continue reading

30hari30film: Alphaville: Une étrange aventure de Lemmy Caution (1965)

30hari30film: Alphaville: Une étrange aventure de Lemmy Caution (1965)
16 Ramadhan 1433


Alphaville: Une étrange aventure de Lemmy Caution (berikutnya akan disebut Alphaville saja) adalah film garapan sutradara Prancis, Jean Luc Godard. Film berdurasi 99 menit itu bercerita tentang Alphaville, sebuah kawasan yang di dalamnya terdapat eksperimen-eksperimen saintifik untuk menciptakan manusia yang lebih kuat. Film-film Godard, seperti biasanya, selalu mempunyai kandungan film noir. Film noir sering disalahartikan sebagai film yang melulu bergambar hitam-putih. Padahal, yang membuat sebuah film disebut film noir, adalah karena jalan ceritanya yang nihilistik. Demikian halnya dengan Alphaville yang meski mempunyai tema cukup jelas, namun penggambarannya agak absurd dan mengajak penontonnya untuk banyak mengernyitkan dahi. 

Alphaville berpusat pada seorang agen rahasia bernama Lemmy Caution (Eddie Constantine) yang menyamar menjadi jurnalis Ivan Johnson, dalam misinya masuk ke suatu wilayah bernama Alphaville. Tugas Caution adalah membunuh kreator kawasan Alphaville bernama Professor Van Braun dan menghancurkan superkomputer bernama Alpha 60. Mengapa kawasan Alphaville dan Alpha 60 dianggap berbahaya? Karena mereka menghendaki tumbuhnya manusia jenis baru: Manusia yang mereduksi nilai-nilai emosional dalam dirinya. Kata Alpha 60, "Manusia yang baik tidak bertanya 'kenapa' pada segala sesuatu, melainkan bisa menjelaskannya diawali dengan kata 'karena'." Contoh terbaik manusia jenis ini adalah anak sang Professor sendiri, bernama Natasha von Braun (Anna Karina). Ia tidak mengetahui arti dari kata 'cinta' dan 'kesadaran'. Secara mengerikan, waktu demi waktu, kawasan Alphaville melenyapkan kata-kata yang berkaitan dengan emosi manusia (bayangkan, di Alphaville ada kamus yang diperbaharui terus menerus, karena kata-kata lambat laun selalu tergantikan, dari yang emotif menjadi kognitif!).

Film Godard yang ini, meski tetap nihilistik sesuai dengan semangat film noir yang dibawanya, tetap mengandung pesan yang agaknya tak terlalu susah untuk dipahami. Godard berupaya untuk membawa penontonnya menyadari tentang kemungkinan teknologi yang bisa mereduksi perasaan manusia. Pemikiran yang ditawarkan Godard ini seolah tiga tahun lebih maju dari yang dipikirkan oleh Stanley Kubrick dalam filmnya yang bertemakan sama di tahun 1968: 2001: A Space Odyssey. Jika disimak, konsep HAL 9000 dalam film 2001 pun kurang lebih meniru karakter komputer Alpha 60. Keduanya sama-sama punya suara pria yang berat (tidakkah ini janggal bagi voice-over komputer yang umumnya wanita?). Alphaville mengandung nilai filosofi yang amat padat jika disimak pada dialog-dialognya. Sayang sekali, sebagaimana umumnya film Godard, ia kerapkali membuat film sembilan puluh menit terasa seperti dua jam setengah.

Rekomendasi : Bintang Empat
Continue reading

Friday, August 3, 2012

30hari30film: Facing Ali (2009)

30hari30film: Facing Ali (2009)
15 Ramadhan 1433


Facing Ali adalah film dokumenter yang berkisah tentang perjalanan hidup petinju Muhammad Ali (eks Cassius Clay) dari sudut pandang orang-orang yang pernah menjadi lawan bertandingnya. Mereka yang diwawancarai adalah Joe Frazier, George Foreman, George Chuvalo, Sir Henry Cooper, Larry Holmes, Ken Norton, Ron Lyle, Ernie Shavers, Ernie Terrell dan Leon Spinks. Hampir seluruh eks lawan Ali di ring tinju ini rata-rata sudah berumur lima puluh hingga enam puluhan. Meski demikian, ingatannya tentang bagaimana mereka bertarung melawan Ali masihlah segar bugar.

Facing Ali yang disutradarai oleh Pete McCormack ini, tidak hanya berkisah tentang bagaimana Ali di atas ring. George Chuvalo, salah satu orang yang pernah bertanding melawan Ali, dengan fasih bercerita juga bagaimana sikap politik dan gerakan-gerakan kemanusiaan yang dilakukan Ali. Misalnya, Ali pernah menolak wajib militer dan mengutuk Perang Vietnam lewat pernyataannya yang terkenal: "I ain't got no quarrel with them Viet Cong... They never called me nigger.". Masuknya Ali menjadi Islam (atas dorongan mentornya, Elijah Muhammad dari Nation of Islam) juga menjadi salah satu topik yang diangkat dalam film tersebut. 

Yang tak kalah menarik dari Facing Ali adalah bagaimana para petinju veteran yang diwawancara tersebut, -dalam tubuhnya yang menua- memperagakan gerakan tinju sewaktu bertarung melawan Ali -dengan diselingi rekaman lampau pertandingan yang sesungguhnya-. Facing Ali bukanlah semata-mata film dokumenter tentang Muhammad Ali, tapi juga soal bagaimana para eks lawan Ali itu bercerita tentang latar belakang kehidupan sosial dan ekonomi seorang petinju, yang kata Chuvalo, "Seorang petinju pastilah berasal dari keluarga miskin. Orang kaya tidak akan mau bertinju.". Seperti kata Ron Lyle: "Jika aku tidak pernah bertanding melawan Muhammad Ali, aku tidak akan pernah punya uang. Kamu tidak akan bisa duduk disini mewawancaraiku sebagai seorang petinju legendaris. Bertarung melawan Ali menjadi penyelamat hidupku."

Rekomendasi: Bintang Empat Setengah

Continue reading

30hari30film: Rain Man (1988)

30hari30film: Rain Man (1988)
14 Ramadhan 1433 H


Film Rain Man yang disutradarai Barry Levinson ini meraih empat Oscar pada penyelenggaraannya yang ke-61. Salah satu anugerah tersebut jatuh pada salah satu aktornya yaitu Dustin Hoffman yang memang tampil luar biasa sebagai seorang autis bernama Raymond Babbitt. Rain Man bermula dari cerita tentang seorang pengusaha muda bernama Charles Babbitt (Tom Cruise) yang kecewa pada mendiang ayahnya yang mewariskan tiga juta dollar bukan pada dirinya -yang ia pikir dirinyalah satu-satunya anak yang dipunyai sang ayah-. Setelah diselidiki siapa gerangan yang diwarisi uang tersebut, Charles menemukan bahwa ia adalah saudara kandungnya sendiri yaitu Raymond Babbitt . Ada dua kejutan yang diperoleh Charles: Pertama, ia tidak tahu bahwa dirinya punya saudara kandung. Kedua, saudara kandung itu mengalami autisme dan dirawat di sebuah rumah sakit bernama Wall Brook. 

Cerita berikutnya berpusat pada bagaimana Charles menangani kakak kandungnya sendiri, Raymond. Charles merasa harus "menculiknya" karena ia sungguh menginginkan setidaknya setengah dari uang warisan tersebut. Kata Charles, "Raymond tak paham konsep uang. Kenapa ia yang mendapatkan warisan, sedang aku yang jelas-jelas membutuhkan uang?" Namun keautisan Raymond, -yang mengesalkan bagi Charles- ternyata kadangkala menimbulkan keajaiban tersendiri. Raymond adalah seorang jenius yang sangat pandai berhitung dan mengingat sesuatu secara mendetail. Keahliannya tersebut dimanfaatkan dengan baik oleh Charles untuk memenangkan sejumlah taruhan di Las Vegas. Pada perjalanan "penculikan" ini, Charles yang tadinya menyekap sang kakak demi uang, menjadi tersadar bahwa persaudaraan adalah lebih berharga adanya.

