Minggu, 22 Juli 2012

30hari30film: One-Eyed Jacks (1961)


2 Ramadhan 1433


Promo film One Eyed Jacks adalah selalu tentang kenyataan bahwa film ini adalah satu-satunya yang disutradarai oleh aktor legendaris Marlon Brando. Sebelum Marlon Brando yang ditunjuk untuk membesut film koboi ini, seharusnya Stanley Kubrick-lah yang menyutradarainya. Jika memang Kubrick yang akhirnya menggarap, maka film ini hanya satu tahun setelah kesuksesannya di film Spartacus tahun 1960.

Marlon Brando berperan sebagai koboi bernama Rio yang mendapatkan uang dari merampok bank bersama kawannya, Dad Longworth (Karl Malden). Suatu hari, setelah sukses mendapatkan dua tas penuh berisi uang emas, Rio dan Dad dikejar-kejar oleh polisi lokal. Disinilah konflik terjadi, Dad mengkhianati Rio dengan pergi seorang diri membawa emas-emas bersamanya, sementara Rio tertangkap dan dipenjara. Singkat cerita, lompat ke lima tahun kemudian, Rio kabur dari penjara dan berupaya mencari keberadaan Dad untuk balas dendam.

Dad sendiri sudah banyak berubah, ia sekarang sudah menjadi sheriff di wilayah Monterrey dan telah menikah dengan seorang wanita Spanyol yang sudah mempunyai anak bernama Louisa (Pina Pellicer). Ketika Rio sukses menemukan Dad, pertemuan keduanya terasa sangat ambigu, ada perasaan rindu antar kawan, tapi di dalamnya tersirat dendam. Di sisi lain, antara Rio dan Louisa juga tumbuh rasa cinta. Perjalanan berikutnya adalah bagaimana Rio berupaya mencari celah untuk membunuh Dad, tapi juga menjaga perasaan anak angkat Dad yang ia cintai, Louisa.

Film ini mempunyai jalan cerita yang cukup sederhana, seperti halnya kebanyakan film koboi lainnya: Ada uang, cinta, dan ambiguitas keadilan. Sosok sheriff dalam film koboi biasanya di satu sisi ia menjaga keamanan, namun di sisi lain kerapkali ia senang menyiksa penjahat dengan cara-cara yang membuat penonton tidak simpati (simak bagaimana Dad mencambuki Rio dan memukul tangannya dengan senapan, membuat penonton menjadi simpati pada tokoh Rio yang secara natural adalah pembobol bank). Bahkan untuk jalan cerita yang relatif simpel seperti ini, durasi 140 menit dirasa terlalu panjang. Keberadaan Louisa yang menjalin cinta dengan Rio, seolah dipaksakan agar film ini punya nuansa romantika seperti halnya kebanyakan film Hollywood masa itu.

Pada titik ini, mitos bahwa “orang Italia pintar membuat film koboi Amerika, dan orang Amerika pintar membuat film gangster Italia” menjadi terbukti adanya. Marlon Brando terasa tidak sanggup menandingi kehebatan –misalnya- Sergio Leone dalam membuat film koboi. Meski jalan cerita kedua garapan itu juga kurang lebih sama, namun Leone lebih bisa menampilkan momen-momen istimewa, ia mampu mengoptimalkan akting koboi andalannya, Clint Eastwood, sehingga gerak-geriknya menjadi terkenang sepanjang masa (walaupun Leone, kita tahu, sering dipengaruhi oleh film-film Akira Kurosawa). Tentu saja saya tidak sedang membandingkan akting Eastwood dengan Brando, yang notabene keduanya adalah raksasa di jamannya. Brando pun di film ini tampil cukup karismatik, meskipun akting Stanislavian-nya tidak terlalu menonjol karena ia sudah ditolong oleh siksaan demi siksaan yang diterima dalam perannya sebagai Rio, sehingga tak perlu susah-susah baginya yntuk merebut hati penonton. Namun untuk urusan penyutradaraan, rasanya Brando cukup sekali saja. One-Eyed Jacks menjadi yang pertama dan terakhir baginya. 

Rekomendasi: Bintang Dua
Previous Post
Next Post

0 komentar: