Sabtu, 18 Februari 2012

Jaringan Sosial dan Sejarah

Dalam film 300, ketika Leonidas merasa prajurit Sparta yang dipimpinnya mulai terpojok, ia memanggil Dilios. Apa yang ditugaskan pada Dilios sederhana saja, tapi bagi sang raja itu penting: Pulanglah ke Sparta, ceritakan kisah kami pada semua. Dilios kemudian tidak ikut berperang karena menunaikan tugas yang ia sendiri kecewa karenanya. Bagi Dilios, yang mulia adalah bertempur. Bagi Leonidas, yang mulia tidak sebatas bertempur, tapi juga dikenang.

Di masa kecil, saya amat menyukai buku-buku biografi para penemu. Albert Einstein, Isaac Newton, Charlie Chaplin hingga Margaret Mead, kisah hidupnya rajin saya baca. Inspirasi terbesarnya adalah kenyataan bahwa mereka-mereka adalah orang yang pernah gagal dan juga kontroversial. Pernah begitu dilecehkan oleh kalangannya namun kemudian bangkit menjadi yang terdepan. Sampai pada suatu hari, di masa-masa belakangan ini ketika saya mulai membaca filsafat, saya memahami bahwa sejarah tidak pernah objektif. Sejarah ditulis oleh seseorang (yang Michel Foucault mengatakannya sebagai "kekuasaan") yang tidak pernah terlepas daripadanya aspek subjektivitas.

Memang iya, sejarah seseorang atau apapun, tidak mungkin dituliskan secara tepat benar. Begitupun Dilios ketika ia mengumumkan kisah agung Leonidas pada penduduk Sparta. Kenyataan bahwa Dilios adalah bagian dari prajurit, membuat ia merasa perlu untuk "membuat sejarah yang menguntungkan laskar Leonidas". Dilios mengisahkan peristiwa yang seolah-olah mesti berefek pada pengiriman prajurit tambahan untuk membantu Leonidas. Pada titik ini harusnya kita sama-sama bersepakat: Dilios punya suatu kepentingan. Ia tidak objektif dan hmmm.. apakah bisa objektif?

Bayangkan kamu seorang terkenal. Karena kamu ingin seseorang menuliskan kisah hidupmu, maka kamu rekrutlah seorang biografer (ini terjadi pada Jiang Qing, istri Mao Zedong). Pertanyaannya: Apakah tidak ada secuil pun perasaan dalam dirimu yang bertanya bahwa aku ini ingin dikenang sebagai apa? Apakah iya, kamu akan menceritakan semuanya, termasuk hal-hal yang sekiranya membuat orang malas mengenang dirimu? Tentu saja kamu bisa membubuhkan hal memalukan sedikit saja, agar orang-orang tahu bahwa kamu juga punya pengalaman eksistensial seperti manusia lainnya. Tapi selebihnya, kamu menuliskan sejarah dirimu sendiri dengan harapan, dengan perasaan campur aduk tentang itu tadi: Aku ini ingin dikenang sebagai apa?. Seperti halnya Jiang Qing yang membuat masyarakat Cina marah karena biografi yang menuliskan dirinya hanya soal heroisme dan heroisme.

Jaringan Sosial
Manusia jaman internet sekarang ini tak perlu lagi sibuk merekrut biografer seperti yang dilakukan Jiang Qing atau Leonidas. Ada jaringan sosial seperti Friendster, Facebook, ataupun Twitter yang sanggup membuat kita menuliskan sejarah diri kita sendiri. Ada jaringan sosial yang membuat kita terselip juga rasa seperti halnya Jiang Qing atau Leonidas: Aku ini ingin dikenang sebagai apa?

Meskipun kita sendiri yang menuliskan timeline sejarah diri, tapi mungkin kamu setuju dengan saya bahwa tidak ada objektivitas di sana. Maksudnya, kita selalu memilih dan memilah mana yang sebaiknya ditampilkan dan mana yang tidak. Yang ditampilkan pastilah tentang sesuatu yang kita ingin orang lain mengenang kita sebagai hal itu. Tambahan menariknya adalah, memang iya, pada banyak kasus, saya sering merasa mengetahui sejarah seseorang hanya dengan melihat akun Facebook-nya. Dengan melihat tampilan laman, status, foto-foto, apa yang dia unggah, dan lain sebagainya, saya begitu yakin bahwa saya sudah melihat biografi seseorang. Dalam kasus Twitter misalnya, ini bukan lagi soal biografi lengkap, tapi tagline. Seperti ketika saya mengagumi tagline Einstein di buku sejarah, di Twitter juga saya menemukan orang-orang berusaha menciptakan tagline-tagline-nya sendiri.

Pertanyaan-Pertanyaan
Sebetulnya kita bisa saja menetralkan kebingungan ini dengan mengatakan bahwa jaringan sosial ya sekedar hiburan saja. Orang menampilkan profil dirinya selengkap mungkin agar mudah berkomunikasi dan mudah dikenali. Orang berkicau apapun di Twitter ya sekedar sarana berekspresi saja, itu lumrah sekali seperti anak kecil yang diberi kertas putih untuk mencoretkan apapun. Namun dalam rangka membuat dunia ini sedikit lebih membingungkan, saya ingin bertanya:

1. Ketika seseorang meninggal, apakah laman Facebook-nya bisa mewakili sejarah dirinya untuk dikisahkan pada dunia?

2. Jika ya, apakah Foucault masih bisa berkata bahwa sejarah adalah sejarah para penguasa? Karena jaringan sosial ini membuka cakrawala bahwa ternyata sejarah juga ditulis oleh siapapun.

3. Jika pada tataran individual (akun Facebook, Twitter, dsb) saja sejarah sudah tidak objektif, maka masih adakah "kisah" yang objektif di dunia ini?

4. Jika Albert Einstein punya akun Facebook atau Twitter, akankah kamu menganggap ia lebih hebat, atau malah sebaliknya karena ternyata ia baceo dan berbicara terlalu banyak dari seharusnya?

5. Manakah yang terpenting dari sejarah, akurasi atau inspirasi? Jika kamu menjawab akurasi, maka dunia hari ini begitu akurat dalam menuliskan sejarah seseorang lebih daripada yang lalu-lalu. Tapi jika menjawab inspirasi, maka kita tahu sejarah tentang Konfusius dan Sokrates tidak pernah akurat, tapi pemikirannya masih hangat.
Previous Post
Next Post

2 komentar:

  1. Baru-baru ini seorang pemikir mengatakan bahwa jaman sudah berubah menjadi post-strukturalis di mana akurasi kebenaran = jumlah jempol "like"? Struktur kekuasaan tidak mampu lagi mengontrol distribusi informasi, dan sebaliknya distribusi informasi (mulai) mengontrol kekuasaan.

    Terima kasih atas penambahan kepingan puzzle-nya, Mas Syarif. Vote untuk inspirasi karena sejarah akurat tentang Sandi ini tidak akan berguna buat siapa-siapa.

    BalasHapus
  2. terima kasih atas komentarnya. Fenomena jaringan sosial ini mesti sedikit demi sedikit mulai direnungkan, terutama oleh kita sebagai anak kandung era ini. :)

    BalasHapus