Cerita dalam film Rain Man sesungguhnya relatif sederhana (bahkan di pertengahan film, bagaimana akhir cerita ini sudah kurang lebih tergambarkan). Yang agaknya membuat Rain Man "selamat" adalah bagaimana akting Dustin Hoffman yang "nekat" tapi sekaligus juga menyentuh. Meski demikian, ada beberapa kejanggalan dalam cerita, misalnya: Charles berbalik simpati pada Raymond setelah memenangkan banyak uang di Las Vegas. Pada titik itu, bisa saja diasosiasikan bahwa sebenarnya Charles masih menunjukkan sikap money-oriented dan tak paham makna persaudaraan sesungguhnya. Adegan ciuman antara Raymond dan Susanna (Valeria Golino) pun dilakukan secara tiba-tiba dan tak ada transisi yang smooth. Agaknya Rain Man hanya pantas dianugerahi Oscar untuk Hoffman.

Rekomendasi: Bintang Tiga

Continue reading

Thursday, August 2, 2012

30hari30film: Ghost Dog: The Way of The Samurai (1999)

30hari30film: Ghost Dog: The Way of The Samurai (1999)
13 Ramadhan 1433 H


Ghost Dog: The Way of The Samurai adalah film garapan sutradara eksentrik Jim Jarmusch sebagai persembahannya bagi film tahun 1967 berjudul Le Samouraï yang disutradarai Jean Pierre Melville. Jarmusch terinspirasi tokoh dalam film tersebut yang bernama Jef Costello (diperankan Alain Delon). Kesamaannya dengan tokoh karangan Jarmusch di Ghost Dog: The Way of The Samurai, adalah keduanya sama-sama eksekutor yang perfeksionis, penyendiri, dan memegang teguh nilai-nilai Samurai. 

Film berpusat pada hitman bernama Ghost Dog (Forest Whitaker) yang sangat fanatik terhadap literatur mengenai Samurai. Tidak hanya itu, ia juga mengamalkan ajaran-ajarannya yang diperoleh dari buku Hagakure: The Book of The Samurai yang ditulis oleh Yamamoto Tsunetomo. Keseharian Ghost Dog diisi dengan tugasnya sebagai eksekutor yang bekerja pada kelompok mafia Italia. Namun baginya, ini bukan sebuah pekerjaan, Ghost Dog merasa berhutang budi pada Louie (John Tormey) yang pernah menyelamatkan nyawanya. Sesuai dengan jalan Samurai, maka Ghost Dog menganggap Louie sebagai tuan dan ia berjanji akan menjaganya habis-habisan.

Cerita yang disuguhkan film tersebut sebenarnya cukup sederhana dan bisa dinikmati secara ringan. Yang menarik adalah bagaimana paradoks Ghost Dog: ketika ia sebagai hitman diharuskan bertindak dingin dan tanpa ampun, namun di sisi lain ia begitu kuat dalam menjalankan filosofi Samurai -ia bahkan mencintai binatang dan menjadikan burung sebagai penghubung pesan antara dirinya dan sang bos, Louie-. Film ini menyuguhkan tidak sedikit adegan yang absurd, seperti hubungan Ghost Dog dengan Raymond, penjual eskrim yang hanya bisa berbicara bahasa Prancis. Mereka berdua tidak saling paham tentang apa yang diperbincangkan! Di lain waktu, sering juga diperlihatkan baik bos mafia yang bernama Ray Vargo (Henry Silva) maupun anaknya, Louise Vargo (Tricia Vessey) sedang menonton film kartun Tom & Jerry (adegan yang agaknya janggal bagi kegiatan kelompok mafia). Film Ghost Dog: The Way of The Samurai patut diacungi jempol bagi mereka yang terbiasa dengan film-film yang "non-nominasi Oscar", "non-Box Office", atau dalam bahasa populernya: cult.

Rekomendasi : Bintang Empat
Continue reading

Wednesday, August 1, 2012

30hari30film: The True Story of Che Guevara (2007)

30hari30film: The True Story of Che Guevara (2007)

12 Ramadhan 1433 H


Pernahkah menyaksikan film tentang Che Guevara berjudul Che yang disutradarai oleh Steven Soderbergh dalam dua edisi? Jika kesulitan memahami film tersebut, jangan menyalahkan alurnya yang terlalu lambat. Bisa jadi ini diakibatkan oleh ketiadaan fondasi mengenai sejarah perjalanan hidup Che Guevara sebelumnya. Untuk itu, selain membaca literatur, ada baiknya menyaksikan film dokumenter The True Story of Che Guevara agar menjadi suplemen sebelum menikmati sajian Che Guevara yang lebih reflektif via akting Benicio Del Toro dalam Che.

Dalam sembilan puluh menit, Maria Berry berupaya merangkum kehidupan Che dari ia kecil hingga kematiannya di Bolivia. Tidak hanya itu, Berry juga mewawancarai beberapa orang yang cukup paham kehidupan “si orang Argentina” tersebut seperti Jon Lee Anderson (Penulis biografi Che Guevara: A Revolutionary Life), Hugo Morales (pemimpin Bolivia yang menganut ideologi Marxis sebagaimana Che), serta beberapa eks gerilyawan maupun petani yang di masa kecilnya pernah menyaksikan sepak terjang Che.  

The True Story of Che Guevara memulai filmnya dari kenyataan bahwa Che menebar pengaruhnya secara luar biasa di seluruh penjuru dunia. Paling mudah, kita bisa menemukan lukisan wajahnya yang amat ikonik di berbagai tempat, mulai dari grafiti hingga sablonan kaos. Setelah itu, secara tegas film bercerita tentang kehidupan Che yang membentuk dia menjadi seorang revolusionis. Sebelum Che berkeliling Amerika Latin dan membantu pergerakan kaum petani dan buruh menggulikan penindasan kapitalisme, dikisahkan bahwa dirinya berasal dari keluarga yang justru berada. Pendidikannya pun cukup mapan. Che adalah mahasiswa lulusan kedokteran. Kemudian dikisahkan bagaimana ia bertemu dengan Fidel Castro dan membantu kelompok gerilyanya untuk menggulingkan pemerintah diktatorial Kuba di bawah Fulgencio Batista. Keberhasilan Revolusi Kuba ini memberi semangat bagi Che untuk memulai revolusi di pelbagai negeri di Amerika Latin. Namun Amerika Serikat, yang tidak menyukai pergerakan Che, memilih untuk menyudahinya di Bolivia lewat aksi CIA. Che, yang bernama asli Ernesto Guevara ini, mati dieksekusi pada tanggal 9 Oktober 1967.

Meski menyuguhkan informasi yang cukup padat, namun beberapa kali ilustrasi yang ditampilkan agak kurang merepresentasikan Che sebagaimana diceritakan (setidaknya secara fisik). Che Guevara yang diperankan Maria Ramirez Reyes, bertubuh agak tambun dan tidak menunjukkan suatu karisma seorang comandante. Hal tersebut baru terasa kentara jika sudah menyaksikan film Che yang digarap Steven Soderbergh dimana Che Guevara yang diperankan Benicio Del Toro tampak sangat karismatik sebagaimana yang kerapkali dituliskan dalam literatur. Adakah hal ini krusial? Ya dan tidak. Bagi mereka yang menganut ideologi dan cara pikir Che beserta proses pembentukan pola pikirnya, tentu saja hal tersebut tidak menjadi masalah. Tapi ada juga orang yang memulai penilaian terhadap suatu figur berdasarkan karismanya, seperti bagaimana RRC mengagungkan Mao Zedong, Uni Soviet mengagungkan Lenin, Kuba mengultuskan Castro, dan -jangan jauh-jauh- Indonesia menganggap Soekarno masih mempesona.

Rekomendasi: Bintang Tiga Setengah


Continue reading