Sunday, May 20, 2012

Echo of The Invisible World

Pernahkah kita melihat dua insan bercakap-cakap -anggap saja mereka sepasang kekasih- lalu entah bagaimana kita mendengar suara denting piano melatari percakapan mereka? Atau kita dimarahi sang ibu dan mendadak ada bunyi perkusi melatari teriakannya seperti biasa terjadi di sinetron? 

Kalau memang iya, pastilah kejadian musikal dan insidennya berlangsung kebetulan bersamaan, seperti kita menyaksikan adegan perkelahian di tengah bar yang sedang memutar musik jazz. Kenyataannya: Kita tidak pernah mendengarkan musik keluar melatari percakapan atau kejadian apapun di dunia ini. Kemunculan musik, jika ditilik, tidak mengimitasi apapun dari dunia ini. Ia adalah echo of the invisible world seperti kata Giuseppe Mazzini.

Situasi obrolan seperti ini cocok menggunakan latar musik. Tapi dasarnya apa?
Gambar diambil dari sini.









Jenis kesenian lain, pada tingkat tertentu juga melakukan upaya “mengimitasi yang tidak ada”. Saya ingat cerita bapak, bahwa pelukis Affandi di masa mudanya melukis potret diri dengan mengimitasi mirip semirip-miripnya. Makin tua, Affandi melukis dirinya tidak lagi mirip melainkan semakin tidak berbentuk, semakin tidak mungkin dikenali bagi siapapun yang melihat lukisan bahwa yang di kanvas itu adalah Affandi tua. Demikian halnya semangat yang diusung para surealis atau abstrak ekspresionis seperti Salvador Dali atau Jackson Pollock: Hey, kalian melukis apa? Tidak mirip dengan sesuatupun di dunia ini! 

Pernahkah liat objek seperti ini di dunia sehari-hari kita?
Gambar diambil dari sini.

Not

Malam itu ia coba tirukan,
dengan bunyi senar gitar, tetes air
yang saling bertemu
di talang serambi.

Tapi yang terbentuk dari langit
hanya lagu.
‘Aku tak ingin lagu’,
katanya.

Tak seorang pun tahu apa yang ia inginkan. Mungkin sesuatu yang lepas,
not yang tak terkait dengan angin yang datang ke bubungan ketika hampir fajar.

‘Kau selalu menghendaki yang sulit’
– itu kesimpulan perempuan yang tidur
di sebelahnya
pada dinihari sebelumnya.

Ia mengangguk. ‘Aku selalu berdoa
kepada Tuhan yang tak sengaja’, sahutnya, ‘Tuhan yang sudah lama mati.’
Dan ia kembali memetik senar.

Menjelang matahari terbit,
di atas deretan gudang ia lihat langit memperlihatkan kilat sejenak.
Lampu-lampu menghalaunya.

Akan ada petir yang jatuh
pada penangkal di sebuah bukit, pikirnya,
jauh di pedalaman,
tak tahu ia tak akan hilang.

‘Bersama sebuah not’.

Goenawan Mohamad


Puisi juga demikian, ia adalah yang seperti dikatakan oleh Heidegger: ... dwelling house of being. Lewat perantara bahasa, puisi membuat sesuatu yang tidak ada menjadi ada. Pernah saya lontarkan pertanyaan pada mahasiswa: Adakah sesuatu yang tidak ada di dunia ini? Jawaban mereka beragam, ada yang Tuhan, ada yang cinta, ada yang setan, ada yang surga. Tapi mereka sekaligus mengadakannya ketika mengucapkan. Bahasa bukan berarti mengimitasi benda untuk diberi nama, melainkan memberikan rumah bagi yang tidak ada menjadi ada. Itu sebabnya ide-ide tentang roh, jiwa, setan, malaikat, Tuhan kerapkali abadi meskipun tidak ada satupun dari kita pernah melihat objeknya. Namun mereka harus diakui tetap ada, setidaknya kita terus menerus memberi naungan bagi mereka! 

Siapapun yang menjadikan seni lepas dari kehidupan sehari-hari, menjadi entitas mandiri, ia seyogianya bertanggungjawab. Saya melihat bahwa selama seseorang berupaya membumikan sesuatu yang tadinya metafisis, mengawang-awang, maka ia tengah berkesenian dalam derajat paling sederhana sekalipun. Agama misalnya, lewat teks-teks kitab suci, ia pastilah mengupayakan hal serupa. Agama menawarkan diri untuk melepas rasa rindu manusia terhadap invisible world via kata-kata. Tapi Al-Qur'an tahu kata-kata saja tidak cukup. Tidak mungkin menggunakan bahasa yang kaku seperti misalnya bahasa ala hukum dan undang-undang. Al-Qur'an lebih puitik, absurd, dan pada titik tertentu hanya bisa dipahami oleh rasa alih-alih logika. Pada singgungan seperti ini, bagaimana mungkin agama dan seni bisa menjadi sedemikian berbeda, padahal keduanya dihasilkan mula-mula dari rasa rindu (eros) manusia terhadap "dunia yang tidak ada" seperti kata Plato?

Bahasa tubuh. Menunjukkan bahwa bahasa lisan saja tidak cukup untuk menerjemahkan "yang tidak ada".
Gambar diambil dari sini.




Apa yang saya bicarakan boleh saja dituduh sebagai pseudosains, mengada-ada, ataupun tidak ada bukti konkritnya. Iya, saya, dan siapapun juga tidak sanggup membuktikan yang namanya dunia ide Plato ataupun dunia metafisik yang kerap diagungkan sekaligus dicela. Aristoteles menyebutkan bahwa yang namanya dunia ide adalah ilusi, yang kita abstraksi dari yang konkrit di dunia ini. Namun Aristoteles lupa bahwa sebelum Yunani jaya, masyarakat lampau sudah berkesenian, setidaknya sosok patung mini Venus of Willendorf menunjukkan itu. Patung yang dipercaya masyarakat Skandinavia untuk menemani berburu dan berpindah tempat itu, adalah figur wanita berdada dan berpinggul terlalu berlebihan untuk ditemui di dunia nyata. Artinya, ada ide mendahului kenyataan dan tidak sesederhana penggabungan persepsi Humean. 

Soal bahasa tubuh, Freudian bisa saja berkata bahwa apa yang saya bicarakan tidak logis. Karena penjelasan Freud tentang bahasa tubuh terletak pada id yang sedang tertekan. Freud seolah lebih rasional karena menjelaskan kejadian nyata dari sesuatu yang berasal "dari dalam" (meskipun harus diakui tidak ada seorangpun yang pernah melihat psyche atau jiwa itu sendiri). Inilah problem yang tidak pernah usai, memandang yang "dari dalam" lebih masuk akal daripada yang "dari luar". Padahal keduanya sama-sama absurd dan merupakan kontroversi di seputaran istilah saja. Bahkan sampai saat ini saya sendiri masih bingung membedakan mana motivasi "dari dalam" dan mana motivasi "dari luar" karena keduanya jelas urusan bahasa saja!

Filsafat juga punya sifat demikian. Ia berusaha menangkap "yang tidak ada" lewat medium bahasa. Sama halnya dengan puisi, filsafat juga selalu mengembangkan bahasanya sendiri. Seolah makin kesini ia makin rindu. Misalnya, Nietzsche mengatakan soal transvaluasi nilai. Ia tidak mengatakan hal tersebut dengan ungkapan "perubahan nilai", walaupun artinya mirip-mirip. Ia juga tidak mau mengungkapkannya dengan "perubahan nilai yang lebih ekstrim", sehingga ia ciptakan suatu istilah yang baru yaitu "transvaluasi". Ini bukan berarti dunia semakin carut marut sehingga dibutuhkan pembahasan baru, melainkan dunia justru semakin "nyata" dan "menihilkan yang tidak nyata", sehingga agaknya bahasa perlu menelusup, membongkar, dan menyiasati dengan lebih cerdik bagaimana agar tetap intense with disclosure seperti kata Heidegger.

Jangan-jangan, baik "yang dalam" maupun "yang luar", keduanya terletak di invisible world yang keberadaannya selalu manusia rindukan. Silakan hancurkan seluruh sekolah, perguruan tinggi, masjid, kitab suci, laboratorium, sanggar seni, ataupun ruang-ruang diskusi. Dengan itupun, manusia tidak akan berhenti mencipta filsafat, sains, seni, dan agama, karena semuanya adalah cara masing-masing dalam mengungkap rindu terhadap "yang tidak ada". Bahkan kedigdayaan pikiran yang seolah paling sanggup "meniadakan yang tidak ada", ditentang oleh kelakar dari ahli bedah otak, "Sudah banyak otak aku bedah, tapi aku tidak menemukan satu pun pikiran."

Namun meskipun semuanya berbasis rasa rindu, ada hal-hal yang saya suka dari bagaimana para seniman dan filsuf menyikapi kerinduan tersebut. Agamawan seringkali menganggap "yang tidak ada" itu sebagai sesuatu "yang ada" misalnya dengan menganalogikan kebaikan Tuhan dengan kebaikan manusia, kejahatan setan dengan kejahatan manusia. Saintis menarik "yang tidak ada" menjadi "ada", tapi kemudian menihilkan "yang tidak ada" seolah lupa untuk berhutang budi. Sedangkan seniman dan filsuf berupaya mempertahankan "yang tidak ada" sebagai "yang tidak ada". Melihatnya sebagai entitas yang berdiri sendiri, digambar dan dibicarakan secara unik. 
Previous Post
Next Post

0 comments: