Jumat, 25 Mei 2012

Tempat Berteduh

Tempat Berteduh
Pernah ada suatu keinginan, agar kegiatan yang saya lakukan punya efek baik bagi sebanyak mungkin orang. Makin banyak yang hadir dan mengapresiasi, artinya makin berhasil cita-cita. Namun pemikiran yang demikian semakin luntur perlahan oleh sebab beberapa hal yang sebetulnya sepele. Misalnya di TVOne kemarin -diskusi Jakarta Lawyers Club-, saya melihat kelompok FPI begitu dominan, banyak, dan berkeyakinan tinggi. Bahkan secara kuantitas saya yakin mereka lebih banyak lagi di luar sana. Secara utilitarian, tentu saja ini menunjukkan Habib Rizieq lebih sukses daripada saya. 

Saya, apa yang saya lakukan? Mengurus komunitas musik klasik namanya KlabKlassik, aktif juga di Klab Filsafat Tobucil dan sekarang tengah getol mengelola garasi rumah sendiri untuk dipakai kegiatan seni, budaya, dan filsafat, namanya Garasi10. Giat, bolehlah, tapi jika dibanding FPI misalnya, secara kuantitas saya harus gigit jari. Setiap menyelenggarakan satu kegiatan, paling banyak lima belas orang yang hadir. Kalau misalnya tengah mengurusi konser, biasanya yang datang bisa sampai seratus hingga dua ratus. Tapi masih tetap yang semacam ini tidak punya nilai ketimbang orasi partai politik sekalipun. 

Nietzsche datang suatu hari menghibur saya. Bahwa yang dinamakan kawanan, massa, atau manusia yang bergerombol dalam jumlah banyak, selalu mesti diwaspadai. Mereka, dalam pandangan sang filsuf, adalah kumpulan makhluk tidak berpikir, atau bisa dikatakan kehilangan daya kritisnya. Memang iya, meleburkan diri dalam kerumunan selalu menimbulkan rasa nyaman tapi juga kemandegan pikiran. Hal tersebut yang membuat kekhawatiran berkurang: Jika saya berkonsentrasi mendatangkan sebanyak mungkin orang ke kegiatan saya, maka otomatis saya tengah menciptakan kerumunan! Justru ketika kerumunan itu terbentuk, tujuan-tujuan kegiatan yang saya lakukan menjadi kontradiktif. 

Saya juga semakin sadar, bahwa dunia di luar sana tidak pernah betul-betul beres. Selalu rumit, kompleks, dan khaos. Selalu menyediakan problem baru setiap satu masalah dicarikan solusinya. Maka itu kegiatan yang saya tekuni, meski cuma dihadiri sedikit orang, menjadi punya arti. Arti setidak-tidaknya sebagai tempat berteduh. Adalah utopia belaka jika ruang berkumpul yang kecil dijadikan tempat berteduh bagi terlalu banyak orang. Lebih baik sedikit tapi selalu menghadirkan kesejukan. Daripada basah kuyup, menjadi asing di luar sana.

Kadar keberhasilan sendiri bagi saya lambat laun berubah orientasi. Dulu kuantitas, sekarang kualitas. Tidak ada yang lebih bahagia daripada mengetahui seorang kawan yang tadinya lambat bicara, sekarang menjadi lantang untuk berekspresi. Tidak ada yang lebih bahagia daripada mengetahui rekan diskusi yang tadinya membenci dunia, sekarang menjadi sadar bahwa tidak semua sisi dunia adalah busuk adanya. 

Alangkah indahnya apa yang kemudian saya renungkan: Lebih baik lima orang yang hadir dengan pikiran yang mandiri, otentik, dan percaya diri, daripada seribu orang dalam kerumunan yang bahkan tidak tahu bagaimana menggunakan akal pikirannya.
 
Continue reading

Minggu, 20 Mei 2012

Echo of The Invisible World

Echo of The Invisible World
Pernahkah kita melihat dua insan bercakap-cakap -anggap saja mereka sepasang kekasih- lalu entah bagaimana kita mendengar suara denting piano melatari percakapan mereka? Atau kita dimarahi sang ibu dan mendadak ada bunyi perkusi melatari teriakannya seperti biasa terjadi di sinetron? 

Kalau memang iya, pastilah kejadian musikal dan insidennya berlangsung kebetulan bersamaan, seperti kita menyaksikan adegan perkelahian di tengah bar yang sedang memutar musik jazz. Kenyataannya: Kita tidak pernah mendengarkan musik keluar melatari percakapan atau kejadian apapun di dunia ini. Kemunculan musik, jika ditilik, tidak mengimitasi apapun dari dunia ini. Ia adalah echo of the invisible world seperti kata Giuseppe Mazzini.

Situasi obrolan seperti ini cocok menggunakan latar musik. Tapi dasarnya apa?
Gambar diambil dari sini.









Jenis kesenian lain, pada tingkat tertentu juga melakukan upaya “mengimitasi yang tidak ada”. Saya ingat cerita bapak, bahwa pelukis Affandi di masa mudanya melukis potret diri dengan mengimitasi mirip semirip-miripnya. Makin tua, Affandi melukis dirinya tidak lagi mirip melainkan semakin tidak berbentuk, semakin tidak mungkin dikenali bagi siapapun yang melihat lukisan bahwa yang di kanvas itu adalah Affandi tua. Demikian halnya semangat yang diusung para surealis atau abstrak ekspresionis seperti Salvador Dali atau Jackson Pollock: Hey, kalian melukis apa? Tidak mirip dengan sesuatupun di dunia ini! 

Pernahkah liat objek seperti ini di dunia sehari-hari kita?
Gambar diambil dari sini.

Not

Malam itu ia coba tirukan,
dengan bunyi senar gitar, tetes air
yang saling bertemu
di talang serambi.

Tapi yang terbentuk dari langit
hanya lagu.
‘Aku tak ingin lagu’,
katanya.

Tak seorang pun tahu apa yang ia inginkan. Mungkin sesuatu yang lepas,
not yang tak terkait dengan angin yang datang ke bubungan ketika hampir fajar.

‘Kau selalu menghendaki yang sulit’
– itu kesimpulan perempuan yang tidur
di sebelahnya
pada dinihari sebelumnya.

Ia mengangguk. ‘Aku selalu berdoa
kepada Tuhan yang tak sengaja’, sahutnya, ‘Tuhan yang sudah lama mati.’
Dan ia kembali memetik senar.

Menjelang matahari terbit,
di atas deretan gudang ia lihat langit memperlihatkan kilat sejenak.
Lampu-lampu menghalaunya.

Akan ada petir yang jatuh
pada penangkal di sebuah bukit, pikirnya,
jauh di pedalaman,
tak tahu ia tak akan hilang.

‘Bersama sebuah not’.

Goenawan Mohamad


Puisi juga demikian, ia adalah yang seperti dikatakan oleh Heidegger: ... dwelling house of being. Lewat perantara bahasa, puisi membuat sesuatu yang tidak ada menjadi ada. Pernah saya lontarkan pertanyaan pada mahasiswa: Adakah sesuatu yang tidak ada di dunia ini? Jawaban mereka beragam, ada yang Tuhan, ada yang cinta, ada yang setan, ada yang surga. Tapi mereka sekaligus mengadakannya ketika mengucapkan. Bahasa bukan berarti mengimitasi benda untuk diberi nama, melainkan memberikan rumah bagi yang tidak ada menjadi ada. Itu sebabnya ide-ide tentang roh, jiwa, setan, malaikat, Tuhan kerapkali abadi meskipun tidak ada satupun dari kita pernah melihat objeknya. Namun mereka harus diakui tetap ada, setidaknya kita terus menerus memberi naungan bagi mereka! 

Siapapun yang menjadikan seni lepas dari kehidupan sehari-hari, menjadi entitas mandiri, ia seyogianya bertanggungjawab. Saya melihat bahwa selama seseorang berupaya membumikan sesuatu yang tadinya metafisis, mengawang-awang, maka ia tengah berkesenian dalam derajat paling sederhana sekalipun. Agama misalnya, lewat teks-teks kitab suci, ia pastilah mengupayakan hal serupa. Agama menawarkan diri untuk melepas rasa rindu manusia terhadap invisible world via kata-kata. Tapi Al-Qur'an tahu kata-kata saja tidak cukup. Tidak mungkin menggunakan bahasa yang kaku seperti misalnya bahasa ala hukum dan undang-undang. Al-Qur'an lebih puitik, absurd, dan pada titik tertentu hanya bisa dipahami oleh rasa alih-alih logika. Pada singgungan seperti ini, bagaimana mungkin agama dan seni bisa menjadi sedemikian berbeda, padahal keduanya dihasilkan mula-mula dari rasa rindu (eros) manusia terhadap "dunia yang tidak ada" seperti kata Plato?

Bahasa tubuh. Menunjukkan bahwa bahasa lisan saja tidak cukup untuk menerjemahkan "yang tidak ada".
Gambar diambil dari sini.




Apa yang saya bicarakan boleh saja dituduh sebagai pseudosains, mengada-ada, ataupun tidak ada bukti konkritnya. Iya, saya, dan siapapun juga tidak sanggup membuktikan yang namanya dunia ide Plato ataupun dunia metafisik yang kerap diagungkan sekaligus dicela. Aristoteles menyebutkan bahwa yang namanya dunia ide adalah ilusi, yang kita abstraksi dari yang konkrit di dunia ini. Namun Aristoteles lupa bahwa sebelum Yunani jaya, masyarakat lampau sudah berkesenian, setidaknya sosok patung mini Venus of Willendorf menunjukkan itu. Patung yang dipercaya masyarakat Skandinavia untuk menemani berburu dan berpindah tempat itu, adalah figur wanita berdada dan berpinggul terlalu berlebihan untuk ditemui di dunia nyata. Artinya, ada ide mendahului kenyataan dan tidak sesederhana penggabungan persepsi Humean. 

Soal bahasa tubuh, Freudian bisa saja berkata bahwa apa yang saya bicarakan tidak logis. Karena penjelasan Freud tentang bahasa tubuh terletak pada id yang sedang tertekan. Freud seolah lebih rasional karena menjelaskan kejadian nyata dari sesuatu yang berasal "dari dalam" (meskipun harus diakui tidak ada seorangpun yang pernah melihat psyche atau jiwa itu sendiri). Inilah problem yang tidak pernah usai, memandang yang "dari dalam" lebih masuk akal daripada yang "dari luar". Padahal keduanya sama-sama absurd dan merupakan kontroversi di seputaran istilah saja. Bahkan sampai saat ini saya sendiri masih bingung membedakan mana motivasi "dari dalam" dan mana motivasi "dari luar" karena keduanya jelas urusan bahasa saja!

Filsafat juga punya sifat demikian. Ia berusaha menangkap "yang tidak ada" lewat medium bahasa. Sama halnya dengan puisi, filsafat juga selalu mengembangkan bahasanya sendiri. Seolah makin kesini ia makin rindu. Misalnya, Nietzsche mengatakan soal transvaluasi nilai. Ia tidak mengatakan hal tersebut dengan ungkapan "perubahan nilai", walaupun artinya mirip-mirip. Ia juga tidak mau mengungkapkannya dengan "perubahan nilai yang lebih ekstrim", sehingga ia ciptakan suatu istilah yang baru yaitu "transvaluasi". Ini bukan berarti dunia semakin carut marut sehingga dibutuhkan pembahasan baru, melainkan dunia justru semakin "nyata" dan "menihilkan yang tidak nyata", sehingga agaknya bahasa perlu menelusup, membongkar, dan menyiasati dengan lebih cerdik bagaimana agar tetap intense with disclosure seperti kata Heidegger.

