Friday, June 29, 2012

Refleksi dan Kapitalisme


Refleksi disini bukanlah refleksi dalam arti merenung. Ini adalah pengertian refleksi secara sederhana: pijat kaki!

Refleksi adalah salah satu kegiatan favorit saya sebulan sekali. Ini adalah fase dimana saya mengalami relaksasi total dengan cara dipijat di tempat yang adem dan dilatari alunan musik India. Mewah? Ya dan tidak. Dari segi fasilitas dan tingkat kenyamanan, boleh dibilang saya tengah bermewah-mewah. Karena siapa yang tidak merasa jadi raja, ketika kakinya dielus-elus sementara kita sendiri tiduran? Tapi harganya sendiri bisa dibilang murah, cuma lima puluh ribu sekali pijit. Di tempat refleksi terkenal di Sukajadi saja, harganya cuma lebih mahal dua ribu dari pasaran pada umumnya. 

Namun inilah yang disebut oleh kawan saya, Tobing, sebagai, "Sebetulnya seluruh istirahat kita, digunakan juga untuk bekerja di hari berikutnya." Maksudnya, jika kita menggunakan perspektif weekday dan weekend: Apa arti dari weekend selain daripada sebuah persiapan untuk menghadapi weekday? Dalam arti kata lain, weekend itu adalah sebuah ilusi! Sejatinya, kapitalisme adalah sistem yang membuat seluruh hidup manusia adalah "weekday yang diselingi istirahat". Kawan saya yang lain, Esoy, menyebutkan bahwa, "Sesungguhnya kita kerja 24 jam."

Lagi-lagi, kegiatan semacam refleksi ini luput juga dari kritik Marx terhadap kapitalisme. Marx memandang bahwa kapitalisme mengalienasi manusia dari keseharian dan juga dirinya, tapi lupa bahwa kapitalisme dengan segera menyediakan penawarnya. Jika problemnya adalah fisik dan kebugaran (kapitalisme tentu mengerti betul mensana in corpore sano), maka mereka menyediakan suatu tempat dimana para buruh bisa me-re-charge kekuatannya untuk bekerja kembali menjadi sekrup kapitalis. Ini seperti ironi di mal-mal besar: Selalu ada tempat refleksi, karena kaki-kaki konsumen pasti pegal setelah seharian berjalan-jalan mengonsumsi!

Tentu saja bagi kamu yang merasakan faedah refleksi, tulisan saya ini seperti yang lebay (pun saya mengatakan ini lebay karena saya juga merasakan faedah refleksi). Ini adalah semacam penyadaran saja, bahwa semakin hari semakin terasa bahwa kapitalisme bergerak pelan tapi pasti ke wilayah-wilayah yang sepertinya terlalu "mulia" untuk dikritisi. Kita bisa mengritik kapitalisme ketika mereka mempekerjakan buruh dengan upah rendah tapi jam kerja yang tinggi, kita bisa melontarkan serangan terhadap kapitalisme yang sering memberi janji-janji suci tapi nyatanya tujuannya sederhana: produk laku, tapi kita sulit untuk melepaskan kritik terhadap kapitalisme yang nyata-nyata memberi manfaat bagi tubuh kita, seperti refleksi atau -yang sudah saya pernah kemukakan dulu- facial.

Kita cuma bisa menyadarkan diri bahwa seluruh kehidupan ini sudah dikonstruksi sedemikian rupa dalam jaring-jaring yang kita tidak sanggup lepas daripadanya: Mitos kebahagiaan dihadirkan oleh kapitalisme (rumah, mobil, asuransi), setelah itu ada "mitos untuk mendapatkan kebahagiaan" bernama kerja dan kerja setiap hari. Capek? Jangan jadi alasan, karena kami punya: pijat kaki!




Continue reading

Sunday, June 24, 2012

Margahayu Raya

Margahayu Raya
Setelah menikah, saya bermukim di Margahayu Raya. Rumah ini tidak asing sama sekali. Ini adalah rumah tempat saya menghabiskan masa kecil hingga sekitar kelas 4 SD sebelum pindah ke Rebana, daerah Buah Batu. Ini adalah rumah yang dulu saya seringkali malu jika harus menyebutkan dimana letaknya, karena terhitung sukar dijangkau dan agak-agak pinggiran. 

Namun rupanya Margahayu Raya kini reputasinya tidak lagi pinggiran. Bukan berarti lokasinya menjadi bergeser, melainkan apa yang dinamakan 'kota' itu sendiri terus menerus memperluas dirinya. Yang dinamakan kota, dari tadinya sebatas Alun-Alun, Braga, Dago, atau daerah-daerah di utara rel kereta, sekarang memasuki wilayah selatan. Kota bukanlah sebuah wilayah, melainkan akses dan fasilitas. Margahayu Raya dulu dinamai pinggiran karena aksesnya yang sulit plus fasilitas yang terbatas.

Akan saya ceritakan bagaimana kami sedemikian dimudahkannya oleh fasilitas. Mau masak, tukang sayur hanya berjarak tiga menit jalan kaki. Waktu tempuh yang sama bisa diterapkan jika kami malas masak dan memilih membeli. Berjejer tukang sate, bubur ayam nasi goreng, baso, mie ayam, kupat tahu, dan lain sebagainya yang kamu tinggal sebut saja. Soal Alfamart, Indomart, dan toko-toko semacamnya juga ada dalam radius yang terlalu-membuang-buang-waktu-jika-menggunakan-mobil. Warnet, fitness centre, ATM, tukang fotokopi hingga reparasi komputer semua bisa dijangkau dengan berjalan kaki. Sungguh ini adalah sebuah wilayah perumahan yang ideal!

Namun ketika seluruh fasilitas memadai, yang menjadi prasyarat wajib adalah tinggal soal uang. Karena apalah arti fasilitas, selain daripada ia memudahkan kita untuk tidak perlu berhubungan dengan banyak orang. Maksudnya, fasilitas diadakan agar kita bisa self-service. Mari membayangkan sistem barter, sistem kekeluargaan, atau bahkan perdagangan pasar sekalipun, bisa jadi punya nilai tukar di dalamnya, namun diselingi terlalu banyak basa-basi. Tatapan wajah ke wajah tidak selamanya menyenangkan. Lebih baik berjalan sendirian tapi semua kebutuhan terpenuhi. Syaratnya sekali lagi: uang. Dengan uang, kamu bisa seperti kata tokoh David Kleinfeld dalam film Carlito's Way: Save your own ass! Itulah sebabnya, saya belum bisa atau mau bertetangga secara akrab. Karena tugas saya sebagai penduduk kota yang taat adalah mencari uang agar bisa selamat. Nanti, kalau sudah banyak uang, baru bersosialisasi sebagai bentuk kebutuhan tersier. Kebutuhan yang barangkali lebih mewah daripada internet cepat ataupun alat pijat kaki. 

Pikiran-pikiran semacam itu segera buyar dari kepala, atau setidaknya dicoba dibuyarkan meski sangat bertentangan dengan logika perkotaan. Apa sebabnya? Karena meski dengan fasilitas yang sudah sangat mumpuni, bau masa kecil saya tetap menyeruak tiba-tiba di waktu yang tidak pernah terduga. Selalu, ingatan tentang masa kecil membuat dunia ini menjadi tidak seburuk kelihatannya.
Continue reading

Saturday, June 16, 2012

Absurditas

Absurditas
Belakangan saya mulai paham pemikiran para eksistensialis yang dulu sempat saya tertawakan. Mereka sering merenungkan tentang ketidakbermaknaan hidup, tentang mengapa saya ada, dari mana, dan mau kemana. Apakah betul-betul senestapa itu kehidupan?

Kehidupan, agaknya, menjadi penuh tanda tanya karena kematian. Kematian adalah satu-satunya yang absolut karena semua manusia mengalaminya. Namun tidak ada seorangpun yang bisa membuktikan apa yang terjadi pasca kematian. Semua punya cerita versinya sendiri. Orang-orang Etruscan menciptakan versi kematian dengan monster hijau yang siap menanti siapapun yang pengecut melawan Romawi. Buddha percaya reinkarnasi, bahwa yang mati kelak akan hidup kembali jadi sesuatu, tergantung baik-buruk yang pernah kita perbuat. Ketika kematian bisa diberi nilai oleh siapapun, artinya kematian itu sendiri tidak punya nilai sama sekali!

Maka logika yang sama bisa dikenakan pada kehidupan. Kehidupan, alangkah setiap hari kita menemukan banyak penilaian terhadapnya. Suatu hari istri saya berkata, "Alhamdulillah yah cuaca panas jadi jemuran cepat kering." Namun saya menimpali, "Coba bayangkan di waktu yang sama kamu berangkat kerja, bukankah cuaca seperti ini bisa dikeluhkan?" Nilai-nilai kehidupan itu sendiri diberi oleh kita semua, para manusia yang tingkat pemahamannya sendiri berbeda-beda. Yang dinamakan "kebenaran" itu sendiri patut kita ragukan karena di belakangnya kerapkali ada unsur-unsur pemaksaan dari kekuasaan. Novel Siddharta karya Herman Hesse bahkan menyatakan bahwa "Lawan dari kebenaran, adalah sama benarnya." 

Pada titik ini saya mulai bisa menghayati eksistensialisme secara praksis. Bahwa hidup ini tidak mungkin punya nilai, karena masing-masing dari kita bisa memberi nilai apapun kepadanya. Bahkan kematian pun bisa kita bayang-bayangkan dengan tujuan yang sama juga: Menjadikan kehidupan bernilai. Tuhan, malaikat, surga, dan kebaikan di alam sana, adalah untuk sekali lagi: Agar kita layak menjalani kehidupan yang absurd ini. 

Hiduplah dengan bahaya. Jalani hidup karena hidup itu absurd. Manusia adalah gairah tanpa makna. Jika tidak ada Tuhan, semua boleh. 

Semua yang saya sebutkan adalah jargon eksistensialisme yang berkembang di Eropa pasca Perang Dunia I. Apa yang mereka kritik adalah optimisme bahwa kehidupan ini sudah punya makna, sudah punya esensi dalam dirinya sendiri. Kenyataannya tidak, saudara-saudara, kitalah yang memaknainya. Maka itu, dalam keterbatasan manusia, pemaknaan itu akan selalu berbeda-beda, tidak stabil, dan relatif. Inilah titik mawas diri para eksistensialis. Ada suatu paradoks bahwa di satu sisi, mereka menyadari otonomi manusia adalah titik mula segala-galanya. Namun di sisi lain, absurditas justru berasal dari kenyataan bahwa manusia adalah "pengada yang terbatas".  

Jalan keluarnya, bagi saya sementara, adalah seni. Seni rupanya mengajarkan untuk merasakan hidup ini tanpa pamrih. Seni yang, kata Schopenhauer, adalah cara untuk menyadari bahwa eksistensi manusia adalah menyedihkan. Rasakanlah sebagaimana ia beresonansi kepadamu. Hidup ini memang tidak punya nilai, tapi ia punya getaran.

Continue reading

Tuesday, June 12, 2012

Autocorrects

Autocorrects

Sejak tiga bulan belakangan saya mengikuti akun twitter seorang komedian ber-username autocorrects. Pengikut ia pun tidak sedikit, mencapai lebih dari dua juta orang. Dalam sehari, autocorrects bisa berkicau lebih dari dua puluh kali dan rata-rata ratusan orang melakukan re-tweet pertanda setuju atau suka. Saya sendiri termasuk orang yang menyukainya. Ini beberapa contoh tweet-nya:

  • Starting a blog, making a few posts, then ending up forgetting about it.
  • I speak a language that is universally known. It’s called Fuck You.
  • I Love finding money in my clothes. It’s like gift to me.. from me.
  • I always find myself thinking about what some random celebrity is doing at this moment.
  • Lazy rule: can’t reach it, don’t need it.

Kicauannya nampak tidak istimewa, atau setidaknya: tidak filosofis atau tidak saintifik sekalipun. Tapi itu bukan sama dengan kita tidak menemukan kebenaran di dalamnya. Pada umumnya, twitter sendiri memang berisikan soal “ucapan-ucapan subjektif” yang seringkali tidak mempunyai arti bagi orang yang tidak berkepentingan. Walhasil, kemudian muncul istilah “nyampah di timeline”, sebagai bentuk kritik terhadap orang yang kerapkali menghadirkan sesuatu yang “terlalu berkaitan dengan dirinya”, yang rasanya tidak terlalu penting untuk diungkap ke ruang publik. Namun entah kenapa, ada orang-orang seperti autocorrects ini, yang subjektifnya adalah objektif. Bahwa ia bisa menghayati pengalamannya yang sederhana, yang membuat ketika itu dikicaukan, eh ternyata didapati bahwa banyak orang setuju dengannya.

Mari berfilosofi sejenak, membicarakan evolusi terbentuknya agama menurut Whitehead. Pada awalnya, agama itu adalah agama suku. Yaitu agama yang dihayati dalam kawanan. Lalu di dalam kawanan orang yang menganut agama suku, biasanya kemudian ada satu orang yang memberontak, yang menghayati spiritualitas dalam keindividuannya. Inilah yang terjadi dalam misalnya, Muhammad atau Yesus yang begitu berbeda dengan society, dengan agama suku. Dalam penghayatan individu itu, ia menemukan bahwa ada yang sama dalam dirinya dengan semua manusia. Atas dasar itu ia “mendirikan” agama universal.

Saya tidak mau berlebihan mempersamakan autocorrects dan Muhammad ataupun Isa, karena jelas konten yang mereka “kicaukan” berbeda. Namun yang mau digali adalah, ketiga orang tersebut sama-sama melakukan universalisasi atas pengalaman pribadi. Bahwa apa yang aku alami, pasti juga dialami oleh orang lain juga. Lintas negara, lintas bangsa. Ini adalah suatu hal yang tidak sederhana karena menurut Louis Leahy, manusia itu adalah “makhluk tertutup”. Apa yang ia ketahui pasti semata-mata adalah dirinya sendiri. Tentang orang lain adalah dugaan-dugaan saja, dan mungkin diangkat dari refleksi terhadap diri sendiri, “Kenapa kita tahu orang lain sakit kalau dipukul? Karena semata-mata kita juga sakit kalau dipukul.”

Tentunya ada yang berbeda dari cara autocorrects nge-tweet dengan orang-orang lain yang cuma sekedar “gw bĂȘte banget nih, kemana ya?”. Ada yang berbeda, dan itu terasa. Ada suatu renungan ke dalam diri sebelum mengicaukannya untuk publik. Dan ketika berkaca ke diri, ia menemukan perasaan orang banyak yang kira-kira ikut serta. Hal tersebut menjawab bagaimana orang-orang besar yang pemikirannya mendunia, belum tentu sering berkeliling dunia. Immanuel Kant contohnya, ia hanya tinggal di satu kota sepanjang hidupnya, tapi filsafatnya menjadi bangunan pemikiran Barat yang masih diikuti hingga hari ini.

Autocorrects, sekali lagi, kedalaman pemikirannya tidak bisa disandingkan dengan contoh-contoh para filsuf yang sedemikian bertahan dalam sejarah. Ia cuma berkisar soal seks dan kehidupan remaja pada umumnya. Namun membaca tweetnya saya kerapkali tertawa geli. Bukan geli oleh sebab hal tersebut seolah terjadi pada dirinya. Tapi geli oleh sebab hal yang ia alami adalah yang ada pada diri saya pun. Seperti kata Upanishad, bahwa aku dan kamu adalah satu.
Continue reading