Senin, 30 Juli 2012

30hari30film: The Tree of Life (2011)

30hari30film: The Tree of Life (2011)

11 Ramadhan 1433 H



The Tree of Life adalah film eksperimental yang digarap oleh Terrence Malick. Film ini, meski berkisah tentang konflik keluarga, namun Malick tidak melihatnya dalam kacamata sempit keluarga itu sendiri. Ia mengajak penonton untuk melihat konflik tersebut dengan cara pandang mahaluas: Dari sudut pandang penciptaan alam semesta dan evolusi. Sudut-sudut pengambilan gambarnya pun menarik dan tak biasa.

The Tree of Life dimulai dengan flashback masa kecil Jack (Sean Penn) ketika ia masih bersama orangtuanya di Texas. Jack mempunyai dua orang adik dan orangtua yang mempunyai karakter ayah dan ibu pada umumnya. Sang ayah, Mr. O’Brien (Brad Pitt) adalah tipikal ayah yang keras, yang melihat dunia si anak kelak akan menjadi dunia yang korup dan menyedihkan. Sehingga Mr. O’Brien lebih membiasakan anak-anaknya untuk mandiri dan disiplin. Sedangkan sang ibu, Mrs. O’Brien (Jessica Chastain) melihat anak-anaknya sebagai berkah, yang harus dijaga, yang mesti mendapat perhatian karena dunia kelak bisa dihidupi dengan cinta dan kasih sayang.

Namun Mr. O’Brien lama kelamaan tidak terlihat sebagai orangtua yang menyenangkan bagi Jack. Ia lebih terasa sebagai pria yang gila hormat, yang Mr. O’Brien akui sendiri sebagai, “I’m a Big Man”. Mr. O’Brien tidak mau dipanggil dad, ia hanya mau dipanggil father. Ia juga mewajibkan anak-anaknya untuk mengakhiri setiap ucapan bagi dirinya dengan akhiran sir. Hal tersebut lambat laun mengubah perilaku Jack dari yang tadinya tunduk selalu, menjadi berontak. Ia pun mulai berani melawan dan mengatakan, “Aku mau melakukan apa yang kulakukan.”

Namun bukan pertentangan itu yang membuat film Malick ini disebut eksperimental. Melainkan bagaimana ia menghadirkan efek penciptaan alam semesta dan evolusi dengan sensasional (mengingatkan pada stargate sequence-nya 2001: A Space Odyssey). Ia seolah mau menunjukkan posisi manusia dalam mikrokosmos maupun makrokosmos. Di sela-sela adegan penciptaan itu selalu ada voiceover berupa doa dari masing-masing anggota keluarga . Menunjukkan bahwa manusia bisa melampaui dirinya, masuk ke jagat makrokosmos lewat kesadaran akan alam semesta. The Tree of Life adalah film menarik, eksperimentasi yang mengasyikkan dari Malick.

Rekomendasi: Bintang Lima
Continue reading

Minggu, 29 Juli 2012

30hari30film: Indiana Jones and The Raiders of The Lost Ark (1981)

30hari30film: Indiana Jones and The Raiders of The Lost Ark (1981)

10 Ramadhan 1433 H



Indiana Jones and The Raiders of The Lost Ark adalah judul baru bagi film Steven Spielberg yang sebelumnya berjudul Raiders of The Lost Ark ini. Film yang diproduseri George Lucas tersebut, pada masanya meraup keuntungan yang luar biasa dan menjadi film yang legendaris bahkan hingga hari ini. Atas dasar itu, Spielberg membuat beberapa edisi film lagi tentang Indiana Jones mulai dari Indiana Jones and The Temple of Doom (1984), Indiana Jones and The Last Crusade (1989), Indiana Jones and The Kingdom of Crystal Skull (2008) hingga serialnya yang berjudul The Young Indiana Jones Chronicle (1992-1996).

Film tentang Indiana Jones selalu disajikan dengan penuh aksi dan petualangan yang menegangkan nyaris dari menit awal film hingga akhir. Indiana Jones and The Raiders of The Lost Ark berkisah tentang petualangan Indiana Jones (Harrison Ford) yang berupaya menyelamatkan ark (tabut?) agar tidak jatuh ke tangan pihak Nazi. Apa yang istimewa dari tabut? Tabut bernama Ark of The Covenant ini, jika didapatkan, maka tentara Nazi bisa menjadi terkamuflase dan tak terlihat. Film menjadi menarik karena keberadaan Rene Belloq (Paul Freeman) - musuh bebuyutan Indiana yang juga arkeolog- yang tak kalah cerdas, berani, dan penuh intrik. Selain disebabkan oleh labirin dan perangkap yang begitu rumit dihadirkan dalam rangka menyulitkan jalan menuju tabut, film Indiana Jones and The Raiders of The Lost Ark juga menjadi cukup segar karena keberadaan Marion Ravenwood (Karen Allen) yang tampil lugu, mengimbangi keseriusan Indiana.

Jalan cerita film tentang Indiana Jones relatif monoton dan selalu tentang perburuan artefak. Namun yang hendak ditawarkan oleh Spielberg tentu saja bukan tentang kekompleksan cerita, melainkan sajian full-action yang membuat penonton mengkerut di kursinya. Spielberg dengan pandai tidak membiarkan film untuk terjebak pada adegan dialog yang terlalu lama. Dialog seolah hanya sebatas “fase jeda” sebelum Indiana bertarung menghadapi tantangan berikutnya. Plus musik garapan John Williams menjadi kekuatan yang tak terbantahkan dalam menopang pelbagai adegan.

Namun sebagaimana umumnya film Spielberg yang “ada keharusan ditonton sebanyak mungkin orang”, maka selalu saja ada gabungan antara adegan jenaka dan sadis sekaligus. Di film yang sama, kita bisa saksikan adegan dimana Indiana secara “cerdas” menembak lawan dengan pistol dalam adegan adu pedang (yang merupakan suatu hal yang agaknya bisa membuat penonton tertawa), tapi juga ada adegan dimana salah seorang tentara Nazi tercincang baling-baling helikopter hingga darahnya terhambur. Meski kerancuan tersebut cukup lumrah terjadi dalam film-film Spielberg, namun agaknya secara keseluruhan Indiana Jones and The Raiders of The Lost Ark tetaplah film yang penting dan fenomenal dalam sejarah perfilman Hollywood. Aksi-aksi Indiana –harus diakui- memang memukau.

Rekomendasi: Bintang Empat
Continue reading

30hari30film: The Boat That Rocked (2009)

30hari30film: The Boat That Rocked (2009)

9 Ramadhan 1433 H


Meski tidak sukses secara komersil, film The Boat That Rocked punya penggemarnya sendiri terutama di kalangan penggemar musik tahun 60-an –yang terkenal dengan generasi bunga-. Film yang disutradarai Richard Curtis ini mendapat kritikan karena durasinya yang terlalu panjang (135 menit). The Boat That Rocked diputar ulang di Amerika Serikat dengan perubahan judul menjadi Pirate Radio dan pemotongan durasi menjadi 112 menit.

Film ini berkisah tentang kehidupan penyiaran radio yang “ilegal”. Ilegal karena frekuensi Radio Rock tidak terdaftar dan diakui oleh pemerintahan Inggris. Meski demikian, radio yang disiarkan dari kapal di tengah North Sea ini digemari oleh mayoritas kaum muda di Inggris karena memutar lagu-lagu pop dan rock yang tengah tren. Di pembukaan film sudah disajikan titik permasalahannya mengapa Radio Rock mesti ada, karena: Radio pemerintah hanya memutar musik pop 45 menit dalam sehari!

Film ini cukup dominan dalam mengontraskan kehidupan awak Radio Rock yang penuh kegembiraan di atas kapal dilatari musik-musik psikedelik, dengan kehidupan jajaran pemerintah Inggris yang membosankan dan penuh protokol. Konflik terjadi karena PM Inggris Sir Alistair Dormandy (Kenneth Branagh) tidak suka dengan keberadaan mereka yang dicapnya sebagai, “Perusak generasi muda.” Meski pada waktu itu tidak melanggar hukum, namun Sir Alistair bersama dengan bawahannya, Twatt (Jack Davenport) tetap mengupayakan bagaimana caranya agar hukum bisa disesuaikan sehingga Radio Rock masuk kategori pelanggaran.

Seisi awak Radio Rock sendiri tidak ambil pusing dengan ketar ketir pemerintah. Mereka tetap bersiaran 24 jam dengan para DJ yang begitu dicintai pendengarnya. Mereka adalah The Count (Philip Seymour Hoffmann), Dave (Nick Frost), Mark (Tom Wisdom), Simon Swafford (Chris O’Dowd), Angus “The Nut” Nutsford (Rhys Darby), John Mayford (Will Adamsdale), dan yang paling legendaris, Gavin Kavanagh (Rhys Ifans). Kehidupan mereka begitu dinamis dan kekeluargaan. Konflik-konflik kadang terjadi misalnya Gavin Kavanagh yang terlalu karismatik sehingga bisa merebut istri dari Simon yang baru dinikahinya tujuh belas jam. Namun apa yang dialami oleh para kru Radio Rock setidaknya mengartikulasikan semangat rock pada masa itu: Asyik, santai, bergairah, cinta damai, dan penuh kebersamaan.

Film ini agaknya bisa menjadi sangat menarik tapi juga bisa tidak. Menarik adalah bagi mereka yang memahami sekaligus mencintai musik-musik psikedelik di era 60-an. Namun bagi yang tidak, film ini rasanya tidak punya suatu muatan spesial di dalamnya. Meski pesan terpentingnya bukanlah sebatas musik, melainkan suatu gerakan di luar sistem yang seringkali diperlukan untuk membongkar kemapanan. Buktinya? Setelah Radio Rock bubar, dalam narasi disebutkan: Pop dan rock diputar di radio Inggris 24 jam per hari.

Rekomendasi : Bintang Tiga
Continue reading

Jumat, 27 Juli 2012

30hari30film: The Buddha: The Story of Siddhartha (2010)

30hari30film: The Buddha: The Story of Siddhartha (2010)

8 Ramadhan 1433 H



The Buddha: The Story of Siddhartha adalah film dokumenter garapan David Grubin yang dinarasikan oleh Richard Gere. Berdurasi 112 menit, film ini berkisah tentang perjalanan hidup Siddhartha Gautama mulai dari lahir, remaja, menikah, pergi dari istana, mencari jatidiri, tercerahkan di pohon Boddhi, mendapatkan murid, hingga hari kematiannya. Film ini tidak membosankan karena sutradara sanggup meramu antara narasi; pengakuan dari berbagai orang seperti Dalai Lama, Mark Epstein, William Stanley, Nick Offerman serta beberapa bhiksu Buddha; latar masyarakat India dan Nepal; serta animasi yang menarik.

Film dimulai dengan narasi Richard Gere mengenai kelahiran Siddhartha sekitar 2500 tahun silam di perbatasan India dan Nepal. Sebelum melahirkan, sang ibu mendapatkan mimpi yang aneh berkaitan dengan seekor gajah putih. Menurut juru tafsir mimpi, itu artinya sang ibu akan mempunyai anak lelaki yang kelak menjadi seorang pemimpin besar atau ahli spiritual. Sang ayah, yang ingin Siddhartha menjadi pemimpin besar, “menyekapnya” di dalam istana. Ia dilarang keluar agar tidak menyaksikan pahitnya dunia. Namun di suatu hari, ia keluar bersama kusir kuda dan mengalami empat penglihatan yaitu: orang tua, orang sakit, orang mati, dan orang yang hidup bertapa. Keseluruhan penglihatan itu membuat dirinya memutuskan untuk meninggalkan istana dan hidup tanpa wisma. Merujuk pada juru tafsir mimpi tadi, Siddhartha mengambil jalan menjadi ahli spiritual.

Buddha atau sering diartikan sebagai “Yang Terbangun”, digambarkan dalam film dokumenter ini dengan cukup lengkap. Fakta sejarah dan mitos tentangnya diceritakan secara komprehensif sehingga dirasa cukup objektif dan tidak ada maksud menggurui. Yang terpenting dari film The Buddha: The Story of Siddhartha ini adalah penekanan ajaran Buddha yang bukan terletak pada asketisme (penyiksaan tubuh sendiri secara berlebihan). Beberapa kali dititikberatkan bahwa menjadi Buddha adalah berarti menjalani kehidupan sebagaimana adanya, atau dalam istilah sang Buddha sendiri: Menerima bumi, bukan menolak apalagi menguasainya. Film ini sangat direkomendasikan bagi mereka yang mau mengenal Buddha dan ajarannya untuk kali pertama.

Rekomendasi: Bintang Empat
Continue reading

30hari30film: Curse of The Golden Flower (2006)

30hari30film: Curse of The Golden Flower (2006)

7 Ramadhan 1433 H


Film ini punya hampir semua syarat untuk menjadi film papan atas: Penampilan para aktor yang prima, jalan cerita yang sukar ditebak hingga akhir, efek pertempuran yang canggih, kostum istimewa, hingga latar istana dan pegunungan yang menawan. Meski demikian, Curse of The Golden Flower yang digarap oleh Zhang Yimou ini punya sedikit kelemahan yang bisa jadi krusial: Penggarapan musik. Musik yang ditata oleh Shigeru Umebayashi kurang bisa menopang pelbagai adegan yang dramatik dan mempesona.

Film ini berkisah tentang intrik di keluarga kerajaan antara kaisar (Chow Yun Fat), permaisuri (Gong Li), dan ketiga anaknya yaitu pangeran Wan (Liu Ye), pangeran Jai (Jay Chou) dan pangeran Yu (Qin Junjie). Kaisar dan permaisuri tidaklah akur. Di satu sisi, kaisar berusaha meracuni permaisuri lewat racun yang disusupkan pada obat yang rutin diminum permaisuri. Di sisi lain, permaisuri pun berupaya untuk mengudeta kaisar lewat sang anak kedua, pangeran Jai. Intrik ini meluas keluar wilayah keluarga ini setelah mengetahui bahwa ada affair antara pangeran Wan dengan anak dari dokter kerajaan yakni Jiang Chan (Li Man). Problem ini semakin kompleks setelah diketahui ada pertautan romantika antara ibu dari Jiang Chan, dengan sang kaisar di masa lalunya.

Film ini meski didominasi oleh dialog dan tidak banyak adegan kungfu yang khas muncul di film-film Cina, namun kita bisa dibuat duduk bertahan dari awal hingga akhir. Hal tersebut tidak lepas dari kekuatan akting Chow Yun Fat dan Gong Li. Disamping itu, warna-warni yang dibentangkan oleh film juga membuat mata dimanjakan (ini terjadi sedari pembuka film ketika ratusan dayang kerajaan bersalin pakaian). Adegan kolosal berupa perang besar antara tentara kaisar versus tentara permaisuri di menjelang akhir film juga –meski tidak seberapa dramatis tapi tetap- memberikan kesan tersendiri. Jangan lupa, yang menjadi kekuatan Curse of The Golden Flower tentu saja kenyataan bahwa di balik citra kerajaan yang tenang dan tanpa konflik, terdapat intrik yang begitu mendidih dan siap meletus di waktu yang tepat. Jika bicara jalan cerita, film berdurasi 114 menit ini memang jempolan. Tapi jika yang diniatkan sutradara adalah ke-kolosal-an, maka Curse of The Golden Flower ini menyajikannya terlalu banyak. Ibarat martabak manis yang terlalu melimpah susu dan kejunya.

Rekomendasi : Bintang Tiga Setengah
Continue reading

Rabu, 25 Juli 2012

30hari30film: The Bridge on The River Kwai (1957)

30hari30film: The Bridge on The River Kwai (1957)

6 Ramadhan 1433 H



Tidak salah jika The Bridge on The River Kwai meraih tujuh Oscar. Film yang disutradarai oleh David Lean ini, meski berdurasi relatif panjang (161 menit), namun betah ditonton dari awal hingga akhir. Hal ini tidak lepas dari penampilan aktor-aktornya yang menawan, mulai dari Alec Guinness, William Holden, Jack Hawkins, hingga aktor Jepang, Sessue Hakayama.

The Bridge on The River Kwai berkisah tentang proyek pembangunan jembatan yang digagas oleh Jepang dibawah pimpinan Kolonel Saito (Sessue Hakayama). Meski demikian, pembangunan ini tidak dilaksanakan oleh pekerja-pekerja Jepang, melainkan tentara-tentara Inggris yang menjadi tawanan. Jembatan yang harus cukup kuat untuk dilampaui kereta api tersebut rencananya menjadi penghubung antara Thailand dan Burma. Cara memerintah Jepang yang keras dan otoriter tidak disukai oleh pimpinan dari tentara Inggris yaitu Letnan Kolonel Nicholson. Ia memilih untuk mogok dan dihukum, ketimbang ikut serta dalam aturan Saito: Semua tentara Inggris tanpa terkecuali bekerja membangun jembatan, termasuk para officers. Bagi Nicholson, atasan tentara semestinya bertugas mengomando dan menjaga moral anak buahnya, bukan ikut serta dalam pekerjaan kasar yang berarti juga dikomandoi oleh tentara Jepang.

Yang menarik adalah kenyataan bahwa Saito juga bekerja di bawah tekanan. Jembatan harus jadi tepat pada tanggal 12 Mei (berarti waktu pengerjaan adalah sekitar dua bulan), jika tidak maka ia harus menjalankan seppuku alias ritual bunuh diri. Ketertekanan Saito ini membuat ia mesti berdamai dengan Nicholson dan melunakkan caranya dalam memerintah. Walhasil, proyek jembatan pun menjadi lancar karena kedua pihak punya bargaining position yang setara. Namun di seberang sana, ada misi yang juga dilancarkan oleh tentara Inggris dengan Mayor Shears (William Holden) di dalamnya. Ada pihak yang ingin menghancurkan jembatan dengan bom. Disinilah dilema sesungguhnya terjadi.

Cerita dalam The Bridge on The River Kwai –yang fiktif ini- terbilang sederhana. Ditambah lagi dalam film ini tidak banyak aksi-aksi menawan ataupun adegan-adegan dramatis. Kekuatan film ini terletak pada bagaimana David Lean meramu alur cerita sehingga tidak terasa membosankan. Ditambah lagi, aktor-aktor yang terlibat di dalamnya sangat memberikan kekuatan dan menampilkan satu karakteristik yang khas. Misalnya Saito, bisa berubah dari yang awalnya penonton benci dibuatnya, menjadi simpatik di kala akhir.

Rekomendasi: Bintang Lima
Continue reading

Selasa, 24 Juli 2012

30hari30film: Kite Runner (2007)

30hari30film: Kite Runner (2007)

5 Ramadhan 1433 H



Kite Runner adalah film garapan Marc Forster yang diadaptasi dari novel berjudul sama karangan Khaled Hosseini. Film berdurasi 128 menit ini berkisah tentang dua orang anak bernama Amir (Zekkeria Ebrahimi) dan Hassan (Ahmad Khan Mahmizada). Yang menarik tidak hanya mengenai persahabatan mereka yang sangat mengharukan, melainkan latar belakang kehidupan mereka yaitu perubahan politik di Afghanistan mulai dari moderat, lalu diinvasi oleh Uni Soviet, hingga berada di bawah konservatisme Taliban.

Amir dan Hassan secara latar belakang sosial tidaklah setara. Amir adalah anak majikan, sedang Hassan adalah anak dari pesuruh. Amir adalah seorang Pashtun, sedangkan Hassan beretnik Hazara. Seorang Pashtun, sering disebut-sebut sebagai “orang Afghanistan sejati”. Hal tersebut yang membuat persahabatan Amir dan Hassan seringkali diejek oleh Assef dan kawan-kawannya. Amir yang penakut, tidaklah sama dengan Hassan yang berani. Hassan tidak hanya sahabat baik bagi Amir, tapi pesuruh yang sedemikian taat pada sang majikan. Hassan pernah berani menodongkan katapel pada Assef yang terus menerus mengganggu mereka berdua.

Namun Amir dan Hassan menjadi partner yang setara ketika mereka bermain layangan. Amir pandai dalam beradu layangan, sedangkan Hassan selalu bisa menebak dimana layangan lawan jatuh untuk kemudian dipungut. Kelebihan Hassan ini tak pernah dilupakan oleh Amir bahkan hingga keduanya berpisah dan menjalani kehidupan dewasa. Singkat cerita, Hassan diketahui sudah meninggal dunia dieksekusi serdadu Taliban. Hassan meninggalkan seorang anak, yang amat ingin diadopsi oleh Amir. Amir (Yang sudah dewasa, diperankan oleh Khalid Abdalla) meninggalkan Amerika tempat tinggalnya, untuk kembali ke kampung halamannya, Afghanistan. Menembus barikade konservatisme Taliban, ia ingin menyelamatkan masa depan anak bernama Sohrab itu, sekaligus –lewat anak itu, Hassan ingin- mengabadikan masa kecilnya yang indah bersama Hassan.

Sebagaimana pada umumnya film-film yang diadaptasi dari novel, tentu saja banyak adegan yang dirasa sangat rancu dan terlihat dipadatkan. Misalnya, proses percintaan Amir dan Soraya (Atossa Leoni) yang begitu singkat. Namun hal ini bisa dipahami karena keterbatasan durasi film itu sendiri. Tentu saja, edisi film kerapkali mengecewakan bagi mereka yang pernah membaca novelnya. Namun bagi yang menonton Kite Runner tanpa pernah membaca novelnya, mungkin akan terpesona tidak hanya oleh jalan ceritanya yang brilian, tapi juga situasi Afghanistan yang akrab dengan dinamika politik yang amat kontras. Melihat politik dari sudut pandang anak kecil memang selalu menarik karena kita melihat dua wilayah yang sangat kontradiktif (seolah-olah kedua wilayah, baik dunia politik dan dunia anak-anak, tidak pernah sanggup memahami satu sama lain). Ini terlihat dari film-film serupa seperti Persepolis (latar belakang politik Iran) dan Blue Kite (latar belakang politik Cina).

Rekomendasi: Bintang Empat
Continue reading