Wednesday, October 27, 2010

Mbah Maridjan

Mbah Maridjan
"Guru, apakah yang pertama kau lakukan jika memerintah sebuah negara?"

"Satu-satunya hal yang dilakukan adalah pembetulan nama-nama. Hendaknya seorang penguasa bersikap sebagai penguasa, seorang menteri bersikap sebagai seorang menteri, seorang bapak bersikap sebagai seorang bapak dan seorang anak bersikap sebagai seorang anak."
(Konfusius dari Analek 13:3)


Dihadapkan pada situasi posmodern sekarang ini, kalimat agung Konfusius di atas jelas saja dipertanyakan. Posmodern paling gemar rekonstruksi, dekonstruksi, serta menghancurkan sebuah bangunan konseptual, tanpa membangun apa-apa di atas puingnya. Sasaran gugatan tentu saja: Apa itu "sikap penguasa"? Apa itu "sikap seorang menteri"? Dan seterusnya. Tidakkah segala-galanya tak bisa didefinisikan sesaklek itu? demikian koar posmo.

Tapi Konfusius tak berpikir serumit itu. Bisa jadi ia dianggap kuno, bodoh, karena standar pemikiran Barat: Bahwa sesuatu yang masuk akal, adalah yang terjelaskan dengan kata-kata, explainable. Konfusius hanya menjelaskan banyak pemikirannya dengan takaran moral yang disebut jen (kata yang kemudian mati-matian ditafsirkan oleh banyak pemikir karena Konfusius sendiri tak pernah menjelaskan artinya). Dalam suatu situs, jen diartikan sebagai: human heartedness; goodness; benevolence, man-to-man-ness; what makes man distinctively human (that which gives human beings their humanity). Maka itu, jika ditanya, apakah yang dinamakan "sikap penguasa"? Konfusius kira-kira akan menjawab, ya mereka yang sesuai dengan jen.

Konfusius tidak asal bicara. Di masanya ia hidup, sekitar 500 tahun Sebelum Masehi. Situasinya kurang lebih sama dengan negara kita sekarang, carut marutnya. Ia kemudian merumuskan, bahwa keseluruhan penyebab kekacauan negara ini semua, adalah tidak betulnya nama-nama. Seorang menteri tidak bersikap seperti seorang menteri lagi. Karena nama, bagi Konfusius, menggambarkan identitas. Dalam nama, ada batasan bersikap dan jua tanggungjawab. Ketika sebagian besar individu tak lagi melakukan tindak-tanduk sesuai nama yang disematkannya, tunggu waktunya kehancuran terjadi.

Jauh, ribuan tahun pasca wafatnya Konfusius. Ada seorang sepuh bernama Mbah Maridjan. Jabatannya bukan guru besar seperti Konfusius dengan muridnya yang berlimpah serta ajaran yang diikuti sekaligus ditakuti penguasa. Mbah Maridjan posisinya juru kunci, yakni semacam penjaga tempat-tempat keramat. Tempat yang ia jaga adalah Gunung Merapi, sebuah gunung vulkanik aktif di kawasan Yogyakarta. Orangnya bersahaja, sederhana, dan taat pada apa-apa yang dititahkan Sultannya. Pengabdiannya tak main-main, ia menjabat juru kunci sejak tahun 1982, atau 28 tahun lamanya. Dan dalam masa tugasnya yang alamak itu, ia sering dipuji Sultan sebagai abdinya yang setia, dapat dipercaya, dan menunaikan tugas dengan baik. Satu-satunya "dosa" Mbah Maridjan barangkali ketika membintangi iklan extra joss beberapa tahun lalu. Toh, uang hasil iklan itu tetap ia gunakan untuk membangun masjid di desanya di lereng Gunung Merapi.

Sisanya, ia tetap harum dalam statusnya sebagai juru kunci Merapi. Ia tak melakukan tugas itu dengan merasa diri teralienasi. Beda dengan penduduk perkotaan yang kerja kantor tiga bulan saja kadang kesadarannya telah tertimbun rutinitas. Meski situasi Mbah Maridjan jauh lebih robotic, ia tak mengeluh. Ia gembira, besar hati, dan bertanggungjawab. Hal itu juga yang ia tunjukkan kala tempat keramat yang ia jaga, ternyata membebaskan dirinya dari tugas itu selama-lamanya. 27 Oktober 2010, Mbah Maridjan wafat, di tengah situasi genting letusan Gunung Merapi. Ia tidak turun gunung, bebal seperti biasanya: tak mau turun kecuali dipaksa tim SAR. Mbah tidak mencari heroisme buta, tidak mencari pengikut. Toh ia tetap meminta warga mengevakuasi diri, ikut pemerintah. Mbah sendiri tetap teguh, besar hati, dan tinggal. Jika memang dia juru kunci, tidakkah sesungguhnya ia tahu pertanda letusan itu jauh lebih awal? Entah lewat wangsit atau tanda-tanda alam. Tidakkah, jika ia mau, ia bisa saja mengungsi duluan, bahkan sebelum BMKG mencium sinyal bahaya?

Mbah bisa, tapi kenyataannya ia enggan. Sultan telah memintanya turun, demi keselamatan nyawa, sejenak meninggalkan tugas suci juru kuncinya, dan berlebur bersama manusia umumnya. Mbah bisa, tapi ia tak mau. Ia mengemban amanat, ia mengemban nama, baginya tak ada yang lebih mulia dari itu. Tak ada yang lebih mulia dari meninggal dalam keadaan pengabdian loyal, pada apapun yang ia percaya. Predikat mati konyol bukanlah kata miring yang akan masuk dalam telinganya. Mbah Maridjan merumuskan kematiannya adalah gembira: hanya jika ia secara hakiki melaksanakan tugas sesuai dengan nama yang disematkannya.

Meninggalnya Mbah adalah bukti simbolisme keheroikan "pembetulan nama-nama" Konfusianis. Hanya saja, satu Mbah Maridjan saja tak cukup untuk negeri ini. Tidak cuma juru kunci yang betul namanya, tapi juga presiden, anggota DPR, gubernur, walikota dan banyak lainnya. Ketika keseluruhannya telah melaksanakan tugas sesuai dengan nama yang disematkannya, maka selamatlah bangsa ini dalam versi Konfusius. Anggota DPR, terutama yang sedang pelesir ke Yunani, pastilah bertanya balik dengan angkuhnya, jika disodori buah pikir Konfusius ini, "Lah, saya sedang menjalankan tugas saya sebagai anggota dewan kok!"

Mereka barangkali betul, tapi mari kembalikan pada konsep jen: Adakah ia berperikemanusiaan? Adakah ia bersikap heartedness? Adakah ia dengan tegas mau membedakan dirinya dengan binatang lewat sikap-sikap manusiawinya?

Saya tak mau menjawabnya. Lebih baik marilah kita sama-sama mengangkat derajat heroisme Mbah. Mendoakan agar ia mendapatkan maqam yang baik di sisi Allah SWT. Sebaik-baiknya manusia adalah Muhammad SAW. Dan ciri derajat luhur Muhammad adalah dia tak pernah secuilpun melenceng dari amanah yang diembankan baginya. Muhammad adalah sebetul-sebetulnya nama yang disematkan baginya. Semoga kelak Mbah dapat diperjumpakan dengan Al-Mustafa.



Continue reading

Monday, October 18, 2010

Kafé dan Waktu Senggang

Kafé dan Waktu Senggang
Terus terang, saya adalah orang yang cukup skeptik dengan kafé. Seperti simbol kapitalis yang dingin, tempat berkumpulnya para borjuis memperjuangkan eksistensinya, serta pendirian latar suasana yang palsu di tengah keruwetan kota. Tapi entah kenapa, hari ini saya begitu ingin ke kafé. Saya bosan dengan suasana perpustakaan, dan ingin mencoba menulis tesis di kafé. Saya punya motivasi terselubung juga, ingin tahu kenapa kafé begitu digemari. Begitu menjadi idaman orang untuk berdiam diri di tengah cengkraman rutinitas. Dan jika memang tesis sudah menjadi rutinitas saya, maka bolehlah saya mencoba obat yang selama ini tampak mujarab secara massal. Obat, meski pahit, jika mujarab, kenapa tidak?

Saya datang pagi-pagi buta, ke sebuah kafé di Jalan Burangrang. Mereka sedia sarapan pagi, buka pukul tujuh. Saya tamu paling awal, memesan bubur ayam dan teh. Saya memulai ritual para kafé-is, yakni membuka laptop, dan mengoneksikan ke internet. Sayang sekali, internet baru hadir pukul dua belas. Dan akhirnya saya ketik beberapa paragraf tesis saja tanpa usah online. Sarapan datang, dan saya menyantapnya. Pasca makan, saya coba pandangi sekeliling kafé, dan berpikir, apa gerangan yang menjadikan kafé begitu menarik? Interiornya, barangkali pengaruh. Musiknya, tenang, juga pengaruh. Makanannya enak, pasti juga pengaruh. Tapi saya bukan ahli kuliner atau feng shui. Saya tak akan bahas kafé dari sudut pandang itu.

Imajinasi saya melayang sejenak, jauh, ke Paris. Alkisah, di pojok kota itu terdapat kafé bernama Café de Flore. Sofanya merah, dengan gaya interior Art Deco. Bayangkan sejenak, dua orang duduk disana. Dua orang yang bagi kalian yang belajar filsafat, pasti hapal: Jean Paul Sartre dan Simone de Beauvoir. Itulah dua filsuf besar dalam sejarah pemikiran Barat. Dari keduanya lahir tema eksistensialisme, yang sangat mempengaruhi Barat tahun 90-an. Tema besar yang lahir dari hasil obrolan sambil minum-minum. Dari hasil temu intensif di kafé.


Café de Flore barangkali tidak sebesar Ngopi Doeloe di Teuku Umar. Konon, harga makanannya juga sangat murah (memang salah satu yang membedakan kafé pada mulanya, adalah jenis makanannya yang relatif ringan, dan harganya yang jauh lebih murah dari restoran). Jika ada tudingan Sartre adalah filsuf borjuis, maka itu pastilah orang yang membayangkan Sartre ada di Ngopi Doeloe. Café de Flore tergolong sederhana, dan sama sekali tak mencirikan simbol kapitalisme.

Yang menarik adalah, "kafé sejati" adalah kafé yang mempertahankan identitas dasarnya sebagai penjual makanan ringan, seperti kopi atau roti kukus. Harganya juga relatif murah. Jika berasumsi restoran adalah penjual makanan berat, maka kafé adalah pelengkap di sela-selanya. Yang mau saya katakan adalah: Restoran identik dengan waktu produktif dan biologis-alamiah manusia, karena ia menyediakan makanan primer, yang digunakan untuk mengenyangkan manusia, membuat mereka tersambung untuk tetap hidup. Sedangkan dalam kafé, makanan ringan adalah identik dengan waktu senggang. Tidakkah kita semua ngemil ketika sudah yakin bahwa hidup kita telah tersambung oleh makanan primer? Makanan ringan pastilah pengisi sela-sela antara jam makan primer.

Jika demikian, maka saya akan berkata sesuatu tentang waktu senggang: Bahwa seluruh buah pemikiran besar, darimanapun itu, pastilah datang dari waktu senggang. Waktu luang, atau jeda sementara, atau apapun namanya. Yang pasti tidak datang dari waktu ketika bekerja atau sedang dalam produktivitas tinggi. Manusia adalah makhluk yang selalu berdimensi realitas dan idealitas. Ia bisa saja berpikir, merenung, mengabstraksi dunia, tapi kemudian ia tidak boleh terus-terusan seperti itu. Ia harus bekerja, berbuat, dan menyamakan diri dengan denyut semesta. Tapi bekerja saja juga akan menyebabkan dirinya mekanistik dan teralienasi. Ada kalanya ia mesti beristirahat, tidak hanya untuk jiwa raga, tapi beristirahat untuk mengambil jarak dari kesehariannya. Memaknai kembali apa yang ia lakukan selama ini, sebelum buyar lamunannya dan melebur kembali bersama rutinitas.

Kafé, bagi saya sekarang, setelah direnung-renung, ternyata memang tak lagi seideal Café de Flore era Sartre. Figur "kafé sejati" tempat menjual kopi, roti kukus, earl grey tea, dan berbagai simbol-simbol klasik makanan ringan yang melambangkan kesenggangan, menjadi agak lebur dan rusak, akibat percampurannya dengan simbol restoranisme, seperti lontong kari, sate, atau nasi goreng. Membuat kafé jadi tempat makan primer dan tidak lagi memfokuskan pada simbol-simbol kesenggangannya. Tak heran, fungsinya jadi sekedar tempat gathering dengan ya itu tadi, interior yang indah, musik yang tenang, serta makanan yang enak. Kafé barangkali masih punya unsur perangsang berpikir di waktu senggang. Tapi waktu senggang yang dimiliki pengunjung itu sendiri, dieksploitasi habis-habisan oleh sifat kapitalistik si kafé. Waktu senggang pengunjung terkonversi dengan cepat menjadi pundi-pundi uang yang masuk ke kantong pemilik kafé. Harga makanan dan minuman di kafé-kafé, memang seringkali lebih mahal dari restoran pada umumnya. Karena ya itu tadi, simbol waktu senggang yang tadinya menjadi kekuatan kafé, telah dijual dengan harga murah pada kapitalisme. Kapitalisme sebagai pemilik, kemudian mengubah label kafé menjadi gaya hidup, alih-alih waktu senggang. Inilah barangkali yang menjadi sumber kegandrungan pengunjung.

Tentu saja saya tidak bisa menyuruh kafé manapun mengembalikan makanannya menjadi seperti kafé-kafé masa silam, karena pastinya menyurutkan keuntungan mereka. Tapi jangan salahkan saya jika tak akan ada pemikir besar seperti Sartre dan De Beauvoir yang lahir dari Ngopi Doeloe.

Continue reading

Tuesday, October 12, 2010

Puisi Substitusi

Puisi Substitusi
Ada yang tak tergantikan oleh emoticon, yakni lesung pipit dan guratan wajah yang menua.

Ada yang tak tergantikan oleh mobil, yakni jalan kaki sambil meneriakkan sebaris kalimat dari Gibran, "Kura-kura bercerita lebih banyak tentang jalan daripada kancil!"

Ada yang tak tergantikan oleh SMS Lebaran, yakni perjuangan untuk berjumpa dan sekedar merasakan kulit tangan kala bersalaman.

Ada yang tak tergantikan oleh Playstation, yakni kesabaran untuk menantikan pergantian musim demi main layangan.

Ada yang tak tergantikan oleh E-book, yakni bau debu dari rak dan buku tua.

Ada yang tak tergantikan oleh marmer dan pendingin di antara bukit Safa dan Marwa, yakni perjuangan Siti Hajar demi anak-anaknya.

Ada yang tak tergantikan oleh telepon seluler, yakni perasaan deg-degan ketika dikunjungi tamu, tanpa lebih dulu menerima SMS, "Gue udah di depan."

Ada yang tak tergantikan oleh e-mail, yakni guratan tangan yang merepresentasikan perasaan, serta kesabaran menunggu pak pos membunyikan bel sepeda.

Ada yang tak tergantikan oleh televisi, yakni kebenaran yang tampak oleh mata kepala sendiri.

Ada yang tak tergantikan oleh Blackberry, yakni kehangatan duduk bersama di meja makan. Membicarakan apa yang baru saja terjadi di sekolah.

Ada yang tak tergantikan oleh McDonald, yakni nikmatnya menanti hidangan sambil berbincang, tanpa khawatir diteror waiting list.

Ada yang tak tergantikan oleh alat musik harpa sekalipun, yakni dinamika angin yang berhembus piano serta gelegar petir yang fortissimo.

Ada yang tak tergantikan oleh gedung pencakar langit, yakni rumah beratap jerami yang tak pernah khawatir oleh gempa.

Ada yang tak tergantikan oleh asuransi kesehatan, yakni perasaan orang gila yang tak pernah sakit meski memakan segala.

Ada yang tak tergantikan oleh Facebook, yakni mendalami pribadi manusia dari percakapan tatap muka. Bukan foto-foto dan profil yang sudah dipilih sedemikian eloknya.

Ada yang tak tergantikan oleh lampu, yakni kesabaran menanti matahari yang pasti akan terbit kembali.

Ada yang tak tergantikan oleh kamera, yakni usaha menggali kembali ingatan dan kenangan yang lebih hidup dan nyata karena tersimpan sejati di dalam hati.

Ada yang tak tergantikan oleh sekolah tinggi-tinggi, yakni kesadaran bahwa pengetahuan hakiki berasal dari pemaknaan pribadi.

Ada yang tak tergantikan oleh Sorabi Enhai, yakni hangatnya pembakaran sorabi di tengah tusukan angin subuh.

Ada yang tak tergantikan oleh tahu-tahu dengan pengawet, yakni Tahu Cibuntu di dalam panci yang baru diangkat langsung dihidangkan.

Ada yang tak tergantikan oleh Kangen Band dan Putri Ayu, yakni The Beatles, Led Zeppelin, Metallica, dan mereka-mereka yang mau berjuang demi pencitraannya sendiri.

Ada yang tak tergantikan oleh wahyu Ilahi pada Muhammad, yakni wahyu Ilahi pada seluruh manusia lewat tuturan semesta.

Ada yang tak tergantikan oleh bahasa, yakni kedalaman tatapan mata.



Udah ah, cape..
Continue reading

Selamat Datang di Klub 27

Selamat datang di Klub 27. Perkumpulan dimana bintang rock dan blues meninggal dunia di usia 27. Brian Jones, Janis Joplin, Jimi Hendrix, Jim Morrison dan Kurt Cobain adalah lima diantaranya. Selamat datang di Klub 27. Perkumpulan dimana manusia manapun memasuki usianya yang terang. Terang karena sukses melewati dengan baik krisis seperempat abad-nya, atau terang karena sebentar lagi jelang kepala tiga, dan para wanita tengah berkesadaran utuh. Berkesadaran bahwa dirinya punya keseksian lahir dan batin. Haha.

Selamat datang di Klub 27. Janganlah engkau ikut-ikutan mati bersama Morrison atau Cobain. Tapi hiduplah selamanya. Karena sesungguhnya pria jika bersama wanita adalah biasa adanya. Tapi jika wanita pergi, pria menjadi gila dibuatnya.

Jadilah terang. Jadilah seksi. Bukan seksi bentukan citra industri. Bukan seksi bentukan aerobik atau tai-chi. Tapi seksi yang cuma dikenali oleh hati. Seksi yang membuat nalar, ruh, nafsu, dan angkara tunduk kala ia disuguhkan berlenggak-lenggok di mata batinmu.

Selamat ulang tahun, kekasihku. Tetaplah haus akan ilmu, karena kehausan adalah ilmu itu sendiri. Tetaplah rindu pada Ilahi, karena kerinduan adalah Tuhan itu sendiri. Tetaplah menjaga dahaga akan kebenaran, karena dahaga sesungguhnya, merupakan kebenaran itu sendiri. Tetaplah cinta pada keluarga dan teman-teman, karena cinta adalah satu-satunya obat kesunyian. Dan di tengah pijakan kakimu yang kokoh, jangan pernah luput melihat ke bawah. Seburuk-buruknya tanah yang kotor dan berdebu, sesungguhnya tanpa ia kau tak mampu berdiri di atas apa-apa.

Joyeux Anniversaire!


Continue reading