Jangan-jangan, baik "yang dalam" maupun "yang luar", keduanya terletak di invisible world yang keberadaannya selalu manusia rindukan. Silakan hancurkan seluruh sekolah, perguruan tinggi, masjid, kitab suci, laboratorium, sanggar seni, ataupun ruang-ruang diskusi. Dengan itupun, manusia tidak akan berhenti mencipta filsafat, sains, seni, dan agama, karena semuanya adalah cara masing-masing dalam mengungkap rindu terhadap "yang tidak ada". Bahkan kedigdayaan pikiran yang seolah paling sanggup "meniadakan yang tidak ada", ditentang oleh kelakar dari ahli bedah otak, "Sudah banyak otak aku bedah, tapi aku tidak menemukan satu pun pikiran."

Namun meskipun semuanya berbasis rasa rindu, ada hal-hal yang saya suka dari bagaimana para seniman dan filsuf menyikapi kerinduan tersebut. Agamawan seringkali menganggap "yang tidak ada" itu sebagai sesuatu "yang ada" misalnya dengan menganalogikan kebaikan Tuhan dengan kebaikan manusia, kejahatan setan dengan kejahatan manusia. Saintis menarik "yang tidak ada" menjadi "ada", tapi kemudian menihilkan "yang tidak ada" seolah lupa untuk berhutang budi. Sedangkan seniman dan filsuf berupaya mempertahankan "yang tidak ada" sebagai "yang tidak ada". Melihatnya sebagai entitas yang berdiri sendiri, digambar dan dibicarakan secara unik. 
Continue reading

Sabtu, 05 Mei 2012

Piala Dunia dan Piala Eropa: Masih Asyikkah untuk Ditonton?

Piala Dunia dan Piala Eropa: Masih Asyikkah untuk Ditonton?
Tahun ini adalah tahun genap. Artinya, pasti berlangsung gelaran akbar sepakbola entah itu Piala Dunia atau Piala Eropa. Kebetulan 2012 ini adalah tahunnya Piala Eropa yang akan digelar di Polandia dan Ukraina Juni nanti. Gelaran akbar yang menghadirkan pertandingan antar negara tersebut selalu saja dinanti sekaligus juga didramatisasi. Mari kita bandingkan dengan gelaran liga yang nyaris setiap minggunya kita konsumsi: Sebetulnya, mana yang lebih bergizi?

Katanya, menonton pertandingan tim nasional adalah lebih asyik, karena isinya adalah kombinasi bintang-bintang lokal yang tampil keren. Bayangkan posisi kiper Barcelona yang relatif lemah, kemudian bisa dikombinasikan dengan kiper Real Madrid, Casillas, sehingga saling menambal. Yang demikian hanya bisa terjadi di tim nasional, ketika Real Madrid dan Barcelona bisa dipersatukan oleh orang-orang dengan kewarganegaraan yang sama. Pun bayangkan ketika City, United, Arsenal, Chelsea, Tottenham, dan Liverpool dengan segala dinamika rivalitasnya di Premier League, tiba-tiba mereka bersatu di Piala Eropa membela panji Three Lions.

Namun coba nikmati secara objektif penampilan klub-klub di liga, bagaimana mereka berjibaku dengan program latihan, putar otak di bursa transfer, konsistensi mental dan fisik di pertandingan yang seringkali dua kali seminggu, mana sebetulnya yang bisa kita sebut sebagai kemenangan sejati di akhir cerita? Tim nasional biasanya cuma punya persiapan dua minggu sebelum even dimulai. Sang pelatih meramu taktik dengan adaptasi yang kelewat buru-buru. Bahkan pelatih Spanyol seperti Vicente del Bosque diuntungkan dengan sebagian besar pemainnya yang berasal dari Barcelona, sehingga tinggal meneruskan strategi tiki-taka saja. 

Artinya, penampilan timnas tidak sama dengan kombinasi bintang-bintang dan kemudian sama dengan keutuhan permainan. Justru tidak jarang di timnas kita saksikan banyak permainan yang menjadi kurang kompak dan turun nilai estetiknya. Perhatikan saja penampilan Lionel Messi di Argentina. Meskipun ia tampil dengan bintang-bintang seperti Aguero, Tevez, dan Higuain, ia seperti tersesat karena kehilangan teman main masa kecilnya yakni Iniesta, Xavi, ataupun Puyol. Banyak juga pemain-pemain yang di klub begitu gemilang namun menjadi kehilangan taji di tim nasional seperti Cristiano Ronaldo ataupun Wayne Rooney.

Saya menjadi agak curiga, bahwa kegemaran orang akan Piala Dunia dan Piala Eropa sebenarnya adalah soal patriotisme. Ada gengsi antar negara di sana. Namun kita juga sekaligus tahu, seiring dengan Era Romantik yang sudah semakin jauh menjadi sejarah di belakang, isu patriotisme menjadi dipertanyakan. Apa itu negara? Masih berhargakah negara untuk dibela? Tidakkah dunia hari ini justru memungkinkan orang untuk melampaui batas-batas negara? 

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu justru dengan sangat baik sudah dijawab oleh klub-klub dan liga tempat mereka bernaung. Isi pemainnya sudah melebur, tidak seketat dulu dalam mempertimbangkan paspor. Arsene Wenger adalah contoh betapa ia tidak peduli dengan warganegara selama pemain itu bagus mengapa tidak? Gaya Wenger tersebut sudah semakin jamak ditemukan dan barangkali hanya beberapa klub saja yang masih mempertahankan asal-usul misalnya Athletic Bilbao. Wenger bahkan orang yang termasuk berang jika pemainnya "dipinjam" timnas lalu pulang dalam kondisi cedera. Ia merasa tidak adil, karena timnas meminjam pemain yang sudah susah payah dibesarkannya.

Namun maksud saya menuliskan semua ini bukan dalam rangka mengajak pemirsa untuk tidak bergairah pada Piala Dunia dan Piala Eropa. Sepakbola rasa-rasanya tidak bisa dianalisa sesederhana itu karena saya percaya bahwa sepakbola mengandung magi, mengandung sihir yang sulit ditangkal! Saya cuma menyadarkan adanya zeitgeist (semangat jaman) yang justru semakin bersesuaian dengan gairah klub-klub di liga-liga. Dunia hari ini mengajarkan kita tentang semakin tidak pentingnya batas-batas teritori. Namun dengan demikian, justru yang dinilai adalah murni kemampuan objektif si pemain. Tidak penting dia pemain Afrika atau Asia, selama punya andil dalam memperkuat tim. Meskipun ekses negatifnya, yang menjadi kuasa berikutnya adalah uang. 

Selain itu, saya juga memberikan ucapan selamat agak sinis bagi tim nasional yang berlaga di Piala Dunia maupun Eropa. Tidakkah mereka berisikan pemain-pemain yang sudah kelelahan menjalani lebih dari empat puluh pertandingan di liga? Tidakkah mereka berisikan pemain-pemain yang mengabdi pada sesuatu yang riil semisal uang, ketimbang ideologi abstrak yang tidak laku lagi bernama negara? Sekali lagi, kesinisan tersebut tidak menghilangkan penilaian positif saya akan Piala Dunia dan Eropa. Konsep negara kadang perlu untuk mempersatukan, membuat kawanan manusia secara imajiner merasakan perasaan satu dengan yang lainnya.


Continue reading

Rabu, 02 Mei 2012

Pak Sukanda

Pak Sukanda
Waktu SMA dulu, kami punya guru pelajaran PPKn namanya Pak Sukanda. Di kelas, ia mengajar dengan metode yang bagi kami saat itu terbilang tidak lazim. Ia mendominasi jam pelajarannya dengan bercerita dan bercerita. Seringkali apa yang diceritakan tidak ada relevansinya sama sekali dengan bab yang ada di buku. Saya tidak banyak ingat apa yang Pak Sukanda pernah bicarakan kala itu, pasti disebabkan oleh tingkat pemahaman yang belum sampai. Namun ada satu hal yang tidak pernah saya lupakan hingga hari ini, yaitu kebiasaan beliau memberikan nilai ulangan bagus secara mudah!

Mudah disini bukan karena soal-soalnya yang mudah. Tapi karena ada satu persyaratan ganjil yang terlampau mudah untuk dilaksanakan: Barangsiapa yang bisa menuliskan nama dirinya di kolom nama, ia langsung mendapat nilai tujuh puluh. Apa yang bisa keliru dengan itu? Semua murid pastilah bisa menulis nama diri, bahkan dalam keadaan sakit panas sekalipun. Kemudahan semacam itu tentu saja membuat reaksi terhadap Pak Sukanda menjadi beragam, ada yang senang, ada yang juga jadi menggampangkan. Katanya, asal tulis nama, maka mengerjakan asal-asalan pun tidak apa-apa.

Belakangan saya mencoba mengingat-ingat alasan mengapa Pak Sukanda mau bermurah hati seperti itu. Yang saya ingat cuma kata identitas, identitas. Semacam betapa pentingnya kenal identitas diri, ingat nama sendiri. Sedemikian penting sehingga identitas itu menjadi lebih dari separuh nilai ulangan. Seakan lebih esensial dari soal-soalnya. Saya bergidik ketika samar-samar mulai paham: Masa SMA itu adalah sekitar sembilan atau sepuluh tahun yang lalu, sekarang ini apakah saya masih yakin dengan identitas diri?

Identitas diri adalah ilusi, ia rasa-rasanya berasal dari lingkungan dan kekuasaan. Nama adalah pemberian, memang kita bisa memilihnya di waktu dewasa, tapi pertanyaan berikutnya, tidakkah nama itu menjadi absah ketika mendapat pengakuan? Mendapat panggilan dari yang lain? Pun status sosial, jabatan, gelar, KTP, SIM, dan lain-lain itu bukanlah pilihan-pilihan sadar kita. Identitas diri tersebut diberikan lingkungan bagi kita, membentuk ilusi besar yang kita rasakan sebagai "diri kita yang sejati dan utuh". 

Menurut Rocky Gerung, ia pesimis bahwa ada yang dinamakan identitas diri. "Identitas diri yang final," katanya, "Hanya ada pada orang mati." Dengan demikian selama manusia hidup, ia terus menerus mengalami perubahan identitas. Bahkan dalam diri kita pun sadar betul bahwa apa yang dinamakan "diri" kita hari ini begitu berbeda dengan hari-hari belakangan. Lama kelamaan bahkan kita bisa membelah identitas diri kita tergantung untuk keperluan apa.

Pada titik inilah sungguh saya memahami Pak Sukanda dengan haru. Rupanya dari segala identitas yang berubah-ubah dan tidak stabil itu, ada satu yang paling keras dan fundamental, yaitu nama. Nama merupakan pembeda pertama, seperti kata Saussure. Nama Syarif menjadikan saya adalah bukan Budi, Anto, dan Arief. Nama Syarif Maulana menjadikan saya adalah bukan Syarif Hidayatullah ataupun Elsa Syarif. Ketika diri menyadari mula-mula bahwa nama membedakan saya dengan yang lain, maka itu adalah titik berangkat menuju identitas-identitas yang lain. Bukankah dalam gelar, SIM, KTP, dsb juga terkandung nama? Dan tujuannya pun sama, agar berbeda satu sama lain. Karena dalam keberbadaan terkandung juga data-data yang berbeda.

Meskipun ilusif, tapi perlu diakui bahwa identifikasi diri adalah berangkat dari kenyataan bahwa kita unik dan berbeda dari yang lain. Keberbedaan itu baru niscaya ketika kita mengetahui nama-nama. Dengan tahu nama, kita jadi tahu apa-apa saja yang melekat pada nama tersebut. Ini sudah diingatkan, dari jauh hari, oleh Pak Sukanda. Beliau seolah mau mengatakan: Sebingung apapun kalian, anak-anakku, pada identitas diri, segera ingatlah nama, dari sana kamu akan mendapati siapa kamu.
Continue reading