Tuesday, October 25, 2011

Jarak

Jarak



Michael Corleone, seperti yang diperankan Al Pacino dalam film The Godfather, adalah sosok yang mendapat penghargaan sebagai salah satu iconic villain oleh American Film Institute. Pemilihan Michael sebagai villain mungkin tidak disetujui semua orang. Bagi saya sendiri, ia seorang jagoan, ia protagonis. Michael adalah family man sekaligus juga tragic hero. Ini bukan interpretasi saya yang berlebihan, tapi tidakkah dalam film, Michael memang digambarkan sebagai seorang tokoh utama? Tidakkah kerajaan Corleone, dengan tetek bengek bisnis "haram" di luar sana, tetap digambarkan sebagai keluarga yang hangat dan menjunjung tinggi harga diri?


Di film yang lain ada Travis Bickle (Diperankan dengan luar biasa oleh Robert de Niro dalam film Taxi Driver). Travis adalah seorang supir taksi yang punya kegelisahan akan lingkungan sekitar. Ia merasa bahwa ia harus merubah keadaan. Keterbatasannya sebagai seorang supir taksi tidak menjadi persoalan. Travis membeli senjata, menembaki siapa saja yang merongrong keadilan. Seorang pelacur muda ia pulangkan ke orangtuanya. Pada titik ini Travis menjadi seorang pahlawan.

***

Apa gerangan yang mau saya bicarakan? Saya sedang ingin membicarakan soal jarak. Tentu saja bukan pemikiran terbelakang kalau kita menganggap semua mafia adalah jahat dan semua supir taksi tidak ada yang berani merubah keadaan sekitar. Ini stereotip yang lumrah, yang diterbitkan dari konstruksi sosial. Kedua film di atas, dengan tokoh yang berbeda, mencoba mendekati apa yang stereotip, untuk melihat dari jarak yang sangat dekat. Melihat seorang mafioso dan supir taksi secara eksistensial.

Pada titik ini kita sebenarnya susah menempatkan posisi hitam putih pada diri mereka. Jarak ini adalah "jarak manusiawi", ketika kita merasa bahwa ada kesamaan perasaan antara saya dan Michael Corleone, saya dan Travis Bickle. Bahwa ketika mereka gelisah, maka ini adalah gelisah yang sama dengan kegelisahan saya. Ketika mereka geram, ini adalah kegeraman yang sama dengan yang saya punya. Nilai-nilai loyalitas keluarga Corleone, terang saja bisa diterapkan dengan mudah pada keluarga saya.

Apa sesungguhnya yang menciptakan stereotip berlebihan? Bisa jadi adalah jarak yang "nanggung". Jarak yang tidak mau dekat tapi juga tidak mau jauh untuk meneropong keholistikan. Mengenal satu mafioso jahat, kita langsung menyimpulkan bahwa semua mafia jahat. Mengenal satu supir taksi berpikiran dangkal, kita langsung merasa bahwa tak mungkin ada supir taksi yang mau merubah dunia! Ini adalah jarak yang tanggung, jarak yang sudah hampir pasti sanggup menciptakan stereotip yang terburu-buru. Ambil contoh para teroris yang melakukan pemboman dengan target simbol-simbol hegemoni Barat itu. Tanyakan pada mereka: Adakah satu saja, satu saja, orang Amerika atau Yahudi yang kalian kenal dekat, dengan sangat baik, hingga bersahabat, hingga bersaudara? Entah kenapa saya yakin tidak (walaupun yang saya perbuat ini adalah stereotip dari jarak yang nanggung juga). Yang saya yakini, mereka melihat Barat dari konsep-konsep yang sempit saja.

Jika tidak sanggup mendekati fenomena, atau malas, maka ada alternatif yang mudah, yaitu menjauhkannya sejauh-jauhnya (jangan nanggung!). Pada titik ini keberbedaan juga akan sulit ditemukan. Seperti menyaksikan daratan dari pesawat terbang, maka tak akan ditemukan batas-batas negara, ideologi, agama, ataupun bangsa. Cara melihat dari jarak yang amat jauh ini, Spinoza menyebutnya dengan sub specie aeternitatis: melihat segalanya dari perspektif keabadian. Bahwa manusia, secara holistik betul-betul tidak punya free will. Mereka diciptakan dalam kodratnya masing-masing, dalam lingkungannya masing-masing, dalam keterbatasan serta porsinya masing-masing.

Jauh dekat sama saja. Yang penting jangan nanggung!


Semua gambar diambil dari Wikipedia.

Continue reading

Sunday, October 23, 2011

Pondok Musik Pan

Pondok Musik Pan




Alkisah ada keluarga kambing yang mendirikan sebuah pondok musik bagi para binatang. Keluarga ini percaya bahwa mereka adalah keturunan langsung dari Pan, dewa berparas kambing yang amat lihai bermusik. Atas dasar itu mereka menamakan pondok musiknya dengan nama Pan, berharap agar para binatang yang belajar menjadikan Pan sebagai panutan sekaligus inspirasinya.

Keluarga kambing terdiri dari empat anggota keluarga. Sang bapak, kambing jantan, bernama Lamira. Nama yang membuatnya sering tertukar dengan kambing betina. Lamira tak bisa bermain musik, namun amat pandai berorasi. Sang ibu bernama Pitys, kambing yang sangat lihai memainkan seruling. Si sulung adalah kambing betina bernama Hera yang amat piawai memainkan harpa. Dinamai Hera karena agar mewarisi sifat-sifat Dewi Hera, pencemburu dan tidak ingin Zeus jatuh ke tangan orang lain selain dirinya. Lamira dan Pitys ingin Hera menjadi seorang juara. Adik Hera bernama Ovid, kambing jantan yang dibiarkan tumbuh alami oleh kedua orangtuanya oleh sebab mereka telah memercayakan beban keluarga pada Hera.

Agar pondok musiknya menjadi maju, mereka tentu saja tidak bisa hanya mengandalkan anggota keluarganya untuk mengajari para binatang. Satu per satu binatang yang dianggap berbakat di bidang musik direkrut untuk menjadi guru. Setelah melalui kecerdikan orasi Lamira, beberapa binatang yang pandai musik langsung tertarik untuk menjadi guru tanpa banyak bertanya. Pondok musik berjalan menyenangkan, dari hari ke hari muridnya bertambah terus menerus.

Lamira, sang kepala keluarga, tidak puas dengan keberhasilan pondok musik ini. Ia ingin lebih. Maka itu Lamira mulai mengadakan program demi program agar pondoknya semakin sukses. Misalnya, Lamira ingin membuat konser yang disaksikan oleh para binatang di seluruh negeri. "Agar anak didik kita menjadi berani tampil," katanya pada sang istri. Tapi tak berhenti disitu, "Jangan lupa tarik harga tinggi bagi siapa yang mau tampil. Tidakkah panggung seperti ini adalah langka?" lanjut Lamira. Sang istri hanya bisa mengangguk, karena percaya apa yang diucap suami biasanya mengandung kebenaran.

Konser pondok musik Pan berlangsung meriah. Seluruh negeri memuji dan mengagungkan namanya. Lamira tak mau berhenti, ia semakin bersemangat untuk mengadakan acara sekaligus memanfaatkan keberhasilan konser kemarin untuk menarik biaya lebih tinggi lagi bagi anak didiknya. Tidak lupa Hera selalu berpartisipasi, sebagai bentuk kebanggaan keluarga Lamira, "Kamilah keturunan Pan yang asali." Setiap pondok musik Pan diundang di forum-forum negeri binatang, tak lupa Lamira juga mengagungkan Hera. Membicarakannya ke seluruh negeri tentang anaknya yang kelak akan menggantikan manusia untuk menguasai bumi. Orasi Lamira meyakinkan, "Kelak yang kaki dua akan kalah oleh kaki empat. Inilah Hera anakku yang akan memimpin kalian."

Di tengah-tengah semangat Lamira dan kejayaan pondok musik Pan, terdapat api dalam sekam. Para guru diam-diam bersiap untuk melakukan pemberontakan. Kenapa? Karena nun jauh di ruang-ruang kelas tempat mereka mengajar musik, para orangtua siswa kerap melancarkan protes, "Mengapa mahal sekali biaya-biaya untuk konser? Memang untuk apa?" Para guru kelimpungan, tidak punya wewenang untuk menjawab oleh sebab memang betul-betul tidak tahu. Namun satu yang para guru tahu pasti, Lamira bukanlah orang yang menyenangkan. Ia amat senang berbicara mengagungkan kejayaan pondok musik Pan dan Hera sendiri pada setiap guru yang ditemui. Lamira terus meyakinkan, bahwa, "Kelak yang kaki dua akan kalah oleh kaki empat. Inilah Hera anakku yang akan memimpin kalian."

Namun bukan itu saja yang menjadi dasar pemberontakan para guru. Lamira kerap mempekerjakan para guru di konser-konser besar seluruh negeri tanpa memberinya uang sepeser pun. Padahal para guru tahu bahwa orangtua murid diwajibkan membayar dana yang besar pada setiap penyelenggaraannya. Lamira juga kerap menyindir para guru yang tidak setia pada pondok musiknya. Lamira ingin agar para guru hanya mengajar di satu tempat, yakni tempat miliknya. Jika ada yang mengajar di tempat lain, maka kata-kata pedas mulai terlontar. Selain itu, Hera yang percaya bahwa dirinya adalah kambing unggulan, mulai bersikap menyebalkan. Ia menempatkan dirinya selalu istimewa diantara para binatang, dan guru-guru tidak suka itu.

Para guru rapat memikirkan pemberontakan yang tepat. Seorang guru muda, seekor babi, mengusulkan untuk membunuh Lamira dengan tenaga seekor kuda. Guru yang lebih senior yang kebetulan seekor kuda menolak usulannya. Katanya, "Jangan membunuh. Nanti siapa yang menafkahi anak-anaknya? Tidakkah Pitys sering memelas bahwa segala yang ia lakukan adalah demi menafkahi Hera dan Ovid?" Para guru mengangguk menyetujui sang kuda. Seekor burung merak ahli menyanyi mengusulkan agar satu per satu keluar dari pondok. "Jelas ini ide yang bagus, karena kita yang membuat pondok ini jadi bagus, tapi mengapa kita yang tidak dihargai?" kata burung merak berapi-api.

Jadilah satu per satu guru mengundurkan diri dari pondok musik Pan dengan berbagai alasan. Semua teguh pendirian, terutama kenyataan bahwa banyak orangtua murid juga mendukung penuh. Kata para orangtua, "Meskipun jaya dan maju, tapi uang yang diminta terlalu besar dan kadang tidak masuk akal." Usul burung merak alangkah tepat. Lamira dan Pitys kelimpungan. Sempat mereka memohon-mohon agar para guru tidak keluar. Namun apa daya para guru tak punya semangat lagi mengajar di sana. Melihat kenyataan itu, Lamira dan Pitys sama sekali tidak terpikir untuk mencari apa yang salah dalam diri mereka. Mereka menuduh kekuatan di luar sana telah memengaruhi para guru. Kata mereka, "Ini perbuatan Apollo! Sihir! Ia tidak puas hanya dengan menang di kontes musik para dewa. Ia ingin Pan dan turunan-turunannya ikut sengsara!"

Nun jauh di langit sana Apollo tersenyum mendengar hiruk pikuk keluarga Lamira yang tengah menyalahkan dirinya. Kata Apollo, "Bagaimana mungkin pelbagai perbuatan angkuh yang telah mereka lakukan sama sekali tidak membuat berkaca? Apakah perlu aku ubah telinga mereka menjadi seperti keledai, layaknya yang sudah aku lakukan pada Midas?"


Sumber gambar: http://www.stefanmart.de/13_midas/130_midas_3.jpg dan http://www.sgnewwave.com/main/wp-content/uploads/2008/07/pan-2.jpg
Continue reading

Saturday, October 22, 2011

Mengembalikan Agnostisisme

Mengembalikan Agnostisisme
Adakah kesamaan antara ucapan 'agnostisisme' dengan 'sesuatu banget'-nya Syahrini? Ada, keduanya sama-sama diucapkan secara bebas tanpa kadang-kadang diketahui artinya secara jelas oleh si pengucap. Keduanya sama-sama mempunyai nilai tren tertentu. Perbedaannya barangkali ada pada tingkat refleksinya. Agnostisisme dipercaya merupakan suatu ungkapan reflektif-spiritual, sedangkan 'sesuatu banget' boleh jadi nyaris tidak mempunyai arti yang mendalam.

Secara stereotip, setidaknya saya menginduksi dari beberapa contoh partikular yang saya ketahui, bahwa agnostisisme adalah 'paham yang percaya Tuhan tapi tidak percaya agama'. Artinya, yang terjadi adalah bukan membahas 'cara', tapi esensi spiritual hubungan langsung hamba dan Tuhan, ataupun para sufi lebih intim dengan menyebut hubungan ini sebagai 'kekasih'. Pemikiran seperti ini tentu saja punya nilai dan daya refleksi yang tidak bisa dibilang dangkal. Namun problemnya, betulkah agnostisisme diartikan seperti itu?

Untuk memahami agnostisisme, bisa dirunut dari pemikiran Immanuel Kant tentang fenomena dan noumena. Fenomena, kata Kant, adalah segala yang tercerap indera, "Yang nyata adalah yang indrawi." Sedangkan noumena adalah segala jenis pengetahuan yang di luar indera, yang termasuk di dalamnya adalah Tuhan, jiwa, ruh, kebebasan, keadilan, dan lain sebagainya. Kant secara rendah hati (tidak seperti Hume) mengakui bahwa noumena ini ada bagusnya sebagai postulat. Sebagai contoh, jika tidak ada konsep Tuhan, mungkin tidak adil bagi manusia jika melihat seorang yang berbuat dosa sepanjang hidupnya kemudian tidak ada yang mengadilinya di kemudian hari. Tapi Kant mengajukan syarat terkait noumena ini, katanya, noumena itu mungkin saja ada, tapi ia di luar batas pengetahuan kita. Ia tidak bisa diketahui apalagi dibicarakan. Batas-batas pengetahuan manusia adalah sebatas dunia fenomena saja.

Agar cocok, mari buka Wikipedia sejenak untuk mengutip apa agnostisisme kata mereka:

Agnosticism is the view that the truth value of certain claims—especially claims about the existence or non-existence of any deity but also other religious and metaphysical claims—is unknown or unknowable.

Dari kedua pernyataan di atas, bisa kita gabung bahwa "Agnostisisme adalah paham yang mengatakan bahwa dunia noumena seperti Tuhan, dewa, atau hal-hal lain yang metafisik adalah sesuatu yang di luar pengetahuan atau mustahil diketahui." Artinya, berdasarkan dua pernyataan di atas, penempatan agnostisisme sebagai 'Percaya Tuhan tapi tidak percaya agama' adalah miskonsepsi.

Sekarang mari kita bedah agnostisisme dari akar katanya. Konon, Thomas Henry Huxley adalah yang pertama kali menggagas kata ini. Berasal dari dua kata dalam bahasa Yunani yaitu a yang berarti tanpa dan gnosis berarti pengetahuan. Pengetahuan yang disebut sebagai gnosis ini adalah pengetahuan spiritual. Pengetahuan yang konon "didapat dari dalam" dan sangat populer di Abad Pertengahan. Dunia Islam juga mengenal gnosis dengan nama ilm-laduni. Berdasarkan asal muasal kata, maka Huxley sekaligus ingin menegaskan bahwa "pengetahuan dari dalam" itu tidak ada. Huxley seolah ingin memurnikan argumen Kantian bahwa segala konsepsi pengetahuan yang mungkin diketahui hanya bisa diperoleh dari pengalaman aposteriori.

Meski demikian, walaupun ada upaya mendudukkan kembali, namun miskonsepsi yang sering terjadi sesungguhnya bisa "digeser sedikit saja". Kenyataan bahwa terdapat dua cabang agnostisisme. Yang pertama adalah agnostik ateis, yakni mereka yang tidak percaya Tuhan sekaligus menolak kemungkinan mengetahuinya. Yang kedua adalah agnostik teis, yakni mereka yang percaya Tuhan namun menolak kemungkinan untuk mengetahuinya lebih lanjut. Jika "digeser sedikit", yang tadinya miskonsepsi justru menjadi pas di agnostik teis. Artinya, percaya Tuhan namun tidak percaya agama memang ada benarnya. Jika dalam agama biasanya mengandung "kemungkinan untuk mengetahui Tuhan lebih lanjut".

Akhirul kata, ada baiknya manusia pada tataran tertentu menjadi seorang agnostik. Tidakkah perang-perang besar mengatasnamakan Tuhan itu diawali oleh kedua kubu yang merasa paling tahu tentang keinginan Tuhan?
Continue reading

Monday, October 17, 2011

Orang Tua dan Anak Muda

Orang Tua dan Anak Muda
Belakangan ini saya sering diberi visi tentang hubungan istimewa seorang tua dan seorang muda. Pertama ketika memoderasi sebuah bedah buku tulisan Andi Achdian (judulnya Sang Guru dan Secangkir Kopi) berisi percakapan ia dengan gurunya, seorang sejarawan legendaris, Ong Hok Ham. Saya terkesan dengan bagaimana Andi terkesan dengan gurunya. Tentu saja, sang guru, Ong, tidak serta merta mempunyai pribadi yang menyenangkan sepenuhnya. Terkadang Ong marah-marah, lain waktu meninggalkan Andi seorang diri di beranda rumahnya untuk tidur tanpa pamit. Namun apa yang disampaikan Ong nampak tidak ada satupun yang tersapu waktu. "Kritisisme, kritisisme," demikian pesan Ong pada Andi, tentang apa yang seharusnya dilakukan manusia. "Manusia itu, harus kritis," tambah Ong berulangkali.

Secara random, saya diingatkan pada hubungan orang tua dan anak muda yang sangat menarik dalam film Gran Torino (2008). Ini antara Walt Kowalski (Client Eastwood) dan Thao. Walt adalah veteran Perang Korea yang kesepian dan Thao adalah anak muda beretnik Hmong. Thao, yang menjadi pecundang di antara kawan-kawannya, diajari untuk berani dan bersikap maskulin oleh Walt. Meskipun Walt adalah pria tua yang keras kepala (terbukti dari beberapa kali ia mengusir pendeta yang memintanya berdoa), namun di hadapan Thao ia tidak bisa membohongi rasa sayangnya. Walt memberikan beberapa perkakas favoritnya semata-mata agar Thao punya kemampuan tukang untuk membekalinya kelak. Walt juga mengajak Thao ke tempat cukur, tempat Walt dan si tukang cukur bercakap-cakap dengan umpatan-umpatan kasar. Kata Walt, "Seperti inilah pria seharusnya berbicara."

Kemarin, hubungan sentimentil ini datang lagi. Hadir lewat film Scent of A Woman (1991) yang dibintangi oleh Al Pacino. Al Pacino berperan sebagai Letnan Kolonel (purnawirawan) Frank Slade yang kehilangan penglihatan dan tinggal di rumah keponakannya. Berhubung keponakannya sekeluarga hendak berlibur dan Kolonel enggan ikut, maka ia mempersilakan Charlie Simms (Chris O' Donnell), mahasiswa yang tengah mencari kerja sampingan untuk menemani Kolonel beberapa hari. Kolonel secara tiba-tiba mengajak Charlie ke New York, hal yang ia sebut sebagai, "Perjalanan yang memulai pendidikanmu." Kolonel kemudian baik secara langsung maupun tidak langsung, menunjukkan pada Charlie tentang kegairahan hidup. Wanita, anggur, tarian tango, dan berbagai fasilitas hotel yang seolah Kolonel mau menunjukkan pada Charlie, bahwa hidup tidak hanya tentang sekolah. Faktanya, inilah kehidupan sejati.

Ketiga contoh di atas, meskipun sama-sama berkonsep "Orang tua mewariskan sesuatu pada anak muda", tapi substansinya beragam. Namun bukan itu yang hendak dibahas, melainkan kenyataan bahwa pada dasarnya ada suatu perasaan keharusan dari orang tua untuk mewariskan sesuatu yang ia punya, pada kaum muda. Ketiga orang tua di atas: Ong, Walt, dan Kolonel, bukanlah orang tua yang mengalami suatu keramaian di masa tuanya. Mereka dihinggapi kesepian dan mempersiapkan akhir hidupnya nyaris dalam kesendirian. Dalam sisa-sisa waktu yang mereka punya, mereka barangkali menyadari bahwa jiwa mereka sesungguhnya masihlah sama seperti puluhan tahun sebelumnya. Tapi apa daya tubuh ini sudah renta dan biarkan tubuh yang lebih kokoh yang membawa semangat ini.

Pikiran saya tidak berloncatan lagi kesana kemari, ketika Bapak memanggil saya untuk duduk di meja makan. Bapak adalah pria tua yang bisa saya samakan dengan Ong, Walt, dan Kolonel. Ia pria tua yang sedang sibuk untuk mengumpulkan apa-apa saja yang bisa diwariskan pada orang muda yang dikenalnya. Seperti lazimnya pria tua juga, pribadi Bapak tidak selamanya enak. Ada saja temperamen meledak tiba-tiba, bermanja-manja, atau punya keinginan ini itu padahal saya sebagai anak muda saja dipenuhi kegiatan ini itu.

Pepatah orang tua pada anak muda barangkali tidak pernah terserap semua dalam memori ataupun perasaan. Namun saya merasa kata-kata Bapak mendagingi saya, tumbuh bersama tubuh saya, diserap oleh seluruh panca indera. Bapak adalah orang yang ketika saya kecil tidak pernah berhenti menyuguhkan musik jazz, pertunjukkan kesenian, serta butir-butir pemikiran mendalam yang waktu itu tak bisa saya pahami. Tapi ketika saya besar, saya punya sekop yang cukup kuat untuk menggali apa-apa yang pernah ia tanamkan dulu di seluruh panca indera saya. Orang tua sesungguhnya tidak pernah berbagi kebijaksaan, karena kebijaksanaan sejati tidak bisa dibagi-bagi. Orang tua memberikan pengetahuan tentang kebijaksanaan untuk lantas kebijaksanaan itu sendiri anak muda yang maju untuk mengarungi. Mencari.

Hari ini saya berbicara sebagai seorang muda, petualang penuh spirit. Nanti kelak saya menulis ini sebagai seorang tua, yang kakinya tak lagi kuat mendaki gunung, namun saya bisa berbicara tentang gunung tanpa mesti berada di puncaknya. "Sesungguhnya kebenaran sejati adalah pencarian kebenaran itu sendiri," demikian Bapak selalu berpesan berulang-ulang.


Continue reading

Wednesday, October 12, 2011

Jiwa adalah Penjara Tubuh

Jiwa adalah Penjara Tubuh
Ketika awal-awal mengikuti kuliah filsafat di Extension Course Filsafat (ECF) Unpar, Pak Bambang Sugiharto mengatakan sesuatu tentang "Tubuh adalah penjara jiwa" yang sesungguhnya ia kutip dari Plato. Kemudian masih di pertemuan yang sama, beliau mengatakan hal sebaliknya yang ia ambil dari Foucault. Katanya, "Jiwa adalah penjara tubuh". Jika tubuh adalah penjara jiwa, agaknya masih mudah dipahami. Namun soal pernyataan Foucault, apa maksudnya?

Mari membedah dulu omongan Plato. Plato adalah murid Sokrates, yang sama-sama mengagungkan eudaimonia. Kata yang dapat diterjemahkan menjadi "kebahagiaan" mesti tak tepat benar padanannya. Mungkin saya bisa usulkan "keluhuran jiwa". Baik Sokrates maupun Plato keduanya sepakat bahwa manusia yang bijaksana adalah mereka yang sukses mencapai eudaimonia. Bagi Plato, jiwa ini murni adanya. Ia mempunyai pengetahuan ideal yang diturunkan dari dunia ide pra-eksistensi. Ketika manusia lahir ke dunia berbalutkan tubuh, maka jiwa ini mengalami kelupaan. Tugas manusia berikutnya adalah "mengingat kembali" apa-apa yang pernah ada di dunia ide, suatu kondisi dimana jiwa ini pernah sedemikian murninya sebelum terbungkus tubuh yang penuh dengan tipu daya dan kesementaraan.

Untuk membedah tagline Foucault, sesungguhnya bagi saya mudah saja karena pisau bedahnya berasal dari pengalaman saya pribadi belakangan ini. Seiring dengan bertambahnya pengetahuan saya baik lewat bacaan, diskusi, film, musik dan lain sebagainya, saya mempunyai kegelisahan yang amat Sokratik: Bahwa saya menyadari ternyata banyak yang saya tidak tahu. Hal ini sangat mengganggu dan seringkali membuat kalap. Untuk mengatasinya, saya meng-copy bergiga-giga film dari kawan, menyiapkan tumpukan literatur untuk dibaca, serta mengurut list link youtube ataupun e-book yang wajib diunduh maupun dilihat. Ini belum ditambah dorongan yang semakin kuat untuk datang ke tempat apapun: diskusi, seminar, pagelaran musik kontemporer, bahkan konser Westlife pun saya sempat mempertimbangkan untuk hadir! Meskipun seolah ditujukan untuk menambah pengetahuan, tapi ada tujuan yang lebih penting daripada itu bagi saya, yakni meredakan kegelisahan jiwa.

Hari-hari belakangan ini, jiwa saya menjadi rajin meronta. Saya kebingungan setiap paginya untuk mencari apa yang pas bagi kebutuhan jiwa. Jika kamu bertanya apa sesungguhnya kesibukan saya, maka secara konkrit (jika yang konkrit artinya menghasilkan uang) tidak banyak. Saya hanya mengajar gitar klasik setiap sore, meng-update blog Tobucil Senin pagi, dan mengajar mata kuliah di kampus yang baru satu-dua saja jumlahnya. Sisanya saya betul-betul disibukkan untuk memenuhi kebutuhan jiwa. Ada dorongan aneh yang mengharuskan saya menonton minimal satu film setiap hari, menulis artikel minimal satu posting setiap hari, mendengarkan musik, berlatih gitar, memikirkan suatu acara, dan lain sebagainya. Bahkan selalu ada momen terselip ketika saya tiba-tiba merasa perlu untuk memikirkan nasib umat manusia!

Pada titik ini saya merasa justru jiwa yang memenjarakan tubuh. Saya ingin tubuh ini bebas, mengerjakan hal-hal yang dia suka yang sesungguhnya cuma empat saja: makan, minum, tidur dan seks. Saya ingin tubuh ini tidur ketika ngantuk, makan ketika lapar, seks ketika ingin, dan bukannya menahan diri oleh sebab hambatan dari jiwa yang minta perhatian. Jiwa saya sekarang mendadak memikirkan nasib para nabi. Apakah mereka bahagia dengan kenabiannya? Apakah Yesus sedemikian agungnya ketika dia sukses membangkitkan Lazarus tanpa sedikitpun perasaan takut seperti yang digambarkan oleh Martin Scorcese dalam The Last Temptation of Christ? Apakah Muhammad sedemikian agungnya ketika menerima wahyu dari malaikat Jibril tanpa gejolak yang dahsyat pada jiwanya? Apakah Siddharta sedemikian agungnya ketika memutuskan pergi dari istana, tanpa ada ketakutan bahwa nantinya ia tak dapat apa-apa dari perjalanan spiritualnya?

Jiwa ini mungkin tidak semanis perkataan Plato. Seringkali ia justru liar dan nakal. Menyelimuti seluruh aspek kehidupan dan kadang sukses menangguhkan lapar dan ngantuk hingga limit tertentu.
Continue reading

Saturday, October 8, 2011

Catatan dari Acara "Young Composers in Southeast Asia Competition & Festival 2011"


Young Composers in Southeast Asia Competition & Festival 2011 adalah suatu acara yang diselenggarakan atas kerjasama Goethe Institut dan Universitas Pendidikan Indonesia. Secara umum, acara ini digelar untuk menampung komposer muda yang memiliki ketertarikan pada komposisi untuk instrumen barat dan timur sekaligus. Kata Dieter Mack, penyelenggara, dari tujuh puluhan komposisi yang masuk, sepuluh diantara menjadi finalis terpilih. Sepuluh karya itulah yang kemudian ditampilkan pada malam itu di Dago Tea House. Para performa berasal dari Ensembel Mosaik dan Kyai Fatahillah. Ensembel Mosaik yang berasal dari Jerman mewakili instrumen barat, sedang Kyai Fatahillah dari Bandung mewakili instrumen timur. Keduanya bersatu padu menampilkan dan menginterpretasi komposisi-komposisi dari para finalis.

Saya tidak punya suatu judul yang menggambarkan garis besar dari apa yang saya saksikan barusan. Saya lebih memilih judul "catatan", agar tidak perlu berupaya mencari-cari satu esensi.

1. Tidak dapat disangkal, bahwa sajian malam itu adalah apa yang disebut dengan "musik kontemporer". Jika disebut musik klasik, tidak tepat juga, karena apa yang disuguhkan mempunyai suatu "perasaan kebaruan" yang barangkali tidak ada padanannya di masa lampau. Yang saya rasakan, kebaruan ini berasal dari dua aspek, pertama yaitu aspek musikal itu sendiri. Secara ritmikal, harmoni, maupun tonalitas, musik yang dihadirkan terasa tidak lazim. Secara subjektif juga sulit dinikmati dan dicerna langsung. Kedua, adalah eksplorasi instrumen. Instrumen tidak hanya dibunyikan "sebagaimana mestinya", tapi juga ada upaya untuk menggali kemungkinan-kemungkinan apa saja yang mampu dihasilkan oleh suatu karakteristik alat musik.

2. Saya tidak setuju jika musik kontemporer dikatakan suatu musik yang "asal bunyi". Meskipun secara sepintas dapat dikatakan demikian, jika acuannya adalah ritmik dan harmoni yang sehari-hari kita jumpai. Sering sekali terdapat celetukan, "Ah, bikin yang kaya gitu sih saya juga bisa." Hal tersebut merupakan respon dari komposisi musik kontemporer yang jika dilihat sekilas seperti chaotic dan tidak punya keteraturan. Musik kontemporer justru sedang berupaya menangkap keseharian kita yang sejati sesuai dengan salah satu karakteristik seni yang mengimitasi kehidupan. Dalam pengalaman keseharian kita, seringkali bunyi hape, deru mobil, percakapan orang, serta bunyi pesawat terbang berseliweran sembarangan tanpa teratur. Musik kontemporer ada upaya menangkap fenomena itu, sehingga ketika mendengarkannya seyogianya kita justru menyadari sebuah keadaan "kesekarangan".

3. Menambahkan poin di atas, saya juga menemukan suatu keadaan nostalgic bagi sebahagiaan kaum yang kerap memuja musik masa lampau namun menutup diri pada musik kontemporer. Perlu diketahui bahwa ada kecenderungan bagi manusia untuk menganggap masa lalu lebih baik dari sekarang. Penyuka Bach, Beethoven, Schumann, Debussy, atau Mozart yang menganggap musik mereka jauh lebih harmonis dan enak didengar, mungkin lupa bahwa pada jamannya mereka-mereka ini justru atonal dan tidak harmonis: kontemporer. Apa yang disuguhkan malam tadi terasa tidak nyaman di telinga jaman ini, namun suatu saat akan dikenang sebagai "musik yang mewakili jaman itu".

4. Menyaksikan konser secara live adalah whole body experience. Seluruh indra ditajamkan dan "dipaksa" untuk menangkap segala fenomena yang terjadi. Kata Dieter Mack, "Menyaksikan konser musik secara langsung jauh lebih baik daripada menonton televisi ataupun mendengarkan CD." Beberapa komposer menyadari hal itu sehingga ada beberapa sajian komposisi yang juga menarik secara visual.

5. Persoalan harmonisasi instrumen timur dan barat tidak seharusnya menjadi hal yang terlalu serius. Sajian malam tadi membuktikan bahwa yang terpenting bukan lagi soal tuning ataupun key signature, tapi lebih pada interaksi antar sesama pemain. Lagi-lagi saya mengutip Dieter Mack, "Apapun yang dimainkan dengan perasaan sungguh-sungguh, akan sampai pada penonton."

6. Kontemporer bukanlah sejenis aliran musik. Ia adalah suatu kesadaran yang mencoba menangkap fenomena masa kini dan meresponnya. Orang bisa saja mengambil jalur kontemporer, tapi saya pikir ia mesti lebih dulu mempunyai pengetahuan yang cukup tentang musik-musik di masa lampau. Selain itu, ia juga mesti memiliki konsep yang kuat tentang bagaimana ia menangkap dunia keseharian. Lagi-lagi Dieter Mack, "Memahami musik harus disertai filsafat, atau seseorang mempunyai lubang dalam konsepnya."

7. Faktanya, acara "seni yang dipertandingkan" masih sering diperdebatkan. Namun di akhir acara saya sempat berbincang sejenak dengan legenda hidup Slamet Abdulsjukur. Katanya, "Ini pertandingan yang sangat sehat dengan juri yang jujur." Suatu pendapat yang menarik karena akhirnya saya menemukan opini mengenai "pertandingan seni yang sehat".

8. Pasca perang dunia kedua, dunia barat dilanda suatu trend filsafat bernama posmodernisme. Tokoh-tokoh seperti Lyotard, Foucault atau Derrida mengatakan adanya konstruksi kebenaran dalam segala sesuatu. Pengaruh besarnya, dunia barat sebagai "kiblat kebenaran" di era-era sebelumnya mengalami kegoncangan, dan dunia timur lambat laun mulai ditengok. Acara ini sungguh pandai memanfaatkan momen global dimana dunia timur sedang menjadi pusat perhatian. Posmodernisme adalah suatu jalan bagi "kaum yang terpinggirkan" di era-era sebelumnya untuk bersuara. Suatu kesempatan juga bagi dunia timur selain mengeksplorasi ke luar, tapi juga menggali ke dalam. Mencari jati diri yang asali.

Demikian beberapa catatan tentang acara yang pada akhirnya "dimenangkan" oleh Alexander Villanueva (Filipina), Matius Shan Boone (Indonesia), dan Danilo Endangan Imson (Filipina) tersebut. Patut dipuji karena ketiga pemenang tersebut tidak berhierarki juara satu, dua, dan tiga. Ketiganya adalah pemenang bersama dengan hadiah uang yang sama pula.

Continue reading

Wednesday, October 5, 2011

Religulous: Ajakan Kritik Diri bagi Umat Beragama

Religulous: Ajakan Kritik Diri bagi Umat Beragama

Sebelumnya, terima kasih pada Pirhot Nababan, kawan yang dengan baik mengopikan 40 GB koleksi filmnya ke hard disk milik saya. Salah satu diantaranya adalah ini, yang dengan semangat ia sarankan untuk menontonnya. Suatu film berdurasi kurang dari dua jam, judulnya Religulous. Judul yang berasal dari gabungan dua kata, yaitu religious dan ridiculous.

Film dokumenter ini enak ditonton. Penuh interupsi visual yang menghibur. Berkisah tentang komedian Bill Maher yang melakukan "perjalanan spiritual". Ia bertemu petinggi-petinggi agama dan beragam orang-orang religius (believer) baik di AS, Vatikan, gereja Mormon, hingga Yerusalem, untuk kemudian didebat, diparodikan, diserang, hingga dihantam oleh argumen yang sesungguhnya sulit untuk ditanggapi secara memuaskan.

Dokumenter garapan Larry Charles ini juga sering menyisipkan ilustrasi-ilustrasi yang mengundang gelak tawa. Seperti ketika Bill mewawancarai Mohamed Junas Gaffar, seorang kiai di sebuah mesjid di Amsterdam tentang, "Apakah Islam adalah sebuah ancaman bagi nilai-nilai di Belanda?" Sang kiai menjawab, "Tidak. Islam adalah damai dan damai." Setelah itu tiba-tiba ada interupsi dari gambar lain, menunjukkan khutbah yang mengajak umat Muslim untuk membunuhi orang-orang Yahudi.

Bill, meskipun tampak antagonis dengan kelakuannya yang satir dan sering terbahak-bahak mendengarkan penjelasan para believer, apa yang ia serang sesungguhnya bisa dipahami. Seperti ketika Bill mewawancarai Jeremiah Cummings, seorang pastur, yang dikritiknya sebagai, "Lihat pakaian dan segala kekayaanmu, apakah Yesus mengajarkan ini?" Kata Jeremiah dengan gugup, "Tentu saja. Yesus selalu berpakaian baik, ia bahkan menggunakan linen bagus." Bill sendiri langsung tertawa sambil berkata, "Jelas sekali. Yesus adalah pembela orang miskin dan menentang segala kekayaan yang berlebihan."

Bill kerap mempertanyakan segala upaya "pembumian" agama. Misalnya, gerakan anti homoseksual, pertalian agama dan negara (baca: politik), pertalian agama dan ekonomi, pertalian agama dan sains, serta pertalian agama dan perang. Semuanya dipertanyakan dengan kalimat besar, "Apakah betul agama membicarakan itu semua? Atau ini hanya berkaitan dengan kepentingan kalian?" Di akhir film ia berpesan, "Grow up, or die." Mengajak kita semua merenungkan arti agama, jika memang ia adalah sumber kekerasan dan dehumanisasi.

***

Dalam kasus seperti ini, selalu ada pembelaan klasik, "Itu sih bukan agamanya, tapi orangnya." Tapi kemudian saya pribadi tidak terlalu lagi memegang teguh kalimat itu, karena jika demikian, "Adakah cara menjalankan agama yang paling benar?" Yang demikian juga tidak mudah menjawabnya. Karena jika yang dimaksud "menjalankan agama yang paling benar" itu mengikuti kitab suci dan apa-apa yang sudah tertulis, maka di Islam kita tahu, ada kelompok Salafi dan Wahabi yang sungguh-sungguh mengambil segala ajaran yang tertulis secara kaku. Ada juga kelompok yang lebih liberal, yang mengatakan agama seyogianya kontekstual, punya kelenturan dengan kehidupan keseharian dan perubahan jaman. Jika ini iya, maka kadang-kadang mereka tak tepat persis mengambil dari kitab suci, lantas, "Inikah cara menjalankan agama yang paling benar?"

Kata-kata Bambang Sugiharto mungkin ada benarnya. "Bukan semata-mata orangnya, jalinan sistem dalam agama mulai dari kitab suci, dogma, ritual, serta konsep ketuhanannya, sangat berpengaruh pada cara bersikap pemeluknya. Jadi jangan selalu salahkan orangnya, salahkan juga agamanya!"

Religulous dalam hal ini sesungguhnya tengah mengajak umat beragama untuk melakukan kritik diri. Atau dalam bahasa Bambang, "Membongkar aspek ilusoris dalam agama". Agama bagaimanapun juga mengandung dogma yang mau tidak mau harus diterima (disebut fideisme, atau faith-ism. Iman ya iman, nalar tidak boleh ikutan). Dogma bermaksud menangkap fenomena keilahian dan lantas diwariskan, tapi perlu diingat, bahwa: Dogma bukanlah fenomena keilahian itu sendiri. Untuk menemukan fenomena keilahian secara persona, kadang-kadang memang harus melalui pengalaman yang betul-betul mandiri. Sebuah pengalaman akan kehadiran: fascinatum et tremendum, mengagumkan sekaligus menggetarkan.

"Serangan-serangan" dari Bill Maher sudah sepatutnya tidak menjadikan diri kita tersinggung atau marah -seolah-olah kemarahan ini mewakili kemarahan Tuhan-, tapi menjadi suatu renungan mendalam tentang pengalaman beragama kita semua. Film ini layak ditonton walaupun saya tidak tahu dari mana bisa mendapatkannya (paling banter download). Ingat, sekali lagi, jangan marah! Jangan terpikir untuk menghalalkan darah Bill Maher karena ketika ia ditanya di Yerusalem oleh seorang believer, "What if you're wrong?", ia cuma bertanya balik: "What if you're wrong?"

Continue reading