Selasa, 12 Juni 2012

Autocorrects


Sejak tiga bulan belakangan saya mengikuti akun twitter seorang komedian ber-username autocorrects. Pengikut ia pun tidak sedikit, mencapai lebih dari dua juta orang. Dalam sehari, autocorrects bisa berkicau lebih dari dua puluh kali dan rata-rata ratusan orang melakukan re-tweet pertanda setuju atau suka. Saya sendiri termasuk orang yang menyukainya. Ini beberapa contoh tweet-nya:

  • Starting a blog, making a few posts, then ending up forgetting about it.
  • I speak a language that is universally known. It’s called Fuck You.
  • I Love finding money in my clothes. It’s like gift to me.. from me.
  • I always find myself thinking about what some random celebrity is doing at this moment.
  • Lazy rule: can’t reach it, don’t need it.

Kicauannya nampak tidak istimewa, atau setidaknya: tidak filosofis atau tidak saintifik sekalipun. Tapi itu bukan sama dengan kita tidak menemukan kebenaran di dalamnya. Pada umumnya, twitter sendiri memang berisikan soal “ucapan-ucapan subjektif” yang seringkali tidak mempunyai arti bagi orang yang tidak berkepentingan. Walhasil, kemudian muncul istilah “nyampah di timeline”, sebagai bentuk kritik terhadap orang yang kerapkali menghadirkan sesuatu yang “terlalu berkaitan dengan dirinya”, yang rasanya tidak terlalu penting untuk diungkap ke ruang publik. Namun entah kenapa, ada orang-orang seperti autocorrects ini, yang subjektifnya adalah objektif. Bahwa ia bisa menghayati pengalamannya yang sederhana, yang membuat ketika itu dikicaukan, eh ternyata didapati bahwa banyak orang setuju dengannya.

Mari berfilosofi sejenak, membicarakan evolusi terbentuknya agama menurut Whitehead. Pada awalnya, agama itu adalah agama suku. Yaitu agama yang dihayati dalam kawanan. Lalu di dalam kawanan orang yang menganut agama suku, biasanya kemudian ada satu orang yang memberontak, yang menghayati spiritualitas dalam keindividuannya. Inilah yang terjadi dalam misalnya, Muhammad atau Yesus yang begitu berbeda dengan society, dengan agama suku. Dalam penghayatan individu itu, ia menemukan bahwa ada yang sama dalam dirinya dengan semua manusia. Atas dasar itu ia “mendirikan” agama universal.

Saya tidak mau berlebihan mempersamakan autocorrects dan Muhammad ataupun Isa, karena jelas konten yang mereka “kicaukan” berbeda. Namun yang mau digali adalah, ketiga orang tersebut sama-sama melakukan universalisasi atas pengalaman pribadi. Bahwa apa yang aku alami, pasti juga dialami oleh orang lain juga. Lintas negara, lintas bangsa. Ini adalah suatu hal yang tidak sederhana karena menurut Louis Leahy, manusia itu adalah “makhluk tertutup”. Apa yang ia ketahui pasti semata-mata adalah dirinya sendiri. Tentang orang lain adalah dugaan-dugaan saja, dan mungkin diangkat dari refleksi terhadap diri sendiri, “Kenapa kita tahu orang lain sakit kalau dipukul? Karena semata-mata kita juga sakit kalau dipukul.”

Tentunya ada yang berbeda dari cara autocorrects nge-tweet dengan orang-orang lain yang cuma sekedar “gw bĂȘte banget nih, kemana ya?”. Ada yang berbeda, dan itu terasa. Ada suatu renungan ke dalam diri sebelum mengicaukannya untuk publik. Dan ketika berkaca ke diri, ia menemukan perasaan orang banyak yang kira-kira ikut serta. Hal tersebut menjawab bagaimana orang-orang besar yang pemikirannya mendunia, belum tentu sering berkeliling dunia. Immanuel Kant contohnya, ia hanya tinggal di satu kota sepanjang hidupnya, tapi filsafatnya menjadi bangunan pemikiran Barat yang masih diikuti hingga hari ini.

Autocorrects, sekali lagi, kedalaman pemikirannya tidak bisa disandingkan dengan contoh-contoh para filsuf yang sedemikian bertahan dalam sejarah. Ia cuma berkisar soal seks dan kehidupan remaja pada umumnya. Namun membaca tweetnya saya kerapkali tertawa geli. Bukan geli oleh sebab hal tersebut seolah terjadi pada dirinya. Tapi geli oleh sebab hal yang ia alami adalah yang ada pada diri saya pun. Seperti kata Upanishad, bahwa aku dan kamu adalah satu.
Previous Post
Next Post

0 komentar: