Wednesday, June 30, 2010

Balada Palermo

Balada Palermo
Piala Dunia 2010 sudah hampir mencapai puncak. Selama tiga minggu ke belakang, even tersebut telah menyuguhkan banyak hal. Banyak hal yang sesungguhnya sebuah drama yang berulang, misalnya: gagalnya tim-tim unggulan, melempemnya pemain yang hebat di klub, berpacunya tim kuda hitam di jalur juara, hingga munculnya bintang-bintang baru. Keempat itu selalu muncul di edisi kejuaraan sepakbola -atau olahraga- manapun. Itu yang bikin menarik, itu yang bikin Piala Dunia masih ditonton entah hingga kapan. Ada memang perentilan menarik di kejuaraan Afrika Selatan ini, misalnya tiupan terompet vuvuzela yang mengalahkan tradisi yel-yel penonton, ataupun bola Jabulani yang begitu memusingkan para kiper dan pengumpan lambung. Tapi dari sekian banyak, saya mengingat satu hal dalam benak. Bukan redupnya Rooney, bukan kehebatan permainan Nippon, bukan pula kiprah Korea Utara, ataupun buruknya Ronaldo. Saya mengingat satu, seorang Argentina bernama Martin Palermo.

Sedari sekitar SMP, kala orde baru masih rajin menayangkan Dunia Dalam Berita secara teratur pukul 21.00, saya selalu ingat pria berjambul kuning itu. Ya, Martin Palermo nyaris selalu disebut minimal seminggu sekali. Entah kenapa, dalam sesi berita olahraga, Dunia Dalam Berita rajin sekali menampilkan Liga Argentina. Dan disana, El Loco (Si Gila, julukan Palermo) selalu ditampilkan wajahnya karena hampir selalu mencetak gol untuk kesebelasannya, Boca Juniors. Dari situ saya jadi pengagum instan Palermo. Karena memang yang saya lihat cuma cuplikan gol-golnya saja, jadi saya berpikir dia pemain yang hebat. Tapi saya sungguh tak tahu, bahwa barisan penyerang nasional Argentina begitu disesaki pemain berkelas, sehingga Palermo jarang sekali terpanggil. Bagi saya waktu itu, Palermo adalah pemain hebat, masa Argentina tak meliriknya.

Tapi kemudian saya juga ingat, kala Argentina ditukangi Marcelo Bielsa, Palermo mulai tampil mengenakan kostum Albiceleste. Itu sekitar pasca Piala Dunia 1998. Artinya, Palermo memang tak pernah ikut Piala Dunia. Dalam karir singkat tim nasionalnya, tak banyak yang bisa ia berikan. Ia malah masuk Guinness Book of World Records dengan tercatat sebagai pemain yang paling banyak gagal penalti dalam satu pertandingan. Yakni tiga kali ketika melawan Kolombia di Copa America 1999, dan Argentina kalah 0-3. Banyak koran di Argentina menulis, "Kolombia 3 Palermo 0". Sejak itu karirnya redup. Tak pernah lagi berkarir di timnas, dan di level klub pun tak lagi istimewa. Ia pernah beberapa kali main di klub Spanyol, tapi berpindah-pindah karena cedera. Lahirnya bintang semisal Hernan Crespo, Claudio Lopez, Javier Saviola, Carlos Tevez, Lionel Messi dan Gonzalo Higuain di level timnas semakin memupus asanya tampil di level internasional.

Pelatih Argentina untuk Piala Dunia 2010, Diego Maradona, entah dirasuki setan apa yang membuat ia ingin memanggil Saint Palermo. Jika bicara prestasi, Palermo tentu saja kalah cemerlang dengan striker-striker lain yang berlaga gagah di Eropa, sedangkan ia masih bermain di klub kampung halamannya, Boca Juniors. Pun dari segi usia, ia sudah 36, dan tengah bersiap mencari momen untuk menutup karir. Kalau boleh curiga, mungkin ini akibat kedekatannya dengan El Diego yang sama-sama "beragama" Boca Juniors. Maklumlah, di Argentina, seorang pemain klub Boca Juniors begitu fanatik membela sesamanya, terutama jika menyangkut duel rival versus River Plate. Haram hukumnya saling berpindah kostum diantara keduanya, meski sempat ada beberapa kasus. Tak cuma sama-sama pernah berseragam Boca, tapi El Diego juga pernah bermain bersama Palermo muda, barangkali nepotisme itu yang membawa El Loco ke Piala Dunia.

Palermo tak jadi pongah atas pemanggilannya. Ia sadar diri bahwa ia tengah dikelilingi striker-striker jagoan yang sedang dalam masa keemasannya. Ia tak berharap bisa tampil kecuali ada kejadian luar biasa ketika striker andalan mendadak cedera semua. Palermo hanya seorang tua yang jadi pelengkap agar pemain total jadi dua puluh tiga. Ia akan jadi kawan latihan yang baik bagi skuadnya yang tengah haus pencapaian. Ia akan jadi pengayom skuad muda jika melampaui batas. Palermo duduk manis di bangku cadangan, menikmati udara Afrika dan menyaksikan kawan-kawan muda berjibaku di lapangan menghadapi Yunani di partai ketiga, sebelum ia mendengar Maradona berbincang bersama kedua asistennya: "Pelatih, saya sarankan kita tampilkan El Pipita menjelang pertandingan berakhir," ujar salah seorang asisten, mengacu pada julukan Gonzalo Higuain. "Ide bagus, tapi untuk apa? Higuain lebih baik kita simpan," tanpa menunggu jawaban asisten, ia melanjutkan pernyataannya sendiri, "Palermo, kau main. Saya tak punya instruksi khusus. Bermainlah dan tuntaskan perlawanan mereka." Hari itu tanggal 23 Juni 2010, dan Palermo akan menjejakkan kaki di Piala Dunia pertama dan mungkin terakhirnya. Ia masuk, dan kemudian perjudian Maradona berhasil. Saint Palermo mencetak satu gol dalam penampilannya yang cuma sepuluh menit, Argentina menang 2-0.

Martin Palermo mungkin tak akan pernah dimainkan lagi di sisa laga Argentina di Piala Dunia ini. Ia kemarin dimainkan melawan Yunani, karena posisi Argentina yang sudah aman. Babak berikutnya akan sangat menentukan, dan seluruh dunia pasti setuju bahwa lebih baik memainkan Messi dan kawan-kawan seusianya jika mereka sedang fit. Jika memang benar demikian, maka El Loco telah memanfaatkan dengan baik satu-satunya laga yang ia jalani dalam Piala Dunia sepanjang karirnya. Sepanjang hidupnya. Ia mencetak gol, dan dengan gairah yang membuih ia merayakannya, lalu berpeluk mesra dengan El Diego. Ia merasa kembali muda, seperti kala Dunia Dalam Berita tengah rajin-rajinnya menayangkan aksinya. Ketika seseorang gagal di kesempatan pertama, itu biasa. Selalu ada kesempatan kedua untuk melunasi semuanya. Tapi kesempatan kedua selalu punya dua sisi. Yang satu menghadirkan pesona yang terlalu menyilaukan sehingga orang jadi jumawa dan malah terpuruk, seperti halnya Marcelo Lippi kala menukangi Italia kembali, atau Fabio Cannavaro yang urung pensiun di masa tua. Yang satu lagi menawarkan ancaman bahwa tidak ada lagi kesempatan ketiga, sehingga seperti kata Chairil Anwar: "Sekali berarti. Sudah itu mati." Dan El Loco tahu itu.
Continue reading

Saturday, June 19, 2010

Puisi Penjudi

Puisi Penjudi
Sejak SD kutahu berjudi itu dilarang
Dari Qur'an sudah jelas judi dibilang haram
Orang bijak bilang tiada manusia kaya karena judi
Rhoma Irama menegaskan judi merusak pikiran

Tapi tidakkah Tuhan jua yang menciptakan ketidakpastian?
Tidakkah Tuhan jua yang memaksa kita mengundi?
Tidakkah Adam turun ke dunia karena ia main judi?
Buah khuldi: jauhi atau makan
Ia putuskan yang nomor dua
Lantas ia turun ke bumi, melahirkan kita-kita ini
Keturunan seorang penjudi

Lalu jikalau memang iya tak ada yang kaya karena judi
Maka tanyakan pada pemilik motor Tiger itu
Yang ia menangkan ketika jadi bandar empat tahun lalu
Sekarang motornya sirna, rusak hancur dalam suatu petaka
Ia kembali naik angkot seperti nasibnya sebelum pesta sepakbola
Para tetua bilang, "Lihat, hasil judi, dari tanah akan kembali ke tanah"

Tapi si pemuda mesem-mesem dalam hati
Ada keyakinan yang ia pendam dalam-dalam
Bahwa setidaknya dalam suatu percik hidupnya
Ia pernah naik motor Tiger
Pernah merasakan gelegak kehidupan yang hakiki
Meski setitik, tapi barangkali itulah yang berarti
Ia pernah menyaksikan bola bergulir dari kiri ke kanan sambil meriang
Capek hati menanti skor berapa-berapa, sebelum peluit akhir meletupkan sampanye hidupnya

Baginya itulah kekayaan sejati
Menanti sang nasib berpaling kemana dalam hitungan detik
Baginya yang pasti hanya mati
Sisanya cuma mengundi
Continue reading

Monday, June 14, 2010

Malam itu

Mari akan kuceritakan sebuah malam. Malam dimana langit dan gemintang seperti biasanya menaungimu, tapi yang sekarang mereka lebih terang dari biasanya. Malam itu kami ada di pinggiran kolam renang. Kolam renang yang membentang dan membunyikan kecipak kecil tanda ia tersisir angin. Mari akan kuceritakan sebuah malam. Malam dimana denting gitar akustik menghidupkan kursi dan meja yang tadinya mati. Malam dimana denting gitar akustik menghidupkan denting sendok garpu yang tadinya tak lebih dari gemerincing pengganggu telinga.

Ini malam, malam panjang, sayang. Malam yang sama-sama dua belas jam, tapi hati ini tidur di bawah naungannya selamanya. Ini kisah kenisah tentang dua orang yang sedang tidak punya uang, tapi berada di restoran mewah untuk yang satu meminang satu lagi. Ini kisah kenisah tentang dua orang yang tidak punya apa-apa untuk kemudian akhirnya bergerak dari kursinya untuk meraih satu dua asa yang tergantung di hadapan. Ini kisah kenisah tentang lingkaran kecil di jari yang menandai cinta abadi. Cinta yang abadi bukan cinta yang sempurna, tapi ia hadir selama kehidupan masih terbentang. Ia berdiri ketika yang lain mati. Ketika jasad juga mati.

Ini malam ketika kami makan pizza gratis, minum teh gratis, dan kuingat kau mengeluh badanmu yang sakit. Tapi ini mahal, sayang, karena tidak ada cinta yang gratis. Cinta adalah bagaimana kau sanggup tawar menawar dengan tuhanmu. Karena ia maha pembalik hati manusia.

Hari ini hatimu sedang berbalik, menuju hal yang lebih baik. Aku disini mengingatkan tentang malam itu, ketika hatimu sedang juga baik. Mengingatkan tentang betapa dua insan pernah meminjam malam, langit, gemintang dan desir kolam, dari tuhan. Untuk sebentar, untuk sementara, untuk dikembalikan jua. Ya Tuhan, ijinkan kami meminjam itu lagi. Sewanya berapa, katakan saja, karena aku tak punya uang. Sudikah Tuan dibayar dengan hati yang busuk dan berdosa?


gambar diambil dari sini
Continue reading

Saturday, June 5, 2010

Mendarahi Piala Dunia

Mendarahi Piala Dunia
Sejak partai puncak Euro 1996 di Inggris, saya menjadi sangat menyukai sepakbola. Final yang mempertemukan Jerman versus Rep. Ceko tersebut, sangat tertanggal di hati. Saya sampai ingat sebagian besar pemain yang main: Jerman formasi 3-5-2, ada kiper Andy Koepke, libero Mathias Sammer, bek Jurgen Koehler dan Stefan Reuter, pemain tengah Thomas Haessler, serta duet penyerang Jurgen Klinsmann dan Steffen Freund. Ada juga Rep. Ceko dengan formasi 3-6-1 saya ingat kiper Petr Kouba, bek Michel Hornak, kapten Radoslav Latal dan Jan Suchoparek, pemain tengah Pavel Nedved, Jiri Nemec, Patrik Berger, Karel Poborsky, serta penyerang tunggal Pavel Kuka. Ah, jadi pamer ingatan yah, tapi sungguh saya bahagia bisa mengingat semuanya. Saat itu saya kelas 6 SD dan saat menulis ini saya tak sedikitpun mengintip Wikipedia atau situs UEFA.

Sejak itu, saya tak mau sedikitpun melewatkan momen-momen dalam sepakbola, apalagi turnamen besar. Mesti nyangkut di hati, mesti terasa euforianya, terdarahi dalam nadi, bagaimanapun caranya. Di Piala Dunia 1998, saat itu saya 2 SMP, saya melakukan hal yang menurut pandangan saya sekarang, agak sinting. Saya mencatat statistik per pertandingan, semuanya, mulai dari tendangan penjuru, tendangan ke arah gawang, melenceng, peluang menit per menit, hingga persentase penguasaan pertandingan. Semua partai, tak ada satupun yang terlewat. Di akhir turnamen, statistik tersebut saya print dan bundel jadi semacam buku, dan dijual dua puluh ribu rupiah per eksemplar. Alhamdulillah ada yang beli dua orang. Sekarang data-data itu sudah hilang, karena cuma diabadikan dalam floopy disk, dan komputer yang saya pakai jaman itu entah sudah kemana. Sepertinya rusak.

Piala Dunia 2002, tadinya saya menabung, ingin nonton mumpung di wilayah Asia. Tapi tak tercapai entah kenapa, sepertinya karena saya kurang sungguh-sungguh. Bagaimana mendarahinya? Ada dua cara, mendukung Italia favoritku sepenuh hati (jangan ditiru, ini syirik dan bid'ah: ketika menonton Italia, saya sering shalat tahajjud dulu sebelumnya, dan kemudian mengalungkan bendera Italia di leher, meski itu nonton sendiri di rumah) serta cara satu lagi yang juga jangan ditiru biarpun asyik, yakni dengan cara berjudi. Kala itu saya berjudi cuma di babak penyisihan, dan untungnya lumayan, cukup banyak untuk saya yang masih SMA. Tapi kelucuan euforia saya masih terjaga dengan mengkliping momen-momen Piala Dunia yang didapat dari koran BOLA.

Piala Dunia 2006, judi semakin menjadi. Saya semakin menyukainya, dan menganggap itu penting, karena apa? Karena negara kita tidak pernah dan tidak akan lolos ke Piala Dunia. Jadinya kita bingung mau dukung siapa mau bela siapa? Jadi buatlah permainan, belalah yang kita pegang dalam perjudian. Dari situ kita akan terlibat secara emosional dengan para pemain di atas lapangan. Tengok saja, jika suatu hari nanti di kehidupan entah kapan, Indonesia lolos ke Piala Dunia, maka niscaya perjudian soal Piala Dunia akan menurun drastis di Indonesia. Karena masyarakat tahu ada yang dibela dan didukung di sana, dengan darah dan air mata yang murni tak dibuat-buat. Sebagai tambahan, Piala Dunia 2006, agar semakin mendarahi, saya beli video VHS, dan merekam banyak partai penting.

Masuklah kita ke Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan. Sebentar lagi, lima hari lagi. Niat saya berhenti judi cukup kuat (mungkin bisa luluh di partai-partai puncak), karena aduh malu, sudah punya rejeki halal hehehe. Tapi saya tetap akan berusaha menyimpan momen tersebut dalam kenangan perjalanan hidup saya. Dengan cara apa? Hmmm saya baru kepikiran, saya akan buat prediksi dan hasil menerawang, tentang siapa yang menang di tiap partai, lolos penyisihan, hingga juara, dan sepertinya akan ditulis di note Facebook hehehe. Mendarahikah? Tentu saja, ini menyenangkan dan mengundang saya berpikir keras setiap hari. Tidak penting? Siapa bilang bersiul itu penting, tapi itu cara untuk menikmati hidup bukan?

Maka simpan filsafat, simpan agama, dalam sebuah laci rapat di kamarmu. Sepakbola tak butuh keduanya, karena seperti halnya Tuhan menciptakan filsafat dan agama yang Ia ridhai, Ia pun menciptakan sepakbola.
Continue reading

Tuesday, June 1, 2010

Madinah Al-Munawwarah

Madinah Al-Munawwarah
Aku jatuh hati
Pada kota yang sempat Nabi singgahi
Jejak pertamaku ada di kala subuh
Adzannya berkumandang
Sayup membelah langit Arab
Speakernya pasti berkualitas dan sadar lingkungan
Tak membangunkan orang yang tengah lelap

Kuberjalan cepat menuju masjidmu, Ya Rasulullah
Masjid yang letaknya ditentukan oleh instingmu via Al-Qishwa
Lalu kulihat megahnya bangunan
Arsitektur Spanyol ala Cordoba
Subhanallah, tak percaya aku ada disini
Shalat berjamaah bersama ribuan entah puluh ribuan Arab
Lalu kudengar imam mengucapkan takbir, fathihah, dan surat pendeknya
Kuingat. Syahdu:

Wailullil muthaffifiin. Alladziina idzak taaluu 'alannaasiyastawfuun.

Kututup shalat dengan salam
Bangun aku menghirup dalam-dalam aroma Madinah
Kulihat langit berwarna keunguan
Tanda matahari siap menyembul dari gunung-gunung tandus
Kukitari kota dan kuamati manusia
Semua sibuk dengan urusannya seperti biasa
Tapi entah perasaanku saja atau memang iya:
Amboi damainya

Tak ada kekhawatiran seperti di alun-alun Bandung
atau di sudut manapun Jakarta
Ini kota yang sulit untuk tidak menanggalkan hatimu
Warga tampak tak punya sindrom alienasi metropolitan
Tidak ada perasaan sendiri di tengah hiruk pikuk
Mereka seolah percaya Muhammad masih hidup
Berkeliling kota setiap hari dengan untanya
Melihat kejujuran takaran timbangan dan tutur ucapan
Mendoakan setiap jengkal Madinah agar senantiasa disinari

Al Munawwarah

Dari Bukit Uhud imajinasiku merekontruksi
Menengok Raudhah kubayangkan Nabi berdiri
Berziarah ke makamnya aku bertanya nakal:
Orang macam apa Muhammad itu
mampu mempunyai pengikut tiada habisnya
Pagi siang malam shalawat dan salam bagi ia
Entah berapa juta orang mati membela ajarannya
Ia hidup hanya enam puluh tiga tahun
Tapi tak ada tanda-tanda namanya akan lenyap
hingga ribuan tahun ke depan

Aku menanggalkan hatiku di Madinah
Jika Rasulullah menemukannya tergeletak di jalan
Lancanglah aku jika meminta Rasul memungutnya
Masih lebih baik baginya memunguti sisa biji kurma untuk ditanam ulang

Assalamu 'alaika ayyuhan Nabi wa rahmatullah
Continue reading