Senin, 25 April 2011

KlabKlassik Edisi Playlist: Merayakan Runtuhnya Subjek-Objek

Edmund Husserl (1859-1938), seorang matematikawan asal Jerman, suatu hari pernah merumuskan demikian: Bahwa dunia keilmuan masa itu, dengan segala dalil subjek-objeknya, justru telah gagal menjelaskan dunia keseharian (lebenswelt). Ilmu positif telah gagal menjelaskan pernyataan-pernyataan personal seperti, "Hari yang sendu," "Air yang suci," "Cinta yang mendalam," hingga "Tuhan yang dekat denganku." Para saintis lupa bahwa dalam dunia keseharian, apa yang dialami oleh subjek sebagai ada, itu justru yang lebih esensial ketimbang dunia yang dikonstruksi oleh distingsi subjek-objek yang miskin. Pak Bambang pernah mencontohkan pemikiran Edmund Husserl ini dengan sangat baik. Bahwa air, bagi dunia positif dirumuskan dalam H20. Tapi fenomenologi (ilmu yang kemudian dikembangkan oleh Husserl), mengatakan bahwa sah-sah saja jika air kemudian mempunyai makna yang berbeda-beda bagi individu yang berbeda-beda pula. Air bisa sangat luas, bisa sangat personal maknanya, mulai dari berwudhu hingga penyembuhan. Air yang disepahamkan lewat H20 dianggap Husserl sebagai pemiskinan terhadap makna air itu sendiri.

Mari kita menjauh sedikit dari Husserl, dan membahas apa yang kami lakukan di setiap hari Minggu, minggu keempat. Kami berkumpul dalam satu forum, meminta masing-masing orang untuk membawa satu lagu favoritnya dalam format flashdisk. Setelah dikumpulkan lagu-lagu tersebut dalam satu laptop, kami putar satu per satu, didengarkan dengan seksama, dikomentari sekenanya. Selesai.


Adakah yang istimewa? Tergantung dari sudut pandang mana kau memandangnya. Tapi mari kaitkan dengan fenomenologi Husserl di paragraf pertama, dan mari berkaca pada realitas bagaimana musik diperlakukan hari ini. Musik, bagaimanapun telah menjadi salah satu objek akademik yang maju cukup pesat sejak era Romantik Eropa. Ia sukses dipelajari, dibedah, diilmiahkan, diobjektivikasi dan disepahamkan. Sebelumnya, musik hanya digunakan untuk dua kepentingan besar: religi dan hiburan. Seiring perkembangan media massa, musik pun menjadi ikut-ikutan massal. Ia diproduksi dalam piringan dan bit-bit data, disebarluaskan dan dibunyikan dimanapun tempat-tempat yang punya pemutar: mobil, mal, diskotik, bioskop, hingga ruang perkantoran.

Masifikasi memang selalu bertentangan dengan eksklusifitas. Yang massal menenggelamkan keunikan. Musik menjadi sesuatu yang "terlampau biasa". Dalam keseharian, kita bisa mendengarkan mulai dari Bach hingga Justin Bieber tanpa mampu difilter. Ia menubuh dalam gerak rutinitas kita dan terkadang bermukim dalam bawah sadar. Namun kemudian hal itu bukan sesuatu yang buruk. Karena dengan berpadunya musik dan keseharian, artinya ada musik-musik tertentu, bagi individu tertentu, yang begitu lekat dengan hari-harinya. Saya ingat betul masa-masa SMP dan SMA adalah masa dimana Metallica adalah musik pertama yang harus didengarkan sewaktu bangun tidur, dan musik terakhir yang wajib disetel sebelum terlelap. Saya juga tidak bisa begitu saja mengejek lagu-lagu request dari pengantin yang rata-rata seputar From this Moment, I Finally Found Someone, atau Lucky. Karena bagi individu-individu tersebut, barangkali sang lagu punya nilai sejarah yang tak bisa diobjektivikasi dengan cara apapun. Ia berharga tinggi karena sejarahnya itu sendiri. Seperti halnya kaos sepakbola saya yang bernomor punggung 19 waktu SMP. Masih saya simpan dan meskipun kelak saya masuk tim AC Milan, saya tidak akan sekali-kali membuangnya.

Fenomenologi Husserl pada akhirnya berupaya keras meruntuhkan sekat subjek-objek yang telah mendominasi dunia ilmiah Barat sejak era Cartesian. Ia berusaha mengembalikan segala sesuatu pada keseharian, "yang benar adalah yang dekat". Ia berusaha mengritisi bahwa upaya penyepahaman adalah upaya yang sia-sia karena patut kita curigai bahwa ada klaim kekuasaan disana.

Sehingga para pengikut sekte edisi Playlist, tak perlu khawatir kelak ada upaya penyepahaman dari kami. Sesungguhnya musik yang kalian bawa adalah bagaikan baju piyama yang kalian pakai sebelum ke peraduan. Ia milik pribadi, ia bagian dari darah daging kalian sendiri. Datanglah hanya untuk menunjukkan inilah piyama saya yang lusuh. Terserah kalian mau meniru coraknya, mencontoh modelnya, atau bahkan mengatai kotor tentangnya, yang penting piyama ini berarti bagi saya.

Continue reading

Minggu, 17 April 2011

Dari Kakek pada Cucunya

Dari Kakek pada Cucunya
Baguslah nak, kau suka sepakbola. Kau rajin begadang hingga terlambat sekolah. Sekarang duduklah disini di teras sambil menanti partai malam ini. Kakek akan cerita tentang tim terbaik sepanjang masa. Kau, nak, tak mungkin tak tahu Barcelona, (secara) itu tim favoritmu. Barcelona hari ini, selalu kalah dari Real Madrid. Mereka kerap berperingkat dua. Akan kakek ceritakan bagaimana Barcelona dahulu, tahun 2000-an kala kakek muda.

Mereka bukan pesepakbola, nak. Mereka adalah sekelompok anak muda yang bermain bola bersama. Kau tahu bedanya? Ya, mereka mencintai permainannya. Hati mereka ada di kaki-kakinya. Kakek ingat bagaimana mereka masa itu berjaya. Madrid mengeluarkan triliunan rupiah namun tetap sulit menumbangkannya. Kakek ingat masa itu ada pemain bernama Cristiano Ronaldo dari Madrid yang belagunya minta ampun. Ia sempat jadi pemain terbaik dunia, namun di hadapan putra-putra Catalonia ia nyaris tak berdaya, kalau kakek boleh sebut tak bernyawa.

Pelatihnya bernama Pep Guardiola yang sekarang berusia delapan puluh lima. Ia memainkan sepakbola bernama tiki taka yang membuat pemirsa tergila-gila. Apakah itu tiki-taka? Sebuah taktik dimana mereka harus mengoper bola ratusan kali dalam satu pertandingan. Lihat sepakbola jaman kamu sekarang, nak. Tim ingin mencetak gol secepatnya. Dari bek atau gelandang operan dilepaskan sekuat mungkin ke barisan penyerang. Tim hari ini lupa bagaimana menikmati bola di kaki. Dahulu para anak Catalan menggilirkannya bergantian bagai anak jalanan berbagi uang recehan.

Sekarang Xavi, Messi, Iniesta, dan Busquets, kau tahu, adalah pelatih-pelatih sukses, kecuali Messi. Dahulunya mereka adalah nabi-nabi Katalunya. Mereka para punggawa tiki-taka. Mereka bermain bersama sejak belia, sehingga kau akan merasakan bahwa dalam pertandingan sepanas apapun mereka bak bercanda belaka. Tertawa-tawa.

Kakek tidak menampik hebatnya Em-Yu hari ini, Liverpool, ataupun Napoli di Italia. Tapi bagi kakek, tim terhebat sepanjang masa adalah Barcelona ketika kakek masih menyaksikan mereka di TV One (sekarang sudah bangkrut) dengan mata kepala sendiri. Kakek tertawa bersama mereka, dan juga menangis bersamanya. Mereka bagai kawan-kawan kakek, yang tak henti-hentinya mengajarkan bahwa yang terpenting dari hidup ini adalah menyadari bahwa segalanya adalah permainan. Maka pilihan kita cuma dua, nak: mau bermain serius, atau bermain dengan gelak tawa.

Kembali ke televisi, nak, El Clasico akan segera dimulai. Kakek mau tidur dulu. Mengenang Barcelona masa lalu.



(Terinspirasi Uwa yang selalu bercerita tentang Ruud Gullit ketika saya kecil. Ruud Gullit yang jika melompat untuk menyundul, bagai busur panah yang merentang. Demikian beliau bermetafor.)




Continue reading

Senin, 04 April 2011

Masih Pentingkah Sekolah?

Masih Pentingkah Sekolah?
Jika bicara sekolah, maka kita sepakat sedang membicarakan suatu lembaga pendidikan. Namun membicarakan sekolah juga, mesti disepakati kita tengah membicarakan unsur yang mana, berhubung sekolah bukanlah sejenis persona, melainkan suatu sistem besar dan rumit. Isinya ada administrasi, fasilitas, staf, guru-dosen, siswa-mahasiswa, sistem belajar mengajar, sistem kelulusan, dan lain sebagainya. Sekolah di Indonesia juga jelas berbeda dengan sekolah di Prancis misalnya, dalam banyak segi. Dalam tulisan ini, ketika saya menyebut kata "sekolah", maka saya bermaksud membicarakan sistem belajar mengajar dan sistem kelulusannya. Dan berhubung saya tidak banyak tahu tentang sekolah di luar Indonesia, maka taruhlah setiap kata sekolah adalah mengacu pada sekolah di Indonesia.

Selesai menamatkan strata satu dan strata dua dalam beberapa tahun terakhir ini, saya mulai merenungkan arti sekolah. Apa pentingnya? Adakah saya bertambah pintar, sesuai cita-cita dulu saya masuk SD pertama kali? Yang pasti gara-gara sekolah saya jadi bisa bekerja, dari situ saya mempunyai uang, dan bisa menggemukkan badan serta bersenang-senang. Tapi mestinya ada hasil yang lebih dari yang terakhir itu, pertanyaannya: Adakah?

Di tengah kemelut pertanyaan itu, muncul serangan-serangan dari berbagai pihak terhadap peran sekolah. Sekolah dituduh sebagai sumber indoktrinasi, pengetahuan linear, dan anti-kritik. Di sekolah kita diajari bagaimana menganggap guru sebagai sumber pengetahuan satu-satunya melampaui pengalaman indrawi kita sendiri, dan kita, murid, adalah individu kosong yang siap dijejali apapun. Sekolah dianggap bertanggungjawab terhadap individu yang kritis tapi hampa, berisi tapi tidak kritis, memahami gelar pendidikan sebagai sarana meraih uang, sekaligus banyak bicara dalam bahasa yang hanya dipahami kelompoknya. Mereka-mereka tidak mencerminkan semangat ilmu pengetahuan yang tidak pernah merasa cukup, selalu melakukan kritik diri agar berkembang, serta memecahkan persoalan keseharian. Walhasil, sekolah akhirnya dianggap melahirkan pribadi yang kontradiktif dengan disiplin ilmunya: dosen komunikasi yang tidak komunikatif, dosen logika yang tidak logis, dosen agama yang tidak spiritualis, dosen etika yang hedonis. Persoalan yang mereka pecahkan seringkali hanya sebatas cara mendapatkan nilai ujian yang sempurna serta lulus skripsi dengan nilai A, yang ironisnya, kadang tidak ada hubungannya dengan kehidupan sehari-hari.

Paragraf di atas adalah kesimpulan saya atas semakin maraknya buku "anti-sekolah", hingga berbagai ajakan untuk "meninggalkan sekolah", yang kemudian mereka lupa, seperti halnya paragraf awal saya, "Maksudmu, sekolah yang mana ya? Unsurnya banyak loh!" Saya sebetulnya suka-suka saja kalau ajakan-ajakan kontra-sekolah itu adalah semacam pemberontakan impulsif remaja yang tidak suka kemapanan. Itu bagus dan positif. Tapi ketika sudah memasuki ranah teoritik dan konseptual, maka perlu juga untuk dipertanggungjawabkan dan diajak memasuki arena perdebatan. Karena jangan-jangan kritikmu salah sasaran, jangan-jangan emosimu saja yang menjadi landasan pembenaran?

Sebelum saya membahas lebih lanjut, saya akan bersikap lebih netral soal ini, dengan lebih dulu juga mengritik sekolah. Belakangan saya baru paham tentang dunia keseharian (lifeworld/ lebenswelt) yang dimaksud oleh Edmund Husserl. Dalam hidup sehari-hari, dunia ini sesungguhnya "begitu saja adanya". Tidak ada konsepsi, tidak ada pemaknaan, dan yang pasti, tidak ada subjek-objek! Semuanya berjalan dengan demikian saja, tidak ada yang namanya dualisme Cartesian, esensi-eksistensi Sartrean, model komunikasi Harold J. Laswell, ataupun teori belajar Pavlov. Tanpa diteorikan sana sini dengan keruwetan bahasa dan pemaparannya, saya berani bertaruh bahwa dunia akan tetap berlangsung demikian adanya, dengan sederhana dan tidak dibuat-buat.

Kesadaran saya soal ini muncul ketika saya mengajar logika pada mahasiswa. Dalam logika, ada yang dinamakan kerancuan berpikir, terdiri dari tiga belas poin kalau tidak salah. Kerancuan berpikir diartikan sebagai pengambilan kesimpulan yang salah diakibatkan oleh kesalahan penalaran (misal: membenarkan argumen bahwa dagangan tukang baso harus dibeli, karena tukang baso menggugah rasa iba kita untuk membeli basonya dengan cara menunjukkan foto anaknya yang sedang sakit. Secara logika itu rancu karena kita membeli diakibatkan rasa iba.) Yang anehnya, ketika saya merenungkan, segala kerancuan berpikir ini justru sangat lumrah ditemui dalam kehidupan sehari-hari, dan sama sekali tidak menjadi rancu!

Perenungan ini merembet pada hal-hal lain, dan akhirnya diketahui bahwa sialan, banyak sekali kehidupan sehari-hari yang dijalani tanpa kita harus mempertimbangkan apa pun yang diajarkan di sekolah. Kala chating dengan wanita cantik di Facebook, saya tidak perlu mengingat tesis saya meskipun sama-sama tentang Facebook. Kala membeli nasi goreng, saya tidak perlu tahu bagaimana mekanisme harga menurut invisible hand Adam Smith sehingga harga nasi goreng menjadi segitu. Apalagi ketika saya berpacaran dan menyiapkan pernikahan, teori mana di silabus paling lengkap soal sosiologi ataupun antropologi juga tidak akan memuat satu bab pun tentang ini. Setiap saya konser gitar pun, tidak ada teorinya bagaimana cara mengoreksi kesalahan di tengah permainan, atau cara berbicara yang baik kepada para penonton. Banyak yang gak nyambung antara sekolah dan dunia keseharian. Jika memang persoalan keseharian dapat diselesaikan tanpa ada hubungannya dengan sekolah, lantas mengapa harus sekolah?

Sejauh ini, semoga para anti-sekolah itu merasa diamini oleh saya sehingga semakin gencarlah mereka dalam kampanyenya. Betul inikah kritik konseptual kalian terhadap sekolah? Kalau soal sekolah yang semakin mahal harganya, itu sih rahasia umum, tidak perlu pintar-pintar amat untuk melihat dengan jernih bagaimana pengetahuan dan uang menjadi mendadak punya korelasi di mata sekolah. Padahal mestinya, pengetahuan dan uang adalah suatu entitas terpisah dimana kita bisa mendapatkannya secara independen tanpa satu terkait yang lain. Selain itu juga, banyak akademisi yang akhirnya menyempitkan cara pandang mereka terhadap dunia justru gara-gara sekolah. Dunia jadi dilihat dari sudut pandang ekonomi saja bagi lulusan ekonomi, atau politik saja bagi lulusan politik, dan sebagainya: agama, komunikasi, ataupun biologi.

Namun mari kita lihat bagaimana sekolah dari sisi yang lebih bermartabat. Sesungguhnya ia tidak buruk-buruk amat. Ada nilai-nilai yang lebih luhur yang diajarkan melampaui ilmu pengetahuan itu sendiri:

  • Pertama, sekolah sebagai ruang sosial. Ini sebuah pembelaan atas sekolah yang paling umum. Lewat sekolah, kita bertemu orang-orang lain dan berinteraksi, tahu rasanya berkompetisi, bertata krama, berintrik ria, yang kemudian membantu mengenali perasaan-perasaan dasar seperti cinta, benci, kecewa, dan lain sebagainya. Para anti-sekolah akan menuduh pembelaan ini dengan, "Gak di sekolah pun bisa kok bikin ruang sosial." Terang saja bisa, dan naif sekali saya menganggap sekolah sebagai satu-satunya ruang sosial. Tapi sebagai pembelaan tahap awal, bolehlah ya.
  • Kedua, sekolah sebagai tempat pendisiplinan tubuh. Saya akan menjadi Foucaltian dalam poin ini. Sesungguhnya, menurut Foucault, kehadiran manusia ditandai dengan kebertubuhannya. Tubuh, dalam perjalanan hidupnya, didisiplinkan oleh berbagai lembaga, agar ia menjadi "tubuh patuh". Mulai dari agama, sekolah, rumah sakit, penjara, hingga keluarga, semuanya tak lebih dari wacana kekuasaan yang berebut untuk mematuhkan tubuh manusia. Dalam kacamata lain, semua lembaga yang disebut Foucault itu sesungguhnya menyetujui bahwa tubuh ini pada dasarnya adalah sumber hasrat yang mesti dikendalikan dan didisiplinkan. Jika tidak lewat berbagai lembaga tersebut, maka tubuh akan lepas kendali, dan sang pemilik tubuh akan berada di luar "normalitas" yang disepakati penguasa. Anti-sekolah akan mengatakan, "Gak di sekolah juga bisa mendisiplinkan tubuh." Monggo-monggo saja. Tapi perlu diingat pasti kau akan pergi ke lembaga kenormalan lain yang pada prinsipnya sama saja.
  • Ketiga, sekolah sebagai tempat untuk merangsang penemuan nilai-nilai adiluhung secara mandiri. Mandiri, karena nilai-nilai adiluhung itu seringkali yang tidak diajarkan langsung oleh sekolah. Misalnya, selesai tesis, saya merenungkan bahwa tesis saya tidak berguna untuk memecahkan masalah dunia. Tapi nilai adiluhung yang saya ambil adalah: Sekolah mengajarkan saya bahwa dalam hidup, kita mesti menyelesaikan apa yang kita mulai. Lalu Socrates ada benarnya, bahwa: hal yang saya tahu pasti adalah saya tidak tahu apa-apa. Atau dalam bahasa lain, sekolah memberi kita banyak pengetahuan, yang pada akhirnya ada nilai adiluhung yang saya serap, bahwa ternyata tidak mungkin kita tahu semuanya. Dan tingkat adiluhung pemahamannya adalah: Sekolah membuat kita bodoh, karena ternyata pengetahuan tertingginya adalah kita tidak tahu apa-apa!
  • Keempat, ini yang lebih praktis. Sekolah menanamkan tradisi penulisan secara intensif. Bisakah kau belajar menulis di luar sekolah? Bisa, tapi di sekolah kau mesti menulis dan menulis secara brutal dari kecil hingga kuliah. Inilah yang kemudian menjadi sumber pelita sekolah. Tidakkah Muhammad, Konfusius, dan Sokrates sebetulnya tidak menuliskan apa-apa, dan akhirnya pemikiran mereka "selamat" karena ada murid-muridnya yang dengan rela menuliskan? Tidakkah kitab suci diturunkan lewat tulisan? Atau kalaupun kitab suci awalnya merupakan ujaran, toh akhirnya juga dituliskan. Kehidupan bergulir karena tulisan, dan tulisan mesti dipelajari dulu awalnya, berdasarkan kesepakatan orang-orang terdahulu. Dan mudah sekali kita menemukan itu di sekolah.
  • Kelima, sekolah sebagai tempat latihan berpikir holistik. Dalam sekolah, kita belajar untuk melihat sebagian dalam keseluruhan, dan keseluruhan dalam sebagian. Kita tidak hanya belajar menukar uang dengan barang dalam konteks ekonomi mikro, melainkan juga pengaruhnya terhadap ekonomi makro. Kita tidak hanya belajar membedah kodok, melainkan juga pengaruhnya terhadap ekosistem alam semesta.
  • Keenam, sekolah sebagai tempat latihan berpikir kritis. Yang keenam ini saya sesungguhnya masih ragu, karena benarkah kita diajari kritis dari SD sampai kuliah? Namun yang pasti, kita melatih hal tersebut sesungguhnya ketika penulisan tesis ataupun skripsi. Kita diajak untuk berpikir bahwa ada suatu konsep di balik dunia yang tampak. Apapun itu konsepnya, kita mesti cari hakekatnya, lewat pertanyaan-pertanyaan yang berujung pada penelitian. Pada akhirnya, nilai adiluhungnya, karena kita rajin mengkritisi, semestinya kita tidak jadi manusia yang naif bagai kerbau dicocok hidungnya. Kritisisme berguna melahirkan fondasi berpikir mandiri yang tidak berdasarkan arus atau ikut-ikutan.
Tapi kemudian jika keenam poin pembelaan saya di atas akhirnya dilawan dengan contoh bahwa ternyata banyak akademisi yang blo'on, berpikir sederhana, gak suka nulis, tidak kritis, dan tidak gaul, maka ijinkan saya mengangkat tangan, karena contoh-contoh seperti itu bagi saya adalah bentuk generalisasi yang menuntut pembenaran. Debat dengan contoh macam begitu tak akan habis, karena saya bisa saja menyebutkan, "Lihat Sartre, Einstein, Nietzsche, Newton, dsb. Mereka semua sekolah dan sukses, berarti saya benar dong!" Maka dimulailah debat kusir yang menyebalkan.

Demikian, tulisan ini sesungguhnya dibuat untuk menjawab berbagai buku anti-sekolah yang sedang marak. Jika ditanya sejujurnya pada saya, "Apakah sekolah itu penting?" Saya akan jawab secara spontan, "Tidak penting". Tapi apakah saya akan menyekolahkan anak saya kelak? Jawabannya: ya. Karena, wahai anakku, untuk merumuskan bahwa sekolah itu tidak penting, maka harus bersekolah dulu. Karena ayah pun bisa bilang sekolah tidak penting setelah bersekolah. Jadi sekolah itu penting. Ini ayah kutip dari film Alangkah Lucunya Negeri ini.




Continue reading