Sunday, September 4, 2011

Romantisme

Saya terinspirasi menulis ini setelah menonton Milan Glorie vs Indonesia All-Star Legends yang berakhir 5-1 untuk para bintang dari Italia. Bersama Pirhot, kawan saya, kami menyaksikan pertandingan tersebut sambil terbahak-bahak oleh sebab usia mereka yang tak lagi muda, namun harus menghibur penonton yang mengenang masa jaya mereka-mereka. Satu per satu komentator menyebut nama besar seperti "Baresi," "Costacurta," "Lentini," "Massaro," "Papin," hingga "Eranio." Di sisi lain, meskipun berbeda kelas, namun auranya tetap nostalgik, yaitu, "Ansyari," "Rochi," "Widodo," "Aji," hingga "Fachri." Sebutan-sebutan pesepakbola tersebut mengingatkan pada masa kecil hingga remaja saya, ketika televisi berada di kamar. Dini hari, jika terbangun, sering dengan sengaja saya setel televisi demi mendengar suara-suara komentator meninabobokan tidur saya kembali.

Obrolan antara saya dengan Pirhot lantas berlanjut ke segala hal yang berbau sepakbola masa silam. Mulai taktik 5-3-2 yang akrab masa itu, lalu revolusi ke 4-4-2 yang mengandalkan empat bek sejajar dan dua striker, hingga kecenderungan sepakbola hari ini yang kerap memainkan 4-3-3. Perbincangan juga masuk ke gaya rambut pesepakbola, yang dulunya gandrung berambut gondrong, sekarang banyak yang pendek-pendek. Di tengah-tengah perbincangan tersebut selalu terucap ungkapan-ungkapan romantik, bahwa, "Dulu mah, asik yah."

Hampir dalam segala hal, setelah direnungkan, ternyata masa lalu selalu dibicarakan secara menyenangkan, betapa buruknya itu. Ketika membicarakan masa lalu, seolah-olah masa sekarang menjadi buruk adanya. Sama halnya ketika membicarakan Star Wars episode IV, V, VI yang notabene dibuat tahun 70-an hingga 80-an, lantas dicap keren ketimbang Star Wars episode I, II, III yang dibuat lebih kekinian. Argumennya, "Lihat jaman dulu, teknologi masih sederhana, tapi film bisa canggih begitu." Atau dalam diskusi mengenai kaset di komunitas di Tobucil, sering sekali dikatakan bahwa, "Orang dulu mau berjuang demi kaset, nabung. Tapi sekarang lagu didapat di mana saja secara gratis. Jadinya orang kurang menghargai musik." Dalam aspek kehidupan yang lebih religius, orang sering merindukan jaman ketika Nabi berkuasa. Sehingga dengan begitu, masa sekarang orang menjadi "gatal" ingin menegakkan negara khilafah. Yang kalau boleh saya tebak, pasti juga sangat terpengaruh oleh romantisme masa silam.

Inilah mengapa, bagi saya, isu "jaman edan" atau "tanda-tanda kiamat" selalu relevan. Para "peramal" dari masa silam selalu mengatakan, "Akan datang jaman dimana manusia bermoral rendah, kacau, dan yang demikian adalah tanda-tanda berakhirnya dunia." Walhasil, ramalan demikian akan selalu relevan dimanapun ia dibaca. Orang yang berpijak di waktu dan tempat manapun selalu menganggap dirinya berada pada situasi jaman edan atau tanda-tanda kiamat.

Tanpa romantisme, peradaban tidak mungkin maju. Romantisme membuat kehidupan mau, seperti kata Hegel, berdialektik. Ada proses pembaruan, ada proses revolusi, ada proses penengahan, dan semuanya sah jika berbasiskan satu kata, romantisme. Romantisme membuat orang rindu akan suatu jaman di masa lalu, yang kemudian ia tuangkan dalam kegelisahan jaman sekarang. Dalam kegelisahannya itu ia berontak menuntut perubahan, agar yang kini kembali menjadi yang lalu. Demikian seterusnya, tanpa henti, mungkin juga tanpa ujung. Agama-agama semit barangkali lelah menafsirkan romantisme ini, sehingga ia membuat konsep eskatologi atau akhir dunia.

Jika masa lalu selalu indah, maka saya seyogianya mengingat bahwa yang hari ini kerap akan menjadi masa lalu juga. Orang akan dengan manis mengenang jaman ini, dimana segalanya mudah diketahui secara transparan, dimana popularitas mudah timbul tenggelam sesuai dengan media yang ingin mengungkapkan, dimana citra lebih penting ketimbang substansi, dimana Barat menengok ke Timur, dimana manusia senang mengintip satu sama lain, dimana bla bla bla, dimana bla bla bla. Semua akan diceritakan secara indah, setelah jaman sudah berubah.

#Sambil bernostalgia, menyaksikan Youtube berisikan video kejayaan Franco Baresi. Jika Messi berhadapan dengan Baresi, mungkin Messi yang menang. Tapi romantisme barangkali haram hukumnya ditempelkan dengan masa kini. Konteksnya berbeda, tantangan jamannya berbeda.

Previous Post
Next Post

0 comments: