Monday, November 15, 2010

Berkurban dan Mengatasi Tubuh

"Para pendiri agama dunia menyepikan diri, menjadi manusia soliter, mengambil jarak dari desakan 'daging', merenungkan kebenaran (arya satyani) dan 'jalan' (dharma, Tao, Din)." (Sepenggal paragraf dalam handout di ECF Filsafat oleh Alois Agus Nugroho)

Dalam Al-Qur'an, ada beberapa ayat yang menerangkan tentang kurban, diantaranya Al-Kautsar ayat 2, Al-Hajj ayat 27-28, 34 dan 36. Meski secara syar'i sudah jelas hukumnya, lalu secara praktis juga sudah jelas gunanya (yakni agar kaum dhuafa bisa merasakan daging yang mungkin bagi mereka langka), namun semoga Allah tidak marah jika ayat-ayatnya diinterpretasi ulang secara filosofis. Karena demikianlah nalar menjadi berguna, dan memang ayat Al-Qur'an seolah membuka ruang interpretasi luas oleh sebab kemultitafsiran bahasanya.

Pertama, jika pendiri agama dunia menyepikan diri, soliter, dan mengambil jarak dari desakan 'daging', berarti ada sesuatu yang bermasalah dengan kebertubuhan manusia. Mari mundur sejenak, ke era dimana Plato mengemukakan buah pikirnya. Ia percaya soal dualisme, bahwa manusia ini terbagi atas tubuh dan ruh. Tubuh ini hidup di dunia bentuk (form) yang sifatnya sementara, berubah-ubah, dan tak lain merupakan cerminan dari dunia ideal (Plato menyebutnya sebagai dunia ide). Sedangkan ruh, ia ideal, pernah hidup di dunia ide dimana keseluruhan pengetahuan terungkap secara sejati. Ruh lahir ke dunia dibonceng oleh tubuh, dan maka itu ruh lupa segala-galanya dan memulai perjalanan "mengingat kembali" apa yang telah diajarkan di dunia ide. Maka itu, kata Plato, tidak ada pengetahuan yang betul-betul baru di dunia ini. Manusia sesungguhnya cuma mengingat kembali masa lalunya ketika mereka belum lahir ke dunia.

Artinya, Plato 'menyalahkan' tubuh sebagai biang keladi kealpaan ruh. "Tubuh adalah penjara ruh," demikian kata Plato. Apakah Plato satu-satunya orang yang menyalahkan tubuh? Tidak, masih banyak sesungguhnya. Beberapa dari kita ingat buku Da Vinci Code, dimana karakter Silas rajin memecuti tubuhnya hingga berdarah-darah. Semata-mata agar ia merasakan penderitaan Kristus dan menahbiskan bahwa tubuh adalah biang dosa. Kaum Syi'ah di beberapa tempat menyakiti dirinya agar jiwa serta batinnya ikut bersatu dengan penderitaan Imam Husain kala menjadi martir di tangan Yazid bin Muawiyah. Beberapa orang dari umat Buddha dan Hindu mempraktekkan meditasi agar mencapai moksha, yaitu lepas dari siklus abadi duniawi yang berlabel samsara atau kesengsaraan. Islam juga punya, yakni shalat dan berpuasa. Berpuasa ada pada hampir semua agama besar, tapi shalat adalah ciri umat Muslim. Mengapa shalat dianggap kegiatan 'menyalahkan' tubuh? Karena dalam shalat, tubuh diatur, didisiplinkan, dilatih, dan dikondisikan agar tidak bergerak mengikuti dorongan 'daging' semata. Pemimpin Islam di masa awal seperti Muhammad SAW, Salman Al-Farisi, atau Ali bin Abi Thalib mempraktekkan 'kemenangan' mereka atas tubuh dengan hidup zuhud atau sederhana. Kesemua kegiatan tersebut digolongkan sebagai asketisme. Yakni 'latihan' yang disasarankan pada tubuh, tapi bertujuan mencapai kepuasan ruh atau transendental.

Jika demikian adanya, maka tak terlalu sulit mengaitkan kurban dengan asketisme. Kurban adalah simbol tubuh, dan tubuh adalah sesuatu yang mesti ditundukkan. Islam, dalam hal ini, menjadikan asketisme tidak eksklusif milik para "petinggi agama". Asketisme menjadi hal dasar yang bisa dijalankan bersama-sama. Tidak perlu penghayatan sekelas Sufi atau Bhiksu, pemeluk agama yang "biasa-biasa saja" pun diperkenankan menundukkan tubuhnya. Dan baiknya Islam adalah (saya berkata subjektif, sebagai pemeluk Islam), ia tidak mengorbankan tubuh si empunya tubuh, melainkan mentransfer makna pada tubuh si kambing atau sapi. Merekalah simbol pengorbanan daging demi nilai-nilai spiritual. Yang seyogianya adalah contoh bagi kita, para manusia.

Wallahu A'lam.
Previous Post
Next Post

0 comments: