Tuesday, April 17, 2012

Eyes Wide Shut (1999): Absurditas Seksual untuk Melawan yang Normal



Sebelum menonton film tersebut, saya beberapa kali mendengarkan komentar miring bahwa Eyes Wide Shut adalah film Stanley Kubrick yang paling biasa-biasa saja. Perbandingannya tentu saja dengan magnum opus semisal 2001: A Space Odyssey, Clockwork Orange, atau Full Metal Jacket. Namun setelah menontonnya, saya tidak sependapat. Karya terakhir Kubrick itu juga magnum opus!

Film yang diperankan oleh Tom Cruise dan Nicole Kidman itu menceritakan tentang pasangan yang segalanya serba normal dan baik-baik saja. Bill Harford dan Alice adalah suami istri beranak satu dengan kehidupan cukup mapan. Sampai suatu hari, ketika keduanya tengah mengisap ganja bersama, tiba-tiba mengalir fantasi seksual masa lampau dari Alice dengan seorang pria berseragam angkatan laut. Bill agaknya kaget dengan pengakuan ini. Ia pikir kehidupannya terlalu normal untuk dibumbui pikiran-pikiran banal seperti yang diungkap istrinya.

Cerita selanjutnya adalah perjalanan Bill ke ruang-ruang hasratnya. Meski tidak sempat melampiaskan secara seksual, namun Bill yang terdorong fantasi istrinya, kemudian berupaya menggali hasrat terdalamnya. Bahwa saya juga berhak mempunyai fantasi versi pribadi. Setelah hampir bercinta dengan WTS, Bill datang ke tempat dimana orang-orang bertelanjang dan hanya memakai topeng. Bill menyaksikan ada semacam upacara religius yang dipimpin “pendeta” sebelum orgy diantara mereka dimulai.

Film yang masuk Guinness World Record karena lama syuting yang mencapai empat ratus hari tersebut, memang secara stereotip Hollywood, kurang lazim. Temponya lambat, ending-nya menyisakan keanehan, musiknya dominan mencekam, dan tidak segan-segan menampilkan ketelanjangan plus adegan seksual secara terang-terangan (adegan orgy ditampilkan apa adanya!). Namun jika dihadapkan pada pemirsa yang sudah biasa dengan gaya Kubrick, maka tidak akan terlalu kaget. Terlebih film-filmnya memang akrab dengan scene-scene yang “mengganggu”.

Yang menarik dari Eyes Wide Shut adalah bagaimana fantasi seksual dipelihara sebagai pemberontakan atas superego normalitas yang melanda pasangan modern itu. Agaknya mesti dicurigai, ketika segala serba mapan dan terprediksi, maka keabsurdan yang tersisa barangkali tinggal soal seks. Dalam seksualitas, ada ruang-ruang yang tidak pernah tabu untuk dieksplorasi oleh imaji pribadi. Dalam individu yang tunduk seperti pembantu rumah tangga sekalipun, barangkali ia punya magma fantasi seksual yang dahsyat jika digali. Orgy dan pria berseragam agaknya merupakan dua objek seksual yang menjadi idaman hasrat terdalam Bill dan Alice.

Industri pornografi rupanya salah satu yang pandai mencium fantasi-fantasi seksual yang bertebaran di benak orang-orang. Orgy dan pria berseragam bukan barang baru. Ada juga tema percintaan guru-murid, suster-dokter, dokter-pasien, pilot-pramugari, hingga antar-tetangga. Hanya disebabkan oleh etika normalitas saja rupanya seksualitas tidak terjadi. Hasrat yang menggelora antara dua insan tertahan oleh misalnya, kode etik dokter. Namun hasrat yang demikian bukannya hilang sama sekali. Ia terpendam bagaikan gunung es. Di lapisan paling dasar, gelap, namun besar. Seketika ia bisa dipancing keluar ketika normalitas sudah terlalu memenjara.

Previous Post
Next Post

2 comments:

  1. bang, saya agak bingung dengan makna 'banal' di tulisan abang. kalau menurut konteks tulisan abang, saya memaknai banal itu menjadi hal-hal di luar normal, atau abnormal, atau tidak normatif. tapi menurut kamus, arti banal itu adalah hal-hal yang boring dan ordinary.

    ReplyDelete
  2. terima kasih komentarnya. Memang ada beberapa pengertian. Dalam KBBI sendiri kedua-duanya benar: Banal sebagai tidak elok dan banal sebagai biasa sekali.

    ReplyDelete