Tuesday, December 21, 2010

Tiki Taka

Bayangkan sebuah orkestra bernama Barcelona. Semua dimulai dari dirigen bernama Xavi. Ia pemimpin rombongan, dan seluruh pemain menunggu aba-abanya. Tongkat konduktor ia angkat tanda bersiap, para pemain bergerak mengangkat instrumennya masing-masing. Biasanya segalanya dimulai dari denting harpa Busquets. Ia membunyikan intro ringan, semata-mata agar suasana menjadi terbiasa. Di bar kedelapan Busquets menaikkan volume. Forte. Tak lama kemudian berbunyi jua instrumen lain. Suasana menjadi ramai, riang, dan memukau. Iniesta membunyikan flute, muncul sesekali bagaikan balutan improvisasi. Suaranya bagai desah angin di pegunungan. Xavi menunjuk Villa, dan ia pun memeragakan permainan brass yang mahir. Meliuk-liuk bagai wanita di klab malam. Jangan sampai membosankan, kawan, kata Xavi sambil meminta Puyol dan Pique mendeciskan cymbal. Alves, giliranmu, mainkan cello. Rambatilah sudut ruangan dengan jangkauan nadamu yang luas dan seksi. Pedro turun kau kemari, buang partitur itu, dan mainkan biola alto untuk membuat penonton geregetan. Geregetan karena sekeras-kerasnya kau bermain, tetap tak akan setajam sayatan sang violinis Messi. Messi sang Medusa yang tatapannya bisa bikin kau membatu.

Dengarkanlah kemeriahan itu, seperti Tchaikovsky dalam Waltz of The Flowers. Mereka menari, mereka gembira, mereka berbunga-bunga.

Akhirilah Overture ini segera, wahai sang komposer, Guardiola. Dada kami sudah gegap gempita menahan kekaguman yang maha. Karya berjudul tiki-taka hanya sempurna dimainkan oleh anak-anak Katalonia. Dari La Masia, untuk dunia.

Previous Post
Next Post

0 comments: