Friday, November 4, 2011

Problem Bahasa

Tentunya beberapa dari kita sudah tahu cerita tentang menara Babel. Cerita yang diambil dari Perjanjian Lama itu, mengisahkan tentang manusia yang bermigrasi dari Timur. Mereka, yang tengah berlokasi di Shinar, berencana membuat kota dengan menara di dalamnya. Menara itu bukan sembarang menara, mereka ingin menara maha tinggi yang bisa mencapai Tuhan. Namun Tuhan mencium arogansi ini, tanpa tedeng aling-aling Ia menghancurkan rencana para manusia. Caranya? Mudah saja. Tuhan membuat manusia menjadi berbeda-beda bahasa. Sejak itulah mereka tidak sanggup menyelesaikan menara tersebut.

Bahasa tentu saja punya andil dalam peradaban manusia. Ia boleh kita sebut sebagai ekspresi dari pikiran. Apa yang kita pikirkan bisa dieksplisitkan, kemudian menjadi simbol yang dimengerti orang lain. "Kesepakatan" juga menjadi aspek penting dalam bahasa, karena apa yang dimaksud "mengerti bahasa", adalah berarti juga memahami apa yang disepakati.

Namun seperti halnya teknologi, seperti halnya agama, seperti halnya sains, dan apapun di dunia ini, ada dua sisi mata uang yang bisa dilihat. Bahasa punya faedah, tapi juga ia mengandung persoalan. Filsafat Barat, terutama, adalah filsafat yang dibangun atas dasar kekayaan bahasa. Kita bisa perhatikan bahwa filsafat Barat menganut suatu prinsip bahwa, "Yang benar adalah yang bisa dijelaskan." Agar penjelasannya terasa jelas dan runut, filsafat Barat menjadi contoh yang baik betapa berharganya bahasa dalam mengekspresikan suatu konsep. Namun harus dicermati juga bahwa semakin detail konsep itu dijelaskan, maka tidak sedikit konsep-konsep itu sendiri menemui paradoks, yakni pernyataan yang berkontradiksi dengan dirinya sendiri. Mari menengok beberapa contoh kecil untuk melihat "celah" menarik ini:

  • David Hume (1711-1776) mengatakan bahwa manusia terlahir sebagai lembar kosong. Ia menemukan pengetahuannya, satu-satunya, lewat kesan-kesan yang ia peroleh dari benda-benda. Kesan itu menimbulkan gagasan, yaitu semacam fotokopi dari apa yang kita lihat. Nah, gagasan itu bisa diartikan lebih jauh sebagai gabungan dari kesan-kesan. Hume mencontohkan unicorn, "Ia pastilah berasal dari kesan kita melihat kuda, dan kesan kita melihat tanduk." Paradoksnya, kalau manusia terlahir dari lembar kosong, maka dari mana Hume mendapatkan konsep bahwa ada kesan dan gagasan yang mendahului manusia?
  • Lingkaran Wina, sebuah kelompok intelektual sekitar tahun 1922, mengemukakan ambisinya yang menarik, mereka ingin menyatukan ilmu-ilmu dalam satu atap (unified science). Agar sanggup melakukan hal ini, mereka membuat satu prinsip, "Kalimat yang bermakna, adalah yang bisa diverifikasi." Artinya, "Hujan akan turun" "Di tasmu berisi lima juta rupiah" "Makanan sudah siap" tergolong kalimat bermakna oleh sebab bisa dicek kebenarannya. Namun kalimat seperti "Membunuh itu dosa" "Tuhan itu ada" "Yang mati syahid masuk surga" adalah bukan kalimat bermakna oleh sebab mustahil melakukan cek dan ricek atasnya. Karl Popper menyerang kelompok ini dengan sebuah paradoks, apakah kalimat "Kalimat yang bermakna adalah yang bisa diverifikasi" itu bisa diverifikasi?
  • Dalam bidang etika, Jean Paul Sartre (1905-1980) adalah contoh yang menarik. Tesisnya adalah, "Manusia itu terlahir bebas, keputusan yang ia ambil adalah bebas, dan maka itu tidak ada etika apapun yang terkait dengannya." Namun Sartre tidak berhenti sampai di sini, "Tapi yang terpenting adalah, keputusan apapun yang ia ambil, ia bertanggungjawab secara penuh terhadap keputusannya." Artinya Sartre sekaligus menegaskan bahwa manusia juga terkena suatu etika, yaitu "yang baik adalah yang bertanggungjawab atas keputusannya".
Problem bahasa ini sudah dipikirkan oleh beberapa filsuf. Misalnya, Ludwig Wittgenstein (1889 - 1951) mengemukakan suatu pernyataan menarik, "Mata bisa melihat dunia, tapi ia tidak bisa melihat dirinya sendiri. Kamera bisa memotret dunia, tapi ia tidak bisa memotret dirinya sendiri. Peta bisa menggambarkan dunia, tapi ia tidak bisa menggambarkan dirinya sendiri. Bahasa bisa menjelaskan dunia, tapi ia tidak bisa menjelaskan dirinya sendiri." Friedrich Nietzsche (1844 - 1900) secara implisit menjelaskan dalam bukunya, Thus Spoke Zarathustra, bahwa "Manusia terpenjara bahasa, sehingga sulit berkomunikasi dengan sesama." Katanya, lebih lanjut, "Kebenaran tidak lain daripada sekumpulan metafor." Jacques Derrida (1930 - 2004) juga secara gamblang menyatakan bahwa filsafat Barat tidak lebih dari sekumpulan karya sastra.

Mari tinggalkan dulu filsafat Barat yang tengah bergelut dengan bahasa. Sekarang alihkan perhatian kita ke Timur, ke suatu aliran bernama Buddhisme Zen. Simak bagaimana cara mereka mengemukakan konsepnya, ini adalah yang paling terkenal, "Dua tangan ditepukkan dan terjadilah bunyi. Pertanyaannya, bunyi apa yang keluar dari satu tangan?" Atau ada dialog seperti ini (yang saya ambil dari buku Filsafat Timur-nya Bagus Takwin):

"Anda duduk di sini dengan diam bagaikan sebuah batu. Apakah yang anda pikirkan?"
"Saya sedang memikirkan tidak berpikir."
"Bagaimana caranya?"
"Dengan tidak berpikir."

Silakan coba googling dan ketik koan untuk mengetahui lebih banyak contoh-contoh paradoks seperti di atas. Artinya, Buddhisme Zen seperti memahami bahwa ada paradoks dalam bahasa, dan mereka memilih untuk membenturkannya ketimbang membiarkan berada dalam labirin. Sekilas kita akan sulit memahami ucapan-ucapan koan, namun ini sebenarnya juga sama sulitnya dengan kita memahami filsafat Barat, terutama saat mereka-mereka menemui paradoksnya.

Akhirul kata, saya mengartikan bahwa bahasa terang saja bermanfaat, kita semua tahu dan bersyukur. Tuhan pun seolah mengerti manfaat ini sehingga dia menurunkan kitab suci. Namun saya juga mengartikan bahwa bahasa mengandung problem, ia mungkin saja mencoba memahami realita, mengotakkan dan menyederhanakan agar mudah dianalisis, tapi barangkali kita setuju bahwa realita itu sendiri berada di luar bahasa. Pada tingkat ontologis yang lebih jauh, perlu juga suatu kesadaraan, dalam keterbatasan bahasa, bahwa wahyu-wahyu Tuhan tidak mungkin miskin dari realita. Tidak mungkin Tuhan memerangkapkan diri dalam labirin bahasa yang ia tahu bahwa itu mengandung problematika. Ada baiknya menengok kebenaran di luar bahasa setelah kita paham betul keterbatasannya, atau kata Nietzsche:

There is more wisdom in your body than in your deepest philosophy.



Previous Post
Next Post

0 comments: