Wednesday, July 14, 2010

The Old Man and The Sea: Mahakarya tanpa Menggurui


"There isn't any symbolism. The sea is the sea. The old man is an old man. The boy is a boy and the fish is a fish. The shark are all sharks no better and no worse. All the symbolism that people say is shit. What goes beyond is what you see beyond when you know."

- Ernest Hemingway, 1952

Bagi orang yang rajin mempertentangkan interpretasi karena konon punya kandungan benar-salah, atau tepat-keliru, maka pernyataan Hemingway di atas sungguh melegakan. Kenyataannya, sang penulis sudah mengklaim bahwa buku ini tak dimaknai oleh dirinya. Ia cuma membuat sesuatu senyata mungkin, tanpa reduksi, tanpa multitafsir, dan kemudian pembaca dilepas sebebas-bebasnya untuk mencari makna dibalik ceritanya.

Alkisah seorang lelaki tua bernama Santiago, kerjanya melaut mencari ikan. Hanya saja malang tengah menimpanya, sudah 84 hari si kakek belum jua dapat ikan. Kala berlayar Santiago biasa didampingi Manolin, seorang bocah. Tapi di hari ke-85, ia memutuskan melaut sendiri saja. Manolin dipaksa tinggal bersama orangtuanya, atau kapal-kapal lain yang lebih beruntung.

Di laut, ia sukses menangkap ikan marlin besar dan katanya terbesar sepanjang hidupnya. Malang nian ikan marlin tangkapannya itu ternyata mencuri perhatian banyak ikan hiu yang lalu lalang di laut lepas. Para hiu muncul bergantian, hingga si kakek kehabisan senjata dan semakin sulit mengusirnya. Ikan marlin yang tadinya utuh, semakin koyak oleh terkaman hiu yang sukses mencuri segigit demi segigit. Hingga akhirnya Santiago sukses mencapai daratan dengan luka dan lelah yang amat sangat. Ikan marlin itu sudah tak utuh, tapi para nelayan sekampungnya tetap menghargai perjuangan si kakek. Apalagi ikan itu sangatlah besar. Santiago tak ambil pusing, ia hanya ingin istirahat dan tidur.

Tadinya saya agak malas menuliskan ringkasan cerita, tapi ketika ditulis, eh ternyata sederhana. Memang seperti itu saja ceritanya. Maaf-maaf bagi yang belum baca, tapi memang demikianlah adanya. Yang pasti kekuatannya, bagi saya, bukan dari ceritanya. Tapi dari detail serta gaya tutur yang kuat dan tajam.

Pertama, Hemingway menggunakan sudut pandang orang ketiga (Eye of God) sehingga sangat memudahkan ia menceritakan segala hingga kedalam-dalamnya. Kekuatan ini terasa kala Santiago yang sendirian di laut, mesti berdialog terus menerus dengan batinnya. Sudut pandang orang ketiga sukses mengeksplor kegundahan demi kegundahan Santiago disertai detail gerakan dan aktivitas apa yang sedang ia lakukan kala itu. Jangan lupakan juga penggambaran kondisi lautan dan alam sekitar yang dituturkan Hemingway dengan amat bening. Bahkan pertempurannya dengan hiu jauh dari kesan seru dan menegangkan. Hemingway menuliskannya secara elegan bagai adegan perang The Last Samurai dengan latar belakang musik Koto dan Shamisen.

Ada beberapa kalimat yang cukup dalam dan menarik sebetulnya, tapi barangkali mesti jeli karena sangat tersembunyi dalam paparan deskripsi nan detail ala Hemingway. Misalnya, ketika Santiago melihat suasana lautan dengan aktivitasnya, ia merasa bahwa "Tidak ada orang yang sendiri di tengah laut." Bagi saya kalimat itu punya nilai, meski entah Hemingway sengaja memberi sentuhan atau tidak. Atau yang agak kelihatan, "Manusia tidak bisa ditaklukkan. Mungkin bisa dihancurkan, tapi tidak bisa ditaklukkan." Kembali pada pernyataan Hemingway di atas, memang cukup melegakan di tengah kesulitan pembacanya menemukan makna di tengah belantara kekayaan daya tutur dan justru kesederhanaan cerita. Hemingway tidak gatal untuk memasukkan petuah-petuah secara vulgar di tengah ceritanya. Ia memilih mengalir saja, fokus pada tokoh dan alurnya, tanpa ada upaya menggurui.

Tapi jika terpaksa merumuskan makna, adakah itu bagi saya? Tentu saja ada. Salah satunya adalah nilai-nilai perjuangan si kakek yang begitu gigih mempertahankan bongkah demi bongkah daging ikan marlin dari serbuan ikan hiu. Ia tenang dan tak kehabisan akal meski tubuh penuh luka dan stok senjata hampir habis. Sang lelaki tua, meski punya sifat cuek dan keras kepala, tapi tetap sosok yang bijaksana bagi saya. Meski tak sevulgar kebijaksanaan Almustafa dalam Sang Nabi, Santiago bijak dalam artian, ia mau mendengarkan batinnya berkata apa. Dan itu dilakukannya dalam keadaan apapaun, termasuk kala terjepit, dikitari hiu yang mengancam nyawa. Santiago selalu tenang, dan selalu berdiskusi dengan kata hati sebelum berbuat apa-apa.

Dan dari pernyataan Hemingway di pembuka tulisan, saya memaknai ini: Jangan berpikir, tulis saja. Tulis saja.

Previous Post
Next Post

0 comments: