Jumat, 25 November 2011

Etika Mexican Standoff

Etika Mexican Standoff

Jika kamu terjebak dalam situasi seperti ini, apa yang kamu lakukan?

Saya tahu istilah mexican standoff dari film-film Quentin Tarantino. Ia sering sekali, atau bisa dibilang selalu, menyelipkan adegan seperti ini di karyanya. Mexican standoff adalah posisi sama kuat yang mana kedua pihak mengalami keadaan yang sama-sama berbahaya, sama-sama terjepit, dan mesti ada kompromi yang serius agar keduanya bisa selamat. Istilah ini biasa dipakai dalam film koboi ketika dua atau lebih gunman sedang saling todong senjata. Namun situasi mexican standoff bisa kita temui dalam berbagai problem etis.

Ada dua hal yang bisa dilakukan dalam situasi seperti ini:
1. Mundur. Kedua-duanya tidak menembak meskipun ini butuh persetujuan dari keduanya. Biasanya ini dilakukan setelah diplomasi lewat dialog.
2. Pre-emptive strike atau menembak duluan. Ini adalah inisiatif dari masing-masingnya untuk menembak sebelum ditembak. Sesuatu yang pasti menimbulkan korban.

Sehubungan dengan dialog saya dengan kawan bernama Diecky Rabu lalu, ada kegentingan etis yang baru ketika ada yang membisikkan pada masing-masingnya seperti ini: "Pelurumu asli, sedang lawanmu palsu." Kalau itu terjadi, apa yang kamu lakukan? Saya menjawab langsung tembak, Diecky menjawab, "Kalau saya justru nggak, karena saya tahu lawan saya tak berdaya." Lantas jika dibisikkan sebaliknya? Yaitu: "Pelurumu palsu, lawanmu asli." Kami berdua setuju, bahwa tak ada gunanya berdiplomasi, menyerah dan kabur saja tunggang langgang.

Mexican standoff adalah situasi harian kita. Selalu ada kegentingan antara maju menerkam duluan untuk ambil kesempatan, atau mundur bersama-sama agar situasi aman. Keduanya punya peluang berhasil yang mirip-mirip, hanya yang menentukan adalah "bisikan" tentang apakah pelurumu dan peluru lawanmu itu asli atau palsu. Kata Mas Rudi, teman diskusi lainnya, jaman Soeharto adalah jaman dimana rakyat rajin dibisikkan sugesti bahwa pelurunya palsu sedangkan pemerintah punya peluru asli. Sedangkan kekuasaan selalu demikian, selalu punya kepercayaan bahwa rakyat memegang peluru palsu sedangkan dirinyalah yang berkemampuan membunuh.

Ini sebabnya mengapa kekuasaan selalu asyik untuk dipertahankan. Selalu asyik untuk mengingat betapa para budak tidak punya daya untuk melukai sang tiran. Demokrasi, sebagaimanapun disebut sebagai pemerintahan rakyat, tapi rakyat selalu disugestikan sebagai pemilik peluru palsu.

Namun, tanpa memperhitungkan aspek bisikan, saya akan agak gender sentris soal ini. Bahwa mexican standoff hanya bisa tanpa korban jika ada janji, kepercayaan, dan gentleman agreement. Tak bisa ada salah satu yang melanggar karena segalanya bisa kacau. Oh, saya jadi ingat hari pernikahan saya yang sebentar lagi. Saya akan duduk bersimpuh untuk saling menodongkan pistol dengan ayah calon. Kami berdua mundur teratur oleh sebuah kesepakatan antara dua pria, "Jika satu melanggar, maka moncong ini akan menyalak tanpa bisa dihindari."



Gambar diambil dari sini. Agaknya diambil dari adegan Reservoir Dogs-nya Tarantino
Continue reading

Jumat, 11 November 2011

Intuitive Philosopher

Intuitive Philosopher
“There is more wisdom in your body than in your deepest philosophy.” (Nietzsche)


Pernahkah kita, yang berpendidikan tinggi, menuduh secara tak berdasar bahwa tukang becak tidak punya pengetahuan sedikitpun tentang filsafat Kant? Pernahkah kita, anak muda penuh gelora yang segala wawasan adalah bagai anggur kebenaran, menuduh ibu kita tak punya pemahaman tentang filsafat Sartre, apalagi Hegel? Pernahkah kita, melihat tukang martabak manis dan menganggap konyol bahwa dia punya secuil pengetahuan tentang filsafat Plato? Bahkan kalau ia ditanya tentang Plato, mungkin akan bertanya balik: keju merk baru ya?

Saya pernah, dan barangkali masih, menganggap ibu saya terutama, tidak punya pengetahuan apapun tentang filsafat. Beliau berpikiran common, hanya ingin anaknya soleh, berhasil, selamat, sukses, dan berbakti. Tidak ada mungkin suatu pikiran bahwa anaknya harus jadi seorang yang misalnya: Mengguncang urat nadi metafisika Jerman. Setiap saya tidak setuju dengan ibu, saya kerap mendebat dan saya selalu memenangkannya oleh sebab perpustakaan logika saya lebih unggul.

Namun pada perkembangannya, saya merenungkan banyak hal soal pengetahuan filsafat setiap orang. Apakah betul dengan apa yang digembar-gemborkan oleh Barat, bahwa citra filsuf adalah yang misalnya, berpikir kritis, sistematis, radikal, lantas sanggup berpikir ontologis, epistemologis, dan aksiologis? Saya punya orang yang bekerja di rumah, namanya Yampan. Perawakannya jauh dari stereotip akademisi ataupun filsuf. Tapi gerak geriknya sungguh mengagumkan. Sederhana saja saya menilai ini, bahwa kenyataan ia tidak pernah mengeluh, tidak pernah ingin terlihat pintar, dan selalu berbuat hal manis semisal menelpon istrinya di rumah hanya untuk mendengarkan anak bayinya menangis. Pertanyaan saya agak tragis:
  • Apakah dengan ia tidak pernah membicarakan Kant dan kawan-kawan, lantas ia bukan filsuf?
  • Bukankah filsuf itu memikirkan sesuatu tentang kehidupan agar kehidupan ini menerima manfaat darinya?
  • Lantas jika seseorang sudah memberikan suatu manfaat bagi kehidupan tanpa memikirkannya, ia bukan filsuf?
Inilah barangkali yang dimaksud Nietzsche dalam kalimat pembuka di atas. Bahwa tubuh mendahului pemikiran. Bahwa filsafat kita yang terdalam belum memberikan kebijaksanaan apa-apa tanpa suatu perbuatan yang aplikatif dari tubuh kita. Seperti kritik yang pernah bapak ajukan pada saya: "Kamu membahas filsafat Timur dengan tetek bengek kosmologinya, tapi setiap keluar kamar tidak pernah mematikan lampu." Ini adalah suatu tamparan keras, yang barangkali harus juga dialami oleh Descartes dan antek-anteknya yang begitu gigih memisahkan filsafat dari keseharian.

Maka itu saya mengakui bahwa ibu barangkali tidak punya pengetahuan tentang runutan sejarah filsafat Barat, tapi beliau tidak perlu itu untuk bertindak bijaksana, bertindak sesuai dengan definisi filsafat itu sendiri: cinta kebijaksanaan. Bahwa anak yang soleh dan berbakti, adalah tampak seperti sebuah tujuan sederhana, namun itulah sesungguhnya buah dari keluhuran budi dan kejernihan batin yang tidak sedikitpun datang melalui pikiran yang bertele-tele. Ibu adalah intuitive philosopher.

Jika kita menganggap bahwa filsafat hanya sebatas kegiatan olah nalar yang terpisah, maka bisa jadi tiada satupun kebijaksanaan yang bisa kita ambil dari tukang becak, tukang martabak, atau Yampan sekalipun. Filsafat menjadi suatu wilayah yang asing dari kehidupan manusia dan hanya berisikan pernyataan kosong seperti "dualisme Cartesian", "benda dalam dirinya sendiri", atau "dunia yang dilipat".

Saya menerawang ke masa-masa kehidupan pernikahan saya nantinya. Ketika saya sibuk memikirkan apa yang seharusnya dilakukan umat manusia, istri saya dengan tenangnya mengingatkan, "Jangan lupa kembalikan pulpen ke tempatnya lagi."


Continue reading

Senin, 07 November 2011

Siddhartha (1922) Membangunkanku Lagi

Siddhartha (1922) Membangunkanku Lagi
Siddhartha, sebuah novel dari Herman Hesse, saya baca untuk kedua kalinya setelah sekitar empat tahun berlalu. Saya berterimakasih pada seorang sahabat, Indra Permadi yang mengenalkan saya pada novel ini pada sekitar tahun 2008. Saya sendiri pernah membuat review-nya di blog yang lama yang tidak pernah di-update lagi.


Novel ini, dibaca kemarin dengan dibaca empat tahun lalu, masih punya daya magis bagi saya. Masih memiliki daya getar yang hebat sehingga mampu membangunkan saya dari tidur dogmatis (persoalannya, apakah ketika saya bangun dari tidur, itu justru saya berada di mimpi berikutnya seperti film Inception?). Siddhartha adalah kisah tentang Siddhartha, pemuda yang melakukan perjalanan spiritual. Novel ini bercerita tentang pergulatan batinnya yang terbagi dalam beberapa tahap yang mengagumkan (jangan terlalu kecewa jika saya paparkan jalan ceritanya disini, karena gaya tutur Hesse masih tetap mengasyikan untuk dibaca):

  • Siddhartha sebagai seorang remaja yang cerdas, anak dari brahmin terhormat, yang taat beribadah dan melakukan persembahan. Ia hapal banyak ayat-ayat dari kitab sucinya dan melakukan samadi sering sekali.
  • Siddhartha pergi dari kehidupan mapannya, meninggalkan keluarga dan berangkat bersama para samana. Samana bisa disebut sebagai pertapa yang mengonsentrasikan hidupnya untuk asketisme, penjauhan diri dari hal-hal duniawi, dan melepaskan diri dari lingkaran samsara. Mereka hidup di hutan, hanya berpuasa dan samadi.
  • Siddhartha meninggalkan samana karena tidak jua menemukan kebahagiaan. Ternyata para samana ini juga mengolok-olok secara ekstrim kehidupan duniawi. Siddhartha datang pada Sang Buddha bernama Gotama. Namun segera Siddhartha menolak ajaran Gotama dengan sebuah kalimat mengagumkan, "Tidak ada seorangpun yang dapat tercerahkan lewat sebuah ajaran." Siddhartha pergi ke kota, meninggalkan kehidupan asketik dan menolak semua ajaran.
  • Di kota ia bertemu dengan Kamala, seorang pelacur terkenal yang mengajarkannya arti keduniawian. Siddhartha merubah pandangannya dari yang tadinya melihat intisari dari apa yang tampak, menjadi menghargai apa yang tampak itu sendiri. Siddhartha hidup bergelimang harta, menyukai minuman, perjudian, dan menjadi kekasih Kamala.
  • Keduniawian tidak juga membuatnya bahagia. Ia menganggapnya sebagai keterjebakan dengan samsara. Siddhartha lari ke hutan dan ia menemukan seorang juru sampan bernama Vasudeva yang pernah menyeberangkannya dulu. Vasudeva adalah seorang yang belajar segala sesuatu dari sungai. Katanya, sungai berbicara banyak. Vasudeva juga seorang pendengar yang baik, dari ia Siddhartha berguru kembali.
  • Ternyata, hubungannya dengan Kamala dulu menghasilkan anak yang ia tidak ketahui. Meninggalnya Kamala membuat Siddhartha harus mengurus Siddhartha muda yang sombong dan keras kepala. Ia belajar sesuatu lagi, bahwa ada penderitaan yang ia peroleh dari mengurus anak ini, namun ada kebahagiaan tak terperi yang meliputinya.
  • Siddhartha muda kabur ke kota, Siddhartha tua menjadi juru sampan sendirian setelah Vasudeva juga meninggal dunia. Pada kawannya semasa kecil, Govinda, Siddhartha berbagi bahwa, "Kata-kata tidak bisa menjelaskan kebijaksanaan. Kebijaksanaan jika dibagi akan terdengar bodoh." Ia juga menambahkan kalimat yang mengagumkan, "Lawan dari kebenaran, adalah sama benarnya, itu hanya persoalan kata-kata."

Boleh saja kita menganggap Siddhartha mengalami "kemunduran". Seperti ia kembali ke asal mula, seperti ia kembali ke masa dimana ia belum mengembara. Namun ini persis mengingatkan saya pada salah satu koan dalam Buddhisme Zen:


Sebelum pencerahan, gunung adalah gunung, laut adalah laut.

Semasa pencerahan, gunung bukanlah gunung, laut bukanlah laut.

Setelah pencerahan, gunung adalah gunung, laut adalah laut.

Mengingat kembalinya segala sesuatu, saya agak bergidik juga. Fase terakhir kehidupan Siddhartha menunjukkan bahwa muara dari segala perjalanan spiritualnya adalah justru seperti semboyan Pidi Baiq: "Tidak apa-apa." Bahwa penjahat berbuat jahat, dengan polisi menahannya, adalah sama dengan batu yang kelak jadi tanah, yang kelak akan menghidupi tumbuh-tumbuhan. Semuanya memang sudah begitu: Tidak apa-apa. Bahwa hidup ini sudah satu kesatuan yang utuh. Spinoza menyebutnya dengan sub specie aeternitatis: melihat segalanya dari kacamata keabadian.

Sudah, sudah, semakin saya berkata, semakin terasa kebodohannya. Pintaku cuma satu pada Tuhan, bisakah lepaskan kami semua dari kata-kata?









Om


Continue reading

Jumat, 04 November 2011

Problem Bahasa

Problem Bahasa
Tentunya beberapa dari kita sudah tahu cerita tentang menara Babel. Cerita yang diambil dari Perjanjian Lama itu, mengisahkan tentang manusia yang bermigrasi dari Timur. Mereka, yang tengah berlokasi di Shinar, berencana membuat kota dengan menara di dalamnya. Menara itu bukan sembarang menara, mereka ingin menara maha tinggi yang bisa mencapai Tuhan. Namun Tuhan mencium arogansi ini, tanpa tedeng aling-aling Ia menghancurkan rencana para manusia. Caranya? Mudah saja. Tuhan membuat manusia menjadi berbeda-beda bahasa. Sejak itulah mereka tidak sanggup menyelesaikan menara tersebut.

Bahasa tentu saja punya andil dalam peradaban manusia. Ia boleh kita sebut sebagai ekspresi dari pikiran. Apa yang kita pikirkan bisa dieksplisitkan, kemudian menjadi simbol yang dimengerti orang lain. "Kesepakatan" juga menjadi aspek penting dalam bahasa, karena apa yang dimaksud "mengerti bahasa", adalah berarti juga memahami apa yang disepakati.

Namun seperti halnya teknologi, seperti halnya agama, seperti halnya sains, dan apapun di dunia ini, ada dua sisi mata uang yang bisa dilihat. Bahasa punya faedah, tapi juga ia mengandung persoalan. Filsafat Barat, terutama, adalah filsafat yang dibangun atas dasar kekayaan bahasa. Kita bisa perhatikan bahwa filsafat Barat menganut suatu prinsip bahwa, "Yang benar adalah yang bisa dijelaskan." Agar penjelasannya terasa jelas dan runut, filsafat Barat menjadi contoh yang baik betapa berharganya bahasa dalam mengekspresikan suatu konsep. Namun harus dicermati juga bahwa semakin detail konsep itu dijelaskan, maka tidak sedikit konsep-konsep itu sendiri menemui paradoks, yakni pernyataan yang berkontradiksi dengan dirinya sendiri. Mari menengok beberapa contoh kecil untuk melihat "celah" menarik ini:

  • David Hume (1711-1776) mengatakan bahwa manusia terlahir sebagai lembar kosong. Ia menemukan pengetahuannya, satu-satunya, lewat kesan-kesan yang ia peroleh dari benda-benda. Kesan itu menimbulkan gagasan, yaitu semacam fotokopi dari apa yang kita lihat. Nah, gagasan itu bisa diartikan lebih jauh sebagai gabungan dari kesan-kesan. Hume mencontohkan unicorn, "Ia pastilah berasal dari kesan kita melihat kuda, dan kesan kita melihat tanduk." Paradoksnya, kalau manusia terlahir dari lembar kosong, maka dari mana Hume mendapatkan konsep bahwa ada kesan dan gagasan yang mendahului manusia?
  • Lingkaran Wina, sebuah kelompok intelektual sekitar tahun 1922, mengemukakan ambisinya yang menarik, mereka ingin menyatukan ilmu-ilmu dalam satu atap (unified science). Agar sanggup melakukan hal ini, mereka membuat satu prinsip, "Kalimat yang bermakna, adalah yang bisa diverifikasi." Artinya, "Hujan akan turun" "Di tasmu berisi lima juta rupiah" "Makanan sudah siap" tergolong kalimat bermakna oleh sebab bisa dicek kebenarannya. Namun kalimat seperti "Membunuh itu dosa" "Tuhan itu ada" "Yang mati syahid masuk surga" adalah bukan kalimat bermakna oleh sebab mustahil melakukan cek dan ricek atasnya. Karl Popper menyerang kelompok ini dengan sebuah paradoks, apakah kalimat "Kalimat yang bermakna adalah yang bisa diverifikasi" itu bisa diverifikasi?
  • Dalam bidang etika, Jean Paul Sartre (1905-1980) adalah contoh yang menarik. Tesisnya adalah, "Manusia itu terlahir bebas, keputusan yang ia ambil adalah bebas, dan maka itu tidak ada etika apapun yang terkait dengannya." Namun Sartre tidak berhenti sampai di sini, "Tapi yang terpenting adalah, keputusan apapun yang ia ambil, ia bertanggungjawab secara penuh terhadap keputusannya." Artinya Sartre sekaligus menegaskan bahwa manusia juga terkena suatu etika, yaitu "yang baik adalah yang bertanggungjawab atas keputusannya".
Problem bahasa ini sudah dipikirkan oleh beberapa filsuf. Misalnya, Ludwig Wittgenstein (1889 - 1951) mengemukakan suatu pernyataan menarik, "Mata bisa melihat dunia, tapi ia tidak bisa melihat dirinya sendiri. Kamera bisa memotret dunia, tapi ia tidak bisa memotret dirinya sendiri. Peta bisa menggambarkan dunia, tapi ia tidak bisa menggambarkan dirinya sendiri. Bahasa bisa menjelaskan dunia, tapi ia tidak bisa menjelaskan dirinya sendiri." Friedrich Nietzsche (1844 - 1900) secara implisit menjelaskan dalam bukunya, Thus Spoke Zarathustra, bahwa "Manusia terpenjara bahasa, sehingga sulit berkomunikasi dengan sesama." Katanya, lebih lanjut, "Kebenaran tidak lain daripada sekumpulan metafor." Jacques Derrida (1930 - 2004) juga secara gamblang menyatakan bahwa filsafat Barat tidak lebih dari sekumpulan karya sastra.

Mari tinggalkan dulu filsafat Barat yang tengah bergelut dengan bahasa. Sekarang alihkan perhatian kita ke Timur, ke suatu aliran bernama Buddhisme Zen. Simak bagaimana cara mereka mengemukakan konsepnya, ini adalah yang paling terkenal, "Dua tangan ditepukkan dan terjadilah bunyi. Pertanyaannya, bunyi apa yang keluar dari satu tangan?" Atau ada dialog seperti ini (yang saya ambil dari buku Filsafat Timur-nya Bagus Takwin):

"Anda duduk di sini dengan diam bagaikan sebuah batu. Apakah yang anda pikirkan?"
"Saya sedang memikirkan tidak berpikir."
"Bagaimana caranya?"
"Dengan tidak berpikir."

Silakan coba googling dan ketik koan untuk mengetahui lebih banyak contoh-contoh paradoks seperti di atas. Artinya, Buddhisme Zen seperti memahami bahwa ada paradoks dalam bahasa, dan mereka memilih untuk membenturkannya ketimbang membiarkan berada dalam labirin. Sekilas kita akan sulit memahami ucapan-ucapan koan, namun ini sebenarnya juga sama sulitnya dengan kita memahami filsafat Barat, terutama saat mereka-mereka menemui paradoksnya.

Akhirul kata, saya mengartikan bahwa bahasa terang saja bermanfaat, kita semua tahu dan bersyukur. Tuhan pun seolah mengerti manfaat ini sehingga dia menurunkan kitab suci. Namun saya juga mengartikan bahwa bahasa mengandung problem, ia mungkin saja mencoba memahami realita, mengotakkan dan menyederhanakan agar mudah dianalisis, tapi barangkali kita setuju bahwa realita itu sendiri berada di luar bahasa. Pada tingkat ontologis yang lebih jauh, perlu juga suatu kesadaraan, dalam keterbatasan bahasa, bahwa wahyu-wahyu Tuhan tidak mungkin miskin dari realita. Tidak mungkin Tuhan memerangkapkan diri dalam labirin bahasa yang ia tahu bahwa itu mengandung problematika. Ada baiknya menengok kebenaran di luar bahasa setelah kita paham betul keterbatasannya, atau kata Nietzsche:

There is more wisdom in your body than in your deepest philosophy.



Continue reading