Senin, 20 Desember 2010

Del Piero dan Kesetiaan

"... benda yang akrab ke dalam hatiku -dan sebab itu ia punya arti bagiku- cuma jadi benda yang tiap saat bisa dipertukarkan dengan benda lain." (Goenawan Mohamad menginterpretasi Hegel tentang ein sich in sich selbs bewegende Leben des Todes)


Sepakbola Italia pernah menorehkan catatan kelam tahun 2006 silam. Namanya calciopoli, atau skandal pengaturan skor yang melibatkan banyak klub besar Seri A, dan salah satunya adalah klub favorit saya, Juventus. Juventus dihukum degradasi ke Seri B dan memulai kompetisi dengan minus 30 poin. Gelar scudetto tahun 2005 dan 2006 pun dicabut. Kover depan koran BOLA saat itu, saya ingat, judulnya EKSODUS, yang menunjukkan adanya hijrah pemain besar-besaran dari Juventus ke klub lain. Alasannya apa lagi, kalau bukan gengsi yang turun karena sebagian besar pemain bintang tersebut menolak main di kasta kedua. Zlatan Ibrahimovic, Patrick Vieira, dan Fabio Cannavaro adalah contoh tiga bintang yang memutuskan keluar dari Juventus. Yang tinggal tidak banyak, dan salah satunya adalah pemain favorit saya, Alessandro Del Piero.

Del Piero, kelahiran 9 November 1974, bukanlah produk asli akademi Juventus. Ia baru bergabung tahun 1993 dari klub Padova. Karirnya gemilang sejak musim debutnya, dan sejak itu ia hampir selalu menjadi pilihan utama pelatih manapun yang menukangi Juventus. Bulan Oktober lalu, Del Piero merayakan 17 tahun pengabdiannya bersama Juventus, yang mana menjadikan ia sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang masa klub tersebut dengan 279 gol. Sekarang Del Piero berusia 35 tahun, masih menjadi starter, dan juga bertindak sebagai kapten tim.

Del Piero, yang pernah menjuarai Piala Dunia 2006 bersama Italia, bukanlah pemain yang tak laku. Ia banyak diiming-imingi klub besar untuk pindah, apalagi kalau bukan karena kemampuannya yang mumpuni. Dunia sepakbola modern memang mengenal kontrak sebagai pengikat, tapi juga mengenal kontrak sebagai hiasan semata. Sering sekali pemain pindah karena klub baru mengimingi gaji besar, dan tidak memedulikan kontrak yang mengikatnya. Teken kontrak hanya sebatas pencitraan pada fans, bahwa ia loyal. Tapi loyal dalam batas waktu tertentu, sebelum ada tawaran yang lebih menggiurkan.

Di tengah kenyataan kontrak bukan lagi sesuatu yang bisa dihormati, maka Del Piero adalah contoh yang tersisa dari masih berharganya sebuah loyalitas. Tentunya masih banyak contoh lain, Steven Gerrard misalnya, atau Alex Ferguson. Tapi Del Piero punya nilai lebih bagi saya, semata-mata karena Juventus pernah terpuruk dari hingar bingar kompetisi sepakbola. Dan Del Piero, dalam statusnya sebagai pesepakbola yang memenangi Piala Dunia, menolak hingar bingar itu, dan memilih untuk jatuh pada kesetiaan. Belum cukup bukti loyalitasnya? Del Piero gajinya saat itu dipotong, karena kenyataan klub kekurangan uang, akibat sponsor ogah menemani mereka di Seri B.

Mari memetik hikmah sedikit dari cerita Yudhistira dari kitab Mahabharata. Ketika perang Bharatayudha berakhir, Pandawa dan Drupadi menuju nirwana secara ruhani. Tapi Yudhistira tertahan, bersama anjingnya. Dewa Indra mengajak Yudhistira masuk nirwana, tapi tidak dengan anjingnya. Yudhistira menolak, ia beranggapan bahwa lebih baik ia tidak memasuki sorgaloka yang sudah menjadi takdirnya daripada harus membiarkan anjingnya menunggu di luar sambil menderita haus dan lapar, sedangkan ia sendiri bermewah diri di dalam nirwana. Yudhistira mengatakan bahwa ia tidak akan mengkhianati anjingnya hanya demi surga. Tiba-tiba, anjing tersebut berubah menjadi Dewa Dharma. yang langsung memeluk Yudhistira tanpa kata-kata. Yudhistira pun mencapai moksha.

Saat ini, mengutip interpretasi GM di awal artikel, banyak sekali hal yang berkaitan dengan sejarah personal, dilego demi uang. Maksudnya, laptopku ini, tempat aku menuliskan banyak hal, curhat, dan barangkali ikut membentuk pribadiku, ketika ada yang tertarik mau beli, maka sesungguhnya ia tak lebih dari barang biasa yang bisa diperjualbelikan. Demikian halnya gitarku, celana dalamku, kaos-kaosku yang sudah robek, yang mana ia pernah menjadi bagian esensial yang turut serta "mendagingiku", jika saatnya dilego, untuk sebuah harga, maka pergilah karena ia cuma benda mati.

Del Piero bagi saya adalah figur yang kurang populer dalam industri sepakbola saat ini. Karena ia, membela klubnya oleh sebab hal yang amat "remeh", yaitu kenyataan bahwa Juventus adalah tim yang secara emosional terikat dengannya. Yang "menubuhinya" dari ia bukan apa-apa sampai jadi legenda. Ia tak mau dilego untuk harga berapapun. Dan kesetiaan, pada akhirnya, barangkali, baru terukur jika ada tawaran sekeping surgaloka. Del Piero menolak kemewahan Seri A, menolak gemerlap klub besar di luar sana, ia ingin tinggal saja bersama anjingnya.

Previous Post
Next Post

0 komentar: