Minggu, 15 Mei 2011

Etika Paradoks

Bayangkan bayangkan. Di tengah ancaman MSG yang merusak pertumbuhan otak anak serta polusi kendaraan yang makin memprihatinkan, ada anak yang -atas dasar titah orangtuanya- membawa bekal makanan dari rumah untuk ke sekolah. Makanannya itu berisikan pure kentang dan tumis brokoli, menandakan kandungan kesehatan tingkat tinggi. Setiap bel istirahat berbunyi, yang ia ingat hanya membuka bekalnya dan makan di kelas. Kata mama, "Jangan jajan di sekolah, kotor, berbahaya, mending makan masakan mama, bersih, sehat." Dari banyak sudut pandang, gaya seperti ini jelas mengandung kebaikan. Pertama, higienis, dan yang kedua, ekonomis. Jelas jajan seringkali jatuhnya lebih mahal daripada memasak sendiri.

Hari Minggu, tanggal 15 kemarin, di sela-sela acara Crafty Days Tobucil, saya menyempatkan diri ngobrol dengan tukang teh botol yang rajin nongkrong di samping SMA saya dulu. Kebetulan, setiap ada even di Tobucil, dia selalu duluan booking tempat di sana. Berbeda dengan di masa SMA saya dulu, sekarang ini si Mang Dedi berwajah muram. Isi obrolannya cuma curhat keluhan demi keluhan, "Rip, sekarang mah ripuh dagang di Taruna Bakti teh. Barudak pada bawa bekel. Jadi gak ada yang beli ke samping." Lalu lanjut Mang Dedi, dengan tanggungan satu anak, ia berkata bahwa jika keadaan begini terus, bukan tidak mungkin ia menjadi tidak sanggup membiayai keluarganya.

Kedua kejadian di atas, bukan berlangsung sekonyong-konyong dalam situasi kausalitas, melainkan bersamaan, nyaris bersamaan. Atau bayangkan kalian sedang diwisuda, mengukuhkan diri sebagai anak bangsa yang berpendidikan dan paripurna. Menjalani wisuda artinya bertambah lagi satu orang manusia yang siap bermanfaat bagi agama dan negara. Tapi tidakkah kalian membayangkan bahwa disaat yang persis sama, acara wisuda itu sendiri menimbulkan kemacetan luar biasa, sehingga supir angkot mencela-cela? Sehingga supir angkot kehilangan kesempatan mencari nafkah dan siapa tahu ibunya sedang sakit di rumah? Atau saya ingat dalam peristiwa umrah tahun lalu, bapak saya kecopetan uang tiga ratus riyal di pelataran Masjidil Haram, sebuah wilayah yang dipercayai penuh kebaikan akan statusnya sebagai rumah Tuhan.

Dalam perjalanan sejarah filsafat Barat, banyak sekali pemikir yang merenungkan soal etika, atau hakekat kebaikan. Yang paling terkenal tentu saja Kant. Ia yang merumuskan bahwa sesungguhnya ada yang dinamakan etika universal. Ia memberi contoh, bagaimana jika kau menyembunyikan temanmu di rumah, padahal ia sedang dicari-cari polisi untuk sebuah urusan kriminal yang serius? Ketika polisi datang menanyai, apa yang kamu lakukan? Etika Kantian memberi solusi: universalkan masing-masing kejadian, dan jawab olehmu, mana yang lebih baik? Bayangkan jika semua orang di dunia menyembunyikan temannya di rumah meski ia jahat, dan bayangkan pula jika semua orang di dunia memberikan siapapun yang jahat pada polisi, mana kira-kira yang membuat dunia lebih baik?

Lupakan Kant. Karena etikanya betul-betul tidak bisa menjawab pelbagai situasi-situasi di paragraf awal. Bahwa sesungguhnya, Kant, tiada etika universal, bagi saya. Sesuatu yang baik, selalu mengandung keburukan di dalamnya, dalam waktu dan kadang tempat yang persis bersamaan. Paradoks.
Previous Post
Next Post

0 komentar: