Monday, January 9, 2012

10 Commandments of The Mafia: Ketika Made-Man Wajib Cinta Keluarga

Beberapa hari yang lalu, seorang kawan bernama Iqbal nge-whatsapp saya dengan foto di atas plus pesan yang bunyinya, "Mau beli?" Tanpa pikir panjang saya balas, "Mau." Apa alasan saya tidak berpikir panjang? Karena saya sedang keranjingan nonton film-film mafia dalam kurun tiga bulanan terakhir.

Sejak The Godfather, saya memang ketagihan melihat penggambaran mafia oleh film-film lain (Scarface, Donnie Brasco, Goodfellas, The Soprano, The Untouchables, Casino, The Departed, dsb). Selain aksi-aksi berdarah serta intrik-intriknya, saya juga suka bagaimana pencitraan dalam film mafia tentang pria yang "sejati", dalam artian mereka menjunjung tinggi nilai-nilai "universal kaum pria" seperti menepati janji serta menghargai wanita. Para anggota sering disebut sebagai Made Man atau "Pria yang terlantik".

Jika sudah menonton film-film di atas, maka pernyataan 10 Commandments of The Mafia ini akan sangat menarik:

  1. No one can present himself directly to another of our friends. There must be a third person to do it.
  2. Never look at the wives of friends.
  3. Never be seen with cops.
  4. Don't go to pubs and clubs.
  5. Always being available for Cosa Nostra is a duty - even if your wife is about to give birth.
  6. Appointments must absolutely be respected.
  7. Wives must be treated with respect.
  8. When asked for any information, the answer must be the truth.
  9. Money cannot be appropriated if it belongs to others or to other families.
  10. People who can't be part of Cosa Nostra: anyone who has a close relative in the police, anyone with a two-timing relative in the family, anyone who behaves badly and doesn't hold to moral values.
Daftar tersebut diperoleh polisi Sisilia ketika penangkapan bos mafia bernama Salvatore La Piccolo. Pembahasan poin demi poin dilakukan dalam film dokumenter tersebut lewat bantuan beberapa eks anggota mafia seperti Michael Franzese (eks keluarga mafia Colombo) dan Henry Hill (eks keluarga mafia Lucchese). Dari keseluruhan poin, justru bagi saya yang paling menarik perhatian adalah nomor dua dan tujuh, yaitu yang punya kaitan tentang istri.

Mafia, meskipun mereka mengerjakan hal-hal ilegal seperti pencurian, jual-beli narkoba, perjudian serta pembunuhan, namun mereka ada upaya menyeimbangkannya lewat kesetiaan terhadap keluarga. Kata Vito Corleone dalam The Godfather, "A man who doesn't spend time with his family can never be a real man."

Uniknya, masa remaja selalu merupakan awal dari masa pemberontakan yang biasanya keluarga adalah korban pertamanya. Saya adalah seorang diantaranya, yang mana jika masa remaja bersama-sama keluarga itu adalah memalukan adanya. Yang keren adalah bersama teman-teman, yang keren adalah pacaran beda agama sehingga bisa "You and me, against the world!", yang keren adalah pulang pagi dan marah-marah terhadap ibu-bapak. Sebaliknya, saya berusaha menumbuhkan rasa respek dengan lingkungan di luar keluarga. Maka itu jika ada gathering kawan-kawan saya lebih tertarik untuk nongol daripada gathering dengan keluarga besar.

Menjelang pernikahan (lagi-lagi curhat colongan, sekarang diselipkan di tengah topik mafia), saya mulai mencari nilai-nilai apa yang bisa saya pegang untuk menjalankan kehidupan nantinya. Dari sepuluh perintah mafia, saya akan buang nomor satu dan nomor lima, sisanya akan saya jalankan dalam rumah tangga. Istriku, here comes the Made-Man!


Previous Post
Next Post

0 comments: