Senin, 30 April 2012

Dari Cipularang Menegur Marx

Dari Cipularang Menegur Marx

Saya merasa bahwa May Day ini momen yang tepat untuk memaparkan sekaligus memaknai kejadian aneh yang saya alami tanggal 27 Januari lalu. Tanpa firasat apa pun, saya berangkat ke Jakarta untuk menghadiri technical meeting pra-nikah. Pergi jam tujuh dengan harapan jam sepuluh bisa rendezvous di kawasan Pancoran. Masuk pukul sembilan, tibalah momen itu, ketika mobil-mobil berhenti total di jalan tol. Saya melihat papan kilometer di pembatas jalan, tertulis KM 31. Tanda tersebut setidaknya menunjukkan posisi saya yang masih jauh dari pintu tol, sehingga  keberhentian ini pastilah disebabkan oleh sesuatu yang kurang lazim.


Yang menghambat saya, dan kami, mobil-mobil lainnya, adalah demonstrasi buruh. Demo ini termasuk spektakuler karena para buruh melakukan blokade besar di jalan tol Cipularang yang barangkali termasuk paling vital dalam urusan transportasi. Saya kira-kira hanya berjarak sepuluh mobil dari blokade. Artinya, lebih cepat lima atau sepuluh detik saja, mungkin saya akan sukses melampaui. Berikutnya adalah momen menanti dan menanti kapan blokade proletariat ini dibuka. Saya memanfaatkan waktu tunggu tersebut untuk mendekat, melihat seperti apa buruh menyuarakan tuntutannya. Total sepuluh jam lamanya kami tersandera.

Sepuluh jam itu, meski cukup melelahkan dan tidak dapat dipungkiri, menimbulkan rasa lapar yang sangat, saya memperoleh banyak pengalaman. Selain demo buruh, saya juga menyaksikan Muhaimin, menteri tenaga kerja, diturunkan via helikopter di tengah jalan tol! Saya juga menyaksikan polwan cantik dari sebuah stasiun televisi yang sengaja meliput, plus solat Jumat berjamaah dari para buruh yang persis menjadikan jalan tol sebagai tempat sujudnya.


Ini menjadikan juga semacam renungan. Bukan tidak mungkin, dan bahkan hampir dapat dipastikan, pemikiran-pemikiran Marx mempunyai andil dalam memberikan kesadaran bagi para buruh untuk melawan ketika ditindas para pemilik modal. Bahkan gara-gara Marx lah, filsafat menemukan wilayah praksisnya, yaitu untuk merubah, memberi perlawanan, memberikan fundamen bagi perjuangan kelas. Marx, bagaimanapun, menjadi pemikir pertama yang mencurahkan pikirannya untuk melegitimasi kekuatan kaum buruh, disertai metode sangat mendetail bagaimana caranya buruh bisa keluar dari kesulitan bahkan menguasai balik dan memerintah. Lebih jauh, Marx mengatakan bahwa ketika proletariat dimanapun sudah berkuasa, maka negara-negara tidak diperlukan lagi. Boleh dihapuskan.

Tulisan ini bukan hendak memaparkan pemikiran Marx. Namun justru mau mempertanyakan sejauh mana pemikiran Marx masih relevan. Karena kondisi dunia hari ini sudah sedemikian mengalami perubahan jauh dibanding ketika Marx dulu hidup ratusan tahun lalu. Memang kemudian ada pemikir-pemikir pembaharu Marx (Neo-Marxis) yang menyadari bahwa sangat penting untuk menyesuaikan kembali pemikiran Marx dengan situasi yang lebih kontemporer. Namun agaknya saya juga tidak tertarik untuk membahas Neo-Marxis disini, saya cuma berupaya melakukan refleksi dari pengalaman pribadi kemarin:

  1. Kapitalisme sukses memecah buruh menjadi beragam dan berjarak satu sama lainnya. Misalnya, ada middle management yang kebingungan berada di tengah-tengah: Ia berada diantara bos dan anak buah. Ini menyulitkan posisinya dan juga menghambat para buruh untuk bersatu. Middle management pada hakikatnya juga buruh karena mereka bukan pemilik modal. Tapi kita sama-sama bisa membayangkan bahwa ia tidak akan sanggup berada di jalan tol bersama lautan massa karena ia sendiri tidak punya semacam kekecewaan yang sama pada para kapitalis. Hal semacam ini agaknya kurang diantisipasi Marx karena ia hanya menyatakan borjuis dan proletar adalah dua arus besar pertentangan kelas sepanjang sejarah. Ia lupa bahwa masyarakat hari ini punya lebih banyak diantaranya: Bukan borjuis, bukan proletar.
  2. Kapitalisme sukses mematahkan nilai-nilai heroisme perjuangan kaum proletar. Melihatnya semata-mata sebagai kerusuhan alih-alih pengubah nilai-nilai fundamental. Ini pengaruh media, tentu saja, yang barangkali di era Marx belum sedemikian canggih. Media ini membentuk mindset khas kelas menengah: “Daripada demo mending kita lakukan aja yang kita bisa.” Biasanya media memberi kesan lebih tebal pada pemblokiran jalan daripada menelusuri darimana sebab-musabab demonstrasi tersebut. Kawan saya, Pirhot, mengatakan bahwa kelas menengah kerapkali lupa bahwa mereka menikmati juga apa yang sudah proletar perjuangkan lewat demo-demonya.
  3. Agaknya menjadi miris, ketika pemimpin demonstrasi menyuarakan tuntutannya secara heroik, beberapa kelompok buruh malah berfoto-foto dengan polwan. Ini menunjukkan keterpecahan internal yang dimungkinkan oleh kurangnya intelegensia atau kurang tertanamnya dasar-dasar ideologis. Jika banyak buruh berdemonstrasi oleh sebab alasan ikut-ikutan, maka jangan heran distraksi semacam polwan tadi bisa memecah buruh dengan mudah saja.
  4. Agama menjadi salah satu sorotan Marx, disebutnya sebagai candu yang bisa melemahkan kesadaran manusia akan ketertindasan dirinya. Ini menjadi perlu dipertanyakan justru ketika agama menjadi vitalitas yang mempersatukan. Solat Jumat bersama di jalan tol menjadi tambahan tenaga dan perekat solidaritas diantara mereka. Di Indonesia, pada umumnya, agama justru menjadi suatu elemen yang menghilangkan sekat-sekat, dan sangat cocok dijadikan doping untuk melawan sesuatu.
Pernyataan-pernyataan tersebut tiada maksud untuk mengritisi Marx yang pengaruh pemikirannya sudah sedemikian mengagumkan bagi dunia. Namun ketika saya melihat secara langsung proses demonstrasi dari jarak yang cukup, saya melihat beberapa lubang yang sepertinya mesti dijahit agar tidak tambah menganga. Bagi saya pribadi, pemikiran Marx masih penting dan harus selalu penting. Agar apa? Semata-mata agar kapitalisme duduk tidak nyaman di singgasana kekuasaannya. Ia harus sering diingatkan untuk minum obat agar tidak lupa siapa gerangan yang menjadikan dirinya kokoh di puncak sistem hari ini.

Selamat Hari Buruh Sedunia.
   
Continue reading

Minggu, 22 April 2012

Ultras dan Fundamentalisme

Ultras dan Fundamentalisme
Kapten Genoa, Marco Rossi, mengumpulkan kaos rekan-rekan satu timnya yang diminta dilepas oleh Ultras.
Saya tidak pernah betul-betul memperhatikan gerak-gerik Ultras, sampai kemarin mendengar berita tentang pergerakannya di Stadion Luigi Ferraris, markas Genoa. Akibat tertinggal 0-4 dari Siena, Ultras mengamuk dan memaksa para pemain Genoa melepas kaosnya. Alasannya, mereka tak pantas memakai kaos tersebut setelah permainannya dicap terlalu buruk. Walhasil, satu per satu pemain mencopot kaosnya, beberapa diantaranya menangis karena merasa menyesal maupun terhina. 

Tifo. Karya khas dari Ultras.
Ultras dikategorikan sebagai kelompok pendukung sepakbola yang fanatik. Fanatiknya seperti apa, ada beberapa ciri. Selain akrab dengan barang bawaan seperti flare atau obor, mereka kerap membuat tifo, semacam rangkaian kertas yang dipegang oleh masing-masing suporter, tapi jika dilihat dari kejauhan bisa berupa gambar atau tulisan yang  besar. Tidak semua Ultras menggunakan kaos atau merchandise tim kesayangannya. Itu bukan hal yang paling esensial dari Ultras. Yang terpenting adalah semangat mendukung yang keras, bernyanyi sembilan puluh menit lamanya, memberi spirit agar tim kesayangannya memenangkan pertandingan. Satu ciri yang cukup penting lainnya dari Ultras, adalah posisi duduknya yang biasa di wilayah "lekuk" dari stadion atau biasa disebut curva.  

Sisi lekuk dari Stadion Olimpico yang ditempati Ultras klub Lazio. 

Fenomena Ultras tidak hanya terjadi di wilayah Eropa sebagai salah satu kiblat sepakbola. Di kiblat lainnya, Amerika Latin juga ada dengan nama Barra Brava. Lebih jauh lagi, Indonesia juga punya, Bandung juga punya. Sejatinya, hampir semua tim sepakbola punya pendukung fanatiknya yang paling keras. Kekerasan ini tentu saja mengandung dua sisi, yang pertama memberi semangat itu pasti. Namun sisi lainnya adalah yang kemudian dialami para pemain Genoa, Ultras mengambil kendali atas sepakbola itu sendiri. Tidak hanya memberi dukungan, Ultras kemudian merasa berhak menghakimi pemain dan mempermalukannya.

Perilaku ala Ultras bukanlah melulu ada di sepakbola, yang seperti ini terjadi dalam sendi kehidupan kita dimanapun itu. Selalu ada kelompok yang merespon perbedaan dengan cara membuatnya jadi satu, atau mengeliminasinya sekalian. Basis pemikiran ala Ultras bisa macam-macam: Boleh jadi akibat kecemasan, boleh jadi akibat romantisme masa silam, boleh jadi akibat ketidakpercayadirian dalam menyikapi perubahan. 

Agama tentu saja adalah contoh terbaik dimana sikap-sikap ala Ultras sering muncul. Kelompok macam itu biasa disebut para fundamentalis. Ini adalah kelompok yang berpegangan pada dahan pohon tua sementara arus kehidupan sudah sedemikian deras dan sulit lagi diikuti. Dahan pohon tua itu adalah romantisme masa silam. Melihat masa lalu sebagai hal yang paling ideal untuk dikonstruksi ulang di masa kini. Islam misalnya, kerap menyinggung zaman Nabi Muhammad sebagai era keemasan, ditambah lagi Era Abad Pertengahan dengan kegemilangan saintis macam Ibnu Sina, Al-Kindi dan Ibnu Rusyd. Seringnya, kelompok seperti ini menutup mata terhadap kecepatan dunia kontemporer yang "tak tertahankan lagi". Efeknya justru kontradiktif, mengkafirkan Barat dan Yahudi misalnya, tapi memakai produk-produknya. Ini adalah sebagaimana Ultras Genoa: Mendukung tapi kemudian mencela.

Sikap macam Ultras adalah sikap praktis dan seringkali politis. Yang terpenting adalah tujuannya tercapai, apa yang menghalangi tujuannya, dianggap mesti disingkirkan. Tim sepakbola dukungannya harus menang meskipun lawan tampil lebih bagus dan lebih layak menang. Dalam Ultras tidak ada objektivitas antara dua kubu, karena pendapatnya satu: Milik dirinya lebih baik dan harus paling layak untuk menang. Perbedaan adalah gangguan, atau merupakan sarana untuk ditaklukkan. Perbedaan bukan rahmat atau bahkan sesuatu yang bisa diambil manfaat. Bagi seorang Ultras, cederanya pemain lawan bisa jadi berkah, bukan melihatnya sebagai manusia yang tengah kesakitan. Pun demikian dalam agama, ketika kematian seseorang yang berbeda pendapat dianggap sebuah kebaikan!

Sikap Ultras agaknya menjadi bahaya ketika dialog tidak lagi mempan. Kasus yang saya alami sendiri ketika berdebat dengan seorang Ultras (agama), adalah ia tidak mau menerima kenyataan tentang konsep-konsepnya juga mempunyai kelemahan. Pendukung fanatik tersebut berpikir bahwa jika orang-orang tertentu yang memeluk agama Islam berbuat salah, maka kesalahan itu ada pada orangnya, bukan konsep agamanya. Sebaliknya, ia menuduh bahwa jika orang Kristiani berbuat kesalahan, maka itu adalah akibat konsep agamanya, bukan orangnya. Sama seperti: Barcelona dituduh curang karena gol Abidal ke gawang Casillas adalah offside, tapi menolak mengakui bahwa gol Khedira ke gawang Victor Valdes adalah juga offside.

Namun ketika fenomena Ultras harus diakui terjadi di seluruh sendi-sendi kehidupan tak hanya agama, tapi juga filsafat, sains, dan seni, pada titik ini kita mesti berterimakasih pada sepakbola. Hanya dalam sepakbola, fenomena Ultras menyuguhkan tak hanya kekerasan, tapi juga spirit dan keindahan. Tuhan menciptakan sepakbola karena cuma dalam tempat itu fanatisme diperbolehkan.


Continue reading

Rabu, 18 April 2012

Kota dan Alienasi

Kota dan Alienasi
"Alienation Nightmare" karya Sabu (1996). Diambil dari sini.

Mari kita langsung pada pokok persoalan: Apa itu alienasi? Mengapa penduduk kota banyak yang mengalami alienasi? Alienasi, sebagaimana sering disinggung Marx, adalah keadaan dimana seseorang terasing baik dengan lingkungannya maupun dengan dirinya sendiri. Kata Marx, ini merupakan keadaan yang sering diterima para buruh. Tekanan kapitalisme menyebabkan mereka hanya menjadi objek. Bekerja dan bekerja sebagaimana mesin-mesin pabrik yang tak tahu bagaimana memberi makna. Singkatnya, manusia yang teralienasi mengalami kegagalan dalam berafeksi, mengisi diri, dan menghayati “yang sublim”-spiritual. Shalat bisa saja dilakukan secara rutin, namun belum tentu yang demikian membawa kita pada kedalaman batin. Shalat, jika tidak direnungkan, dapat menjadikan seseorang teralienasi juga.

Namun shalat agaknya diarahkan pada mulanya justru untuk menghindari alienasi. Ketika seseorang tenggelam dalam padatnya rutinitas, agama menyediakan sarana untuk mengambil jarak dan beristirahat. Meski pamor agama turun naik, namun manusia kerapkali mencari cara untuk memenuhi dirinya di tengah kesibukan. Misalnya dengan jalan-jalan ke mal, pergi ke gedung konser, membaca, menulis, atau apapun yang sekiranya bersentuhan dengan perasaan. Cara-cara yang demikian adalah bentuk menghindari alienasi, bisa dengan agama juga dengan non-agama.

Kenapa alienasi menjadi penyakit kebanyakan orang kota? Saya pribadi tidak banyak main ke desa-desa untuk membandingkan, tapi agaknya lewat pengalaman hidup di perkotaan, memang mudah untuk diamati orang-orang yang teralienasi ini. Ada beberapa ciri yang bisa diurai, yang semuanya murni berdasarkan observasi:

1. Menjalani kegiatan secara berulang-ulang. Hal tersebut bisa dibilang sebuah konsistensi jika dijalankan dengan afeksi. Sayangnya, kegiatan pengulangan tersebut dijalani dengan wajah masam. Artinya, ada kepahitan. Namun apa daya, oleh sebab mitos bahagia yang sudah dirumuskan secara konstruktif (sukses, kaya, rumah, mobil), maka kegiatan berulang itu toh tetap juga dijalani.

2. Menganggap kehidupan sosial sebagai objek instrumental semata. Berteman jika perlu, jika bisa menjadi sarana untuk tujuan tertentu. Namun bukan berarti pergaulan massal menjadi terabaikan. Ada pergaulan massal namun terbatas pada jejaring sosial. Karena beramah tamah di jejaring sosial tak mesti susah payah. Suka tinggal like, benci tinggal remove.

3. Oleh sebab mitos kebahagiaan yang sudah dikonstruksi oleh media, maka waktu dan uang menjadi sentral. Waktu sentral karena menjadi tempat, wadah, untuk mencari uang. Uang sentral karena dianggap sanggup memenuhi kebutuhan manusia itu sendiri. Cukup wajar jika uang jadi sentral pemenuhan kebutuhan badani, tapi menjadi janggal ketika uang dipercaya sanggup mengisi rohani.

4. Agama menjadi citra. Ketika agama mestinya jadi penyelamat karena mengisi kekosongan, justru diubah menjadi gaya hidup seolah menunjukkan bahwa aku ini manusia lengkap. Kerja iya, shalat iya. Citra hidup seimbang menjadi favorit. Nampak seperti selamat dunia-akhirat. Masalahnya, belum tentu spiritualitas mengiringi gaya hidup seperti itu. Seperti kebanyakan pejabat korup. Mereka bekerja, mereka juga sembahyang. Naik haji malah.

Ciri tersebut tentu saja tidak semua. Masih ada beberapa, kendati pun yang di atas juga bisa diperdebatkan. Namun yang terpenting bukan saja mengurai ciri-ciri alienasi, tapi membongkar penyebab-penyebab yang mungkin:

1. Uang menjadi alat tukar universal. Memang jadinya bukan sekedar mitos, tapi menjadi semacam logos. Kenapa seseorang kerap berambisi mengejar uang? Karena uang menjadikan seseorang sanggup self-service. Mau makan, beli. Mau tidur, beli. Mau seks, beli. Mau senang, beli. Mau soleh, beli. Ketika uang cukup, maka teman tak perlu lagi. Orang lain menjadi neraka, kalau kata Sartre.

2. Teknologi. Kata Neil Postman, hubungan manusia dan teknologi adalah hubungan Faustian. Sebagaimana Faust yang menjual jiwanya pada iblis, maka manusia juga menjual jiwanya pada teknologi. Teknologi semakin memanusia, sebaliknya manusia semakin seperti mesin. Contoh paling sederhana adalah bagaimana percakapan via BBM atau whatsapp mempunyai emoticon semakin beragam untuk mewakili mimik wajah manusia yang juga beragam.

3. Lebih sempit, jejaring sosial agaknya menjadi faktor krusial penyebab alienasi kontemporer. Orang-orang menjadi merumuskan dirinya berdasarkan apa yang ingin dilihat oleh pengguna lain. Yang seperti ini bukanlah fenomena baru, sudah sedari dulu, misalnya Kaisar Augustus, ingin dirinya dipandang sebagai seimbang antara pro-moderat maupun pro-konservatif. Namun dengan jejaring ini, difasilitasinya semua orang untuk hidup di dua dunia. Terkadang kita alami seseorang di jejaring sosial demikian digdaya, tapi kala jumpa ternyata sama sekali tak sanggup bicara.

4. Mitos masa depan yang terprediksi. Ketepatan waktu, asuransi, deposito, dan segala yang menjamin masa depan, sebetulnya baik dan menenangkan. Namun di sisi lain, itulah titik dimana manusia kadang menjadi kehilangan spiritualitas. Agaknya masyarakat lampau begitu sadar akan ketidaksanggupannya memprediksi, sehingga menyerahkan nasib pada ilahi. Ketika segalanya sedemikian presisi, maka hidup menjadi tidak punya greget. Ini titik transisi manusia menjadi mesin.

Namun meski saya mencoba menguraikan ciri-ciri beserta penyebab, toh saya tetap mengakui bahwa alienasi adalah semacam ”konsekuensi logis yang tidak terhindarkan dari semangat kemajuan”. Dalam kacamata Camus, manusia modern baru sanggup tersadarkan akan sekitar, ketika mempunyai tujuan bersama. Tujuan bersama itu bukannya hal-hal sepele, melainkan bisa jadi perang ataupun bencana. Camus menganalogikannya dengan bencana sampar yang menyerang sebuah kota.

Itu sebabnya mengapa Iqbal berkata, ”Bencana adalah penting, agar manusia bisa melihat keseluruhan kehidupan.” Bencana yang dimaksud Iqbal bisa kita tarik ke skala lebih mikro. Hanya disebabkan oleh kecelakaan kecil, semisal kerusakan BB kita, maka kita tersadar bahwa BB tak lebih dari seonggok benda sebagaimana batu-batu di jalanan. Inilah yang dimaksud Heidegger: Manusia menyadari diri ketika alat-alat mengalami gangguan. Itulah katanya, momen kembalinya manusia.
Continue reading

Selasa, 17 April 2012

Eyes Wide Shut (1999): Banalitas Seksual untuk Melawan yang Normal

Eyes Wide Shut (1999): Banalitas Seksual untuk Melawan yang Normal



Sebelum menonton film tersebut, saya beberapa kali mendengarkan komentar miring bahwa Eyes Wide Shut adalah film Stanley Kubrick yang paling biasa-biasa saja. Perbandingannya tentu saja dengan magnum opus semisal 2001: A Space Odyssey, Clockwork Orange, atau Full Metal Jacket. Namun setelah menontonnya, saya tidak sependapat. Karya terakhir Kubrick itu juga magnum opus!

Film yang diperankan oleh Tom Cruise dan Nicole Kidman itu menceritakan tentang pasangan yang segalanya serba normal dan baik-baik saja. Bill Harford dan Alice adalah suami istri beranak satu dengan kehidupan cukup mapan. Sampai suatu hari, ketika keduanya tengah mengisap ganja bersama, tiba-tiba mengalir fantasi seksual masa lampau dari Alice dengan seorang pria berseragam angkatan laut. Bill agaknya kaget dengan pengakuan ini. Ia pikir kehidupannya terlalu normal untuk dibumbui pikiran-pikiran banal seperti yang diungkap istrinya.

Cerita selanjutnya adalah perjalanan Bill ke ruang-ruang hasratnya. Meski tidak sempat melampiaskan secara seksual, namun Bill yang terdorong fantasi istrinya, kemudian berupaya menggali hasrat terdalamnya. Bahwa saya juga berhak mempunyai banalitas versi pribadi. Setelah hampir bercinta dengan WTS, Bill datang ke tempat dimana orang-orang bertelanjang dan hanya memakai topeng. Bill menyaksikan ada semacam upacara religius yang dipimpin “pendeta” sebelum orgy diantara mereka dimulai.

Film yang masuk Guinness World Record karena lama syuting yang mencapai empat ratus hari tersebut, memang secara stereotip Hollywood, kurang lazim. Temponya lambat, ending-nya menyisakan keanehan, musiknya dominan mencekam, dan tidak segan-segan menampilkan ketelanjangan plus adegan seksual secara terang-terangan (adegan orgy ditampilkan apa adanya!). Namun jika dihadapkan pada pemirsa yang sudah biasa dengan gaya Kubrick, maka tidak akan terlalu kaget. Terlebih film-filmnya memang akrab dengan scene-scene yang “mengganggu”.

Yang menarik dari Eyes Wide Shut adalah bagaimana fantasi seksual dipelihara sebagai pemberontakan atas superego normalitas yang melanda pasangan modern itu. Agaknya mesti dicurigai, ketika segala serba mapan dan terprediksi, maka keabsurdan yang tersisa barangkali tinggal soal seks. Dalam seksualitas, ada ruang-ruang yang tidak pernah tabu untuk dieksplorasi oleh imaji pribadi. Dalam individu yang tunduk seperti pembantu rumah tangga sekalipun, barangkali ia punya magma fantasi seksual yang dahsyat jika digali. Orgy dan pria berseragam agaknya merupakan dua objek seksual yang menjadi idaman hasrat terdalam Bill dan Alice.

Industri pornografi rupanya salah satu yang pandai mencium fantasi-fantasi seksual yang bertebaran di benak orang-orang. Orgy dan pria berseragam bukan barang baru. Ada juga tema percintaan guru-murid, suster-dokter, dokter-pasien, pilot-pramugari, hingga antar-tetangga. Hanya disebabkan oleh etika normalitas saja rupanya seksualitas tidak terjadi. Hasrat yang menggelora antara dua insan tertahan oleh misalnya, kode etik dokter. Namun hasrat yang demikian bukannya hilang sama sekali. Ia terpendam bagaikan gunung es. Di lapisan paling dasar, gelap, namun besar. Seketika ia bisa dipancing keluar ketika normalitas sudah terlalu memenjara.

Continue reading