Monday, December 31, 2012

Dwilogi Novel Padang Bulan: Sastra Motivasi dan "Tampak Keren"


Setelah tandas membaca Taiko yang tebalnya 1140 halaman, saya coba cari novel yang sekiranya tidak terlalu berat untuk diselesaikan. Akhirnya saya temukan novel ini: Dwilogi Padang Bulan karya penulis Andrea Hirata yang naik daun oleh sebab Laskar Pelangi-nya. Saya belum membaca novel dia yang manapun. Ini adalah yang perdana.

Hanya dua hari saya perlukan untuk menyelesaikan kedua buku yang terkemas dalam dwilogi Padang Bulan yaitu Padang Bulan dan Cinta di Dalam Gelas. Tidak ada kerut kening atau membulak-balik halaman ke belakang untuk menyusun kepingan memori karena tertumpuk alur atau penokohan yang kompleks. Teknik bercerita Andrea sangat mengalir, ringan, dan tak jarang membuat saya menyunggingkan senyuman. Senyum ini bisa disebabkan oleh hal yang memang mengandung kejenakaan, bisa juga karena saya tak habis pikir: Mengapa bisa tulisan semacam ini jadi seperti apa yang dicapkan di sampul depannya: Mega Bestseller -Terjual 25.000 eksemplar dalam 2 minggu. Pertanyaan kemudian muncul: Orang banyak yang tidak paham sastra, atau malah saya?

Tentu saja saya punya sejumlah argumen mengapa novel Andrea Hirata ini tidak pantas disejajarkan dengan penulis Indonesia lain sekelas Ayu Utami atau Nukila Amal misalnya. Pertama, adalah bagaimana Andrea begitu gatal ingin memamerkan sejumlah referensi "tampak keren" agar dirinya terlihat mempunyai wawasan yang melimpah. Berikut contoh uraiannya:

1) Kini ia duduk di depanku, sesosok perempuan perkasa, dengan lengan lebih besar dari lenganku. Dua orang petinju kulihat telah menguasai perempuan itu: Sugar Ray Leonard di lehernya, Thomas Hearns di bahunya. Kakinya kukuh seperti rusa Thomson.

2) Tujuh pionnya yang tersisa menjelma menjadi tujuh samurai: Kambei Shimada, Katsushiro, Kyuzo, Gorobei, Shichiroji, Heihachi, dan Kikuchiyo. 
Ketujuh samurai berjibaku secara kesatria walau kekuatan tak berimbang. Shichiroji tewas. Sisa enam pasukan Maryamah menjelma menjadi The Braveheart -WilliamWalace- dan lima pembebas Skotlandia sampai William Wallace mangkat. 
Lima warrior Skotlandia yang tersisa langsung berubah menjadi Power Rangers. Mereka berperang tak kenal takut. Menteri Syamsuri Abidin yang keji menghabisi Ranger Pink. Penonton berulang kali mengejek Maryamah agar meletakkan pedangnya di tanah, namun perempuan itu bertekad untuk membela kehormatannya sampai titik darah penghabisan.
Empat pion terakhir Maryamah mengubah dirinya menjadi Kura-Kura Ninja. Pertempuran sengit meletus sampai kura-kura Donatello mengembuskan napas yang terakhir. Tiga prajurit tersisa dengan cepat menjelma menjadi The Three Musketeers. Dalam sebuah penyergapan, D'Artagnan, salah satu dari Musketeers menjadi almarhum lantaran dibunuh luncus Syamsuri Abidin.

Dari segelintir paragraf yang diuraikan di atas, simak bagaimana penulis begitu ingin memperlihatkan keluasan wawasannya akan budaya pop dan pengetahuan umum. Hal tersebut tidak berlangsung dalam sedikit halaman, melainkan mendominasi seisi buku. Mungkin bagi sebagian pembaca, hal ini amat terpuji. Namun bagi pembaca yang sudah biasa membaca novel-novel berbobot yang ditulis oleh penulis berwawasan betul-betul luas, mungkin akan merasa upayanya ini justru menunjukkan kekurangan wawasan -ketidakpercayadirian akut sehingga harus mencomot istilah-istilah yang "tampak keren"-.

Pertanyaan berikutnya adalah: Mengapa harus dijadikan dwilogi? Jujur, saya baru mendengar istilah dwilogi. Yang lebih umum barangkali trilogi ataupun -belakangan- tetralogi. Jika mau dibagi berdasarkan tema ataupun penokohan, baik Padang Bulan maupun Cinta di Dalam Gelas bisa dibilang mirip-mirip. Keduanya masih berpusat pada dua orang tokoh utama yaitu Ikal dan Maryamah. Bahasa gampangnya: Buku ini tidak perlu diberi label dwilogi, atau malah tak perlu dibagi dalam dua buku. Satu buku saja sudah cukup. Kecurigaan saya, diberi istilah dwilogi, lagi-lagi, demi teknik pemasaran yang berbasiskan istilah-istilah "tampak keren".

Terakhir, soal makna. Novel ini -salah, dwilogi novel ini- barangkali bertemakan sesuatu yang sedang digandrungi oleh masyarakat kita. Temanya sangat memotivasi: Perjuangan Maryamah yang kehilangan ayah sejak kecil, untuk kemudian berjuang mencari pekerjaan, sampai akhirnya menjadi perempuan pendulang timah pertama di dunia. Belum habis sampai situ, Maryamah melanjutkan perjuangannya dengan mengalahkan mantan suaminya, Matarom, di pertandingan catur. Yang mengharukan tentu saja sisi dimana Maryamah yang tadinya tidak bisa bermain catur, menjadi bisa oleh suatu perjuangan yang keras dan menjadi pesan cukup jelas: "Kita semua bisa jika semangat dan bersungguh-sungguh!". 

Ikal pun tak kalah menunjukkan perjuangannya -saya curiga Ikal ini adalah Ikal yang sama dengan yang ada di Laskar Pelangi. Ikal adalah panggilan lain dari sang penulis, Andrea Hirata. Berarti, buku-buku Andrea adalah selalu menceritakan dirinya yang penuh motivasi-. Ia mengejar cintanya, A Ling, dengan tekad yang kuat meski dirinya serba berkekurangan dibanding sang rival, Zinar. Di buku Cinta di Dalam Gelas, Ikal menjadi penjaga warung kopi, dimana ia diam-diam mencatat segala gerak-gerik para peminum kopi sehingga karakternya dan mood-nya bisa ditelaah satu persatu. Bagian pembukuan gerak-gerik peminum kopi ini, bagi saya, cukup menyelamatkan buku ini dari tuduhan dangkal total. Meski ditulis dengan gaya ringan dan jenaka, namun Andrea sepertinya melakukan survey yang cukup untuk ini -nah, kita bisa tahu bahwa tulisan ringan pun bisa kelihatan pintar walaupun tidak ditonjol-tonjolkan-. 

Buku ini menegaskan satu mitos yang diungkap oleh kawan saya, Pirhot Nababan, "Penulis Indonesia rata-rata memforsir diri untuk buku pertama. Setelah itu ia kehabisan tenaga." Betul, dwilogi novel Padang Bulan adalah contoh betapa Andrea kehabisan inspirasi sehabis dimabuk kesuksesan tetralogi Laskar Pelangi. Ia berupaya membubuhkan disana-sini tambahan topik-topik kecil agar novelnya tampak tebal. Namun itu tidak membuat  novel tersebut menjadi punya bobot. 

Continue reading

Tuesday, December 25, 2012

Lima Puluh Tahun di Bawah Langit


Hidup manusia
Hanya lima puluh tahun di bawah langit.
Jelas bahwa dunia ini
Tak lebih dari mimpi yang sia-sia.
Hidup hanya sekali.
Adakah yang tidak akan hancur?


Syair kesukaan Oda Nobunaga tersebut terngiang-ngiang di dalam karya besar Eiji Yoshikawa selain Musashi yang berjudul Taiko. Sebelum membahas isinya, penting bagi saya untuk menceritakan bahwa sejarah kehadiran buku ini bisa dibilang cukup sentimentil. Taiko adalah hadiah pernikahan bagi saya dan istri dari seorang kawan bernama Heru Hikayat. Ia memberikannya pada sekitar tanggal 3 Februari, satu hari sebelum pernikahan kami.

Jujur saja, sewaktu menerima ini, ada perasaan senang sekaligus bingung. Bingung karena saya tidak punya tradisi membaca novel yang tebalnya ribuan halaman. Melihatnya secara sepintas pun terasa ngeri. Namun setelah memaksakan diri menamatkan Musashi yang sama tebalnya, saya mendapatkan motivasi dari Bambang Q-Anees, seorang dosen. Katanya, "Setelah baca Musashi, lengkapi dengan baca Taiko. Musashi mengajarkan teguh dalam kesendirian, Taiko mengajarkan bagaimana bersiasat menghadapi orang banyak."  Motivasi itu dilipatgandakan dengan mengajak Palupi Kinkin, kawan di Tobucil, untuk berseteru tentang siapa yang sanggup menamatkan buku dengan tebal 1140 halaman ini. Dengan motif-motif luar tersebut, akhirnya saya sukses menamatkannya dalam kurang dari dua bulan. Sebuah pekerjaan yang tidak mudah karena Taiko secara penokohan jelas lebih kompleks daripada Musashi.  

Taiko mengambil latar periode Sengoku di Jepang. Ada tiga calon pemimpin yang masa itu tengah menonjol yaitu Oda Nobunaga, Toyotomi Hideyoshi dan Tokugawa Ieyasu. Ketiganya hadir ketika Jepang tengah dilanda perang antar propinsi yang sangat dahsyat. Taiko menitikberatkan ceritanya pada Hideyoshi -Nobunaga disinggung banyak, Ieyasu sedikit-. Ceritanya dianggap menarik karena menurut catatan sejarah, ia lah satu-satunya calon pemimpin yang sama sekali tidak mempunyai keturunan penguasa. 

Hideyoshi betul-betul anak desa biasa dengan kemiskinan di bawah rata-rata, yang bahkan di usia muda hidupnya lebih sering diliputi kegagalan. Hidupnya berubah perlahan-lahan ketika secara nekat ia menawarkan diri jadi pengikut Nobunaga. Nobunaga acuh tak acuh menerima tawarannya karena kasihan. Pelan-pelan Si Monyet -julukan Hideyoshi karena tampangnya yang mirip monyet- mengalami peningkatan jabatan seiring dengan kesetiaan dan kecakapannya. Ia naik pangkat menjadi pembawa sandal, pemimpin dapur, pemimpin proyek pembangungan benteng, pemimpin pasukan infantri kecil, penasehat Nobunaga, pemimpin rombongan besar penaklukkan ke propinsi Barat. hingga berkembang menjadi penumpas pemberontakan Akechi Mitsuhide, yang ditutup secara gemilang dengan gelar penguasa negeri.

Dalam hal detail, Yoshikawa kembali patut mendapat acungan jempol. Bahkan untuk Taiko, rasa-rasanya riset sejarah harus lebih dalam dan menyeluruh ketimbang Musashi. Musashi, bagaimanapun, mencitrakan dirinya sebagai ronin yang jauh dari kemashyuran sehingga peluang untuk membangun latar secara fiktif jauh lebih terbuka. Sedangkan menovelisasikan sejarah Jepang Periode Sengoku adalah berarti harus mencermati teks demi teks, sehingga pengembangannya pun diwajibkan mematuhi sejumlah rambu-rambu historis. Namun Yoshikawa seolah tidak tertekan dengan itu. Ia membubuhkan fantasinya dimana-mana, namun tetap memberikan edukasi tiada terkira. Bahkan sosok Nobunaga, Hideyoshi, dan Ieyasu menjadi sangat hidup, dekat, dan bahkan mengundang simpati -Mba Palupi mengaku patah hati ketika mengetahui Nobunaga melakukan seppuku karena dikhianati Mitsuhide, sehingga ia memutuskan untuk menunda membaca sekian lama-. Inilah novel yang bagi saya tidak penting lagi batas antara fiksi dan non-fiksi. Kita bisa saja mengetahui sosok Hideyoshi dari teks-teks sejarah, tapi ia tidak cukup untuk menjadi hidup dan bergerak dalam benak, jika tidak difantasikan secara hidup pula. 

Pertanyaan berikutnya: Apa yang bisa dipetik dari novel epik ini? 

Banyak sekali. Novel ini adalah tentang siasat politik dan perang. Dulu saya berpikir bahwa ketika seseorang memilih jalur politik, maka ia sudah pasti mencemplungkan dirinya pada lumpur. Sudah pasti ia kotor dan maka itu bersebrangan dengan "kaum non-politis" seperti misalnya kaum agamawan atau spiritualis -oh, betapa naifnya saya!-. Namun rasa-rasanya setiap orang tidak bisa dilepaskan dari tindakan politis. Setiap orang bersiasat, bahkan antara dirinya dengan Tuhan. Taiko mengajarkan bahwa siasat demi siasat tidak identik dengan kebusukan hati. Dalam buku itu tetap ada: Orang yang bersiasat dengan hati yang luhur, dan orang yang bersiasat dengan hati yang rendah. Nobunaga pernah membakar Gunung Hiei yang isinya kuil-kuil bersejarah dengan bhiksu-bhiksu karismatik. Namun ia melakukannya karena suatu pandangan ke depan: Bhiksu-bhiksu itu bersenjata, berkomplot, dan memihak. Alangkah lebih baik membumihanguskan semua ketimbang menyisakan satu dua tapi menjadi bibit bencana. 

Hideyoshi adalah diplomat ulung -kata "diplomasi" tiada disinggung dalam novel-. Ia lebih baik menghabiskan waktu perang dengan bernegosiasi daripada menumpahkan darah. Ia memperhitungkan segala hal hingga ke rinci-rincinya, sebelum datang seorang diri menghadap musuh untuk berbicara dengan cara yang aneh: lemah tapi tegas, merendah tapi tampak tinggi, halus tapi kasar. Hideyoshi seolah punya anggapan: pertempuran fisik bisa saja dilakukan, tapi jika musuh punya ketetapan hati yang kuat, maka meski luluh lantak pasukannya, pemikirannya akan tetap mengancam. Hideyoshi selalu punya keberanian untuk mencoba masuk ke jantung hati lawan, langsung menyentuh sanubarinya untuk menyerahkan diri atau berpihak kepadanya. Seperti kata-kata di halaman depan: Nobunaga akan membunuh burung jika tidak mau berkicau, Hideyoshi akan membuat burung itu ingin berkicau, Ieyasu akan menunggu.

Namun segala siasat, taktik politik, pertumpahan darah, pemenggalan kepala, dan pengibaran panji-panji, tidak membuat novel ini kehilangan kedalamannya -seolah-olah segala unsur-unsur yang saya sebutkan tadi hanya berkisar di tataran nafsu rendah manusia-. Kita kembali ke syair favorit Nobunaga yang kalimat di baris pertama sering disinggung-singgung dalam novel: Lima puluh tahun di bawah langit. Kalimat itu tidak saya pahami sebelum masa ketika akhirnya sang penguasa negeri membelah perutnya sendiri. Ternyata inilah kedalaman yang ditawarkan si novel: Bahwa segala ambisi dan nafsu manusia hanya dinaungi hingga lima puluh tahun usia. Setelah itu mungkin ia masih akan mewujudkan sejumlah mimpinya, namun di saat yang sama, ia pun tentu saja berpikir tentang dekatnya sang ajal. Inilah kalimat menarik ketika Kuil Honno, tempat kediamannya, diserang pengkhianat bernama Akechi Mitsuhide:


Lima puluh tahun umur manusia di bawah langit. Itulah salah satu bait dari sandiwara yang begitu digandrungi Nobunaga, sebuah syair yang mencerminkan pandangan hidupnya di masa muda. Peristiwa yang kini dialaminya tidak dianggap sebagai peristiwa yang mengguncangkan dunia. Dan ia sama sekali tak gentar oleh pikiran bahwa ajalnya mungkin sudah dekat.

Pada usia lima puluh juga, Hideyoshi meraih kekuasaan tertingginya. Ia menyebutnya sebagai puncak tertinggi seorang laki-laki. Konfusius, sang saga, pernah berujar, "Pada usia lima puluh, aku sudah mengetahui kehendak surga." Isu usia ini tentu saja mudah untuk diperdebatkan karena toh kita menemukan bahwa ada juga orang berusia lima puluh yang masih kebingungan dan jauh dari ketetapan hati. Tapi bagi saya pribadi, kalimat lima puluh tahun di bawah langit ini sangat bermakna, terutama tentang bagaimana saya selalu dihantui pertanyaan tentang bagaimana perasaan mereka, terutama yang sudah tua, tentang kenyataan bahwa ajal selalu mengintipnya. Anak muda selalu mengenyahkan pertanyaan tentang kematian, seperti ia bukan bagian dari keseharian yang bisa terjadi kapan saja. Manusia berkepribadian agung seperti Nobunaga, yang mempunyai kekuasaan dunia yang sangat luas, ternyata termasuk ke dalam mereka yang tidak takut akan kematian -para sufi yang menganut kezuhudan (hidup sederhana) dan para bhiksu sering berdalih bahwa harta duniawi lah yang membuat seseorang takut akan mati-. Namun Nobunaga berpendapat lain: Usia lima puluh, jika iya kita sudah menghabiskan sepanjang hidup untuk mewujudkan cita-cita, maka sisa usia adalah tentang bagaimana kita mati tanpa rasa sesal.

Continue reading

Friday, December 14, 2012

Page Turner (2)

Ini adalah kali kedua saya didaulat menjadi petugas pembalik halaman partitur alias page turner. Ini kali kedua juga saya merasa harus menuliskannya karena betapa pengalaman ini sedemikian berkesan.

Pengalaman pertama datang setahun lalu tepatnya tanggal 3 Desember 2011. Waktu itu di Surabaya, debut saya tak tanggung-tanggung: Menjadi page turner bagi resital yang melibatkan dua pemain berkelas, yang satu adalah Urs Bruegger, klarinetis asal Swiss, dan Ratnasari Tjiptorahardjo, pianis Indonesia domisili Australia. Ketegangan yang dialami luar biasa, terutama disebabkan itu merupakan pengalaman pertama. Pada akhirnya, kegiatan membulak balik halaman itu berlangsung cukup lancar -Ibu Ratna mencatat saya satu kali terlambat membalik-. Saya mendapat kesimpulan istimewa: Inilah posisi VVIP dalam apresiasi musik klasik. Tidak ada senot pun yang terlewat untuk diapresiasi. Adrenalin khas konser pun mau tak mau ikut ditularkan pemain, sehingga saya terseret untuk tegang. 

Kesempatan kedua kali baru saja datang tadi malam. Pianis Mutia Dharma meminta saya untuk membukakan tiga dari empat karya yang dibawakan malam itu. Resital Sarah Tunggal (flute) dan Arya Pugala Kitti (biola) tersebut membawakan komposisi dari Bach, Schubert, Dvorak, dan Faure. Dengan penuh rasa syukur, sekali lagi saya mendapatkan kesempatan untuk duduk di samping pianis dan merasakan aura konser secara utuh penuh. Liukan sahut menyahut ala Bach, sentimentalitas Schubert, serta keluasan Dvorak -bagai ia sedang memandangi tanah baru bernama Amerika yang penuh harapan- sanggup dinikmati tanpa kehilangan satu not pun. Sayang sekali saya tidak kebagian menikmati Faure dari tempat istimewa tersebut, padahal sungguh saya ingin mengapresiasi geliat scale janggal yang penuh kejutan dari sang impresionis. Rasa ngantuk yang sebelum konser sempat melanda, hilang entah kemana -berubah menjadi terjaga sepenuhnya-.Terdengar jelas bagaimana sang pianis sesekali berdecak kesal, bernapas tersengal, hingga melepaskan napas penuh kemenangan. Saya belum kehilangan nikmat itu, sebagaimana setahun lalu saya mendapati karya-karya Poulenc, Verdi dan Schumann bisa dikonsumsi tanpa sedikitpun gizinya terbuang. 

Foto diam-diam dari posisi page turner di samping Mutia Dharma.
Posisi page turner barangkali sedang dalam ancaman disebabkan keberadaan tablet yang sejumlah pianis sudah mulai menggunakannya. Partitur ditampilkan dalam tablet sehingga untuk membaliknya tinggal disentuh saja. Saya bisa paham jika lama-lama page turner tak digunakan. Selain digantikan teknologi, keberadaannya juga kerap mengganggu pemandangan dan tetap menyisakan kemungkinan human error yang fatal. Tapi sebelum kita ucapkan selamat tinggal pada posisi page turner ini dalam sepuluh atau dua puluh tahun mendatang, saya akan sekali lagi bertestimoni: Inilah posisi terbaik dalam apresiasi musik klasik. Kalian yang sanggup membaca notasi secara cepat, seyogianya pernah mencoba duduk di sana. Sebelum istilah page turner tinggal sejarah.

Continue reading

Tuesday, December 11, 2012

Kehilangan

Kehilangan
Selasa kemarin saya mengalami kehilangan. Seserius apa nilai kehilangannya, selalu relatif bagi setiap orang. Saya kehilangan dua buah laptop yang digondol maling dengan cara memecahkan kaca mobil. Tapi orang yang pernah kehilangan lebih besar akan menganggap hal yang seperti ini sepele. "Saya pernah kehilangan anak," "Saya pernah kehilangan golok leluhur kakek saya," "Saya pernah kecurian tiga buah laptop," dst, dst. Hal tersebut sekaligus menunjukkan bahwa kehilangan jelas merupakan pengalaman eksistensial. Bagi saya pribadi, hilang laptop berarti juga hilang hiburan dan pekerjaan. Sehari-hari saya menulis, entah itu demi uang atau demi penyaluran hasrat. Kehilangan laptop membuat saya membayangkan hari-hari ke depan yang penuh kehampaan.

Jika kehilangan merupakan suatu bencana. Maka saya teringat tiba-tiba suatu pepatah dari Sir Muhammad Iqbal, "Bencana membuat kita bisa melihat keseluruhan kehidupan." Saya menyatakan setuju untuk apa yang ia ungkapkan. Kehilangan secara mendadak seperti kemarin membuat saya mampu berpikir secara holistik tentang hidup, mati, nasib, rejeki, hingga cinta. Betapa manusia tiada punya kuasa tentang apa-apa yang ia rencanakan. Saya beri contoh sebaliknya: Pernah suatu hari rumah lupa dikunci, dan tidak terjadi kecurian apa pun. Sedangkan alarm mobil saya termasuk canggih dan sensitif, tapi ia tak sanggup menyalak meski kacanya dihantam. 

Kehidupan begitu menyayangi saya. Ia masih mengajarkan, bahwa di dunia yang makin rasionalistik ini, masih ada yang mistis. Masih ada misteri yang menyelimuti sehingga perasaan fascinatum et tremendum tetap lestari meski terdengar seperti cerita lama Abad Pertengahan. Kita bisa katakan kejadian seperti ini bisa dihindari seandainya tidak lalai, seandainya lebih waspada, seandainya bla bla bla. Tapi kehidupan tidak pernah kenal "seandainya". Ajarannya sudah mutlak, tinggal bagaimana seorang manusia bisa melihat setitik kebaikan di tengah prahara, ataupun setitik bahaya di tengah bahagia. 

"Tidak ada yang benar-benar datang, tidak ada yang benar-benar hilang," demikian kata seorang kawan yang kebetulan juga bernama Iqbal. Bahkan ayam yang kita santap dan masuk ke perut ia tidak lenyap, hanya berubah bentuk. Herman Hesse dalam Siddhartha mengatakan, bahkan tanaman yang merimbunkan kehidupan, ia tak mungkin hidup jika tanpa tanah, dan tanah tak mungkin terjadi jika bukan dari batu-batu yang hancur. Jadi bagaimana kita bisa mengatakan bahwa tanaman punya derajat lebih tinggi dari bebatuan, hanya karena yang satu hidup dan yang satu mati? 

Laptop saya hilang. Ia mungkin menjadi uang bagi si pencuri yang berhasil menjualnya. Uang itu ia belikan makanan. Makanan itu menjadi daging yang menghidupinya, dan sebagian lagi menjadi ampas, kembali ke tanah. Suatu hari saya, kita semua, akan kembali ke tanah. Di situ mungkin tiada beda antara yang datang dan yang hilang.

Continue reading

Friday, December 7, 2012

Bane

Bane

Akibat sibuk menjalankan ibadah nonton tiga puluh film dalam tiga puluh hari bulan Ramadhan, saya dengan konyol melewatkan salah satu film terbaik tahun ini: The Dark Knight Rises yang marak diputar di bulan puasa. Bagian terakhir dari trilogi Batman karya sutradara Christopher Nolan ini baru saya tonton kemarin malam.

Kekeliruan pertama dalam menyaksikan rangkaian film Batman-nya Nolan ini adalah menganggapnya sebagai film hiburan sebagaimana yang sudah disajikan dulu oleh Tim Burton ataupun Joel Schumacher. Batman garapan Nolan adalah Batman yang penuh pergumulan psikologis maupun filosofis. Aksinya yang dahsyat -yang tentu saja sudah ditopang teknologi yang jauh lebih canggih ketimbang pendahulunya-, berlangsung tidak sebanyak dialognya yang sepertinya ingin lebih ditekankan oleh Nolan. Bagi mereka yang hanya berharap menyaksikan Batman beradu jotos secara full-action, tentu saja kehilangan banyak gizi jika tidak memerhatikan konten percakapan.

Ada satu ciri khas yang cukup menarik setidaknya dari dua film Batman terakhir yaitu The Dark Knight dan The Dark Knight Rises, yaitu bagaimana Nolan sanggup membuat penontonnya menyimpan simpati aneh terhadap para tokoh yang sudah secara tradisional merupakan antagonis sempurna seperti Joker dan Bane. Joker, kita tahu, diperankan dengan sempurna oleh almarhum Heath Ledger. Meski tidak semenjulang Ledger, Tom Hardy tidak kalah baiknya memerankan teroris intelek Bane -baik Joker maupun Bane kita sadari membuat posisi penonton kadang bimbang: Apakah betul keduanya jahat, atau malah Batman yang jahat?-

Bane, setelah menyekap Bruce Wayne di penjara bawah tanah yang "filosofis" -di penjara tersebut, para tahanan bisa menyaksikan langit cerah. Hal tersebut justru menyiksa karena seolah ada harapan untuk kabur padahal nyaris mustahil-, kemudian membuat situasi anarkis di Kota Gotham. Seisi kota dibuat tanpa kepemimpinan dan membiarkan rakyat mengontrol nasibnya sendiri-sendiri. Kota Gotham menjadi seperti milik bersama karena tiada lagi legitimasi kekuasaan maka itu yang kuat menjadi pemenang. Salah satu efek menarik dari anarki ciptaan Bane ini -dan sangat dirindukan oleh warga Indonesia- adalah bagaimana orang-orang kaya yang bersalah bisa diadili oleh rakyat dan dieksekusi saat itu juga.

Bane menciptakan khaos, itu jelas. Ia adalah antagonis yang meresahkan, membuat penonton gereget menanti Batman menata kembali Kota Gotham. Namun sadari sejenak bagaimana anarkisme ini ternyata menyenangkan juga, terutama ketika melihat para teroris binaan Bane bisa secara terbuka berperang melawan polisi yang cuma bermodalkan pentungan dan handgun seadanya. Pada situasi ini, polisi sebagai instrumen penegak hukum menjadi tidak lebih dari sekadar rakyat biasa berbaju hitam. Yang menang adalah mereka yang secara akses terhadap sumber daya jauh lebih terbuka -Dalam hal ini, kelompok Bane lebih unggul karena punya senjata-. 

Jika logika ini dibalik, tidakkah sesungguhnya kekuasaan juga hanya sekadar urusan akses terhadap sumberdaya? Tidakkah apa yang dimaksud dengan 'pemerintah', adalah tidak lebih dari sekumpulan orang rakus yang mempunyai sumberdaya lebih dan hanya mau dibagi sedikit dengan sesama? Mereka sesekali berbagi, agar wibawanya sebagai pemegang akses sumberdaya terjaga, maka itu posisi kekuasaan menjadi langgeng. Bane dengan ekstrim mewacanakan suatu perspektif yang berani: Apa jadinya jika segalanya dimulai dari nol. Tidakkah menjadi semacam fitrah manusia untuk mencari akses terhadap sumberdaya, sehingga daya tahan mereka untuk hidup lebih panjang menjadi terjamin?

Lebih jauh lagi, Bane hendak berkata tentang irelevansi pertentangan kapitalisme dan komunisme. Pada dasarnya keduanya berada dalam lubuk fitrah manusia sekaligus. Ketika kamu disejajarkan, kamu ingin menonjol. Ketika kamu menonjol, kamu ingin berpura-pura sejajar, agar terus menonjol!
Continue reading

Sunday, December 2, 2012

Perempuan di Moncong Senjata: Penggambaran Aung San Suu Kyi di film The Lady (2011)

Perempuan di Moncong Senjata: Penggambaran Aung San Suu Kyi di film The Lady (2011)
 Dimuat di Majalah Bhinneka Edisi Desember 2012


Tidak ada adegan yang lebih dramatis dalam film The Lady, selain ketika Aung San Suu Kyi berjalan ke arah sekelompok tentara yang membidikkan senapan. Dengan semangat anti-kekerasan ala Mahatma Gandhi, Suu Kyi -yang diperankan dengan sangat prima oleh artis Singapura, Michelle Yeoh- menghadapi pasukan junta militer yang represif tersebut dengan senyum menawan. Ini bukan persoalan apakah adegan tersebut benar-benar terjadi di dunia nyata atau tidak. Yang lebih penting adalah bagaimana adegan itu menjadi simbol kekuatan perempuan dalam melawan tirani. 

Aung San Suu Kyi 

Sebelum membahas film The Lady, ada baiknya memberikan sedikit gambaran tentang tokoh yang diceritakan dalam film tersebut yakni Aung San Suu Kyi. Suu Kyi bukanlah perempuan yang menempati posisi puncak dalam pemerintahan Myanmar. Ia berdiri kokoh sebagai oposisi sejak tahun 1988 menentang tampuk tertinggi yang dijalankan oleh junta militer. Sejak tahun 1962, Myanmar, yang kala itu bernama Burma, diambil alih oleh kekuasaan militer di bawah pimpinan Jendral Ne Win. Dengan jalan kudeta, Ne Win membubarkan dengan paksa politik Burma yang cukup cemerlang di bawah pimpinan Presiden Win Maung dan Perdana Menteri U Nu. 

Sejak itu, Burma dipimpin oleh pemerintahan militer bernama Burma Socialist Programme Party (BSPP) dari tahun 1962 hingga 1988. Namun rakyat Burma tidak kunjung mendapatkan kebebasannya pasca BSPP terguling. Penggantinya, State Peace and Development Council (SPDC) memerintah dengan cara tak kalah represif di bawah pimpinan Jendral Saw Maung. Di masa SPDC ini pula, Burma berganti nama menjadi Myanmar. Pada periode SPDC inilah Suu Kyi berkarir secara politik. 

Keterlibatan Suu Kyi dalam politik sendiri bisa dibilang tidak disengaja. Pada tahun 1988, ia pulang ke Burma untuk mengunjungi ibunya yang sakit. Sebelumnya, Suu Kyi tinggal di Inggris beserta suaminya, Michael Aris dan hidup tenang dengan dua anak. Namun kepulangannya yang direncanakan singkat tersebut ternyata menjadi momentum bagi para aktivis yang tengah berdemonstrasi menentang kepemimpinan junta militer. Keberadaan Suu Kyi yang dianggap mampu memberikan kekuatan politik ini, tidak lepas dari sejarah. Ayah dari Suu Kyi, Aung San, adalah tokoh penting dalam politik Burma. Ia sukses memerdekakan Burma dari Inggris lewat jalur diplomasi, namun kemudian dieksekusi secara tiba-tiba oleh kelompok militer di usia 32 tahun. 

Meski meninggal sebelum Burma diresmikan merdeka dari Inggris, nama Aung San menjadi harapan bagi warga Burma. Mereka, khususnya aktivis anti pemerintahan militer, melihat keberadaan Suu Kyi sebagai mesias seperti halnya Aung San dulu membebaskan Burma dari penjajahan. Keberadaan Suu Kyi ini tercium oleh pemerintah SPDC yang menganggapnya sebagai ancaman terhadap kestabilan. 

Suu Kyi, yang lahir pada tahun 1945, kemudian dikenakan tahanan rumah dari tahun 1989 hingga baru saja dibebaskan kemarin pada tahun 2011. Meski ditahan, ia tetap menjadi pemimpin bagi partai yang dinaunginya, National League of Democracy (NLD). Kabar terakhir, Suu Kyi, mewakili NLD, akhirnya resmi mempunyai posisi di pemerintahan. Ia menduduki parlemen sebagai oposisi bagi Presiden Thein Sein. Selain keberhasilannya menembus parlemen, Suu Kyi juga pernah dianugerahi Nobel Perdamaian tahun 1991 dan sejumlah penghargaan internasional lainnya seperti Sakharov Prize for Freedom of Thought, Jawaharlal Nehru Award for International Understanding dan International Simón Bolívar Prize

The Lady (2011) 

The Lady, yang disutradarai oleh Luc Besson, adalah film yang menceritakan tentang Suu Kyi di periode antara kedatangannya ke Burma, perjuangannya bersama NLD, hingga statusnya sebagai tahanan rumah. The Lady juga tidak sedikit menyoroti kehidupan pribadi Suu Kyi dengan sang suami, Michael Aris, serta kedua anaknya, Kim dan Alexander. Film berdurasi 134 menit ini bermain di dalamnya Michelle Yeoh sebagai Suu Kyi dan David Thewlis sebagai Michael Aris. 

Meski secara gamblang menunjukkan bahwa film ini adalah biografi Suu Kyi, namun tentu saja setiap film mempunyai fokus tertentu. Sebelumnya, kita ambil contoh film Munich karya Steven Spielberg. Munich berpijak pada tragedi nyata tentang bagaimana para atlit Israel dibunuhi di Olimpiade Munich 1972 oleh para teroris. Kemudian fokus film ini adalah bagaimana agen rahasia Israel, Mossad, melakukan pembalasan terhadap tragedi tersebut. Jadi, kisah nyata hanya digunakan sebagai pijakan skenario. Selebihnya, sutradara boleh (dan bahkan harus) memilih angle mana yang ingin diangkat sebagai pesan dari sebuah film. 

Lantas, fokus mana yang diangkat oleh Luc Besson pada film The Lady? Suu Kyi dalam film ini tidak digambarkan hanya sebagai pejuang politik, melainkan juga posisinya sebagai istri bagi Michael dan ibu bagi Kim dan Alexander. Kekuatan Suu Kyi untuk maju menentang junta militer tidak hanya didapat dari para aktivis NLD, tapi juga dari dorongan keluarganya. Ada sisi yang hendak dipertunjukkan oleh Besson pada penonton: Bahwa Suu Kyi adalah perempuan pada umumnya. Ia bukan Yoanna dari Ark atau Hypatia yang menempa diri; lantas mengabdi sepenuhnya pada idealisme “kekuatan” ataupun “kebenaran”. Suu Kyi bukan perempuan seperti Simone de Beauvoir yang mencurahkan pikirannya untuk memberi landasan filosofis bagi kesetaraan perempuan. 

Suu Kyi, dalam penggambaran Besson, sungguh mencerminkan perempuan “rumah-an” yang menganggap bahwa keluarga adalah sumber kebahagiaan yang mesti dilestarikan. Bahkan Suu Kyi, yang untuk pertama kalinya pidato di depan pendukungnya dengan amat percaya diri dan berapi-api, harus sejenak menunjukkan wajah tegang dan keringat dingin pada sang suami sebelum menaiki podium. Ketika Suu Kyi berpidato, kamera juga menyoroti secara bergantian ekspresi Suu Kyi dan Michael Aris –yang begitu khawatir-. Seolah-olah menunjukkan bahwa dalam konteks panggung politik yang kejam dan dingin, keperempuanan Suu Kyi membutuhkan tenaga dari sanak famili. 

Lainnya, tentu saja adegan dramatis ketika sebaris tentara membidikkan senapan pada sekelompok aktivis NLD yang tengah berkampanye. Suu Kyi maju menghadapi tentara itu, berjalan tenang dengan hiasan bunga di rambut –tersenyum- dan melewati moncong senjata tanpa sedikitpun tersirat rasa takut. Suu Kyi, dalam perjuangannya, selalu menekankan anti-kekerasan seperti halnya Mahatma Gandhi ketika menghadapi represi Inggris. 

Junta militer Burma digambarkan sangat maskulin: demikian agresif dan menyukai penaklukan. Mereka juga anti-kritik dan menggilai tampuk kekuasaan. Demokrasi nyaris ditiadakan dan berdiri semacam pemerintahan totalitarian. Kita tidak bisa melihat bagaimana cara yang tepat untuk menggulingkan pemerintahan semacam itu –yang bahkan represif juga terhadap seni budaya!-. Jika ingin dilawan dengan kekerasan, akses senjata tentu saja tidak berimbang dengan yang dipunyai sipil.

Besson menunjukkan lewat filmnya, The Lady, bahwa situasi represif akut yang maskulin semacam itu, hanya bisa ditundukkan oleh keperempuanan yang natural. Pierre Bourdieu, filsuf Prancis, menyebutkan, “Dominasi laki-laki sudah sangat mengakar dalam kesadaran kita, sehingga bahkan kita tidak sanggup melihatnya.” Apa artinya? Jika Suu Kyi kemudian mengambil jalur sikap maskulin dengan melakukan agresi balik dan revolusi kekerasan, maka secara tidak langsung Suu Kyi menundukkan diri pada dunia kemaskulinan –ketika maskulin dilawan dengan maskulin, berarti seluruh dunia ini menjadi maskulin!-. 

Catatan Penutup 

Lewat penonjolan keperempuanan Suu Kyi dalam film The Lady yang amat sederhana, bisa jadi keberadaan perempuan pemimpin bukan saja perlu, tapi mendesak. Namun sekali lagi, kepemimpinan yang dimaksud tidak sama dengan kepemimpinan yang maskulin. Majunya perempuan ke medan politik bukan seperti majunya pria. Berjuangnya perempuan bukan seperti berjuangnya pria. Ekstrimnya perempuan tidak sama dengan ekstrimnya pria. Pernyataan-pernyataan semacam ini bukan menunjukkan kritik terhadap feminisme yang berupaya menyamaratakan posisi perempuan dengan laki-laki hingga ke tataran “kodrati”. Kemendesakan kepemimpinan perempuan menjadi perlu dalam segala lini untuk menjaga agar dunia tetap pada harmoninya: Seimbang antara maskulin dan feminin –kita bisa sebut Yin dan Yang-. Karena tanpa suatu kekuatan keperempuanan yang natural dan berintensi pada keseimbangan alam, tidak mungkin senyuman Suu Kyi bisa menaklukkan moncong senjata yang siap menyalak. 

Syarif Maulana 
Dosen Fakultas Ilmu Budaya UNPAD dan Penggiat Klab Filsafat Tobucil www.syarifmaulana.blogspot.com 

Referensi 
http://news.xinhuanet.com/english/world/2012-04/02/c_131504585.htm
http://www.nobelprize.org/nobel_prizes/peace/laureates/1991/kyi-bio.html
http://www.youtube.com/watch?v=sZFpURJGv00&feature=related
http://editorials.voa.gov/content/burmese-parliamentary-elections-146265885/1493313.html http://en.wikipedia.org/wiki/The_Lady_%282011_film%29
Continue reading

Tuesday, November 27, 2012

Awal Uzhara

Awal Uzhara
Baru saja, pagi tadi, saya bertemu seorang tua bernama Pak Awal Uzhara. Ia adalah dosen di Jurusan Sastra Rusia yang menghabiskan lebih dari separuh hidupnya di Rusia untuk salah satunya kuliah di bidang perfilman dokumenter. Usianya saya kira 75 tahun, tapi ternyata ia lebih tua lagi. Hal itu terungkap dari cerita yang ia paparkan sendiri, "Waktu saya bekerja di Radio Moskow tahun 1995, usia saya enam puluh tahun.." Artinya, jika dihitung, maka usia beliau sekarang 82 tahun!

Tentu saja kita tidak sedang membahas usia seseorang. Apa yang membuat saya sedemikian tertarik adalah tentang bagaimana pose Pak Awal ketika saya temui di perpustakaan Fakultas Ilmu Budaya UNPAD. Ia sedang membaca, tenang sekali, di bawah sorot lampu baca. Tangannya meraba-raba kertas untuk membantu dirinya memerhatikan detail baris demi baris. Sesekali beliau memberikan sedikit coretan di atasnya entah berisi catatan apa. Apa yang dilakukan Pak Awal secara persis saya tidak paham, tapi yang pasti ia sedang mempelajari sesuatu secara serius. Di usianya yang senja, pemandangan ini, bagi saya, sungguh mengesankan.

Setelah lama memerhatikan, saya pun menyapa beliau. Dia tanya, kemarin kemana saja, kok tidak kelihatan? Saya jawab sedang tidak enak badan -jawaban yang kemudian saya sadari sebagai memalukan karena datang dari mulut anak muda yang harusnya jauh lebih sehat-. Langsung saja saya berikan naskah calon buku yang hendak ia bubuhkan kata pengantar sambil sekali lagi berkata maaf karena berkali-kali janji untuk jumpa tak kunjung ditepati. 

Seperti pertemuan-pertemuan sebelumnya, tatap muka dengan beliau tak pernah sebentar. Seketika saya duduk di hadapannya, Pak Awal langsung bercerita pengalamannya puluhan tahun di Rusia. Terus menerus ia menyisipkan keprihatinan tentang bagaimana kisah-kisah mengenai negara tersebut seringkali disiarkan via CNN sehingga objektivitasnya patut diragukan. "Rusia sekarang sudah tidak komunis. Partai Komunis disana hanya peringkat dua di parlemen, itupun persentasenya kecil sekali. Jadi anggapan Rusia sama dengan komunis sudah tidak relevan," ujarnya. 

Kemudian dengan suaranya yang kecil (namun bukan berarti lemah), ia berkisah tentang seorang pujangga bernama Sergei  Alexandrovich Yesenin yang puisinya indah-indah namun sebetulnya mengritik pemerintah. Yesenin dianggap mati gantung diri, namun belakangan ternyata ada dugaan ia dibunuh oleh KGB. Pak Awal juga lompat ke cerita tentang bagaimana mayat seorang Lenin diawetkan dengan biaya besar. Sudah sempat tercetus usul untuk menguburkannya saja, tapi ditentang oleh banyak kalangan. 

Tak terasa satu jam berlalu. Kisah mengenai pengalamannya berpuluh tahun di Rusia tak semua mampu saya serap -selain disebabkan oleh gaya tuturnya yang melompat-lompat, secara fisik pun saya sedang mengantuk karena baru saja selesai mengajar kelas jam tujuh pagi-. Namun sorot mata beliau ketika bercerita tak mungkin saya lupa. Ia sangat bergairah seperti seorang anak yang baru saja bisa membaca. Tidak ada sedikitpun tersirat ia berbicara sebagai seorang guru pada muridnya. Pak Awal bercerita seperti pada dirinya sendiri. Seperti ia sedang mengenang masa mudanya yang baru saja berlalu kemarin pagi. 

Dalam ngiang cerita Pak Awal, terlintas ucapan bapak saya dalam kepala, "Pada akhirnya manusia hanya terbagi dua. Mereka yang mau belajar terus menerus dan selalu bergairah karena setiap harinya ia memulai sesuatu dari titik nol; dan mereka yang merasa cukup dan bosan karena ternyata dunia yang ia diami begitu-begitu saja."  

Continue reading

Monday, November 5, 2012

Jiwa yang Sangat Dalam

Jiwa yang Sangat Dalam

"...Janganlah hanya memetiki dedaunan,
Atau menyibukkan diri dengan rerantingan."

Novel Musashi karya Eiji Yoshikawa, yang sedari saya kecil menghiasi rak buku di rumah, tak pernah sekalipun saya sentuh. Sampai akhirnya, beberapa bulan silam, saya mendengar Heru Hikayat, seorang kawan yang kurator, menyinggung nama Musashi dalam suatu diskusi. Saya bilang dalam diri, "Hey, rasanya novel itu menghiasi ingatan masa kecil saya. Apa tidak sebaiknya saya baca agar setidaknya ibu bangga karena novel kesayangannya dibaca sang anak?" Singkat cerita, ibu mengatakan bahwa novel itu sudah hilang entah kemana. Saya akhirnya membeli di sebuah mal di Jakarta. Novel terkenal ini masih bertebaran dan mudah ditemukan.

Dua bulan lebih saya baru sanggup menyelesaikannya. Penyebabnya dua hal: Saya memang bukan pembaca novel tebal. Ini adalah tahap dimana saya merasa perlu belajar membaca novel yang ketebalannya seperti KBBI. Sehingga, saya belum terbiasa mengatur tempo dan intensitas membaca. Kedua, tentunya alasan kesibukan. Alasan yang kemudian saya malu dibuatnya karena betapa novel Musashi mengajarkan bahwa derajat kesenggangan lebih tinggi dari kesibukan.

Ceritanya sesungguhnya sederhana. Ini adalah kisah tentang Miyamoto Musashi yang bertekad menjalani Jalan Pedang. Tujuan hidupnya adalah menjadi manusia sejati lewat latihan, disiplin, dan tempaan. Musashi bertindak soliter, ia adalah seorang ronin yang tidak dipekerjakan oleh siapa-siapa. Ia kemudian menemukan bahwa menjadi samurai hebat tidak bisa hanya dengan mempelajari ilmu pedang. Menjadi samurai sejati adalah juga soal memiliki jiwa yang lengkap dan utuh penuh. Musashi mempelajari seni melukis, mengukir patung, bertani, hingga minum teh. Ia ada pada kedalaman jiwa yang paripurna ketika melawan musuh sejatinya, Sasaki Kojiro.

Novel ini mengajarkan saya begitu banyak. Saya melihat dunia dengan cara yang sama sekali lain dengan sebelumnya. Dulu saya menganggap ada dikotomi serius antara profesionalisme dan hobi. Harus ada satu yang kita jadikan serius ditekuni, lainnya adalah sebagai hiburan yang sifatnya sekunder. Hal semacam ini tentu tidak keliru dan berkembang secara umum di masyarakat. Namun Musashi mengajarkan tentang betapa tidak ada beda, bahwa mempelajari apapun, ujungnya harus satu: Mencapai keluhuran jiwa. Ada dialog menarik antara Otsu dengan Yagyu Sekishusai:

Tanya Otsu, "Bapak tentunya pernah belajar keras merangkai bunga." Kata Sekishusai, "Sama sekali tidak. Aku bukan bangsawan Kyoto, dan tak pernah aku belajar merangkai bunga atau upacara minum teh dengan pimpinan seorang guru." "Tapi kelihatannya Bapak pernah belajar." "Cara yang kugunakan untuk bunga sama dengan cara untuk pedang."

Saya berteriak, merasa bodoh, "Oh, selama ini saya berlagak profesional! Menekuni satu bidang agar dipandang ahli! Padahal tujuan hidup ini adalah menjadi manusia sejati!" Saya pun merenung dalam-dalam, melihat bahwa tidak ada beda sama sekali apa-apa yang saya sukai selama ini: musik, filsafat, sepakbola, film, dsb. Asalkan dijalani dengan tekun, disiplin, dan selalu merasa berkekurangan dalam mencapai kesempurnaan, maka disitulah jiwa mendapatkan satu pemurnian. Memisahkan dirinya dari keterbenaman fana dalam "Memetiki dedaunan atau menyibukkan diri dengan rerantingan."

Terlalu jauh bagi saya untuk menjalani disiplin seorang ronin macam Musashi. Tak sanggup saya berjalan kaki melintasi perbatasan Kota Bandung sekalipun, menunggu cinta seorang wanita tanpa melibatkan telepon genggam, mengetuk pintu rumah siapa saja jika butuh makanan atau tempat berteduh, ataupun menantang siapapun yang dianggap terkuat menurut anggapan masyarakat.

Yang bisa saya terapkan dari seorang Musashi adalah ini: Ada satu jalan lurus yang sama antara manusia dan alam semesta. Tidak mudah mengungkapkan hal semacam ini dengan kata-kata. Tapi jika jiwa ini terus menerus diasah dengan disiplin dan rasa haus akan kebijaksanaan, maka jalan lurus itu semakin lama akan terbentang. Gaya dua pedang tidak ada beda dengan satu pedang. Pedang kayu tak akan beda dengan pedang tajam yang panjang. Mengajar di kelas dengan mengandalkan endapan pengalaman tak akan beda dengan mengajarnya orang yang membaca seribu buku. Menjalani kehidupan tak akan beda dengan menyaksikan sepakbola di layar kaca. Mengurusi pernikahan tak akan beda dengan menggarami masakan.
 
Continue reading

Saturday, October 27, 2012

Kritik terhadap Etika Teleologis

Kritik terhadap Etika Teleologis
"Gue sih apa-apa bebas aja, yang penting idup gue gak ngerugiin orang lain."


Kita sering mendengarkan prinsip semacam ini dari teman-teman kita, atau bahkan etika ini jadi pedoman kita sendiri. Etika teleologis adalah etika bertujuan. Sering disebut juga sebagai etika konsekuensilisme. Bunyi kredonya kira-kira: "Segala sesuatu adalah baik selama berakibat baik." Lawan dari etika konsekuensilisme adalah etika deontologis, yang berbunyi: "Segala sesuatu baik karena dirinya sendiri baik, terlepas dari apapun konsekuensinya." Dalam etika teleologis, hal-hal seperti berbohong, membunuh, mencuri, adalah baik selama ditujukan untuk konsekuensi yang baik. Agama cenderung deontologis karena keputusan untuk dilarang berbohong, membunuh, ataupun mencuri adalah seolah final apapun alasan melakukannya. 

Namun etika teleologis yang seolah menandakan prinsip dari manusia rasional, saya sadari punya kelemahan ketika hari Rabu lalu mendapati jalanan macet. Oleh sebab apa? Ada kampus bernama Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) sedang melantik para praja (semacam calon mahasiswa). Kemacetan tersebut berlangsung luar biasa dan membuat perjalanan pulang yang normalnya satu jam menjadi empat jam. Rata-rata orang yang menggunakan kendaraan memaki kegiatan tersebut. Bahkan di salah satu radio muncul juga cacian, "Belum juga jadi pejabat, sudah merugikan rakyat."

Bagaimana hal semacam itu dapat menjadi kritik terhadap etika teleologis? Pertama, kita bisa asumsikan bahwa kegiatan pelantikan itu tentu saja merupakan suatu bentuk aktivitas yang didasari oleh prinsip konsekuensi. Maksudnya, kegiatan itu sendiri punya dasar deontologi (baik pada dirinya sendiri), tapi juga punya nilai konsekuensi yang baik, misalnya: Membuat para praja merasa bangga dan kemudian bisa lebih bertanggungjawab dalam meniti karir menjadi abdi negara. Namun disinilah letak kritiknya: Konsekuensi tidak bisa dikendalikan. Apa yang kita bayangkan perbuatan A menghasilkan konsekuensi B, kita tidak memperhitungkan bahwa secara domino akan ada konsekuensi C, D, E dan seterusnya.

Pemain sepakbola berupaya bermain sebaik-baiknya. Ia sudah memperhitungkan konsekuensi bahwa permainan yang baik akan mendatangkan misalnya: reputasi pribadi yang baik, reputasi klub yang baik, kemenangan tim, gaji pribadi naik, peningkatan hak siar televisi, hingga mungkin yang sekecil-kecilnya seperti keluarga yang bangga akan prestasinya. Namun ada konsekuensi yang barangkali tidak terjangkau oleh si pemain, seperti: Berapa banyak orang yang sengsara karena nasibnya dipertaruhkan oleh perjudian di pertandingan yang melibatkan si pemain? Berapa orang yang kehilangan harapan hidup karena timnya kalah oleh sebab gawangnya dijebol oleh si pemain?

Hal-hal seperti ini sudah diistilahkan dengan The Butterfly Effect, "kepak sayap kupu-kupu di suatu tempat, bisa menyebabkan kejadian di tempat lainnya." Adapun Jean-Paul Sartre pernah bersabda, "Apa yang kamu putuskan akan menjadi keputusan yang berpengaruh bagi seluruh umat manusia." Artinya, prinsip seperti, "Terserah gue, yang penting gak ngerugiin orang lain," sebenarnya merupakan pernyataan yang prematur karena konsekuensi rugi-tidak rugi sesungguhnya sangat luas dan di luar kendali kita. Suka tidak suka, saya merasa bahwa Islam punya penawarnya. Katanya, "Dalam perbuatan apapun, yang penting adalah niatnya."

Continue reading

Tuesday, October 16, 2012

Untuk Andika Budiman: The Medium is The Message

Malam itu, orangtua tiba-tiba berkata sesuatu tentang kartupos. Katanya, "Ada kartupos untuk kamu dan Dega." 

Istri saya mendapatkan kartupos dari kawannya, orang Prancis, yang sedang berlibur di Turki. Sedangkan saya sendiri? Ada kartupos, tapi bukan dari seseorang nun jauh disana. Yang mengirimkannya adalah orang Bandung juga. Namun yang demikian justru membuatnya tambah spesial. Hari ini ada banyak cara untuk menyampaikan pesan baik lewat SMS, Facebook, Twitter, E-mail ataupun telepon. Tapi orang yang secara geografis sangat dekat untuk kemudian "mempersulit diri" dengan berkomunikasi via sesuatu yang sudah "tidak musim" dan perlu perjuangan menulis dengan tangan, adalah hal yang mengharukan.


Isinya sendiri -seperti yang semoga terbaca dari gambar di atas- adalah semacam apresiasi dari konser musik klasik yang diselenggarakan tanggal 6 Oktober kemarin di Auditorium IFI-Bandung. Selain sedikit mengomentari performance, tulisan di atas juga bercerita tentang kesan si penulis terhadap Ibu Lusi. Siapakah Ibu Lusi? Beliau adalah orang yang bekerja di IFI selama sepuluh tahun, yang kebetulan konser kemarin bertepatan dengan hari pensiunnya. Konser tersebut, yang salah satu pengisi acaranya adalah anak tunggalnya, menjadi momen sangat spesial bagi Ibu Lusi. Karena selain berbarengan dengan hari pensiun, hari itu juga adalah ulangtahunnya. Kata si penulis, "Kesan saya pada beliau: Orangnya tidak suka basa-basi, efisien, dan sedikit mengintimidasi."


Penulis, adalah seorang kawan, namanya Andika Budiman. Ia rajin bergerak, namun dalam diam. Saya menjulukinya apresiator jempolan karena tidak pernah secara vulgar mendatangi penampil dalam konser untuk bicara secara blak-blakan. Namun jika ditanya pada situasi yang lebih pribadi, ia akan sanggup mengomentari konser tersebut dengan jernih sekaligus tajam. Seringkali memang ada apresiator yang gatal untuk berkomentar tanpa diminta, agar mungkin ia kelihatan pintar karena sudah melontarkan kritik.

Apa yang ditulis oleh Andika, mengharukan bukan hanya disebabkan oleh apresiasinya. Namun media yang dipilihnya untuk menyampaikan pesan. Rasanya sudah lumrah, atas nama kepraktisan, orang berkirim pesan dengan apa saja yang ada di hadapannya: Kebetulan sedang main Twitter, inget si anu, kirimlah pesan lewat Twitter;  sedang main Facebook, ingin colek si anu, menyoleklah ia via wall. Namun ketika segala macam media canggih tersebut bertebaran di hadapannya, Andika memilih untuk menjauhi semua itu dan bersusah payah menulis tangan yang mungkin secara umum menjadi kegiatan nomor dua setelah mengetik. Inilah yang disebut Marshall McLuhan sebagai "the medium is the message". Konten di dalam kartu pos itu sendiri bisa dituliskan via media apapun dengan isi yang tidak berbeda sama sekali. Namun Andika memilih medium kartu pos, dan pilihannya tersebut bagi saya menjadi terasa emosional. Mustahil bagi saya untuk mengabaikan pilihan medium semacam ini ketika yang penting dari pengiriman pesan hari ini adalah soal kecepatan alih-alih sentimentalitasnya.

Terima kasih, Andika! 
Atas apresiasi, tulisan, dan kartuposnya yang begitu berarti!

Continue reading

Sunday, October 7, 2012

Epistemologi Kemasan

Epistemologi Kemasan
Waktu saya SMP, guru agama namanya Pak Endin (almarhum) bercerita di kelas tentang memakan daging yang hukumnya haram jika ia tidak disembelih atas nama Allah. Lantas, bagaimana kita tahu daging itu disembelih atas nama Allah atau tidak, jika daging yang kita beli semua sudah hasil dapat di supermarket? Jawaban Pak Endin mungkin menggelikan. Katanya, "Kita bisa mengira-ngira saja. Misalnya, kalau dilihat di kemasan dagingnya tertulis diproduksi di Bali, kemungkinan besar dia haram karena disana lebih banyak non-muslim." Tulisan ini bukan hendak memojokkan beliau yang saya hormati, justru saya mau membahas bagaimana Pak Endin menyadarkan kita tentang batas-batas pengetahuan atau bahasa kerennya: epistemologi.

Gambar diambil dari sini.

Epistemologi berkutat pada pertanyaan: Apa yang bisa kita ketahui? Sejauh mana batas pengetahuan kita? Dalam filsafat, epistemologi dibahas sebagai fondasi terpenting bagi filsafat ilmu. Misal: Rene Descartes mengatakan bahwa pengetahuan kita yang sejati adalah akal budi. Berkebalikan dengan David Hume yang lebih setuju bahwa kebenaran adalah semata-mata indrawi. Immanuel Kant menengahinya bahwa memang iya segala pengetahuan kita berasal dari pengindraan, namun hasil dari pengindraan itu sendiri dimasukkan pada kategori-kategori pemahaman yang secara apriori sudah ada di kepala kita dari awal. Seperti misalnya: Segala yang kita lihat pasti langsung kontekstual dengan ruang dan waktu.

Nah, sekarang kita kembali ke judulnya, Epistemologi Kemasan. Pertanyaan besarnya: Apakah kita bisa punya pengetahuan melampaui kemasan suatu produk? Apakah jika dalam kemasan chicken nugget tertera label halal, apakah kita bisa mempercayainya meski dengan mengerahkan seluruh akal budi kita sesuai anjuran Descartes? Atau, apa yang kita tahu adalah apa yang kita lihat sesuai yang Hume katakan? Ini tidak hanya berlaku bagi kemasan yang termuat di dalamnya label halal-haram. Sabun antiseptik misalnya, apakah kita bisa percaya bahwa memang ia menyehatkan? Apakah Pizza Hut Delivery yang begitu cepat menyambangi konsumennya, kita bisa percaya higienitasnya, hanya karena misalnya, bungkusnya begitu keren? Pastinya lebih keren daripada kemasan yang murah meriah dari tukang nasi goreng atau sate.

Saya tidak sedang meragukan higienitas atau kesehatan berbagai macam produk yang terbentang di pasaran. Tapi bayangkan epistemologi kita, jangan-jangan batas pengetahuan kita hanya sampai pada kemasan mana yang lebih keren, lebih mencolok, mempunyai label halal, menuturkan detail produk secara lebih "akademis" dibanding tukang soto ayam yang mungkin hanya bisa melakukan eksplanasi berdasarkan intuisi. Atau jangan-jangan masyarakat hari ini, yang mengaku rasional, ketika memilih produk saja harus "beriman" pada kemasan, tidakkah itu menjadi semacam kembali ke jaman mitos?
 
Continue reading

Sunday, September 30, 2012

Warisan Berharga dari Diecky

Diecky Kurniawan Indrapraja, sahabat yang dalam hitungan hari akan pergi ke Pontianak, mewariskan sesuatu untuk Bandung yang sudah ia tinggali lebih dari sepuluh tahun lamanya. Berkunjung ke kontrakannya di Antapani, saya menemukan sembilan puluh persen barang-barangnya sudah masuk dus. "Besok pagi, Satriyo akan membawanya dengan mobil pick-up untuk dibawa ke tempat pengiriman," katanya merujuk pada Satriyo Utomo, murid sekaligus sahabatnya. 

Apa yang dia wariskan? Sesungguhnya dalam sepuluh tahun kehadirannya di Bandung, sudah banyak. Diecky mengajar, berkomunitas, berkarya, manggung, berkompetisi, menjadi pembicara dalam seminar, menjadi panitia dalam konser-konser, dan kesemuanya dilakukan dengan semangat -meminjam istilah Goenawan Mohamad- "mengikhtiarkan kebenaran". Meski demikian, Diecky tetap ingin meninggalkan satu warisan (lagi) bagi kota yang ia cintai. Inilah dia: 27 keping CD progressive rock mulai dari Genesis, Emerson, Lake & Palmer, Mahavishnu Orchestra hingga Frank Zappa.

Apakah dia menitip suatu pesan berkenaan dengan warisan ini? Sependengaran saya, tidak. Namun boleh saya maknai seperti ini: Diecky mau kita semua mengambil manfaat dari musik-musik bagus yang belakangan semakin sulit diapresiasi oleh sebab badai industri. Ia mau agar kita-kita tidak terjebak pada musik-musik yang mengandalkan kemasan bombastis tapi secara nawaitu menghamba pada uang dan pasar. Diecky juga diam-diam menitipkan doa: Semoga kita termasuk orang yang selamat telinganya.

Selamat jalan, sahabat, semoga amalmu berlipat!
.








Continue reading

Friday, September 28, 2012

Kegalauan Posmodernisme

Tulisan ini adalah olahan hasil diskusi di forum Indonesian Atheists (IA) 

12 September - 22 September 2012

Catatan: Kata-kata bisa jadi tidak mirip dengan yang tertulis di komentar sebenarnya. Tapi hanya diubah untuk kepentingan estetika penulisan. Semoga tidak berubah esensinya.

Fuck postmodern art!

Seni yang diwacanakan oleh posmodernisme memang "menyebalkan" dan meresahkan sebagaimana diskursus yang dihasilkan oleh posmodernisme itu sendiri. Kita bisa menunjuk mula-mula seni mengalami perubahan acuan adalah sejak Marcel Duchamp membuat karya agungnya yang berjudul Fountain. Karya itu adalah kloset sebagaimana adanya dan disimpan begitu saja di galeri (ditandatangani tentu saja). Meski awalnya ditolak sebagai karya seni, namun pada akhirnya terbuka juga wacana: Apakah keindahan itu ada pada dirinya sendiri, atau dikonstruksi? Apakah keindahan itu ada pada karyanya, atau dalam kepala kita? Pada titik ini, kerangka seni juga bergeser dari sekadar urusan teknis, ke juga urusan konseptual. Misalnya, John Cage menghasilkan karya 4'33'' yang hanya diam di depan piano tanpa memainkannya senot pun.. Ini jelas tidak punya nilai secara teknis: "Saya bisa, siapapun bisa!"

Bagaimana dengan seni masa kini yang estetikanya tidak ada di tataran keindahan yang sifatnya menyenangkan? Yang indah ternyata bisa jadi yang membuat mual dan jijik!

Salah satu ekses "negatif" dari posmodernisme adalah runtuhnya narasi besar. Masyarakat modern percaya bahwa ada Kebenaran yang sifatnya mutlak (dengan K besar). Hal yang demikian tentunya berlaku bagi Keindahan. Para filsuf mulai dari Plato, Aristoteles, dan Kant mencoba menyusun filsafatnya tentang apa yang bisa disebut indah. Misalnya, Aristoteles mengatakan bahwa yang indah haruslah simetris. Kant mengatakan bahwa yang indah mestilah lepas dari nilai guna praktisnya. Namun jika seni bertujuan menggugah perasaan manusia, dan juga pada titik tertentu adalah upaya untuk mendekatkan manusia pada kemanusiaannya, maka terlalu simplistik jika kemanusiaan diwakili oleh perasaan "menyenangkan".

Bagaimana "mengukur" bahwa seni yang memuakkan bisa menjadi satu keindahan?
Waiting for Godot karya Samuel Beckett bisa menjadi contoh. Ia tidak menyuguhkan satu kenikmatan dalam menontonnya karena alurnya yang membosankan dan berputar-putar. Meski menjengkelkan, tapi dalam tingkat refleksi tertentu, itu mencerminkan situasi dunia modern yang absurd, mekanistis, dan berputar-putar. Waiting for Godot tidak hendak mengajak apresiatornya untuk "kabur dari kenyataan", melainkan menerima semangat jaman hari ini dengan lapang dada. Artinya, keindahan adalah kembali lagi pada hakikat seni yang paling purba: kejujuran perasaan.

Posmodernisme terlihat seperti seni yang berbasiskan filsafat yang mendalam. Tapi filsafatnya itu sendiri seperti menu canggih tanda ada makanannya. Seperti pemikiran yang luhur padahal dangkal!

Posmodernisme, jika ditarik secara linear ke alur sejarah filsafat Barat, maka ia adalah anak kandung idealisme. Idealisme, digadang Hegel sebagai filsafat yang membasiskan diri pada sejarah sebagai pijakan umat manusia. Manusia, dalam hal ini, adalah instrumen yang membuat sejarah "menemukan jati dirinya" lewat dialektika tesis - antitesis - sintesis. Meski menjadi filsafat yang cukup penting untuk mengukuhkan nasionalisme Romantik Eropa, ia juga mendapat banyak pertentangan dari Marx dan Kierkegaard misalnya. Kritik terbesarnya tentu saja: Jika manusia hanya jadi alat sejarah, lantas dimana otentisitas manusia? Lantas dimana kehendak bebas manusia? Marx mengatakan, "Sejarah bisa diubah!", Kierkegaard mengatakan, "Kebenaran itu ada pada diri manusia itu sendiri!"

Ketika posmodernisme diakui sebagai anak kandung idealisme, maka sesungguhnya peta pemikiran Barat sedang berulang kembali. Ketika modernisme percaya kehendak bebas (e.g. eksistensialisme), posmodernisme menghantamnya kembali dengan mengatakan bahwa kehendak bebas itu tidak ada. Ketika modernisme percaya subjek sebagai aku yang berpikir (e.g. rasionalisme), posmodernisme menyerangnya dengan mengatakan subjek telah mati. Bahwa "aku" adalah hasil konstruksi, "berpikir" juga adalah hasil konstruksi.

Jadi, kritik yang ditujukan pada posmodernisme seharusnya sesuai juga dengan kritik terhadap idealisme yang terlalu mengawang-awang padahal dangkal. Meskipun tentu saja kita bisa perdebatkan tentang bagaimana "dangkal" itu dipahami.

Bagaimana jika Liky Ardianto memukuli kaleng bekas di panggung? Bandingkan jika yang melakukannya Frank Zappa, apakah berbeda apresiasinya? 

Salah satu pemikiran posmodernisme yang dicetuskan oleh kaum pos-strukturalis adalah mencurigai adanya kekuasaan dibalik struktur segala sesuatu. Mengapa Liky tidak disebut seni, sedangkan Zappa iya, padahal mereka melakukan hal yang identik? Jawaban pos-strukturalis: Karena ada kuasa yang menentukan siapa yang menyajikan seni dan siapa yang bukan. Ini juga yang bisa dibaca mengapa sekarang kantor kurator yang tadinya berada di belakang museum atau galeri, sekarang menjadi paling depan. Karena kurator ini menjadi kuasa yang menentukan mana yang seni dan bukan.

Oke, jika posmodernisme adalah soal kuasa, matinya subjek, dan tiadanya kehendak bebas. Lantas bagaimana posisinya atas eksistensialisme yang pahamnya persis kebalikannya: manusia berkuasa atas dirinya sendiri, subjek adalah pusat segala sesuatu, dan kehendak bebas adalah niscaya?

Posmodernisme memang juga mengritik filsafat eksistensialisme. Apa itu eksistensialisme? Ini adalah buah pemikiran pasca PD di Eropa, yang prinsip dasarnya: Eksistensi mendahului esensi. Eksistensi disini berarti meneguhkan keberadaan manusia sebagai subjek yang khas dan otentik. Sebelum eksistensialisme, peta filsafat Barat berkubang pada idealisme Jerman di bawah komando Hegel. Hegel mempercayai bahwa manusia adalah bagian dari sejarah. Sejarah bergerak bersama "roh absolut". Kalau saya menerjemahkan ke dalam bahasa sains (berhubung di IA banyak orang sains), istilah Hegel ini menjadi: "Kehidupan manusia itu deterministik, ditentukan oleh kuasa di luarnya." Hegel tidak bicara Tuhan, tapi ia menyebutnya sebagai roh absolut.

Oke, mari tinggalkan Hegel, dan kembali ke eksistensialisme. Tokoh terkenalnya, misalnya Sartre, mengatakan: "Man are condemned to be free" / "Manusia terkutuk untuk bebas". Bahwa kebebasan manusia di dunia adalah sebuah keniscayaan, dan keharusan dia agar hidupnya menjadi otentik. Manusia adalah pemberi makna bagi kehidupan. Manusia muncul duluan tanpa tedeng aling-aling dan menyematkan esensi bagi segala sesuatu. Inilah yang dimaksud eksistensi mendahului esensi.

Nah, posmodernisme hadir untuk menghantam free will eksistensialisme. Posmodernisme agak berbau idealisme Hegel yang melihat bahwa kebebasan manusia itu ilusi. Sesungguhnya kebebasan itu tidak ada, yang ada cuma konstruksi. Kita ada di bawah pengaruh "determinisme kekuasaan" yang sebenarnya mengepung kita. Misalnya, Foucault dengan cermat melacak bahwa sejarah adalah selalu sejarah para pemenang; sejarah para penguasa (Yang hebatnya, ucapan Foucault sudah pernah disebutkan oleh Ibnu Khaldun ratusan tahun sebelumnya!). Artinya, sejarah tidak pernah menuliskan dirinya sendiri. Ia ditulis oleh tangan-tangan yang kuasa. Hal serupa juga terjadi pada kegilaan, seksualitas, hingga ilmu pengetahuan. Kata Foucault, tidak ada yang bebas nilai. Kekuasaan selalu ikut camput dalam segenap klaim-klaim kepastian. Maka itulah, meski Nietzsche bukan termasuk ke dalam filsuf posmodernisme, tapi ia berperan besar dalam menciptakan kredo: "Kebenaran itu tidak lain adalah kekuasaan."

Dari uraian panjang lebar di atas, jika saya rangkum dalam kalimat yang lebih simpel: Salah satu ke-rese-an posmodernisme adalah karena ia tidak percaya kebebasan manusia. Kehendak bebas manusia itu dibentuk oleh kuasa. Maka itu manusia sebenarnya tidak bebas.

Setelah seni dan filsafat itu sendiri, wilayah apa yang juga disusupi posmodernisme?

Sains juga mendapat kritik akibat positivisme yang dirintis oleh Bacon. , Pertentangan mula-mula datang dari kaum konstruktivis yang landasan filosofisnya ada pada pernyataan protagoras: "Manusia adalah ukuran dari segala sesuatu. Giambattista Vico kemudian mengembangkan cara pandang Protagoras ini menjadi bangunan metodologi yang dinamakan konstruktivisme. Konstruktivisme ini ada termasuk di dalamnya hermeneutika dan fenomenologi. Semuanya menegakkan kredo bahwa objektivitas adalah ilusi, apa yang terjadi di dunia luar sana kita tidak pernah ketahui tanpa dicampuri oleh persepsi kita.

Nietzsche menambah njlimet urusan ini dengan mengatakan, "Ketika saintis menemukan sesuatu, ia melibatkan perasaannya seperti ambisi, nafsu, emosi, dsb. Hal-hal yang sesungguhnya bertentangan dengan semangat sains itu sendiri yang 'objektif' dan 'bebas nilai'". Kuhn juga menambah pusing dengan mengatakan bahwa dalam sains ada kubu-kubu yang saling menumbangkan dan membentuk paradigmanya sendiri. Saling tumbang menumbangkan itu ia sebut sebagai revolutionary science. Ketika mapan, namanya menjadi normal science. Tapi normal science itu kelak akan ditumbangkan kembali oleh revolutionary science ad infinitum. Kuhn kemudian memetakan paradigma dalam sains menjadi beberapa, diantaranya yang sudah cukup ajeg adalah positivisme (pendekarnya mulai dari Bacon, Galileo, Newton, Comte dst), post-positivisme (karl popper), konstruktivisme (Vico, Husserl dst) dan critical theory (mazhab frankfurt). Keempatnya tak bisa didamaikan karena punya pendekatan sendiri-sendiri thd dunia.

Terakhir, Foucault dengan rese melacak sejarah ilmu dengan nama "arkeologi pengetahuan". Bahwa apa yang kita sebut sebagai kebenaran, adalah jalinan halus kekuasaan. Kita mesti senantiasa curiga bahwa kebenaran tidak bersifat universal dan objektif, tapi parsial dan subjektif, tergantung siapa yang berkuasa. Nah, disinilah lagi-lagi posmodernisme membuat gara-gara. Ini belum termasuk Paul Feyerabend yang melakukan anarki epistemologis.

Bisa dikatakan, saat bicara tentang sains, para pendekar posmodernisme sampai pada ketidakjelasannya. Saat melintas melalui Thomas Kuhn, mereka menandaskan seakan Kuhn menciptakan kepusingan. Kukira tak ada saintis yang pusing akibat wawasan Kuhn. Mungkin filsafat Kuhn tampak canggih, tapi bukan saja filsafatnya kemungkinan besar keliru (sains lebih berupa akumulasi daripada revolusi), sains juga tidak mendapat manfaat apa pun dari filsafat Kuhn. Tentu saja Nietzsche menyukai hasrat dan ambisi, tapi obyektifitas tetap berpaku pada kesederhanaan: alamlah yang menjadi juri. Subyektifitas yang merembes dalam gagasan sains akan tunduk pada obyektifitas yang penuh rendah hati tersebut. Ada juga pernah kudengar para pendekar posmodernisme mengatakan bahwa sains hanya mitos-mitos di jaman modern. Kita tahu yang mengatakan itu di samping tidak paham sains dia juga tidak paham mitos. Mitos kalau kita baca strukturalisme adalah upaya menyelesaikan tegangan (tension) psikologis, tapi sains tidak seperti itu. Sains menyelesaikan persoalan nyata. Jadi, mari kita masukkan posmo ke dalam api pembakaran.

Feyerabend berkata bahwa dulu mitos adalah sains pada masanya. Artinya, orang menciptakan mitos karena berupaya menjelaskan secara rasional sebab musabab apa yang terjadi pada alam. Kita tentu tidak bisa membandingkan mitos tersebut dgn metode saintifik ala Bacon. Tapi atas upaya tersebut, kita bisa melihatnya sebagai sains dalam konteks masa itu. Sains sebagai mitos? Sebagaimana posmodernisme yang tidak dianggap bermanfaat bagi saintis, mungkin sains juga tidak bermanfaat bagi agamawan. Sains bisa berbicara tentang awal mula alam semesta, tapi agamawan tidak akan goyah, "Dimulai dengan big bang dan kun fayakun. Apa bedanya?" 

Saat alam menjadi juri, sains menunjukkan bahwa klaim-klaim tidak valid dalam akupunktur dan yoga bisa dibersihkan. Itulah yang membedakan sains dengan mitos. Big bang adalah peristiwa yang didukung data yang kukuh, tidak seperti mitos kun fayakun. Upaya posmodernisme yang menyamakan sains dengan mitos bukan hanya salah (tidak benar) tapi juga berbahaya (tidak bermoral) karena orang sakit akan makin berisiko saat menuruti mitos yang sudah jelas tidak terbukti kevalidannya.

Kun fayakun, creatio ex nihilo, itu penciptaan semesta berdasarkan perspektif 'Tuhan' (jika memang ada/percaya). Manusia bukan Tuhan karena itu jika memakai pendekatan creatio ex nihilo untuk menjembatani fenomena alam tentu saja tidak berkembang (fenomena a x keajaiban = fenomena b). Hukum materi kita itu from nothing comes nothing, sesuatu itu 'ada' karena ada keberadaan yang sebelumnya. Dalam ranah kemanusiaan, sesuatu itu harus bisa dikaji secara materi, untuk bisa diidentifikasi, dikembangkan dan dimanfaatkan. Big bang itu belum tentu satu big bang, Bisa jadi big bang merupakan kelanjutan dari big bang yang lain. Big bang benar karena data saat ini bilang itu benar. Bisa jadi di masa depan ketika kemampuan manusia lebih maju, kalau tidak ada kejadian yang me-reset semua pencapaian teknologi dan kesadaran manusia, bisa jadi big bang yang masyarakat percayai sebagai titik inisiasi semesta adalah mitos.


Ketika ilmuwan menghasilkan sesuatu yang nyata bagi peradaban, dengan hitung-hitungan dan segala eksperimen dan observasinya. Sedangkan guru-guru filsafat hanya menghasilkan buku pepesan kosong, dan hidup dari buku. Inikah posmodernisme?

Menurut Tayo Sandono, "Agama punya aturan, sains pun punya aturan, tetapi filsafat tidak punya aturan yang mengikatnya. Maka hanya filsafat yang bisa mengkritik sains dan agama." Selain itu, perlu diakui filsafat memang berbicara tentang pepesan kosong. Tapi ketika pepesan kosong itu dibicarakan, berarti dia ada. Seperti orang bicara, "ayo kita bicarakan yang tidak ada".

Filsafat bermain di tataran kesadaran. Saya akan beri contoh dua "guru filsafat modern" yang paling "pepesan kosong", yaitu Karl Marx dan Sigmund Freud. Marx dengan canggih mengkhayal bahwa sejarah adalah sejarah perjuangan kelas. Ada kaum borjuis dan proletar. Ketimpangan ini akan selalu terjadi jika proletar membiarkan borjuis merajalela. Harus dilakukan satu revolusi proletariat untuk menggulingkan pemilik modal. Akhirnya kepemilikan menjadi milik bersama di bawah distribusi dari sang pemimpin yang dinamakan diktator proletariat. Pepesan kosong? ya jelas. Tapi Marx memberi satu kesadaran terhadap dunia, bahwa kaum buruh bisa melawan. Ia juga memberi satu solusi apa yang terjadi setelah pemerintah kapital digulingkan. Apakah keberadaan Uni Soviet, Korut, dan Kuba adalah sebuah revolusi saintifik? Bisa iya, tapi itu dipicu dari "katalis kesadaran" Marx. 

Freud dia bicara soal jiwa. Tadinya psikologi dikuasai oleh behaviorisme yang dijuluki "ilmu jiwa yang tanpa jiwa". Behaviorisme percaya bahwa manusia tidak lebih dari sekedar respons terhadap lingkungannya. Jadi kalau kita dibiasakan disiplin bangun pagi jam 6, maka kita bisa dibentuk seperti itu. Freud mengkhawatirkan bahwa dalam diri setiap manusia yang mendapat satu paksaan lingkungan, ada jiwa yang diam-diam bersembunyi seperti gunung es. Freud kemudian menelaah jiwa itu seolah-olah ilmiah, dengan nama psikoanalisis. Hal yang masih menjadi perdebatan tentang keabsahannya sebagai sains. Namun apakah psikoanalisis menyumbangkan sesuatu? Iya, misalnya aliran surealisme dalam lukisan. Atau bagaimana iklan-iklan televisi tidak lagi menarik minat pemirsa secara verbal, tapi dengan diam-diam menelusup ke dalam jiwa. 

Menyinggung soal agama. Berarti orang-orang jepang yang mayoritas neither atheist nor specifically engaged in one religion, tapi punya relaxed approach di hal itu seperti menjalankan ritual buddha (upacara kematian), shinto (upacara kelahiran), dan kristen (pernikahan dan saat natal) sekaligus; itu bisa kategorikan posmodernisme?

Mereka yang menjalankan, bukan posmodernis tentu saja. Tapi kita bisa membaca hal tersebut sebagai fenomena posmodernisme. Ini salah satu kredo posmodernisme: ateisme itu produk modernis yang usang. Ateisme memang sempat trendi sebagai identitas perlawanan terhadap represi gereja di abad pertengahan. Tapi ateisme modern yang digadang-gadang oleh orang-orang seperti Feuerbach, Marx, Freud, Sartre dan Nietzsche, sebenarnya tidak lebih dari sekedar trend intelektual. Pada titik tertentu, kita juga harus menerima bahwa dunia ini mengandung "spiritualitas" tertentu. Posmodernisme tidak menunjuk spiritualitas agama-agama besar tertentu, ia mengajak merenungkan bahwa rasionalitas itu tidak melulu bisa mendekati persoalan.  

Oke, tadi sempat disinggung Feyerabend. Bisa dijelaskan?

Saya akan membaginya ke dalam beberapa poin:
1. Anti metode/against method. Feyerabend mengkritik (mendekonstruksi) metode saintifik yg dibuat oleh kaum positivis. Sains yang oleh para saintis dianggap harus punya satu metoda baku dan universal, resistan pada kritik, dan berlaku sepanjang zaman, baginya, bukan hanya superfisial, tapi jg tidak realistis, gagasan seperti itu justru merusak dan menghambat laju ilmu pengetahuan itu sendiri. Ia mengabaikan kompleksitas historis yg memungkinkan perubahan, bahwa sejarah ilmu pengetahuan juga sejatinya melulu dipenuhi pertentangan teori, Feyerabend menolak anggapan saintisme berada diatas segala aspek budaya yg malah menyebabkan sains modern menghalangi kebebasan saintis itu sendiri, karena terkekang oleh metoda, dalam bukunya Against Method, dijelaskan bahwa para saintispun tidak bisa melepaskan diri dari historisitas hukum-hukum, teknis-teknis matematis, dan apa yg disebutnya 'prasangka-prasangka epistemologis'. Metoda seolah menjadi 'metanarasi' baru, sebuah ide final yg legitimatif menentukan 'apa yang benar', kebenaran (objektif), jika memang ada, seolah menjadi bermakna 'apa yg sesuai metode', namun dengan sewenang-wenang menafikan metode-metode yang liyan.
 
Sedikit mengutip Lyotard, sains sebagai suatu wacana, mengklaim dirinya sebagai satu-satunya yg sahih dan valid, melegitimasi dirinya sendiri, namun klaim tersebut menjadi absurd karena ternyata aturan mainnya (metode) inheren ditentukan oleh konsensus para ahli,oleh para saintis yg keren2 karena berbicara dengan bahasa teknis njelimet yg hanya dimengerti lingkungan sains itu sendiri. Sejatinya sains hanyalah salah satu permainan bahasa, diantara banyak permainan lainnya. Modus legitimasi ini, di bawah satu idealisme tentang kebenaran tunggal (homologi), selayaknya digantikan dengan paralogi, bahwa metanarasi seharusnya 'dihancurkan' karena sejatinya ada banyak aneka 'kebenaran' berupa narasi-narasi kecil yg plural. 

2. Anti sains. Anti sains disini jangan diartikan lateral sebagai anti pada ilmu pengetahuan. Anti disini berarti penolakan pada 'kekuasaan ilmu pengetahuan', 'kesewenang-wenangan epistemologis' dalam menentukan mana yang benar, mana yang sampah, 'idealisme' dalam ilmu pengetahuan ini, yg dengan radikal ditentang feyerabend. Menurutnya dalam sains pun terkadang (baca:seringnya) memiliki muatan kepetingan tertentu, sehingga 'idealisme' ini haruslah diperlakukan layaknya cerita-cerita dongeng., harus dipahami sebagai upaya koreksi pada praktik ilmiah yg seringkali justru mengaburkan esensi ilmu sebagai 'kebebasan befikir', sains menjadi pemikiran tunggal-mutlak yg secara universal harus diamini kebenarannya, menguasai kebenaran bagi dirinya sendiri, kebenaran diklaim sebagai hak milik mereka yg mengerti matematika, algoritma dan geometri, menampik kebenaran yg liyan dengan cap-cap "tidak ilmiah", "tidak matematis", "tidak sesuai metode saintifik", "pesudosains", mengklaim satu-satunya yang benar dengan dalil objektifitas, namun sesungguhnya tidak lepas dari subjektivitas-subjektivitas itu sendiri, dari idealisme, dari kepentingan, dari propaganda para saintis dan institusi. Karena itu sejatinya tidak wajar memistifikasi sains sebagai satu-satunya kebenaran tunggal yg sahih, karena sains sendiri justru tidak pernah bebas nilai, tidak lepas dari ideologi, kekuasaan, dan kepentingan subyektif inidividu, dalam tataran epistemologis, saintis sebagai pemegang 'hak waris' penentu kebenaran tidak pernah lepas praanggapan, asumsi, presuposisi, dan hukum-hukum yang mendogma.
 
Bagi Feyerabend, mistifikasi sains ini, idealisasi ilmu, sejatinya justru membikin sains mengalami stagnansi. ketika sains sudah menjadi ide final yang fondasi epistemologisnya resistan pada kritik, apalah bedanya dengan kisah-kisah agung lainnya, dengan mitos-mitos lain yg katanya tidak ilmiah itu ?
 
Sedikit soal "anything goes", anarki epistemologis, senada dengan dekonstruksi Derrida, menurutku adalah proses reflektif kritis untuk mempertanyakan segala, termasuk fondasi dari kebenaran, semangatnya adalah anti-kemapanan, anti stabilitias sebagaimana yg telah diwartakan Nietzsche sang nabi peragu, bahwa sesungguhnya tidak ada kebenaran, melainkan interpretasi, bahwa ide final tanpa otokritik, merupakan pembunuhan kebenaran oleh definitif akal. dekonstruksi. Hal demikian merupakan rangkuman semangat posmodernisme, pada esensinya adalah proses destabilisasi dan delegitimasi klaim kebenaran oleh satu ide final-tunggal-universal. 

Kalau di sastra apakah puisi-puisi Mbeling karya Remy Sylado itu posmo? Seperti: 
Teks Atas Descartes
Orang Perancis
berpikir
maka mereka ada
Orang Indonesia
tidak berpikir
namun terus ada.

atau
 
Progres Cinta Kasih
Papa + Mama = Anak.
 

Puisi-puisi Remy itu kelihatan spt kritik terhadap modernitas pemikiran Barat. Yang pertama tentu saja kritik terhadap Descartes (Remy membubuhkan sedikit filsafat Heidegger yang menyebut manusia sebagai "dasein" [ada di sana, sudah ada begitu saja tanpa harus dipikirkan]_. Yang kedua itu kritik terhadap Hegel yang melihat kemajuan sebagai dialektika antara tesis + antitesis = sintesis. Ini menurut saya yang cutting edge, sastrawan Prancis, Guillaume Apollinaire. Karena wilayah-wilayah kesenian diterabas. Kalau masih menggunakan teks, walaupun isinya unik, tetep aja masih menggunakan kacamata puisi yang ketat.  


Saya coba mulai angkat satu topik kecil yg di atas disebutkan, soal pengobatan. Saya kira label "timur" dan "barat" adalah nonsense kalau kita bicara soal pengobatan. Kalau sembuh dan sakit, efektif atau tidak efektif adalah sesuatu yg relatif, maka "mati" dan "hidup" juga sesuatu yg relatif. Dari satu topik ini terlihat masalah yg ada dan kenapa, dalam banyak bidang diluar seni, bidang-bidang yang terkait dgn alam dan tubuh manusia, kita butuh empiris, kita butuh pemisahan bias-bias pribadi dari klaim yg dibuat, dari model yang kita buat dan kita tes, dari efektif tidaknya pengobatan dimana ini berpengaruh pd hidup matinya seseorang.

Sebagaimana halnya dalam pengobatan modern pun ada malpraktek, dalam pengobatan tradisional pun pasti ada oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab. Yang harus kita lawan adalah penyimpangannya, bukan memukul rata tradisi serta metodenya sebagai biang kematian. 

Apa di sini yg dimaksud kebijaksanaan pengobatan timur? Di sini tentu saya tidak bicara penyakit "masuk angin" atau penyakit-penyakit remeh yg mungkin minum teh hangat juga sudah baikan, tetapi penyakit serius seperti infeksi organ tertentu (misal ginjal). Ngomong-ngomong soal "modern" juga kita tidak bicara modern vs kuno (lebih kuno tidak berarti efektif, lebih modern juga belum tentu), yang saya maksud dgn modern di sini adalah pengobatan dgn dasar sains: infeksi bakteri ditangani dgn antibiotik. Supaya menghindari kesalahpahaman saya gunakan selanjutnya "pengobatan berdasar sains". Di sini juga kita tidak bicara soal penyimpangan, tidak bicara oknum, malpraktek tidak mewakili pengobatan berdasar sains, kita bicara pada kasus dimana mereka-mereka lakukan pengobatan sebagaimana mestinya, kita bicara efektifitas metode pengobatannya sendiri. Tanpa observasi yg solid, infeksi ginjal akan dibilang ketidakseimbangan chi, ditangani dgn pengobatan ala timur atau entah ala apa, kemudian akan mati dalam waktu 1 - 2 minggu. Sakit jantung lebih parah lagi, dalam hitungan menit sel-sel otak akan mati. Apakah ada peran dari "kebijaksanaan" pengobatan timur di sini? 

Perlu diketahui bahwa posmodernisme tidak hendak mempertarungkan pengobatan mana yang lebih efektif. Posmodernisme mengubah pandangan tentang klaim kebenaran tunggal, menjadi "kebenaran kontekstual". Bahwa yang disebut sebagai kebenaran, jangan-jangan adalah klaim kekuasaan tertentu saja. Kita bisa melacak juga sejarah penyakit-penyakit: Apakah penyakit jaman dahulu sudah sekompleks hari ini? Jangan-jangan "kesederhanaan" pengobatan timur adalah sesuai dengan situasi dan kondisi timur pada masanya. Kita tidak pernah, misalnya, mendengar ada wabah pes di Cina sebagaimana melanda Eropa di Abad Pertengahan. Ada kompleksitas yang mendasari bagaimana suatu penyakit bisa hadir dalam masyarakat. Posmodernisme mau memotret kompleksitas itu sebagaimana adanya. Karena kompleks, maka satu cara pandang saja tidak cukup dalam memahami sesuatu. Modernitas seringkali mencoba paham segala sesuatu secara otoritatif. Ketika tidak mampu dipahami, sesuatu itu dicap sebagai the others. Padahal the others itu hanya bisa dipahami jika kita menjadi mereka.

Bagaimana tentang Gangnam Style? Apakah itu fenomena posmodernisme?

Seni modern melihat seni produksi massal kadang-kadang sebagai kitsch, atau: Seolah-olah seni padahal bukan. Posmodernisme melihat kitsch juga dalam kacamata kontekstual. Misalnya, kain ulos tidak dibuat atas nama suatu individualitas tertentu. Kita tidak akan menemukan tanda tangan si pembuat kain dalam ulos. Tapi apakah yang demikian bisa kita sebut kitsch? Apakah yang demikian bukan seni? Posmodernisme memperdebatkan hal tersebut, dengan misalnya: Jangan-jangan yang demikian adalah seni yang sejati. Kenapa? Karena ia punya fungsi yang langsung bersentuhan dengan masyarakat dan dia anonim serta rendah hati.



Peserta diskusi: Ping Setiadi Yap, Amelia Guo, Theodore Mantovani, Karl Karnadi, Lea Angelina, Adventino Satrio, Mhd Sulhan, Ribraharnus Pracurtiar, Liem Freddy, Joko Supriyadi, Risang Gita Prahoro, Liky Ardianto, Rude Fontaine, Rachmat Septiana Haryadi, Kharisma Prima, Studens Philosophiae, Sebastian A. Nugroho, Garry Alexander, Nybras Kobral, Poes Koes, Andra Widjaja, Kepala Kubus, Hakmer Siregar, Marvel Dernabeli Anggen.
Continue reading