Sunday, June 5, 2011

The Invention of Lying dan Ketiadaan Agama


Bayangkan sebuah dunia tanpa kebohongan. Semua orang berkata jujur, semua orang berkata langsung tentang apa yang dipikirkannya. Efeknya, tiada karya sastra, tiada rayuan, dan yang paling menarik: tidak ada agama.

Kisah ini adalah tentang Mark Bellison, seorang pecundang yang lahir di tengah umat manusia yang tidak mengenal konsep bohong. Ia penulis skenario film yang gagal, hampir dipecat, dan dianggap tidak menarik oleh teman kencannya, Anna. Seperti misalnya, dalam pertemuan pertama Mark dengan Anna, langsung disambut dengan, "Kamu tidak menarik, jangan harap aku mau tidur denganmu setelah kencan." Termasuk ketika pelayan restoran menawari menu pada Mark dan Anna, ia memulainya dengan, "Aku malu dengan pekerjaan ini." Begitulah dunia tanpa kebohongan. Orang mengatai seseorang jelek, buruk, payah, dengan amat terang-terangan di hadapannya. Perubahan dimulai ketika Mark mendapat "wahyu" di bank. Kala itu ia hanya punya 300 dollar di rekening dan ingin menarik semuanya. Tapi "lewat sebuah suara yang menyuruhnya", Mark menyebut 800 dollar, dan ia tetap mendapatkannya tanpa kesulitan sedikitpun.

Itulah kebohongan pertama dalam sejarah umat manusia. Mark memanfaatkan kemampuannya tersebut untuk banyak hal. Mulai dari membuatnya menjadi seorang penulis skenario film sukses, mengajak bercinta seorang wanita, memberi harapan bagi orang-orang di panti jompo, hingga -yang krusial- memberi cerita tentang apa yang terjadi pada manusia setelah kematian pada ibunya yang sekarat. Untuk menghibur ibunya yang ketakutan, Mark bercerita bahwa pada situasi afterlife, ia bisa bertemu dengan orang-orang yang dicintainya. Sejak itu, Mark jadi terkenal, masuk berita, dan orang-orang berebutan untuk minta diceritakan apa yang terjadi pasca kematian. Mark bercerita dengan lantang tentang harapan-harapan pasca mati, termasuk adanya pertemuan dengan Man in The Sky yang mengatur segala nasib umat manusia.

Ketiadaan Agama
Satu yang menarik tentang dunia-tanpa-kebohongan adalah berdampak pada ketiadaan agama. Ini merupakan konsep penting karena kebenaran menurut Bertrand Russell adalah harus selalu bersifat korespondensi dengan indrawi. Sedangkan agama sesungguhnya tidak punya korespondensi apapun secara empiri. Ia lahir dalam bentuk imajinasi, tapi diceritakan seolah-olah riil dan indrawi. Meskipun secara logikal demikian, agama sesungguhnya tidak sesederhana itu. Saya akan membuat analogi tentang agama:

Agus membeli telur, tepung terigu, soda kue, gula pasir, dan vanila. Ia ingin membuat sesuatu yang "belum pernah ada". Dengannya ia bereksperiman belasan hingga puluhan kali hingga mendapatkan suatu kue yang "belum pernah ada". Dinamailah kue itu dengan bolu kukus. Pertama di dunia.

Bolu kukus yang enak itu mendapat tempat di hati banyak orang. Dan ketika semua orang bertanya bagaimana membuatnya, Agus bingung. Ia mendapati bahwa keseluruhan proses membuat bolu kukus itu adalah hasil eksperimen berulang-ulang yang barangkali tiada polanya. Tapi demi kemaslahatan umat manusia, ia menuliskannya dalam apa yang dinamakan resep. Resep itu kemudian dibagikan pada semua orang dan jadilah semua orang bisa membuat "bolu kukus Agus". Hanya kemudian yang Agus sesali adalah, semestinya ia tak usah membuat resep. Karena yang esensial dari bolu kukus adalah bukan semata-mata resepnya, tapi proses eksperimentasinya itu sendiri. Setiap orang seyogianya mengalami "ledakan percampuran" telur, tepung terigu, soda kue, gula pasir, dan vanila itu dalam pengalamannya sendiri.

Artinya, agama berpotensi kebohongan hanya jika diceritakan. Namun dalam pengalaman transendental individu, agama selalu hadir menjadi obat penawar kegelisahan manusia atas banyak misteri kehidupan. Dalam film The Invention of Lying tersebut, agama menjadi punya makna ketika tiada satupun manusia yang tahu kemana mereka pergi pasca mati. Mark Bellison adalah seorang pembohong, berkata sesuatu yang tidak ada dalam kenyataan dan tidak pernah tercerap sedikitpun oleh indra. Saya tidak akan dengan terang-terangan menuduh para Nabi yang memberikan utopia pasca mati sebagai sekumpulan para pembohong seperti Mark. Saya akan lebih menyoroti bahwa manusia, dalam hakekat terdalamnya, jangan-jangan memang sekumpulan makhluk konkrit yang membenci kekonkritan. Sekumpulan makhluk riil yang membenci realitas. Seperti argumen Prof. Ramachandran tentang mengapa manusia menciptakan seni: Hanya karena tiada satu manusiapun yang menyukai kenyataan sejati yang hadir telanjang di hadapannya. Kita semua gembira kalau dibohongi!
Previous Post
Next Post

2 comments:

  1. haha emang adegan dia yg seakan2 jd "nabi" itu yg paling nendang... :D

    ReplyDelete