Sabtu, 27 November 2010

Sepakbola Menyelamatkanku dari Alienasi


Foto diambil dari sini


Dalam tulisan ini, saya akan membela sepakbola habis-habisan. Karena semata-mata saya suka sepakbola, dan tak peduli dibilang fanatisme buta. Persoalan apakah subjektivitas saya ini nantinya jadi hal yang objektif adalah sesuatu yang patut disyukuri.

Alienasi adalah istilah lama yang susah-susah gampang untuk dipahami. Paling sering kata alienasi diletupkan dalam pemikiran Marx tentang pekerjaan kaum buruh. Bahwasanya kala buruh dipekerjakan dalam mekanisme kapitalistik yang menekankan jam kerja dan rutinitas, maka ia akan terasing dari dirinya.
  • Terasing dari dirinya sebagai produsen. Bagaimanapun juga, buruh adalah tangan langsung yang membentuk benda hasil produksi, tapi pemilik modal merenggutnya, dan menjadikan buruh terasing dari produk buatan yang harusnya amat lekat dengan dirinya.
  • Buruh juga terasing dari kegiatan kerja itu sendiri. Kegiatan kerja yang mestinya alamiah dan hakiki bagi setiap manusia, diubah persepsi oleh para pemilik modal menjadi kerja-untuk-uang, atau kerja-untuk-tetap hidup. Karena pemilik modal kemudian merampas kehidupan para buruh, dan buruh diharuskan bekerja keras untuk membeli kehidupan yang dikuasai para kapital.
  • Mekanisme kapitalis juga membuat buruh terasing dari buruh lain, serta kehidupan sosial kebanyakan. Karena kerja yang rutin dengan jam kerja yang ketat, membentuk kesadaran orientasi buruh untuk melulu soal kerja dan kerja. Ia akan melihat hubungan personal sebagai cenderung konfliktual jika tak ada hubungannya dengan kegiatan bekerja yang rutin tersebut.
Alienasi kemudian menjadi tema besar yang giat dibahas dalam ruang lingkup perkotaan. Camus mengatakan, "Neraka manusia modern adalah ketika mereka melakukan rutinitas tanpa henti, lalu berhenti di satu titik dan bertanya, 'Apa gerangan yang sedang saya lakukan?'" Lalu tulisan Bambang Sugiharto di sebuah artikel, bahwa manusia masa kini adalah mereka yang mendefinisikan rekreasi sebagai pergi, ke luar dari diri, menuju perangkap-perangkap eksterior seperti mal, club, tempat wisata, atau negeri asing. Alih-alih berefleksi dan kontemplasi, bertanya apa-apa pada diri sendiri. Ketiga perkataan filsuf tersebut di atas tidak menjelaskan apa itu alienasi, tapi lebih ke contoh-contoh yang menunjukkan perasaan teralienasi itu seperti apa.

Jika demikian adanya, maka ijinkan saya mendefinisikan kira-kira apa itu alienasi dalam ungkapan yang lebih pribadi. Alienasi adalah "perasaan terbiasa" akan keseharian, sehingga kesadaran tidak timbul secara mandiri. Manusia yang mengalami alienasi , ia akan mengerjakan apa-apa karena rutinitas, bukan karena kesadaran yang utuh. Sering sekali kita ditanya, "Dimana letak Circle-K terdekat?" Lalu dijawab, "Perasaan tahu, tapi lupa, dimana gitu." Padahal itu terletak di jalanan yang setiap hari kita lewati. Karena rutinitas telah membunuh kesadaran, maka fokus kita hanya mencapai kantor dalam sekian menit sekian jam. Alih-alih menyadari apa yang terjadi sepanjang jalan.

Apa yang menjadi obat alienasi kemudian? Jika rutinitas selalu dilawan dengan liburan. Maka berarti liburan itu pastilah harus sesuatu yang kontras dengan rutinitas itu. Artinya, liburan adalah fase jeda dimana kita mempunyai momen untuk menemukan kesadaran kita seutuhnya. Bahwa kita adalah manusia yang sadar total akan keberadaan sekitar. Liburan tak perlu dalam bentuk yang ekstrim, bepergian, keluar uang banyak, dan senang-senang. Ketika jalanan yang dilalui kita menuju kantor setiap hari begitu-begitu saja, lalu mendadak suatu hari kita berjumpa dengan doger monyet yang entah kenapa baru hari itu ada di lampu merah itu, maka kesadaran kita kembali biarpun sejenak. Ketika kita memainkan musik yang itu-itu saja ketika tampil reguler di suatu hotel, lalu mendadak ada tamu yang memesan lagu tradisional, maka kita juga menemukan kesadaran kembali. Artinya, obat alienasi adalah segala-gala yang sifatnya spontan, kejutan, dan datang dari luar rutinitas keseharian itu sendiri.

Nah, sekarang kita masuki ranah sepakbola. Saya bukan penonton televisi setia, karena isinya nyaris buruk semua. Saya bilang buruk kenapa, karena televisi tidak menyuguhkan sesuatu yang lain untuk mengobati rutinitas. Apa yang disuguhkan relatif bisa ditebak dan itu-itu saja. Terkecuali berita tentunya, walaupun kemasan berita kadang tidak menolong kita juga. Ada yang disebut reality show, dulu, dimana sajian spontanitas mereka cukup menghibur, eh akhirnya ketahuan bahwa reality show juga ternyata diseting agar terlihat spontan padahal tidak. Lantas, berlebihankan jika saya bilang tayangan sepakbola adalah salah satu reality show yang paling nyata, spontan, dan penuh kejutan? Tayangan olahraga memang seyogianya demikian, olahraga yang bersih ya sifatnya spontan dan sukar diduga. Kecuali kala Michael Schumacher di era jaya, sepertinya dunia balap mobil teralienasi sekali. Bedanya, sepakbola sangat rajin ditayangkan, hampir seminggu tiga atau empat kali. Beritanya pun dimana-mana. Semuanya spontan, mengejutkan, dan bikin deg-degan. Oh, membuat kita sadar bahwa kita masih manusia dengan kesadaran yang utuh.

Mari kita runut kronologi sepakbola secara umum. Musim awal mula berjalan (biasanya Agustus atau September), kita mendapatkan pertandingan seru di partai pembuka. Kita melihat pemain baru siapa saja, pelatih baru atau bahkan stadion baru. Lalu kita mendapatkan mitos-mitos siapa yang menang di partai pembuka, ia akan juara. Lalu Liga Champion dimulai di tengah minggu, yang menurut Ferguson lebih dahsyat dari Piala Dunia. Liga Champion kita tahu, juaranya paling sulit ditebak. Lalu memasuki musim dingin Desember, kita akan menemukan Juara Paruh Musim. Masuk ke Januari, bursa transfer dibuka kembali, ada tim yang berbenah menambal timnya, ada juga yang merasa cukup. Suasana transfer selalu penuh kejutan dan menyenangkan. Bursa transfer ditutup, dan para tim mulai tancap gas menuju akhir musim untuk penentu juara. Dan setelah juara didapat sekitar bulan Mei, kita akan nantikan juara Liga Champion yang biasanya sekitar bulan Juni. Dan kala Liga Champion berakhir, berakhirlah satu musim sepakbola. Paling jeda maksimal dua minggu, setelah itu aktivitas mengejutkan dalam sepakbola kembali menggeliat. Kalau kebetulan di tahun genap, maka bersiaplah menikmati sajian Piala Eropa atau Dunia di kala jeda. Jangan lupakan juga Liga Indonesia, atau Piala Konfederasi. Semua mengejutkan, semua tak bisa ditebak, semua sering melampaui prediksi. Apalagi media olahraga semakin melimpah, komentar-komentar punggawa sepakbola semakin sering dikutip dan jua mengejutkan.

Besok, tanggal 29 November, atau 30 November dinihari WIB, kita akan sama-sama menyaksikan partai El Clasico antara Barcelona dan Real Madrid. Entah ini El Clasico keberapa dalam sejarah hidup saya, tapi sedikitpun saya tak pernah kehilangan gairah menyaksikannya. Tak pernah dan Insya Allah tak akan pernah, pada El Clasico edisi seribu pun, saya kemudian mengatakan, "Ah, El Clasico dari dulu begitu-begitu saja." Sepakbola menyelamatkan saya dari rutinitas perkotaan yang membunuh kesadaran, pertama: Karena ia, setiap denyutnya, selalu tak mampu diprediksi, spontan, dan mengejutkan. Kedua, karena dalam sepakbola, kau akan menyaksikan keseluruhan manusia dalam keseluruhan eksistensinya yang nyata. Jika yang membedakan manusia dari mesin salah satunya adalah kesalahan, maka tengok kinerja wasit yang tak pernah sempurna, namun toh FIFA tak jadi mengganti wasit dengan robot. Jika yang membedakan manusia dari mesin adalah gairah, tengok para suporter yang meledak kala gol tercipta. Jika yang membedakan manusia dari mesin adalah kepasrahan dan harapan, maka liat emosi pemain kala pertama memasuki lapang dengan wajah menengadah ke atas, melihat langit, berpihak pada siapa kau malam ini? Dan, jika yang membedakan manusia dari mesin adalah kehidupan, tengok para pemain kala berteriak kegirangan, sesaat setelah kaki-kaki mereka menempatkan bola di gawang lawan.


Previous Post
Next Post

0 komentar: