Thursday, September 29, 2011

Nam June Paik

Nam June Paik
Siapa itu Nam June Paik? Sekarang saya tahu, dia seorang Amerika kelahiran Korea yang dikenal sebagai orang pertama yang memperkenalkan konsep video art. Ia pernah membuat karya fenomenal bernama TV Cello. Yaitu tiga tumpuk televisi dengan ukuran berbeda dan diberi senar sehingga bisa digesek layaknya cello. Ia berpartisipasi pada suatu gerakan seni yang cukup populer di tahun 1960-an, namanya Fluxus. Tapi sebelumnya, saya cuma sering mendengar orang bernama Nam June Paik. Sejak saya kecil nama itu terngiang-ngiang. Saya tidak ingat, tapi rasanya bapak saya kerap mengucap nama tersebut tanpa saya paham siapa dia. Nam June Paik. Nam June Paik.

Singkat cerita, saya mendapat undangan berbicara di sebuah penutupan pameran. Tepatnya bukan undangan, tapi kehormatan untuk menggantikan bapak yang seharusnya bicara, tapi urung hadir dan akhirnya didelegasikan pada saya. Saya kelabakan karena jarak dari pemberitahuan ke acara itu hanya sekitar lima hari. Saya sama sekali tidak mendalami seni rupa, dan rasanya bapak membuat kesalahan besar dengan meminta saya menggantikan beliau.

Namun nasi sudah menjadi bubur, tugas saya adalah memberinya cakue, kacang, kerupuk dan kaldu ayam sehingga menjadi bubur ayam. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, saya dengan sengaja melihat dunia seni rupa secara lebih intens. Saya membaca beberapa buku, menonton film How Art Made the World, ngobrol dengan kurator Heru Hikayat, dan tunggu.. dia menyebut nama itu lagi: Nam June Paik.

Setelah nama itu keluar, saya memilih untuk menutup buku, menyetop film, dan memejamkan mata untuk belajar dari perjalanan masa kecil saya. Memang iya, saya tidak mendalami seni rupa, tapi ada fakta bahwa saya dibesarkan dalam lingkungan seni rupa yang kuat dari bapak. Bapak sendiri bukan sekali dua kali mengajak saya ke forum seni rupa, melainkan sering sekali. Bukan sekali dua kali beliau meminta saya memberi komentar atas karyanya, melainkan sering sekali. Pengalaman tidak selalu tersimpan di memori, seringnya ia menjadi daging yang menubuhi kita. Atas dasar itu saya maju saja dengan modal seadanya ke forum untuk berbicara, mencoba berbagi pengetahuan tidak cuma lewat kata-kata, tapi juga pengalaman yang mendagingi saya dari kecil hingga sekarang. Berhasil tidaknya bukan saya yang menilai, tapi saya merasa cukup lancar dan pengalaman-pengalaman masa lampau tersebut tak kesulitan untuk dikeluarkan. Keseluruhan indra saya ikut bicara.

Setelah acara itu selesai, saya pulang ke rumah dan menemukan ibu saya duduk sendiri di meja makan. Saya duduk dan mendatanginya, bertanya perlahan, pura-pura belum baca wikipedia "Mah, Mamah tahu Nam June Paik?" Ia menjawab sambil tersenyum kecil, matanya menerawang ke alam kenangan, "Tentu saja. Ketika seumurmu, bapak sering dipanggil forum-forum untuk membicarakan Nam June Paik." Ia melanjutkan dengan tawa, "Kalau bukan karena bicara di forum tentang Nam June Paik, kita tidak akan sanggup bayar DP kendaraan. Hehe."

Demikian barangkali yang disebut butterfly effect. Apa yang dilakukan Nam June Paik di Amerika sana, bisa berdampak pembelian kendaraan di keluarga kami! Lebih dari itu, nama Nam June Paik merangsang saya untuk menyelami masa kecil dan melipatgandakan respek saya pada bapak. Bayangkan, hari ini saya menjadi pembicara dengan enaknya menaiki kendaraan pribadi, dengan enaknya telepon sana sini menggunakan hape, tanpa betul-betul menyelami dunia seni rupa itu seperti apa. Yang kerja keras adalah bapak. Beliau memodali saya dengan pengalaman sensor total masa kecil, dan kemudian dari waktu ke waktu akhirnya sanggup meminjami saya kendaraan. Di dalamnya terselip andil seorang: Nam June Paik.




Continue reading

Friday, September 23, 2011

Surat Cinta dari Korea (10 - selesai)



Sungai Han yang Menenangkan


Kekasihku,

Apakah sesungguhnya makna liburan itu sejatinya? Apakah menghabiskan uang? Tentu saja perlu uang, tapi aku tak setuju menyebut "menghabiskan". Karena menghabiskan berarti tidak menukarnya dengan apapun juga. Dan tidak ada apapun yang tidak ditukar dengan apapun. Tidak ada satu halpun di dunia ini yang memberi saja atau menerima saja. Guru yang tidak dibayar sekalipun, sesungguhnya ia mendapat kebahagian dari apa yang sudah ia berikan. Dan apalah artinya uang itu menemukan fungsinya yang sejati, kecuali ditukar dengan pengalaman.

Pengalaman adalah hal yang membuat manusia menemukan dinamikanya. Tuhan menciptakan manusia berumur pendek. Sehingga masing-masing dari mereka tak mungkin menjelajahi keseluruhan dari dunia. Namun Tuhan juga menciptakan kelima indra bersama memori untuk menyimpan ingatan. Sehingga apa yang dilihat oleh masing-masingnya, bisa dibagi ke orang lain yang tidak mengalami. Demikian indahnya kehidupan ini, salah satunya. Artinya, apakah itu makna liburan, selain demi kita menyerap pengalaman agar dibagi pada yang lainnya? Bahwa sesungguhnya kita menukar uang kita untuk memperkaya pandangan manusia satu dengan manusia lain?

Maka itu manusia seyogianya tak perlu bertengkar. Karena barangkali ada pengalaman berbeda yang membangun masing-masingnya.

Apa artinya sebuah liburan juga, jika bukan untuk mengambil jarak dari keseharian. Untuk meneropong kehidupan dari kejauhan. Untuk beristirahat sejenak dari yang menyibukkan. Maka jika liburan menjadi bertambah tekanan, maka tinggalkan! Sesungguhnya dalam liburan tiada tuntutan. Alangkah sahnya jika kamu tiduran seharian. Tidak perlu khawatir akan tuntutan jalan-jalan, dalam liburan akhirnya kamu punya momen dimana kehidupanmu boleh-boleh saja tak bertujuan.

Minum bir dengan sahabat, Rony. Kegiatan seperti ini amat mengembalikan kewarasan.

Akhirnya aku akan mengakhiri liburanku di Korea, dengan rasa puas dan bahagia oleh sebab dua hal tadi: mendapatkan pengalaman dan istirahat yang cukup. Tidaklah liburan itu berhasil jika tak sanggup menyeimbangkan antara jalan-jalan dan istirahat. Sekarang aku siap kembali ke Bandung, ke keseharian yang menyibukkan. Tidak ada alasan untuk lelah dan berleha-leha jika ibarat batre HP sudah di-charge penuh sampai full.

Aku juga sudah melihat keseharianku dari jauh. Menyadari bahwa manusia itu dalam kegilaan yang nyata. Bahwa rutinitas membunuh kesadaran. Maka itu, sayangku, pesanku, mesti pandailah mengatur liburan. Dan jangan sampai liburan menjadi suatu rutinitas yang baru. Jika itu terjadi, namanya kegilaan berlipat-lipat.

Aku pulang, aku kembali. Kelak nanti kita akan pergi, ke tempat ini lagi. Tapi bersama.



Continue reading

Thursday, September 22, 2011

Di Tepi Sungai Han Aku Duduk dan Menggalau


O, Tuhan, untuk apa engkau menciptakan manusia?
Untuk membuatku tertawa-tawa, Nak. Agar aku tak sepi sendiri.

Apakah manusia itu sendiri harus ikut tertawa-tawa?
Harusnya iya, karena apalah hidup itu kalau bukan komedi.

Hanya itu?
Dan tragedi.

Jika sedemikian menyedihkannya, apa yang kau harapkan dari manusia, ya Rabbi?
Tidak ada. Menurutmu?

Jadi kehidupan ini sia-sia saja?
Kamu bisa pura-pura tidak, jika mau.

Bagaimana caranya?
Harapan.

Lalu, apa yang bisa dibanggakan dari manusia?
Mungkin, kebudayaan.

Apa itu kebudayaan, Ilahi?
Sesuatu yang membedakan kalian dari binatang.

Aku punya pertanyaan lain, apa itu agama?
Aku tak tahu. Bukan aku yang menciptakan.

Siapa?
Tanya saja temanmu.

Mengapa banyak yang kamu tak tahu, Rabb?
Karena aku menciptakan manusia mula-mula, dan membiarkan mereka melakukan apa saja yang dimaui.

Apakah kamu menciptakan seperangkat aturan juga?
Tidak. Aku hanya menciptakan manusia.

Kalau begitu, kapan itu kiamat?
Aku belum bosan, sepertinya masih lama.

O, Tuhan, tolonglah aku!
Dari apa?

Dari kamu!
Continue reading

Wednesday, September 21, 2011

Surat Cinta dari Korea (9)

Sayangku, cintaku, belahan jiwaku,

Korea bukanlah negara yang purba-purba amat. Maksudnya, meskipun ia sudah tegak berdiri sejak lama, namun berbagai perang dan penjajahan yang melandanya membuat mereka tertatih-tatih dalam membangun peradaban. Tahun 1910 hingga 1945, mereka dijajah oleh Jepang yang mengerikan. Hanya diakibatkan oleh kekalahan Jepang di Perang Dunia II, maka Korea akhirnya mampu merdeka. Tak lama kemudian Korea dikecamuk oleh Perang Korea, yaitu perang saudara yang di belakangnya terdapat dalang-dalang dari luar. Perang macam begini disebut dengan proxy war, karena ini sesungguhnya adalah Perang Dingin antara Amerika Serikat dan Uni Soviet. Namun dalam pertempuran lapangan, mereka memanfaatkan orang-orang Korea. Kejam sekali!

Perang Korea adalah perang antara wilayah utara Korea dan wilayah Selatan. Wilayah utara, kamu tahu, mereka berfaham komunis dan dikendalikan oleh Uni Soviet. Sedang di selatan berdiam Amerika Serikat dan berfaham liberal. Konon ini salah satu peperangan paling mengerikan dalam sejarah, karena untuk pertama kalinya dikenal air to air combat, atau perang udara. Akhir dari perang ini tak terlalu jelas siapa yang menang (ketahuilah sayang, dalam perang sungguh-sungguh tidak ada yang menang, semuanya kalah!), tapi hasil akhirnya adalah garis pemisah antara Korea Utara dan Korea Selatan yang bertahan hingga hari ini.

Korea Selatan, secara teknologi sudah sangat maju. Mereka betul-betul mengejar teknologi dari sejak mereka mengakhiri Perang Korea. Sedang Korea Utara masih terisolasi karena mereka memang mengisolasi diri. Mereka berdua masih sedikit-sedikit kontak senjata di perbatasan, tapi impian dan cita-cita akan bersatu kembali selalu ada.


Tulisan pada monumen jam. Katanya jika suatu hari Korut dan Korsel bersatu, jam ini akan dipasang.

Sayangku, aku mengunjungi museum Perang Korea. Dalam museum ini semua barang masa lampau yang berkaitan dengan Perang Korea disimpan. Juga diceritakan sejarah awal mula Perang Korea itu sendiri. Semuanya memang penting. Dengan mereka menyajikan segala pahit getir tersebut dalam estetika sejarah, mereka seolah mau bilang, "Jangan pernah terulang lagi, perang macam ini."

Apa yang aku bisa ambil pelajaran dari sini adalah: Aku dan kamu, juga pernah dan sedang membuat sejarah bagi kita sendiri. Segala pahit getir dari apa yang sudah kita alami, jangan dibuang ke tempat sampah. Etalasekan semua dalam kaca museum indah yang kita bangun sama-sama. Suatu hari kita bisa melihat lagi ke dalamnya, dengan perasaan pilu tapi rindu.

Selain itu juga, patut kita jadikan inspirasi bagaimana mereka menyajikan monumen jam itu sebagai harapan. Harapan adalah daya hidup. Kita memutuskan menikah oleh sebab harapan, oleh sebab yakin akan ada sesuatu yang baik menanti di depan.

Aku mencintaimu, yang lampau maupun yang akan datang.
Continue reading

Tuesday, September 20, 2011

Surat Cinta dari korea (8)

Sayangku, setelah seminggu lebih aku di sini, adakah yang berubah terhadap caraku berpikir? Ada. Terlebih tentang teknologi. Di sini, teknologi sangatlah canggih. Semua serba terprediksi, serba komputerisasi, serba cepat dan akurat. Segala aktifitas manusia betul-betul difasilitasi. Aku juga meralat ketika mengatakan sign system di sini jelek. Setelah bimbingan Rony dan akhirnya aku mencobanya sendiri, ternyata lama kelamaan aku sadar kalau sign system di sini sangatlah jelas! Dalam subway sekalipun, peta ditempelkan hampir di setiap kita mau menaiki tangga ke jalan raya. Ketika aku menuliskan ini aku baru saja pulang jalan-jalan sendiri untuk pertama kalinya, tidak ikut rombongan, dan sukses meskipun sempat nyasar-nyasar hingga kaki pegal-pegal.
Justify Full

Kembali ke teknologi. Apa sesungguhnya hakikat teknologi? Teknologi adalah sesuatu yang mempermudah kehidupan manusia dalam memenuhi kebutuhannya. Kebutuhan yang aku sebutkan adalah kebutuhan fisik. Dulu orang makan dengan berburu, tapi karena berburu berbahaya, mereka menemukan teknologi pertanian. Dulu orang kesana kemari menggunakan kuda, sekarang menggunakan mobil. Tapi apalah artinya semua itu kecuali berkaitan dengan keamanan dan kenyamanan tubuh manusia. Tapi teknologi sesungguhnya tidak ada kaitannya dengan pemenuhan kebutuhan spiritual manusia. Kebutuhan spiritual diraih bisa dengan vertikal maupun horizontal, bisa lewat Tuhan maupun manusia. Teknologi memudahkan segala, membuat semuanya bisa dilakukan sendiri, maka itu kadang-kadang hubungan dengan yang lain tak seberapa diperlukan.

Inilah yang kemudian aku bisa syukuri dari Indonesia. Kemanapun dimanapun, orang kita kerap senang berkumpul, ngobrol, nongkrong, yang mana segala itu merupakan suatu cara tersendiri untuk memenuhi kebutuhan batin. Orang kita (meskipun ini tentu saja generalisasi, karena sudah banyak diantara kita yang individualistis) begitu percaya bahwa kemiskinan tiada masalah selama jalinan tali persaudaraan masih kuat dengan sesama. Paling gampang adalah supir angkot di Bandung. Mereka jelas, dengan tetap menjadi supir angkot, kemungkinan memang tiada peningkatan signifikan dalam hidupnya. Tapi mereka merasa aman dan tenteram, berbagi rokok dan penumpang jika yang lain berkekurangan. Mereka percaya dengan memberi, akan menerima juga. Aku pernah lihat supir angkot yang digebuki karena ia ogah bersosialisasi. Ingin jadi individual, ingin berdikari.

Di sini, tempat yang aku sering kunjungi tentu saja subway. Orang-orang di subway, mungkin mirip dengan Trans Jakarta, hanya sibuk sendiri. Untungnya, di sini mereka sibuk sendiri menonton televisi dari HP, sedang di TJ mungkin orang sibuk sendiri merenungi nasib. Tidak ada tegur sapa, tidak ada saling memandang, tidak ada senyuman, dan hening tiada obrolan. Yang berisik cuma bunyi rel dan suara komputer digital yang bersahut-sahutan dengan pengumuman pemberhentian.


Inilah potret modernitas yang barangkali "sesungguhnya", ketika semua rapi jali, teratur, mekanik, dan manusia pun ikut mekanis. Ketika orang-orang merokok dalam waktu yang akurat (disini orang merokok seperti kepanasan oleh rokok itu sendiri sehingga dua menit sudah habis), ketika semua orang memakai standar waktu yang sama, ketika kehidupan bergantung pada ketepatan tibanya subway dan metro.

Jika nanti kita sudah bersama, jangan pernah lupa waktu untuk bercengkrama. Pada situasi itulah manusia bisa kembali mengenali dirinya. Dalam bercengkrama itu juga, jadilah manusia sebenarnya: marah, gembira, sedih, menangis, romantis. Jangan berbicara tentang fenomena apa adanya, jangan juga bercinta tanpa rasa, seolah memenuhi kebutuhan badan semata. Kita ini manusia, punya hasrat, gairah, dan cita-cita. Raih itu seolah-olah kita akan hidup seribu tahun lagi. Memikirkan berapa harga cabe jelas harus, tapi tetap letakkan impian di sudut hatimu. Terangi ia selalu, agar Tuhan akhirnya melirik jua.
Continue reading

Monday, September 19, 2011

Berdoa di Facebook

Berdoa di Facebook
Bagi pengguna jaringan sosial, tentu saja bukan hal yang sulit menemukan kawan-kawan yang kerap berdoa di statusnya sendiri. Misalnya, "Bismillah, semoga hari ini lancar. Amin!" atau "Alhamdulillah ya Allah, urusan hari ini selesai juga." Segala doa yang kiranya positif, jelas menyenangkan dan menyejukkan kala dibaca. Walhasil, status-status seperti ini biasanya menjadi sasaran empuk jempol dan komentar.

Berdoa, jika kita sama-sama telusuri dengan mengira-ngira, barangkali sebuah kegiatan yang lebih purba dari agama. Jika bicara agama, maka tidak bisa lepas dari sistem. Agama adalah sistem kepercayaan. Di dalamnya terkandung jalinan rapi antara kitab suci, pengikut, ritual, orang suci, dan Tuhan itu sendiri. Maka tentu, agama barangkali tidak turun satu paket sekaligus. Kristen misalnya, pernyataan tentang apakah Yesus sendiri adalah seorang Kristiani atau bukan selalu mengemuka. Ini disebabkan oleh tiadanya pernyataan dari dirinya bahwa ia adalah seorang Kristen. Ia sendiri tidak menyebutkan bahwa ia sedang menyebarkan agama Kristen. Meski demikian, ajarannya kemudian dituliskan oleh keempat penginjil dan jadilah sebuah kitab suci bernama Perjanjian Baru. Belum selesai. Di masa patristik, atau sekitar abad ke 4 dan ke-5 Masehi, diadakan berbagai konsili untuk mengukuhkan ajaran Yesus sebagai agama yang disebut Kristen. Dirumuskanlah berbagai ritual, tata cara, hukum, hingga cara-cara masuk Kristen itu sendiri.

Kembali ke berdoa. Jika agama sedemikian rumitnya, maka berdoa pastilah ada sebelum agama ada. Ketika manusia-manusia pada awalnya lahir tanpa tedeng aling-aling ke dunia, dihadapkan pada persoalan-persoalan alam yang betul-betul penuh bahaya, maka doa menjadi krusial. Doa, dari fungsinya yang paling awal sekalipun, adalah sebentuk ungkapan akan ketidakmampuan dalam menghadapi sesuatu yang tak terprediksi. Sebentuk kepasrahan akan ketidakmungkinan untuk mengenali cara kerja kehidupan yang seringkali misterius. Doa juga bisa diartikan meminta, meminta sesuatu yang tidak sanggup kita dapatkan dengan cara-cara biasa. Berdoa, maka itu, tidak ada hubungannya dengan agama. Para atheis dan agnostik bisa saja berdoa, karena yang demikian adalah hakikat dari batas pengetahuan manusia. Namun agama dengan otoriter mengarahkan sifat alamiah ini pada personifikasi: kamu berdoa pada siapa?

Agama kemudian mengajarkan tatacara berdoa yang "benar". Yang pada tempatnya, yang pada sasarannya. Yang jika dianalogikan kira-kira begini: Untuk meminta emas, mintalah pada yang punya emas, jangan pada yang punya perak. Itulah mengapa pada tradisi politeisme, para dewa dibagi tugasnya. Ada yang mengurusi ini dan mengurusi itu, sehingga untuk berdoa mesti tepat benar pada siapa kita bicara. Monoteisme adalah Tuhan yang sibuk. Ia satu tapi mengurusi semua. Untuk itu kita bisa minta semua pada Tuhan bangsa Semit ini. Sayangnya, Tuhan Semit juga adalah Tuhan yang cemburu. Tuhan agama Kristen tidak mau umatnya meminta pada Tuhan agama Islam. Jika itu terjadi, maka Tuhan akan berkata, "Silakan pergi sana."

Jika agama bertugas mengarahkan doa kita pada sasaran yang "benar", maka bagaimana seharusnya agama memandang orang-orang yang berdoa di Facebook? Apakah itu dilakukan dalam koridor sasaran yang benar? Atau menyalahi hakikat berdoa itu sendiri sebagai ungkapan kepasrahan, ketidakmampuan, dan meminta yang seharusnya adalah pribadi? Bagaimanapun juga, ketika berdoa via Facebook, maka doa itu sendiri jadi tidak pribadi lagi karena diketahui orang banyak. Bagaimana dengan solat minta hujan, atau pelbagai doa yang sering kita lihat dilakukan secara massal?

Maka itulah saya agak berhati-hati dalam menyimpulkan makna dari fenomena berdoa di Facebook, karena ini bukan doa tipe personal (biasa disebut munajat), dan bukan juga doa tipe massal (jika ia massal, maka tentunya doa itu juga semestinya terkait dengan kepentingan massal). Berdoa lewat jaringan sosial adalah doa pribadi yang di-massal-kan. Namun jika terpaksa beropini, saya melihat ada sesuatu yang positif dari fenomena ini. Doa yang tadinya murni bersifat vertikal, tiba-tiba menjadi punya akses horizontal. Dengan berdoa di Facebook, otomatis perhatian akan diperoleh, dan siapa yang melihat menjadi tahu kesulitan apa yang tengah kita alami. Tidakkah menyenangkan jika tiba-tiba ada yang bisa membantu kita secara nyata baik dengan ungkapan perhatian, dukungan, atau bantuan material?

Namun ada satu kritik yang saya barangkali bisa sematkan pada fenomena berdoa di Facebook. Jika berdoa adalah ungkapan "meminta", maka tuliskan itu di Facebook, dan apa yang diinginkan secara riil lebih mungkin diperoleh dari sesama manusia. Tapi jika berdoa sebagai ungkapan kerendahan hati, sebuah perasaan kecil di hadapan semesta, maka menuliskannya di Facebook menjadi agak kontradiktif. Karena salah satu sakralitas dalam berdoa adalah bercakap-cakap dengan Tuhan secara personal, secara pribadi "Kau dan Aku" jika dalam bahasa Rumi. Seperti surat menyurat pribadi yang romantis antara dua insan. Seperti bisik-bisik senyap dalam kesunyian malam. Tidakkah Facebook terlalu gaduh untuk orang yang mau berpacaran dengan Tuhan?
Continue reading

Sunday, September 18, 2011

Surat Cinta dari Korea (7)

Cintaku,

Tahun 1998 aku pernah punya impian. Aku akan menabung empat tahun lamanya, agar pada tahun 2002 aku bisa pergi ke Jepang dan Korea menyaksikan Piala Dunia. Tapi impian tinggal impian, cita-cita tak terlaksana dan aku hanya menyaksikan dari televisi di Indonesia. Namun bukanlah suatu dosa jika apa yang kuimpikan baru terwujud sembilan tahun kemudian. Tadi sore, aku melaporkan dengan bangga kepadamu bahwa aku telah berhasil menginjak stadion yang aku idam-idamkan. Namanya: Seoul World Cup Stadium!

Bersama Rony, kawanku yang hangat, kami mengitari stadion bersejarah itu. Tahukah kamu, sayang, bahwa Piala Dunia hanya diselenggarakan di dua benua yaitu Amerika dan Eropa, sampai tiba saatnya 2002 bahwa untuk pertama kalinya Asia yang dipercaya. Jepang dan Korea bisa dibilang sangat sukses dalam menyelenggarakannya. Hal tersebut juga diikuti oleh kesuksesan kedua tim tersebut, meskipun Korea jauh lebih melaju dengan posisi akhir juara empat. Dengan pelatih kawakan bernama Guus Hiddink asal Belanda, Korea yang berjuluk Taeguk Warriors, sukses menebas Polandia, Portugal, Italia bahkan Spanyol!

Fasilitas stadion itu sangatlah bagus. Kita pernah sama-sama ke Gelora Bung Karno dan ini tentu saja jauh di atasnya. Di lantai bawah ada museum yang memuat berbagai cerita tentang sepakbola dan khususnya Piala Dunia. Ada juga kisah perjalanan timnas Korea dari masa ke masa. Sebetulnya hari itu seyogianya ada pertandingan yang akan digelar, yaitu partai antara FC Seoul dan FC Busan. Tapi kami urung masuk akibat harga tiketnya yang agak-agak mahal (14.000 won). Apapun itu, menginjakkan kaki di stadion tersebut betul-betul menggetarkan perasaan. Membuat aku mau memberitahumu suatu kalimat yang umum tapi aku semakin menyadari kebenarannya, yaitu "Jangan pernah berhenti bermimpi."


Setelah itu, aku dan Rony kembali ke kostnya dan bertemu beberapa orang yang sangat menyenangkan. Mereka adalah Didi dari Semarang, Omar dari Meksiko, Ghuya dari Indonesia (Pacitan), Qi San dari Cina, dan seorang lagi dari Cina yang aku tak tahu bagaimana menuliskannya karena aku tak bisa menangkap omongan ia ketika memperkenalkan diri. Kami semua, kecuali Omar yang berubah pikiran di tengah jalan, menaiki tangga yang amat banyak untuk mencapai satu misi suci yang kuniatkan dari awal: N Seoul Tower. Di sana, aku tak mau apa-apa kecuali mengaitkan gembok cinta kita.

Mitos? Takhayul? Memang iya, memang konyol dan tak punya dasar. Dari ribuan gembok yang terkait di sana, memangnya kita bisa pastikan semua hubungannya langgeng? Tapi apa yang kulakukan sebetulnya tiada punya hubungan dengan kepercayaan bahwa hubungan ini akan langgeng selama gembok masih terkunci rapat di sana. Tapi suatu hari ketika badai tengah mengolengkan bahtera cinta kita, ingatlah pada suatu malam berangin yang pernah membuat hati kita sedemikian berbunga-bunga karenanya. Yaitu hari ketika aku mengaitkan sebuah gembok yang kuat bertuliskan kata-kata cinta pada pohon berbentuk cemara. Kadang kita butuh air dari masa silam untuk membasahi jiwa yang kering di hari ini.




Continue reading

Saturday, September 17, 2011

Surat Cinta dari Korea (6)

Adakah yang lebih indah dari Tuhan? Ada, jawabnya. Yaitu, persahabatan. Dan jangan-jangan, Tuhan adalah persahabatan itu sendiri. Kita bisa mengenali suatu konsep timbal balik dengan Tuhan, saling mengisi, saling meyakini, saling percaya, mungkin diawali dari pengetahuan kita akan persahabatan dengan manusia.

Di Seoul yang jauh ini, aku bertemu dengan teman-teman dari Indonesia. Adakah diantara kami dahulunya akrab? Bisa ya, bisa tidak. Bisa dibilang, kami diakrabkan oleh satu hobi dan kesenangan yang sama: gitar. Andri, adalah rival lama ketika kami masih rajin mengikuti kompetisi gitar. Sedangkan Rony, kurang lebih sama, kami bertemu dalam suatu kompetisi gitar di Yogyakarta. Andri asal Jember, Rony asal Semarang. Tapi harus diakui bahwa frekuensi jumpa kami tak seberapa. Kami hanya berkirim salam sesekali, bertemu jika ada keperluan, dan tidak tiba-tiba bertandang jika tak punya kepentingan. Namun pertemuan dengan keduanya di Seoul ini mengubah segalanya. Kami mendadak menjadi hangat dan merasa seperti saudara. Kami merasakan suatu perasaan rindu yang aneh.

Aku sudah merenungkan dengan serius, sayang. Bahwa bahasa adalah cara kita berada di dunia. Lewat bahasa, kita menjadi ada. Maka itu di Korea, sendirian, aku merasa tak terikat dengan dunia karena tidak terkoneksikan oleh bahasa. Orang-orang bicara terasa seperti bebunyian saja. Tapi dengan adanya sesama Indonesia, kami meng-ada-kan satu sama lain.

Pertama adalah Andri. Ia menemui kami di parkiran hotel Hamilton di kawasan Itaewon. Ia sudah empat tahun bekerja di Korea. Ia tengah menjadi pria siaga, istrinya berstatus hamil lima bulan. Andri menemui kami dengan hangat, pun istrinya yang menyusul kemudian. Mereka berdua mengajak kami makan di sebuah restoran Arab-India yang spicy dan lebih cocok bagi lidah kami. Setelah itu mereka berdua memandu kami berbelanja di kawasan Namdaemun dan Myeongdong. Namdaemun itu agak-agak mirip dengan kawasan Pasar Baru di Bandung, sedang Myeongdong sedikit lebih elit, mungkin bisa disamakan dengan daerah Sukajadi.


Andri Mahendra, kawan dari Jember.

Setelah kaki pegal dan kantong yang ditenteng semakin mengganggu perjalanan, kami memutuskan untuk berhenti dan pulang ke hotel. Kebetulan, malam ini adalah malam dimana aku berpisah dengan kedua orangtua karena mereka memutuskan untuk pulang ke Indonesia lebih awal. Andri dan Anggi, istrinya, pun memutuskan untuk sampai di situ saja karena jalur subway mereka berbeda. Tapi bagiku, mereka berjanji untuk menemuiku lagi karena aku masih akan di sini untuk seminggu ke depan.


Didi (kiri menghadap kamera) dan Rony (menengok kanan), kawan dari Semarang.

Aku sekarang di sini, bersama Rony, kawanku dari Semarang. Aku diijinkan ikut menginap di kostnya untuk beberapa hari. Kostnya bersama banyak orang asing lainnya. Juga hadir bersamaku seorang yang hangat juga, dari Semarang juga, namanya Didi. Meskipun sedih karena berpisah dengan orangtua, tapi aku sekaligus senang. Bagiku inilah awal mula petualangan di Korea. Ketika uang harus mulai diirit dan kemana-mana mesti membaca peta. Tempat yang kukunjungi pun harus efektif karena jika tidak, uang juga yang jadi korban. Aku sekarang akan bersenang-senang, sayang. Rony menjamuku dengan bir dan soju. Kami bukan ingin mabuk, hanya ingin merayakan persahabatan. Kalau Tuhan marah karena aku minum soju, maka ia bukan Tuhan. Karena kalau ia betul-betul Tuhan, pasti ia sungguh mengerti makna persahabatan.


Kamu adalah soju-ku, yang selalu memabukkan.


Continue reading

Friday, September 16, 2011

Surat Cinta dari Korea (5)

Sayangku, jika asap pertanda adanya api, lalu semut pertanda adanya gula, lalu pertemuan berarti pertanda apa? pertemuan adalah pertanda akan adanya perpisahan. Demikian juga apa yang sudah kami semua lakukan di sini, bersama-sama, dengan para delegasi AIAE. Kami bersama-sama meskipun tak lama, tapi ternyata perpisahan tetap menyedihkan jua.


Sebelum masuk pada fase romantis itu, aku akan menceritakan kisah kami di pagi hingga sore hari. Karena free time, kami berencana untuk berjalan-jalan berbelanja. Kami menaiki subway, sebuah moda transportasi yang pastinya tidak dipunyai di Indonesia (katanya Jakarta mau membuatnya, kita tunggu ya realisasinya). Menaiki ini susahnya minta ampun, karena kami tidak berbicara dengan manusia, tapi mesin. Untuk memulainya, kami harus mengisi voucher kartu. Ada beberapa pilihan, ada yang satu kali jalan, ada yang seharian, ada paket manula, dan sebagainya. Hebatnya, petugas langsung datang dan cekatan membantu kami.





Aku belum pernah ke Singapura, tapi sepertinya jika dibandingkan dengan di sana, sign system di sini agak sulit dipahami. Banyak tulisan yang masih dalam bahasa Korea dan tidak dilatinkan. Tentu saja yang demikian itu hak mereka, tapi bagiku ini agak kontradiksi dengan visi mereka untuk menjadi kota wisata akbar 2012 dengan slogan, "Hi, Seoul". Walhasil, kami memutuskan jika nanti pulang kembali ke hotel, kami kapok naik subway dan ingin taksi saja.

Di jalanan, tempat perbelanjaan di Insadong itu, aku sedih. Sedih karena barang-barang yang dijual di museum dengan harga selangit itu ternyata semua ada di tempat tersebut dengan harga separo! Akhirnya aku menemukan juga barang-barang yang barangkali sangat dinanti-nanti penggemar film Korea dan juga band-band Korea. Di tempat ini, meskipun barangkali didesain dengan tidak terlalu bagus, tapi alangkah menyenangkan bisa menghadiahi orang terkasih di tanah air sebatas poster, card holder, memo, atau kalender dari artis idola, langsung dari negara asalnya. Karena ingin cepat, makan siang kami habiskan di McDonald saja. Aku makan burger bulgogi karena namanya paling aneh, walaupun sama dengan beef burger. Satu hal yang menarik, ketika kami kebingungan, kami didatangi dua orang yang sangat antusias. Mereka ternyata bagian dari kampanye Hi Seoul. Mereka menawari informasi gratis bagi para turis. Sangat ramah, bergairah, dan informatif, patut dicontoh!





Setelah kaki pegal akibat jalan, kami, sesuai rencana semula, pulang naik taksi. Sayangnya, kota Seoul yang bersih rapi jali ternyata tak bisa terhindarkan dari macet seperti halnya Jakarta. Padat dan jarang merayap terjadi juga. Walhasil, argo taksi kami membubung sudah. Sekitar 20.000 won lebih atau 160.000 rupiah-an! Dengan lunglai akibat lelah dan dompet tipis, kami merebah di hotel sebelum menjalani acara berikutnya: penutupan sekaligus perpisahan delegasi AIAE.

Penutupan ini, katanya, aku harus tampil mewakili delegasi Indonesia. Setiap delegasi memang harus menyumbangkan semacam performa di penutup acara. Ternyata, yang ditampilkan amat beragam, mulai dari yang menarik sampai yang tidak kreatif sama sekali. Jepang misalnya, mereka cuma beramai-ramai menyanyikan lagu Sukiyaki tanpa musik. Singapur, mereka bagus, menampilkan pantomim yang bertemakan satir. Sedang Indonesia? Aku dikorbankan sendirian. Maju ke depan, membawakan tiga lagu dengan solo gitar. I Have a Lover dari Lee Eun Mi, Here There and Everywhere dari The Beatles dan Ambilkan Bulan dari A.T. Mahmud berhasil dibawakan dengan plus minusnya.


Jika memang pertemuan kita yang penuh kenangan ini punya konsekuensi perpisahan, biarkan. Biarkan, selama yang memisahkan cuma kematian. Dan sesungguhnya kematian cuma pemisah antara badan dan badan. Cinta akan selalu menghidupkan kembali jiwa seseorang.

Continue reading

Thursday, September 15, 2011

Surat Cinta dari Korea (4)


Patung Boddhisatva, koleksi paling berharga National Museum of Korea



Pertama-tama, bersyukurlah karena kamu punya ibu yang berprofesi sebagai guru sejarah. Sejarah, menurutku, adalah hal yang sangat penting. Kenapa? Karena tiada sesuatupun di luar sejarah. Masa depan kita semua berpijak dari sejarah. Dan kita hari ini sedang berusaha membuat sejarah, agar siapapun di masa depan kelak mengenang kita. Manusia mesti secara teratur mempunyai waktu untuk melihat ke masa lalu. Selain kontemplasi diri, tentunya ada cara lain yang lebih "sederhana" untuk melakukan itu, yaitu pergi menengok ke museum, atau belajar dari guru sejarah yang cakap seperti ibumu.

Aku mengunjungi museum tadi pagi. Namanya standar tapi kita bisa membayangkan keluasan isinya: National Museum of Korea. Museum ini, Sayang, Masya Allah, besarnya luar biasa. Hotel Hilton mungkin yang paling mewah di Bandung, tapi museum ini beberapa kali lipat lebih besar dan mewah. Sang pemandu berkata, "Ini museum nomor empat terbesar di dunia, untuk mengelilinginya kamu butuh delapan belas jam."

Tahukah kamu, Sayang, bahwa sejarah, meskipun penting, tapi kita agaknya setuju bahwa hal tersebut mesti disajikan secara menarik. Rupanya hal ini sudah sangat dipikirkan dalam museum mega itu. Display artefaknya sangat bagus, sign system-nya sangat informatif, dan penerangannya begitu anggun dan elegan. Kalaupun iya (kita boleh curiga), bahwa sejarah yang disajikannya bukan suatu kebenaran, maka itu tak jadi soal karena aku pribadi sudah terpikat pada segala-gala yang ada di tempat itu.

Lagipula, ada satu hal yang sangat menarik. Sang tour guide, bercerita dengan sangat bergairah. Seolah-olah ia berada di masa lampau dan menyaksikan benda-benda yang ia ceritakan itu dalam kondisi asli pada jamannya berada. Membuat aku ternyata menyimpan cita-cita ingin seperti dia, ingin seperti ibumu, menjadi seseorang yang mengajak siapapun menaiki mesin waktu ke masa lalu. Hanya saja, tour guide sedikit lebih beruntung dari segi penyajian ketimbang guru sejarah. Karena barang-barangnya ada tersedia di sana. Lagipula, perjuangan ibumu patut diacungi jempol. Karena ibu mendatangkan sejarah ke kelas yang mungkin berisi anak-anak yang siap menguap di tengah pelajaran. Sedangkan tour guide, pengunjunglah yang mendatangi sejarah. Sehingga mungkin antusiasmenya sudah ditumbuhkan dari awal. Jadi, sekali lagi, bersyukurlah punya ibu yang sedemikian hebatnya. Tanpa barang-barang display, ibumu menyajikan masa lampau murni melalui bahasa.


Sang
tour guide menerangkan pagoda sepuluh tingkat.

Setelah dari sana, kami mengunjungi istana raja Korea purba bernama Gyeongbokgung Palace. Esensinya sama, kami mengunjungi masa lalu dari suatu bangsa. Hanya saja kalau museum nasional diliputi suasana modern, sedangkan yang ini sangat tradisional dan segalanya betul-betul dipelihara keasliannya. Mulai dari bentuk bangunan hingga interiornya. Membuat alam imajinasi kita terlempar, membayangkan betul-betul ada raja duduk di sana beserta para pengawal-pengawalnya. Meski demikian, tempat ini ternyata pernah nyaris dibumihanguskan oleh Jepang. Sehingga banyak bagian sudah direvitalisasi oleh pemerintah Korea.


Demikian, sayang, betapa sejarah yang dikelola secara serius, punya andil dalam membentuk bangsa yang hebat. Apa yang bisa kita lakukan sekarang? Tidak perlu repot-repot menembok bangunan museum di Indonesia yang menyedihkan. Kita cukup mengenang masa lalu kita, dari mulai PDKT, masa-masa bertengkar, hingga persiapan pernikahan macam belakangan ini. Dengan demikian kita akan sanggup menjadi pasangan yang menebar energi positif bagi sesama.

Dan itulah awal mula, cikal bakal, perbaikan dunia.

Continue reading

Wednesday, September 14, 2011

Surat Cinta dari Korea (3)

Apa yang aku ceritakan sekarang ini sesungguhnya hanya akan tentang makan dan makan. Kemarin, pagi, siang, malam, kami disuguhi makanan istimewa. Hanya manusia yang bisa memberikan penilaian bahwa suatu makanan disebut istimewa atau tidak, Sayang. Binatang tak punya itu. Bagi mereka, selama makanan sanggup menghilangkan rasa lapar, maka itu sudah cukup.

Sarapan kami istimewa, karena berada di sebuah restoran di lobi hotel dimana makanan terhidang di buffet secara bebas merdeka. Maksudnya, ragamnya berjenis-jenis dan kami boleh ambil seenaknya. Ada kentang, sosis, omlet, roti, buah, susu, jus, dan juga salad. Tentunya cerita ini semacam flashback. Setelah sarapan raja tersebut, kami berangkat ke galeri Hangaram dan memulai kegiatan “Sangkuriang membuat perahu” seperti yang kuceritakan sebelum ini.

Pasca display kebut selesai, kami dijamu makan siang di gedung seberang. Restoran itu aku tak tahu apa namanya, karena bertulisan bahasa Korea yang bagiku hanya terlihat seperti rangkaian garis dan bulatan-bulatan semata. Makanan yang tersaji pun aku tak tahu apa namanya. Jika aku tanyakan pada mereka, mereka akan menjawab dengan ucapan yang tidak sanggup aku pahami dan juga kutulisi di sini. Satu yang menarik adalah nasi kehitaman yang tersaji dalam mangkuk logam ditutupi tutup kayu. Sekilas, nasi itu tak istimewa. Tapi, kata panitia yang mendampingi kami, nasi ini bisa diairi oleh air panas dari teko sehingga nasi itu menjadi bubur. Lihat, Sayang, ketika peribahasa nasi telah menjadi bubur dianggap sebagai ungkapan penuh penyesalan oleh kita, ternyata orang Korea sana dengan sengaja membuburkan nasinya!


Ada satu hal yang menarik, bahwa negara Korea yang sedemikian indah dan barangkali mendekati sempurna dari segi tata kota, ketertiban, kebersihan dan juga keamanan (setidaknya demikian yang aku rasakan sementara ini), panitia pendamping kami itu masih juga mengungkap protes pada pemerintah. Katanya, pemerintah terus saja membangun gedung tinggi-tinggi sementara lingkungan alam tergerus lalu mati. Kami dan kamu mungkin berpikiran sama, tentang dirinya, “Ah, kamu jadi orang cuma kurang bersyukur."

Panitia pendamping yang kurang rasa syukur itu membagikan selebaran kampanye anti pemerintah

Malam hari kami disambut lagi-lagi oleh makanan. Dalam acara welcoming party itu, makanan yang terhidang lagi-lagi mewah gemerlap. Aku kenyang, tapi penasaran, karena banyak makanan yang belum aku kenal. Di meja bundar tempat aku dan kakakku duduk itu juga, terdapat beberapa orang dari delegasi Vietnam dan Singapura yang menawari kami bir. Kami yang menghormati dan juga menikmati masa muda, menerima tawaran itu dengan tangan terbuka.

Oh iya, sore itu juga adalah peresmian dibukanya acara 26th Asian International Art Exhibition (nama resmi acara yang kami ikuti). Dengan pidato yang tak kupahami dan performa pembuka dari kelompok perkusi yang tidak istimewa, pameran resmi dibuka untuk disaksikan siapa saja. Sebelum itu juga, para seniman dipersilahkan melukiskan cat air pada produk tas Samsonite yang menjadi salah satu sponsor acara ini.


Pak Deden Hendar Durahman melukisi tas Samsonite

Demikian, Sayang, betapa makanan sanggup mengubah wajah kehidupan. Bahwa perut manusia adalah yang utama dipuaskan demi terwujudnya perdamaian dunia. Perang, kerusuhan, atau kejahatan disebabkan oleh sekelompok manusia yang merasa lapar. Atau, mereka sudah kenyang, tapi belum cukup gemuk untuk berhenti.

Ketika aku mengirim surat ini, aku sedang jatuh cinta kepadamu untuk yang pertama kali, perasaan yang sama seperti kemarin, kemarin, kemarinnya lagi, kemarin, dan juga besok, besok, besok, besok dan besok.
Continue reading

Tuesday, September 13, 2011

Surat Cinta dari Korea (2)

"It's more than an airport. It's beyond expectation"


Akhirnya, hampir dua belas jam perjalanan yang melelahkan, sampai juga pada Incheon International Airport. Kalimat itu tertulis pada kereta yang mengantar kami dari wing satu ke wing yang lainnya (saking besarnya bandar udara ini). Katanya, ini bandara terbaik dunia, walaupun aku tak sempat menelusurinya karena kelelahan. Perjalanan ini harusnya tak selama ini, jika bukan oleh sebab transit di Malaysia hampir empat jam dan membuat perutku kerubukan. Makanannya menggelikan, bahkan mereka tak mampu membuat minuman kaleng yang enak. Kamu tahu semboyanku, bahwa cuma ada dua makanan di dunia: "Enak" dan "Enak sekali". Tapi Malaysia di luar opsi, aku menyematkan label "Tidak enak". Walaupun tentu saja ini generalisasi, aku belum pernah melihat keseluruhan Malaysia.

Sesampainya, aku mula-mula menyewa HP dulu dengan harga mencekik. Sekitar 3000 won atau 25rb an per hari. Biaya telepon 10 won per detik, dan sms 100 won sekali. SMS pun katanya tidak bisa internasional. Tapi aku lakukan itu untuk menemukan dua orang kawanku di Korea sini, yaitu Andri dan Roni. Tanpa nomor telepon Korea, aku agak sulit mengontak mereka karena aku kesulitan menggunakan telepon umum di sini!

Sayangku, cintaku, perjalanan satu setengah jam kemudian adalah dari Incheon menuju Seoul. Kami betul-betul kelelahan dan suasana mobil betul-betul seperti biara yang sunyi. Tempat kami menginap bernama Seoul KyoYuk MunHwa Hoekwan Hotel (bagaimana membacanya?). Hotel yang aku perkirakan sekitar bintang empat dengan fasilitas standar dan televisi semuanya berbahasa Korea (bahkan film Top Gun-nya Tom Cruise pun di-dubbing jadi Korea!)

Cerita hotel tentu saja tidak menarik, Sayang, seperti halnya kita bercerita tentang harga gedung dan catering. Tidakkah lebih baik kita berbincang tentang yang romantis, tentang bagaimana kita akan hidup hingga hari tua? Aku akan bercerita sesuatu yang romantis sekarang, yaitu perjuangan para delegasi Indonesia:

Berbeda dengan negara lain, Indonesia belum memasang karya-karya oleh sebab biaya pengiriman yang mahal. Kami memilih menenteng karya sendiri dan memasangnya di detik-detik akhir. Karena kami percaya, Sangkuriang pun membuat perahu dalam semalam. Kami dengan cekatan menggelarnya di lantai, memasangnya di dinding, hingga membuat delegasi lain terkagum-kagum. Apakah mereka tidak tahu, sayangku, bahwa kita adalah bangsa hebat, bisa mengatasi keterdesakan dengan gembira dan bahagia.



Sibuknya delegasi Indonesia di menit-menit akhir

Demikian yang aku bisa ceritakan hari ini. Betapa kami senang bisa bertemu seniman se-Asia dan semua bertegur ramah oleh sebab ada satu yang menyatukan kita: "kegelisahan akan dunia". Demikian seniman itu gelisah selalu, karena ia menganggap apa yang dia rasakan seharusnya dirasakan juga oleh banyak orang di dunia. Delegasi Indonesia, yang kerap terpinggirkan (ini suudzon aku saja, Sayang, karena kami selalu ditempatkan di bis paling belakang dengan sesama negara berkembang seperti Vietnam atau Filipina), selalu sanggup menunjukkan jatidirinya yang aseli ketika terdesak. Dalam dua jam kurang, simsalabim, karya kami siap dipertunjukkan!

From the corner of the cafe, in the corner of Seoul, with all my heart.


Patra Aditia tengah memasang karyanya







Continue reading

Monday, September 12, 2011

Surat Cinta dari Korea (1)

Annyeong Haseo!

Sebetulnya, ini belum sampai, Sayang. Ini aku online dari bandara di Kuala Lumpur yang entah namanya apa. Yang aku tahu, di sini makanannya tidak enak, nama-namanya hasil plagiat, dan harganya agak mahal dengan disertai tatapan mata dari sekeliling yang seolah berkata, "Dasar Indonesia."

Dengan waktu transit nyaris empat jam, tentunya aku mengisi dengan makan. Aku akan perlihatkan padamu, foto makanan bernama Nasi Lemak Chicken Rendang yang kontemporer dan posmodern:


Makanan ini tadinya dingin, dipertontonkan dari balik etalase yang membuat kita menyangka makanan ini terbuat dari lilin. Seketika dipesan, pelayan langsung memasukkan makanan ini ke dalam microwave dan menyetel pemanasnya selama dua menit. Bodohnya, plastik bumbunya ia masukkan pula tanpa dibuka. Sehingga ketika nasi dan ayam ikut panas, bumbu yang tersimpan dalam plastik tersebut masih tetap dingin. Rasanya? Kamu tidak ingin tahu. Masih jauh lebih enak nasi uduk tiga ribuan yang ada di jalan Bangreng tempat kita sarapan.

Perjalanan ini berisikan hmmmm sembilan orang. Semuanya hangat dan kompak, berbagi cerita dan pulpen jika diperlukan. Kami ini ceritanya delegasi Indonesia, bersiap untuk mengikuti pameran Asia tahunan yang kebetulan kali ini diselenggarakan di Korea (Selatan). Karena ongkos pengiriman karya yang bisa mencapai belasan juta, kami memilih untuk membawa karya-karya kami ini sendiri. Memilih untuk menentengnya sendiri dengan resiko dipandang curiga ketimbang harus berhadapan dengan bea cukai yang juga penuh curiga.


Sang Ketua Delegasi, Pak Setiawan Sabana


Sepanjang perjalanan dari Jakarta tadi, aku membaca buku "Rp 3 Juta Keliling Korea dalam 9 Hari" karya Claudia Kaunang. Di sana aku sudah membayang-bayangkan tempat yang akan dituju nantinya di sana. Pertama, jika aku punya nyali, aku akan ikut tur ke area pemisah antara Korea Selatan dan Korea Utara. Katanya, sebelum pergi, aku harus menandatangani perjanjian untuk tidak menuntut jika nantinya ada kontak senjata. Kedua, yang ini aku pasti punya nyali, aku akan mendatangi Pohon Gembok Cinta di NSeoul Tower. Di pohon tersebut tertampung gembok segala rupa yang sudah ditulisi kata-kata cinta. Dipercaya bahwa ketika gembok itu terkunci, maka pasangan tak akan terpisah untuk selamanya. Kalau iya aku mencapai sana, akan kugembok tulisan untuk kita:

"Dega & Syarif. Insya Allah akan bersama-sama ke tempat ini nanti."

Continue reading

Sunday, September 4, 2011

Romantisme

Romantisme
Saya terinspirasi menulis ini setelah menonton Milan Glorie vs Indonesia All-Star Legends yang berakhir 5-1 untuk para bintang dari Italia. Bersama Pirhot, kawan saya, kami menyaksikan pertandingan tersebut sambil terbahak-bahak oleh sebab usia mereka yang tak lagi muda, namun harus menghibur penonton yang mengenang masa jaya mereka-mereka. Satu per satu komentator menyebut nama besar seperti "Baresi," "Costacurta," "Lentini," "Massaro," "Papin," hingga "Eranio." Di sisi lain, meskipun berbeda kelas, namun auranya tetap nostalgik, yaitu, "Ansyari," "Rochi," "Widodo," "Aji," hingga "Fachri." Sebutan-sebutan pesepakbola tersebut mengingatkan pada masa kecil hingga remaja saya, ketika televisi berada di kamar. Dini hari, jika terbangun, sering dengan sengaja saya setel televisi demi mendengar suara-suara komentator meninabobokan tidur saya kembali.

Obrolan antara saya dengan Pirhot lantas berlanjut ke segala hal yang berbau sepakbola masa silam. Mulai taktik 5-3-2 yang akrab masa itu, lalu revolusi ke 4-4-2 yang mengandalkan empat bek sejajar dan dua striker, hingga kecenderungan sepakbola hari ini yang kerap memainkan 4-3-3. Perbincangan juga masuk ke gaya rambut pesepakbola, yang dulunya gandrung berambut gondrong, sekarang banyak yang pendek-pendek. Di tengah-tengah perbincangan tersebut selalu terucap ungkapan-ungkapan romantik, bahwa, "Dulu mah, asik yah."

Hampir dalam segala hal, setelah direnungkan, ternyata masa lalu selalu dibicarakan secara menyenangkan, betapa buruknya itu. Ketika membicarakan masa lalu, seolah-olah masa sekarang menjadi buruk adanya. Sama halnya ketika membicarakan Star Wars episode IV, V, VI yang notabene dibuat tahun 70-an hingga 80-an, lantas dicap keren ketimbang Star Wars episode I, II, III yang dibuat lebih kekinian. Argumennya, "Lihat jaman dulu, teknologi masih sederhana, tapi film bisa canggih begitu." Atau dalam diskusi mengenai kaset di komunitas di Tobucil, sering sekali dikatakan bahwa, "Orang dulu mau berjuang demi kaset, nabung. Tapi sekarang lagu didapat di mana saja secara gratis. Jadinya orang kurang menghargai musik." Dalam aspek kehidupan yang lebih religius, orang sering merindukan jaman ketika Nabi berkuasa. Sehingga dengan begitu, masa sekarang orang menjadi "gatal" ingin menegakkan negara khilafah. Yang kalau boleh saya tebak, pasti juga sangat terpengaruh oleh romantisme masa silam.

Inilah mengapa, bagi saya, isu "jaman edan" atau "tanda-tanda kiamat" selalu relevan. Para "peramal" dari masa silam selalu mengatakan, "Akan datang jaman dimana manusia bermoral rendah, kacau, dan yang demikian adalah tanda-tanda berakhirnya dunia." Walhasil, ramalan demikian akan selalu relevan dimanapun ia dibaca. Orang yang berpijak di waktu dan tempat manapun selalu menganggap dirinya berada pada situasi jaman edan atau tanda-tanda kiamat.

Tanpa romantisme, peradaban tidak mungkin maju. Romantisme membuat kehidupan mau, seperti kata Hegel, berdialektik. Ada proses pembaruan, ada proses revolusi, ada proses penengahan, dan semuanya sah jika berbasiskan satu kata, romantisme. Romantisme membuat orang rindu akan suatu jaman di masa lalu, yang kemudian ia tuangkan dalam kegelisahan jaman sekarang. Dalam kegelisahannya itu ia berontak menuntut perubahan, agar yang kini kembali menjadi yang lalu. Demikian seterusnya, tanpa henti, mungkin juga tanpa ujung. Agama-agama semit barangkali lelah menafsirkan romantisme ini, sehingga ia membuat konsep eskatologi atau akhir dunia.

Jika masa lalu selalu indah, maka saya seyogianya mengingat bahwa yang hari ini kerap akan menjadi masa lalu juga. Orang akan dengan manis mengenang jaman ini, dimana segalanya mudah diketahui secara transparan, dimana popularitas mudah timbul tenggelam sesuai dengan media yang ingin mengungkapkan, dimana citra lebih penting ketimbang substansi, dimana Barat menengok ke Timur, dimana manusia senang mengintip satu sama lain, dimana bla bla bla, dimana bla bla bla. Semua akan diceritakan secara indah, setelah jaman sudah berubah.

#Sambil bernostalgia, menyaksikan Youtube berisikan video kejayaan Franco Baresi. Jika Messi berhadapan dengan Baresi, mungkin Messi yang menang. Tapi romantisme barangkali haram hukumnya ditempelkan dengan masa kini. Konteksnya berbeda, tantangan jamannya berbeda.

Continue reading