Senin, 28 Maret 2011

Absurditas Musik

"The art of combining sounds or tones for reproduction by the voice or by various kinds of musical instruments in rhythmical, melodic, and harmonic form so as to affect the emotions."
(The Universal English Dictionary)

Demikianlah musik didefinisikan oleh salah satu sumber. Definisi macam ini, dalam ilmu logika dinamakan definisi gambaran, yakni menyebutkan seluruh konsep yang berada di dalamnya. Jika kau merasa tak rela musik didefinisikan dengan cara ini, maka simak definisi ala Friedrich Nietzsche (1844-1900):

"Without music life would be a mistake."


Meski tak tepat benar, tapi bolehlah mengategorikan ini adalah bentuk definisi tujuan, yakni mendefinisikan sesuatu berdasarkan tujuan serta maksud dari sebuah konsep. Seolah-olah, "Tujuan dari musik adalah membuat hidupmu menjadi benar." Leonard Bernstein (1944-1990) mencoba mendefiniskan dengan cara lain, yakni membuat klasifikasi, bahwa musik itu adalah empat adanya:

  • Narative-literary, yakni musik menjelaskan suatu cerita, paparan, atau narasi. Contoh: Til Eulenspiegel karya Richard Strauss, diambil dari cerita rakyat di Jerman.

  • Atmospheric-pictorial, yakni musik menjelaskan suatu objek, atau suasana eksternal. Misal: Prelude to the Afternoon of a Faun karya Claude Debussy.

  • Affective-reactive, yakni musik-musik emosional-internal seperti kemenangan, dukacita, kecemasan. Ini marak di jaman romantik, seperti halnya Elegie karya Johann Kaspar Mertz.
  • Purely musical meanings, yakni musik untuk musik. Contoh: Symphony no. 5 karya L.V. Beethoven ataupun banyak karya-karya di era Barok maupun Klasik.


Sekarang mari keluar dari tata aturan logika dalam mendefinisikan musik, dengan menyimak ucapan Diecky K. Indrapraja ( lahir 1979) mengenai musik:

"Musik itu absurd, tapi jangan-jangan yang absurd itu yang sejati."

Rupanya upaya menjelaskan musik dengan kata-kata menimbulkan paradoks: Ia menjadi sederhana sekaligus rumit, menjadi seolah-olah memuaskan padahal mengecewakan. Dalam suatu sesi Klab Nulis di Tobucil, saya memaparkan bahwa pertanyaan musik tidak lagi menyoal, "Apa itu musik?" tapi mari kita coba dengan, "Musik itu melemparkan kita kemana?" Lantas saya menyetel Symphony no. 5 dari Beethoven sambil para peserta dipersilakan menulis. Dari tulisannya, terasa bahwa mereka terlempar kemanapun, mulai dari dunia kerajaan, tengah-tengah suasana tarian, hingga kegelapan kamar kostan. Berikutnya saya setel lagu The Great Gig in The Sky dari Pink Floyd. Musik psikadelik 70-an ini sukses menciptakan tulisan penuh kegalauan, lamunan panjang, dan warna-warni entah darimana. Musik tak sanggup didefinisikan, ia langsung mengajak jiwa mengembara, lepas dari tubuh-tubuh yang memproduksi bahasa.

Sesungguhnya jangan-jangan (saya sedang merumuskan sesuatu yang pastinya membuat kerdil arti musik), musik itu keseluruhannya absolut. Ia sejujurnya tiada tercipta jika bukan demi musik itu sendiri. Musik seolah-olah ada, dan merepresentasikan sesuatu, kala ia diberi judul lantas diberi lirik. Jika tiada kata-kata, sesungguhnya musik itu -benar kata Diecky- tak lebih dari "zat maha absurd" semata. Diecky juga mencurigai eksklusifitas musik, karena jangan-jangan ini adalah wilayah yang amat subtil dan tak terjangkau nalar jenis manapun. Ia masuk langsung ke batin via telinga, bergumul mencari kesejatiannya di sana.

Maka itu perumusan ini menjadikan saya kembali ke eksistensialisme Sartre. Bahwa -sebetulnya bukan cuma musik, tapi- segalanya di dunia ini, sesungguhnya kala kita hadir ia nirmakna. Manusia turun ke dunia untuk memaknai benda-benda dan alam semesta yang tadinya kosong menghampa. Kita mengagungkan bahasa setelah ia punya makna penanda-petanda Saussurean, tapi sebetulnya kata-kata juga tadinya cuma dengung bunyi tak ada artinya. Tulisan hieroglif juga tadinya cuma corat-coret gambar saja kelihatannya, sebelum diberi esensi oleh manusia.

Maka itu, jika memang musik itu absurd dan "hidup di ruang hampa" (saya terinspirasi PSSI), maka klaim atas musik mudah dilakukan siapa saja. Dan yang berbahaya, tentunya, ketika ia digandeng oleh sekelompok orang yang berkuasa. Seperti halnya filsafat yang sudah habis-habisan diklaim oleh Barat sehingga orang Timur kemudian dicap sebagai agamis saja alih-alih filsuf. Padahal esensinya sama: cinta kebijaksanaan seperti pengertian etimologisnya. Musik pun demikian adanya, ia sesungguhnya berdegup dalam jantung setiap persona. Ia ada dalam burung perkutut seorang kakek ataupun orkestra kodok di sawah. Ia bukan milik kekuasaan yang seolah-olah hanya dengan harga pantas maka kau akan dapati musik itu apa sesungguhnya. Ini sama angkuhnya ketika agama mengklaim diri sebagai satu-satunya jalur menuju Tuhan.

Lalu teringat kala bapakku bilang, "Jika kampus musik atau sekolah musik dilenyapkan seluruhnya dari dunia. Musik tidak akan hilang dari kesadaran manusia."




Previous Post
Next Post

0 komentar: