Senin, 27 Februari 2012

Prasasti FM 2011

Prasasti FM 2011

Hari ini, 27 Februari 2012, adalah hari yang amat penting. Di sela-sela penampilan di acara seminar biomedik di ITB tadi, saya menyempatkan diri untuk melihat-lihat lapak DVD games untuk komputer di trotoar Jalan Ganesha. Saya dengan sangat berhati-hati memutuskan untuk membeli permainan yang saya yakini lebih jahat dari narkoba: Football Manager. Saya membeli edisi terbaru yaitu Football Manager 2012 (FM 2012) yang sebetulnya sudah rilis dari November kemarin. Namun akibat saya tahu betapa bahayanya game tersebut, saya beberapa kali menunda pembelian hingga akhirnya tadi luluh juga karena jarak antara saya dan lapak sudah sedemikian dekat.

Sampai rumah, saya langsung install game tersebut dan tidak mendapat kesulitan apapun untuk langsung memulainya. Namun setelah beberapa saat, hati saya mendadak sedih. Saya ingat bahwa di edisi FM sebelumnya (FM 2011), saya masih berkiprah. Akhirnya saya kembali ke FM 2011 untuk sejenak menutup karir setelah sempat mengabadikan beberapa tampilan yang menunjukkan capaian demi capaian saya di game tersebut.



Entah kenapa, di profil tertulis saya kelahiran 1984 padahal saya yakin saya tidak pernah salah menulis tahun kelahiran yang harusnya 1985. Sehingga di tahun 2032, umur saya sudah 47 tahun! Saya memulai karir sebagai pelatih Udinese dan pernah memenangkan Serie A kalau tidak salah di musim kedua. Setelah Udinese, saya dilirik AC Milan dan sukses besar di sana. Kalau tidak salah saya menghabiskan sembilan musim dengan hanya kehilangan tahta Serie A dua kali. Di Milan juga saya berjumpa dengan pemain kesayangan yang saya sudah anggap seperti anak sendiri: Alexey Rudenok.

Saking sayangnya pada Rudenok, saya begitu ingin memboyong dia ketika saya direkrut Real Madrid. Sayang manajemen AC Milan mempertahankannya mati-matian. Tapi saya tidak menyerah, demi melihat Rudenok pensiun di klub yang saya bina, saya rela merekrutnya di usia cukup senja, 33 tahun. Rudenok pun menurut pengakuannya, jatuh cinta pada saya.

Saya pernah menangani timnas tiga kali, yaitu Italia, Argentina, dan kembali lagi ke Italia. Dua timnas pertama gagal total, tapi comeback ke Italia kedua kali saya berhasil mempersembahkan trofi Piala Eropa. Selepas melatih Real Madrid selama kurang lebih tiga tahun dan mempersembahkan dua gelar La Liga, saya mencoba tantangan baru dengan pindah ke klub rival, Atletico Madrid. Justru disitulah karir kepelatihan saya mulai turun. Meski mempunyai amunisi pemain cukup dahsyat, tapi ternyata Real Madrid -yang baru saja saya tinggal- masih lebih kuat.

Keterpurukan semakin menjadi setelah saya melabuhkan diri di klub favorit, Barcelona, yang waktu itu justru kerap berada di bawah El Real dan Atletico. Ternyata membangun El Barca sepeninggal generasi Messi dkk. adalah pekerjaan mahaberat. Akhirnya saya mengundurkan diri dari dunia sepakbola di musim ketiga menangani Barcelona tanpa sempat memberikan gelar.

Posting ini saya cuma ingin bercerita. Saya tidak mau memaknai yang terlalu jauh karena jika ditelusuri, saya sudah pernah membahas filosofi FM dua kali di blog. Saya cuma ingin bersentimentil ria, kadang-kadang membayangkan punya hidup sebagai orang lain itu ada indahnya.

Terima kasih Macheda, Isla, Inler, Rudenok, Neymar, Marcio, Angloma, Marciano, Cosentini, Leandro, Fabbri, Zunino, Ferreira, Giorgi, dan rekan-rekan semuanya!


Continue reading

Minggu, 26 Februari 2012

Atticus Finch

Atticus Finch
Terima kasih sebelumnya pada sahabat saya, Kang Trisna yang memberi buku To Kill a Mockingbird sebagai kado ulangtahun. Bukan buku yang mudah untuk diselesaikan. Saya perlu hampir empat bulan untuk mengakhiri dengan perasaan yang tercerahkan. Hanya beberapa jam setelah membaca novelnya, saya menyambangi filmnya dengan judul yang sama. Film yang digarap tahun 1962 (dua tahun setelah novelnya terbit) itu menguatkan imaji saya tentang seorang tokoh yang disebut sebagai salah satu pahlawan terbaik dalam sejarah perfilman Amerika: Atticus Finch.

Atticus Finch adalah tokoh sentral dalam buku To Kill a Mockingbird. Pengacara sekaligus orangtua tunggal bagi dua anaknya yang masih kecil-kecil. Filmnya menurut saya sangat sukses mengejawantahkan figur Atticus ke tampilan visual. Penampilan Gregory Peck begitu karismatik dan persis seperti apa yang saya bayangkan (Dari novel ke film biasanya mengandung kekecewaan, salah satu yang saya ingat adalah Audrey Tatou yang memerankan detektif Sophie Novou di Da Vinci Code).



Yang cukup disoroti dari peran Atticus tentu adalah sebagai pengacara yang membela orang kulit hitam bernama Tom Robinson. Ia menerima resiko dibenci oleh hampir semua penduduk oleh sebab pembelaannya itu. Wajar jika ia merasa terdesak, pun anak-anaknya, karena kota yang mereka tinggali kecil (namanya Maycomb) dan hampir satu sama lain saling kenal.

Apa yang saya pelajari dari sosok Atticus bukanlah semata-mata keteguhannya membela kaum minoritas meski di bawah tekanan. Namun saya demikian kagum pada bagaimana caranya membagi peran antara pekerjaan dan keluarga. Ia membesarkan kedua anaknya yang sedang rajin-rajinnya bertanya macam-macam, dengan kasih sayang seorang ibu. Atticus mengajari Jem dan Scout membaca, menemani mereka menjelang tidur, sekaligus juga harus rela menjadi tontonan kedua anaknya ketika wajah ia diludahi seorang penduduk Maycomb. Demi menjaga mata anak-anaknya dari pemandangan masa kecil yang kurang sedap, ia hanya menyapu mukanya dan berusaha tetap tegar tanpa melawan.

Atticus, bagi saya, menjadi suatu prototip bagaimana konsekuensi menjadi dewasa. Ternyata pada tahap tertentu, saya tidak bisa hidup dalam satu persona untuk segala hal. Ternyata menyesuaikan diri untuk menjalani multiperan dalam berbagai situasi adalah kebijaksanaan tersendiri. Manusia tidak bisa jadi pengacara saja, bapak saja, anak saja, kawan saja, sahabat saja, orang baik saja, penjahat saja. Ia memiliki seluruh peran itu sekaligus, dan pada akhirnya tergantung kebijaksanaan kita mau membuka katup yang mana untuk situasi yang mana.

You never really understand a person until you consider things from his point of view, until you climb inside of his skin and walk around in it. -Atticus Finch
Continue reading

Sabtu, 18 Februari 2012

Jaringan Sosial dan Sejarah

Jaringan Sosial dan Sejarah
Dalam film 300, ketika Leonidas merasa prajurit Sparta yang dipimpinnya mulai terpojok, ia memanggil Dilios. Apa yang ditugaskan pada Dilios sederhana saja, tapi bagi sang raja itu penting: Pulanglah ke Sparta, ceritakan kisah kami pada semua. Dilios kemudian tidak ikut berperang karena menunaikan tugas yang ia sendiri kecewa karenanya. Bagi Dilios, yang mulia adalah bertempur. Bagi Leonidas, yang mulia tidak sebatas bertempur, tapi juga dikenang.

Di masa kecil, saya amat menyukai buku-buku biografi para penemu. Albert Einstein, Isaac Newton, Charlie Chaplin hingga Margaret Mead, kisah hidupnya rajin saya baca. Inspirasi terbesarnya adalah kenyataan bahwa mereka-mereka adalah orang yang pernah gagal dan juga kontroversial. Pernah begitu dilecehkan oleh kalangannya namun kemudian bangkit menjadi yang terdepan. Sampai pada suatu hari, di masa-masa belakangan ini ketika saya mulai membaca filsafat, saya memahami bahwa sejarah tidak pernah objektif. Sejarah ditulis oleh seseorang (yang Michel Foucault mengatakannya sebagai "kekuasaan") yang tidak pernah terlepas daripadanya aspek subjektivitas.

Memang iya, sejarah seseorang atau apapun, tidak mungkin dituliskan secara tepat benar. Begitupun Dilios ketika ia mengumumkan kisah agung Leonidas pada penduduk Sparta. Kenyataan bahwa Dilios adalah bagian dari prajurit, membuat ia merasa perlu untuk "membuat sejarah yang menguntungkan laskar Leonidas". Dilios mengisahkan peristiwa yang seolah-olah mesti berefek pada pengiriman prajurit tambahan untuk membantu Leonidas. Pada titik ini harusnya kita sama-sama bersepakat: Dilios punya suatu kepentingan. Ia tidak objektif dan hmmm.. apakah bisa objektif?

Bayangkan kamu seorang terkenal. Karena kamu ingin seseorang menuliskan kisah hidupmu, maka kamu rekrutlah seorang biografer (ini terjadi pada Jiang Qing, istri Mao Zedong). Pertanyaannya: Apakah tidak ada secuil pun perasaan dalam dirimu yang bertanya bahwa aku ini ingin dikenang sebagai apa? Apakah iya, kamu akan menceritakan semuanya, termasuk hal-hal yang sekiranya membuat orang malas mengenang dirimu? Tentu saja kamu bisa membubuhkan hal memalukan sedikit saja, agar orang-orang tahu bahwa kamu juga punya pengalaman eksistensial seperti manusia lainnya. Tapi selebihnya, kamu menuliskan sejarah dirimu sendiri dengan harapan, dengan perasaan campur aduk tentang itu tadi: Aku ini ingin dikenang sebagai apa?. Seperti halnya Jiang Qing yang membuat masyarakat Cina marah karena biografi yang menuliskan dirinya hanya soal heroisme dan heroisme.

Jaringan Sosial
Manusia jaman internet sekarang ini tak perlu lagi sibuk merekrut biografer seperti yang dilakukan Jiang Qing atau Leonidas. Ada jaringan sosial seperti Friendster, Facebook, ataupun Twitter yang sanggup membuat kita menuliskan sejarah diri kita sendiri. Ada jaringan sosial yang membuat kita terselip juga rasa seperti halnya Jiang Qing atau Leonidas: Aku ini ingin dikenang sebagai apa?

Meskipun kita sendiri yang menuliskan timeline sejarah diri, tapi mungkin kamu setuju dengan saya bahwa tidak ada objektivitas di sana. Maksudnya, kita selalu memilih dan memilah mana yang sebaiknya ditampilkan dan mana yang tidak. Yang ditampilkan pastilah tentang sesuatu yang kita ingin orang lain mengenang kita sebagai hal itu. Tambahan menariknya adalah, memang iya, pada banyak kasus, saya sering merasa mengetahui sejarah seseorang hanya dengan melihat akun Facebook-nya. Dengan melihat tampilan laman, status, foto-foto, apa yang dia unggah, dan lain sebagainya, saya begitu yakin bahwa saya sudah melihat biografi seseorang. Dalam kasus Twitter misalnya, ini bukan lagi soal biografi lengkap, tapi tagline. Seperti ketika saya mengagumi tagline Einstein di buku sejarah, di Twitter juga saya menemukan orang-orang berusaha menciptakan tagline-tagline-nya sendiri.

Pertanyaan-Pertanyaan
Sebetulnya kita bisa saja menetralkan kebingungan ini dengan mengatakan bahwa jaringan sosial ya sekedar hiburan saja. Orang menampilkan profil dirinya selengkap mungkin agar mudah berkomunikasi dan mudah dikenali. Orang berkicau apapun di Twitter ya sekedar sarana berekspresi saja, itu lumrah sekali seperti anak kecil yang diberi kertas putih untuk mencoretkan apapun. Namun dalam rangka membuat dunia ini sedikit lebih membingungkan, saya ingin bertanya:

1. Ketika seseorang meninggal, apakah laman Facebook-nya bisa mewakili sejarah dirinya untuk dikisahkan pada dunia?

2. Jika ya, apakah Foucault masih bisa berkata bahwa sejarah adalah sejarah para penguasa? Karena jaringan sosial ini membuka cakrawala bahwa ternyata sejarah juga ditulis oleh siapapun.

3. Jika pada tataran individual (akun Facebook, Twitter, dsb) saja sejarah sudah tidak objektif, maka masih adakah "kisah" yang objektif di dunia ini?

4. Jika Albert Einstein punya akun Facebook atau Twitter, akankah kamu menganggap ia lebih hebat, atau malah sebaliknya karena ternyata ia baceo dan berbicara terlalu banyak dari seharusnya?

5. Manakah yang terpenting dari sejarah, akurasi atau inspirasi? Jika kamu menjawab akurasi, maka dunia hari ini begitu akurat dalam menuliskan sejarah seseorang lebih daripada yang lalu-lalu. Tapi jika menjawab inspirasi, maka kita tahu sejarah tentang Konfusius dan Sokrates tidak pernah akurat, tapi pemikirannya masih hangat.
Continue reading

Rabu, 01 Februari 2012

Warung

Warung
Tulisan suplemen untuk Klab Filsafat Tobucil 6 Februari 2012.

Kita tahu bahwa jika makan di warung kopi, maka tidak cuma harus siap dengan menu hanya supermi, buburkacang, dan gorengan, tapi juga mesti diantisipasi kemungkinan ngobrol berlama-lama tentang isu-isu politik dan ekonomi ditemani kepulan asap rokok. Kita tahu bahwa jika makan di Warung Tegal, maka tidak cuma harus siap dengan lokasi yang kurang higienis, tapi juga mesti diantisipasi kemungkinan afirmasi diri yang jujur tentang ketiadaan uang. Karena seperti kata Diecky, "Cuma di Warung Tegal kita makan nasi sama tahu tetap dilayani bak raja."

Warung menurut Wikipedia diartikan sebagai "type of small family owned business. A warung is an essential part of daily life in indonesia." Warung menjual mulai dari pisang goreng, mie goreng, permen, kerupuk, rokok, kopi, hingga penyewaan jasa telepon. Hal-hal yang barangkali begitu dekat dengan kebutuhan sehari-hari dan harganya terjangkau masyarakat strata bawah sekalipun. Tentunya juga secara fisik ukurannya harus relatif kecil. Karena kita semua tidak menyebut Alfamart, Circle K, atau Indomaret sebagai warung meskipun menjual barang-barang harian. Dekat rumah saya pun syahdan ada warung namanya Warung Ibu Yana, tapi ketika dalam perkembangannya ia menjadi ekspansif, memakan lahan lebih, kami menamakannya: Toko Ibu Yana.

Kesadaran saya tentang warung dimulai pada suatu pagi sekitar setahun lalu ketika mencari-cari tempat yang asyik untuk mengerjakan tesis. Saya memilih sebuah kafe di Burangrang yaitu Ngopi Doeloe. Sebelum masuk ke kafe tersebut, ada pemandangan lucu tepat di depan pagar kafe itu. Ada warung kopi teronggok dengan nama yang sama: Ngopi Doeloe. Bedanya jelas jauh, yang satu besar yang satu kecil. Yang satu menunjukkan identitas via plang menjulang ditopang tiang, satu lagi hanya dicat saja di dinding kayunya. Tanpa harus membandingkan, common sense saya langsung tahu: harganya juga jelas beda berjauhan. Tapi satu hal yang saya tidak berani melakukan penilaian buru-buru adalah: Apakah "Ngopi Doeloe besar" rasa kopinya lebih enak dari "Ngopi Doeloe kecil"? Apakah "Ngopi Doeloe besar" pelayanannya lebih ramah dari "Ngopi Doeloe kecil"?

Kapitalisme menjawab itu semua. Bahwa memang yang besar belum tentu lebih enak dari yang kecil, memang yang besar belum tentu lebih ramah dari yang kecil, tapi satu hal yang pasti: Yang besar bergaya hidup lebih eksklusif, yang besar lebih menunjukkan kamu punya uang dan citarasa daripada yang kecil. Eksklusifisme itu, entah dibangun dari mana, bisa jadi dari tembok beton dan plang yang menjulang, atau memang harga yang sekalian dimahalkan. Saudara saya yang kerja di Starbucks mengatakan, "Tidak masuk akal kopi tubruk pakai mesin 40.000 per gelas." Ada fakta yang tak bisa diganggu gugat: Orang tetap minum seharga 40.000 meski rasanya sama dengan yang 2.000. Meski secara hitung-hitungan ekonomi jelas tidak masuk akal!

Tak hanya itu, kapitalisme juga mengadopsi "sari-sari" warung. Warung, karena ukurannya yang kecil, tidak bisa tidak penjual dan pembeli bertemu bertatap muka. Ada trust disana, ada pembacaan gestur menyeluruh, ada kegiatan yang sama sekali tidak mereduksi hubungan kemanusiaan, seperti kata Levinas, "Wajah adalah aku yang lain." Di "warung besar" hal seperti itu juga dilakukan. Para pelayan wajib ramah, menampilkan wajah yang sumringah, dan bersikap seolah-olah ini semua adalah warung keseharian, warung rakyat Indonesia yang bermodalkan kejujuran.

Dalam balutan keangkuhan kapitalisme, warung-warung besar menampilkan sisi "kiri" dan "proletariat"-nya justru lewat para pelayan. Padahal kita semua tahu, para pelayan restoran pastilah bisa ramah hingga terlihat alamiah karena di-training berbulan-bulan. Sedangkan pemilik warung bisa ramah karena memang ingin ramah, bisa juga kalau dia ingin judes. Bisa saja jika pemilik warung cantik dan dia digoda pria bujang, maka sang pemilik menampakkan muka jutek untuk menolak godaan. Tapi di warung besar itu mustahil, semerasa dilecehkan apapun pelayan perempuan, ia haruslah punya cara menampik yang tidak merugikan pasaran perusahaan. Keramahan macam ini jelas mengasyikkan bagi para konsumen yang tidak suka realita. Tapi sekaligus kita juga tahu bahwa keramahan para pelayan yang sedang dalam posisi proletariat, selalu atas nama perusahaan, bukan atas dasar hati nuraninya yang paling dalam.

Warung kecil, pada titik ini, punya martabat kemanusiaan yang adiluhung. Tidak ada suatu kepalsuan serius di dalam lingkup transaksinya. Bahkan banyak ibu-ibu warung makan yang tidak pernah mengecek apa saja yang konsumen makan, ia hanya bertanya langsung dan berharap kejujuran. Konsumen bohong bisa saja, tapi si ibu tak ambil pusing, ia pasti berpikir, "Kejujuran selalu menang. Yang dusta pasti ada balasannya." Hanya warung kecil yang punya kemungkinan seseorang dapat gratis rokok karena bisa memberikan suatu obrolan memikat di petang itu, yang punya kemungkinan dua manusia ribut oleh sebab problem tatapan mata yang nyalang antara keduanya, yang punya kemungkinan dihutangi dengan jaminan kepercayaan semata. Dalam warung kecil ada dinamika kehidupan yang mini, yang memang pada kenyataannya hidup sekompleks itu. Yang sungguh disederhanakan persoalannya di warung besar. Di warung besar kamu tinggal bayar maka segala-gala realitas kehidupan disembunyikan. Hidup itu manis ketika kamu bayar!

Harusnya kita sedikit berkaca pada proses kelahiran dua filsuf besar dalam sejarah pemikiran Barat, yaitu Jean Paul Sartre dan Simone de Beauvoir. Mereka lahir bukan dari kepalsuan warung-warung kapitalistik, tapi di sebuah warung kecil bernama Café de Flore. Kafé, sebelum dimiskonsepsikan jadi sarang para borjuis, dulunya menjadi tempat para proletar bertukar pikir dan melahirkan ide-ide brilian. Harusnya, dengan harga makanan murah dan tampilan dunia apa adanya, sudah seyogianya warung kecil menjadi tempat orang membangun fondasi untuk merubah dunia. Di warung kapitalistik, orang tak bisa melihat dunia, orang tak bisa berpikir terlalu jauh. Mereka terhalang tembok yang terlalu tinggi, mereka sibuk memikirkan citra apa yang melekat.

Continue reading