Selasa, 31 Mei 2011

Percakapan Singkat di Meja Makan

Ketika saya mengatakan, "Pak, Bu, kami berencana menikah," tatapan Papap berubah. Ia tak lagi memandang kami yang berada di hadapannya. Ia melihat ke balik bola matanya, kepada timbunan kenangan lama yang terbujur dalam sunyi. Papap berbicara bukan sebagai ayah berusia enam puluh, tapi bak pemuda seumuran kami yang gairah kehidupannya masih menyala-nyala.

"Kami bersyukur atas niat kalian. Tapi tunggulah sampai saya selesai berpameran. Setelah itu baru kita mulai mempersiapkan, agar kalian bisa sejahtera sentosa untuk ke depannya."

"Tahun depan akan lebih baik. Menikah berarti menerjang badai dalam lautan, siapkan layar yang kuat."

Papap, dalam wujud pemudanya, mengingat dengan jelas ketika ia mengutarakan niat menikahi Mamah. Nini bertanya dengan lembut setelah pemuda bernama Wawan itu mendatangi kediamannya dengan api yang menyala-nyala di mata, "Wan, kamu sudah punya apa?" Wawan menjawab dengan percaya diri, "Saya punya niat baik." Nini merespon bersama senyum yang mengembang, "Itu sudah lebih dari cukup."

Pemuda bernama Wawan itu, yang hari ini sudah berusia enam puluh, percaya bahwa hidup adalah untuk diwariskan. Bahwa selalu ada secuil keinginan dalam dirinya agar siapapun penerusnya bisa mengimitasi sebagian saja dari hidupnya. Bahwa kebaikan tertinggi adalah kepercayaan bahwa dunia masih akan berjalan untuk waktu yang lama, maka itu jika saya yang gagal memperbaikinya, biarkan anak cucu yang kelak punya kekuatan untuk menjadikannya lebih baik.

Papap yang bola matanya kembali ke meja makan tempat kami duduk, berkata seperti ia sudah gembira telah berjumpa dirinya di masa muda, "Sekian pembicaraan hari ini. Cuma itu yang bisa saya katakan, saksinya kue lapis dan cangkir kopi di meja ini."
Previous Post
Next Post

1 komentar:

  1. Semoga pernikahannya pun lamanya tidak sesingkat pembicaraannya. Amen!

    BalasHapus