Thursday, September 29, 2011

Nam June Paik

Siapa itu Nam June Paik? Sekarang saya tahu, dia seorang Amerika kelahiran Korea yang dikenal sebagai orang pertama yang memperkenalkan konsep video art. Ia pernah membuat karya fenomenal bernama TV Cello. Yaitu tiga tumpuk televisi dengan ukuran berbeda dan diberi senar sehingga bisa digesek layaknya cello. Ia berpartisipasi pada suatu gerakan seni yang cukup populer di tahun 1960-an, namanya Fluxus. Tapi sebelumnya, saya cuma sering mendengar orang bernama Nam June Paik. Sejak saya kecil nama itu terngiang-ngiang. Saya tidak ingat, tapi rasanya bapak saya kerap mengucap nama tersebut tanpa saya paham siapa dia. Nam June Paik. Nam June Paik.

Singkat cerita, saya mendapat undangan berbicara di sebuah penutupan pameran. Tepatnya bukan undangan, tapi kehormatan untuk menggantikan bapak yang seharusnya bicara, tapi urung hadir dan akhirnya didelegasikan pada saya. Saya kelabakan karena jarak dari pemberitahuan ke acara itu hanya sekitar lima hari. Saya sama sekali tidak mendalami seni rupa, dan rasanya bapak membuat kesalahan besar dengan meminta saya menggantikan beliau.

Namun nasi sudah menjadi bubur, tugas saya adalah memberinya cakue, kacang, kerupuk dan kaldu ayam sehingga menjadi bubur ayam. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, saya dengan sengaja melihat dunia seni rupa secara lebih intens. Saya membaca beberapa buku, menonton film How Art Made the World, ngobrol dengan kurator Heru Hikayat, dan tunggu.. dia menyebut nama itu lagi: Nam June Paik.

Setelah nama itu keluar, saya memilih untuk menutup buku, menyetop film, dan memejamkan mata untuk belajar dari perjalanan masa kecil saya. Memang iya, saya tidak mendalami seni rupa, tapi ada fakta bahwa saya dibesarkan dalam lingkungan seni rupa yang kuat dari bapak. Bapak sendiri bukan sekali dua kali mengajak saya ke forum seni rupa, melainkan sering sekali. Bukan sekali dua kali beliau meminta saya memberi komentar atas karyanya, melainkan sering sekali. Pengalaman tidak selalu tersimpan di memori, seringnya ia menjadi daging yang menubuhi kita. Atas dasar itu saya maju saja dengan modal seadanya ke forum untuk berbicara, mencoba berbagi pengetahuan tidak cuma lewat kata-kata, tapi juga pengalaman yang mendagingi saya dari kecil hingga sekarang. Berhasil tidaknya bukan saya yang menilai, tapi saya merasa cukup lancar dan pengalaman-pengalaman masa lampau tersebut tak kesulitan untuk dikeluarkan. Keseluruhan indra saya ikut bicara.

Setelah acara itu selesai, saya pulang ke rumah dan menemukan ibu saya duduk sendiri di meja makan. Saya duduk dan mendatanginya, bertanya perlahan, pura-pura belum baca wikipedia "Mah, Mamah tahu Nam June Paik?" Ia menjawab sambil tersenyum kecil, matanya menerawang ke alam kenangan, "Tentu saja. Ketika seumurmu, bapak sering dipanggil forum-forum untuk membicarakan Nam June Paik." Ia melanjutkan dengan tawa, "Kalau bukan karena bicara di forum tentang Nam June Paik, kita tidak akan sanggup bayar DP kendaraan. Hehe."

Demikian barangkali yang disebut butterfly effect. Apa yang dilakukan Nam June Paik di Amerika sana, bisa berdampak pembelian kendaraan di keluarga kami! Lebih dari itu, nama Nam June Paik merangsang saya untuk menyelami masa kecil dan melipatgandakan respek saya pada bapak. Bayangkan, hari ini saya menjadi pembicara dengan enaknya menaiki kendaraan pribadi, dengan enaknya telepon sana sini menggunakan hape, tanpa betul-betul menyelami dunia seni rupa itu seperti apa. Yang kerja keras adalah bapak. Beliau memodali saya dengan pengalaman sensor total masa kecil, dan kemudian dari waktu ke waktu akhirnya sanggup meminjami saya kendaraan. Di dalamnya terselip andil seorang: Nam June Paik.




Previous Post
Next Post

0 comments: