Monday, November 29, 2010

Catatan Galau Seperempat Abad: Untuk KlabKlassik Tercinta

Catatan Galau Seperempat Abad: Untuk KlabKlassik Tercinta
KlabKlassik akan berusia kelima tahun ini, tepatnya 9 Desember. Untuk itu, di usia seperempat abad ini, akan saya ucapkan terima kasih bagi tempat yang selalu membantu memanusiakan saya. KlabKlassik adalah komunitas terbuka yang siapapun boleh ikut. Ia non-profit, ia jauh dari komersil, dan Insya Allah segala uang yang masuk adalah untuk menghidupi perjalanan komunitas itu sendiri. Temanya memang musik klasik, tapi jika menggeluti komunitas ini lebih jauh, ternyata yang saya punguti justru jauh lebih kaya daripada itu.

KlabKlassik adalah tempat dimana saya menemukan diri saya sebagai manusia seutuhnya. Utuh dalam artian: Syarif yang tampil sebagai Syarif. Keseharian rutinitas yang cenderung materialistik sukses menjauhkan manusia dari totalitas dirinya sendiri. Waktu diukur dengan uang, keringat diukur dengan uang, bahkan tidur pun diukur dengan uang. Seketika kala kegiatan nongkrong bersama klab mau dengan tulus dijalani, ternyata ketahuan juga bahwa ada sesungguhnya dalam hidup ini, yang lebih berharga daripada uang. Yang lebih berharga dari waktu. Yang lebih berharga dari tidur. Yang, bisa dibilang, ternyata tak seluruhnya hal mesti "penting". "Bersiul itu pun tidak penting, tapi toh menyenangkan," demikian kata Goenawan Mohamad.

Isi kegiatan klab, jika mau objektif, tak lebih dari sekedar hura-hura. Kami berbincang, membahas, ketawa-ketiwi, kadang berbau analitik-akademis yang serius tapi diseringi candaan. Tak pernah ada satu kurikulum atau aturan yang terlampau berat mengikat. Jam berkumpul pun sangat lentur dan tidak ada pengumuman yang sifatnya menekan. Semua datang seenaknya, dan tak ada yang disetrap karena keterlambatan. Barangkali yang beginilah, yang menjaga kemanusiaan manusia. Bahwa pada dasarnya manusia memang bisa dan harus diikat oleh sesuatu (jam kerja, jam tidur, norma-norma). Tapi ada kalanya ia dilepaskan seenaknya, mempunyai momen dimana tali kekang tak mengendalikannya. Di klab jua ada norma, tapi sebatas bahwa kita menjaga perasaan sesama. Tak saling menghina, tak saling menghujat, itu adalah harus dijunjung dimanapun berada. Namun sisanya kau adalah manusia yang menghirup kebebasannya barang sejenak saja dari seminggu yang penat.

Saya pernah ditanya, "Apa bedanya mendapatkan ilmu di klab dengan di kelas-kelas?" Lalu dijawab, "Di kelas, gurumu membawa 'lima', dan kau adalah 'nol'. Selesai belajar, kau membawa pulang 'lima'. Sedang di klab, andaikata ada lima orang, kita masing-masing membawa 'satu', dan 'satu' itu dibagi-bagikan sehingga masing-masing bisa sama-sama membawa 'lima'." Artinya apa, belajar di kelas dan nongkrong di klab, barangkali punya kadar ilmu yang setara. Hanya saja prosesnya berbeda. Di kelas kau akan dapati situasi dimana si guru dalam posisi serba-tahu yang harus kau patuhi. Sedang di klab kau dalam posisi memberi dan menerima yang sejajar dengan lainnya. Yang menentukan seberapa banyak pengetahuan yang kau dapat, adalah tentang seberapa banyak kau mau membuka telingamu untuk mendengarkan.

Secara spesifik, akan saya sebut beberapa contoh kepribadian yang telah memperkaya saya di klab. Yang telah sangat-sangat membantu saya menyadarkan bahwa dunia ini beragam adanya, keinginan untuk menyatukan dunia dalam satu konsep adalah konyol dan utopis belaka.
  • Tidak akan saya temukan di tempat lain kecuali di klab, orang yang mau hadir jauh-jauh dari Subang, hanya untuk duduk bersama kami ketawa-ketiwi belaka. Konon ia mengaku mau datang karena mendapatkan ilmu di tempat ini, tapi kenyataannya, kamilah yang mendapat pengajaran darinya, bahwa: jarak bukan alasanmu untuk malas mencari ilmu.
  • Tidak akan jua saya temukan di tempat lain kecuali di klab, orang yang menyadarkan bahwa klab bukan sekedar proyek duniawi belaka. Ia harus bersinggungan dengan situasi-situasi transenden yang menyejukkan. Seperti sedekah, silaturahmi, perbaikan akhlak, dan peduli sesama. Ketika konser-konser mulai padat, acara komunitas terlampau bikin stres, maka ada yang senantiasa mengingatkan, "Pada akhirnya, ujung segalanya adalah bagaimana kau menghargai orang lain sebagai manusia. Bukan kepentingan-kepentingan semu semata."
  • Tidak akan jua saya temukan di tempat lain kecuali di klab, orang yang mau berjuang, dari tadinya bicara pun malu-malu, sekarang sudah mampu merealisasikan dirinya dalam performa klasik yang menuntut keberanian. Yang membuat saya sadar, sesungguhnya jika kau tak bisa dikenang Guiness Book of World Records, atau Wikipedia, atau koran-koran lokal, maka kau sesungguhnya bisa cukup dikenang di hati seorang manusia. Cukup satu, tapi berarti selama-lamanya.
  • Tidak akan jua saya temukan di tempat lain kecuali di klab, seorang akademisi yang begitu cinta mati akan pengetahuan. Deklarasinya berani, bahwa ia tak akan mengambil sepeser pun dari ilmu yang ia bagikan. Ia percaya bahwa ilmu yang bermanfaat adalah pahala tiada putusnya. Baginya, membagikan ilmu adalah mengobati kehausan batinnya sendiri. Untungnya kami cukup paham dengan kerapkali mentraktirmu kopi.
  • Tidak akan jua saya temukan di tempat lain kecuali di klab, kebersamaan yang tulus dalam suka dan terutama duka. Bahwa sahabat sejati bukan ia yang ada ketika kita bahagia dan jaya, tapi juga kala butuh dan jatuh. Ukuran-ukuran hubungan bukan lagi berdasarkan acara-acara konser yang digelar periodik, tapi di luar itu kita rajin berjumpa. Membicarakan kehidupan, membicarakan cinta, membicarakan tuhan, kebenaran, atau apa-apa yang kau tak dapatkan dalam kehidupan praktis disana.
  • Tidak akan jua saya temukan di tempat lain kecuali di klab, kesan yang selalu tertinggal dimanapun ia berada. Ada di Amerika, ada di Italia, ada di Jakarta, ataupun sibuk entah kemana, bahwa selamanya mereka dengan pancaran cintanya, turut membesarkan klab dari kejauhan. Semoga pancaran cinta klab pun sampai pada kalian yang sudah berjauhan. Insya Allah.
Masih banyak lagi keunikan yang mustahil terspesifikasikan. Ini belum termasuk para punggawa yang bersama-sama menanggung duka komunitas ini dengan gembira. Sesungguhnya cita-cita saya kali ini sederhana saja: Bahwa KlabKlassik seyogianya adalah rumah bagi mereka yang mau berteduh. Dan sebaik-baiknya rumah, bagi saya, adalah tempat dimana kau bisa berteriak seenaknya, menjadi dan menjadilah dirimu sendiri. Ketika penghuni rumah yang lain terganggu, tinggal minta maaf dan kalian bisa bergurau kembali.

Terima kasih KlabKlassik.



Continue reading

Saturday, November 27, 2010

Sepakbola Menyelamatkanku dari Alienasi

Sepakbola Menyelamatkanku dari Alienasi

Foto diambil dari sini


Dalam tulisan ini, saya akan membela sepakbola habis-habisan. Karena semata-mata saya suka sepakbola, dan tak peduli dibilang fanatisme buta. Persoalan apakah subjektivitas saya ini nantinya jadi hal yang objektif adalah sesuatu yang patut disyukuri.

Alienasi adalah istilah lama yang susah-susah gampang untuk dipahami. Paling sering kata alienasi diletupkan dalam pemikiran Marx tentang pekerjaan kaum buruh. Bahwasanya kala buruh dipekerjakan dalam mekanisme kapitalistik yang menekankan jam kerja dan rutinitas, maka ia akan terasing dari dirinya.
  • Terasing dari dirinya sebagai produsen. Bagaimanapun juga, buruh adalah tangan langsung yang membentuk benda hasil produksi, tapi pemilik modal merenggutnya, dan menjadikan buruh terasing dari produk buatan yang harusnya amat lekat dengan dirinya.
  • Buruh juga terasing dari kegiatan kerja itu sendiri. Kegiatan kerja yang mestinya alamiah dan hakiki bagi setiap manusia, diubah persepsi oleh para pemilik modal menjadi kerja-untuk-uang, atau kerja-untuk-tetap hidup. Karena pemilik modal kemudian merampas kehidupan para buruh, dan buruh diharuskan bekerja keras untuk membeli kehidupan yang dikuasai para kapital.
  • Mekanisme kapitalis juga membuat buruh terasing dari buruh lain, serta kehidupan sosial kebanyakan. Karena kerja yang rutin dengan jam kerja yang ketat, membentuk kesadaran orientasi buruh untuk melulu soal kerja dan kerja. Ia akan melihat hubungan personal sebagai cenderung konfliktual jika tak ada hubungannya dengan kegiatan bekerja yang rutin tersebut.
Alienasi kemudian menjadi tema besar yang giat dibahas dalam ruang lingkup perkotaan. Camus mengatakan, "Neraka manusia modern adalah ketika mereka melakukan rutinitas tanpa henti, lalu berhenti di satu titik dan bertanya, 'Apa gerangan yang sedang saya lakukan?'" Lalu tulisan Bambang Sugiharto di sebuah artikel, bahwa manusia masa kini adalah mereka yang mendefinisikan rekreasi sebagai pergi, ke luar dari diri, menuju perangkap-perangkap eksterior seperti mal, club, tempat wisata, atau negeri asing. Alih-alih berefleksi dan kontemplasi, bertanya apa-apa pada diri sendiri. Ketiga perkataan filsuf tersebut di atas tidak menjelaskan apa itu alienasi, tapi lebih ke contoh-contoh yang menunjukkan perasaan teralienasi itu seperti apa.

Jika demikian adanya, maka ijinkan saya mendefinisikan kira-kira apa itu alienasi dalam ungkapan yang lebih pribadi. Alienasi adalah "perasaan terbiasa" akan keseharian, sehingga kesadaran tidak timbul secara mandiri. Manusia yang mengalami alienasi , ia akan mengerjakan apa-apa karena rutinitas, bukan karena kesadaran yang utuh. Sering sekali kita ditanya, "Dimana letak Circle-K terdekat?" Lalu dijawab, "Perasaan tahu, tapi lupa, dimana gitu." Padahal itu terletak di jalanan yang setiap hari kita lewati. Karena rutinitas telah membunuh kesadaran, maka fokus kita hanya mencapai kantor dalam sekian menit sekian jam. Alih-alih menyadari apa yang terjadi sepanjang jalan.

Apa yang menjadi obat alienasi kemudian? Jika rutinitas selalu dilawan dengan liburan. Maka berarti liburan itu pastilah harus sesuatu yang kontras dengan rutinitas itu. Artinya, liburan adalah fase jeda dimana kita mempunyai momen untuk menemukan kesadaran kita seutuhnya. Bahwa kita adalah manusia yang sadar total akan keberadaan sekitar. Liburan tak perlu dalam bentuk yang ekstrim, bepergian, keluar uang banyak, dan senang-senang. Ketika jalanan yang dilalui kita menuju kantor setiap hari begitu-begitu saja, lalu mendadak suatu hari kita berjumpa dengan doger monyet yang entah kenapa baru hari itu ada di lampu merah itu, maka kesadaran kita kembali biarpun sejenak. Ketika kita memainkan musik yang itu-itu saja ketika tampil reguler di suatu hotel, lalu mendadak ada tamu yang memesan lagu tradisional, maka kita juga menemukan kesadaran kembali. Artinya, obat alienasi adalah segala-gala yang sifatnya spontan, kejutan, dan datang dari luar rutinitas keseharian itu sendiri.

Nah, sekarang kita masuki ranah sepakbola. Saya bukan penonton televisi setia, karena isinya nyaris buruk semua. Saya bilang buruk kenapa, karena televisi tidak menyuguhkan sesuatu yang lain untuk mengobati rutinitas. Apa yang disuguhkan relatif bisa ditebak dan itu-itu saja. Terkecuali berita tentunya, walaupun kemasan berita kadang tidak menolong kita juga. Ada yang disebut reality show, dulu, dimana sajian spontanitas mereka cukup menghibur, eh akhirnya ketahuan bahwa reality show juga ternyata diseting agar terlihat spontan padahal tidak. Lantas, berlebihankan jika saya bilang tayangan sepakbola adalah salah satu reality show yang paling nyata, spontan, dan penuh kejutan? Tayangan olahraga memang seyogianya demikian, olahraga yang bersih ya sifatnya spontan dan sukar diduga. Kecuali kala Michael Schumacher di era jaya, sepertinya dunia balap mobil teralienasi sekali. Bedanya, sepakbola sangat rajin ditayangkan, hampir seminggu tiga atau empat kali. Beritanya pun dimana-mana. Semuanya spontan, mengejutkan, dan bikin deg-degan. Oh, membuat kita sadar bahwa kita masih manusia dengan kesadaran yang utuh.

Mari kita runut kronologi sepakbola secara umum. Musim awal mula berjalan (biasanya Agustus atau September), kita mendapatkan pertandingan seru di partai pembuka. Kita melihat pemain baru siapa saja, pelatih baru atau bahkan stadion baru. Lalu kita mendapatkan mitos-mitos siapa yang menang di partai pembuka, ia akan juara. Lalu Liga Champion dimulai di tengah minggu, yang menurut Ferguson lebih dahsyat dari Piala Dunia. Liga Champion kita tahu, juaranya paling sulit ditebak. Lalu memasuki musim dingin Desember, kita akan menemukan Juara Paruh Musim. Masuk ke Januari, bursa transfer dibuka kembali, ada tim yang berbenah menambal timnya, ada juga yang merasa cukup. Suasana transfer selalu penuh kejutan dan menyenangkan. Bursa transfer ditutup, dan para tim mulai tancap gas menuju akhir musim untuk penentu juara. Dan setelah juara didapat sekitar bulan Mei, kita akan nantikan juara Liga Champion yang biasanya sekitar bulan Juni. Dan kala Liga Champion berakhir, berakhirlah satu musim sepakbola. Paling jeda maksimal dua minggu, setelah itu aktivitas mengejutkan dalam sepakbola kembali menggeliat. Kalau kebetulan di tahun genap, maka bersiaplah menikmati sajian Piala Eropa atau Dunia di kala jeda. Jangan lupakan juga Liga Indonesia, atau Piala Konfederasi. Semua mengejutkan, semua tak bisa ditebak, semua sering melampaui prediksi. Apalagi media olahraga semakin melimpah, komentar-komentar punggawa sepakbola semakin sering dikutip dan jua mengejutkan.

Besok, tanggal 29 November, atau 30 November dinihari WIB, kita akan sama-sama menyaksikan partai El Clasico antara Barcelona dan Real Madrid. Entah ini El Clasico keberapa dalam sejarah hidup saya, tapi sedikitpun saya tak pernah kehilangan gairah menyaksikannya. Tak pernah dan Insya Allah tak akan pernah, pada El Clasico edisi seribu pun, saya kemudian mengatakan, "Ah, El Clasico dari dulu begitu-begitu saja." Sepakbola menyelamatkan saya dari rutinitas perkotaan yang membunuh kesadaran, pertama: Karena ia, setiap denyutnya, selalu tak mampu diprediksi, spontan, dan mengejutkan. Kedua, karena dalam sepakbola, kau akan menyaksikan keseluruhan manusia dalam keseluruhan eksistensinya yang nyata. Jika yang membedakan manusia dari mesin salah satunya adalah kesalahan, maka tengok kinerja wasit yang tak pernah sempurna, namun toh FIFA tak jadi mengganti wasit dengan robot. Jika yang membedakan manusia dari mesin adalah gairah, tengok para suporter yang meledak kala gol tercipta. Jika yang membedakan manusia dari mesin adalah kepasrahan dan harapan, maka liat emosi pemain kala pertama memasuki lapang dengan wajah menengadah ke atas, melihat langit, berpihak pada siapa kau malam ini? Dan, jika yang membedakan manusia dari mesin adalah kehidupan, tengok para pemain kala berteriak kegirangan, sesaat setelah kaki-kaki mereka menempatkan bola di gawang lawan.


Continue reading

Monday, November 22, 2010

Travelling Without Moving

Travelling Without Moving
1. Harimau berkedut. Lehernya bagai ular sedang girang. Kuning, merah, dan hijau muda. Latar hitam sehingga warna semakin memancar. Ia menari, semua menari. Girang semua dalam balutan melodi. Melodi dari mana? Melodi dari mana? Sesungguhnya ia fana. Datang dari alam-entah-darimana.

2. Bali masa SMA. Pantai pekat malam. Bintang jatuh ke cakrawala. Ayo raih-ayo raih. Duduk aku bersama guru pembimbing. Itu teras kamar hotel. Kupegang gitar nilon dan mainkan karya Beethoven. Kawanku menikmati sebelum ada yang teriak. "Hey, berhentilah bermain, kami sedang tidur." Atau-atau, ia mau berkata, "Huey, be-be-rhentilah, ber-ber-main, ka-kami se-dang ti-ti-dur." Matilah kau jahanam. Kusulap kau jadi lingkaran. Hihihi.

3. Mari kuajak kau ke jaman koboi. Punggung kuda dan pelana, aku duduk di atasnya. Goyang ia liar bagai terluka di tengah rodeo. Lasoku warna ungu. Lasomu warna biru. Oh lihat, kibasan ekor membentuk cahaya. Bagai petasan di malam lebaran. Aku mual juga rindu. Pada apa-apa yang menjadikan aku ada disini. Matahari, apakah kau sedang menyinari kami?

4. Siapa kamu! Tuhan atau bukan? Menyeringai bagai kucing pada tikus terjerat perangkap. Kau cinta, tapi juga benci. Kau manis, tapi jua iblis. Jubahmu mejikuhibiniu. Matamu jingga kelabu. Siapa kamu! Datang dan segera sudahi aku. Sesungguhnya aku ini lelah dan ingin pergi dari pagutanmu. Galileo Galilei. Figaro. Bismillah!

5. Adzan memanggil. Memanggil Lennon dan bertanya, kenapa kau mati cepat? Tidakkah kau mau seperti aku yang terjerembab lunglai dalam kegilaan yang nikmat?


Gambar diambil dari sini
Continue reading

Monday, November 15, 2010

Berkurban dan Mengatasi Tubuh

Berkurban dan Mengatasi Tubuh
"Para pendiri agama dunia menyepikan diri, menjadi manusia soliter, mengambil jarak dari desakan 'daging', merenungkan kebenaran (arya satyani) dan 'jalan' (dharma, Tao, Din)." (Sepenggal paragraf dalam handout di ECF Filsafat oleh Alois Agus Nugroho)

Dalam Al-Qur'an, ada beberapa ayat yang menerangkan tentang kurban, diantaranya Al-Kautsar ayat 2, Al-Hajj ayat 27-28, 34 dan 36. Meski secara syar'i sudah jelas hukumnya, lalu secara praktis juga sudah jelas gunanya (yakni agar kaum dhuafa bisa merasakan daging yang mungkin bagi mereka langka), namun semoga Allah tidak marah jika ayat-ayatnya diinterpretasi ulang secara filosofis. Karena demikianlah nalar menjadi berguna, dan memang ayat Al-Qur'an seolah membuka ruang interpretasi luas oleh sebab kemultitafsiran bahasanya.

Pertama, jika pendiri agama dunia menyepikan diri, soliter, dan mengambil jarak dari desakan 'daging', berarti ada sesuatu yang bermasalah dengan kebertubuhan manusia. Mari mundur sejenak, ke era dimana Plato mengemukakan buah pikirnya. Ia percaya soal dualisme, bahwa manusia ini terbagi atas tubuh dan ruh. Tubuh ini hidup di dunia bentuk (form) yang sifatnya sementara, berubah-ubah, dan tak lain merupakan cerminan dari dunia ideal (Plato menyebutnya sebagai dunia ide). Sedangkan ruh, ia ideal, pernah hidup di dunia ide dimana keseluruhan pengetahuan terungkap secara sejati. Ruh lahir ke dunia dibonceng oleh tubuh, dan maka itu ruh lupa segala-galanya dan memulai perjalanan "mengingat kembali" apa yang telah diajarkan di dunia ide. Maka itu, kata Plato, tidak ada pengetahuan yang betul-betul baru di dunia ini. Manusia sesungguhnya cuma mengingat kembali masa lalunya ketika mereka belum lahir ke dunia.

Artinya, Plato 'menyalahkan' tubuh sebagai biang keladi kealpaan ruh. "Tubuh adalah penjara ruh," demikian kata Plato. Apakah Plato satu-satunya orang yang menyalahkan tubuh? Tidak, masih banyak sesungguhnya. Beberapa dari kita ingat buku Da Vinci Code, dimana karakter Silas rajin memecuti tubuhnya hingga berdarah-darah. Semata-mata agar ia merasakan penderitaan Kristus dan menahbiskan bahwa tubuh adalah biang dosa. Kaum Syi'ah di beberapa tempat menyakiti dirinya agar jiwa serta batinnya ikut bersatu dengan penderitaan Imam Husain kala menjadi martir di tangan Yazid bin Muawiyah. Beberapa orang dari umat Buddha dan Hindu mempraktekkan meditasi agar mencapai moksha, yaitu lepas dari siklus abadi duniawi yang berlabel samsara atau kesengsaraan. Islam juga punya, yakni shalat dan berpuasa. Berpuasa ada pada hampir semua agama besar, tapi shalat adalah ciri umat Muslim. Mengapa shalat dianggap kegiatan 'menyalahkan' tubuh? Karena dalam shalat, tubuh diatur, didisiplinkan, dilatih, dan dikondisikan agar tidak bergerak mengikuti dorongan 'daging' semata. Pemimpin Islam di masa awal seperti Muhammad SAW, Salman Al-Farisi, atau Ali bin Abi Thalib mempraktekkan 'kemenangan' mereka atas tubuh dengan hidup zuhud atau sederhana. Kesemua kegiatan tersebut digolongkan sebagai asketisme. Yakni 'latihan' yang disasarankan pada tubuh, tapi bertujuan mencapai kepuasan ruh atau transendental.

Jika demikian adanya, maka tak terlalu sulit mengaitkan kurban dengan asketisme. Kurban adalah simbol tubuh, dan tubuh adalah sesuatu yang mesti ditundukkan. Islam, dalam hal ini, menjadikan asketisme tidak eksklusif milik para "petinggi agama". Asketisme menjadi hal dasar yang bisa dijalankan bersama-sama. Tidak perlu penghayatan sekelas Sufi atau Bhiksu, pemeluk agama yang "biasa-biasa saja" pun diperkenankan menundukkan tubuhnya. Dan baiknya Islam adalah (saya berkata subjektif, sebagai pemeluk Islam), ia tidak mengorbankan tubuh si empunya tubuh, melainkan mentransfer makna pada tubuh si kambing atau sapi. Merekalah simbol pengorbanan daging demi nilai-nilai spiritual. Yang seyogianya adalah contoh bagi kita, para manusia.

Wallahu A'lam.
Continue reading

Wednesday, November 10, 2010

Yang Maha Pemurah

Yang Maha Pemurah
1. Koruptor mencuri uang rakyat, pergi mereka ke Yunani lalu Turki. Pulang dari sana keluarganya sehat, makan sate tetap terasa enak.

2. Maka nikmat Tuhan kamu yang mana yang engkau dustakan?

3. Pejabat memperoleh gelar akademik dengan menyuap. Tapi kemudian masih dihargai di masyarakat. Masih pula berangkat ke Baitullah dengan undangan-Nya.

4. Seorang guru mengajar dengan gaji tak banyak. Berjalan kaki ia belasan kilometer agar mencapai sekolah tanpa atap. Tapi tengok bening matanya kala menatap anak-anak.

5. Maka nikmat Tuhan kamu yang mana yang engkau dustakan?

6. Seorang atheis meragukan Tuhan. Menyerang-Nya tanpa ampun dalam simposium-simposium filsafat. Di tengah jalan ia ditabrak, namun hanya mobilnya yang hancur. Ia masih selamat.

7. Maka nikmat Tuhan kamu yang mana yang engkau dustakan?

8. Seorang alim mati cepat-cepat. Di masa muda ketika ia rajin mengaji dan shalat. Namun ia tersenyum sejenak sebelum jadi mayat. Karena katanya, Tuhan rindu dan ingin memeluknya erat.

9. Merapi meletus memuntahkan wedhus gembel. Darinya rakyat banyak yang meninggal dan terbakar. Tapi tengok hasil dari muntahan vulkanik yang kelak bisa membuat anak cucu berpanen banyak.

10. Maka nikmat Tuhan kamu yang mana yang engkau dustakan?

11. Terbayang roti yang dimakan, lalu buang air besar tetap berbentuk roti yang baru saja dimakan.

12. Terbayang anggur yang diminum hingga memabukkan, buang air kecil masih berupa anggur yang bisa diminum. Dan masih jua memabukkan.

13. Maka nikmat Tuhan kamu yang mana yang engkau dustakan?

14. Manusia mencari-cari kepastian dan membuat rencana. Lalu semua sesuai dengan dugaan dan manusia itu senang. Namun Tuhan masih menyisakan ketidakpastian agar manusia penasaran. Yakni diri-Nya dan kematian.

15. Bunga tumbuh merekah, pohon menggugurkan dedaunan, anak tumbuh besar dan bicara melebihi kedua orangtuanya. Si anak sekolah dan mengerti arti cinta. Mampu mengungkapkannya dalam bahasa.

16. Penulis buntu merampungkan idenya. Ia jalan-jalan dan melihat kucing bermain dengan bayangan. Penulis kembali ke mejanya dan mendapat segudang pencerahan untuk dituangkan menjadi tulisan.

17. Maka nikmat Tuhan kamu yang mana yang engkau dustakan?

18. Memberi uang pada orang berarti membuang. Yang pelit terus saja berpendapat demikian. Lupa bahwa pundi-pundinya akan tetap penuh, jikasanya ia percaya bahwa orang yang menerima kerap menukar dengan kepuasan dan kebahagiaan.

19. Maka nikmat Tuhan kamu yang mana yang engkau dustakan?

20. Saya menulis ini seolah ingin meniru surat Ar-Rahman. Tapi begitu sulit dan tak terjangkau pikiran. Wajar karena yang satu kalam Tuhan, sedang yang ini nalar dangkal seorang insan.

21. Maka nikmat Tuhan kamu yang mana yang engkau dustakan?



Continue reading