Sunday, May 30, 2010

Main Bersama Kappalettas


Suatu selasa tanggal 25 kemarin, saya diberangkatkan ke Jakarta naik travel. Jam travelnya cukup malam, yakni jam 19.45. Ada apa gerangan? Saya ternyata mesti main gitar tiga lagu, untuk sebuah kelompok telegram bernyanyi bernama Kappalettas. Dan jam mainnya tidak lazim, yakni menjelang tengah malam. Soal Kappalettas saya pernah menulis sebelumnya, namun saat itu status saya adalah "korban", sedangkan sekarang, saya terlibat dalam Kappalettas sebagai "terdakwa", atau lawannya korban apa ya? Pokoknya kamilah yang mendatangi si korban.

Kappalettas ini adalah kelompok telegram bernyanyi. Jadi kau bisa memesan lagu apa saja (betul nih apa aja, Mba Niken?) untuk kemudian dikirimkan pada target yang kau inginkan. Nantinya si target akan menerima lagu darimu, beserta pesan-pesan lain jika ada, dan boleh juga dengan coklat serta bunga. Yang menarik adalah, lagu dimainkan secara live, memakai format gitar serta vokal (ada biola dan cello sebenarnya, tapi sejauh ini beberapa kali gagal ditampilkan hehe).

Akhirnya sampailah saya di Kartika Chandra, hotel tempat travel itu berhenti. Saya naik ojek menuju kost Christina, yang mana dia merupakan vokalis kami yang berdomisili Jakarta. Berlatihlah kami selagu dualagu tigalagu barang sejenak, bersama gitaris satu lagi, Pepeng, serta ternyata, Urie, eks vokalis band Kuburan. Lagu yang kami latih di waktu sebentar itu adalah To Make You Feel My Love dari Adele, Goodnight dari Melody Gardot, dan All I Want is You dari U2. Tak lama setelah berlatih, datanglah kami menuju rumah si korban. Waktu itu jam setengah dua belas malam, dan kami mendatangi rumahnya yang ternyata tak jauh dari kost Christina. Si korban bernama Kristy, ia mendapat kiriman dari seseorang yang menolak disebutkan identitasnya, meski akhirnya ketahuan.

Di rumah yang cukup besar dan artistik itu, kami memainkan tiga lagu di ruang yang sepertinya ruang tamu. Formasi dua gitar dua vokal di tengah malam, berhasil menimbulkan kekhidmatan yang diwarnai mesem-mesem sang korban. Bergantian Urie dan Christina bernyanyi, sementara saya dan Pepeng main gitar sahut-sahutan. Setiap selesai lagu, terjadi tepuk tangan. Terjadi pertanyaan dari korban, "Siapa sih ini yang ngirim?" Meski demikian, di sela-sela lagu, pengirim misterius menyisipkan kalimat puitis, dan ini ternyata sukses membuka identitas. Kristy sang korban tahu bahwa ini adalah seseorang yang menyukainya, dan sekarang tengah bekerja di Afghanistan. Setelah lagu berakhir, sesuai tradisi Kappalettas, diserahkanlah lirik lagu yang sudah dimainkan, dalam gulungan kertas karton yang sudah dipercantik dengan pita.

Malam itu berakhir damai dan romantis, barangkali seperti setiap akhir cerita buruan Kappalettas lainnya (karena ini pertama kali saya ikutan). Disertai hidangan cake ulang tahun, kami ngobrol-ngobrol singkat dan berbasa basi agak basi, barangkali karena sudah larut. Pulang kami dalam keadaan senang, karena sukses mempermainkan emosi seseorang. Ada lembaran uang, tapi tak jadi soal. Orang bilang ujung segalanya adalah duit. Tapi dari Kappalettas saya belajar: ujung-ujungnya adalah emosi, adalah kepuasan batin. Konon duit bisa membeli itu. Konon.


Continue reading

Tuesday, May 11, 2010

Islam (2)

Islam (2)
"Semua agama baik, tapi tidak semua agama benar."



Di masa kecil saya, sering terngiang kalimat itu, yang keluar dari mulut tante. Kalimat tersebut mengacu pada agama Islam yang kami anut. Saya pikir itu kalimat keren, bijaksana, dan membuat pelbagai persoalan keagamaan menjadi sangat jelas. Ini adalah kalimat tegas dan anti-pluralisme, membuat asing segala yang liyan. Memicu pandangan untuk menilai the others sebagai sesat dan hina. Rendah.

Beranjak besar, lagi-lagi kalimat itu semakin terfalsifikasikan. Ini terpicu oleh pergaulan saya yang banyak diantaranya adalah non-muslim, terutama dari kalangan musik klasik. Saya melihat budi baiknya, keyakinannya akan agama yang dia anut, serta toleransi antar beragamanya, membuat saya berpikir, "masa sih mereka-mereka ini termasuk orang 'bersalah', dan maka itu masuk ke neraka?"

Saya semakin bulat menyatakan bahwa semua agama juga benar dan membenamkan jauh-jauh kalimat si tante, terutama setelah masuk bangku kuliah yang notabene institusi Katolik, lalu hingga puncaknya, mempelajari filsafat. Dari situlah agama dibedah, dan akhirnya pemahamannya bermuara pada agama juga punya kelemahan. Agama tak lebih dari sekedar salah satu jalan kebenaran, disamping tiga lainnya, yakni seni, sains, dan filsafat. Agama juga jika ditelaah, punya aspek ilusoris yang malah bisa membawa penganutnya pada kekerasan alih-alih perdamaian. Agama juga justru dapat menjadi aspek yang menghancurkan spiritualitas atau semangat keilahian itu sendiri. Aneh bukan?

Tapi segalanya meluntur pelan-pelan setelah saya menemukan bahwa filsafat ini mentok. Pikiran ini terbatas. Ujungnya, kebenaran adalah persoalan apa yang kita percayai. Kelunturan itu menemui puncaknya ketika saya melaksanakan ibadah umrah. Dari situ saya tergetar untuk percaya, bahwa ya, Islam ini adalah kebenaran yang saya anut dan saya yakini. Yang lain benar juga, tapi tak usah diambil pusing. Biarlah mereka benar, dan saya pun benar. Kemudian nanti siapa tahu Tuhan tak perlu memilih mana yang benar, tapi Tuhan akan menampung semuanya jadi satu dan agama itu tak jadi berarti lagi. Tapi jika harus menempuh cara mana yang saya ambil, ya ini, cara Islam ini, saya putuskan.

Apakah selesai disitu, secara prinsipil? Tidak euy, ternyata. Pasca umrah, euforia "temuan kebenaran" saya bertahan cuma sebentar, hingga akhirnya saya berjumpa seorang sahabat bernama Kang T, yang sukses menggalaukan saya hingga kini. Hehehe. Awal mulanya begini, saya menceritakan euforia saya tentang literatur terbaru mengenai para Sahabat, alias khulafaurrasyidin. Dengan pemahaman saya yang baru dimabuk wawasan soal keislaman, saya cerita keteladanan beliau-beliau, seolah-olah Kang T ini tak paham yang begituan. Lalu setelah puas mendengarkan saya berbicara, dia menjawab singkat: "Hati-hati membaca itu. Karena yang teladan sesungguhnya Ali bin Abi Thalib r.a. Tiga sahabat yang lain (Abu Bakar, Umar, dan Utsman) berkonspirasi untuk menjadi khalifah pasca Rasulullah. Padahal jelas Rasul mengamanatkan kekhalifahan Islam pada Ali jika beliau wafat." Mendengar ini, jelas saya tergoncang. Bagaimana mungkin? Abu Bakar, Umar, dan Utsman yang jelas-jelas dalam literatur (yang saya baca), ditinggikan derajatnya, tapi kemudian dituduh melakukan teori konspirasi mahabesar?

Saya memutuskan untuk tidak berkesimpulan apa-apa, kecuali setelah membaca literatur lebih lanjut. Akhirnya saya tahu ini adalah bentuk pemahaman dari kelompok Syi'ah. Kalau ditanya, dimanakah saya berpijak? Saya konon bernama Sunni, atau Ahlus-Sunnah wal Jama'ah, yakni mereka yang berprinsip bahwa khulafaurrasyidin ya begitu adanya, sesuai urutan: Abu Bakar - Umar - Utsman - lalu Ali. Sialan, saya pikir Islam ini satu adanya. Memang saya pernah dengar soal perbedaan prinsip NU, Muhammadiyah, dan Persis, tapi tidak terlalu ambil pusing. Yang ini, entah kenapa, kok mengganggu saya ya? Akhirnya saya memutuskan untuk bertemu Kang T dan mengobrol lebih jauh dengan ditemani cilok. Sebagai informasi, Kang T ini orang yang saya kagumi karena budinya yang luhur. Membuat saya merasa tak segan bertanya apa pun, termasuk soal prinsip. Akhirnya saya dipinjami satu buku yang membuat saya tambah galau, yakni Dahulukan Akhlak di Atas Fikih karya Jalaluddin Rakhmat.

Dari buku itu saya ketahui, bahwa pertentangan dalam Islam lebih parah dari apa yang saya perkirakan. Ternyata tak cuma antar Sunni - Syi'ah, tapi juga antar mazhab. Ya, ada empat mazhab besar katanya, Maliki, Syafi'i, Hanafi dan Hanbali. Lagi-lagi saya bertanya, dimanakah posisi saya? Katanya sih, Asia Tenggara konon banyak didominasi oleh Syafi'i. Dan apa yang kemudian bikin saya tercengang? Antar mazhab itu, bisa bermusuhan juga, dan menajiskan satu sama lain. Contohnya, ada yang solatnya diulang karena merasa imamnya berbeda aliran. Adapun pengalaman Kang T sendiri, yang diusir dari suatu masjid karena solatnya berbeda masjid, dan bekas solatnya itu dicuci. Dan banyak sekali yang dipaparkan buku itu yang bikin saya terheran-heran. Kok bisa ya?

Ini bentuk kebodohan saya saja sebenarnya, sebagai seorang pemula di dunia keislaman. Yang sepertinya baru tahu dan mungkin menutup mata terhadap berbagai perbedaan dalam agama saya sendiri. Dan sekarang, setelah saya cukup membuka diri dan bahkan terbelalak karenanya, saya jadi berpikir-pikir, apakah kebenaran itu sesungguhnya? Siapakah Sang Kebenaran itu? Jika memang orang betul-betul mengejarnya hingga mau menyikut dan merendahkan yang lain? Dan yang saya anut sekarang ini, apalah itu, Islam Sunni dengan aliran Syafi'i, betul-betul yang paling benar dibanding mazhab lainnya? Ataukah saya berpijak pada ini, karena saya tak tahu kebenaran yang lain? Semata-mata karena saya tak paham adanya pilihan yang lain?

Lalu omongan bapak saya terngiang di telinga, bahwa "Kebenaran sesungguhnya, adalah pencarian kebenaran itu sendiri." Betul juga, atau dalam bahasa lain, tidak ada surga, surga itu, ya jalan menuju surga itu sendiri. Jika demikian, ekstrimnya, atheis bisa saja masuk surga. Karena usaha dia mencari Tuhan faktanya lebih keras daripada kita-kita yang sudah nyaman beragama. Pada akhirnya, berhubung sedang bersemangat hendak Piala Dunia, bolehlah saya merumuskan ini:

"Orang-orang beragama itu seperti sepakbola. Sesungguhnya masalah selesai jika masing-masing pemain diberi bola seorang satu. Tak ada yang rebutan. Tapi buat mereka kurang seru, maka dibiarkanlah bola hanya satu untuk semua. Berebut semua, demi cantiknya permainan."
Continue reading