Kamis, 29 Maret 2012

Spartacus (1960) dan Tafsiran Konstruktif

Spartacus (1960) dan Tafsiran Konstruktif

Spartacus dalam film yang digarap oleh sutradara Stanley Kubrick ini, memang diangkat dari kisah nyata, tentang seseorang bernama Spartacus. Tapi kenyataannya, tidak ada sejarah yang sedemikian akurat dalam menggambarkan gerak-gerik Spartacus sesungguhnya.

Film berdurasi tiga jam lima belas menit ini, mengisahkan tentang seorang budak bernama Spartacus yang berjuang mendapatkan kemerdekaannya. Perjuangannya "kebablasan", ia tak cuma membebaskan diri, tapi membebaskan ribuan budak lainnya untuk kemudian memancing penguasa Romawi untuk bertempur secara terbuka. Diperankan oleh Kirk Douglas, tokoh Spartacus disini sungguh mengundang simpati dari sejak awal. Ia pemberontak tapi juga lemah lembut di hadapan wanita bernama Varinia. Ia pemberani namun matanya berubah berkaca jika berbicara pada ribuan budak yang hendak bertempur.

Film Spartacus memang terlihat sekali seperti film berbujet tinggi. Memang iya, konon biaya pembuatannya mencapai dua belas juta dollar, plus figuran lebih dari sepuluh ribu orang. Musiknya digarap oleh Alex North yang cukup terkenal di masa itu, dan memang terasa sekali pengaruh musiknya menjadikan si film epik sekaligus puitik. Untuk seorang Stanley Kubrick yang waktu itu masih berusia tiga puluh tahun, jelas ini sebuah proyek besar! Hasilnya tidak mengecewakan, Spartacus memperoleh empat Oscar untuk pemeran pembantu terbaik, sinematografi terbaik, kostum dan art direction. Alex North sebagai penata musik tercatat dalam nominasi.

Meskipun berdurasi cukup panjang, film yang mengambil setting sekitar tujuh puluh tahun sebelum masehi ini bisa menjaga tensinya. Drama dan action bisa muncul secara berimbang. Yang menjadi perhatian saya secara pribadi bukanlah sosok Spartacus itu sendiri, melainkan sosok antagonis Marcus Licinius Crassus yang merupakan komandan tentara Romawi. Crassus amat berambisi untuk menaklukkan Spartacus, tapi ia menegaskan satu hal: Saya bukan sekedar ingin membunuh Spartacus, tapi juga ingin membunuh legenda tentang Spartacus.

Apa yang diinginkan Crassus sebagian terkabulkan sebagian tidak. Memang iya, kemudian ia sukses meredam Spartacus dan pasukannya. Memang iya juga, Crassus sukses mengaburkan legenda tentang Spartacus. Tapi satu hal yang pasti, cerita tentang Spartacus tetap menyembul meski hanya serpihan-serpihan yang sedemikian sulit untuk dilacak. Artinya, Spartacus adalah juga seperti Sokrates atau Konfusius, keberadaannya sedemikian kabur dan sulit dibuktikan eksistensinya.

Namun memperdebatkan eksistensi terkadang tidak terlalu penting. Yang terpenting disini adalah bagaimana Kubrick menyusun kembali kisah Spartacus, dengan tambahan sana-sini tentunya, untuk menjadi inspirasi bagi siapapun. Kubrick bukan satu-satunya orang yang mencoba menyusun kembali kisah Spartacus untuk dijadikan inspirasi, ada Karl Marx yang mengambil Spartacus sebagai "inspirator gerakan proletar". Maka ketika di masa hidupnya seseorang pernah berjuang namun tidak mencapai apa yang ia inginkan, pastikan bahwa sejarah pernah mencatat. Kelak, sejarah itu sendiri yang akan meneruskan perjuangannya.
Continue reading

Selasa, 27 Maret 2012

Rekonstruksi Yunani Purba

Rekonstruksi Yunani Purba
untuk Jasiaman Christian Damanik

Tadi sore saya berkunjung ke rumah yang sedang ditinggali seorang kawan, namanya Jasiaman Damanik atau biasa dipanggil Jazzy. Maksud pertemuan itu tidak lain karena saya ada beberapa pertanyaan soal pelajaran logika, dan kebetulan Jazzy adalah sama-sama juga pengajar mata pelajaran logika. Hanya saja, ketika tahu Jazzy mengajarkan pelajaran sulit itu pada anak SMP, maka saya terkagum-kagum, karena pasti dibutuhkan semacam "kerja dua kali" untuk mengejawantahan sebuah ilmu yang relatif kompleks untuk pemahaman anak SMP yang tentu saja belum sekompleks mahasiswa-mahasiswa yang saya ajar.

Rumah itu, harus saya ceritakan. Saya duduk di sofa abu panjang di ruang tamu yang luas. Cahaya lampunya temaram dengan kaca yang menembuskan pemandangan ke luar, ke kebun yang hijau. Suasananya, secara metafisik, begitu akademis. Terasa sekali diisi oleh orang-orang yang senang berpikir. Jazzy membubarkan kekaguman saya pada si rumah dengan menyuguhkan tiga buku tebal nan "dingin" berjudul Introduction to Logic. Dari situ kami duduk berhadapan, mulai berbincang, tanpa melupakan satu bagian terpenting: teh rasa mint dengan cake pisang-kismis.

Lalu kami mulai berbincang. Topiknya sama sekali tidak asyik: Logika Aristotelian. Tidak hanya itu, Jazzy juga berbagi tentang logika Russell dan Frege. Cara-cara menciptakan dilema baik yang konstruktif maupun destruktif, hingga soal silogisme, sorites, dan proposisi hipotetikal. Obrolan tersebut berujung pada kesimpulan: Bagaimana mungkin seorang Aristoteles punya waktu untuk memikirkan ini semua, apakah ia seorang pengangguran yang tidak ada kerjaan? Pemikiran atas Aristoteles itu justru membawa kami melihat diri kami sendiri saat itu: Lihatlah kami, seperti Aristoteles yang tidak ada kerjaan. Hanya duduk, minum teh di sofa dengan latar ruang tamu besar, dan membicarakan ide-ide.

Barangkali inilah rekonstruksi Yunani Purba. Ketika seluruh pekerjaan kasar dilakukan oleh para budak, maka para citizen mencari masalah-masalah baru dengan mempertanyakan dunia. Seperti Thales yang melontarkan suatu proposisi yang kurang kerjaan, "Alam semesta ini jangan-jangan dari air." Saya tidak persis menyamakan obrolan kami seolah-olah mengisyaratkan sudah ada budak yang mengerjakan pekerjaan-pekerjaan kasar kami, tapi sungguhlah bahwa bukan kemampuan intelektual yang membawa kami ke ranah logika Aristotelian. Yang membawa kami adalah teh mint dan cake itu tadi. Sebuah "kemewahan" yang bisa dianalogikan dengan "ketiadaan masalah" Yunani Purba.

Saya ingin mencoba merumuskan sesuatu pasca perbincangan kami tadi: Bahwa seyogianya setelah segala kebutuhan badani terpenuhi, manusia seharusnya punya keleluasaan untuk membicarakan ide-ide. Tapi ini fakta, masih banyak manusia, yang meski kebutuhan badani sudah terpenuhi, bahkan untuk waktu yang panjang ke depan, dia masih membicarakan hal-hal badaniah seperti menumpuk kekayaan atau mempertahankan kekuasaan. Pada titik ini, saya pribadi merasa malu pada pribadi seperti Yesus, Muhammad, Gandhi ataupun Marx. Dalam kondisi lapar -tentu saja tanpa teh mint dan cake-, mereka sanggup merumuskan ide-ide yang dipraktekkan sepanjang masa.


Continue reading

Kamis, 15 Maret 2012

Mengurai Cara Kerja Sinetron

Mengurai Cara Kerja Sinetron
Untuk sebuah acara pada 8 Januari lalu, saya diharuskan untuk menuliskan sesuatu yang berkaitan dengan etika di media. Apa yang saya lakukan adalah menonton RCTI tiga hari berturut-turut dan menganalisis apa-apa saja yang saya peroleh dari kegiatan tersebut. Dari hampir seluruh tayangan RCTI yang disaksikan, yang saya anggap paling menarik adalah hasil pengamatan atas tayangan-tayangan sinetron.

Sinetron barangkali merupakan tayangan yang paling dominan dalam program RCTI. Ketika saya melakukan penelitian tersebut di bulan Oktober, ada tiga sinetron berturut-turut tayang mulai jam 18.00 sampai 22.30 yaitu Dewa, Putri yang Ditukar, dan Anugerah. Saya mencoba mengamati tanpa rasa benci dan tanpa rasa ingin menghujat. Saya akui bahwa cukup banyak kawan-kawan yang menganggap sinetron itu sesuatu yang tidak penting, sampah, dan membodohi. Tapi saya juga harus menerima fakta bahwa tayangan tersebut laku dan dikonsumsi banyak orang. Maka itu saya berupaya mengerti: Mengapa sinetron laku meski dianggap sampah oleh sebagian kalangan?

Dalam film dokumenter How Art Made the World, ada upaya pelacakan tentang kapan pertama kali manusia menyadari bahwa sebuah gambar bisa dipakai untuk bercerita sesuatu. Pilar Trajan di Roma menjadi salah satu kajiannya. Di pilar setinggi tiga puluh meter itu, ada cerita tentang Kaisar Trajan yang menang dalam perang melawan kaum Dacia. Namun, kata sang narator, Dr. Nigel Speavey, tidak cukup gambar saja, harus disadari bahwa keberadaan musik sangat berpengaruh dalam menyedot apresiator ke dalam gambar. Maksudnya, pilar Trajan berkisah tentang sesuatu yang sangat epik dan menawan, namun belum cukup katanya bagi kita untuk larut ke dalamnya. Dr. Speavey kemudian menunjuk kaum Aborigin sebagai kaum yang kemungkinan besar pertama kali menggabungkan cerita dalam lukisan, dengan musik yang muncul dari ritual mereka. Musik menjadi pembeda signifikan tentang bagaimana kita bisa hanyut dalam citra visual.

Jika sinetron diperhatikan, maka saya memperoleh kesimpulan bahwa tidak ada adegan tanpa musik. Setiap dialog harus diiringi musik, perpindahan latar adalah selalu diiringi dengan perpindahan musik. Musik yang ditampilkan juga, meskipun monoton dan terkesan kurang kreatif (instrumen organ tunggal), namun tensinya cukup diperhatikan. Ada musik yang keras sekali dan lembut sekali, dan keduanya bisa disajikan tanpa jeda. Musik itulah yang dicurigai menarik minat penonton untuk terus menempel. Saya pernah beberapa kali lewat depan televisi ketika sinetron diputar, dan sering berhenti untuk menyimak sejenak karena terhenyak oleh musiknya.

Selain itu, dalam sinetron tidak ada hal yang tidak diperkatakan. Segala gerak gerik dan kejadian tidak cukup bagi dirinya sendiri, ia harus dijelaskan dalam kata-kata. Misalnya, saya pernah menonton Anugerah, ada adegan ketika seorang wanita (saya lupa namanya) gagal melaksanakan tugas meracun seseorang, maka ia mengumpat di kamar mandi soal mengapa ia bisa gagal. Biasanya, jika saya menonton film-film yang dibintangi aktor sekelas Al Pacino atau Robert de Niro, yang diperkatakan itu biasanya justru sesuatu yang di luar fenomena. Fenomena yang sudah jelas, semua penonton melihat, tidak perlu lagi diperkatakan. Dalam kasus film Anugerah, adegan kegagalan meracun itu sendiri bagi saya sudah gamblang dengan gerak-gerik seperti gelas berisi racun yang tertukar.

Konsekuensi dari dua hal di atas, yaitu tidak ada adegan tanpa musik dan tidak ada hal yang tidak diperkatakan adalah kenyataan bahwa yang dirangsang oleh sinetron adalah indra pendengaran. Ini menarik ketika stereotip kita mengatakan bahwa televisi melulu menitikberatkan aspek visual. Apa bukti sinetron merangsang pendengaran kita? Coba di suatu hari yang senggang, putar sinetron tanpa kita melihatnya (sambil mengerjakan apa saja, masak misalnya). Hampir bisa dipastikan kita akan paham ceritanya! Karena cara kerja sinetron adalah mirip sandiwara radio: Berganti musik ketika latar berganti, dan semua hal diperkatakan. Bahkan kita bisa membedakan mana warna suara ketika berbicara biasa, dengan pembicaraan intrapersonal (suara hati). Dalam sinetron, saya pernah melihat adegan ketika dua orang berjumpa, salah satunya menyebut nama, "Amira!" Seolah mau menunjukkan siapa yang saling jumpa itu.

Pertanyaan berikutnya: Jika dengan mendengar saja segala sesuatu sudah jelas, lantas untuk apa gambar-gambar tetap ditayangkan dalam sinetron? Ini pertanyaan yang cukup menghantui saya, sebelum akhirnya sadar satu hal ketika memperhatikan ketiga sinetron tersebut: ternyata ada yang sama yaitu stereotip. Dalam tayangan-tayangannya, citra laki-laki yang berambut pendek, putih, dan kurus selalu memegang peranan. Jika di luar ciri-ciri itu, maka kemungkinan antagonis atau bahan olok-olokan (jika prianya gemuk biasanya). Pun aktor wanita nya, saya mencatat macam Nikita Willy, Naysilla Mirdad, Dhini Aminarti, Cindy Fatikasari, dan Sheila Marcia, semuanya punya ciri-ciri fisik yang mirip yaitu berambut panjang, putih, dan kurus. Artinya, visual dalam sinetron tidak punya daya cerita yang terlalu kuat kecuali hanya untuk menampilkan stereotip-stereotip bagaimana "seharusnya" pria dan wanita itu.

Artinya, cara kerja sinetron bisa dibilang seperti ini: Mereka memanfaatkan musik yang terkandung di dalamnya efek untuk menggugah emosi, lalu memanfaatkan bahasa yang punya efek simbolik "mengingatkan kita pada sesuatu", dan sesuatu itu kerapkali visual. Misalnya kita mendengar kata "nasi goreng", memori kita reflek melacak pengindraan nasi goreng yang pernah mengisi pengalaman kita. Namun dalam kasus sinetron, daya visual-imajinatif kita tidak sempat menggali ke memori pengalaman, tapi langsung dipenjara oleh citra tampilan stereotip di hadapan. Itu sebabnya, "kejahatan" sinetron bisa dibilang karena mereka: Menutup ruang imajinasi, menutup ruang multiinterpretasi, dan menghadirkan kebenaran tunggal. Bisa dicoba dengan menyuruh seratus orang menonton sinetron yang sama episode yang sama, maka jika kemudian digelar diskusi, dijamin tidak ada konten film yang bisa didiskusikan secara mendalam karena adanya kesamaan persepsi!

Dalam sinetron, kemungkinan untuk seseorang menafsirkan adegan secara unik adalah kecil karena segalanya serba jelas. Beda dengan adegan dalam film Donnie Brasco misalnya, ketika Benjamin "Left" Ruggiero yang diperankan Al Pacino hendak pergi meninggalkan rumah. Sebelum pergi ia melepaskan kalung dan benda-benda berharga yang dipakainya lalu disimpan di laci. Sebuah adegan yang secara tersirat menunjukkan kemungkinan ia pergi untuk menemui kematiannya. Namun itu tafsir saya, bisa diperdebatkan dan didiskusikan. Kembali ke sinetron, kalimat sederhana yang bisa diambil dari kisah Donnie Brasco adalah: Sinetron digemari karena untuk memahaminya, tidak perlu berpikir!

Jadi mungkin saja, walaupun bisa diperdebatkan, ini adalah penyebab mengapa sinetron punya kemungkinan buruk bagi masyarakat, tapi sekaligus menjadi semacam candu. Jika ada yang tertarik dikirimi makalah lengkap penelitian ini, bisa kirim alamat emailnya ke syarafmaulini@gmail.com. Nanti saya kirimi balik, insya allah, sambil "mendengarkan" sinetron.


Continue reading

Jumat, 09 Maret 2012

Dilema Joker

Dilema Joker

Dalam film Dark Knight (2008), tampil seorang antagonis yang cukup menarik simpati, ia adalah Joker (yang diperankan secara dramatis oleh almarhum Heath Ledger). Salah satu musuh bebuyutan Batman ini, ditampilkan dengan karakter khasnya, sedikit gila dengan "rasa humor yang sadistik". Jika saya bicara atas nama common sense, maka penampilan Joker versi Dark Knight ini adalah yang paling "mengganggu" dalam artian terus menerus terngiang di kepala karena sedemikian kuat tampilannya (setujukah jika saya bilang Joker dalam film tersebut masih lebih asyik diapresiasi daripada si Batman-nya sendiri?).

Dalam film tersebut, ada adegan dimana Joker menunjukkan gejala kegilaannya dengan menempatkan dua kapal feri dalam sebuah dilema. Penumpang kapal itu, yang satu bermuatan penumpang umum (civilians), yang satu lagi berisikan para narapidana. Pada dua feri itu disimpan bom yang mana pada masing-masing kapal diberi pemicunya: kapal penumpang umum punya pemicu bom kapal tahanan, kapal tahanan punya pemicu bom kapal penumpang umum. Joker memberi syarat pelik:

1. Jika ada yang mencoba kabur, kedua kapal akan diledakkan.
2. Jika masing-masing pemicu tidak ada yang ditekan hingga jam 00.00, maka kedua kapal akan diledakkan.

Ini adalah sebuah problem etika yang dilematis: Aku yang meledakkan dia untuk menghindari resiko dia meledakkan aku, atau aku justru membiarkan dia meledakkan aku untuk menghindari perasaan bersalah atas pembunuhan? Atau, mari kita meledak bersama agar tiada satupun yang dipersalahkan?

Mari kita bedah kasus ini menurut pemikiran etika beberapa filsuf:

  • Immanuel Kant menggunakan imperatif kategoris. Artinya, berbuatlah sesuatu seolah-olah apa yang kamu lakukan menjadi maksim untuk hukum universal. Kant bisa menjawab bagaimana seorang polisi tetap jujur meski dalam lingkungan yang korup. Menurut Kant, itu karena sang polisi mempunyai keyakinan bahwa yang ia lakukan adalah baik jika diterapkan secara universal. Berdasarkan etika Kantian ini, saya tidak bisa menemukan sebuah solusi untuk dilema Joker. Kalau kamu ada di posisi feri itu, mana yang kamu pikir baik untuk hukum universal? Meledakkan atau diledakkan? Etika Kant dalam kasus ini agak terlalu naif.
  • Jean Paul Sartre menekankan ketiadaan etika dengan merumuskan etika baru: Semuanya bebas selama bertanggungjawab. Memilih meledakkan ataupun diledakkan adalah pilihan free-will manusia karena "man are condemned to be free", tapi pertanyaannya, bagaimana cara kita mempertanggungjawabkannya? Maksudnya, apakah sebebas yang Sartre bayangkan? Apakah tidak ada sedikitpun pertimbangan-pertimbangan lain yang bertentangan dengan kebebasan itu sendiri -dalam kondisi dilematis semacam itu-?
  • Utilitarianisme bicara kuantitas, makin banyak yang diuntungkan makin baik. Tapi diantara kedua awak kapal feri itu, tidak ada yang tahu jumlah penumpang di kapal feri lainnya. Jika berdasar utilitarianisme, sederhana saja, jika semisal kapal tahanan hanya 50 orang, maka sudah seharusnya dia yang diledakkan jika ternyata di kapal civilians ada 100 orang.

Jika kita bertanya pada agama (divine command), maka terang saja agama mengajarkan jangan membunuh. Ini agaknya mulai dekat dengan apa yang saya maksud. Saya akan coba tarik ke wilayah filosofis dengan mempertimbangkan dilema Joker sebagai altruisme versus egosme. Altruisme mengajarkan bahwa apa yang baik adalah yang berfaedah bagi sebanyak mungkin orang selama yang dirugikan adalah kita sendiri. Egoisme adalah persis kebalikannya: Diri sendiri berfaedah itu lebih baik meski yang dirugikan adalah orang banyak.

Pertimbangan-pertimbangan di ataslah yang kemungkinan besar mengganggu para pemegang picu bom: Apakah aku harus bersikap altruis atau egois? Sikap altruis akan membebaskan seseorang dari perasaan-perasaan bersalah meski harus menanggung derita (Nabi-nabi termasuk altruis). Namun tidak semua orang yakin dengan kebahagiaan altruis, maka itu menjadi egois adalah jalan yang cukup fair untuk meraih kebahagiaan. Kalau aku berikan makanan ini ke dia yang sedang lapar, nanti bagaimana jika aku kelak kelaparan? Apakah tidak sebaiknya aku makan ini dan kemudian dia memikirkan bagaimana mengatasi laparnya sendiri?

Pertimbangan "Jangan membunuh, walaupun dengan resiko terbunuh" juga merupakan sikap altruis tersendiri dalam dilema Joker tersebut. Pada wilayah yang lebih dalam, altruis bagi saya adalah sekaligus sikap mencintai kehidupan secara tulus tanpa pamrih. Seorang altruis mungkin tidak pernah betul-betul menderita. Ia mendapatkan kebahagiaan dari posisinya sebagai "martir".

Seorang ibu adalah contoh altruis yang sedemikian konkrit. Ibu mengurusi anak, suami, dan rumah tangga, dengan semangat altruistik yang sedemikian amor fati, fatum brutum. Namun disitu justru letak keutamaannya. Kata Kierkegaard, harus ada penundaan untuk satu kesenangan sementara, agar mendapatkan kebahagiaan yang lebih luas. Agama dengan santai memberi hadiah bagi para altruis dengan kebahagiaan tak terbatas di kemudian hari. Yang tidak beragama bagaimana nasibnya? Jika pun mereka tidak percaya surga, pasti ada sesuatu yang "sama-sama absurd" untuk dijadikan landasan pembenaran altruistik-nya. Entah itu atas nama Kebahagiaan, Kebenaran, atau Kebebasan.

Akhir cerita, kedua awak kapal menyerahkan dirinya pada altruisme. Keduanya selamat, meski campur tangan Batman hadir disana.

Continue reading