Jumat, 20 Juli 2012

30hari30film: Midnight in Paris (2011)


1 Ramadhan 1433 H



Midnight in Paris adalah film yang digarap oleh sutradara senior Woody Allen, yang pernah dengan gemilang memenangkan empat Oscar dengan karyanya tahun 1977, Annie Hall. Film ini berkisah tentang pasangan Amerika –yang akan menikah- yang tengah berlibur ke Paris, Gil Pender (Owen Wilson) dan Inez (Rachel McAdams). Dalam kunjungan ke Paris ini, keduanya sering berselisih pendapat. Inez melihat Paris sebagai tempat berlibur yang indah dan penuh dengan sentuhan artistik sekaligus historis. Sedangkan Gil lebih sentimentil daripada itu, ia memandang Paris sebagai kota yang romantis (lebih jauh ia menyebutnya, “ketika hujan”), sumber inspirasi, dan tempat dimana seniman-seniman besar pernah tinggal. Berbeda dengan Inez, Gil yang berprofesi sebagai penulis, sedemikian terobsesi untuk tinggal di Paris.

Sentimentalitas ini membawa Gil pada situasi yang misterius di setiap waktu tengah malam: Ia dijemput oleh mobil tua, bertemu dengan para seniman besar dari masa lampau yang bernah bersentuhan dengan Paris seperti Ernest Hemingway, Cole Porter, Scott Fitzgerald, Gertrund Stein, Pablo Picasso, Salvador Dali, Man Ray, Luis Bunuel, Henry Matisse, dan banyak lagi seniman dari masa tahun 1920-an dan era La Belle Epoque (1890 – PD I). Pertemuan demi pertemuan yang amat personal itu membawa Gil untuk membulatkan tekad tinggal di Paris. Agar dekat dengan inspirasinya, dekat dengan cintanya yang datang dari masa silam: Adriana (Marion Cotillard).

Midnight in Paris adalah film yang disebut oleh Woody Allen sebagai, “Melihat dengan cara saya melihat Paris.” Film ini, meski durasinya relatif pendek (89 menit), namun ia secara intens sanggup menunjukkan sisi-sisi memikat dari kota Paris. Lewat keluguan dan kenaifan Gil Pender, Allen hendak menunjukkan suatu paradoks Amerika: Mereka menang perang namun miskin kebudayaan dan sejarah, sehingga meskipun bisa menegakkan kepala di manapun mereka berada, namun selamanya Amerika akan selalu terpesona dengan romantisme Eropa. Kenyataan bahwa Eropa pernah menjadi tempat bermukim seniman-seniman yang karyanya menjadi kiblat, membuat Amerika, lewat Gil Pender, terlihat gamang dan tidak punya pegangan.

Meski demikian, keberadaan Gil Pender yang diperankan oleh Owen Wilson ini mengandung dua sisi. Pertama, keluguannya bisa mengartikulasikan “kelabilan” Amerika secara brilian. Namun di sisi lain, akting Wilson justru terlihat jomplang dengan kualitas aktor lain seperti Marion Cotillard, Adrien Brody, dan pesona pemain lain yang memerankan karisma para seniman-seniman besar tersebut. Tanpa tampilan mempesona para raksasa golden age, barangkali film ini akan menjadi romantic comedy yang menghibur sejenak lantas dilupakan.

Satu hal yang membuat film ini agaknya menjadi tipikal Woody Allen yang filosofis, adalah pesan tersiratnya: Bahwa jangan-jangan perasaan bahwa suatu jaman disebut golden age, adalah ilusi. Karena seketika jika kita melihat ke masa lampau, kita akan selalu menganggap masa lampau itu lebih ideal dari masa kini. Bagi para seniman tahun 1920, La Belle Epoque adalah ideal. Bagi para seniman La Belle Epoque, jaman Renaisans adalah jauh lebih ideal. Bagi Gil Pender? Paris di masa silam selalu ideal.


Rekomendasi: Bintang Empat

Previous Post
Next Post

0 komentar: