Thursday, December 29, 2011

Kekuasaan di Sekitar Kita

Kekuasaan di Sekitar Kita
Tadi, setelah menonton ulang The Matrix, saya melakukan beberapa perawatan pra-nikah yang wajib dijalankan oleh sebab disuruh oleh otoritas bernama orangtua. Dalam The Matrix saya menemukan adanya konsep "kekuasaan di sekitar kita", yang sesungguhnya membuat konsep kehendak bebas manusia menjadi sia-sia. Tadinya saya tidak paham-paham amat, sebelum akhirnya terjawab langsung lewat perawatan pra-nikah tersebut.

Perawatan yang saya lakukan adalah membersihkan wajah atau kita sebut saja secara trendi dengan facial. Sebetulnya saya tidak suka, karena ternyata sakit bukan main. Saya anggap para facialist adalah orang masokis: mereka menikmati kesakitan. Namun sebagai budak lembaga bernama pernikahan, saya taat saja demi kelancaran bersama.

Setelah konsultasi dengan dokter, apa yang terjadi berikutnya adalah vonis yang menyebutkan bahwa wajah saya harus dilaser. Saya ditidurkan di suatu ruangan, diberi kacamata anti radiasi, ditutup kupingnya, dan sayup-sayup terdengar suara dokter pria yang lembut bagaikan Morpheus berkata pada Neo, "Kamu akan mengetahui kebenaran setelah ini." Yang terjadi kemudian adalah bunyi mesin aneh yang membuat saya seperti berada dalam kapal ruang angkasa. Laser ditembakkan ke wajah, rasanya seperti dicubit, dan bau hangus menyengat dimana-mana. Di sela-sela kegiatan absurd itu, dokter selalu berkata halus, "Tidak apa-apa, tidak apa-apa."

Setelah itu semua saya kembali ke jalanan untuk pulang dan merenungkan apa yang terjadi. Sungguh ini adalah bentuk konspirasi kekuasaan maha rapi yang membuat manusia seolah berkehendak bebas padahal tidak:

  • Media menciptakan citra wajah yang baik adalah yang mulus tanpa jerawat dan flek. Dengan demikian perusahaan perawatan wajah tentu saja jadi berkembang biak. Adapun jika media berpendapat bahwa, "Wajah yang bagus adalah yang berjerawat", maka kita tidak akan menemukan semisal Natasha Skincare bermunculan. Atau bisa saja slogan Natasha Skincare akan menjadi, "Menumbuhkan jerawat di wajahmu sebanyak mungkin".
  • Dokter adalah instrumen kekuasaan sains yang ampuh. Sebelum saya dirawat, ada dokter khusus dari pihak perusahaan yang mengecek wajah saya. Sebelumnya tentu saja ada asumsi bahwa dokter itu akan berkata yang benar. Kekuasaan sains menunjukkan bahwa, "Dokter selalu benar". Bahkan jika ia berkata, "Tenggelamkan wajahmu ke dalam cuka", maka saya yakin pasien-pasien akan percaya. Hanya saja ia berkata, "Wajahmu harus dilaser", dan saya sungguh percaya bahwa wajah saya harus dilaser meskipun terdengar tidak masuk akal.
  • Ketika saya dihadapkan pada kebingungan, saya kontak teman perempuan yang memang berpengalaman dalam facial. Katanya, "Jangan khawatir ya, memang begitu, beauty is pain!" Saya tahu beauty is pain bukanlah tagline ciptaan teman saya itu. Tapi ciptaan media juga.
  • Teman saya yang lain mengatakan, "Kamu betul-betul gambaran pasangan modern. Istri di kantor, suami perawatan wajah." Oh, God, saya yakin ia mendapatkan gambaran itu juga dari media!
  • Mengadu pada orangtua tidaklah mungkin, karena beliaulah yang menciptakan imej, "Orang nikah itu ya mesti bersih mukanya." Ini lain lagi, ini kekuasaan kultural, meski tidak kultural-kultural amat. Yang pasti yang satu ini ultimate power.
  • Saya mencari dalam agama, tidak ada sunnah nabi yang menyuruh facial menjelang pernikahan. Tapi saya sudah tahu jawaban orang-orang jika saya berdebat dengan ini, "Tentu saja nabi tidak mencontohkan, karena jaman nabi kan belum ada Natasha Skincare."

Nalar saya menyerah karena ketiadaan dukungan. Saya akhirnya terpaksa berpendapat bahwa, "This is the truth!" Bahwa kekuasaan di sekitar kita tidak memberi peluang bagi nalar untuk merdeka. Bahwa apa yang kita sebut sebagai kehendak bebas, sebetulnya sudah diatur sedemikian halus sehingga masih tetap dalam koridor kekuasaan tertentu. Hasrat kita yang merdeka dan berbahaya, dikelola menjadi jinak bagai merpati.

Saya bisa mengatakan bahwa kita berada pada suatu era yang "sulit untuk percaya apapun karena segala apapun bisa sangat dipercaya". Sulit untuk mempercayai apakah kacang kedelai baik untuk kesehatan atau tidak karena di rubrik kesehatan sendiri minggu ini bicara soal faedah kacang kedelai, minggu depannya bicara soal bahaya kacang kedelai. Kita terpaksa percaya semua hanya karena rubrik itu ada di dalam perusahaan media besar bernama Tempo misalnya. Dunia hari ini tidak punya tempat untuk alasan bernama "kekurangan informasi". Dengan informasi bak air bah, yang mungkin hari ini adalah "kekeliruan informasi".

Apa kemudian yang harus kita pegang? Saya tidak punya solusi, bahkan Foucault pun hanya bisa menghancurkan dan tidak membangun apa-apa. Solusi saya hanya memberikan kutipan Nietzsche yang makin hari makin harus kita amini, "Tidak ada kebenaran, yang ada kekuasaan."


Continue reading

Thursday, December 22, 2011

Pembacaan Film "Cast Away" (2000)

Pembacaan Film "Cast Away" (2000)
Cast Away adalah film tahun 2000 yang disutradarai oleh Robert Zemeckis. Peran utama film ini diperankan oleh Tom Hanks sebagai Chuck Noland yang bekerja sebagai supervisor di jasa pengantaran FedEx. Pada suatu perjalanan menuju Malaysia, pesawat barang yang ditumpangi Chuck jatuh di Samudera Pasifik dan menyebabkan ia terdampar di suatu pulau. Di pulau tak berpenghuni tersebut, ia bertahan hidup selama empat tahun sebelum ditemukan oleh sebuah kapal besar lewat sebuah perjuangan membuat rakit hingga ke laut lepas.

Selain kepandaian Zemeckis dalam mengambil gambar, film ini juga menyuguhkan beberapa makna yang bagi saya cukup filosofis, inilah dia poin-poinnya:

Wilson si Bola Voli

Pada momen ketika Chuck merasa kesepian, ia menemukan "teman" dalam diri bola voli yang kebetulan ikut terdampar di dalam bungkus paket FedEx. Ketika Chuck berusaha membuat api dengan menggesekkan kayu, tangannya terluka sehingga ia merasa kesal dan melampiaskannya dengan melemparkan bola tersebut. Lalu ia temukan bahwa darah yang menempel pada permukaan si bola bisa dibentuk hingga menyerupai wajah. Akhirnya Chuck membuat wajah pada bola voli itu dan menamainya dengan "Wilson" sesuai merk bola itu sendiri. Wilson selalu diajak berbincang oleh Chuck dalam segala situasi. "Percakapan" antara Chuck dan Wilson kadangkala juga diliputi hal-hal yang emosional dan sentimentil, termasuk ketika Chuck "bertengkar" dan melempar Wilson ke laut, namun akhirnya menyesal lalu minta maaf.

  • Emmanuel Levinas menempatkan wajah sebagai sentral bagi eksistensi. Manusia berada di dunia oleh sebab wajah. Ini ditegaskan pula dalam novel Face of Another karangan Kobo Abe. Ini kisah seorang ilmuwan jenius yang kehilangan wajah oleh sebab kegagalan eksperimen di laboratorium. Karena ketiadaan wajah, ia tidak bisa berkomunikasi, bahkan ia ditolak sang istri. Dari situ ia menyadari bahwa wajah adalah gerbang komunikasi, suatu gerbang antara diri dengan dunia. Demikian mengapa ketika bola voli itu dilukis wajah, maka ia menjadi ada dan bereksistensi. Padahal bisa saja bola voli itu dilukis jantung, hati, atau otak, namun kita bisa membayangkan bahwa itu semua belum mewakili sebuah eksistensi.
  • Ketika Wilson hadir dan bereksistensi, gerak gerik Chuck agak berubah. Dalam suatu peristiwa ketika Chuck berkonsentrasi membuat api, ia merasa "diawasi" oleh Wilson yang "berwajah". Chuck menjadi agak was-was dan memperlihatkan gestur cemas. Ini sesuai dengan analogi lubang kunci Jean Paul Sartre. Katanya, "Jika kita sendirian di kamar, maka kita bebas. Tapi jika ada seorang yang mengintip dari lubang kunci, maka eksistensi kita terobjekkan oleh eksistensi yang lain." Jadi keberadaan Wilson, meski imajiner, tapi secara psikologis mengubah kesadaran Chuck menjadi "merasa diobjekkan". Ini penting untuk diingat dalam konsep Tuhan. Tuhan diciptakan, jangan-jangan agar manusia merasa diawasi terus menerus sehingga was-was dalam segala keadaan. "Jika Allah tidak ada, semuanya boleh," kata Dostoyevsky.

Paket yang Tidak Dibuka

Ketika Chuck terdampar, bersamanya juga terdampar paket-paket FedEx. Ia membuka semuanya, kecuali satu yang bergambar sayap. Sampai ia selamat dan kembali ke kota, paket itu tetap tersegel dan ia kirim ke alamat yang dituju meski sudah lewat empat tahun. Hingga akhir cerita, isi paket itu tidak pernah diketahui.

  • Dalam mitologi Yunani dikenal wanita pertama yang diciptakan di muka bumi ini namanya Pandora. Penciptaan ini dilakukan oleh Hephaestus atas titah Zeus. Karena dendam pada Prometheus yang mencuri api dari Zeus, Zeus kemudian "menyusupkan" Pandora pada Epimetheus, yang merupakan saudara dari Prometheus. Tidak hanya Pandora yang disusupkan, melainkan bersamanya juga sebuah kotak terlarang yang tidak boleh dibuka dalam keadaan apapun. Namun kepenasaranan Pandora tak tertahankan. Kotak itu dibuka dan keluarlah berbagai macam kejahatan yang kemudian tersebar ke seluruh dunia. Pandora menutupnya cepat-cepat hingga tersisa satu hal yang berada di dasar yaitu Harapan. Kotak FedEx yang tidak pernah dibuka itu adalah simbol dari kotak Pandora. Bahwa harus selalu ada yang disisakan untuk tak dijamah, karena yang demikian berisikan harapan.

Antara Rakit dan Wilson

Ketika Chuck melakukan perjuangannya yang terakhir untuk selamat dengan membuat rakit besar, terjadi badai di laut lepas yang membuat rakitnya separuh hancur plus ia kehilangan Wilson. Pada titik ini ia mengalami dilema, apakah mau menyelamatkan Wilson atau bertahan di rakitnya. Untuk ini ia mempunyai solusi sementara, yaitu mengikatkan tangannya pada rakit sementara ia berenang mengambil Wilson. Pada akhirnya Wilson terombang-ambing semakin jauh dan Chuck memilih kembali ke rakit dengan teriakan memilukan, "Maafkan aku, Wilson!

  • "Manusia adalah tali yang terikat antara binatang dan adimanusia," kata Friedrich Nietzsche. Rakit adalah simbol binatang, karena disana mengandung elemen survival yang kuat, dengan menaiki rakit berarti tingkat kemungkinan bertahan hidupnya lebih tinggi. Sedangkan Wilson adalah simbol adimanusia. Adimanusia menurut Nietzsche adalah mereka yang menciptakan nilai-nilai alih-alih diperbudak oleh nilai-nilai. Wilson sendiri bagaimanapun adalah ciptaan Chuck beserta nilai-nilai di dalamnya.

Demikian apa yang bisa saya maknai dari film Cast Away. Tentunya pemaknaan ini adalah pemaknaan di balik fenomena. Fenomenanya sendiri tidak perlu saya bahas karena sungguh film ini sudah bagus dan memikat. Moga-moga pemaknaan ini memang betul-betul mengada-ada, seperti lazimnya kegiatan para filsuf yang rajin mengada-ada.

Continue reading

Friday, December 16, 2011

Guido Orefice

Guido Orefice
gambar diambil dari sini


Barangsiapa yang sudah pernah menonton film Life is Beautiful (La vita è bella) keluaran tahun 1997, maka katakanlah apakah itu film tragedi atau komedi?

Film karya Roberto Benigni berlatarbelakang holocaust tersebut berkisah tentang seorang pria Yahudi bernama Guido Orefice (diperankan oleh Benigni sendiri) yang menikah dengan wanita non-Yahudi bernama Dora (diperankan oleh istri Benigni, Nicoletta Braschi). Beberapa tahun kemudian setelah mereka mempunyai anak berumur empat bernama Giosuè, PD II dimulai dan orang-orang Yahudi digiring ke kamp konsentrasi. Guido dan Giosuè digiring sedangkan Dora tidak karena ia bukan Yahudi. Namun Dora memohon diri untuk diikutsertakan ke kamp konsentrasi.

Di kamp konsentrasi tersebut, Guido mencoba sekuat tenaga agar anaknya tidak tahu bahwa apa yang sedang dialaminya ini adalah sesuatu yang pedih. Holocaust sebagai salah satu lapang pembantaian massal terbesar dalam sejarah disulap Guido menjadi "game untuk mendapatkan seribu poin dengan hadiah tank" untuk Giosuè. Giosuè, dalam epilog film tersebut, baru menyadari di masa dewasanya bahwa holocaust bukanlah mainan seperti ayahnya bilang, tapi kehebatan Guido dalam berpura-puralah yang membuat Giosuè yakin bahwa kamp konsentrasi pada masa itu memang hanyalah permainan.

Kembali ke pertanyaan di atas, apakah film ini tragedi atau komedi? Karena unik, bagian mula-mula film Life is Beautiful seperti akan menggiring temanya ke arah komedi, meskipun tengah hingga belakang mulai menguras air mata.

Atau kita ubah pertanyaannya, apakah perbedaan tragedi dan komedi?

Seorang filsuf Yunani yang saya lupa namanya mengatakan, "Pada kedalaman tertentu maka akan ditemukan dua hal saja dalam kehidupan, yaitu tragedi dan komedi." Guido Orefice adalah orangnya, yang mampu melihat holocaust bukan semata-mata tragedi, tapi juga komedi. Ia memerankan keduanya, tokoh tragedi maupun tokoh komedi. Jangan-jangan tragedi dan komedi bukanlah suatu kontradiksi, bukan suatu prinsip identitas yang rumusnya "A adalah A maka itu bukan B". Tragedi adalah sekaligus komedi dan komedi adalah sekaligus tragedi. Seperti terkadang jika kita tertimpa sial yang amat pahit, pada titik tertentu kita tertawa dan berkata, "Ah, hidup itu lucu ya." Atau pada saat kita tertawa "ngakak hingga guling-guling", alangkah mudah ditemukan bahwa tertawa tersebut juga adalah bernapaskan kegetiran. Gibran bersabda dalam Sang Nabi, "Bersama-sama keduanya datang, dan bila yang satu sendiri bertamu di meja makanmu, ingatlah selalu bahwa yang lain sedang ternyenyak di pembaringanmu."

Maka itu kita tidak pernah merasa bertentangan pada dua orang dimana yang satu bilang "Hidup itu pahit" sedang yang satu lagi "Hidup itu indah". Karena keduanya sama benar, hidup memang satu kesatuan harmoni antara tragedi dan komedi.

Continue reading

Tuesday, December 6, 2011

Metafisika

Metafisika
Entah benar atau tidak, tapi boleh kita percaya agar pembahasan ini menjadi menyenangkan: Istilah metafisika terjadi oleh sebab sesuatu yang tidak sengaja. Ketika Aristoteles sedang menyusun buku-bukunya di rak, asistennya meletakkan buku yang berisi tentang segala sesuatu yang di luar kenyataan seperti prinsip pertama dan pengertian tentang ada (being qua being) setelah buku bertitel 'Fisika'. Atas ketidaksengajaan itulah, buku tersebut dinamai 'Metafisika'. 'Metafisika' berarti sesudah 'Fisika', yang memang secara harfiah betul-betul buku yang ditempatkan setelah buku 'Fisika' di rak Aristoteles.

Istilah tersebut jadi terus menerus dipakai untuk menyebut segala sesuatu tentang yang di luar atau di belakang dunia fisik. Agak sulit untuk menjelaskan secara presisi tentang apa itu metafisika (tentu saja metafisika dalam arti istilah yang berkembang melampaui rak buku Aristoteles), maka itu alangkah baiknya kita simak beberapa contoh upaya untuk menghancurkan metafisika, sehingga metafisika itu sendiri apa bisa dengan lebih mudah dipahami.

  • Dunia modern adalah dunia yang sempat 'alergi' dengan metafisika. Tokoh paling brutal adalah David Hume (1711-1776). Filsuf Skotlandia ini mengatakan bahwa manusia hanya mendapatkan pengetahuannya dari segenap indranya saja. Apa yang tidak ia cerap dengan indra, maka itu hanya omong kosong. Hume mengatakan bahwa manusia hanya berbasiskan kesan-kesan, misalnya kesan tentang spidol adalah kenyataan bahwa ia sedang melihat spidol dalam wujudnya yang sejati: berwarna hitam, ada tutupnya berwarna putih. Setelah ia tidak melihat spidol itu, maka yang tersisa adalah gagasan tentang spidol, yang merupakan fotokopi dari kesan. Kesimpulan Hume: Gagasan tanpa kesan adalah kosong. Dengan pernyataan ini maka Hume sangat destruktif terhadap metafisika. Konsep-konsep khas metafisika seperti Tuhan, ruh, jiwa, malaikat, diri, atau substansi, dilemparkan ke tong sampah karena Hume punya pertanyaan mematikan, "Kesan apa yang mendasari gagasan tentang itu semua?"
  • Immanuel Kant (1724-1804) sedikit lebih toleransi terhadap metafisika. Ia membagi dunia menjadi dua yaitu fenomena dan nomena. Fenomena adalah apa yang tercerap indra, sedang nomena adalah apa yang di luar itu. Yang bisa kita perdebatkan, teliti, observasi, dan eksperimentasi hanyalah dunia fenomena, sedang dunia nomena kita tidak punya pengetahuan apapun tentangnya. Ini sekaligus menyerang pemikiran Abad Pertengahan yang selalu mencampuradukan antara problem Ketuhanan dengan sains. Bagi Kant, sains ya sains, Tuhan ya Tuhan, keduanya punya wilayah yang berbeda. Namun Kant menganggap konsep-konsep nomena tetaplah penting sebagai tuntutan moral. Kant memang toleransi terhadap metafisika, namun ia sekaligus menegaskan bahwa hal-hal yang metafisik mustahil bisa kita telaah oleh sebab pengetahuan kita tentangnya adalah tidak ada.
  • August Comte (1798-1857) disebut sebagai Bapak Positivisme. Ia yang amat bersemangat dan optimis bahwa kelak metafisika bisa dihancurkan sepenuhnya jika ilmu pengetahuan terus mengalami kemajuan. Ia mengajukan tesisnya yaitu law of three stages, bahwa masyarakat itu pada mulanya bertahap teologis, yaitu apa-apa dihubungkan dengan jiwa yang bersemayam dalam benda-benda. Politeisme dan monoteisme juga masuk dalam kategori ini. Tahap berikutnya, yang lebih maju adalah tahap metafisik, yaitu manusia mulai mencari prinsip pertama dengan mengandalkan nalarnya. Sehingga segala sesuatu disebut sebagai substansi, contohnya adalah Thales yang mengatakan alam semesta ini dari air. Comte mengatakan bahwa tahap paling maju adalah tahap positif, yaitu ketika manusia bisa memecahkan segala sesuatu dengan penjelasan saintifik yang berbasiskan observasi dan eksperimen. Tahap ketiga ini adalah puncak, yang berarti manusia bisa mengontrol alam. Comte juga sekaligus mau menegaskan bahwa metafisika lebih terbelakang dari cara berpikir positif yang serba empirik.
  • Ludwig Wittgenstein (1889 - 1951) dalam bukunya, Tractatus Logico Philosophicus berpendapat bahwa dunia ini hanyalah sekumpulan fakta dan bukan terdiri atas benda-benda. Fakta itu kemudian diberi nama, sehingga ia berkesimpulan bahwa: "Bahasa adalah gambar fakta". Jika ada faktanya, ada bahasanya, jika ada bahasanya, pasti ada faktanya. Maka itu metafisika menjadi tidak mungkin, misalnya kalimat "Membunuh itu dosa" tidak punya fakta apapun sehingga dianggap tak punya makna. Buku Wittgenstein ini diadopsi oleh para ilmuwan yang menjuluki dirinya sebagai Positivisme Logis. Kaum Positivisme Logis menyatakan kalimatnya yang terkenal, "Sebuah kalimat hanya bermakna jika bisa diverifikasi." Ini adalah momen penghancuran metafisika yang cukup berat karena metafisika diberantas mulai dari yang paling subtil yakni: bahasa.

Upaya penghancuran metafisika oleh para pemikir di atas semoga memberikan gambaran sedikitnya tentang apa itu metafisika. Pertanyaan selanjutnya adalah: Mungkinkah kita menghancurkan metafisika? Atau lebih jauh lagi, bisakah kita menghindari metafisika? Jika metafisika itu berkaitan dengan yang tidak kelihatan, maka itu yang tidak kelihatan itu dianggap tidak ada, maka mari kita jabarkan seberapa banyak pengaruh yang tidak ada terhadap ada:

  • Dasar dari sains adalah generalisasi dari yang partikular ke universal. Ada penalaran di sana yang menyatakan bahwa, "Dalam sepuluh kali percobaan, air mendidih pada suhu 100 derajat celcius. Kesimpulannya, air selalu mendidih pada 100 derajat celicus." Generalisasi adalah suatu kegiatan metafisik, karena kita sebetulnya tidak pernah melihat yang universal.
  • Logika Aristoteles berupaya merumuskan cara berpikir yang lurus, valid, dan logis. Agar dapat lurus, valid, dan logis, maka terdapat beberapa aksioma atau hukum-hukum yang sifatnya pasti. Aksioma itu sendiri, bukankah sebuah metafisika?
  • Ada anekdot menarik antara astronot dan ahli bedah otak. Kata astronot, "Aku sudah ke bulan dan tidak melihat Tuhan." Kata ahli bedah otak, "Aku sudah membedah banyak otak tapi tidak melihat satu pun pikiran."
  • Darimana David Hume tahu bahwa pengetahuan manusia hanyalah sebatas kesan dan gagasan? Bukankah itu sebuah kesimpulan metafisik? Lalu lihat bagaimana kaum Positivisme Logis tidak konsisten, bahwa pernyataan "Sebuah kalimat hanya bermakna jika bisa diverifikasi" itu juga tidak bisa diverifikasi maka itu tidak bermakna.
  • Wittgenstein pun pada akhirnya menyadari keekstrimannya. Katanya, "Mata bisa melihat dunia, tapi tidak bisa melihat mata itu sendiri. Peta bisa menggambarkan dunia, tapi tidak bisa menggambarkan peta itu sendiri. Bahasa bisa menjelaskan dunia, tapi tidak bisa menjelaskan bahasa itu sendiri." Wittgenstein kemudian menjadikan bahasa sejajar dengan Tuhan karena sama-sama metafisika

Dapatkah kamu memberikan contoh lainnya tentang pentingnya metafisika?

Akhirul kata, di sini saya melihat filsafat Timur yang justru persahabatannya dengan metafisika menciptakan suatu bangunan filsafat yang kokoh. Kritisi mengritisi tidak seberapa terjadi secara bertubi-tubi di Timur dibanding Barat. Filsafat Barat menyuguhkan suatu bangunan yang rentan oleh sebab fondasi metafisika yang kerap dilupakan. Namun ini bisa jadi suatu permakluman tersendiri oleh sebab Filsafat Barat punya fondasi kebudayaan Indo-Eropa yang akrab dengan budaya visual: Apa yang kelihatan itulah yang riil. Sedang kebudayaan Semit yang di dalamnya terkandung agama-agama Ibrahim (Yahudi, Kristen, Islam), bukanlah cara pandang dunia yang akrab dengan visualisasi. Kita bisa tahu Tuhan dari budaya Semit begitu tidak suka digambarkan, oleh sebab apa? Kita bisa curiga yang kelihatan itu mungkin menipu.


Continue reading

Sunday, December 4, 2011

Page Turner

Page Turner
Pernahkah melihat, dalam sebuah konser musik klasik, pianis ditemani seseorang di sebelahnya? Orang tersebut bertugas membalikkan halaman pada partitur si pianis. Kenapa? Jawabannya mudah, karena si pianis tentu saja sibuk dengan kedua tangannya yang menari di atas tuts.

Orang tersebut dilabeli sebagai page turner. Sebuah pekerjaan yang pernah saya tertawa geli melihatnya, karena dalam benak saya kerap tersirat pertanyaan konyol, "Apa yang terjadi jika dua halaman sekaligus dibalik?" atau "Apa yang terjadi jika halamannya terlipat?" Pokoknya saya menuduh profesi page turner ini sebagai lelucon saja, dan menunjukkan eksklusivitas piano (karena hanya piano yang menggunakan page turner, instrumen lain tidak. Walaupun kita tahu di semua instrumen, membalikkan halaman adalah juga pekerjaan sulit).

Rupanya saya terkena apa yang disebut anekdot Sunda sebagai dipoyok dilebok, yang diejek ia makan sendiri. Tanggal 3 Desember di Surabaya, saya ditunjuk jadi page turner. Pianisnya, Ibu Ratna Sari Tjiptorahardjo yang memang kebetulan saya sedang mengurusi konsernya di tiga kota (Yogya, Bandung, Surabaya) bersama klarinetis Urs Bruegger. Memang hanya kami bertiga yang pergi ke Surabaya, sehingga tidak ada jalan lain untuk menunjuk saya menjadi page turner. Di dua konser sebelumnya di Yogya dan Bandung, ada Ibu Diah, dosen piano UPI yang menjadi pembalik halaman.

Dengan tegang saya duduk di samping Ibu Ratna. Pengetahuan saya membaca partitur yang sudah dipelajari sejak belasan tahun lalu dikerahkan. Perasaan saya? Tegang. Sangat tegang. Terutama oleh sebab saya sering menertawakan pekerjaan ini. Musik berjalan, konsentrasi ditajamkan. Saya ikut saran Urs, bahwa yang dibaca jangan part pianonya, tapi part klarinetnya, lebih mudah karena notasi tidak serumit piano. Mata saya ikut bergerak bersama toge-toge notasi klarinet yang saya amat kagum karena Urs selalu bisa memainkan not sepertigadua tanpa masalah. Empat bar sebelum halaman berakhir saya selalu berdiri dan memegangi ujung halaman menantikan Bu Ratna menganggukkan kepala tanda page mesti segera dibuka dalam waktu sepersekian detik. Hasilnya? Alhamdulillah, kata Bu Ratna saya cuma satu kali telat. Lainnya saya berhasil akurat.

Perasaan saya? Luar biasa! Saya punya kesimpulan baru yang bagi saya menarik: Dari dulu saya berusaha mencari-cari dimana posisi terbaik untuk mengapresiasi musik klasik, dan akhirnya saya temukan bahwa posisi terbaik adalah duduk sebagai page turner. Disitu saya membaca, mendengar, berinteraksi, dan menjadi bagian dari tensi pertunjukkan. Sungguh sebuah VIP, sungguh sebuah posisi yang sempurna. Saya menjadi sadar betul kedahsyatan musikalitas Schumann, Poulenc ataupun Verdi. Bagaimana mereka menuliskan, dan sekaligus bagaimana para pemain menginterpretasi karya-karyanya. Sebuah berkah nikmat yang luar biasa, menjadi seorang pembalik halaman!

Continue reading