Kamis, 30 September 2010

Lari dari Kenyataan

Lari dari Kenyataan
"Mereka kemari bukan untuk tidur, tapi untuk bangun."



- Kata Yusef pada Cobb dalam film Inception


Petikan dialog itu hendak menyebutkan bahwa bermimpi tidak sama dengan keadaan tak nyata, jangan-jangan mimpi itulah kenyataan yang sejati. Ide film Inception tentang "kenyataan mimpi" sungguh keren, tapi bukan isu yang baru sebetulnya, bahkan sangat purba. Kepurbaan itu bukan persis soal mimpinya, tapi soal bahwa banyak kaum mencari cara untuk menemukan "kenyataan"-nya.

Dalam mitologi Yunani, ada dua tokoh yang cukup rajin diangkat dalam kefilsafatan Barat, yakni Apollo dan Dionysus. Keduanya anak dari Zeus: Apollo, ia Dewa Matahari, simbol pengetahuan, pencerahan, rasionalitas, keteraturan, dan nilai-nilai kebudayaan. Dionysus, Dewa Anggur, simbol gairah, hasrat, irasionalitas, khaos, naturalisme, insting, serta absurditas. Keduanya sering dipersandingkan untuk menunjukkan semacam paradoks.

Meski demikian, Nietzsche menilai bahwa penyakit peradaban Barat salah satunya karena mereka terlalu Apollonian: terlalu mengagung-agungkan rasionalitas. Terlalu mempertanyakan air yang diminum adalah berasal dari mana, untuk apa, efeknya bagaimana. Padahal yang lebih penting adalah merasakan gelegak air tersebut kala mengalir di tenggorokan. Demikianlah bertindak ala Dyonisus. Mabuklah, dan dengan demikian sekat-sekat kehidupan tak lagi penting, karena realitas sejati cuma satu: merasa.

Apa yang dibayangkan oleh Nietzsche, -meski dalam kontroversi, termasuk ketika kasus sakit jiwa nya di sebelas tahun akhir hidupnya, ia tidak terlihat gembira seperti mabuknya Dyonisus- sesungguhnya memupus bagaimana Barat memandang realitas pasca Descartes. Descartes dengan cogito ergo sum nya, mencoba memilah dengan tegas bahwa realitas, yang nyata, yang ada, adalah kondisi ketika aku bisa berpikir. Maka itu mustahil itu terjadi kala aku dikuasai iblis. Kala aku bermimpi. Sejak era Cartesian, Barat semakin menegaskan mana yang riil, termasuk Hegel dengan seeing is believing nya, atau Kant dengan noumena dan fenomena nya.

Jauh di Persia sana, enam ratus tahun sebelum Nietzsche, terdapati seorang bernama Jalaluddin Rumi. Ia muslim taat, melaksanakan ritual seperti umumnya. Namun sejak bertemu Syamsyi Tabriz, seorang pria yang kelak memberikan pencerahan bagi Rumi, ia melihat dunia tak lagi sama. Apa yang nampak sesungguhnya cuma permukaan, kepalsuan, dan jangan-jangan cuma mimpi. Apa yang sesunggguhnya nyata ada di baliknya, apa yang sesungguhnya realitas, dapat digapai setelah kita mati, atau bisa saat masih hidup, tapi lewat proses perenungan dan transendensi yang kuat. Maka itulah Rumi menciptakan tarian The Whirling Dervish atau Mevlevi Sema Ceremony, terinspirasi dari Abu Bakar Ash Shiddiq yang menari kegirangan setelah mendengarkan salah satu sabda Rasulullah. Tarian berputar tersebut, adalah cara Rumi untuk mencapai kenyataan dibalik permukaan duniawi. Ia mengalami transendensi, tak sadar, dan menemukan realitas sejati, seperti dalam sajaknya:

Seperti gelombang di atas putaran kepalaku
maka dalam tarian suci Kau dan aku pun berputar
Menarilah, Oh Pujaan Hati,
jadilah lingkaran putaran
Terbakarlah dalam nyala api-bukan dalam nyala lilin-Nya

