Kamis, 29 Juli 2010

KlabKlassik dengan Dua "S" (Tribute to Mas Niman)

KlabKlassik dengan Dua "S" (Tribute to Mas Niman)
Jika kalian, wahai para penggiat di KlabKlassik, merasa bahwa komunitas ini tengah dalam kondisi menyenangkan, maka saya coba bahas darimana kita ini berasal. Agar kita tidak termasuk golongan Malin Kundang yang setelah mengalami nikmat duniawi lalu lupa pada wanita yang melahirkannya ke dunia.

Kita ini, diberi nama KlabKlassik, jangan tanya saya, Bilawa, Royke, atau Iyok, atau Kang Trisna kenapa-kenapanya. Bukan, bukan kami yang menamainya. Adalah seorang penikmat jazz sekaligus koordinator komunitas jazz bernama KlabJazz, yang menamai kita seperti ini, lima tahun silam. Ia pun, sesungguhnya, barangkali tidak tahu kenapa melabelinya dengan dua huruf "s". Saya cuma pernah mendengar pernyataan beliau: "Karena setahu saya, klasik itu nama salah satu periode dalam sejarah musik Barat. Jadi klasik disini mengacu pada hal yang berbeda." Demikianlah beliau berkata, dan kami yang tak paham mengangguk tanda iya. Adakah kami paham sekarang? Sesungguhnya tidak juga, tapi kami sudah menganggap dua "s" itu sebagai ciri yang memang telah melekat. Seperti kata Bilawa: Biarkan saja jika memang dua "s" tidak bermakna, setidaknya itu memudahkan orang dalam mengingat.

Dia orangnya, beliau, yang memberi kita pada mulanya, sebuah hari di minggu kelima pertemuannya. Jadi begini, KlabJazz berkumpul setiap hari minggu, dan jika di suatu bulan terdapat minggu kelima, itulah saatnya KlabKlassik beraksi. Beliau tak cuma merelakan pertemuan komunitasnya diambil kami, anak ingusan yang haus eksitensi, tapi juga mau mengundang komunitas jazznya untuk tetap turut serta dalam KlabKlassik. Jadilah pertemuan kami seolah banyak orang yang datang, biarpun mereka entah suka musik klasik entah tidak, atau barangkali ada rasa kasihan terhadap kami-kami yang tak jelas ini.

Dia orangnya, beliau, yang mengingatkan bahwa: "Tidak boleh ada iuran bulanan, karena bayar berarti in, tidak bayar berarti out." Itulah ucapan yang mendasari, seluruh gerak-gerik kita sekarang ini. Jika ya, Ririungan Gitar Bandung bayar, itu disebabkan karena demi konser, agar anggota menjadi bertanggungjawab mengikuti latihan demi latihan. Karena absen satu atau dua kali dalam persiapan, akan mengganggu harmonisasi keseluruhan. Lagipula, siapa yang melarang kalian mengambil teh botol atau mie sebagai konsumsi? Keduanya berbeda harga, tapi di mata kami derajatnya sama: sama-sama dibayar dengan uang RGB.

Jika ya, akademi KlabKlassik membayar, juga karena ini sistem kelas lengkap dengan dosennya yang nyata. Artinya, kita semua tentu saja tidak mau mengecewakan sang dosen, baik oleh kehadiran, baik oleh imbalan. Sang dosen bukan seorang yang mata duitan, saya tahu betul. Tapi ia seorang yang mencintai apresiasi dari murid-muridnya. Dan berhubung klab tak mampu membayar jasa-jasanya dengan uang yang banyak, maka kami membayar dengan kehadiran yang bertanggungjawab. Bagaimana agar kehadiran bisa bertanggungjawab? Sebagai paksaan, ya lewat membayar. Dan kembali lagi, kau bisa ambil risoles ataupun kopi aroma sebagai konsumsi, dengan derajat yang sama.

Dia orangnya, beliau, yang kemudian entah kenapa ternyata bagaikan filsafat Wittgenstein: "Aku hanya memberi kalian tangga. Setelah kalian berada di atas, maka tak perlu lagi tangga itu. Agar kalian tak punya pilihan untuk turun." KlabJazz kemudian berjuang di tempat yang berbeda dengan kami. Sementara kami, KlabKlassik, terus mencari bentuk sampai selama-lamanya: "Tempus mutantur, et nus mutamur in ilid" Waktu berubah, dan kita ikut berubah di dalamnya.

KlabKlassik sekarang, bagi saya, adalah tempat dimana saya tak perlu takut jadi manusia terasing di tengah mekanisasi rutinitas perkotaan. Ada masa satu hari dalam seminggu dimana saya mewaraskan diri. Menggunakan segenap hati untuk melakukan sesuatu yang tidak berguna. Karena adakah segala sesuatu mesti berguna? "Bersiul pun tidak berguna," demikian kata Goenawan Mohamad. Ini adalah tempat dimana saya menghabiskan ongkos, waktu, tenaga untuk kesana. Yang oleh manusia ekonomi saya ini dibilang inefektif, karena kemudian apa yang saya lakukan tidak mengembalikan modal yang telah saya keluarkan. Tapi jika Nietzsche berkata, "Hakekat kehidupan adalah kehendak untuk berkuasa" maka dari klab saya belajar, "Hakekat kehidupan adalah mengekspresikan rasa cinta" Dan jika kau mempunyai sesuatu, ataupun tempat, ataupun manusia, tempat kau mengekspresikan rasa cintamu secara bebas, maka barangkali damailah engkau. Dan jika memang ekonomi berbicara tentang uang, tidakkah uang nantinya juga digunakan untuk mengekspresikan rasa cintamu akan sesuatu?

Akhirul kata, semoga tulisan ini adalah bentuk rasa syukur atas adanya tempat yang barangkali Tuhan akan berpikir ulang jika mau menggelar kiamat. Setidaknya masih ada satu tempat dimana orang masih mau menggerakkan kakinya untuk sesuatu yang tak praktis. Sesuatu yang melampaui kepraktisan, yang cuma bisa dijawab oleh makna yang tertanam dalam masing-masing orang. Yang hingga kini kami tak pernah paham kenapa Kang Trisna dari Subang mau jauh-jauh datang ke pertemuan klab yang cuma dua jam lalu lantas pulang. Yang hingga kini kami tak pernah paham kenapa Mas Yunus dalam kondisi tipus mau dengan sempoyongan datang ke klab untuk mendengarkan haha hehe kami yang pasti kemasannya jauh lebih tidak menarik dibanding filosofi The Secret. Tidakkah barangkali, kiamat turun ketika semua orang sudah berpikir praktis? Semua orang sudah berpikir apa yang berguna bagi ia, dan tidak lagi menalar soal hal-hal yang melampaui itu?

Maka berbahagialah kita, dan berterima kasihlah pada orang yang jika tiada ide-idenya yang brilian, maka barangkali tak pernah ada klab ataupun tak pernah ada gairah untuk menjalankannya. Kita disini intinya mengikat silaturahmi, atau kata Kang Trisna, "klab ini dipersatukan oleh sesuatu, yang sesungguhnya bukan musik, tapi entah apa." Dan Mas Niman, Dwi Cahya Yuniman, kaulah beliau yang kami maksud. Dan kami berterima kasih sedalam-dalamnya atas batu pertama yang kau letakkan. Semoga kita bisa membangunnya hingga menjadi menara yang tinggi. Dan ketika sudah terlampau tinggi, seyogianya kita ingat tragedi Menara Babel yang mahsyur. Mereka tak mau lagi memandang ke bawah, tapi terus meninggikan menara, sehingga Tuhan menghukumnya dengan menjadikan lidah mereka bersilat berbagai bahasa.

Bach memberkati
Continue reading

Rabu, 21 Juli 2010

Football Manager dan Eksistensialisme

Football Manager dan Eksistensialisme
Meski sudah sepuluh hari berlalu, euforia Piala Dunia kemarin bagi saya masih terasa. Kelanjutan euforia tersebut saya wujudkan dengan instalasi Football Manager (FM) 2010 di komputer (Catat: Saya nyaris shalat istikharah untuk memutuskan membeli game tersebut atau tidak. Terakhir saya memainkannya tahun 2007 dan 2008, kuliah saya terbengkalai dan nyaris gagal!). Saya belum pernah mencoba narkoba, tapi jika katanya itu bikin kecanduan, maka bolehlah saya bilang FM ini semacam narkoba. Isinya, bagi orang yang tak paham, sepertinya cuma berisi teks-teks dan bulatan-bulatan yang tak masuk akal. Tak masuk akal jika dikaitkan dengan adanya orang yang epilepsi karenanya, layar retak oleh sebab FM non-stop dinyalakan seminggu, hingga orang pacaran menjadi putus karenanya. Dan pemutusan itu disimbolisasikan dengan dihancurkannya CD FM oleh pihak wanita.

Saya tahu betul laknatnya efek FM. Maka dengan berhati-hati, saya install game tersebut di komputer kakak saya, agar saya cuma bisa memainkan di kala kakak saya pergi. Tapi alih-alih terhindar dari kecanduan, saya malah dipergoki kakak saya kala bermain FM, dan beliau mengatakan: "Syukurlah komputer saya kepake juga. Sok terusin." Dengan legalitas tersebut, kecanduan menjadi tak tertahankan.

Saya merenung-renung kemudian, kok bisa ya teks-teks begini saja menjadi candu? Jika Marx masih ada, pasti ia tak cuma melarang agama, tapi juga FM. Nalar filsafati saya mengejar: melayang sejenak pada ujaran Kierkegaard, "Siapakah aku? Dari manakah aku? Mau kemanakah aku? Mengapa aku dilahirkan? Dan mengapa kelahiranku tidak dibicarakan dahulu denganku?" Ini ungkapan eksistensial yang cukup terkenal, menggambarkan bahwa eksistensi manusia pada dasarnya menyedihkan, karena salah satunya: ia berada di dunia tanpa tedeng aling-aling. Begitu saja, kun fayakuun. Maka itu, jika saya bermain FM, pada dasarnya saya mempertanyakan eksistensi dasar saya (yang setuju dengan Kierkegaard: menyedihkan), sekaligus menginginkan semacam eksistensi yang lain. Seolah-olah jika eksistensiku bisa dibicarakan, maka aku memilih untuk menjadi pelatih bola.

Lalu teringat saya akan pernyataan keras Nietzsche, "Hakekat hidup adalah kehendak untuk berkuasa!" Saya sempat maju mundur memberikan dukungan atas kalimat tersebut, tapi ketika main FM, saya semakin mengarah pada setuju. Dalam artian, tidakkah FM merepresentasikan kehendak untuk berkuasa? Kapan lagi kau, hai para pecandu, punya kesempatan mengatur dengan seenaknya pemain sekaliber Lionel Messi, Cristiano Ronaldo, atau Wayne Rooney, dan memecatnya kalau kau mau? Kapan lagi kau, jika kau pembenci MU, punya kesempatan mempermalukan MU di Old Trafford, jika bukan di ranah FM? Kapan lagi kau, yang begitu gatal dengan kekomplitan Barcelona, tapi lemah di penjaga gawang, untuk kemudian mengganti Victor Valdes dengan Gianluigi Buffon atau Petr Cech misalnya? Di dunia nyata, Barcelona nyaris tak mungkin mendepak Victor Valdes karena loyalitas dan lokalitasnya. Tapi di FM, persetan dengan semuanya, skill tak bagus silakan keluar. Punya uang mari boyong yang kompeten. Belum lagi FM punya save, reset, quit. Jika kalah, kau bisa mengulang kapanpun sesukamu hingga kau menang. Tidakkah dunia nyata tak punya itu? Tidakkah game sesungguhnya ikut menyadarkan kita bahwa eksistensi manusia sesungguhnya menyedihkan? Tengok betapa nikmatnya bagi kalian yang pernah bermain Grand Thief Auto San Andreas. Menghancurkan kota, mencuri mobil, menembak kepala orang, menikam polisi, rasanya ingin sekali dilakukan di jalanan kota Bandung. Tapi sekali lagi, eksistensi yang terlempar ini, memenjarakan kita.

Maka itu, wahai para pemain FM yang masih aktif, belilah Daniel Aquino. Karena cuma di FM ia jago, di kehidupan nyata ia tak eksis. Dan saya yakin, seorang Aquino yang asli, berperasaan sama seperti kita. Ia menikmati aksinya di FM, tapi sekaligus menyadari bahwa dirinya begitu menyedihkan.
Continue reading

Rabu, 14 Juli 2010

The Old Man and The Sea: Mahakarya tanpa Menggurui


"There isn't any symbolism. The sea is the sea. The old man is an old man. The boy is a boy and the fish is a fish. The shark are all sharks no better and no worse. All the symbolism that people say is shit. What goes beyond is what you see beyond when you know."

- Ernest Hemingway, 1952

Bagi orang yang rajin mempertentangkan interpretasi karena konon punya kandungan benar-salah, atau tepat-keliru, maka pernyataan Hemingway di atas sungguh melegakan. Kenyataannya, sang penulis sudah mengklaim bahwa buku ini tak dimaknai oleh dirinya. Ia cuma membuat sesuatu senyata mungkin, tanpa reduksi, tanpa multitafsir, dan kemudian pembaca dilepas sebebas-bebasnya untuk mencari makna dibalik ceritanya.

Alkisah seorang lelaki tua bernama Santiago, kerjanya melaut mencari ikan. Hanya saja malang tengah menimpanya, sudah 84 hari si kakek belum jua dapat ikan. Kala berlayar Santiago biasa didampingi Manolin, seorang bocah. Tapi di hari ke-85, ia memutuskan melaut sendiri saja. Manolin dipaksa tinggal bersama orangtuanya, atau kapal-kapal lain yang lebih beruntung.

Di laut, ia sukses menangkap ikan marlin besar dan katanya terbesar sepanjang hidupnya. Malang nian ikan marlin tangkapannya itu ternyata mencuri perhatian banyak ikan hiu yang lalu lalang di laut lepas. Para hiu muncul bergantian, hingga si kakek kehabisan senjata dan semakin sulit mengusirnya. Ikan marlin yang tadinya utuh, semakin koyak oleh terkaman hiu yang sukses mencuri segigit demi segigit. Hingga akhirnya Santiago sukses mencapai daratan dengan luka dan lelah yang amat sangat. Ikan marlin itu sudah tak utuh, tapi para nelayan sekampungnya tetap menghargai perjuangan si kakek. Apalagi ikan itu sangatlah besar. Santiago tak ambil pusing, ia hanya ingin istirahat dan tidur.

Tadinya saya agak malas menuliskan ringkasan cerita, tapi ketika ditulis, eh ternyata sederhana. Memang seperti itu saja ceritanya. Maaf-maaf bagi yang belum baca, tapi memang demikianlah adanya. Yang pasti kekuatannya, bagi saya, bukan dari ceritanya. Tapi dari detail serta gaya tutur yang kuat dan tajam.

Pertama, Hemingway menggunakan sudut pandang orang ketiga (Eye of God) sehingga sangat memudahkan ia menceritakan segala hingga kedalam-dalamnya. Kekuatan ini terasa kala Santiago yang sendirian di laut, mesti berdialog terus menerus dengan batinnya. Sudut pandang orang ketiga sukses mengeksplor kegundahan demi kegundahan Santiago disertai detail gerakan dan aktivitas apa yang sedang ia lakukan kala itu. Jangan lupakan juga penggambaran kondisi lautan dan alam sekitar yang dituturkan Hemingway dengan amat bening. Bahkan pertempurannya dengan hiu jauh dari kesan seru dan menegangkan. Hemingway menuliskannya secara elegan bagai adegan perang The Last Samurai dengan latar belakang musik Koto dan Shamisen.

Ada beberapa kalimat yang cukup dalam dan menarik sebetulnya, tapi barangkali mesti jeli karena sangat tersembunyi dalam paparan deskripsi nan detail ala Hemingway. Misalnya, ketika Santiago melihat suasana lautan dengan aktivitasnya, ia merasa bahwa "Tidak ada orang yang sendiri di tengah laut." Bagi saya kalimat itu punya nilai, meski entah Hemingway sengaja memberi sentuhan atau tidak. Atau yang agak kelihatan, "Manusia tidak bisa ditaklukkan. Mungkin bisa dihancurkan, tapi tidak bisa ditaklukkan." Kembali pada pernyataan Hemingway di atas, memang cukup melegakan di tengah kesulitan pembacanya menemukan makna di tengah belantara kekayaan daya tutur dan justru kesederhanaan cerita. Hemingway tidak gatal untuk memasukkan petuah-petuah secara vulgar di tengah ceritanya. Ia memilih mengalir saja, fokus pada tokoh dan alurnya, tanpa ada upaya menggurui.

Tapi jika terpaksa merumuskan makna, adakah itu bagi saya? Tentu saja ada. Salah satunya adalah nilai-nilai perjuangan si kakek yang begitu gigih mempertahankan bongkah demi bongkah daging ikan marlin dari serbuan ikan hiu. Ia tenang dan tak kehabisan akal meski tubuh penuh luka dan stok senjata hampir habis. Sang lelaki tua, meski punya sifat cuek dan keras kepala, tapi tetap sosok yang bijaksana bagi saya. Meski tak sevulgar kebijaksanaan Almustafa dalam Sang Nabi, Santiago bijak dalam artian, ia mau mendengarkan batinnya berkata apa. Dan itu dilakukannya dalam keadaan apapaun, termasuk kala terjepit, dikitari hiu yang mengancam nyawa. Santiago selalu tenang, dan selalu berdiskusi dengan kata hati sebelum berbuat apa-apa.

Dan dari pernyataan Hemingway di pembuka tulisan, saya memaknai ini: Jangan berpikir, tulis saja. Tulis saja.

Continue reading

Minggu, 11 Juli 2010

Habis Terang Terbitlah Gelap

Habis Terang Terbitlah Gelap

Ide tulisan ini bukan ide baru. Saya terinspirasi dari tulisan Kang Ibing menjelang final Piala Dunia 1998 di Harian Umum Pikiran Rakyat, judulnya saya ingat: “Penantian yang berakhir dengan keueung (sunda: =sepi – red)”. Jadi waktu itu, tahun 1998, sedang musim krisis moneter di Indonesia. Piala Dunia sebagai pesta olahraga dunia, sukses menghibur masyarakat Indonesia yang tengah dililit krisis untuk sementara. Indikatornya, dimana-mana banyak terjadi nonton bareng, dan dengan hingar bingar diikuti pelbagai lapisan masyarakat. Tulisan Kang Ibing itu seolah menceritakan bahwa final Piala Dunia, yang waktu itu melibatkan Prancis melawan Brasil, adalah sesuatu yang dinantikan oleh sebagian besar manusia di dunia, khususnya di Indonesia. Tapi berakhirnya final adalah sekaligus juga kesedihan yang mendalam, karena Indonesia akan kembali dalam realitas krisis yang mencekam.

Setelah tahun 1998, Piala Dunia sudah bergulir tiga kali, tepatnya tahun 2002, 2006 dan sekarang 2010. Lagi-lagi perasaan itu tetap ada, dan saya yakin itu terasa bagi penonton Piala Dunia di negara miskin di manapun. Menjelang final, selalu ada perasaan takut jika peluit akhir dibunyikan dan piala telah diserahkan, kita semua akan kehilangan eskapis terbesar dalam sebulan terakhir: Sesuatu yang lebih jarang dari lebaran, sesuatu yang membuat jam tidur manusia Asia berbalik seketika, sesuatu yang membuat jantung berdetak setiap hari bagi mereka yang taruhan atau punya tim yang amat difavoritkan, serta sebuah gegap gempita dan histeria yang melarutkan masing-masing persona dalam lautan massa. Yang menonton Piala Dunia, tak selalu orang yang menyukai sepakbola, tapi mereka terpaksa ikut, karena ikut hanyut dalam demam global. Bagaikan mendadak harus menjadi shaleh karena kau berada di Makkah. Bagaikan seluruh manusia Eropa tenggelam dalam gelegak spirit Renaisans, dan asing rasanya melihat masih ada orang yang teosentrik.

Dan sekarang, eskapis terbesar itu akan segera pergi. Gongnya diawali dari gol Tshabalala, dan akhirnya kita belum tahu akan ditutup oleh gol siapa, dan siapa yang akan hadir di podium sana mengangkat trofi. Kita sudah sama-sama melewatkan ratusan gol dan drama getir dari panggung berwarna hijau itu. Dari mulai heroisme singkat Korut, tumbangnya duo finalis empat tahun lalu, insiden tangan Suarez, kegagalan penalti Cardozo, hingga akhirnya kita akan sama-sama melihat dua calon juara yang akan menorehkan nama negaranya di trofi untuk kali pertama. Habis terang benderang final yang akan ditonton milyaran manusia di seluruh dunia ini, kegelapan siap menyelimuti kita lagi: kembali ke realitas kesibukan manusia yang absurd dan tak berujung. Tapi jika atas dasar itu kemudian FIFA jadi menyelenggarakan Piala Dunia setahun sekali, maka alih-alih jadi solusi, yang demikian malah jadi sumber absurditas yang baru. Jadi empat tahun ini sudah pas sekali nampaknya. Empat kali kita bertemu lebaran dan empat kali itu kita berjuang menghapus dosa. Tapi setelah empat kali, ada satu momen kesempatan kita berganti agama untuk sementara. Agama sepakbola yang tak kalah mulia, karena ia sama-sama menyelamatkan dari krisis, kendati tak permanen. Tapi tidakkah agama kebanyakan juga demikian?
Continue reading