Jumat, 20 Januari 2012

Surat untuk Lajang

Surat untuk Lajang
Jang,
Jika mengenangmu saya selalu senang karena minum es teh selalu ngutang. Tidak ada perasaan dosa kalaupun tak dibayar karena kamu anak muda tak kenal dosa. Kamu anak muda hanya tahu gembira dan berkata-kata. Berkata-kata tentang apa saja yang lewat di depanmu ketika duduk bercengkrama di sebuah foodcourt hanya dengan rokok dan teh botol: Perempuan, kakek tua, perempuan, minuman, perempuan, makanan, bapak-bapak, dan perempuan.

Jang,
Mari mengenang lebih jauh ketika kamu dan dua orang kawan susumputan di kuburan. Mengisap Djarum Coklat sambil celingukan sebagai bentuk aksi bentrok pertama dengan norma-norma. "De, darimana pulang sekolah kok sore amat," tanya Mamah. Kata kamu, "Kerja kelompok, Mah, di rumah si Kautsar!" Sekarang akan saya kasitahu kamu, Jang. Ibumu tahu kamu bohong, selalu tahu! Tapi wajahmu yang lugu dengan celana biru terlalu mengharukan untuk ditampiling.

Jang,
Mari dengan asyik mengenang masa malam mingguan. Yang lain senang-senang, kamu mah goblok jang kalahka gigitaran. Yang lain berkendara sambil nyetel Limp Bizkit sampai gogorowokan, kamu mah main gitar klasik lagu Greensleeves. Garing, Jang, garing! Tapi pembelaanmu bagus juga, kalau bukan malem minggu, kapan lagi punya waktu pacaran sama gitar?

Jang,
Kamu sebentar lagi tinggal kenangan. Karena saya, Jang, bertambah usia. Kamu bilang saya bohong, Jang? Memang iya, hehe, karena sebenarnya saya jatuh cinta pada seseorang. Yang ini beda, Jang, bukan seperti dulu yang mana tujuan saya pacaran cuma biar dianggap keren sama teman-teman. Ini bukan cuma biar tidak jadi bahan omongan sama anak muda yang nangkring di foodcourt dengan teh botol. Ini cinta, Jang, cinta, apakah kamu ngerti kalau saya jelaskan?

Sekarang kamu sedang tertawa karena kamu merasa paling ngerti soal cinta. Kamu mau bilang pada saya kalau cinta di waktu lajang betapa asyiknya karena yang terpikirkan hanya mabuk bersama dunia. Kamu mau bilang pada saya kalau cinta di waktu lajang betapa asyiknya karena susumputan ketika bapak ibu sedang tidak ada.

Kamu benar, Jang, memang cinta yang ini belum tentu seasyik itu. Dan cinta yang ini bisa habis di tengah jalan. Tapi, Jang, entah kamu bisa mengerti atau tidak perkataan saya yang berat ini: Semua hal di dunia ini akan habis sebagaimana kamu yang bergairah juga sebentar lagi tinggal kenangan. Yang tersisa tinggal janji dengan yang namanya mati. Sekali ia menagih, harus jadi! Alangkah senangnya, Jang, ketika debt collector datang, kamu sedang ditemani seseorang.

Continue reading

Selasa, 17 Januari 2012

Sederhana

Sederhana
"Before a man studies Zen, to him mountains are mountains and waters are waters;
after he gets an insight into the truth of Zen through the instruction of a good master, mountains to him are not mountains and waters are not waters;
but after this when he really attains to the abode of rest, mountains are once more mountains and waters are waters."

Untaian kalimat di atas adalah koan Zen yang cukup terkenal. Sebelum dibahas, saya mengingatkan diri pada novel yang dibaca sekitar dua atau tiga tahun lalu, sebuah mahakarya dari Ernest Hemingway berjudul The Old Man and The Sea (1952). Novel tidak terlalu tebal itu ceritanya sangat sederhana, tentang nelayan tua bernama Santiago yang pergi melaut setelah 84 hari tanpa menangkap ikan satu pun. Di hari ke-85, ia berhasil menangkap dua ikan marlin besar yang sekaligus juga menarik perhatian hiu-hiu untuk ikut bersantap. Santiago berjuang, bertarung melawan si hiu demi mempertahankan tangkapannya. Ceritanya begitu saja.

Yang jadi pertanyaan saya, tidakkah novelnya terlalu simpel untuk sebuah mahakarya yang dikerjakan di masa tua Hemingway? Sebagai informasi, The Old Man and The Sea adalah karya pamungkas Hemingway sebelum ia wafat tahun 1961. Hemingway sendiri bahkan tidak punya keinginan menjadikan novel ini penuh simbol atau menyiratkan makna tertentu:

"There isn't any symbolism. The sea is the sea. The old man is an old man. The boy is a boy and the fish is a fish. The shark are all sharks no better and no worse. All the symbolism that people say is shit. What goes beyond is what you see beyond when you know."

Artinya, pada masa tuanya Hemingway memilih tema-tema sederhana, gaya penceritaan sederhana, dan tidak perlu berusaha tampil njelimet dengan sisipan-sisipan penuh makna. Gaya yang bertolak belakang dengan setidaknya satu novel legendarisnya, For Whom The Bell Tolls yang dibuat sebelas tahun sebelum The Old Man and The Sea.

Hemingway hanya salah satunya. Banyak filsuf yang seringkali "merevisi" pemikirannya di masa tua dengan lebih sederhana. Ludwig Wittgenstein misalnya, ia menulis dua buku terkenal, yang pertama Tractatus Logico Philosophicus dan yang kedua Philosophical Investigations. Lucunya, buku kedua terang-terangan menyebutkan bahwa buku pertama yang ia tulis banyak kekeliruan. Filsuf analisis bahasa ini di buku pertama menyatakan teori gambar yaitu "Ada fakta, ada nama. Ada nama, ada fakta". Artinya, segala sesuatu yang di luar fakta, itu omong kosong. Seperti misalnya, "Dosa", "Tuhan", "Malaikat", dsb adalah entitas yang tidak ada faktanya sehingga kata-kata itu tidak punya makna. Di buku kedua ia meralat, bahwa gak gitu-gitu amat, bahasa itu juga hanya permainan. Ia bermakna dalam konteksnya, seperti permainan catur dimana sebutan "raja" bukanlah raja dalam arti sebenarnya, tapi raja yang disepakati dalam permainan. Cukup simpel, bukan?

"Ralat" semacam ini banyak terjadi. Maka itu ahli sejarah kerap membagi pemikiran mereka dalam dua periode besar, seperti Sartre muda dan Sartre tua, Marx muda dan Marx tua, Beethoven muda dan Beethoven tua, dst. Pada fase kehidupan tertentu, ada cara pandang dari mereka-mereka ini layaknya koan yang disebutkan di awal: Kembali melihat gunung sebagaimana gunung dan laut sebagaimana laut sebelum mereka tercerahkan.

Namun jika demikian, apakah berarti percuma melakukan pencerahan kalau ujung-ujungnya balik ke awal? Tentu saja tidak, kata Bambang Sugiharto, "Jika kita mendengarkan kalimat 'Tuhan itu ada' dari mulut Freud, akan sangat berbeda 'ketebalannya' dengan kalimat yang sama keluar dari mulut orang-orang yang tidak pernah mencari."

Jangan-jangan perjalanan seseorang yang paling panjang justru berakhir di rumahnya sendiri. Contoh terbaik tentang ini tentu saja bapak saya sendiri. Saya ingat beliau di masa mudanya yang apruk-aprukan keliling dunia berkarya dan berkarya. Belakangan, di masa tuanya, permintaan dia menjadi sederhana: Ayo besarkan garasi rumah kita. Suatu hari saya berdiskusi dengannya, tentang mengapa kok kelihatannya bapak begitu naif dan simpel dalam berpikir. Alih-alih membuka galeri, sekarang malah memperbaiki garasi. Jawabnya, "Yang sulit dalam hidup adalah bertindak sederhana. Selalu ada godaan bagi manusia untuk tidak jadi sederhana."

Continue reading

Senin, 09 Januari 2012

10 Commandments of The Mafia: Ketika Made-Man Wajib Cinta Keluarga

10 Commandments of The Mafia: Ketika Made-Man Wajib Cinta Keluarga
Beberapa hari yang lalu, seorang kawan bernama Iqbal nge-whatsapp saya dengan foto di atas plus pesan yang bunyinya, "Mau beli?" Tanpa pikir panjang saya balas, "Mau." Apa alasan saya tidak berpikir panjang? Karena saya sedang keranjingan nonton film-film mafia dalam kurun tiga bulanan terakhir.

Sejak The Godfather, saya memang ketagihan melihat penggambaran mafia oleh film-film lain (Scarface, Donnie Brasco, Goodfellas, The Soprano, The Untouchables, Casino, The Departed, dsb). Selain aksi-aksi berdarah serta intrik-intriknya, saya juga suka bagaimana pencitraan dalam film mafia tentang pria yang "sejati", dalam artian mereka menjunjung tinggi nilai-nilai "universal kaum pria" seperti menepati janji serta menghargai wanita. Para anggota sering disebut sebagai Made Man atau "Pria yang terlantik".

Jika sudah menonton film-film di atas, maka pernyataan 10 Commandments of The Mafia ini akan sangat menarik:

  1. No one can present himself directly to another of our friends. There must be a third person to do it.
  2. Never look at the wives of friends.
  3. Never be seen with cops.
  4. Don't go to pubs and clubs.
  5. Always being available for Cosa Nostra is a duty - even if your wife is about to give birth.
  6. Appointments must absolutely be respected.
  7. Wives must be treated with respect.
  8. When asked for any information, the answer must be the truth.
  9. Money cannot be appropriated if it belongs to others or to other families.
  10. People who can't be part of Cosa Nostra: anyone who has a close relative in the police, anyone with a two-timing relative in the family, anyone who behaves badly and doesn't hold to moral values.
Daftar tersebut diperoleh polisi Sisilia ketika penangkapan bos mafia bernama Salvatore La Piccolo. Pembahasan poin demi poin dilakukan dalam film dokumenter tersebut lewat bantuan beberapa eks anggota mafia seperti Michael Franzese (eks keluarga mafia Colombo) dan Henry Hill (eks keluarga mafia Lucchese). Dari keseluruhan poin, justru bagi saya yang paling menarik perhatian adalah nomor dua dan tujuh, yaitu yang punya kaitan tentang istri.

Mafia, meskipun mereka mengerjakan hal-hal ilegal seperti pencurian, jual-beli narkoba, perjudian serta pembunuhan, namun mereka ada upaya menyeimbangkannya lewat kesetiaan terhadap keluarga. Kata Vito Corleone dalam The Godfather, "A man who doesn't spend time with his family can never be a real man."

Uniknya, masa remaja selalu merupakan awal dari masa pemberontakan yang biasanya keluarga adalah korban pertamanya. Saya adalah seorang diantaranya, yang mana jika masa remaja bersama-sama keluarga itu adalah memalukan adanya. Yang keren adalah bersama teman-teman, yang keren adalah pacaran beda agama sehingga bisa "You and me, against the world!", yang keren adalah pulang pagi dan marah-marah terhadap ibu-bapak. Sebaliknya, saya berusaha menumbuhkan rasa respek dengan lingkungan di luar keluarga. Maka itu jika ada gathering kawan-kawan saya lebih tertarik untuk nongol daripada gathering dengan keluarga besar.

Menjelang pernikahan (lagi-lagi curhat colongan, sekarang diselipkan di tengah topik mafia), saya mulai mencari nilai-nilai apa yang bisa saya pegang untuk menjalankan kehidupan nantinya. Dari sepuluh perintah mafia, saya akan buang nomor satu dan nomor lima, sisanya akan saya jalankan dalam rumah tangga. Istriku, here comes the Made-Man!


Continue reading