Jauh sebelum tarian sufi Rumi, dan pastinya lebih jauh sebelum era psychedelic-Art yang melanda AS, kebudayaan pra-sejarah Kaspian serta Mesoamerika telah menggunakan jamur jenis tertentu untuk kepentingan spiritual. Mereka biasa mencari hakikat realitas tidak cuma di alam indrawi ini, tapi juga di "balik sana". Dan ah, sesungguhnya masih banyak contohnya, dari dulu hingga kini, manusia masih sama-sama mencari realitas kesejatiannya. Agama-agama banyak menawarkan ide bahwa kenyataan sesungguhnya bukanlah yang kau tinggali disini. Mereka ada disana, di balik semua ini, dan cara mencapainya adalah dengan beribadah. Tapi beribadah, bagi sebagian orang masih belum cukup juga untuk "melihat" apa yang di balik sana. Butuh lebih dari ibadah, untuk melompat kepada kenyataan sejati. Ibadah berkaitan dengan ritual, sedangkan mencapai kenyataan sejati adalah petualangan pribadi yang kadang-kadang tampak konyol jika dimassalkan.

Lewat tulisan ini saya bukan mau bilang: bermimpilah, karena itu kenyataan sejati. Atau jangan percaya realitas yang kau lihat, karena itu cuma mimpi. Tidak, tidak, saya tidak dalam kapasitas itu. Tapi sekedar mengingatkan, bahwa jangan-jangan pemilahan mimpi dan kenyataan adalah murni persoalan bahasa. Sejatinya, mimpi dan kenyataan tak ada bedanya, keduanya satu seperti kondisi ketika setiap manusia dimabuk anggur. Karena sudah sejak pra-sejarah, sudah lumrah manusia mencari kenyataan dari balik apa yang nampak.

Memang iya jika kemudian, terutama manusia sekarang, rajin berkoar soal realita, berkonsentrasi untuk menghadapi kenyataan sejati. Dengan sesumbarnya mereka bilang, "Hadapi kenyataan, Man, jangan lari." Namun bolehlah kuimajinasikan Tuhan sedang tertawa di atas sana sambil berkata, "Man, sesungguhnya kalianlah yang sedang lari dari kenyataan."



Bandung, 30 September 2010, 01:59. Sambil nonton Valencia vs MU. Semoga kau kalah, MU.
Continue reading

Sabtu, 11 September 2010

Kisah Seorang Sufi Bernama Amab

Kisah Seorang Sufi Bernama Amab
Saya sekeluarga punya semacam tukang pijit terpercaya. Ia datang tak tentu, tergantung panggilan. Tukang pijit ini usianya masih cukup muda, barangkali 24 atau 25, namanya Amab (atau Amap?). Pijitannya boleh dibilang tak sejenis refleksi di pinggir jalan yang cenderung relaksasif dan bikin ngantuk. Amab ini condong pada menyakiti dan bikin kita terjaga selalu akibat kesakitan. Tapi sesudah pemijitan, efeknya lebih terasa. Pegal-pegal hilang, tidur nyenyak, bangun tidur juga enak.

Konon teknik pijit Kang Amab tidak cuma mengandalkan pengetahuan akan titik-titik saraf manusia, tapi juga dimuati tenaga prana yang membuat ia bisa membagikan energinya pada pasien. Saya pribadi ketika dipijit tak pernah jatuh tertidur, tapi selalu menyempatkan untuk mengobrol. Katanya, untuk meraih kemampuan memijat sambil mengobati ini, ada dua pantangan serius dari gurunya. Satu, ia tak boleh bernafsu jika memijat wanita. Dua, ia dilarang memasang tarif atas jasanya ini. Tidak diberi uang tak apa-apa, diberi uang pun tak apa-apa.

Suatu hari ia datang tak cuma untuk memijat, tapi juga membagikan sebuah undangan: undangan pernikahan. Ia akan menikah tanggal 13 September di kampung halamannya, Garut. Topik pernikahan itu jadi tema yang menarik untuk diangkat ketika sesi pemijitan saya. Begini petikan dialognya yang diterjemahkan bebas ke dalam Bahasa Indonesia:

"Kang, gimana sih rasanya memijit tanpa ditarif?"
"Ya, biasa aja, kan niatnya mengobati."
"Pernah gak suatu ketika pulang jalan kaki, karena si pasien gak ngasih uang?"
"Lumayan sering hehehe."
"Terus gimana, sengsara atuh, Kang?"
"Ya gak juga kalau ikhlas mah. Yang menawari saya untuk mengelola panti pijat juga ada. Tergantung orangnya itu mah."
"Oh, Kang, kan mau nikah tuh. Ganti profesi gak?"
"Kenapa harus ganti profesi?"
"Kan istri perlu makan, perlu uang."
"Tukang pijit juga bisa, malah saya mau mendalami ilmu batinnya lagi. Sekarang ini kan baru dhahir (fisik -red)."
"Oh gitu, tapi pasti tertarik masang tarif kan ntar mah kalau udah nikah?"
"Gak tuh."

Saya agak terbangun dari pijitan.

"Seriusan Kang?"
"Iya, emang kenapa?"
"Kan, nanti ada kebutuhan, ada makanan, ada uang sekolah anak. Bukannya mesti ada perencanaan keuangan tuh?"
"Iya, tapi kan rejeki bukan dari manusia."

Kau mesti ada disana untuk melihat sendiri bagaimana ia mengucapkan kalimat terakhir itu. Ia mengucapkannya dengan ketenangan yang menakjubkan, dengan binaran mata yang sulit terkatakan. Membuat saya merasa diskusi selesai, tak perlu ada yang ditanyakan lagi.

Ini semakin membawa renungan saya pada kenyataan: Kang Amab, si tukang pijit itu seolah menampik dengan lembut tapi yakin, dasar-dasar pelajaran ekonomi kita semasa sekolah, bahwa prinsip ekonomi adalah membuat untung sebanyak-banyaknya dengan modal sekecil-kecilnya. Bahwa motif ekonomi adalah untuk memenuhi kebutuhan manusia yang terbatas sedangkan alat pemenuhan kebutuhan terbatas. Ia secara sufistik mematahkannya dengan santai: modal bukan dari manusia, pun untung. Sedangkan kebutuhan manusia hakikatnya tak terbatas, tapi batin bisa menyebut "cukup" untuk membendung semuanya.

Dulu, saya yakin ini prinsip fatalisme yang membosankan. Ini yang ditakutkan Marx sebagai candu yang membuat masyarakat enggan maju. Tapi perlahan keyakinan saya meluntur, seiring dengan semakin banyaknya melihat prinsip "fatalis" yang ternyata menebar rona wajah bahagia. Seiring pula dengan semakin banyaknya melihat orang yang memegang prinsip ekonomi umum yang teguh, ternyata malah membuahkan keluhan dan ocehan tentang hidupnya yang serba kekurangan. Ada kawan yang merasa hidupnya terancam karena gajinya yang sepuluh juta membuat ia tak bisa berbelanja sepatu favoritnya. Ada orang yang begitu gelisah melihat tetangganya beli mobil, membangun rumah, lantas ia minder dan kecewa karena mata pencahariannya tak bisa mengonsumsi hal yang serupa.

Seluruh cerita nabi dan orang bijak, adalah seringkali tentang bagaimana ia menyikapi dunia. Dan kebanyakan sikap yang diambilnya, adalah cenderung mengambil jarak, karena banyak yang berpikir bahwa dunia adalah tipu-tipuan belaka. Kita semua tahu kisah Siddharta Gautama, anak raja yang kabur dari gelimang kemewahan istana, lantas hidup miskin papa di hutan-hutan agar mengetahui hakekat alam semesta. Atau Salman Al-Farisi, sahabat Rasulullah asal Persia, yang bahkan di rumahnya ia tak bisa selonjoran saking sempitnya. Kala ditanya, alasannya ialah, "Saya khawatir saya menjadi cinta dunia jika rumah ini besar." Atau seorang sufi, Jalaluddin Rumi, pasca bertemu gurunya, Shams Tabriz, ia langsung menjauhkan diri dari hiruk pikuk dan menyatakan bahwa yang bisa dirasakan indra sesungguhnya cuma permukaan saja. Pun Yesus Kristus, saya rasa penerimaan tulus dia atas siksaan dan penyaliban, adalah bukti bahwa tubuh ini tak ada artinya. Tubuh ini adalah simbol penghubung dengan dunia yang memuat pemenuhan hasrat tiada habisnya. Maka cambuk dan siksalah karena tubuh adalah dosa.

Jadilah Kang Amab menambah satu lagi daftar sufi yang saya ketahui. Mereka yang tubuhnya menancap pada dunia, tapi ruhnya melayang mencari esensi Ilahiah semesta.
Continue reading

Minggu, 05 September 2010

Ode untuk Ramadhan

Ode untuk Ramadhan
Ramadhan adalah tamu yang mengetuk sanubarimu sekali saja
Tapi ia duduk lama setelah kau bukakan pintunya
Ia berkunjung untuk membicarakan kesunyian
Hingga kau terlelap dan ia pergi tanpa pamit

Kau tidur karena asyik berbincang dengannya
Sampai lupa menyuguhi apa-apa

---

Kala terjaga kau bermunajat:
Jangan pergi
Tinggalah semalam lagi
Karena lebaran, emasmu terlalu berkilauan
Perakmu terlampau menawan

---

Ramadhan mendengarkanmu dalam rintik hujan malam Qadar
Bersama bulan dan bintang sesungguhnya Ia pun bermunajat:
Ya Rabb, ijinkan aku mencintai manusia
Seperti embun mencumbui dedaunan
Seperti oase merekah di padang gersang
Mereka tak butuh balasan atas tugasnya yang memang demikian

---

Manusia meratap cuma sejenak
Sedang Ramadhan merintih sepanjang malam
Ia cemburu pada Lebaran
Yang merebut hati hamba-Nya cuma dengan ketupat
Continue reading

Kamis, 02 September 2010

Sedikit Pengetahuan tentang Para Pecinta Keluarga Nabi

Lukisan artis tentang pembai'atan Ali di Ghadir Kum (diambil dari sini)

Dengan Bismillahirrahmaanirrahim, saya akan menulis sesuatu, yang memang selalu saya tuliskan jika dalam hati punya kegelisahan. Ini tulisan bukan tulisan analitik, apalagi tulisan religius (saya berharap tidak ada tendensi kesana). Ini cuma tulisan, alah, semoga cuma biasa-biasa saja dari seseorang yang baru tahu sesuatu. Yang begitu menempel di benaknya sekalimat ujaran dari Foucault bahwa, "Pengetahuan sedikit adalah berbahaya." Dan ini adalah buah tulisan dari pengetahuan yang sedikit, tapi kegelisahan yang besar. Semoga tidak menjadi sesuatu yang berbahaya, dan jika memang ternyata ada perdebatan di dalamnya, maka ijinkan saya menyerahkan pada yang lebih paham ketimbang kemudian memberikan penjelasan yang memperuncing segala.

----

Dalam beberapa bulan terakhir, sejak berkenalan dengan seorang kawan yang sebut saja namanya Hasan, saya jadi mengetahui dan lama kelamaan mengkaji tentang suatu mazhab dalam Islam yang mempunyai perbedaan dengan apa yang saya pelajari selama ini. Saya mengira Islam yang saya kenal belakangan, adalah Islam universal, yang dimana-mana pasti begitu. Islam indah karena punya tatacara yang satu, setidaknya itu yang saya yakini ketika beribadah di Makkah. Tapi ini adalah mazhab yang begitu asing, dan punya kekontrasan dari banyak segi. Saya pernah dengar perbedaan Persis, Muhammadiyah, atau NU, tapi yang ini begitu berbeda, dan bahkan oleh beberapa golongan sering dituduh sebagai kaum rafidhah (meninggalkan) atau ada pula yang menyebut mazhab ini bukan Islam, tapi semacam agama baru.

Dalam pemahaman saya yang sedikit, saya juga sempat menduga mazhab ini seperti yang sesat. Tapi jika kemudian saya mengklaim itu sesat sebelum mengkaji, maka saya terjebak pada fanatisme buta. Maka saya tak ubahnya seperti pastor Terry Jones yang mau membakar Al-Qur'an pada tanggal 11 September dengan berpegang pada argumen-argumen yang menggelikan. Atau FPI yang kerjanya melakukan penghancuran sana-sini tanpa sadar bahwa menyakiti sesama manusia adalah berdosa. Dan berpegang pada keingintahuan, serta pengalaman mempelajari filsafat, -sehingga saya tidak terlalu sulit menerima perbedaan pemikiran- maka saya mulai pelan-pelan mengkaji mazhab ini.

Semuanya berawal dari Rasulullah SAW ketika pulang dari menjalankan ibadah haji beserta tidak kurang dari 120.000 pengikutnya (dalam riwayat lain disebutkan 70.000). Pada tanggal 18 Dzulhijjah tahun 10 H itu, ketika semua rombongan meninggalkan kota suci Makkah dan bermaksud pulang, tibalah mereka di sebuah sudut padang pasir yang bernama Juhfah, sebuah persimpangan yang memisahkan perjalanan dari satu karavan dari karavan lainnya. Namun sebelum keseluruhan rombongan betul-betul berpisah, Nabi akan menyampaikan semacam risalah, atau bisa dibilang pesan maha-penting. Akhirnya keseluruhan rombongan berkumpul di sekitar sebuah kolam air yang dikenal dengan nama Ghadir Khum. Inilah sepenggal pesan Nabi yang saya kutip dari buku Pesan Terakhir Nabi (SAW.): Terjemahan Lengkap Khotbah Nabi SAW. di Ghadir Khum (18 Dzulhijjah 10 H):

"... Ketahuilah - wahai umat manusia - sesungguhnya Allah telah menetapkannya (Ali) sebagai wali, pemimpin dan imam bagi kalian. Mematuhinya adalah wajib, baik bagi kalangan Muhajirin, Anshar, generasi-generasi yang baik yang datang setelahnya, orang-orang desa, kota, 'ajam (non-Arab), Arab, orang yang merdeka, hamba sahaya, kecil, besar, putih, hitam, dan bagi setiap orang yang menyatakan tauhid kepada Allah (SWT). Keputusan hukum yang diambilnya (Ali) adalah sah. Kata-katanya wajib didengar dan perintahnya wajib dipatuhi. Orang yang menentangnya akan terkutuk, yang mengikutinya akan memperoleh rahmat, dan yang mempercayainya adalah orang yang beriman ...
"

" ... Dan dari setiap ilmu yang kuketahui itu, telah kuajarkan pula secara rinci pada Imam orang-orang yang bertakwa ini. Sungguh tiada ilmu melainkan telah aku sampaikan kepada Ali, sang Imam yang agung ... "

" ... Wahai umat manusia, jangan kalian tersesat karena meninggalkannya; jangan kalian berpaling darinya; dan jangan kalian takabur karena menerima kepemimpinannya ... "


" ... Wahai umat manusia! Utamakanlah Ali, sebab dia adalah manusia yang paling utama setelahku, baik dari kalangan laki-laki ataupun perempuan ..."


Ali yang dimaksud adalah Ali bin Abi Thalib, anak dari paman Nabi yang bernama Abu Thalib, atau bisa dibilang Ali merupakan keponakan Nabi. Sedangkan tentang kebenaran dari khutbah di atas, Dhiya'-uddin Muqbili pernah berkata: "Seandainya kriteria keshahihan hadits al-Ghadir ini kita tolak, niscaya tidak satu pun hadis-hadis lain dapat kita kategorikan sahih." Adapun hadis diatas dilaporkan oleh 125 perawi, diantaranya sahabat Nabi seperti Abubakar bin Abi Qahafah, Umar bin al-Khattab, dan Uthman bin Affan. Bisa dibilang, merujuk pada jumlah perawi dan orang-orang yang menuliskan tentang hadis kejadian diatas, maka khutbah di Ghadir Kum bukanlah kejadian yang mengada-ada.

Singkat cerita, Nabi pun meninggal dunia, sekitar tiga bulan setelah haji tersebut. Bisa dibilang, khutbah Al-Ghadir merupakan pesan terakhir yang sifatnya massal dari Nabi. Setelah itu terjadilah semacam musyawarah di Saqifah Bani Sa'idah, semacam tempat pertemuan tertutup, untuk merumuskan masa depan kepemimpinan kaum Muslimin sepeninggal Nabi. Kita, muslimin pada "umumnya", tahu bahwa setelah Nabi, yang naik sebagai pemimpin adalah Abu Bakar bin Abi Qahafah atau terkenal dengan Abu Bakar Ash-Shiddiq. Jika memang demikian, maka kejadian tersebut bertentangan dengan khutbah Nabi di Ghadir Kum yang mengisyaratkan Ali bin Abi Thalib sebagai penerusnya. Perbedaan cara pandang inilah yang membawa Islam terbelah menjadi dua kelompok besar: Ahlus Sunnah dan Syi'ah.

Ahlus Sunnah atau Sunni, adalah kelompok yang mengakui khulafaurasyidin, atau kepemimpinan pasca wafatnya Nabi adalah berturut-turut kekhalifahan Abu Bakar, Umar, Uthman, dan lalu Ali. Mereka percaya bahwa kepemimpinan pasca Nabi diserahkan pada musyawarah diantara umatnya. Sedangkan Syi'ah, yang merupakan kependekan dari Syi'ah Ali atau berarti Pengikut Ali, adalah kelompok yang percaya bahwa Nabi mewariskan kepemimpinan pasca wafatnya beliau pada keponakannya, Ali bin Abi Thalib. Secara lebih luas, dari buku berjudul Dahulukan Akhlak di atas Fikih, Syi'ah adalah kelompok yang memandang bahwa otoritas untuk menetapkan hukum-hukum Tuhan dan menjelaskan makna Al-Quran setelah Rasulullah wafat dipegang Ahlul Bait.

Lalu apa gerangan Ahlul Bait? Ahlul Bait yang diterjemahkan secara harfiah berarti People of The House atau Penghuni Rumah, merujuk pada keluarga dan keturunan Rasulullah. Kaum Sunni dan Syi'ah berbeda pendapat soal ini: Syi'ah berpegang bahwa Ahlul Bait berkisar lima yakni Muhammad sendiri, Ali bin Abi Thalib, putri Nabi, Fathimah Az-Zahra, serta cucu, Hasan dan Husain. Sedangkan dalam Sunni, Ahlul Bait ini luas cakupannya, tidak terbatas pada kelima nama tersebut, melainkan keluarga dalam arti yang lebih luas.

Kembali ke kepemimpinan, dengan naiknya Abu Bakar Ash-Shiddiq sebagai khalifah sepeninggal Rasulullah, sedangkan kaum Syi'ah berpegang pada hadits Ghadir Kum, maka cara pandang Sunni dan Syi'ah sangat berbeda terhadap para sahabat. Bagi kaum Syi'ah, bisa dibilang para sahabat ini melakukan perebutan kekuasaan, yang oleh Rasulullah sempat diramalkan dalam ucapan, "Setelah aku meninggal, akan timbul fitnah." Terlebih kaum Syi'ah percaya bahwa Nabi selalu meninggalkan petunjuk bagi umatnya, sekecil apapun, apalagi soal kepemimpinan. Beberapa kejadian juga memperkuat hal ini, misalnya ketika Nabi di ranjang menjelang wafatnya, ia meminta sahabatnya mengambilkan sesuatu untuk ditulisi pesan, kemungkinan semacam wasiat. Tapi kemudian Umar ibn Khattab berkata, "Sesungguhnya telah cukup Kitabullah (Al-Qur'an) diantara kami." Dalam versi Sunni, ucapan Umar ini menunjukkan kewibawaannya dan keimanannya terhadap Al-Qur'an. Tapi bagi Syi'ah, perbuatan Umar ini menghalangi pewasiatan Rasulullah yang sangat mungkin menghalangi para sahabat menuju kekuasaan. Efek dari sudut pandang yang berbeda tentang sahabat ini cukup masif. Syi'ah hanya memegang hadis dari Ahlul Bait, dan menolak hadis dari para sahabat. Pendek kata, Syi'ah lebih selektif dalam menerima hadis, mengecek jalur sanad secara lebih teliti, dan tidak mau dalam jalurnya terdapat orang yang tidak bisa dipercaya, Abu Hurairah misalnya, yang dianggap tidak masuk akal bisa meriwayatkan lima ribuan hadis sedangkan para sahabat saja hanya sekitar seribu kurang. Selain itu, Abu Hurairah juga dianggap dekat dengan Muawiyah, khalifah kelima Sunni yang mana anaknya, Yazid, dikenal dalam peristiwa Karbala karena membunuh Husain (cucu Nabi) dan segenap keluarganya.

----

Saya sesungguhnya belajar beberapa hal juga, tapi pengetahuan yang dipaparkan di atas adalah barangkali yang paling "aman" yang bisa saya bagi. Itupun, kalau boleh jujur, saya tuliskan dengan begadang dua malam dalam keadaan peluh keringat dan ketelitian yang lebay. Karena khawatir ada yang meleset dan menimbulkan salah paham yang merepotkan.

Yang mau saya beri catatan kecil sesungguhnya sederhana saja. Saya mau mengutip ucapan Paul Spoonley yang diambil dari buku Rasisme: Sejarah Singkat karya George M. Fredericksen, katanya, rasisme itu: " ... mencerminkan kemalasan orang Eropa untuk berpikir ketika menghadapi keragaman manusia dalam perjalanan ekspansi mereka." Ini saya mau kaitkan dengan fanatisme. Fanatisme juga semacam bentuk kemalasan dalam mengkaji yang liyan, yang berbeda dari kita. Saya juga punya fanatisme, terutama pada sepakbola. Jika saya memuja Italia, maka saya tak peduli lawan Italia kalah sampai 10-0 dan perasaan mereka hancur lebur. Saya tak mau peduli si pemain lawan punya istri-anak yang begitu sedih ayahnya dipecundangi dan maka itu anak-anaknya jadi diledek oleh teman-teman sekolahnya. Saya tak mau peduli bahwa lawan yang dikalahkan, pelatihnya sudah berpikir keras sampai tidak tidur, tidak makan, atau tidak beribadah. Ini bukti fanatisme: semacam pengerasan diri untuk menutupi kemalasan mengkaji.

Mengkaji tidak sama dengan mengikuti. Mengkaji tidak sama dengan menjadi bagian darinya. Jika membenci berlebihan adalah akibat dari pengkajian yang lemah, maka pengkajian yang lemah juga menyebabkan cinta yang berlebihan. Saya masih seorang Ahlus Sunnah, tapi saya sekarang ikut sedih jika Syi'ah dituduh rafidhah. Bagi saya, meskipun sempat kaget dengan beberapa fikih Syi'ah, tapi saya mencoba melihat hal tersebut dari jarak yang membuatnya terlihat indah. Sungguh perbedaan adalah rahmat. Sungguh jangan-jangan tidak ada yang namanya berbeda itu, yang ada cuma belum terbiasa. Atau fanatisme buta.

Continue reading