Selasa, 15 Februari 2011

Pertanyaan-Pertanyaan untuk Rasulullah

Pertanyaan-Pertanyaan untuk Rasulullah
Ya Muhammad, Rasulullah, ijinkan aku mengajukan sejumlah pertanyaan. Tentang siapa orang-orang yang berada di shaf-mu, dan mana yang bukan. Yaitu mereka, yang bersyahadat, yang bersaksi bahwa engkau adalah utusan-Nya. Masihkah mereka termasuk golonganmu, jika pekerjaan mereka mabuk dan merusak? Masihkah kau berikan syafa'at, jika mengkafirkan sesama berlandaskan dinginnya syari'at? Masihkah kau ridha ia menjadi bagianmu jika tak pernah meneladani gerak tuturmu? Akankah kau dudukkan ia di sampingmu, jika ia mengaku cinta kau semata, tapi menyatakannya sambil membunuhi sesama? Akankah kau doakan dia untuk selamat di akhirat, jika ia rajin shalat tapi membiarkan tetangganya melarat? Akankah kau menyayanginya sepenuh hati, jika ia bertubi-tubi mencari musuh untuk diperangi? Akankah kau membiarkan ia memandang wajahmu, jika bajunya putih sorbannya putih, tapi hati nurani tertimbun nafsu birahi?

Ah, terang saja tak akan kau jawab pertanyaan ini. Karena aku disini sedang kau disana. Aku masih terjebak dalam dunia, kau sudah tenang di maqam yang mulia. Hanya satu yang aku pinta, Ya Mustafa, terimalah cintaku apa adanya.

Allahumma sholli 'ala Muhammad wa baarik wa salim 'alaihi
Continue reading

Senin, 07 Februari 2011

Anak Kandung Kebebasan

What you get and what you see
Things that don't come easily
Feeling happy in my vein
Icicles are in my brain

(Black Sabbath - Snowblind)

Lirik itu, dan beberapa lirik sejenis, sekarang-sekarang tengah mewarnai kuping saya selama menyetir. Dulu saya cuma bisa dengar lagu macam itu di pemutar kaset atau paling banter laptop. Sekarang dengan fasilitas tape mobil yang bisa dicoloki USB, makin seringlah saya mendengar band-band favorit saya dari tahun 1970-an yang kebanyakan bergenre rock. Mereka bagi saya terdengar satu suara tentang satu hal: kebebasan.

Lirik Black Sabbath di atas tengah membicarakan kokain, barang haram paling halal di masa itu. Di era psikedelik dimana obat-obatan adalah sumber inspirasi paling jernih dalam berkarya, lirik-lirik pemujaan terhadap kokain, LSD, ataupun mariyuana adalah lumrah tercetus dari band-band masa itu. Ah, jangankan liriknya, sebetulnya ada yang menarik dari mendengarkan musik-musik mereka. Betul-betul, beberapa diantaranya sanggup mengajak saya tripping: Pergi ke suatu masa, entah kemana, yang pasti saya tak berjalan tapi melayang.

Ini perasaan subjektif memang, tapi saya merasakan betul kala mendengarkan misalnya lagu The Doors yang judulnya Crystal Ship. Suara parau Jim Morrison dari awal masuk verse lagu pun sudah kuat sekali melemparkan saya pada sebuah tempat teduh, tenang, dan tidak nyata. Seperti tengah bermain-main dengan gelembung busa sabun yang ditiupkan dari, kadang setan, kadang Tuhan. Ini efek yang sama kala saya mendengarkan Strawberry Fields Forever-nya The Beatles, bagian awal Stairway to Heaven dari Led Zeppelin, atau The Great Gig in The Sky-nya Pink Floyd. Bahkan di lagu Pink Floyd yang saya coba putar di youtube, ada komentar menarik dari salah seorang penggemar: "When you die, this is what your soul hears as it leaves the body."

Jangan lupakan juga ketika band-band tersebut menghadirkan tempo tinggi. Sensasinya bagaikan saya hinggap di sebuah karavan. Mengemudi kencang dengan kacamata hitam dan rokok terselip di bibir. Saya gondrong, berbaju dengan corak tie dye, dan setiap hari bergumam tentang kebebasan sambil memandangi angkasa dan merentangkan tangan. Oh sungguh bumi yang saya pijak detik ini adalah eksistensi yang menyedihkan. Saya kemudian berlutut dan merintih, memohon kepada Jimi Hendrix untuk mengajakku ikut bersamanya, hidup dalam melodi-harmoni yang memabukkan. Pasca konser kami sama-sama menghantamkan bodi gitar pada ampli dan membakarnya hingga tinggal serpihan. Karena hidup persis demikian: Kau bangun, kau romantiskan dan manis-manisi, untuk kemudian ditinggal mati.

Saya puja kalian, anak-anak kandung dari kebebasan. Era ketika ekspresi batin terdalam yang kau gelorakan ternyata bisa bikin kau banyak uang, mabuk-mabukan, main wanita, dan terkenal hingga mati bunuh diri. Saya tak khawatir kalian masuk neraka akibat mati oleh obat-obatan. Karena sungguh kehidupan kalian adalah surga, surga kebebasan dan kemurnian pencarian jatidiri. Akan kuceritakan era hari ini, dimana kebebasan termakan oleh uang dan kekuasaan. Ketika lirik-lirik tak lagi mewakili eksistensi yang terdalam, melainkan cuma berharga ketika enak dikunyah di pasaran. Seperti kacang goreng, cepat dimakan untuk mengganjal tapi tidak mengenyangkan.





Gambar Jimi Hendrix diambil dari sini


Continue reading

Kamis, 03 Februari 2011

Alun-Alun Tahrir

Alun-Alun Tahrir
Bangunkan aku di Alun-Alun Tahrir
Kala ufuk siap menyingsingkan kebenaran
Sesungguhnya aku dan kau tadinya khaos
Tapi pemberontakan menyatukan kita dalam kosmos

Mari jatuhkan tirani
Cuma Tuhan yang boleh berlama-lama di 'arasy

Anehnya, doa pemberontak dan Mubarak persis sama:
"Ya Allah, hanya Engkaulah yang sanggup mengkudeta pemimpin Mesir!"
Continue reading

Rabu, 02 Februari 2011

Peta Besar Filsafat: Antara Thales dan Konfusius

Peta Besar Filsafat: Antara Thales dan Konfusius
"Alam semesta ini terbuat dari air." -Thales (624 SM - 546 SM)
"Jangan lakukan apa yang tidak ingin orang lain lakukan kepadamu." - Konfusius (551 SM - 479 SM)

Meski keduanya hidup sejaman, tidak ada cerita bahwa Thales dan Konfusius pernah berjumpa dan berkenalan. Keduanya sibuk mengurusi negerinya sendiri, tak ada cerita bahwa keduanya sempat pelesiran menyeberangi pulau apalagi benua. Thales berasal dari Yunani, meskipun beberapa pendapat tak sepakat ia persis lahir di Yunani. Karena tempatnya berpijak dinamakan Miletos, atau wilayah yang menjadi bagian dari Asia Kecil, atau malah disebut-sebut sebagai cikal bakal Turki. Dalam sudut pandang geografis hari ini, berarti jelas Thales lebih dekat ke "Timur".

Namun geografis barangkali tak penting-penting amat bagi dunia filsafat Barat dari dulu hingga sekarang. Yang terpenting adalah klaimnya: bahwa Thales adalah bagian dari peradaban Yunani. Yakni peradaban yang dikatakan sebagai "cikal bakal lahirnya filsafat". Kelahiran itu, katanya cuma mungkin terjadi di Yunani, oleh sebab beberapa hal, misalnya:
  • Yunani menganut sistem polis atau negara kota, dimana masing-masing polis telah melahirkan demokrasi sendiri-sendiri. Dari situ tradisi berpikir bebas dimulai, karena setiap orang bebas bicara.
  • Banyak pekerjaan kasar di Yunani dijalankan rutin oleh para budak. Sehingga banyak warga (terutama kalangan menengah ke atas) yang "kurang kerjaan". Ini menyebabkan mereka punya cukup waktu luang untuk merenungkan hakekat kehidupan serta kebijaksanaan.
  • Di Yunani lahir mitos-mitos yang ditulis oleh Hesiod dan Homer sejak 800 SM. Mitos tersebut menunjukkan tradisi penulisan yang kuat, karena sumbernya masih berupa kitab-kitab utuh dan jelas. Dengan tradisi dokumentasi yang mantap, Yunani percaya bahwa setiap karya buah pikir akan senantiasa lestari.
Poin terakhir soal mitos itulah yang didobrak oleh Thales. Ketika masyarakat Yunani hidup dalam alam mitos, maka ia mencoba jalan lain untuk menjelaskan alam semesta, yakni lewat logos atau akal budi. Mitos bisa menjelaskan bahwa alam semesta ini dimulai dari perkawinan Uranus dan Gaia, tapi Thales tidak cukup puas. Ia melihat bahwa manusia, hewan, dan tumbuhan tidak bisa hidup tanpa air, lalu di ujung daratan seringkali berbatasan dengan air, maka ia menyuarakan temuan beraninya tanpa khawatir kemurkaan Dewa Zeus: bahwa alam semesta ini, jangan-jangan, terbuat dari air!


Thales, gambar diambil dari sini

Thales, atas pernyataannya yang nampak sederhana itu, diklaim oleh dunia filsafat Barat sebagai filsuf pertama. Ketika ditanya darimana filsafat dimulai? Sepakat Barat menjawab: ketika Thales mengatakan bahwa alam semesta ini dari air. Lalu bagaimana dengan Konfusius, seseorang yang sejaman, meskipun berjauhan? Mari kita bahas.

Konfusius lahir di Negara Lu, atau masuk ke wilayah Cina sekarang. Ia lahir di tengah pergolakan politik dan degradasi moral yang dahsyat. Cina berada dalam krisis, dan di periode yang sama bermunculan banyak aliran filsafat. Konfusius adalah salah seorang pembawanya, dimana Lao Tse, di sisi lain, adalah persis sosok yang berseberangan dengannya. Lao Tse, mengajarkan keseimbangan kosmos sebagai antitesis kondisi kehidupan yang serba khaos. Dialah cikal bakal Taoisme yang berbasis Yin-Yang itu. Sedangkan Konfusius tak mau manusia hanya menantikan keseimbangan dan cenderung pasif, ia ingin manusia aktif berbuat, bertindak, dan bereksistensi dalam aktivitas-aktivitas etik keseharian.

Konfusius seperti ogah membahas filsafat sebagai ontologi (hakekat) seperti layaknya Thales. Ia langsung membicarakan aksiologi, yakni bagaimana filsafat ini bisa berguna bagi keseharian. Konfusius langsung pada logika praktis tentang bagaimana seharusnya anak bersikap, bapak bersikap, raja bersikap, menteri bersikap, hingga pemusik bersikap. Barangkali jika Konfusius bertemu Thales, ia akan mengganggap apa yang dilakukan Thales adalah buang waktu dan sia-sia, seperti halnya Sang Guru mengritik lawannya, Lao Tse dengan segala argumen kosmisnya.

Meski demikian, filsafat Barat tetap berpijak kuat pada klaim bahwa Thales adalah anak sahnya, dan peradaban Yunani sebagai tempat yang membesarkannya. Konfusius mungkin disebut-sebut, tapi tidak cukup sering untuk disebut sebagai filsafat. Kadang ia dituduh sebagai agama yang mengada-ngada, atau bentuk kebudayaan, atau paling bentar gerakan spiritual.


Konfusius, gambar diambil dari sini


Pertanyaan kritis untuk didiskusikan:

  • Jika Konfusius yang berpijak pada etika ternyata tak cukup kuat untuk disebut filsafat, bagaimana dengan Socrates, yang oleh Barat dianggap sebagai manusia etik sejati, yang justru lahir jauh ratusan tahun pasca Konfusius?
  • Apakah yang menyebabkan dunia filsafat Barat lebih mengakui peradaban Yunani sebagai awal berkembangnya tradisi logos ketimbang peradaban Cina dengan Konfusius-nya?
  • Bagaimana dengan tradisi berpikir Mesir, Arab, atau India yang secara timeline sejarah punya peradaban yang lebih tua ketimbang Yunani?
  • Bagaimana cara agar kita tetap jernih melihat beberapa peradaban "non-Yunani" sebagai bagian dari sejarah kelahiran filsafat?




*) Handout ini adalah salah satu materi pertemuan "Kuliah Singkat Filsafat untuk Pemula" di Tobucil, 8 Februari 2011, jam 17.00-19.00.


Continue reading