Wednesday, June 22, 2011

Gerak Massa Tanpa Lembaga: Tinjauan tentang Media Massa Baru berdasarkan Fenomena Revolusi di Timur Tengah dan Afrika Utara (2010-2011)

Oleh: Syarif Maulana, S.IP.*

Abstrak

Dua puluh tahun pasca runtuhnya Uni Soviet, dunia kembali diguncang demonstrasi besar-besaran. Kali ini terjadi di Timur Tengah dan Afrika Utara. Setelah rakyat Tunisia memulai gerakannya di akhir Desember 2010, berturut-turut rakyat Mesir, Aljazair, Yaman, Yordania, hingga Libia turun ke jalan untuk menyuarakan satu hal yang sama: pergantian kepemimpinan. Revolusi ini menarik karena jaringan sosial semisal Facebook menjadi salah satu faktor pemicu demonstrasi.

Fenomena revolusi tersebut dianalisis dengan metode hermeneutika Schleiermacher dan hermeneutika Gadamer. Hermeneutika Schleiermacher digunakan dalam menganalisis fenomena revolusi di Timur Tengah dan Afrika itu sendiri. Sedangkan hermeneutika Gadamer digunakan untuk mereproduksi teks menjadi sebuah konklusi. Selain itu, konklusi akan dikaitkan dengan teori McManus tentang kecenderungan media baru.

Hasil dari analisis terhadap fenomena tersebut, ditemukan bahwa sangat penting untuk melakukan tinjauan ulang terhadap media massa konvensional yang justru dituding lamban dalam menyebarkan pesan dan tidak jarang ditunggangi kepentingan tertentu.

Kata Kunci: revolusi, hermeneutika, media massa, jaringan sosial.

Abstract

Twenty years after the fallout of Soviet Union, demonstration with massive amount of people is happening again in several important regions. Middle East and North Africa is the "crime scene" for people's power. It was begin with Tunisian movement on December 2010. The surrounding countries, suddenly adopted the Tunisian style. Egyptian, Algerian, Yemeni, Jordanian, until recently, Libyan, is showing their popular power to demand one single thing: radical leadership succession. This revolution becomes interesting because social network as Facebook becomes one of the demonstration's trigger.


The revolutions phenomenon is analyzed by Schleiermacher and Gadamer's heremenutics method. The Scheleiermacher Hermeneutics will be used to analyze the revolution phenomenon in the Middle East and North African area. Gadamer's will be used to reproduce the text into conclusion. Furthermore, the conclusion will correlates with McManus' theory about the new media tendency.


The analysis of the phenomenon shows that, a redefinition to the conventional mass media is a must, since it has no enough acceleration to spread the idea and being used by vested-interest..

Keywords: revolution, hermeneutics, mass media, social network


Pendahuluan


Sejak runtuhnya Uni Soviet pada tahun 1991, revolusi dalam skala besar lintas-negara tidak pernah muncul lagi setidaknya dalam kurun waktu dua puluh tahun. Revolusi yang diawali pada tahun 1989 dan lazim disebut dengan Fall of Communism tersebut melibatkan negara-negara dari Eropa Timur yang menyuarakan suara yang sama: akhiri pemerintahan komunis. Polandia, Hungaria, Jerman Timur, Cekoslovakia, Bulgaria, dan Rumania adalah beberapa contoh negara yang kala itu berhasil menggulingkan pemerintahan komunis yang notabene gagal dalam mensejahterakan masyarakatnya. Uni Soviet yang terlibat perang dingin dengan Amerika Serikat (AS) pun akhirnya menyerah dengan kondisi ini. Mereka memilih membubarkan diri karena koalisi tidak lagi kompak dalam mendukung eksistensi Blok Timur.

Menjelang tutup tahun 2010 atau hampir dua puluh tahun pasca Fall of Communism, terjadi demonstrasi besar-besaran di Tunisia, sebuah negara di Afrika Utara. Demonstrasi yang diwarnai oleh pembakaran diri (self-immolation) seorang demonstran bernama Mohamed Bouazizi tersebut menghendaki turunnya Presiden Zine Abidin Ben Ali dari jabatannya yang telah ia duduki sejak tahun 1987. Alasannya, Ben Ali dianggap bertanggungjawab atas pengangguran, korupsi, kesejahteraan yang buruk, serta minimnya kebebasan berbicara di Tunisia. Ben Ali pun akhirnya mengundurkan diri dan pergi ke luar negeri pada 14 Januari 2011 atau setelah demonstrasi berlangsung selama 28 hari.

“Keberhasilan” demonstrasi di Tunisia tersebut menginspirasi negara-negara di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara untuk menyuarakan perubahan. Terutama banyak diantara negara-negara tersebut dipimpin oleh rezim pemerintahan yang cukup lama seperti halnya Ben Ali di Tunisia. Hosni Mubarak di Mesir (30 tahun), Ali Abdullah Saleh di Yaman (memimpin 33 tahun), dan Muammar Ghadafi di Libya (42 tahun) merupakan contoh kepala negara yang diminta meletakkan jabatannya karena dianggap terlalu lama berkuasa dan tidak lagi relevan untuk memimpin negara diakibatkan oleh banyaknya persoalan yang melanda. Berbagai cara dilakukan pemerintah dalam meredakan demonstrasi di negaranya masing-masing, mulai dari cara damai hingga represif. Terdapat pula “kecurigaan” bahwa media online seperti internet berada “di balik layar” pengorganisasian para demonstran ini lewat pemberitaan yang cepat maupun himbauan-himbauan langsung via jaringan sosial. Di Mesir, hal yang pertama dilakukan pemerintah dalam meredakan demonstran adalah menutup akses internet dan membatasi pemberitaan media. Hal tersebut menunjukkan bahwa internet dianggap berperan penting dalam pembesaran eskalasi protes di Mesir. Langkah Mesir tersebut diikuti oleh negara-negara lainnya meskipun dapat dikatakan “terlambat” karena pemberitaan sudah terlanjur cepat. Selain itu, internet juga selalu mempunyai “celah untuk meloloskan diri” dari pembatasan-pembatasan semacam itu. Terbukti bahwa kondisi-kondisi di Timur Tengah dan Afrika Utara masih mampu kita ketahui hingga saat ini secara aktual.

Metode Penelitian

Kasus di Timur Tengah dan Afrika Utara tersebut akan dianalisis dari kerangka hermeneutika Schleiermacher dan hermeneutika Gadamer. Hermeneutika adalah metode penafsiran yang dahulunya digunakan untuk memahami kitab suci. Hermeneutika dikembangkan menjadi salah satu pendekatan terhadap berbagai fenomena yang lebih mengandalkan subjektivitas penafsiran dibanding independensi objek. Terdapat beberapa jenis hermeneutika, salah satunya hermeneutika dari Friedrich Schleirmacher (1768-1834). Hermeneutika Schleiermacher menekankan bahwa kebenaran penafsiran hanya dimungkinkan jika penafsir mampu memahami teks sebaik pengarang teks tersebut. Dalam arti kata lain, penafsir harus memahami situasi sosio-kultural, historis, biografis hingga psikologis si penulis teks. Hanya dengan itu, penafsir akan mampu memahami teks seutuhnya. Dalam penelitian ini, hermeneutika Schleiermacher digunakan untuk memahami “teks” yang diciptakan oleh fenomena di Timur Tengah dan Afrika Utara. Dalam hal ini peneliti akan mencoba “mengalami” fenomena di wilayah-wilayah tersebut dari sudut pandang sosio-kultural, biografis, historis, dan psikologis.

Hermeneutika berikutnya adalah dari Hans George Gadamer (1900-2002). Gadamer mengkritik Schleirmacher karena seharusnya teks bersifat produktif, bukan historis. Maka penafsiran hanya mungkin jika murni berdasarkan keadaan sosio-kultural, biografi, dan psikologi si penafsir. Bagi Gadamer, penafsiran ala Schleirmacher tidak hanya mustahil, tapi juga tidak bermanfaat. Kita sebaiknya tidak mengimitasi teks, melainkan justru memproduksi ulang menjadi pemikiran yang aktual dan segar. Hermeneutika Gadamer digunakan peneliti dalam memproduksi ulang pemikiran teks agar menjadi konklusi dalam artikel ini.

Untuk memperkuat konklusi, akan diambil teori dari John McManus tentang ciri-ciri media baru sebagai rujukan. McManus memaparkan adanya tendensi ke arah media baru yang bercirikan:
1. Teknologi yang dahulu berbeda dan terpisah seperti percetakan dan penyiaran sekarang bergabung.
2. Ada pergeseran dari kelangkaan media menuju media yang melimpah.
3. Ada pergeseran dari mengarah kepuasan massa audiens kolektif menuju kepuasan grup atau individu.
4. Ada pergeseran dari media satu arah kepada media interaktif.

Sejarah Singkat Internet

Internet pada dasarnya merupakan sebuah jaringan antar-komputer yang saling berkaitan. Jaringan ini tersedia secara terus menerus sebagai pesan-pesan elektronik, termasuk e-mail, transmisi data, dan komunikasi dua arah antar-individu atau komputer (Briggs & Burke, 2006 : 376).

Pada Februari 1958, Amerika Serikat mendirikan Advanced Research Projects Agency (ARPA) sebagai respon atas meluncurnya Sputnik oleh Uni Soviet setahun sebelumnya (Briggs & Burke, 2006 : 377). Internet merupakan kependekan dari interconnected networking. Keterhubungan jaringan dalam internet dimungkinkan oleh teknologi yang bernama Internet Protocol Suite atau biasa dikenal dengan TCP/IP. TCP/IP merupakan jaringan raksasa yang memuat jaringan privat, publik, bisnis, organisasi, atau pemerintahan, yang keseluruhannya terhubungkan lagi oleh teknologi seperti kawat tembaga, serat optik, dan koneksi nirkabel. Fungsi internet paling mendasar adalah saling memberikan transaksi informasi yang termuat dalam dokumen hyperlink dari World Wide Web (WWW). WWW ini memungkinkan pengguna internet untuk melihat halaman yang memuat berbagai informasi dalam bentuk teks, audio, maupun video. Pada awalnya, identitas halaman atau dokumen tersebut ditampilkan dalam bentuk angka-angka. Namun untuk kemudahan, WWW menyediakan nama domain, yakni identitas untuk sebuah dokumen atau rangkaian halaman dengan menggunakan alfabet. Nama domain ditandai oleh nama halaman dan diakhiri oleh kode seperti GOV, EDU, COM, MIL, ORG, NET, dan INT. Identitas yang telah dirangkaikan dengan WWW dan nama domain, dikenal dengan nama situs.
Meski ARPANET awalnya bergerak untuk kepentingan Departemen Pertahanan Amerika Serikat (AS), namun inovasinya akhirnya berkembang hingga keluar wilayah militer. Dalam tradisi AS, setiap teknologi baru diperkenalkan pada mulanya di lingkungan akademik kampus. Demikian halnya dengan internet, yang memulai publikasinya setelah empat puluh tahun berada dalam lingkungan internal ARPANET. Tepatnya pada pertengahan tahun 1990, internet mulai diujicobakan di kampus-kampus di AS. Akibatnya responnya yang cukup baik, komunitas internet segera bermunculan dari kampus-kampus tersebut, seperti Cleveland Free Net, Blacksburg Electronic Village, dan NSTN (Briggs & Burke, 2006 : 380).

Internet telah berkembang secara fenomenal, baik dari segi jumlah host computer maupun dari segi jumlah penggunanya, selama beberapa tahun terakhir. Salah satu pengukuran terbaik mengenai besarnya internet ini adalah jumlah host computer. Host computer adalah sebuah komputer yang menyimpan informasi yang dapat diakses melalui jaringan. Dari tahun 1995-1999, jumlah host computer meningkat mulai 5,9 juta menjadi 43,2 juta (Severin & Tankard, 2008 : 443).

Pelacakan jumlah pengguna internet cukup sulit dilakukan. Masing-masing perusahaan memakai metode berbeda dan memberikan hasil yang berbeda pula. Satu sumber industri melaporkan bahwa terdapat 83 juta pengguna Web di Amerika Serikat pada tahun 1999, naik 26% dari tahun sebelumnya. Penelitian lain menemukan bahwa lebih dari 79,4 juta orang dewasa, atau 38% populasi AS yang berusia 16 tahun ke atas, adalah pengguna internet pada bulan Maret 1999 (Severin & Tankard, 2008 : 434 – 433).

Internet menjadi sebuah medium berita baru pada bulan Januari tahun 1998 saat Matt Drudge menggunakan website untuk mengumumkan bahwa “Newsweek” telah menyembunyikan berita tentang keterlibatan Presiden Clinton dengan Monica Lewinsky di Gedung Putih. Tonggak penting lain bagi masyarakat untuk mendapatkan informasi terjadi pada 11 September 1998, ketika Start Report muncul di internet. Itulah saat pengaksesan tertinggi yang pernah terjadi melalui internet.

Jaringan Sosial: Facebook

Internet mengubah komunikasi dengan beberapa cara fundamental. Media massa tradisional pada dasarnya menawarkan model komunikasi “satu-untuk-banyak”, sedangkan internet memberikan model-model tambahan: “banyak-untuk-satu” (e-mail ke satu alamat sentral, banyaknya pengguna yang berinteraksi dengan satu website) dan “banyak-untuk-banyak” (e-mail, milis, jaringan sosial, dan komunitas maya).

Model ”banyak-untuk-banyak” tersebut salah satunya terlihat dari konsep komunitas maya atau virtual communities. Komunitas maya adalah komunitas-komunitas yang lebih banyak muncul di dunia komunikasi elektronik daripada di dunia nyata. Salah satu bentuknya yang paling awal adalah buletin komputer yang diakses dengan menyambungkan modem pada tahun 1970-an. Ruang chatting, e-mail, milis, dan kelompok-kelompok diskusi via elektronik adalah contoh baru tempat-tempat yang dipakai oleh komunitas untuk saling berkomunikasi.

Komunitas maya kemudian berkembang secara lebih luas menjadi jaringan sosial. Hal tersebut didorong situs bernama The WELL (lahir pada tahun 1985), Theglobe.com (1994), Geocities (1994) dan Tripod (1995) untuk mengembangkan teknologi yang memungkinkan antar jaringan untuk berdialog dengan respon yang lebih cepat (chatting). Dalam teknologi tersebut juga, masing-masing jaringan terkait memuat profil pribadinya sebagai identitas. Ketiga situs itu memelopori lahirnya situs jaringan sosial di dunia internet, yang dikembangkan dengan pesat pada kurun waktu tahun 2002 hingga 2004 oleh Friendster, MySpace dan Bebo. Situs jaringan sosial, pada dasarnya adalah situs yang memfasilitasi identifikasi pribadi secara lebih detil. Identitas tersebut kemudian dikoneksikan dengan identitas lain, yang kemudian lewat identitas lain itu, dapat dilihat jaringan identitas yang lebih luas. Lewat jaringan tersebut, para pengguna dapat bersosialisasi satu sama lain, yang dalam tingkat tertentu, mirip dengan kehidupan nyata. Hal tersebut yang membuat situs semacam ini dinamakan jaringan sosial.

Pada Februari 2004, Mark Zuckerberg, seorang mahasiswa Harvard menciptakan Facebook untuk kepentingan jaringan sosial internal kampusnya. Situs yang awalnya bernama The Facebook tersebut mendapat sambutan cukup baik di awal kemunculannya. Bulan pertama, hampir separuh mahasiswa Harvard menjadi anggotanya. Lewat bantuan rekan-rekan Zuckerberg yang bernama Eduard Saverin, Dustin Moskovitz, Andrew McCollum dan Chris Hughes, situs The Facebook dipromosikan untuk merambah kampus-kampus lain.

Maret 2004, The Facebook resmi digunakan di Universitas Stanford, Colombia, dan Yale. The Facebook tidak butuh waktu lama untuk memasuki sebagian besar universitas di Kanada dan AS. Karena pengaruhnya yang mulai besar, masih pada tahun yang sama sejak kelahirannya pada musim panas 2004, The Facebook resmi menjadi korporasi. Pada tahun 2005 The Facebook meresmikan nama domain facebook.com dengan harga US$ 200.000. Pada September 2005 Facebook mulai meluncurkan versi untuk anak sekolah menengah atas. Tak lama setelah itu, Facebook mulai membuka diri untuk perusahaan-perusahaan, yang mana dua pelanggan diantaranya adalah Apple Inc. dan Microsoft. Pada tanggal 26 September 2006 Facebook resmi membuka untuk umum, dengan syarat tiga belas tahun ke atas dan memiliki alamat e-mail.

Facebook memungkinkan penggunanya untuk saling memperbaharui status, memunggah foto dan video, serta mengirimkan pesan pribadi. Selain itu, Facebook juga punya fitur tambahan seperti game ataupun note, yang secara umum dapat digunakan untuk bersosialisasi di dunia maya. Untuk menjaga privasi, Facebook juga memiliki layanan untuk memilih pengguna mana yang bisa berteman dengan akun kita dan mana yang tidak. Jika ada yang kurang berkenan, Facebook juga menyediakan layanan untuk menghapus pengguna tertentu dari daftar pertemanan kita. Facebook juga menyediakan berbagai elemen dalam fiturnya yang dimungkinkan untuk dikomentari apapun oleh pengguna lainnya yang masuk daftar pertemanan kita.

Dengan jumlah pengguna saat ini yang mencapai 250 juta orang di seluruh dunia, Facebook disebut dalam penelitian compete.com (Januari 2009) sebagai jaringan sosial teratas dalam hal jumlah anggota. Peringkat tersebut mengalahkan tiga pelopor situs jaringan sosial yakni Friendster, MySpace, dan Bebo. Sebuah riset yang dilakukan oleh GSM Association mengumumkan, rata-rata pengguna Facebook menghabiskan sekitar tiga puluh menit dalam satu hari hanya untuk melihat status teman jaringan mereka (Hendroyono, 2009 : 14).

Berkat kepopuleran situs ciptaannya, Zuckerberg menjadi miliarder termuda di dunia. Forbes memperkirakan kekayaannya mencapai US$ 1,5 miliar. Majalah Time juga memasukkan Zuckerberg dalam daftar seratus orang yang berpengaruh di muka bumi pada 2008. Craig Newmark, pendiri situs iklan baris Craiglist, menyebut Zuckerberg telah menemukan sarana jaringan sosial yang lebih dari sekedar merefleksikan kehidupan (Hendroyono, 2009 : 25).

Contoh kasus yang populer berkaitan dengan penggunaan Facebook adalah kampanye Barrack Obama untuk meraih kursi Presiden Amerika Serikat. Obama memanfaatkan Facebook untuk menggalang massa dan mengorganisasi komunitas-komunitas yang tergabung dalam Facebook. Setelah resmi menduduki kursi presiden, Obama masih menggunakan Facebook sebagai alat komunikasi di tempatnya berkantor, Gedung Putih. Gedung Putih membuka diri bagi komunitas manapun untuk menjadi teman di Facebook. Selain itu, perkembangan pesat Facebook juga pernah menimbulkan gagasan dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk mengharamkan penggunaannya, karena dikhawatirkan dapat merusak akhlak penggunanya dan berpotensi menjadi pendukung pergaulan bebas. Terdapat juga kasus lain, semisal peneliti dari Ohio State University, Aryn Karpinski, mengungkapkan bahwa Facebook dapat membuat nilai seorang pelajar menurun. Hal tersebut disimpulkan setelah melakukan penelitian terhadap 219 pelajar Amerika Serikat, baik yang masih duduk di bangku sekolah maupun yang sudah di tingkat universitas (Hendroyono, 2009 : 26). Di Indonesia, perkembangan pengguna Facebook mencapai 1.048.334 pada Maret 2009. Angka tersebut mengalahkan pengguna dari negara ASEAN yang lain.

“Revolusi Media Massa”

Revolusi Mesir adalah pergerakan yang cukup populer pasca Revolusi Tunisia, sasarannya adalah Hosni Mubarak yang telah berkuasa selama tiga puluh tahun. Demonstrasi berlangsung selama delapan belas hari dari mulai 25 Januari hingga 11 Februari 2011. Tergulingnya Mubarak semakin meyakinkan banyak negara-negara lain yang serumpun, menunjukkan bahwa legitimasi kekuasaan berasal dari rakyat, maka itu penggulingan juga bisa dilakukan oleh rakyat. Yaman, Yordania, Libia, Aljazair dan Pakistan kemudian lambat laun memulai pergerakan rakyatnya untuk merevolusi keadaan lewat pergantian kepemimpinan. Negara Non-Arab seperti Cina cukup khawatir dengan fenomena ini, terlebih rezim komunis negara tersebut berkuasa sejak tahun 1949. Ada upaya pembatasan pemberitaan tentang situasi Timur Tengah dan Afrika Utara di Cina, agar masyarakat tidak terinspirasi untuk melakukan revolusi.
Media massa selalu memegang peranan dalam segala proses “penyeragaman aspirasi”. Yang menarik –dan juga paradoks-, media massa sesungguhnya tidak hanya melakukan homogenisasi atas yang heterogen, tapi juga heterogenisasi atas yang homogen. Homogenisasi atas yang heterogen terlihat dari contoh kiprah tim nasional Indonesia di Piala AFF 2010 lalu. Lewat pemberitaan yang gencar oleh media massa, masyarakat dipersatukan lewat tema nasionalisme. Apa yang tadinya terkotak-kotakan menjadi satu di bawah payung bela-negara. Tak hanya itu, media massa juga dapat mengkotakan apa yang tadinya sudah bersatu. Dengan media massa, masyarakat menjadi punya selera yang beragam. Iklan-iklan di televisi, radio, hingga majalah menunjukkan pencitraan yang berbeda-beda, menunjuk pangsa pasar yang berbeda, memenuhi kebutuhan yang berbeda, hingga menciptakan kebutuhan-kebutuhan yang baru. Media massa yang menyuguhkan hal yang beragam, telah menciptakan selera-selera pasar hingga selera-selera individu. Maka itu yang tadinya homogen menjadi heterogen.

Internet adalah bagian dari fenomena keberagaman individu. Lewat internet, kita disuguhi pengetahuan bahwa individu begitu unik, sekaligus diberi kesempatan bagi kita untuk menunjukkan keunikan pribadi. Meski demikian, status internet sebagai media massa belum banyak diakui pakar komunikasi dewasa ini. Hal tersebut disebabkan adanya syarat media massa yang mengharuskan beberapa hal seperti komunikator yang terlembagakan, umpan balik tertunda, serta komunikasi bersifat satu arah. Hanya saja, definisi tersebut seolah “mengarahkan” media massa terbatas pada koran, radio, dan televisi, bukan justru melihat fenomena perubahan dan melakukan re-definisi. Pada mulanya, media massa yang diakui sebagai pelopor, yakni mesin cetak Gutenberg di Era Renaisans Eropa, mempunyai satu substansi: Menyebarkan ide yang seragam pada khalayak.

Teknologi yang belum secanggih hari ini, membuat proses penyampaian pesan oleh media massa membutuhkan organisasi yang kompleks dan pembagian kerja yang runut. Selain itu, komunikasi bersifat satu arah karena ketiadaan akses. Massa tidak bisa langsung merespon berita-berita yang ada di media massa, karena kenyataan bahwa media massa itu sendiri memang mendoktrinasi visual dan teks. Tidak ada peluang dialog disana. Inilah kemudian yang disalahgunakan oleh pemerintah-pemerintah diktator hampir dimanapun untuk melakukan propaganda. Pemerintahan Nazi Jerman di pertengahan abad ke-20 misalnya, menyadari pentingnya media massa dalam mengontrol masyarakat. Maka itu mereka menciptakan departemen propaganda secara mandiri di bawah pimpinan Joseph Goebbels. Lewat departemen tersebut, Nazi mendoktrinasi masyarakat dengan ide-idenya tentang kedigjayaan ras Aria dan rendahnya ras Yahudi. Ada pemeo menarik yang dianut Goebbels saat itu, “Seribu kebohongan akan menjadi satu kebenaran.” Demikian halnya dengan media massa di Cina era Mao Zedong (1949 – 1976) dimana berita hanya diperkenankan mendukung pemerintahan komunis Cina. Hal ini juga terjadi di Indonesia era Orde Baru yang melakukan pembredelan terhadap media massa yang tidak pro-pemerintah.

Kembali ke revolusi di Timur Tengah dan Afrika Utara, peran internet terutama Facebook adalah hal yang krusial. Lewat Facebook, masyarakat menjadi mengetahui adanya berbagai hal yang tidak diberitakan media massa nasional yang cenderung propagandis dan pro-pemerintah. Selain itu, Facebook juga bisa menyebarkan ide yang seragam pada khalayak –sebagaimana halnya mesin cetak Guttenberg- dengan cepat dan dalam hitungan detik. Dalam berbagai sumber, ditemukan bahwa revolusi di Timur Tengah dan Afrika Utara dimulai dari wacana-wacana yang diletupkan di jaringan sosial tersebut, yang lantas menyebar dalam waktu singkat dan ditanggapi secara serius. Menurut pemberitaan www.wartanews.com pada 27 Februari 2011, kala revolusi Mesir dilaporkan terdapat 32.000 grup (Facebook group) dan 14.000 laman (Facebook page) yang terlibat dalam revolusi 25 Januari 2011. Pemerintah militer juga diketahui mulai menggunakan Facebook untuk menjangkau muda-mudi di Mesir. Pasca pengunduran diri Hosni Mubarak dari kursi presiden, terdapat grafiti besar di sudut ibukota Kairo yang bertuliskan'Terima Kasih Facebook'. Pada titik ini, status internet sebagai media massa adalah hal yang tidak diragukan lagi. Berdasarkan ciri-ciri media baru menurut McManus, peran Facebook menjadi sangat sesuai. Hal tersebut juga didorong oleh beberapa analisis sebagai berikut:

1. Media massa konvensional dengan cirinya yang terlembagakan, seringkali disalahgunakan untuk kepentingan tertentu. Media massa tidak lagi menyampaikan kebenaran, melainkan menciptakan kebenaran. Terlebih jika media massa telah dikontrol pemerintah dan digunakan untuk menyebarkan ide-ide propaganda pemerintah. Hal tersebut sangat mungkin dilakukan karena tiadanya komunikasi dua arah.

2. Facebook sangat menghargai pendapat-pendapat individu, sehingga jika kemudian terjadi pengerucutan suara, maka hal tersebut berasal dari akumulasi suara individu. Hal tersebut menghindari propaganda-propaganda sepihak yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Pengerucutan suara datang dari proses dialektik.

3. Facebook punya kecepatan yang sangat tinggi dalam menyebarkan berita. Hal ini membuat media massa konvensional selalu ketinggalan langkah.

Slavoj Zizek, seorang filsuf kontemporer dari Slovakia, sama sekali tidak melihat revolusi Timur Tengah dan Afrika Utara ditunggangi kepentingan tertentu. Hal tersebut murni suara hati rakyat, dan pemimpin manapun patut mendengarkannya dengan seksama. Satu-satunya “penunggang” revolusi barangkali adalah Facebook, yang tak lebih dari pertemuan aspirasi dari rakyat itu sendiri. Dalam setiap teknologi tentu saja mempunyai kelemahan dan efek samping pada dehumanisasi. Tapi sejauh ini kita sama-sama saksikan sebuah fenomena yang barangkali akan menjadi sejarah penting peradaban dunia, bahwa revolusi dimulai dari Facebook. Tidak ada lembaga di belakangnya, tidak ada kepentingan tertentu kecuali suara hati nurani itu sendiri.

Simpulan

Diperlukan peninjauan ulang terhadap media massa dewasa ini, terutama melihat fenomena yang terjadi. Meskipun media massa konvensional tetap memegang peranan, namun media massa baru yang dipelopori oleh internet, terbukti lebih cepat dalam menyebarluaskan informasi. Dengan demikian, berdasarkan empat poin ciri-ciri media baru menurut McManus, maka media massa sekarang ini perlu mengalami beberapa penyesuaian, yaitu:

1. Syarat media massa mesti mempunyai komunikator terlembagakan tidak lagi relevan. Komunikator terlembagakan ini berubah bentuk menjadi provider, yaitu penyedia layanan internet. Kompleksitas pengiriman pesan ada pada provider. Provider ini memfasilitasi pengguna internet untuk saling berkomunikasi. Namun komunikasi itu sendiri berlangsung bebas dan tidak melalui proses-proses berliku seperti editing, layout, percetakan, hingga distribusi sebagaimana halnya media massa konvensional.

2. Media massa tidak lagi mesti dibatasi ciri-cirinya secara kaku dan ketat. Karena kenyataan bahwa segala fenomena yang terjadi menjadi sangat mungkin untuk dimassalkan. Istilah ruang publik dan ruang privat tidak lagi relevan akibat melimpahnya media massa. Yang esensial bukan lagi ciri-ciri media massa, melainkan justru pengaruh-pengaruh riilnya terhadap kehidupan sehari-hari.

3. Media massa dewasa ini adalah ruang interaktivitas maha luas. Di dalamnya manusia bisa berinteraksi satu sama lain secara nirbatas. Sehingga media massa sebagai bentuk komunikasi satu arah perlu ditinjau ulang. Pemberitaan-pemberitaan media bisa langsung mendapat tanggapan, koreksi, revisi, bahkan pemutarbalikan dari pembacanya. Dalam hal ini kebenaran menjadi sulit sekali dirumuskan. Semuanya menjadi benar, sekaligus tidak benar. Manusia saat ini menjadi hyper-informatized society, yaitu komunitas yang kelebihan informasi. Maka itu kredibilitas perusahaan televisi, koran, dan radio tidak bisa menjadi acuan tunggal sebagaimana halnya era media massa lampau. Saat ini manusia itu sendiri mesti lebih arif menyikapi dan menggunakan daya kritis terus menerus untuk menyaring informasi.

*) Alumnus Departemen Hubungan Internasional Universitas Katolik Parahyangan, Bandung. Staf Pengajar Mata Kuliah Logika di Universitas Padjadjaran, Bandung. Saat ini sedang menyelesaikan studi magister dalam bidang ilmu komunikasi di Universitas Padjadjaran.


Daftar Pustaka

  • Ardianto, Elvinaro dkk. 2007. Komunikasi Massa Suatu Pengantar. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.
  • Briggs, Asa & Burke, Peter. 2006. Sejarah Sosial Media: Dari Gutenberg sampai Internet. Terjemahan A. Rahman Zainuddin. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
  • Hedroyono, Tony. 2009. Facebook Haram. Yogyakarta: B-First.
  • Severin, Warner J. & James W, Tankard, Jr. 2008. Teori Komunikasi: Sejarah, Metode, & Terapan di Dalam Media Massa. Terjemahan Sugeng Hariyanto, Jakarta: Kencana.
  • Team Ninja. 2009. Facebook: untuk Semua Orang, untuk Semua Urusan. Bandung: Jasakom.
  • Bayi diberi nama Facebook. Melalui http://www.wartanews.com/read/Internasional/3e8da930-3cf0-1f49-3242-096e26ffc3ba/Bayi-Diberi-Nama-Facebook
  • http://en.wikipedia.org/wiki/Facebook
  • http://en.wikipedia.org/wiki/2010%E2%80%932011_Tunisian_revolution
  • http://en.wikipedia.org/wiki/Revolutions_of_1989

Previous Post
Next Post

0 comments: