Thursday, July 5, 2012

Heidegger, Ammy, dan Abaji

Hari Kamis tanggal 5 Juli kemarin, secara ajaib saya berjumpa dengan tiga orang yang berbicara hal yang sama. Mereka bertiga tidak saling kenal, dan perjumpaan kami pun dilakukan di tempat yang berbeda-beda.

Martin Heidegger

Perjumpaan pertama adalah dengan Martin Heidegger. Saya menemui ia lewat tulisannya yang sudah ditafsir ulang oleh Frans Budi Hardiman dalam bukunya: Heidegger dan Mistik Keseharian Filsuf yang lahir tahun 1889 ini bicara tentang manusia yang kerapkali lupa mempertanyakan Ada. Kita seolah yakin bahwa matahari ada di atas kepala kita, kita seolah yakin bahwa arisan pasti ujung-ujungnya bergosip, kita seolah yakin bahwa Alfamart adalah tempat dimana kapitalisme membuka cabangnya. Tapi semuanya adalah asumsi-asumsi yang dijejalkan pada kita, yang membuat kita enggan untuk melihatnya lebih jernih: Memerhatikan hingga Ada itu menceritakan siapa dirinya sesungguhnya. 

Ammy Kurniawan
Terlalu sulit memahami Heidegger? Itulah guna kehadiran Ammy yang saya temui setelahnya di Jalan Progo. Musisi asal Bandung ini mengajarkan saya hakikat improvisasi dalam musik: Biarkan musik itu bernyanyi di kepala kita untuk lalu kita tuangkan dalam instrumen. Bagaimana dengan tangga nada atau scale semacam blues, mixolydian, broken chord, dan tetek bengek syarat improvisasi lainnya? Ammy tidak mengatakan itu keliru, tapi segera setelah mengetahuinya: Tinggalkan. Seolah Ammy mau meneruskan Heidegger bahwa asumsi-asumsi scale itu membuat kita tidak sanggup melihat Ada dengan jernih. Padahal Ada itu kerapkali ingin menceritakan siapa dirinya sesungguhnya. 

Abaji

Saya merasa paham maksud Heidegger setelah jumpa Ammy. Tapi saya cukup diberi rejeki untuk bertemu Abaji, seorang musisi berdarah Armenia-Lebanon-Turki yang tampil di Auditorium IFI-Bandung sesudahnya. Abaji, sesudah ia konser dengan menyajikan permainan memikat dari instrumen-instrumen yang rata-rata dari Timur Tengah, ia menggelar diskusi dengan beberapa gelintir penonton. Ada yang bertanya, "Bagaimana bisa memainkan instrumen sedemikian banyaknya?" Abaji tidak menjawab dengan klise, misalnya dengan "belajar" atau "bekerja keras", ia cuma bilang, "Instrumen-instrumen ini yang berkata langsung pada diri saya bagaimana cara memainkannya." 

Baik Heidegger, Ammy, dan Abaji, -tiga orang dari kawasan Jerman, Bandung, dan Timur Tengah- semuanya memikirkan hal yang sama: Bahwa ada yang menampakkan diri di dunia ini, jika dan hanya jika kita tidak memikirkannya atau setidaknya mengotori pikiran-pikiran kita dengan asumsi dan kategori-kategori pemahaman yang dibuat sendiri. Sesungguhnya Ada (jika kita pinjam dulu bahasa Heidegger) memanggil-manggil kita, dan mereka yang terpanggil hanyalah mereka yang mau "berpikir dengan perasaan" atau Heidegger menyebut berpikir sebagai bukan kegiatan akal budi, melainkan "being intense with disclosure".  

Apa yang membuat kita begitu asing dengan Ada? Banyak hal, bisa ya itu tadi, kategori pemahaman yang kita buat dalam kepala sendiri, atau keseharian yang terlalu bising dan membenamkan kita pada palung tidak berdasar. Heidegger, Ammy, dan Abaji, menitipkan satu pesan yang sama: Jadilah pemula. Jadilah seolah-olah kita baru lahir ke dunia dan terpesona melihat segala sesuatu untuk pertama kali. Dalam keterpesonaan itu, sesungguhnya segala sesuatu menyingkapkan dirinya.


Previous Post
Next Post

0 comments: