Monday, September 12, 2011

Surat Cinta dari Korea (1)

Annyeong Haseo!

Sebetulnya, ini belum sampai, Sayang. Ini aku online dari bandara di Kuala Lumpur yang entah namanya apa. Yang aku tahu, di sini makanannya tidak enak, nama-namanya hasil plagiat, dan harganya agak mahal dengan disertai tatapan mata dari sekeliling yang seolah berkata, "Dasar Indonesia."

Dengan waktu transit nyaris empat jam, tentunya aku mengisi dengan makan. Aku akan perlihatkan padamu, foto makanan bernama Nasi Lemak Chicken Rendang yang kontemporer dan posmodern:


Makanan ini tadinya dingin, dipertontonkan dari balik etalase yang membuat kita menyangka makanan ini terbuat dari lilin. Seketika dipesan, pelayan langsung memasukkan makanan ini ke dalam microwave dan menyetel pemanasnya selama dua menit. Bodohnya, plastik bumbunya ia masukkan pula tanpa dibuka. Sehingga ketika nasi dan ayam ikut panas, bumbu yang tersimpan dalam plastik tersebut masih tetap dingin. Rasanya? Kamu tidak ingin tahu. Masih jauh lebih enak nasi uduk tiga ribuan yang ada di jalan Bangreng tempat kita sarapan.

Perjalanan ini berisikan hmmmm sembilan orang. Semuanya hangat dan kompak, berbagi cerita dan pulpen jika diperlukan. Kami ini ceritanya delegasi Indonesia, bersiap untuk mengikuti pameran Asia tahunan yang kebetulan kali ini diselenggarakan di Korea (Selatan). Karena ongkos pengiriman karya yang bisa mencapai belasan juta, kami memilih untuk membawa karya-karya kami ini sendiri. Memilih untuk menentengnya sendiri dengan resiko dipandang curiga ketimbang harus berhadapan dengan bea cukai yang juga penuh curiga.


Sang Ketua Delegasi, Pak Setiawan Sabana


Sepanjang perjalanan dari Jakarta tadi, aku membaca buku "Rp 3 Juta Keliling Korea dalam 9 Hari" karya Claudia Kaunang. Di sana aku sudah membayang-bayangkan tempat yang akan dituju nantinya di sana. Pertama, jika aku punya nyali, aku akan ikut tur ke area pemisah antara Korea Selatan dan Korea Utara. Katanya, sebelum pergi, aku harus menandatangani perjanjian untuk tidak menuntut jika nantinya ada kontak senjata. Kedua, yang ini aku pasti punya nyali, aku akan mendatangi Pohon Gembok Cinta di NSeoul Tower. Di pohon tersebut tertampung gembok segala rupa yang sudah ditulisi kata-kata cinta. Dipercaya bahwa ketika gembok itu terkunci, maka pasangan tak akan terpisah untuk selamanya. Kalau iya aku mencapai sana, akan kugembok tulisan untuk kita:

"Dega & Syarif. Insya Allah akan bersama-sama ke tempat ini nanti."

Previous Post
Next Post

1 comment: